Anda di halaman 1dari 16

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian ini akan diuraikan teori-teori yang mendukung penelitian,


yang dikutip dari referensi baik dalam bentuk buku maupun dari jurnal atau
tulisan ilmiah lainnya yang ada kaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.

2.1. Agregat

Agregat merupakan material utama dalam pekerjaan konstruksi


perekerasan jalan, baik flexible pavement (pekerasan lentur) maupun rigit
pavement (perkerasan kaku), ataupun composite pavement (perkerasan kaku yang
kombinasikan dengan perkerasan lentur).
Saodang (2004) menyatakan agregat merupakan komponen utama dari
lapisan perkerasan jalan yaitu mengandung 90- 95 % agregat berdasarkan berat
atau 75 – 85 % berdasarkan persentase volume. Material yang ada di permukaan
bumi tidak homogen, ada yang keras ada yang lunak bahkan bila kena air ada
yang menjadi lumpur. Material tersebut dapat diperoleh di alam, baik sebagai
butir-butiran kerikil atau pasir pada aliran sungai, maupun butir-butir hancuran
akibat pelapukan dari gunung-gunung dan material hasil pembakaran/
pengolahan.

1. Agregat kasar

Menurut Departemen Pekerjaan Umum (2008), menyatakan bahwa


agregat kasar terdiri dari batu pecah dan kerikil pecah yang tertahan pada saringan
no.8 atau ukuran saringan 2,38 mm. Agregat kasar harus bersih, kuat dan bebas
dari lempung atau bahan-bahan lain yang tidak di kehendaki.
Fungsi agregat dalam campuran panas aspal adalah selain memberikan
stabilitas dalam campuran juga sebagai pengisi mortar sehingga campuran
menjadi ekonomis. Persyaratan teknis agregat kasar untuk bahan campuran
beraspal diberikan dalam Tabel. 2.1.
6

Tabel 2.1 Ketentuan Agregat Kasar


Pengujian Standar Nilai
Kekekalan bentuk agregat terhadap
larutan natrium dan magnesium sulfat. SNI 03-3407-1994 Maks. 12 %

Abrasi dengan Mesin Los Angeles SNI 03-2417-1991 Maks. 40%


Kelekatan agregat terhadap Aspal SNI 03-2439-1991 Min. 95%
Kepipihan ASTM D-4791 Maks. 10%
Partikel Lonjong ASTM D-4791 Maks. 10%
Berat Jenis SNI03-1969-1991 Min 2,5
Penyerapan Terhadap Air SNI03-1969-1991 Maks. 3%
Material Lolos Saringan No. 200 SNI 03-4142-1996 Maks. 1 %
Sumber : Anonim, 2010

2. Agregat halus

Agregat halus terdiri atas agregat hasil pemecah batu (abu batu) atau pasir
alam dengan ukuran lolos saringan no. 8 (2,36 mm) dan tertahan pada saringan
no.200 (75 micron). Agregat halus harus terdiri atas partikel-partikel yang bersih,
keras, tidak mengandung lempung atau bahan-bahan yang tidak dikehendaki
(Anonim, 2010).

3. Bahan pengisi (Filler)

Bahan pengisi (filler) merupakan bahan campuran yang mengisi ruang


antara agregat halus dan kasar yang akan meningkatkan kepadatan. Filler adalah
bahan yang lolos ayakan no. 200 (75 micron) dan tidak kurang dari 75% terhadap
beratnya. Bahan pengisi (filler) terdiri dari debu batu kapur (limestone dust), abu
terbang, semen (PC), abu tanur semen dan abu batu serta harus kering dan bebas
dari gumpalan-gumpalan dan bahan lain yang mengganggu (Anonim, 2010).

