Anda di halaman 1dari 44

Potensi Fraud dan Whistleblowing dalam

Pengelolaan Dana Kemahasiswaan di Universitas ABC

Oleh:
EDI SUPRIYONO

232014068

TUGAS AKHIR
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Program Studi Akuntansi
Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan-persyaratan
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS


PROGRAM STUDI : AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2019

i
Pernyataan Tidak Plagiat

ii
Pernyataan Persetujuan Akses

iii
Penjelasan Untuk Karya Tidak Diunggah

iv
Lembar Pengesahan

v
Lembar Persetujuan

vi
Motto

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan


kepadaku” – Filipi 4:13

“jangan biarkan suara dari pendapat orang lain menghilangkan suara dari hati
nuranimu sendiri”- Steve jobs

“Hidup bukanlah permainan keberuntungan. Jika kau ingin menang, kau harus
bekerja keras” – Sora (No game No life)

“Hal memalukan bukanlah ketika kau jatuh, tetapi ketika kau tidak mau bangkit
lagi” – Midorima shintarou (Kukoro No Basuke)

vii
Abstract

This study aims to see whether there is the potential for fraud and the
potential for whistleblowing in the management of student funds as a way of fraud
detection, in a university located in Central Java, by describing several variables
including fraud, whistleblowing and management of student funds. This study uses
a qualitative descriptive study in the Faculty Student Senate (SMF) at ABC
University. Data collection is done by interview, observation, and documentation.
Then the data is analyzed using the framework of the triangle fraud framework
and categorizing fraud according to the ACFE. The results of this study show that
in the management of student funds there is the potential for fraud, namely misuse
of financial statements and corruption even though this has not happened but
there are indications. Other than that the potential for whistlebowing is not found
because they assume that if fraud occurs it is better to discuss it in a family
manner and not report the action.
keyword : fraud, whistleblowing, management of student funds.

viii
Saripati

Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi fraud dan potensi


whistleblowing dalam pengelolaan dana kemahasiswaan sebagai bentuk
pemitigasian fraud, dalam sebuah universitas yang berada di Jawa Tengah,
dengan mendeskripsikan beberapa variabel diantaranya fraud, whistleblowing
serta pengelolaan dana kemahasiswaan. Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian deskriptif kualitatifpada Senat Mahasiswa Fakultas(SMF) yang berada
di universitas ABC. Pengumpulan data dilakukan dengan carawawancara,
observasi, dan dokumentasi.Kemudian data dianalisis menggunakan acuan
kerangka kerja fraud triangle dan pengkategorian fraud menurut ACFE. Hasil
dari penelitian ini menunjukkan dalam pengelolaan dana kemahasiswaan terdapat
potensi fraud yaitu penyalahgunaan laporan keuangan dan korupsi. Selain itu
potensi whistleblowing tidak ditemukan karena mereka menganggap jika terjadi
fraud lebih baik dibicarakan secara kekeluargaan dan tidak melaporkan tindakan
tersebut.
kata kunci : fraud, whistleblowing, Pengelolaan dana kemahasiswaan.

ix
Ucapan terimakasih
Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proses perkuliahan dan penulisan
tugas akhir ini dengan baik. Penulis menyadari bahwa banyak sekali pihak yang
telah membantu, mendoakan serta memberikan motiasi dan saran kepada penulis
selama menyelesaikan proses perkuliahan dan penulisan tugas akhir ini. Untuk itu
penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Yang terkasih Ibu, bapak, dan keluarga. Terima kasih atas perhatian
dan doa kepada penulis sekaligus menjadi penyemangat penulis dalam
menyelesaikan tugas akhir.
2. Ibu Aprina Nugrahesthy Sulistya Hapsari, SE.,M.Ak. Selaku
dosen pembimbing yang dengan sabar mengarahkan serta banyak
memberikan saran-saran yang sangat berguna sehingga penulisan
tugas akhir ini dapat terselesaikan.
3. Bapak Yefta Andi Kus Noegroho, SE.,M.Si.,Akt.,CMA. Selaku
wali studi yang memberikan pengarahan dalam menjalani perkuliahan
di Fakultas Ekonomika dan Bisnis.
4. Ibu Dr. Theresia Woro Damayanti, SE.,M.Si.,Akt.,CA. Selaku
KAPRODI yang telah membantu dalam segala hal administrasi yang
dibutuhkan.
5. Bapak dan ibu Dosen penguji yang telah menguji dalam
Rancangan Tugas Akhir maupun Tugas Akhir. Terima kasih atas
saran dan masukannya.
6. Seluruh dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW yang
banyak memberikan pengalaman dan pelajaran berharga dari awal
hingga akhir proses perkuliahan.
7. Seluruh staf Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW yang telah
membantu penulis dalam kelancaran perijinan penelitian ini.
8. Sahabat-sahabat yang sudah memberikan semangat, motivasi dan
kesempatan untuk bisa berbagi pengalaman, inspirasi, serta kontribusi
mendukung dalam penyelesaian mahakarya ini. (Damas, Hariadi,
Fajar, Satya, Hari, Michael, Masto, Yudha).

