Anda di halaman 1dari 15

TUGAS SENSOR DAN TRANDUSER

MACAM-MACAM SENSOR DAN APLIKASINYA

Oleh :
DIMAS PRAKASA
NIM 173111106

POLITEKNIK NEGERI MALANG


PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
2018
MACAM SENSOR DAN APLIKASINYA

1. Photo Dioda

1.1 Prinsip Kerja

Photodioda terbuat dari semikonduktor p-n junction maka cahaya yang diserap oleh
photodioda akan mengakibatkan terjadinya pergeseran foton yang akan menghasilkan pasangan
electron-hole dikedua sisi dari sambungan. Ketika elektron-elektron yang dihasilkan itu masuk
ke pita konduksi maka elektron-elektron itu akan mengalir ke arah positif sumber tegangan
sedangkan hole yang dihasilkan mengalir ke arah negatif sumber tegangan sehingga arus akan
mengalir di dalam rangkaian. Besarnya pasangan elektron ataupun hole yang dihasilkan
tergantung dari besarnya intensitas cahaya yang diserap oleh photodioda.

Photodiodes dibuat dari semikonduktor dengan bahan yang populer adalah silicon ( Si)
atau galium arsenida ( GaAs), dan yang lain meliputi InSb, InAs, PbSe. Material ini menyerap
cahaya dengan karakteristik panjang gelombang mencakup: 2500 Å - 11000 Å untuk silicon,
8000 Å – 20,000 Å untuk GaAs. Ketika sebuah photon (satu satuan energi dalam cahaya) dari
sumber cahaya diserap, hal tersebut membangkitkan suatu elektron dan menghasilkan sepasang
pembawa muatan tunggal, sebuah elektron dan sebuah hole, di mana suatu hole adalah bagian
dari kisi-kisi semikonduktor yang kehilangan elektron. Arah Arus yang melalui sebuah
semikonduktor adalah kebalikan dengan gerak muatan pembawa. cara tersebut didalam sebuah
photodiode digunakan untuk mengumpulkan photon - menyebabkan pembawa muatan (seperti
arus atau tegangan) mengalir/terbentuk di bagian-bagian elektroda.

Photodioda digunakan sebagai penangkap gelombang cahaya yang dipancarkan oleh


Infrared. Besarnya tegangan atau arus listrik yang dihasilkan oleh photodioda tergantung besar
kecilnya radiasi yang dipancarkan oleh infrared.

Photo dioda digunakan sebagai komponen pendeteksi ada tidaknya cahaya maupun dapat
digunakan untuk membentuk sebuah alat ukur akurat yang dapat mendeteksi intensitas cahaya
dibawah 1pW/cm2 sampai intensitas diatas 10mW/cm2. Photo dioda mempunyai resistansi yang
rendah pada kondisi forward bias, kita dapat memanfaatkan photo dioda ini pada kondisi reverse
bias dimana resistansi dari photo dioda akan turun seiring dengan intensitas cahaya yang masuk.
Jika photo dioda tidak terkena cahaya, maka tidak ada
arus yang mengalir ke rangkaian pembanding, jika photo dioda
terkena cahaya maka photodiode akan bersifat sebagai
tegangan, sehingga Vcc dan photo dioda tersusun seri,
akibatnya terdapat arus yang mengalir ke rangkaian
pembanding.

Sifat dari Photodioda adalah :


1. Jika terkena cahaya maka resistansi nya berkurang
2. Jika tidak terkena cahaya maka resistansi nya meningkat.

1.2 Contoh Aplikasi Sederhana

Alarm Otomatis Dengan Sensor Infrared Dan Photodioda

Ketika cahaya infrared terpotong maka arus (i) tidak mengalir pada photodiode sehingga
menon-aktifkan TR1 dan sebaliknya TR2 akan menjadi aktif dan rangkaian relay pun ikut
menjadi aktif. Karena relay aktif maka akan menarik saklar ke posisi ON sehingga tegangan
sumber dapat mengalir ke alarm. Sehingga alarm akan berbunyi.
2. Photo Transistor

2.1 Prinsip Kerja


Sama halnya dioda foto, maka transistor foto juga dapat dibuat sebagai sensor cahaya. Teknis
yang baik adalah dengan menggabungkan dioda foto dengan transistor foto dalam satu rangkain.