2.2. Gradasi Agregat


7

Gradasi didefinisikan secara umum adalah distribusi partikel-partikel


berdasarkan ukuran agregat yang saling mengisi sehingga terjadi suatu ikatan
(interlocking). Dan merupakan salah satu faktor kunci untuk mencapai mutu
konstruksi perekerasan jalan.
Gradasi menentukan besarnya rongga atau pori yang mungkin terjadi
dalam campuran. Agregat campuran yang terdiri dari agregat berukuran sama
akan berongga atau berpori banyak, karena ttak terdapat agregat berukuran lebih
kecil yang dapat mengisi rongga yang terjadi. Sebaliknya, jika campuran agregat
terdistribusi dari agregat berukuran besar sampai kecil secara merata, maka
rongga atau pori terjadi sedikit. Hal ini disebabkan karena rongga yang terbetuk
oleh susunan agregat berukuran besar akan diisi oleh agegat berukuran lebih kecil,
Sukirman (2003).

2.3. Aspal

Aspal merupakan unsur hidrokarbon yang sangat kompleks, sangat sukar


untuk memisahkan molekul-molekul yang membentuk aspal tersebut.
Hidrokarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang juga disebut bitumen.
Secara umum aspal yang digunakan saat ini berasal dari proses hasil residu dan
destilasi minyak bumi, atau sering disebut aspal semen.
Di Indonesia umumnya menggunakan jenis aspal dengan penetrasi 60/70
(aspal pen 60/70) dan penetrasi 80/100 (aspal pen 80/100). Persyaratan yang harus
dipenuhi oleh aspal pen 60/70 adalah seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.2 Persyaratan Aspal Keras Pen 60/70

No Jenis Pengujian Metode Persyaratan


1. Penetrasi, 25° C, 100 gr, 5 detik; 0,1 mill SNI 06-2456-1991 60-70
2. Viskositas, 135° C SNI 06-6441-2000 385
3. Titik Lembek; ° C, SNI 06-2434-1991 >48
4. Daktalitas, 25 ° C; cm SNI 06-2432-1991 >100
5. Berat jenis SNI 06-2441-1991 >1,0
6. Kelarutan dalam Triclilor Ethylen; SNI 06-2438-1991 > 99
%berat
8

7. Titik nyala, ° C SNI-06-2433-1991 >232


Sumber : Anonim (2010)
2.4. Campuran Lapisan Beton Aspal

Lapisan beton aspal terdiri dari campuran agregat dan aspal yang berfungsi
sebagai lapisan penutup dari konstruksi jalan yang mampu menjaga kestabilan
jalan akibat dari beban kendaraan dan pengaruh cuaca. Menurut Departemen
Pekerjaan Umum (2006), campuran ini terdiri dari atas agregat bergradasi
menerus dengan aspal keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam
keadaan panas pada suhu tertentu. Berdasarkan spesifikasi campuran beraspal
Departemen Pekerjaan Umum (2010), Lapisan beton aspal (AC) terdiri dari tiga
macam campuran, yaitu :

a. Laston Lapis Aus atau AC-WC, dengan ukuran maksimum agregat campuran
adalah 19 mm,
b. Laston Lapis Pengikat atau AC-BC dengan ukuran maksimum agregat
campuran adalah 25,4 mm
c. Laston Lapis Pondasi atau AC-Base, dengan ukuran maksimum agregat
campuran adalah 37,5 mm.
Lapisan permukaan atau yang disebut dengan lapis aus (AC-WC)
merupakan lapisan yang pertama sekali menerima beban lalulintas, sehingga
dibutuhkan campuran yang mempunyai daya tahan terhadap pengaruh gesekan
roda kendaraan, pengaruh terhadap cuaca serta dapat mengalirkan air dengan baik
ke saluran samping. Lapisan AC-WC mempunyai ketebalan 4 cm.