x
9. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu
yang telah mendoakan dan mendukung penulis selama masa
perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir.
Penulis tidak dapat membalas setiap kebaikan dan doa yang telah
diberikan kepada penulis. Penulis hanya bisa berterima kasih yang sebesar-
besarnya dan berdoa semoga karma baik selalu menyertai setiap langkah hidup
kita semua. Akhir kata, dengan segala kerendahan hati semoga penelitian ini dapat
berguna bagi semua pihak yang menggunakannya, terima kasih.

Salatiga,22 februari 2019

Edi Supriyono

xi
Kata Pengantar
Penelitian ini terdiri dari bagian pendahuluan, kajian literatur,metoda
penelitian, hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan, keterbatasan dan
saran. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah ingin melihat potensi fraud
dalam pengelolaan dana kemahasiswaan, serta potensi whistleblowing sebagai
bentuk cara pemitigasian fraud. Selain itu penulisan tugas akhir ini juga ditujukan
sebagai syarat untuk memenuhi sebagian dari persyaratan dalam memperoleh
gelar sarjana akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen satya
wacana salatiga.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini masih jauh dari
sempurna dan masih terdapat kekurangan yang mungkin ditemukan.Oleh karena
itu dengan tangan terbuka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca agar penelitian ini dapat lebih baik lagi.
Semoga hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan manfaat
bagi pihak-pihak yang berkepentingan serta dapat memberikan dorongan bagi
peneliti-peneliti lain untuk mengembangkan penelitian sejenis dimasa mendatang.

Salatiga, 22 februari 2019

Penulis

xii
Daftar Isi
Potensi Fraud dan Whistleblowing dalam ............................................................ i

Pernyataan Tidak Plagiat ..................................................................................... ii

Pernyataan Persetujuan Akses ........................................................................... iii

Penjelasan Untuk Karya Tidak Diunggah ........................................................ iv

Lembar Pengesahan ...............................................................................................v

Lembar Persetujuan ............................................................................................ vi

Motto .................................................................................................................... vii

Abstract ................................................................................................................ viii

Saripati .................................................................................................................. ix

Ucapan terimakasih ...............................................................................................x

Kata Pengantar ................................................................................................... xii

Daftar Isi ............................................................................................................. xiii

Daftar Tabel..........................................................................................................xv

Daftar Gambar ................................................................................................... xvi

PENDAHULUAN...................................................................................................1

KAJIAN LITERATUR..........................................................................................3

Fraud ....................................................................................................... 3

Whistleblowing ....................................................................................... 5

Pengelolaan Dana Kemahasiswaan ......................................................... 7

METODA PENELITIAN ......................................................................................8

Teknik Analisis Data ............................................................................... 8

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................................................9

Gambaran Umum Objek Penelitian ........................................................ 9

Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan


pada Tahap Perencanaan ................................................................................... 12

xiii
Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan
pada Tahap Pelaksanaan ................................................................................... 14

Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan


pada Tahap Pertanggungjawaban ...................................................................... 18

Identifikasi Potensi Whistleblowing dalam Pengelolaan Dana PLK .... 21

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN ........................................22

Kesimpulan ........................................................................................... 22

Keterbatasan Penelitian dan Saran ........................................................ 22

Daftar Pustaka......................................................................................................24

