Anda di halaman 1dari 7

Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk

Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

PEMBUATAN MINUMAN FUNGSIONAL LIANG TEH DAUN SALAM (Eugenia


polyantha) DENGAN PENAMBAHAN FILTRAT JAHE DAN FILTRAT KAYU
SECANG

Making Functional Drink Liang Tea Bay Leaves (Eugenia polyantha) with
Addition of Ginger Filtrate and Secang Wood Filtrate

Musthikaningtyas Retno Palupi1*, Tri Dewanti Widyaningsih1

1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP Universitas Brawijaya Malang


Jl. Veteran, Malang 65145
*Penulis Korespondensi, Email: thica.palupi@gmail.com

ABSTRAK

Minuman fungsional adalah minuman yang memiliki efek positif terhadap kesehatan.
Liang teh merupakan teh herbal dimana teh ini biasanya terbuat dari berbagai macam
tanaman herbal yang telah dikonsumsi ratusan tahun yang lalu. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendapatkan formulasi terbaik dari liang teh daun salam. Metode penelitian
dilakukan menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 2 faktor, 3 level dan
tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapat 27 percobaan. Faktor 1 yaitu rasio
filtrat daun salam : filtrat jahe (70:30, 80:20 dan 90:10) dan faktor 2 yaitu rasio penambahan
filtrat kayu secang (5%, 7.5% dan 10%). Penentuan perlakuan terbaik menggunakan
Metode Multiplle Atribute. Data hasil perlakuan terbaik liang teh daun salam adalahpada
proporsi 70:30 (filtrat daun salam:filtrat jahe) dengan penambahan filtrat kayu secang 10%
dengan nilai kadar total fenol 213.13 μg /ml CGAE, aktivitas antioksidan 80.63%, kadar
flavonoid 310.82 μg /ml CEQ dan IC50 314.71 ppm.

Kata Kunci : Daun Salam, Liang Teh dan Minuman Fungsional

ABSTRACT

Functional drink is a drink that has a positive effect on health. Liang teais a herbal
tea are usually made of various herbs that have consumed in hundreds of years ago. The
purpose of this study was to find out the influence about the best formulationof liang tea bay
leaves. The method of research was a randomized block design (RBD) consisted of 2 factor,
3 level andeach treatment was repeated 3 times to obtain 27 experiment. The first factor is
ratio bay leaves filtrate : gingers filtrate(70:30, 80:20 and 90:10)and the second factor is the
ratio of an addition of secang wood filtrate (5 %, 7.5 % and 10 %). Determination of the best
treatment using the method Atribute Multiplle. The results of the best treatment of liang tea
bay leaves is in proportion 70:30 (bay leaves filtrate : gingers filtrate) withincrease secang
wood filtrate 10% withvalue phenol content 213.13 μg /ml CGAE, antioxidant activity
80.63%, flavonoid content 310.82 μg /ml CEQ dan IC50 314.71 ppm.

Keywords: Bay Leaves, Functional Drink, Liang Tea

PENDAHULUAN

Liang teh telah menyebar dari Cina selatan hingga menyebar ke 20 negara lain
seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jerman dan Indonesia. Teh herbal semakin dikenal oleh
masyarakat dalam beberapa tahun ini dan telah banyak jenis dari teh herbal dengan
berbagai merek dan komposisi bahan yang berbeda. Hal ini dikarenakan aroma, kandungan
antioksidan dan pengaplikasiannya dalam bidang kesehatan [1]. Mengkonsumsi teh ini
dihubungkan dengan penurunan resiko penyakit kardiovaskular dan kanker serta efek

