Anda di halaman 1dari 7

PANCASILA DAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA

Kelompok 2
Pendidikan Pancasila
Dosen : Sabri Koebanu S.S M.Pd

- Aryani
- Dede Rahmah Hidayati
- Dian Nur Azizah
- Diaz Vindrariatno
PEMBAHASAN
PANCASILA DAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA

1. Pancasila sebagai ruh masyarakat nusantara.

Sejak nusantara ini masih berbentuk kerajaan-kerajaan kecil dan besar yang berdiri di
sepanjang barat sampai ke timur negeri ini, ruh dari Pancasila sebenarnya telah memasuki
kehidupan masyarakat nusantara. Yang paling kentara adalah ruh dari sila pertama; Ketuhanan
Yang Maha Esa.
Kerajaan-kerajaan yang berdiri di nusantara seperti kita ketahui mempunyai corak
agama yang sangat kental, kerajan Kutai yang bercorak Hindu; kerajaan Sriwijaya yang bercorak
Buddha dan Hindu; kerajaan Samudera Pasai yang bercorak Islam; dan sederetan kerajaan-
kerajaan lain yang ada di bumi nusantara kita semua bercorak agama dengan cirinya masing-
masing. Begitupun dengan agama yang dibawa oleh penjajah Portugis pun diterima dengan
baik oleh banyak masyarakat nusantara bahkan memengaruhi kerajaan Larantuka menjadi
kerajaan bercorak Katolik Roma.
Ini menandakan bahwa telah sejak lama masyarakat nusantara sudah meyakini adanya
Tuhan dan meyakini agama sebagai jalan untuk menuju kepada Tuhan, walaupun pengaruh
Animisme masih sedikit memengaruhi masyarakat nusantara hingga hari ini.
Didalam ajaran-ajaran agama masyarakat nusantara dapat mulai menata kehidupan baru
dengan segala norma-norma yang ada dalam agama mereka demi kelangsungan hubungan
mereka kepada Tuhan dan juga kepada sesama manusia yang pada akhirnya melahirkan
kekuatan yang sesuai dalam sila kedua ; Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Dalam naskah-naskah kuno seperti kitab Negarakertagama dan Sutasoma ditemukan


banyak prinsip-prinsip dasar bagi masyarakat nusantara untuk bersatu, bahkan Mahapatih
Gadjah Mada pun bersumpah ingin menyatukan nusantara ini menjadi sebuah negara.
Dengan semangat yang kuat dan mengakar dalam masyarakat nusantara pada tahun 1908
berdirilah organisasi pergerakan pemuda Budi Utomo, walaupun organisasi ini hanya
berkonsentrasi pada bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan namun tak dapat dipungkiri
bahwa masalah sosial ekonomi menjadi sebuah jembatan menuju persatuan dan semangat itu
mulai bergema ke segala penjuru nusantara, hingga pada tahun 1928 Perhimpunan Pelajar-
Pelajar Indonesia bersama beberapa organisasi kepemudaan lain seperti Jong Java, Jong
Celebes, Jong Soematra dan lainnya mengikrarkan sebuah janji yang kita kenal dengan nama
“Sumpah Pemuda”
Dari sini semangat dan jiwa untuk bersatu sudah benar-benar kuat dan kokoh sesuai dengan
sila ketiga; Persatuan Indonesia.

Telah kita ketahui bersama wilayah nusantara ini menyimpan berjuta kekayaan yang
menghampar dari timur ke barat, baik itu yang terkandung didalamnya ataupun yang tumbuh
diatasnya. Hal ini lah yang membuat penjajah Belanda selalu menghalang-halangi niat dari para
pemuda Indonesia untuk bersatu, walaupun awal mereka datang kemari hanya untuk
berdagang, namun mereka tak kuasa membendung keinginan untuk menguasai bumi nusantara
demi kekayaannya yang melimpah, penjajah Jepang pun datang dengan gaya imperialis yang
berbeda, seolah tak mau kalah ingin menikmati harta bumi nusantara dengan memanfaatkan
kekuatan mereka yang tiba-tiba saja dapat menguasai asia pasifik dalam perang dunia kedua.
Perjuangan rakyat nusantara lewat jalur negosisasi formal sampai peperangan yang
merenggut banyak nyawa pun telah dilakukan, sampai padaa akhirnya Jepang tak berkutik
dengan hancurnya Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 oleh tentara
sekutu Amerika Serikat dan negara-negara barat termasuk Belanda. Setelah Jepang menyerah
tanggal 14 Agustus 1945, wilayah nusantara yang terdiri dari bekas wilayah kekuasaan kerajaan
Belanda yang telah direbut Jepang mengalami “Vacum of Power”.
Hal ini dimanfaatkan oleh para pemuda nusantara untuk berunding, bermusyawarah
dan bermufakat demi keinginan rakyat Indonesia agar bisa secepat mungkin menjadi negara
merdeka, kedaan ini sesuai dengan bunyi sila keempat; Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Yang dimana setelah kemerdekaan seluruh
rakyat Indonesia dapat menempatkan wakil-wakil mereka untuk bermusyawarah mencari solusi
terbaik dalam permasalahan bangsa.