Lampiran-Lampiran ............................................................................................26

xiv
Daftar Tabel
Tabel 1 ......................................................................................................... 8

xv
Daftar Gambar
Gambar 1. The Fraud Triangle ............................................................................ 3
Gambar 2 Pelaku Fraud Berdasarkan Pendidikan ........................................... 5
Gambar 4.Struktur Organisasi SMF ................................................................ 10
Gambar 5. Pengembangan Peran Lembaga Kemahasiswaan ........................ 11
Gambar 6.Pengembangan Struktur Program Lembaga Kemahasiswaan yang
Integratif .............................................................................................................. 12
Gambar 7.Tahapan dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan ..................... 12

xvi
PENDAHULUAN
UU No. 20 tahun 2003 pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dunia
pendidikan juga tidak lepas dari sorotan karena dinilai cukup rentan dengan
terjadinya fraud hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kasus yang terjadi,
sebagai contoh seorang kepala sekolah bernama Syamsuddin ditahan oleh
kejaksaan cabang Lappariaja Kejari Bone terkait penyalahgunaan dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2014 yang berakibat pada kerugian
negara sebesar 108 juta rupiah (Hasrat 2016). ICW juga mengungkap data korupsi
di dunia pendidikan ada sekitar 425 kasus korupsi dan diantaranya ada 214 kasus
korupsi pendidikan terjadi di dinas pendidikan, dari 2005 sampai 2016 (Asikin
2017). Hal ini juga tidak menutup kemungkinan terjadi di universitas.
Universitas merupakan salah satu organisasi non-profit yang bergerak di
bidang jasa pendidikan. Dalam pengelolaan keuangan tentu universitas wajib
membuat laporan keuangan atas dana yang diterimanya kepada pemberi dana
sebagai bentuk pertanggungjawaban seperti yang tercantum dalam UU No 20
tahun 2003 pasal 48 tentang pengelolaan dana pendidikan yang menerangkan
bahwa pengelolaan dana pendidikan harus berdasarkan pada prinsip keadilan,
efisiensi, dan akuntabilitas publik. Dengan adanya prinsip tersebut diharapkan
setiap pengelolaan dana pendidikan dapat lebih baik dan sesuai aturan. Meskipun
sudah ada aturan mengenai pengelolaan dana pendidikan namun masih saja
terdapat fraud didalam pengelolaan dana pendidikan.Salah satu kasus fraud
terbaru dalam universitas adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
menetapkan mantan rektor universitas Airlangga (Unair) Fasichul Lisan dalam
kasus korupsi pembangunan dan pengadaan alat kesehatan (alkes) Rumah Sakit
Pendidikan Unair tahun 2007-2010 (Rakhmawaty, n.d.). Untuk itu dibutuhkan
suatu cara untuk meminimalisir terjadi fraud.

1
Salah satu cara memitigasi fraud adalah dengan whistleblowing. Penelitian
yang di lakukan Dyck et al. (2010) menjelaskan keberadaan whistleblowing
dianggap penting dalam mengungkapkan kecurangan yang telah banyak terbukti
di abad ke 21. Whistleblowing merupakan pengungkapan informasi oleh anggota
atau mantan anggota organisasi yang dilihat sebagai praktik ilegal dan tidak
bermoral (Miceli, Near, dan Dworkin 2008). Orang yang melaporkan perbuatan
ilegal atau kecurangan disebut whistleblower. Salah satu fenomena whistleblower
yang terbaru di Indonesia adalah 8 Anggota DPRD Tanggamus dilindungi LPSK
setelah melaporkan bupati ke KPK atas suap sebesar 523.350.000 rupiah setelah
pengesahan APBD tahun 2016 pada Desember 2015 lalu.
Penelitian terdahulu terkait fraud dana pendidikan dilakukanPuspitasari,
Haryadi, dan Setiawan (2015) mengungkapkan bahwa terdapat kecurangan unit
kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam pengelolaan keuangan yang terletak pada
tingginya biaya dalam laporan pertanggungjawaban. Sementara itu penelitian
terkait whistleblowing sebagai sarana pemitigasian fraud di lakukan Seifert et al.
(2010) menunjukkan pengungkapan kecurangan dari whistleblower terbukti lebih
efektif di bandingkan metoda lain seperti audit internal atau pun audit eksternal.
Dyck et al. (2010) menyatakan, karyawan berperan sebagai whistleblower dan
mengungkap sebesar 17 persen kecurangan, sedangkan auditor eksternal hanya
sebesar 10 persen pada 216 kasus kecurangan. Dari beberapa hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya whistleblowing dapat dipakai sebagai
sarana pemitigasian fraud.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini bertujuan ingin
melihat potensi frauddalam pengelolaan dana kemahasiswaan, serta potensi
whistleblowing sebagai bentuk cara pemitigasian fraud. Berbeda dengan
penelitian yang di lakukan sebelumnya oleh Puspitasari dkk, yang hanya berfokus
pada fraud namun penelitian ini juga melihat potensi whistleblowing. Penelitian
ini dilakukan kepada 13 SMF (Senat Mahasiswa Fakultas) yang berada di
universitas ABC dengan harapan dapat melihat gambaran secara menyeluruh
terkait pengelolaan danakemahasiswaan. Objek penelitian ini dipilih karena
peneliti melihat universitas ABC sudah terakredetasi A, yang seharusnya potensi-
potensi fraud sudah terminimalisir, apakah masih terdapt potensi kecurangan,