1458
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

kesehatan dari teh berasal dari tingginya kandungan senyawa fitokimia dengan aktivitas
antioksidan [2]. Salah satunya adalah liang teh daun salam.
Daun salam (Eugenia polyantha) merupakan salah satu bumbu dapur atau rempah-
rempah.Daun salam mengandung saponin, triterpen, flavonoid, tanin, dan alkaloid,
sedangkan minyak atsiri dalam daun salam terdiri dari seskuiterpen, lakton dan fenol[3].
Selain itu jahe juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan alami karena terdapat
kandungan fenol yang cukup tinggi di dalamnya [4]. Komponen Gingerol dan Shagol dikenal
memiliki aktivitas antioksidan. Kayu Secang juga memiliki banyak kandungan senyawa
fenolik dan flavonoid yang mempunyai sifat-sifat antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian
kayu secang memiliki daya antioksidan yang cukup tinggi dengan indeks antioksidatif
ekstrak air kayu secang lebih tinggi dari pada antioksidan komersial (BHT dan BHA)
sehingga potensial sebagai agen penangkal radikal bebas [5].

BAHAN DAN METODE

Bahan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan liang teh daun salam adalah daun salam,
jahe dan kayu secang serta akuades sebagai pelarutnya. Bahan-bahan di dalam penelitian
ini didapat dari Pasar Besar Kota Malang. Bahan yang digunakan untuk analisis adalah
DPPH, etanol 96%, FeCl3, NaoH, Na2CO3, folin-ciocalteau.
Alat
Alat yang digunakan pada pembuatan liang teh daun salam adalah gelas ukur,
timbangan analitik, panci, sendok, thermometer, refrigerator, pisau, baskom, cup plastik
jenis polypropylene, kertas saring dan kompor listrik. Alat yang digunakan untuk analisis
adalah tabung reaksi, vortex, spektrofotome, alumunium foil dan pipet ukur.

Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
yang terdiri dari 2 faktor, 3 level dan tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapat
27 satuan percobaan. Faktor I yaitu rasio filtrat daun salam : filtrat jahe (70:30, 80:20 dan
90:10) dan faktor II yaitu rasio penambahan filtrat kayu secang (5%, 7.5% dan 10%).
Pemilihan perlakuan terbaik menggunakan Metode Multiplle Atribute[12].

Tahapan Penelitian
Pembuatan filtat daun salam dilakukan dengan cara memasak daun salam dengan
air dengan perbandingan 1:5 dengan metode ekstraksi infusa (suhu air 1000C, suhu filtrat
±900C) selama 15 menit. Pembuatan filtrat jahe juga menggunakan metode infusa dengan
perbandingan 1:10 selama 15 menit serta pembuatan filtrat kayu secang dengan
perbandingan 1:10 selama 10 menit.
Pembuatan liang teh daun salam dilakukan dengan mencampurkan filtrat daun
salam dan filtrat jahe (70:30, 80:20 dan 90:10) kemudian ditambahkan filtrat kayu secang
(5%, 7.5% dan 10%). Kemudian tambahkan gula stevia 0.5 gram dan diaduk hingga
homogen.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis statistik dengan menggunakan analisis ragam
(ANOVA) kemudian dilakukan uji BNT(Beda Nyata Terkecil) taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Bahan Baku


Pembuatan minuman liang teh daun salam dalam penelitian ini terdiri dari daun
salam (Eugenia polyantha), jahe (Zingiber officinale) dan kayu secang (Caesalpinia
sappan L) yang dibuat dalam bentuk filtrat dengan metode infusa.Pengujian yang dilakukan
pada bahan baku minuman liang teh berbasis daun salam meliputi analisis aktivitas
antioksidan (persentase penghambatan antioksidan terhadap radikal bebas) dan total fenol.