Untuk gradasi campuran beton aspal berdasarkan Spesifikasi Departemen


Pekerjaan Umum 2010 adalah sebagai berikut :
9

Tabel 2.3 Spesifikasi Agregat Gradasi Laston AC-WC

% Berat yang Lolos


Ukuran Ayakan
AC-WC
ASTM (mm) Gradasi Halus Gradasi Kasar
1” 25
3 ”
/
4 19 100 100
1 "
/
2 12,5 90 - 100 90 - 100
3/8” 9,5 72 - 90 72 - 90
No. 4 4,75 54 - 69 43 - 63
No.8 2,36 39,1 - 53 28 - 39,1
No. 16 1,18 31,6 - 40 19 - 25,6
No. 30 0,600 23,1 - 30 13 - 19,1
No. 50 0,300 15,5 - 22 9 - 15,5
No. 100 0,150 9 - 15 6 - 13
No. 200 0,075 4 - 10 4 – 10
Sumber : Anonim (2010)

Untuk persyaratan yang harus dicapai untuk campuran beton aspal AC-
WC adalah sebagai berikut :

Tabel 2.4. Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston (AC-WC)


Laston
Sifat-sifat Campuran Lapis Aus
Halus Kasar
Kadar aspal efektif (%) 5,1 4.3
Penyerapan aspal (%) Maks. 1,2
Jumlah tumbukan per bidang 75
Min. 3,5
Rongga dalam campuran (%) (2)
Maks. 5,0
10

Laston
Sifat-sifat Campuran Lapis Aus
Halus Kasar
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 15
Rongga Terisi Aspal (%) Min. 65
Min. 800
Stabilitas Marshall (kg)
Maks. -
Pelelehan (mm) Min. 3
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 250
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah Min. 90
perendaman selama 24 jam, 60 ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) pada Min. 2,5
Sumber : Anonim, 2010

2.5. Kawat Loket

Kawat Loket (Crimp Mesh) adalah material berbentuk anyaman/jaring


yang terbuat dari kawat galvanis dengan berbagai ukuran diameter kawat dan
lubang (mesh). Kawat loket memang salah satu jenis kawat yang sudah terbukti
kekuatannya dan memiliki kelebihan anti karat yang jauh lebih baik bila kita
bandingkan dengan kawat biasa pada umumnya. Kawat loket memiliki banyak
nama seperti kawat ayakan, kawat segi 4, weldmesh, welded wiremesh dan lain
sebagainya. Kawat ini sangat cocok digunakan sebagai konstruksi, industry,
pertanian, transportasi, perkebunan dan sebagai pelindung jendela dan dekorasi
lainnya.
Karena kawat loket galvanis anti karat dan tidak mudah terbakar. Ukuran
kawat loket galvanis bermacam macam mulai dari 1/4’” sampai 1”. Kami
membuat tabel beberapa ukuran kawat loket galvanis yang banyak dicari
dipasaran. Berikut tabel ukuran tabel kawat loket galvanis.

Tabel 2.5. Tabel ukuran kawat loket galvanis


11

Dia Kotak Lebar Kawat Panjang Kawat


Ø Kawat Loket
Kawat Loket Loket Loket

6 mm x 6 mm 0.7 mm 1,0 mtr 30 mtr

10 mm x 10 mm 1.0 mm 1,0 mtr 30 mtr

12 mm x 12 mm 1.0 mm 1,0 mtr 30 mtr

12 mm x 12 mm 1.2 mm 0.9 mtr 30 mtr

15 mm x 15 mm 1.2 mm 1,0 mtr 30 mtr

20 mm x 20 mm 1.0 mm 1,0 mtr 30 mtr

25 mm x 25 mm 2,0 mm 0.9 mtr 30 mtr

25 mm x 25 mm 2,0 mm 1,0 mtr 30 mtr

25 mm x 25 mm 2,0 mm 1,2 mtr 30 mtr

50 mm x 50 mm 2,0 mm 1,8 mtr 30 mtr

50 mm x 50 mm 3,0 mm 0.9 mtr 30 mtr

50 mm x 50 mm 3,0 mm 1,8 mtr 30 mtr

50 mm x 50 mm 4,0 mm 0.9 mtr 30 mtr

50 mm x 50 mm 4,0 mm 1,8 mtr 30 mtr

75 mm x 75 mm 1.3 mm 1,8 mtr 30 mtr


12

Gambar 2.1 Kawat Loket Galvanis

2.6. Penelitian yang relevan

Ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian tentang


penggunaan kawat loket dalam campuran campuran beton aspal, diantaranya
adalah :
13