2
serta selalu adanya acara pembubaran panitia yang cukup mewah padahal hal
tersebut tidak masuk didalam anggaran.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada
lembaga kemahasiswaan pada khususnya dan pimpinan universitas maupun
pimpinan fakultas pada umumnya untuk dapat memberikan informasi terkait
potensi fraud yang terjadi dalam pengelolaan dana kemahasiswaan, serta potensi
whistleblowing sebagai sarana pemitigasian fraud, serta untuk menambah literatur
akuntansi keperilakuan dibidang audit.

KAJIAN LITERATUR
Fraud
Dalam literatur akuntansi dan auditing, fraud merupakan praktik
kecurangan yang diartikan sebagai ketidaktaatan dan penyimpangan (Priantara
2013). Menurut International Standards on Auditing (ISA) seksi 240 fraud
didefinisikan sebagai tindakan yang disengaja oleh pihak perusahaan yang
berperan sebagai pimpinan perusahaan, karyawan atau pihak ketiga yang
melakukan tindak penipuan untuk memperoleh keuntungan dengan menghalalkan
segala cara. Rezaee (2005) mendefinisikan fraud sebagai tindakan yang disengaja
dan dibuat-buat oleh suatu entitas yang dapat mengakibatkan kepemilikan atas
keuntunganyang tidak sah. Tindakan fraud dilakukan karena tiga hal yaitu
tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization)
ketiga hal tersebut dikenal dengan The Fraud Triangle (Arens, Randy, dan Mark
2008).

TEKANAN

KESEMPATAN RASIONALISASI
Gambar 1. The Fraud Triangle
Sumber :Arens, A.A.,Elder dan Beasley (2008)

3
The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE 2016) menyatakan
fraud adalah segala upaya untuk mengelabui pihak lain supaya mendapatkan
manfaat. Skema fraud menurut ACFE di golongkan menjadi tiga yaitu
penyimpangan atas aset (asset misappropiation), penipuan atas laporan keuangan
(fraudulent financial statement), dan korupsi (corruption).
Penyimpangan aset adalah aset atau harta perusahaan yang disalahgunakan
oleh pihak dalam maupun luar perusahaan, fraud tersebut merupakan jenis yang
paling mudah untuk diketahui karena sifatnya yang berwujud serta dapat diukur
dan dihitung. Sedangkan fraudulent financial statement adalah penyajian laporan
keuangan suatu perusahaan yang disengaja salah bertujuan untuk mengelabui
pengguna laporan keuangan. Korupsi adalah penyalahgunaan wewenang atau
konflik kepentingan, suap, penerimaan ilegal, gratifikasi, dan pemerasan. Dengan
adanya tindakan tersebut perusahaan juga diwajibkan melakukan tindakan
pencegahan atau biasa disebut prevention untuk mengantisipasi tindakan fraud.
Tindakan pendeteksian tersebut tidak dapat di generalisir terhadap semua
kecurangan. Masing-masing jenis kecurangan memiliki karakteristik tersendiri,
sehingga untuk dapat mendeteksi kecurangan perlu kiranya pemahaman yang baik
terhadap jenis-jenis kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan.Sebagian
besar bukti-bukti kecurangan merupakan bukti-bukti tidak sifatnya langsung.
Petunjuk adanya kecurangan biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala-
gejala (symptoms) seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang,
dokumentasi yang mencurigakan, keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari
rekan sekerja. Pada awalnya, kecurangan ini akan tercermin melalui timbulnya
karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi/ keadaan lingkungan, maupun
perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi / situasi tertentu, perilaku
/ kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag (Fraud indicators).
Meskipun timbulnya red flag tersebut tidak selalu merupakan indikasi adanya
kecurangan, namun red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan
yang terjadi. Pemahaman dan analisis lebih lanjut terhadap Red flag tersebut dapat
membantu langkah selanjutnya untuk memperoleh bukti awal atau mendeteksi
adanya fraud. Berikut adalah gambaran secara garis besar pendeteksian
kecurangan berdasar penggolongan kecurangan oleh ACFE tersebut di atas.