1459
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

Tabel 1 Hasil analisis total fenol dan aktifitas antioksidan bahan baku

Bahan Baku(Filtrat)
Parameter Daun Salam Jahe Kayu Secang
Total Fenol 163.27* 134.02* 166.69*
(µg/ml CGAE)
Aktifitas Antioksidan (%) 81.18* 66.88* 83.33*

* = merupakan rata-rata 3x ulangan

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa nilai total fenol pada filtrat daun salam
sebesar 163.27 (µg/ml CGAE), pada filtrat jahe sebesar 134.02 (µg/ml CGAE), sedangkan
pada filtrat kayu secang nilai total fenol sebesar 166.69 (µg/ml CGAE). Filtrat kayu secang
dari hasil analisis yang didapat menunjukkan nilai total fenol yang paling tinggi jika
dibandingkan dengan nilai total fenol pada filtrat daun salam dan filtrat jahe. Dan untuk hasil
analisis aktivitas antioksidan pada tiap-tiap bahan baku pada tabel 1 menyatakan bahwa
filtrat daun salam memiliki aktivitas antioksidan sebesar 81.18%, filtrat jahe sebesar 66.88%
dan filtrat kayu manis sebesar 83.33% sehingga dapat dinyatakan bahwa filtrat daun salam
memiliki aktivitas penghambatan radikal bebas cukup tinggi dibandingkan dengan filtrat jahe
tetapi tidak lebih tinggi dibandingkan dengan filtrat kayu secang.Senyawa golongan fenol
diketahui sangat berperan terhadap aktivitas antioksidan, semakin besar kandungan
senyawa golongan fenolnya maka semakin besar aktivitas antioksidannya [1].

Analisis Produk Liang Teh Daun Salam


Analisis Total Fenol
Senyawa polifenol atau fenolik adalah komponen bioaktif yang mempunyai aktivitas
antioksidan yang secara alami terdapat pada sayuran dan buah-buahan serta minuman
seperti teh. Senyawa polifenolik terdiri atas beberapa subkelas yaitu flavonol, flavon,
antasianidin, katekin dan biflavan[6].

300,00
Total Fenol (µgGAE/ml)

250,00 penambahan
filtrat kayu
200,00 secang
150,00
5%
100,00
7,5%
50,00
10%
0,00
70:30 80:20 90:10
proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe

Gambar 1. Grafik Pengaruh Proporsi FiltratDaun Salam dan Filtrat Jahe terhadap Total
Fenol Liang teh Daun Salam dengan Penambahan Filtrat Kayu Secang

Berdasarkan Gambar 1, peningkatan total fenol pada minuman liang teh daun salam
berkaitan dengan konsentrasi penambahan filtrat jahe dan filtrat kayu secang. Hal ini
dikarenakan pada uji bahan baku diketahui bahwa kandungan total fenol pada bahan baku
filtrat jahecukup tinggi yakni sebesar 134.02 µg/ml CGAE. Senyawa fenol cenderung mudah
larut dalam air karena pada umumnya sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida
dan biasanya terdapat pada vakuola sel sehingga penggunaan pelarut air pada proses
pembuatan filtrat daun salam, jahe dan kayu secang yang bersifat polar akan membuat
senyawa fenol banyak yang terekstrak [13]. Selain itu penambahan filtrat kayu secang
sebesar 10% menunjukkan total fenol sebesar 239.66 (µg/ml CGAE) lebih tinggi jika

1460
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 7.5%. Komponen fenolik pada kayu secang
adalah homoisoflavon dan brazilin dimana kedua komponen tersebut memiliki kemampuan
aktivitas antioksidan. Tannin dalam kayu secang sangat tinggi dan merupakan komponen
dominan dalam polifenol kayu secang. Sehingga semakin tinggi penambahan filtrat kayu
secang semakin tinggi pula kandungan total fenolnya [7].

Aktivitas Antioksidan
Antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang secara nyata dapat memperlambat
oksidasi, walaupun dengan konsentrasi yang lebih rendah sekalipun dibandingkan dengan
substrat yang dapat dioksidasi[8].

