Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin meningkat
karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada masyarakat. Dari
sepuluh penyebab utama kematian, dua diantaranya penyakit jantung dan
stroke adalah penyakit tidak menular. Keadaan ini terjadi di dunia, baik di
Negara maju maupun di Negara ekonomi rendah-menengah. Bahkan kanker
paru sebagai penyakit kronis, menduduki peringkat ketiga penyebab kematian
di Negara maju.
Selama ini epidemiologi kebnayakan berkecimpung menangani masalah
penyakit menular, bahkan epidemiologi terasa hanya menangani masalah
penyakit menular. Karena itu, epidemiologi hampir selalu dikaitkan dan
dianggap hanya sebgai epidemiologi penyakit menular. Hal ini tidak dapat
disangkal jika dikaitkan dengan sejarah perkembangannya yang berlatar
belakang penyakit menular. Sejarang epidemiologi memang bermula dengan
penanganan masalah penyakit menular yang merajalela dan banyak menelan
korban pada waktu itu. Namun kemudian, perkembangan sosioekonomi dan
cultural bangsa dan dunia menuntut epidemiologi untuk memberikan perhatian
kepada penyakit tidak menular karena sudah mulai meningkat dan cenderung
sesuai perkembangan masyarakat.
Pentingnya pengetahuan tentang penyakit tidak menular dilatar belakangi
dengan kecenderungan semakin meningkatnya prevalensi PTM pada
masyarakat, termasuk kalangan masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang
sementara membangun dirinya dari suatu Negara agraris yang sedang
berkembang menuju masyarakat industry membawa kecenderungan baru
dalam pola penyakit dalam masyarakat. Perubahan pola struktur msyarakat
agraris ke masyarakat industry banyak memberi andil terhadap perubahan pola
fertilitas, gaya hidup dan social ekonomi, yang pada gilirannya dapat memicu

1
peningkatan PTM. Perubahan pola dari penyakit menular ke penyakit tidak
menular ini lebih dikenal dalam sebutan transisi epidemiologi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dan ruang lingkup Epidemiologi Penyakit Tidak Menular?
2. Apa saja Karakteristik Epidemiologi Penyakit Tidak Menular?
3. Apa Peranan epidemiologi dalam masalah Penyakit Tidak Menular?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Definisi dan ruang lingkup Epidemiologi Penyakit
Tidak Menular
2. Untuk Mengetahui Karakteristik Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
3. Untuk Mengetahui Peranan epidemiologi dalam masalah Penyakit Tidak
Menular

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan Ruang Lingkup Epidemiologi Penyakit Tidak Menular


Epidemiologi berasala dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata Epi yang
berarti pada atau tentang, kata demos yang berarti penduduk, dan kata
logia/logos yang berarti ilmu. Sehingga diterjemahkan menjadi ilmu mengenai
kejadian yang menimpa penduduk. Sebagai ilmu yang selalu berkembang,
Epidemiologi senantiasa mengalami perkembangan pengertian dan karena itu
pula mengalami modifikasi dalam batasan/definisinya.
Epidemiologi merupakan suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis
sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk
tertentu serta mempelajari sebab timbulnya masalah dan gangguan kesehatan
tersebut untuk tujuan pencegahan maupun penanggulangannya. Epidemiologi
merupakan filosofi dasar disiplin ilmu-ilmu kesehatan, termasuk kedokteran,
yakni suatu proses logis untuk menganalisis serta memahami hubungan
interaksi antara proses fisik, biologis dan fenomena sosial yang berhubungan
erat dengan derajat kesehatan, kejadian penyakit maupun gangguan kesehatan
lainnya. Dalam hal ini, sifat dasar epidemiologi lebih mengarahkan diri pada
kelompok penduduk atau masyarakat secara kuantitatif (menggunakan nilai
rate, ratio, proporsi dan semacamnya) (Noor, 2008).
Penyakit tidak menular (non-communicable disease/NCD) adalah kondisi
medis atau penyakit yang non-infeksi dan non-menular antara orang-orang.
Penyakit tidak menular (NCD), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak
ditularkan dari orang ke orang. Penyakit tidak menular memiliki durasi panjang
dan perkembangan umumnya lambat. (WHO, 2015).
Istilah penyakit tidak menular dipakai dengan maksud untuk membedakan
kelompok penyakit-penyakit lainnya yang tidak termasuk dalam penyakit
menular. Pengelompokkan penyakit menular dalam sejarahnya, lebih dulu
menemukan istilah untuk dirinya ketika penyakit-penyakit tersebut sedang
menyerang dunia dan masyarakat dengan cara menular. Penyakit-penyakit