– Karakteristik transistor foto yaitu hubungan arus, tegangan dan intensitas foto
– Kombinasi dioda foto dan transistor dalam satu chip
– Transistor sebagai penguat arus
– Linieritas dan respons frekuensi tidak sebaik diode
2.1 Contoh Aplikasi Sederhana

Alarm Otomatis Dengan Sensor Infrared Dan Photo-Transistor


Ketika cahaya infrared terpotong maka TR1 (phototransistor) tidak aktif dan sebaliknya TR2
akan menjadi aktif dan rangkaian relay pun ikut menjadi aktif. Karena relay aktif maka akan
menarik saklar ke posisi ON sehingga tegangan sumber dapat mengalir ke alarm. Sehingga alarm
akan berbunyi.

3. LDR (Light Dependent Resistor)

3.1 Prinsip Kerja

LDR (Light Dependent Resistor) adalah suatu komponen elektronik yang


resistansinya berubah ubah tergantung pada intensitas cahaya. Jika intensitas cahaya
semakin besar maka resistansi LDR semakin kecil, jika intensitas cahaya semakin kecil
maka resistansi LDR semakin besar. LDR sering juga disebut dengan sensor cahaya.

Gambar Bentuk Fisik LDR


Cara merangkai LDR ada 2, tergantung dengan respon yang diinginkan.
Rangkaian itu antara lain:

Gambar Rangkaian 1 Gambar Rangkaian 2

1.2 Keterangan :

 Cara kerja rangkaian 1 adalah pada saat intensitas cahaya disekitar LDR membesar,
maka hambatan LDR akan mengecil. Hal ini menyebabkan tegangan pada Titik 1
semakin besar. Dan sebaliknya, jika intensitas cahaya disekitar LDR semakin kecil,
maka hambatan LDR semakin besar. Hal ini menyebabkan tegangan pada Titik 1
semakin kecil.

 Cara kerja rangkaian 2 adalah pada saat intensitas cahaya disekitar LDR mengecil,
maka hambatan LDR akan membesar. Hal ini menyebabkan tegangan pada Titik 2
semakin membesar. Dan sebaliknya, jika intensitas cahaya disekitar LDR semakin
besar, maka hambatan pada LDR semakin kecil. Hal ini menyebabkan tegangan pada
Titik 2 semakin mengecil.

LDR memanfaatkan bahan semikonduktor yang karakteristik listriknya berubah-ubah


sesuai dengan cahaya yang diterima. Bahan yang digunakan adalah Kadmium Sulfida (CdS) dan
Kadmium Selenida (CdSe).
1.3 Contoh Aplikasi Sederhana

Contoh penggunaannya adalah pada lampu taman dan lampu jalan yang bisa menyala di
malam hari dan padam di siang hari secara otomatis.

APLIKASI LDR UNTUK LAMPU JALAN

Pada dasarnya rangkaian diatas dirancang bagaimana supaya dengan adanya kenaikan
resistansi pada LDR akan bisa memposisikan saklar relay ke posisi ON. Karena karakteristik dari
LDR adalah naiknya tingkat kegelapan kondisi cahaya akan menaikkan nilai tahanan dari LDR
tersebut dengan kata lain semakin terang atau semakin besar intensitas cahaya akan menurunkan
nilai resistansinya.
Jadi sesuai sifat LDR tadi maka LDR tersebut dihubungkan seri dengan tahanan VR
(variable resistor) sehingga terjadi pembagian tegangan antara keduanya. Kemudian posisikan
besarnya tegangan pada salah satu diantara keduanya untuk dijadikan sebagai pemicu pada basis
transistor.
Pada saat kondisi semakin gelap nilai tahanan LDR akan naik dan terjadi pula kenaikan
nilai tegangan pada LDR (sesuai hukum pembagi tegangan) maka artinya tegangan pada LDR ini
bisa kita jadikan sebagai supply tegangan untuk pemicu basis transistor sehingga akan
mengaktifkan transistor dan rangkaian relay. Kemudian relay akan menarik saklar ke posisi ON
dan arus dari sumber mengalir ke lampu sehingga lampu akan menyala.