4
Menurut ACFE tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap tindakan
fraud. Hal ini dibuktikan dengan adanya data yang dirilis pihak ACFE Indonesia
mengenai pelaku fraud berdasarkan tingkat pendidikan seperti yang ditunjukan
oleh gambar 2.

Gambar 2 Pelaku Fraud Berdasarkan Pendidikan

Sumber :(ACFE, 2016)

menurut survei ACFE (2016), pendidikan pelaku fraud terbanyak ada pada
level sarjana. Data ini menunjukan walaupun memiliki pendidikan yang cukup
tinggi namun tidak menutup kemungkinan untuk tidak melakukan fraud.

Whistleblowing
Whistleblowing adalah pengungkapan informasi oleh anggota atau mantan
anggota organisasi yang dipandang sebagai praktik ilegal kepada organisasi
maupun masyarakat (Miceli, Near, dan Dworkin 2008). Whistleblowing dapat
berjalan secara efektif apabila memenuhi empat unsur yaitu adanya whistleblower,
kasus kecurangan harus dilaporkan secara jelas disertai dengan bukti informasi
kasus terkait, adanya individu ataupun sekelompok orang dalam organisasi yang
melakukan tindak kecurangan, adanya pihak lain ataupun pihak berwenang yang
menerima pengaduan dan bukti atas tindak kecurangan yang dilakukan (Dasgupta
dan Kesharwani 2010). Siringoringo (2015) mendefinisikan whistleblowing
sebagai satu tindakan melaporkan pelanggaran dalam suatu organisasi kepada

5
pihak lain baik di dalam maupun di luar organisasi. Park, Blenkinsopp, Oktem,
dan Omurgonul (2008) menggolongkan whistleblowing dalam tiga dimensi.
Whistleblowing internal, eksternal, dan tidak teridenfikasi atau anonymous.
Whistleblowing internal mengacu pada melaporkan kesalahan kepada
atasan atau orang lain di dalam organisasi yang dapat memperbaiki kesalahannya.
Sedangkan whistleblowing eksternal terjadi ketika seorang karyawan mengetahui
kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan kemudian membocorkan kepada
publik karena mengetahui bahwa kecurangan tersebut berdampak negatif kepada
masyarakat. Anonymous yaitu ketika seseorang melaporkan tindak kecurangan
namun menggunakan nama panggilan atau tidak memberikan informasi tentang
dirinya sendiri. Istilah whistleblowing di Indonesia sering di artikan tindakan
seseorang melaporkan adanya perbuatan yang berindikasi tindak pidana korupsi.
Kasus whistleblowing yang terkenal di Indonesia adalah ketika adanya
pemberitaan yang menimpa kepolisian RI terkait skandal makelar kasus. Kasus
lain terkait pelaporan informasi suap dalam pemilihan Deputi Senior BI yang
dilakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Peran kedua whistleblower
tersebut sangat penting dalam melindungi negara dari kerugian yang lebih besar
serta pelanggaran hukum yang terjadi (Rustiarini, Wayan, dan Sunarsih 2015).
Hal ini semakin menunjukkan bahwa peran whistleblowing membawa dampak
yang cukup signifikan meskipun menjadi whistleblower dianggap tidak mudah
karena sebagian orang memandang whistleblower sebagai tindakan yang tidak
mentaati norma loyalitas organisasi, selain itu ada juga yang memandang
whistleblower sebagai layaknya pahlawan terhadap nilai-nilai yang dianggap lebih
penting dari loyalitas kepada organisasi (Bagustiantoi, Rizki, dan Nurkholis
2013). Heungsik dan Blenkinsopp (2009) mengungkapkan bahwa risiko
pembalasan yang mungkin diterima oleh pelaku whistleblower secara tidak
langsung dapat mempengaruhi niat individu untuk mengungkapkan kecurangan
yang ada. Meskipun demikian, beberapa pihak berpendapat bahwa tindakan
whistleblowing sebagai perilaku yang menguntungkan organisasi dan masyarakat
(Appelbaum et al. 2007).