Walaupun kerajaan Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27


Desember 1949, namun sejatinya kemerdekaan negara Indonesia telah berkumandang sejak
tanggal 17 Agustus 1945 dan telah memenuhi syarat secara de facto dan secara de jure
mendapat dukungan negara-negara Internasional seperti Mesir, Suriah, Lebanon, KSA, SCV,
Palestina dan Afghanistan adalah negara-negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan
negara Republik Indonesia. Dan setelah 60 tahun lamanya tanggal 16 Agustus 2005 barulah
kerajaan Belanda mengakui kemerdekaan negara Republik Indonesia jatuh pada 17 Agustus
1945.
Pembangunan demi pembangunan pun dilakukan secara berkesinambungan oleh para
penyelenggara negara bersama-sama dengan rakyat yang telah lama mencita-citakan
kemerdekaan Indonesia demi terwujudnya tatanan masyarakat yang adil dan makmur secara
merata seperti yang tertuang dalam sila kelima; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
2. Perjalanan Pancasila dalam Bingkai NKRI

Beberapa bulan sebelum kemerdekaan negara Republik Indonesia tepatnya tanggal 1


Juni 1945, Pancasila sudah diajukan sebagai prinsip dasar negara oleh Ir. Sukarno lewat pidato
tanpa persiapan teks tertulis dalam rapat BPUPKI di gedung Volksraad Jakarta. Ini adalah suatu
hal yang luar biasa karena negara Republik Indonesia sudah dengan benar-benar matang
mempersiapkan kemerdekaannya.
Dengan mengambil pengalaman yang telah didapatkan oleh seluruh rakyat nusantara
selama berabad-abad, Ir. Sukarno merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang terdiri dari:

a. Kebangsaan.
b. Internasionalisme atau Perikemanusiaan.
c. Demokrasi.
d. Keadilan sosial.
e. Ketuhanan yang maha esa.

Gagasan Ir. Soekarno pun diterima oleh BPUPKI yang kemudian membentuk tim 9 untuk
merumuskan pemikiran Ir. Soekarno, dan setelah itu diputuskan sebuah rumusan yang kita
kenal dengan nama “Piagam Jakarta” yang berbunyi :

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.


2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebjksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagiseluruh rakyat Indonesia.

Point pertama dari rumusan ini ditentang oleh para wakil dari Indonesia Timur yang
beranggapan Indonesia akan menuju negara Islam, walaupun Ir. Sukarno berkeras bahwa hal
ini hanya berlaku bagi pemeluk agama Islam itu sendiri, namun demi persatuan bangsa Ir.
Sukarno menarik diri dari perdebatan dan para tokoh agama Islam berbesar hati untuk
mengalah hingga tanggal 18 Agustus 1945 dalam rapat PPKI sila pertama dari pancasila
berbunyi seperti yang kita ketahui sekarang, tanpa ada kewajiban bagi pemeluk agama Islam
menjalankan syariat yang sudah ditentukan dalam agamanya.

Rumusan yang luar biasa itu pun mulai menggema ke dunia Internasional, Ir. Sukarno
yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia dengan bangga menggaungkan Pancasila
pada sidang PBB tahun 1960 di New York sekaligus mengusulkannya untuk memasukkan
Pancasila dalam piagam PBB karena piagam PBB dianggapnya sudah ketinggalan jaman dan
pidato Presiden Sukarno sontak mendapat gemuruh standing applause oleh semua perwakilan
dari seluruh dunia yang hadir.