4. SENSOR BIMETAL
4.1 Prinsip Kerja
Bimetal adalah sensor temperatur yang sangat populer digunakan karena kesederhanaan yang
dimilikinya. Bimetal biasa dijumpai pada alat strika listrik dan lampu kelap-kelip (dimmer).
Bimetal adalah sensor suhu yang terbuat dari dua buah lempengan logam yang berbeda koefisien
muainya (α) yang direkatkan menjadi satu.
Bila suatu logam dipanaskan maka akan terjadi pemuaian, besarnya pemuaian tergantung
dari jenis logam dan tingginya temperatur kerja logam tersebut. Bila dua lempeng logam saling
direkatkan dan dipanaskan, maka logam yang memiliki koefisien muai lebih tinggi akan memuai
lebih panjang sedangkan yang memiliki koefisien muai lebih rendah memuai lebih pendek. Oleh
karena perbedaan reaksi muai tersebut maka bimetal akan melengkung kearah logam yang
muainya lebih rendah. Dalam aplikasinya bimetal dapat dibentuk menjadi saklar Normally
Closed (NC) atau Normally Open (NO).

Sistem Tanda Belok dengan Flasher Tipe Bimetal


Sistem tanda belok tipe ini yaitu dengan mengandalkan kerja dari dua keping/bilah (strip)
bimetal untuk mengontrol kedipannya. Bimetal terdiri dari dua logam yang berbeda (biasanya
kuningan dan baja) yang digabung menjadi satu. Jika ada panas dari aliran listrik yang masuk ke
bimetal, maka akan terjadi pengembangan/pemuaian dari logam yang berbeda tersebut dengan
kecepatan yang berbeda pula. Hal ini akan menyebabkan bimetal cenderung menjadi bengkok ke
salah satu sisi. Dalam flasher tipe bimetal terdapat dua keping bimetal yang dipasang berdekatan
dan masing-masing mempunyai plat kontak pada salah satu ujungnya.

Konstruksi Bimetal (Yayan I.B, 1998)

Cara kerja sistem tanda belok dengan flasher tipe bimetal Pada saat saklar lampu sein
digerakan (ke kiri atau kanan), arus mengalir ke voltage coil (kumparan) yang akan membuat
kumparan tersebut memanas dan bengkok. Setelah kebengkokannya sampai menghubungkan
kedua plat kontak di bagian ujungnya, arus kemudian mengalir ke current coil (kumparan arus)
terus ke lampu sein/tanda belok dan akhirnya ke massa (gambar dibawah ). Saat ini lampu sein
menyala dan current coil akan mulai bengkok menjauhi voltage coil.
Setelah kebengkokan current coil membuat plat kontak terpisah/terbuka, maka lampu
sein mati. Selanjutnya current coil akan menjadi dingin setelah arus yang mengalir hilang dan
akhirnya bimatalnya akan lurus kembali posisinya sehingga plat kontak menempel kembali
dengan plat kontak yang dari voltage coil. Arus akan mengalir kembali untuk menghidupkan
lampu sein. Begitu seterusnya proses ini berulang sehingga lampu tanda belok berkedip.
5. THERMISTOR

5.1 Prinsip Kerja


Thermistor atau tahanan thermal adalah alat semikonduktor yang berkelakuan sebagai
tahanan dengan koefisien tahanan temperatur yang tinggi, yang biasanya negatif. Umumnya
tahanan Thermistor pada temperatur ruang dapat berkurang 6% untuk setiap kenaikan temperatur
sebesar 1oC. Kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur ini membuat Thermistor
sangat sesuai untuk pengukuran, pengontrolan dan kompensasi temperatur secara presisi.

Gambar Thermister

Thermistor terbuat dari campuran oksida-oksida logam yang diendapkan seperti: mangan
(Mn), nikel (Ni), cobalt (Co), tembaga (Cu), besi (Fe) dan uranium (U). Rangkuman tahanannya
adalah dari 0,5 sampai 75 dan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ukuran paling
kecil berbentuk mani-manik (beads) dengan diameter 0,15 mm sampai 1,25 mm, bentuk piringan
(disk) atau cincin (washer) dengan ukuran 2,5 mm sampai 25 mm. Cincin-cincin dapat
ditumpukan dan di tempatkan secara seri atau paralel guna memperbesar disipasi daya.