6
Pengelolaan Dana Kemahasiswaan
Lembaga kemahasiswaan merupakan organisasi yang beranggotakan
mahasiswa untuk mewadahi bakat, minat, dan potensi mahasiswa yang
dilaksanakan didalam kegiatan ekstrakurikuler (Purnami, Sulindawati, dan
Marvilianti 2017). Peran lembaga kemahasiswaan juga cukup signifikan bagi
perkembangan universitas, selain membantu melambungkan nama universitas itu
sendiri, lembaga kemahasiswaan juga sebagai tempat menghasilkan para
mahasiswa yang berkualitas (Saptarengga 2014). Dalam universitas ABC lembaga
kemahasiswaan dalam hal ini SMF dalam setiap kegiatannya didanai oleh
universitas yang kemudian disebut sebagai dana PLK (Pengembangan Lembaga
Kemahasiswaan). Dana PLK adalah dana yang diberikan universitas kepada
fakultas kemudian disalurkan kepada organisasi kemahasiswaan yang nantinya
dikelola untuk kegiatan penunjang mahasiswa, baik kegiatan professional maupun
humanistic. Selain itu dana kemahasiswaan dalam kegiatan juga diperoleh dari
USDA. Universitas ABC sendiri memiliki dana PLK yang diperoleh dengan
perhitungan sebagai berikut:

7% X 30% x Jumlah SKS Fakultas x Jumlah Mahasiswa


Fakultas

Hal ini berdampak pada jumlah dana PLK yang tidak sama melainkan
proporsional sesuai jumlah SKS X mahasiswa, untuk masing-masing fakultasnya.
Sebagai gambaran proses perencanaan danaPLK dapat dilihat pada Tabel 2.

7
Tabel 1
Proses Perencanaan sampai dengan Pembuatan Laporan
Pertanggungjawaban Dana PLK di Universitas ABC
PROSES SUB PROSES
Perencanaan 1. Pra RAKER (SMU)
2. RAKER (SMU,BPMU)
3. RAKOR (SMU,BPMU, SMF,BPMF)
Pengajuan proposal kegiatan 1. Sekertaris umum (SMU) mengoreksi proposal kegiatan
bagian anggaran 2. Dikirim ke BPMU
3. Dikirim ke BIKEM
4. Dikirim ke bagian keuangan
5. Ditandatangani oleh PR 3
Pembuatan LPJ 1. Sekertaris umum (SMU) mengoreksi proposal kegiatan
2. Dikirim ke BPMU
3. Dikirim ke BIKEM
4. Dikirim ke bagian keuangan
Penyusunan LPJ (laporan pertanggungjawaban) dibuat dengan
mengumpulkan semua nota sebagai lampiran
Sumber :Data Primer (2018)

METODA PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metoda
kualitatif digunakan untuk menjelaskan fakta yang sama dengan situasi
sebenarnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara
dan observasi. Wawancara dilakukan dengan narasumber bendahara SMU,
bendahara SMF, dan juga kepanitiaan selain itu wawancara juga dilakukan kepada
kepala BIKEM (bidang kemahasiswaan) selaku pemberi dana untuk melakukan
konfirmasi terkait alur pengelolaan dana PLK. Observasi dilakukan dengan
caraterjun langsung dalam kegiatan kepanitiaan, karena kegiatan kepanitiaan juga
bagian dari SMF, sebagai pelaksana program yang dirancang oleh SMF.