Dalam perjalanannya menjaga keutuhan negara Republik Indonesia, Pancasila benar-


benar teruji secara historis, belum genap 1 tahun negara ini berdiri usaha perebutan kekuasaan
terjadi, bulan Juni dan Juli 1946 terjadi Coup de Etat yang dirancang oleh Tan Malaka, namun
tidak berapa lama kudeta yang terjadi hanya karena kesalah pahaman ini pun dapat diatasi
dengan kekuatan Pancasila yang sudah menjadi jati diri negeri yang baru lahir ini, walau semua
pelakunya ditangkap dan dipenjara, namun pada 17 Agustus 1948 hanya dua tahun berselang
seluruh pelaku kudeta dibebaskan oleh Presiden Sukarno dengan grasi penuh, inilah kudeta
yang penuh ampunan dari Pancasila. Pun di akhir tahun 1946 Bupati Garut pada waktu itu Suria
Kartalegawa memproklamasikan berdirinya negara Pasundan di Jawa Barat dengan dukungan
dari Belanda, namun Pancasila telah menjadi harga mati bagi rakyat Jawa barat, yang menarik
dalam peristiwa ini adalah Presiden yang terpilih justru adalah Wiranatakusuma, orang yang
pro Republik Indonesia, sehingga kemenangannya atas negara Pasundan adalah kemenangan
Indonesia dan proklamator negara Pasundan ini pun malah hanya menjadi olok-olok rakyat
Jawa Barat.
Berkali-kali Belanda masih menggangu negara ini dengan membuat negara-negara
boneka buatannya sebut saja Negara Indonesia Timur (1946-1950); Negara Sumatra Timur
(1947-1950); Negara Sumatra Selatan (1948-1950); Negara Jawa Timur (1948-1950); Negara
Madura (1948-1950). Namun sekali lagi Pancasila tetap terlalu kuat untuk dikalahkan.
Lalu ditahun 1965 terjadi pemberontakan oleh sekelompok orang yang menamakan
dirinya sebagai “Gerakan 30 September” dengan menggunakan Partai Komunis Indonesia
sebagai kendaraannya serta melakukan infiltrasi kedalam tubuh militer dalam hal ini adalah TNI
dan Polri. Mereka ingin merebut kekuasaan, mengganti Pancasila dengan ideologi lain yaitu
Komunis. Dan ini adalah puncak dari serangkaian pemberontakan yang sudah seringkali mereka
lakukan sejak awal kemerdekaan. Gerakan 30 September 1965 menjadi sebuah peristiwa kelam
di bumi pertiwi, pemebrontakan ini terjadi di Jakarta dan Jogjakarta, di Jakarta mereka
menargetkan menculik 8 perwira tinggi TNI AD dan di Jogja mereka menculik seorang perwira
tinggi TNI AD dan seorang perwira menengah TNI AD. Tercatat 10 anggota TNI/Polri yang terdiri
dari 7 perwira tinggi TNI AD, 1 orang perwira menengah TNI AD, 1 orang perwira pertama TNI
AD dan 1 orang Bintara Tinggi Polri menjadi korban tewas dalam kejadian itu. Peristiwa ini
menjadi amat tragis, karena rakyat Indonesia harus menghadapi bangsanya sendiri dalam
peristiwa berdarah ini.
Terlepas dari segala konspirasi yang terjadi dalam pemberontakan ini nyatanya
Pancasila tetap kuat dan teguh menjadi dasar negara dan pemersatu negara Republik Indonesia
yang masih amat muda kala itu. Rakyat bersama dengan tentara dan pemerintah ramai-ramai
menumpas pemberontakan keji tersebut dengan jiwa Pancasila yang telah mengakar dalam diri
bangsa Indonesia dan bahkan setelah itu Partai Komunis Indonesia yang dijadikan kendaraan
politik para oknum pemberontak pun dibubarkan, dan komunis dinyatakan sebagai ideologi
terlarang dinegara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan ditahun-tahun sekarang ini pun mulai terasa kembali ujian bagi Pancasila, dimana
banyak oknum-oknum yang menghebuskan isyu-isyu untuk mengadu domba masyarakat, untuk
memecah belah negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Namun kita dapati Pancasila masih
kuat dan tegap berdiri demi Indonesia, seluruh rakyat masih setia berdiri bersama menentang
semua itu dengan semangat yang sering kita dengar dan bahkan sering kita teriakkan.

“SIAPA KITA? INDONESIA”

3. Kesimpulan

Dalam perjalanan sejarah Republik, kekuatan Pancasila telah berkali-kali teruji dan tertempa
selama puluhan tahun sejak negara ini berdiri.Keputusan founding father dan para pendahulu
negeri ini sudah final, bahwa Pancasila adalah jati diri bangsa ini, dan itu adalah suatu hal yang
tidak bisa dirubah lagi demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Perubahan atau
keinginan untuk mengganti Pancasila tidak mungkin dilakukan karena hanya akan membawa
kepada perpecahan bangsa.
4. Daftar pustaka

Notosusanto, Nugroho. 1986. 30 Tahun Indonesia Merdeka Cetakan Ketujuh. Jakarta: Citra
Lamtorogung
Persada.
Romadecade. 2018. Sejarah Sumpah Pemuda. Dikutip 3 Maret 2019
dari : https://www.romadecade.org/sejarah-sumpah-pemuda/#!
Sudirjo, Radik Utoyo. 1975. Album Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta: BPHP Korps Cacad
Veteran Republik
Indonesia.
Wikipedia. 2019. Kerajaan Larantuka. Dikutip 3 Maret 2019
dari : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Larantuka.