Dalam operasinya Thermistor memanfaatkan perubahan resistivitas terhadap temperatur, dan


umumnya nilai tahanannya turun terhadap temperatur secara eksponensial untuk jenis NTC (
Negative Thermal Coeffisien)

Termistor ditemukan oleh Samuel Ruben pada tahun 1930, dan mendapat hak paten di
Amerika Serikat dengan nomor #2.021.491. Ada dua macam termistor secara umum: Posistor
atau PTC (Positive Temperature Coefficient), dan NTC (Negative Temperature Coefficient).
Nilai tahanan pada PTC akan naik jika perubahan suhunya naik, dengan kenaikan resistansi linier
terhadap temperature. Sementara sifat NTC justru kebalikannya, dengan kenaikan resistansi
secara exponential terhadap temperature..
5.2 Aplikasi Thermister
Pada contoh aplikasi ini digunakan thermistor jenis NTC untuk mengukur temperatur
ruangan. Pertama kali dilakukan karakterisasi thermistor NTC tersebut yaitu dengan cara
memasukkan ke dalam air es untuk temperatur dingin dan mendekatkan pada alat pemanas untuk
temperatur panas, kemudian mencatat besar resistansinya. Gambar berikut hasil karakterisasi
thermistor NTC.

Hasil dari karakterisasi thermistor NTC


tersebut kemudian diplot dalam software
mathematic versi 5.1. Dari software
tersebut diperoleh persamaan perubahan
resistansi terhadap temperatur.

Persamaan di atas merupakan persamaan resistansi terhadap perubahan temperatur.


Thermistor tersebut rencananya akan dihubungkan dengan data acquisition system supaya dapat
dibaca besar temperatutnya. Untuk itu perlu adanya rangkaian tambahan, yaitu rangkaian
pengkondisi sinyal untuk mengubah besaran resistansi menjadi tegangan analog. Rangkaian
pengkondisi sinyal diperlihatkan dalam gambar berikut.

Dalam Gambar tersebut, thermistor dihubungkan


dengan sebuah resistor 10Kohm sehingga rangkaian
tersebut berfungsi sebagai pembagi tegangan. Tegangan
Vout dapat dicari menggunakan persamaan:

Setelah dilakukan percobaan didapatkan hubungan


antara temperatur ruangan terhadap tegangan output, hasilnya dapat dilihat dalam gambar
berikut.
Dari gambar tersebut didapatkan
persamaan hubungan antara temperatur
dengan tegangan output dari rangkaian sinyal
kondisioning.

Gambar Rangkaian

6. RTD (Resistansi Thermal Detektor)


6.1 Prinsip Kerja
RTD adalah salah satu dari beberapa jenis sensor suhu yang sering digunakan. RTD dibuat
dari bahan kawat tahan korosi, kawat tersebut dililitkan pada bahan keramik isolator. Bahan
tersebut antara lain; platina, emas, perak, nikel dan tembaga, dan yang terbaik adalah bahan
platina karena dapat digunakan menyensor suhu sampai 1500o C. Tembaga dapat digunakan
untuk sensor suhu yang lebih rendah dan lebih murah, tetapi tembaga mudah terserang korosi.
Resistance Thermal Detector (RTD) perubahan tahanannya lebih linear terhadap temperatur
uji tetapi koefisien lebih rendah dari thermistor dan model matematis linier adalah:
Dimana :

Ro = tahanan konduktor pada temperature awal (biasanya 0oC)


RT = tahanan konduktor pada temperatur toC
α = koefisien temperatur tahanan
Δt = selisih antara temperatur kerja dengan temperatur awal

Sedangkan model matematis nonliner kuadratik adalah:

6.2 Contoh Aplikasi Sederhana

APLIKASI RTD

Pada suhu 0°C, resistansi PT100 adalah 100 ohm, sehingga tegangan keluaran sensor
adalah:

vs0 = 100 x 1mA = 100 mV

Ketika suhu naik menjadi 1°C, resistansi PT100 adalah 100,385, sehingga tegangan
keluaran sensor adalah:

vs1 = 100,385 x 1mA = 100,385 mV

Dengan demikian, konversi dari tegangan menjadi suhu adalah:

suhu = (vs – 100) / 0,38


7. Sensor Ultrasonik

7.1 Teori Dasar


Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor yang berfungsi untuk mengubah besaran fisis (bunyi)
menjadi besaran listrik dan sebaliknya. Cara kerja sensor ini didasarkan pada prinsip dari
pantulan suatu gelombang suara sehingga dapat dipakai untuk menafsirkan eksistensi (jarak)
suatu benda dengan frekuensi tertentu. Disebut sebagai sensor ultrasonik karena sensor ini
menggunakan gelombang ultrasonik (bunyi ultrasonik).

Gelombang ultrasonik adalah gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi sangat tinggi
yaitu 20.000 Hz. Bunyi ultrasonik tidak dapat di dengar oleh telinga manusia. Bunyi ultrasonik
dapat didengar oleh anjing, kucing, kelelawar, dan lumba-lumba. Bunyi ultrasonik nisa
merambat melalui zat padat, cair dan gas. Reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat padat
hampir sama dengan reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat cair. Akan tetapi,
gelombang bunyi ultrasonik akan diserap oleh tekstil dan busa.

7.2 PRINSIP KERJA

Pada sensor ultrasonik, gelombang ultrasonik dibangkitkan melalui sebuah alat yang
disebut dengan piezoelektrik dengan frekuensi tertentu. Piezoelektrik ini akan menghasilkan
gelombang ultrasonik (umumnya berfrekuensi 40kHz) ketika sebuah osilator diterapkan pada
benda tersebut. Secara umum, alat ini akan menembakkan gelombang ultrasonik menuju suatu
area atau suatu target. Setelah gelombang menyentuh permukaan target, maka target akan
memantulkan kembali gelombang tersebut. Gelombang pantulan dari target akan ditangkap oleh
sensor, kemudian sensor menghitung selisih antara waktu pengiriman gelombang dan waktu
gelombang pantul diterima.

Secara detail, cara kerja sensor ultrasonik adalah sebagai berikut:

 Sinyal dipancarkan oleh pemancar ultrasonik dengan frekuensi tertentu dan dengan durasi
waktu tertentu. Sinyal tersebut berfrekuensi diatas 20kHz. Untuk mengukur jarak benda
(sensor jarak), frekuensi yang umum digunakan adalah 40kHz.
 Sinyal yang dipancarkan akan merambat sebagai gelombang bunyi dengan kecepatan
sekitar 340 m/s. Ketika menumbuk suatu benda, maka sinyal tersebut akan dipantulkan
oleh benda tersebut.
 Setelah gelombang pantulan sampai di alat penerima, maka sinyal tersebut akan diproses
untuk menghitung jarak benda tersebut. Jarak benda dihitung berdasarkan rumus :

S = 340.t/2
dimana S merupakan jarak antara sensor ultrasonik dengan benda (bidang pantul), dan t adalah
selisih antara waktu pemancaran gelombang oleh transmitter dan waktu ketika gelombang pantul
diterima receiver.

7.3 Contoh Aplikasi Sederhana

Transmitter
Transmitter adalah sebuah alat yang berfungsi sebagai pemancar gelombang ultrasonik
dengan frekuensi tertentu (misal, sebesar 40 kHz) yang dibangkitkan dari sebuah osilator. Untuk
menghasilkan frekuensi 40 KHz, harus di buat sebuah rangkaian osilator dan keluaran dari osilator
dilanjutkan menuju penguat sinyal. Besarnya frekuensi ditentukan oleh komponen RLC / kristal
tergantung dari disain osilator yang digunakan. Penguat sinyal akan memberikan sebuah sinyal
listrik yang diumpankan ke piezoelektrik dan terjadi reaksi mekanik sehingga bergetar dan
memancarkan gelombang yang sesuai dengan besar frekuensi pada osilator.

Gambar Rangkaian Sederhana dengan Sensor Ultrasonik