3
lainnya yang sifatnya tidak menular, dikelompokkan sebagai penyakit tidak
menular.
Epidemiologi penyakit tidak menular merupakan salah satu ruang lingkup
di dalam epidemiologi. Pada saat ini epidemiologi penyakit tidak menular
sedang berkembang pesat dalam usaha mencari berbagai factor yang
memegang peranan dalam timbulnya berbagai masalah penyakit tidak menular
seperti kanker, penyakit sistemis serta berbagai penyakit menahun lainnya,
termasuk masalah meningkatnya kecelakaan lalu lintas dan penyalahgunaan
obat-obat tertentu. Bidang ini banyak digunakan terutama dengan
meningkatnya masalah kesehatan akibat kemajuan dalam berbagai bidang
terutama bidang industri yang banyak mempengaruhi keadaan lingkungan,
termasuk lingkungan fisik, biologis, maupun lingkungan sosial budaya (Noor,
2008).
Beberapa istilah yang biasa digunakan untuk menunjukkan Penyakit Tidak
Menular antara lain:
1. Penyakit kronik atau menahun karena biasanya kemunculan gejala
penyakit berlangsung lama jika dihitung dari waktu seseorang mulai
terpapar faktor risiko. Meskipun begitu, ada juga yang kelangsungannya
mendadak (misalnya saja keracunan), sementara yang berlangsung lama
misalnya penyakit kanker.
2. Penyakit non-infeksi (non infectious disease) karena penyebabnya
bukan mikroorganisme, namun tidak berarti tidak ada peranan
mikroorganisme dalam terjadinya penyakit tidak menular misalnya
kanker serviks yang juga berkaitan dengan infeksi Human Papiloma
Virus (HPV).
3. Penyakit degeneratif karena berhubungan dengan proses degenerasi
(penuaan).
4. New Communicable Desease karena dianggap dapat menular melalui
gaya hidup. Gaya hidup yang dimaksud dalam hal ini adalah pola
makan, kehidupan seksual dan komunikasi global.

4
Kesamaan penyebutan ini tidaklah sepenuhnya memberi kesamaan penuh
antara satu dengan lainnya. Penyakit kronis dapat dipakai untuk PTM karena
kelangsungan PTM biasanya bersifat kronis (menahun) atau lama. Namun
demikian ditemukan juga penyakit tidak menular yang kelangsungannya
mendadak/akut, misalnya keracunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
sendiri mempergunakan istilah penyakit kronis (chronic diseases) untuk
penyakit-penyakit tidak menular. Yang dimaksud dengan penyakit kronis ini
memang jenis penyakit yang bersifat kronis, dan tidak memperhatikannya dari
segi apakah menular atau tidak.
Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tidak menular seperti
cacat fisik, gangguan mental, kanker, penyakit degeneratif, penyakit gangguan
metabolisme, dan kelainan-kelainan organ tubuh lain penyakit jantung,
pembuluh darah, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit kencing manis, berat
badan lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi dan kecemasan. Penyakit
Tidak Menular (PTM) tidak dikarenakan adanya proses infeksi. Bahkan
sebagian penelitian menyebutkan bahwa orang yang mulai terkena Penyakit
Tidak Menular ini tidak merasakan adanya gejala. Sehingga banyak orang yang
baru menyadarinya ketika Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut sudah
dalam keadaan parah.

Penyakit non infeksi dipakai karena penyebab PTM biasanya bukan oleh
mikroorganisme. Namun tidak berarti tidak ada peranan mikroorganisme
dalam terjadinya PTM. Penyakit degeneratif karena kejadiannya bersangkutan
dengan proses degenerasi atau ketuaan sehingga PTM banyak ditemukan pada
usia lanjut. New communicable disease karena penyakit ini dianggap dapat
menular, yakni melalui gaya hidup. Gaya hidup dalam dunia modern dapat
menular dengan caranya sendiri, tidak seperti penularan klasik penyakit
menular yang lewat suatu rantai penularan tertentu. Gaya hidup di dalamnya
dapat menyangkut pola makan, kehidupan seksual dan komunikasi global.
(Bustan, 2007).