1. Widodo, Sri (2012), dalam Jurnal Dinamika Teknik Sipil Terbitan


Universitas Muhamadiyah Surakarta, Volume 12, No. 2 , Mei 2012
denganj udul “Analisis Modulus Elastisitas Beton Aspal Yang
Diperkuat Dengan Geotekstil Dari Hasil Uji Tekuk Batang” dalam
penelitian ini penggunaan geosintetik di dalam lapisan perkerasan beton
aspal telah mampu menghambat penjalaran retak yang terjadi pada lapisan
beton aspal di bawah geosintetik ke bagian atas geosintetik. Mengingat
modulus elastisitas merupakan salah satu parameter kemampuan beton
aspal dalam menahan beban kendaraan, maka perlu diteliti pengaruh
geosintetik tersebut terhadap modulus elastisitas beton aspal yang
diperkuat dengan geosintetik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis
kemampuan geosintetik jenis geotekstil untuk menambah nilai modulus
elastisitas beton aspal. Analisis dilakukan terhadap hasil penelitian
pengujian batang lentur beton aspal yang diperkuat dengan geotekstil.
Hasil analisis menunjukkan bahwa geotekstil mampu menambah modulus
elastisitas beton aspal. Geotekstil yang diletakkan pada bagian bawah
tampang beton aspal di tengah-tengah lapisan binder memberikan
penambahan modulus elastisitas terbesar dibandingkan dengan peletakan
geotekstil di tempat lainnya. Geotekstil yang diletakkan di antara lapisan
binder dan lapisan surface memberikan penambahan modulus elastisitas
terkecil.

2. Harnaini, SR, (2014), dalam proseding Simposium Nasional RAPI XII-


2014 Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, dengan judul
: “Kajian Perkuatan Lapisan Beton Aspal dengan Geogrid Untuk
Menahan Kerusakan Perubahan Bentuk” dalam penelitian ini secara
berturut-turut adalah untuk menganalisis pengaruh peregangan awal
geogrid, letak geogrid dan kepadatan beton aspal terhadap kemampuan
beton aspal menahan lendutan akibat beban kendaraan, dan meningkatkan
ketahanan beton aspal terhadap pengurangan kekuatan yang disebabkan
oleh meningkatnya temperatur perkerasan jalan pada siang hari. Penelitian
14

dilakukan dengan membuat benda uji beton aspal dengan perkuatan


geogrid yang berbentuk plat ukuran 380x63x50 mm 3 untuk uji Beam
Bending. Uji Beam Bending untuk melihat kemampuan beton aspal dalam
menahan beban statis. Hasil penelitian terhadap lapisan Asphalt Concrete
Wearing Course (AC-WC) dengan menggunakan Geogrid yang dipasang
di dalam lapisan AC-WC mampu memberikan tambahan ketahanan
terhadap kemampuan menahan beban statis, dan posisi yang paling baik
adalah yang berada ditengah-tengah lapisan AC-WC. Semakin besar
regangan yang diberikan kepada geogrid saat pemasangan memberikan
kemampuan menahan beban statis yang semakin baik.