Teknik Analisis Data


Terdapat tiga alur analisis data kualitatif, yaitu: reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini hasil wawancara dilakukan
proses reduksi data untuk mengambil intisari dari hasil wawancara dan membuang

8
hasil wawancara yang tidak menjawab persoalan penelitian. Kemudian dilakukan
penyajian data berupa teks naratif (bentuk catatan lapangan) yaitu kutipan-kutipan
hasil wawancara sebagai bukti pendukung. Setelah data disajikan, kemudian data
dianalisis menggunakan acuan kerangka kerja fraud triangle dan pengkategorian
fraud menurut ACFE pada hasil wawancara dan observasi yang telah diperoleh
dari lapangan untuk mengetahui potensi terjadi fraud dan whistleblowing pada
pengelolaan dana PLK di universitas ABC. Dari hasil analisis, kemudian
dilakukan penarikan kesimpulan untuk menjawab persoalan penelitian.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Gambaran Umum Objek Penelitian
Universitas ABC adalah salah satu universitas swasta di Provinsi Jawa
Tengah yang memiliki 14 fakultas dan 62 prodi.Masing-masing fakultas, terdapat
lembaga kemahasiswaan yang salah satunya disebut Senat Mahasiswa Fakultas
(SMF). SMF adalah lembaga eksekutif di aras fakultas yang mengkoordinasikan
aktivitas mahasiswa di aras fakultas atau program studi. SMF memiliki tugas dan
wewenang yaitu: a) menyusun dan mengajukan program kerja anggaran
berdasarkan GBHPLK di aras fakultas pada permulaan tahun periode kepada
SMU melalui BPMF untuk dikoordinasikan; b) melaksanakan program kerja yang
telah ditetapkan pada rapatkoordinasi LK; c) memberi laporan
pertanggungjawaban kepada SMU melalui BPMF pada akhir periode; d)
menggiatkan aktivitas mahasiswa fakultas sebagai basis kegiatan akademik
mahasiswa; e) mewakili mahasiswa fakultas dalam kegiatan kedalam maupun
keluar fakultas; f) memberi laporan berkala mengenai perkembangan pelaksanaan
program kerja dan anggaran kepada SMU melalui BPMF; g) memberikan saran
dan pemikiran yang kritis-prinsipil, kreatif-realitis dan non-konformis kepada
pimpinan fakultas; h) menyampaikan aspirasi mahasiswa di aras fakultas; i)
menyusun dan mengusulkan rancangan peraturan BPMF untuk dibahas dan
disahkan oleh BPMF; j) membuat peraturan SMF; k) membuat keputusan SMF.
Gambar 2 menunjukkan struktur organisasi SMF secara umum.

9
Ketua

Bendahara Sekretaris

Staff Staff Staff Staff

Bidang 1 Bidang 2 Bidang 3


Humanistik Skill Profesional Skill Pengorganisasian

Anggota Anggota Anggota


Sumber: hasil wawancara

Gambar 3.Struktur Organisasi SMF

Gambar 3 menunjukkan pengembangan peran Lembaga Kemahasiswaan


(LK) ABC bahwa peran LK sangat penting dalam pengembangan mahasiswa.
SMF sendiri adalah bagian dari LK yang mengatur dan mengelola dana
kemahasiswaan dalam hal ini PLK dan dana USDA dalam kepanitiaan. Dari
gambar 3 diketahui bahwa tujuan dari LK sendiri ada tiga yaitu untuk universitas,
fakultas/progdi dan juga untuk mahasiswa.Tujuan yang terkait dengan mahasiswa
ditetapkan sebagai implikasi dari Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa
(KUKM), penetapan peran tersebut diantaranya untuk program LK yang
terintegrasi dengan universitas maupun fakultas, program professional skill dan
humanistic skill. Implikasi dari KUKM sendiri yaitu untuk pelembagaan struktur
organisasi dan infrastruktur dari program yang LK buat, yaitu peraturan,
keputusan, ketetapan LK, dan lain-lain.Tujuan LK harus sejalan dengan
universitas, fakultas/prodi, dan mahasiswa, khususnya terkait dengan penetapan
peran LK yang seharusnya terintegrasi dengan program kerja universitas maupun
fakultas/ prodi, sekaligus mengasah professional skill maupun humanistic skill.