5
B. Karakteristik Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
Berbeda dengan penyakit menular, PTM mempunyai beberapa karakteristik
tersendiri seperti:
a. Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu.
b. ''Masa inkubasi' yang panjang dan laten.
c. Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronis).
d. Banyak menghadapi kesulitan diagnosis.
e. Mempunyai variasi yang luas.
f. Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun
penanggulangannya.
g. Faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak
jelas.
Secara umum perbedaan antara penyakit menular dan penyakit tidak
menular, dapat dilihat pada tabel berikut:
Penyakit menular Penyakit Tidak Menular
1. Banyak ditemui dinegara 1. Banyak ditemui dinegara
berkembang industry
2. Rantai penularannya jelas 2. Tidak ada rantai penularan
3. Berlangsung akut 3. Berlansung kronik
4. Etiologi mikroorganisme 4. Etiologi tidak jelas
jelas 5. Biasanya multiple causa
5. Bersifat single causa 6. Diagnosis sulit
6. Diagnosis mudah 7. Sulit mencari penyebab
7. Agak mudah mencari pasti
penyebabnya 8. Biaya pengobatan mahal
8. Biaya pengobatan relatif 9. Ada fenomena iceberg
murah 10. Morbiditas dan
9. Mudah menentukan insiden mortalitasnya cenderung
dan prevalensinya meningkat

6
10. Morbiditas dan
mortalitasnya cenderung
menurun

Perbedaan PTM ini dengan penyakit menular memerlukan pendekatan


epidemiologi tersendiri, mulai dari penentuannya sebagai masalah kesehatan
masyarakat sampai pada upaya pencegahan dan penanggulangannya.
Misalnya, ketika melakukan observasi keadaan PTM di lapangan. Dalam
mengamati PTM yang perlangsungannya kronis dan masa latent yang panjang,
dapat ditemukan beberapa kesulitan dengan hanya melakukan pengamatan
observasional yang berdasarkan pengalaman pribadi dari anggota masyarakat
saja. jika observasi itu ditujukan untuk menentukan hubungan antara
keterpaparan dengan terjadinya penyakit, maka beberapa kesulitan dapat
dihadapi.
C. Peranan epidemiologi dalam masalah Penyakit Tidak Menular
Dalam menangani masalah PTM ini pendekatan dan prinsip-:prinsip
epidemiologi perlu diterapkan. Adapun peranan epidemiologi dalam masalah
PTM adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana distribusi PTM dalam masyarakat
sehingga dapat diidentifikasi besarnya masalah PTM dalam kesehatan
masyarakat.
b. Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab tingginya distribusi
PTM dalam suatu masyarakat, dibandingkan dengan daerah/komuniti
lainnya.
c. Untuk menentukan pilihan prioritas dalam menangani masalah PTM.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tidak menular seperti
cacat fisik, gangguan mental, kanker, penyakit degeneratif, penyakit gangguan
metabolisme, dan kelainan-kelainan organ tubuh lain penyakit jantung,
pembuluh darah, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit kencing manis, berat
badan lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi dan kecemasan. Penyakit
Tidak Menular (PTM) tidak dikarenakan adanya proses infeksi. Bahkan
sebagian penelitian menyebutkan bahwa orang yang mulai terkena Penyakit
Tidak Menular ini tidak merasakan adanya gejala. Sehingga banyak orang yang
baru menyadarinya ketika Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut sudah
dalam keadaan parah.
Penyakit non infeksi dipakai karena penyebab PTM biasanya bukan oleh
mikroorganisme. Namun tidak berarti tidak ada peranan mikroorganisme
dalam terjadinya PTM. Penyakit degeneratif karena kejadiannya bersangkutan
dengan proses degenerasi atau ketuaan sehingga PTM banyak ditemukan pada
usia lanjut.
B. Saran
Epidemiologi PTM dalam kehidupan masyarakat dewasa ini belum
maksimal, oleh karena itu kami menghimbau kepada aparat kesehatan lebih
memperhatikan penyakit tidak menular, menurut kami melalui promosi
kesehatan dalam hal ini pola hidup sehat akan menekan angka terjadinya
penyakit tidak menular yang sebagian besar dipengaruhi oleh life style.

8
DAFTAR PUSTAKA
Azhari, dkk. 2015. Issue Terkini Penyakit Non Menular.
https://www.academia.edu/15639528/Review_Ruang_Lingkup_Penyakit_Ti
dak_Menular (Dikutip pada Jumat 02 Februari 2019)

Bustan, M.N, 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT.Rineka


Cipta

Nasry Noor, Nur.2008.Epidemiologi.Jakarta: Rineka Cipta.