2.7. Perencanaan Campuran (Mix Design)

Tujuan perencanaan campuran beraspal adalah untuk mendapatkan


campuran efektif dari gradasi agregat dan dari aspal. Suatu campuran beraspal
sebagai lapis perkerasan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Stabilitas (stability)
Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalu lintas
tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur atau bleeding.
Kebutuhan stabilitas sebanding dengan fungsi jalan dan beban lalu lintas
yang akan dilayani.
2. Keawetan (durability)
Keawetan adalah kemampuan beton aspal menerima repetisi beban lalu lintas
seperti berat kendaraan dan gesekan akibat pengaruh cuaca dan iklim, seperti
udara, air atau perubahan temperatur.
3. Kelenturan (flexibility)
Kelenturan atau flexibilitas adalah kemampuan beton aspal untuk
menyesuaikan diri akibat penerunan (konsolidasi) dan pergerakan dari
pondasi atau tanah dasar tanpa terjadi retak.
4. Ketahanan terhadap kelelahan (fatique reistance).
Ketahanan adalah kemampuan beton aspal menerima lendutan berulang
akibat repetisi beban, tanpa terjadinya kelelahan berupa alur atau retak.
5. Kekesatan/tahanan geser permukaan (skid resistance).
15

Kekesatan permukaan atau ketahanan terhadap gelincir adalah kemampuan


permukaan beton aspal terutama pada kondisi basah memberikan gaya gesek
pada roda kendaraan sehingga tidak tergelincir ataupun slip.

6. Kedap air (impermeability).


Kedap air adalah kemampuan beton aspal untuk tidak dapat dimasuki air
ataupun udara ke dalam lapisan beton aspal.
7. Kemudahan dalam proses pelaksanaan (workability).
Kemudahan dalam pelaksanaan diartikan sebagai kemampuan campuran
tersebut untuk dapat dihamparkan dan dipadatkan serta mencapai kepadatan
yang diinginkan tanpa kesulitan. (Sukirman, 2003).
Untuk menghitung perencanaan kadar aspal adalah dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :

1. Perkiraan kadar aspal rancangan dapat diperoleh dari rumus dibawah ini :
Pb = 0,035(%CA)+ 0,045 (%FA) + 0,18 (%Filler) + Konstanta .......... (2.1)
Keterangan :
Pb = Kadar aspal tengah/ideal, persen terhadap berat campuran
CA= agregat kasar tertahan saringan No. 8;
FA = Agregat halus lolos saringan No. 8 dan tertahan saringan No. 200
Filler adalah agregat minimal 75% lolos saringan No. 200
Nilai Konstanta sekitar 0,5 untuk penyerapan agregat yang rendah dan nilai
1,0 untuk penyerapan agregat yang tinggi.

2. Benda uji yang digunakan dengan kadar aspal sesuai perkiraan yang
dibulatkan mendekati 0,5 dengan dua kadar aspal di atas dan dua kadar aspal
di bawah kadar aspal perkiraan awal, yang sudah dibulatkan mendekati 0,5%
ini.

2.8. Penentuan Nilai Parameter Marshall

Dalam perencanaan dengan menggunakan metode marshall ini akan


ditentukan nilai dari pada kepadatan, kadar rongga, stabilitas dan flow sehingga
16

didapatkan besarnya prosentase nilai kadar aspal yang memenuhi syarat dalam
campuran aspal beton tersebut.
Pembuatan benda uji pada percobaan marshall dibedakan dengan tiga buah
macam percoban, begitu pula dengan pemeriksaannya, percobaan-percobaan
tersebut meliputi:
1. Percobaan Marshal
2. Percobaan Marshall setelah perendaman 24 jam (Immertion)
Untuk merancang dan mengevaluasi hasil rancangan campuran dengan cara
Marshaall Test yang telah kita buat adalah dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut,
Wa
1. Kadar aspal total = x100% ............................................................. 2.2
Wct
Dengan :
Wa = berat aspal
Wct = berat total campuran

Wbu
2. Kepadatan ( ton/m3 ) = x100% ....................................................... 2.3
Vbu
Dengan :
Wbu = berat benda uji
Vbu = volume benda uji

3. Rongga diantara Mineral Agregat (VMA)


GmbxPs
VMA = 100  ....................................................................... 2.4
Gsb

VMA = Rongga diantara agregat, persen terhadap volume total campuran


Gsb = Berat jenis bulk agregat
Gmb = Berat jenis curah campuran padat ( AASHTO T-166)
Ps = Persen agregat terhadap berat total campuran
17