84,00
82,00
% Penghambatan

80,00 penambahan
78,00 filtrat kayu
secang
76,00
74,00
72,00 5%
70,00
7,5%
68,00
70:30 80:20 90:10 10%

proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe

Gambar 2. Grafik Pengaruh Proporsi FiltratDaun Salam dan Filtrat Jahe terhadap Aktivitas
Antioksidan Liang teh Daun Salam dengan Penambahan Filtrat Kayu Secang

Berdasarkan gambar 2 dapat diketahui bahwa penambahan filtrat jahe akan


meningkatkan aktivitas antioksidan pada liang teh daun salam. Didugasenyawa antioksidan
yang terdapat pada jahe memiliki hubungan tidak sinergis atau antagonis dengan
antioksidan daun salam, yang terbaca hanya kandungan senyawa minyak atsiri pada filtrat
jahe, karena semakin berkurangnya proporsi filtrat daun salam semakin tinggi pula aktivitas
antioksidannya. Kemampuan jahe sebagai antioksidan alami tidak lepas dari komponen total
fenol yang terkandung didalamnya dimana kandungan total fenol pada jahe lebih tinggi
dibandingkan dengan total fenol tomat dan mengkudu [4]. Senyawa gingerol dan shagaol
pada jahe memiliki banyak gugus hidroksil sehingga bersifat polar dan memiliki aktivitas
antioksidan yang tinggi. Persamaan sifat antara pelarut (polar) dengan senyawa gingerol
dan shagaol (polar) menyebabkan semakin banyak senyawa antioksidan yang terekstrak
dari jahe[9]. Selain itu penambahan filtrat kayu secang juga memiliki pengaruh yang nyata
dengan penambahan sebesar 10% menunjukkan aktivitas antioksidan sebesar 79.62% lebih
tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 7.5%. Hal ini dikarenakan pada bahan
baku filtrat kayu secang memiliki aktivitas antioksidan paling besar yaitu 83.33% sehingga
apabila penambahan kayu secang semikin tinggi maka hasil analisis aktivitas antioksidan
pada produk juga akan tinggi. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa
kulit kayu secang mengandung fenol, komponen fenol ini berkaitan dengan aktivitas
antioksidan [10].

Analisis Organoleptik
Rasa
Rasa berhubungan dengan komponen bahan yang ditangkap oleh indra perasa
(lidah). Rasa juga merupakan salah satu penentu dalam tingkat penerimaan panelis. Hasil
analisis menunjukkan bahwa rerata nilai tingkat kesukaan panelis berdasarkan rasa dari
liang teh daun salam berkisar antara 2.20 (tidak menyukai) hingga 3.30 (netral).

1461
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

3,50
3,00 penambahan
2,50 filtrat kayu
2,00 secang
RASA 1,50
5%
1,00
0,50 7,5%
0,00 10%
70:30 80:20 90:10
proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe
Gambar 3. Grafik Rerata Skor Kesukaan Panelis terhadap Rasa Liang Teh Daun Salam
akibat Rasio Filtrat Daun Salam : Filtrat Jahe dan Penambahan Filtrat Kayu Secang.

Rasa berhubungan dengan komponen bahan yang ditangkap oleh indra perasa
(lidah). Berdasarkan gambar 3 menunjukkan bahwa skor kesukaan panelis terhadap rasa
liang teh daun salam tertinggi diperoleh dari formulasi filtrat daun salam : filtrat jahe (70:30)
dengan penambahan filtrat kayu secang sebesar 5% yaitu sebesar 3.30. Liang teh daun
salam cenderung memiliki rasa pedas dari filtrat jahe yang ditambahkan hal ini dikarenakan
jahe memiliki senyawa volatil yang kuat serta memberikan rasa pedas. Pembentukan rasa
pedas tersebut berasal dari senyawa gingerol, shagaol dan zingeron yang terdapat pada
jahe [11]. Sehingga dapat dinyatakan, bahwa panelis lebih menyukai minuman liang teh
daun salam dengan penambahan jahe yang tinggi.

