Anda di halaman 1dari 3

Manusia Indonesia

1. Apa artinya saya menjadi Manusia Indonesia?

Manusia Indonesia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar “Warga Negara Indonesia.” Itu
bukan sesuatu yang didapatkan dengan syarat yang jelas, terlebih sama sekali tidak
berhubungan dengan hukum atau pemerintahan.

Manusia Indonesia mempunyai karakteristik yang sesuai dengan karakteristik Indonesia.


Sesuai dengan nilai-nilai budaya yang telah lama tumbuh dan berkembang, sesuai dengan
nilai-nilai yang tertanam.

Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Selama itu, ia berubah, tentu. Namun
terdapat beberapa hal yang konstan. Nilai-nilai yang sangat mendasar hingga dapat
bertahan hidup setelah melalui banyak perubahan, waktu, dan situasi. Mereka kemudian
menjadi sesuatu yang penting.

Menjadi Manusia Indonesia berhubungan erat dengan beradaptasi. Itu adalah sesuatu
yang harus selalu dilakukan; beradaptasi. Di Indonesa, hal itu dilakukan dengan menjadi
Manusia Indonesia.

Manusia Indonesia bertoleransi karena Indonesia sangat bervariasi. Manusia Indonesia


beragama karena Indonesia mengakui adanya Tuhan, dan hal tersebut digunakan dalam
banyak kegiatan.

Tentu, setiap individu itu berbeda. Tentu, semua orang mempunyai karakteristik yang
tidak dapat disamakan. Namun, bersamaan dengan kebutuhan untuk mengekspresikan
kecirian tersebut, manusia juga mempunyai kebutuhan akan orang lain. Manusia adalah
makhluk sosial.

Dan agar itu dapat bekerja, harus terdapat beberapa “pengorbanan.” Mungkin bukan kata
yang tepat, namun bagaimanapun, bergabung di dalam sebuah kelompok akan sedikit-
banyak menghilangkan beberapa sifat individu dalam waktu-waktu tertentu. Bukan hal
yang buruk, hanya harga yang harus dibayar untuk menjalankan kemasyarakatan yang
baik dan saling mendukung.

Dan sungguh, itu adalah harga yang pantas.

2. Mengapa saya “mesti” menjadi Manusia Indonesia?

Menjadi Manusia Indonesia adalah sebuah keharusan karena pada dasarnya, itu hanyalah
beradaptasi dengan lingkungan, situasi, dan kondisi Indonesia. Beradaptasi. Itu adalah
sesuatu yang harus dilakukan.
Semua hal mengenai “jadilah diri sendiri!” adalah sesuatu yang baik, tentu, namun
sering, istilah tersebut disalahgunakan.

“Menjadi diri sendiri” sendiri adalah istilah yang cukup membingungkan (“siapa tepatnya
“diri sendiri” itu?” Terdapat banyak versi “diri” dari seseorang, yang mana yang
merupakan “diri sendiri”-nya?”), dan menggunakan istilah itu sebagai “tiket bebas
masalah” adalah sesuatu yang jelas salah.

Seseorang tidak serta merta dapat melakukan hal-hal yang dinilai salah oleh masyarakat
karena “ini adalah diri saya!”, terdapat hal-hal yang mungkin tidak selalu mengenakkan
untuk dilakukan, mungkin sedikit berlawanan dengan apa yang ingin dilakukan
seseorang, namun itulah bagaiamana hal-hal bekerja dalam masyarakat. Bagaimana
semua orang mengorbankan sedikit hal, dalam satu cara atau lainnya, demi kebaikan
yang lebih besar. Yang lebih umum.

Itulah mengapa aturan ada, itulah mengapa nilai-nilai ada, dan “menjadi diri sendiri,”
meskipun adalah sesuatu yang sangat penting, bukan merupakan alasan untuk
membebaskan diri dari tanggung jawab tersebut.

(atau lakukan itu, lepaskan tanggung jawab, tapi orang tersebut kemudian, entah
bagaimana, akan kehilangan hak-hak yang ia akan dapatkan jika ia memenuhi tanggung
jawab tersebut. Seperti bagaimana mungkin tidak semua orang selalu ingin bersikap
sopan dan baik, melakukan basa-basi mengenai hal yang tidak terlalu ia pedulikan,
namun sebagai imbalan ia mendapatkan teman, orang-orang yang peduli padanya dan
mungkin akan membantu.)

Karakteristik yang dimiliki Manusia Indonesia sangat sesuai untuk Indonesia, karena
telah disempurnakan setelah ratusan tahun, dan masih terus disempurnakan. Manusia
selalu berubah.

Karakteristik tersebut sangat mendukung kehidupan di Indonesia. Sesuai untuk individu


dan kelompok.

Nilai-nilai yang telah ada sejak lama, pada dasarnya adalah panduan instruksi cara
menjadi warga Indonesia yang baik dan benar, sungguh sayang jika begitu saja
dilupakan.

3. Sebagai mahasiswa psikologi, apa seyogyanya tugas saya sebagai Manusia


Indonesia?

Meski saya adalah mahasiswa psikologi, saya sama sekali belum merasa paham banyak
mengenai hal tersebut. Baru pada pertemuan keempat mata kuliah Psikologi Umum 1
kami diberi tahu cara benar mengucapkan kata “psikoogi”! Kami belum genap setengah
tahun menjadi mahasiswa psikologi.
Saya belum merasa yakin mengenai “mahasiwa psikologi” dan “manusia Indonesia,”
maka kesulitan menjawab pertanyaan terebut tergandakan.

Satu-satunya hal yang saya pikirkan adalah jawaban generik “memasukkan nilai-nilai
sebagai manusia Indonesia dalam studi saya, dan tidak merubah hal-hal yang telah
menjadi bagian dari diri saya sebagai manusia Indonesia.”

Namun satu hal yang saya amati yang mungkin sedikit relevan adalah bahwa bidang studi
ini bukanlah sesuatu yang sangat umum di Indonesia. Setidaknya, tidak seperti
kebanyakan bidang-bidang studi lain (saya selalu menganggap bahwa ketika teman-
teman mengatakan bagaimana orang menanyakan apakah mereka mampu “membaca
pikiran,” itu hanyalah candaan yang dilebih-lebihkan, sampai saya sendiri ditanya
pertanyaan tersebut oleh salah satu teman).

Mungkin, karena tidak umumnya ilmu ini di Indonesia, terdapat hal-hal yang tidak
sepenuhnya sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia, dan tidak banyak alternatif
lain.

Mungkin sebagai mahasiswa psikologi Indonesia, adalah tugas kami untuk melakukan
sesuatu mengenai hal tersebut.