4. Rongga di dalam Campuran (VIM)


Gmm  Gmb
VIM = 100 ....................................................................... 2.5
Gmm

VIM = Rongga di dalam campuran, persen terhadap volume total


campuran
Gmb = Berat jenis curah campuran padat ( AASHTO T-166 )
Gmm = Berat jenis maksimum campuran

5. Rongga Terisi Aspal (VFB)


VMA  VIM
VFB = 100 ....................................................................... 2.6
VMA

VFB = Rongga terisi aspal, persen terhadap VMA

VMA = Rongga diantara mineral agregat, persen terhadap volume

total campuran

VIM = Rongga di dalam campuran, persen terhadap volume total

Campuran

6. Stabilitas Marshall ( kg )
Pembacaan dial tekan (divisi) dikalikan dengan angka kalibrasi cincin
penguji serta angka koreksi beban pada tabel rasio korelasi stabilitas.

7. Kelelehan atau Flow ( mm )


Dibaca pada dial pengukur kelelehan (divisi)

8. Marshall quotient
Menurut Bukhari dkk (2007) Marshall quotient adalah perbandingan
antara nilai stabilitas dengan nilai flow. Marshall quotient dapat diperoleh
dengan menggunakan persamaan :

MQ = q / (102 x r) ............................................................................ 2.7


18

dimana :

MQ = nilai Marshall quotient (kN/mm)


q = nilai stabilitas dikalikan faktor kalibrasi alat dan koreksi benda
uji (kg)
r = nilai flow (mm)

2.9. Hubungan Kadar Aspal Dengan Parameter Marshall

Parameter marshall merupakan hasil dari perancangan pencampuran antara


agregat dengan bahan pengikat (aspal), dan hasil tersebut menunjukkan kinerja
para meter yang berkaitan dengan mutu dan ketahanan campuran tersebut.
Menurut Sukirman (2003) kadar aspal optimum dapat ditentukan dengan
menempatkan batas-batas spesisifikasi campuran hal ini dapat dilihat pada gambar
2.3. Kadar aspal optimum adalah nilai tengah dari rentang kadar aspal yang
memenuhi semua spesifikasi campuran. Kadar aspal optimum yang baik adalah
kadar aspal yang memenuhi semua sifat campuran yang diinginkan dalam rentang
kadar aspal optimum  0,5%.
19

Gambar : 2.2 Contoh Grafik Penentuan Kadar Aspal Optimum


Sumber : Sukirman (2003)

2.10. Durabilitas

Durabilitas adalah kemampuan beton aspal menerima repetisi beban lalu


lintas seperti berat kendaraan dan gesekan antara roda kendaraan dan permukaan
jalan, serta menahan keausan akibat pengaruh cuaca dan iklim, seperti udara, air
atau perubahan temperatur. Durabilitas beton aspal dipengaruhi oleh tebalnya film
20

atau selimut aspal, banyaknya pori dalam campuran, kepadatan dan kedap airnya
campuran. Selimut aspal yang tebal akan membungkus agregat secara baik, beton
aspal akan lebih kedap air, sehingga kemampuannya menahan keausan semakin
baik. Tetapi semakin tebal selimut aspal maka akan semakin mudah terjadi
bleeding yang mengakibatkan jalan semakin licin. Besarnya pori yang tersisa
dalam campuran setelah pemadatan, mengakibatkan durabilitas beton aspal
menurun. Semakin besar pori yang tersisa semakin tidak kedap air dan semakin
banyak udara di dalam beton aspal, yang menyebabkan semakin mudahnya
selimut aspal beroksidasi dengan udara dan menjadi getas, dan durabilitasnya
menurun. (Sukirman, 2003).
Rasio antara stabilitas benda uji yang direndam 24 jam pada suhu 60°C,
dengan stabilitas benda uji yang direndam selama 30 menit pada suhu yang sama
disebut stabilitas sisa (retained stability). Benda uji campuran beraspal
dikategorikan awet (durable), bila nilai stabilitas sisa  90%.