Aroma
Aroma berhubungan dengan senyawa volatil yang ada pada suatu bahan, dimana
semakin banyak komponen volatilnya maka aroma yang dihasilkan pun akan semakin kuat
dan tajam. Rerata nilai kesukaan panelis terhadap aroma liang teh daun salam berkisar
antara 2.75-3.80.
4,00
penambahan
3,00 filtrat kayu
AROMA

secang
2,00
5%
1,00
7,5%
0,00
10%
70:30 80:20 90:10
proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe

Gambar 4 Grafik Rerata Skor Kesukaan Panelis terhadap Aroma Liang Teh Daun Salam
akibat Rasio Filtrat Daun Salam : Filtrat Jahe dan Penambahan Filtrat Kayu Secang.

Gambar 4 menunjukkan bahwa skor kesukaan panelis terhadap aroma liang teh
daun salam, dimana skor kesukaan tertinggi diperoleh dari formulasi filtrat daun salam:filtrat
jahe (70:30) dengan penambahan filtrat kayu secang sebesar 7.5% yaitu sebesar 3.80. Hal
ini dapat dipengaruhi oleh formulasi yang digunakan dalam pembuatan liang teh dengan
berbagai proporsi filtrat daun salam dan filtrat jahe dengan penambahan filtrat kayu secang
serta adanya penambahan pemanis stevia pada konsentrasi yang sama sehingga rasa yang
dtimbulkan cenderung sama pada tiap-tiap proporsi. Sehingga aroma produk akhir yang
ditimbulkan cenderung sama sehingga para panelis juga memberikan penilaian yang
cenderung sama.

1462
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

Warna
Warna adalah parameter fisik yang terbentuk apabila cahaya mengenai suatu objek
dan dipantulkan mengenai indra pengelihatan (mata). Penilaian warna pada suatu produk
sangatlah penting karena warna merupakan salah satu yang menentukan mutu dari bahan.
Rerata nilai kesukaan panelis terhadap aroma liang teh daun salam berkisar antara 3.15-
3.95 .

5,00
4,00
penambahan
WARNA

3,00 filtrat kayu


secang
2,00
5%
1,00 7,5%
0,00 10%
70:30 80:20 90:10
proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe
Gambar 5. Grafik Rerata Skor Kesukaan Panelis terhadap Warna Liang Teh Daun Salam
akibat Rasio Filtrat Daun Salam : Filtrat Jahe dan Penambahan Filtrat Kayu Secang.

Gambar 5 menunjukkan bahwa skor kesukaan panelis terhadap warna liang teh
daun salam, dimana skor kesukaan tertinggi diperoleh dari formulasi filtrat daun salam:filtrat
jahe (90:10) dengan penambahan filtrat kayu secang sebesar 10% yaitu sebesar 3.95.
Warna produk akhir yang cenderung sama dari masing-masing proporsi sehingga panelis
memberikan penilaian kesukaan pada warna yang juga cenderung sama.

Kenampakan
Rerata nilai kesukaan panelis terhadap kenampakan liang teh daun salam berkisar
antara 3.40-4.05.
4,20
4,00
KENAMPAKAN

penambahan
3,80 filtrat kayu
3,60 secang

3,40 5%
3,20 7,5%
3,00 10%
70:30 80:20 90:10
proporsi filtrat daun salam : filtrat jahe
Gambar 6. Grafik Rerata Skor Kesukaan Panelis terhadap Kenampakan Liang Teh Daun
Salam akibat Rasio Filtrat Daun Salam : Filtrat Jahe dan Penambahan Filtrat Kayu Secang.

Gambar 6 menunjukkan bahwa skor kesukaan panelis terhadap kenampakan liang


teh daun salam, dimana skor kesukaan tertinggi diperoleh dari formulasi filtrat daun salam :
filtrat jahe (90:10) dengan penambahan filtrat kayu secang sebesar 10% yaitu sebesar 4.05.
Kenampakan pada produk satu dengan yang lainhampir sama pada produk akhir liang
tehdaun salam dengan berbagai formulasi mengakibatkan penilain para panelis cenderung
sama karena tidak adanya perbedaan yang mencolok.

