Anda di halaman 1dari 2

D.

Dinamika Struktural Masyarakat Maritim

Pada awal perkembangannya, struktur inti (elementer) dari kelompok masyarakat maritim
di Indonesia adalah P.Laut atau juragan dan sawi atau nelayan. P.Laut berstatus sebagai
pemimpin playaran dan aktivitas produksi, serta sebagai pemilik alat-alat produksi. Mereka
memiliki pengetahuan kelautan serta pengetahuan dan keterampilan manajerial. Sementara
itu, para sawi hanya memiliki pengetahuan kelautan dan keterampilan kerja/produksi.

Perkembangan jumlah unit perahu dan alat-alat produksi yang dikuasai oleh P.Laut
akibat dari pengaruh kapitalisme menyebabkan terjadinya perubahan struktural. Para P.Laut
berangsur-angsur memutuskan untuk tetap tinggal di darat/pulau untuk mengelola perolehan
pinjaman modal dari pihak lain, mengurus biaya-biaya anggota yang beroperasi di laut,
membangun jaringan pemasaran, dll. Mereka tidak lagi ikut memimpin pelayaran dan proses
produksi di laut. Hal ini mengawali munculnya status baru pada strata tertinggi dalam
kelompok kerja nelayan, yang disebut P.Darat/P.Pulau. Para P.Darat tidak ikut turun
bersama nelayan, mereka hanya merekrut juragan-juragan baru untuk menggantikan
posisinya dalam memimpin unit-unit usaha yang mengalami perkembangan dan peningkatan
jumlah.

Meski terjadi perubahan pada pola hubungan (struktur sosial) dari masyarakat maritim,
seperti berubahnya tugas dari P.Laut dan munculnya P.Darat, hubungan yang terjadi adalah
hubungan patron-client. Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua
peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan
instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi
(patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan,
serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnyanya lebih
rendah (klien). Klien kemudian membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan
bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagai pola pertukaran yang tersebar, jasa
dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul
dan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak.

Perubahan struktural terjadi secara drastis akibat berlangsungnya adopsi inovasi


teknologi perikanan, terutama motor/mesin, peningkatan volume perahu, beberapa jenis alat
tangkap baru skala besar, sarana pengawetan modern. Hal ini membuat para P.Darat
terpakasa mengusahakan sebagian dari modalnya ke pengusaha-pengusaha di kota-kota
besar. Pola umum sekaligus norma pemasaran dalam masyarakat nelayan tradisional yang
memasarkan tangkapan ke pihak yang memberikan pinjaman modal memungkinkan
pengusah modal dari luar secara berangsur-angsur mengambil alih sebagain besar posisi dan
peranan vital para pengusaha lokal, yang lemah dalam faktor modal. Awalnya mereka hanya
menuntut nelayan untuk menjual hasil tangkap kepada mereka, lalu mulai menentukan
spesies-spesies nelayan dan tingkat harta, hingga akhirnya mengancam penarikan pinjaman
dari nelayan jika ketentuan-ketentuan kurang dipenuhi.
Perubahan seperti ini membuat pengusaha modal besar berada di posisi teratas dalam
strata sosial, sementara P.Laut dan sawi hanya sebagai penyewa atau penyicil alat-alat
produksi dari mereka melalui P.Darat. Keterlibatan dan dominasi dari pengusaha modal
besar menyebabkan hubungan patron-client yang awalnya terjalin antara P.Darat dengan
nelayan berubah menjadi hubungan eksploitatif, sementara hubungan antara P.Darat dan
pengusaha modal semakin terbangun.

Karena perilaku P.Darat setelah masuknya pengusaha modal cenderung merugikan bagi
orang-orang yang berada di bawahnya, banyak P.Laut yang langsung mminjam modal
kepada pengusaha modal besar. Hal ini melahirkan suatu struktur kerjasama baru antara
P.Laut dan pengusaha modal besar.

Perubahan-perubahan (dinamika) yang terjadi dalam struktur masyarakat maritim


mengakibatkan perubahan hubungan menjadi eksploitatif. Hal ini mengakibatkan kerugian
bagi nelayan-nelayan kecil yang awalnya dapat menyambung hidup dengan struktur
sederhana P.Laut dan sawi. Diasumsikan bahwa perubahan struktural in mempengaruhi
meluasnya gejala kemiskinan di desa-desa nelayan saat ini.