Perlakuan Terbaik
Penentuan perlakuan terbaik dengan metode multiple attribute [12], diperoleh hasil
yakni liang teh dengan perbandingan filtrat daun salam dan filtrat jahe (70:30) dengan
penambahan filtrat kayu secang sebesar 10%. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa
bioaktif dari bahan lain lebih tinggi dibandingkan proporsi lainnya yaitu kandungan total fenol

1463
Minuman Fungsional Liang Teh Daun Salam – Palupi, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1458-1464, September 2015

sebesar 213.13 µg/ml CGAE dan aktivitas antioksidan sebesar 80.63%. Serta dengan
kandungan flavonoid dengan nilai 310.82 µg/ml CEQ dan IC50 sebesar 314.71ppm.

SIMPULAN

Perlakuan terbaik dari formulasi liang teh daun salam adalah perbandingan filtrat
daun salam dan filtrat jahe (70:30) dengan penambahan filtrat kayu secang (10%) dengan
kadar total fenol sebesar 257.32 µg/ml dan aktivitas antioksidan 80.63%. Dengan nilai
flavonoid 310.82 μg /ml CEQ dan IC50 314.71 ppm.

SARAN

Perlu dilakukannya variasi rasio perbandingan antara filtrat daun salam dan filtrat
jahe dengn penambahan filtrat kayu secang sehingga di peroleh hasil total fenol dan
aktivitas antioksidan lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1) Chiang Chan E. W., Ying Eng S., Tan Y. P., Wong Z. C., Lye P.Y. and Tan L. N. 2012.
Antioxidant and Sensory Properties of Thai Herbal Teas with Emphasis on
Thunbergialaurifolia Lindl. Chaing Mai J. Sci. : 39 (4) : 599-609.
2) Zegarac, P., Valek, J., Stipcevic, L., and Martinez, S. 2010. Electrochemical
Determination of Antioxidant Capacity of Fruit Tea Infutions. Food Chem. 121 : 820-825.
3) Indrayana, R. 2008. Efek antioksidan ekstrak etanol 70% daun salam (Syzygium
polyanthum) pada serum darah tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi karbon
tetraklorida (CCl4). SKRIPSI. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4) Kusumaningati, Ratna W. 2009. Analisis Kandungan Fenol Total Jahe (Zingiber Officinale
Roscoe) Secara In Vitro. Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5) Lim, D.K., U. Choi, and D.H. Shin, . 1997. Antioxidative activity of some solvent extract
from Caesalpinia sappan Linn., Korean J. Food Sci. Technol, 28(1): 77−82
6) Astawan, M. 2004. Tetap Sehat Dengan Produk Makanan Olahan. Surakarta: PT. Tiga
Serangkai.
7) Jun, H., Yan, X.L., Wang, W., Wu, H., Hua, L., dan Du, L.J. 2008. Antioxidan activity in
vitro of three constituents from Caesalpinia sappan L. Tsinghua Science and Technology
13 (4): 474-479.
8) Puspita Sari, U, Djumarti, Lilik Handayani. 2012. Evaluasi Kandungan Total Polifenol Dan
Aktifitas Antioksidan Minuman Ringan Fungsional Teh-Mengkudu pada Berbagai
Formulasi. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Jember. 588-595
9) Haryoto. 1998. Sirup Jahe. Kanisus. Yogyakata
10) Lee, K. G. And T. Shibamoto. 2002. Analysis of volatile component isolate from Hawaiian
green coffe beans (Coffeea arabica L.). Flavour and Fragrance Journal 17: 349-351.
11) Suprapti, L. 2003. Aneka Awetan Jahe. Kinisius. Jogjakarta.
12) Zeleny, M. 1982. Multiple Criteria Decision Making. Mc Graw Hill Book Company, New
York.
13) Harbone, JB. 1997. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan
(Penerjemah Padmawinata, K dan I. Soediro). Bandung: ITB

1464