10
Sumber : SPPM (2012)

Gambar 4. Pengembangan Peran Lembaga Kemahasiswaan


Universitas ABC

Setelah pengembangan peran lembaga kemahasiswaan kemudian


dikembangkanlah Struktur Program Lembaga Kemahasiswaan yang integratif
yang dimaksudkan bahwa program yang dijalankan oleh LK haruslah terintegrasi
dengan baik dari lembaga mahasiswa universitas maupun fakultas.Dalam buku
Skenario Pola Pembinaan Mahasiswa (SPPM) ABC 2012 pada skenario IV,
dijelaskan lembaga mahasiswa dapat menetapkan kebijakan program dan
anggaran didalam kegiatan professional skill dan juga humanistik skill seperti
pada gambar 4, dalam hal ini SMF. Dalam pelaksanaan pengembangan program
profesional maupun humanistik SMF diberikan wewenang untuk menetapkan
kebijakan dan mengelola penggunaan anggaran yang didapat dari universitas
maupun fakultas yang salah satunya disebut dana PLK, sebagai program terpadu
dari LK yang nantinya akan digunakan di dalam kepanitiaan.

11
Sumber : SPPM (2012)

Gambar 5.Pengembangan Struktur Program Lembaga Kemahasiswaan yang


Integratif

Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan pada


Tahap Perencanaan
Dalam pengelolaan dana kemahasiswaan terdapat tiga sumber dana
pemasukan yaitu PLK, USDA, dan kontribusi peserta. Pengelolaan dana PLK
dimulai dari tahapan perencanaan, dilanjutkan dengan tahapan pelaksanaan, dan
diakhiri dengan tahapan pertanggungjawaban yang ditunjukkan melalui Gambar
5.

Perencanaan

Pelaksanaan

Pertanggungjawaban

Gambar 6.Tahapan dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan


Sumber: hasil wawancara

Perencanaan merupakan tahapan dalam penyusunan dan pengajuan


program kerja serta anggaran. Secara umum di semua fakultas memiliki cara yang

12
sama dalam penyusunan anggaran, hanya saja ada beberapa hal yang berbeda
tergantung kebutuhan setiap fakultas. Setiap tahun dana PLK yang diterima
fakultas selalu berbeda tergantung jumlah mahasiswa setiap angkatan. Pihak SMF
sama sekali tidak mengetahui mengenai perhitungan dana tersebut, tugas mereka
hanya merencanakan kegiatan untuk satu periode kedepan menggunakan dana
PLK yang mereka terima. Pembagian dana PLK terbagi menjadi dua yaitu untuk
professional skill dan humanistic skill yang masing-masing besarnya untuk
professional minimal 60 persen, dan humanistic maksimal 40 persen. Hal ini tentu
menjadi pembeda dalam perencanaan pembagian anggaran antar fakultas karena
kegiatan dan kebutuhan setiap fakultas pasti berbeda. Selain hal itu terdapat
perbedaan lagi dalam keterlibatan proses perencanaan, meskipun tidak ada aturan
secara tertulis mengenai proses perencanaan ini, namun secara umum semua
fakultas pasti melibatkan: 1) Bendahara SMF; 2) Badan Pengurus Harian (BPH)
selaku pengawas program kerja serta anggaran SMF; 3) Komisi C (bagian
anggaran); 4) Ketua SMF.Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang selalu
menunjukkan adanya keterlibatan fungsionaris tersebut didalam perencanaan dana
PLK. Namun, ada beberapa fakultas yang ketika proses perencanaan tidak
melibatkan semua elemen LK yang ada, seperti yang terjadi di Fakultas A. Hal ini
sesuai dengan pernyataan DW selaku bendahara Fakultas A yang
mengungkapkan:

“Yang terlibat saat perencanaan cuma Bendahara SMF, sekretaris fakultas dan
bendahara fakultas”

Lain halnya dengan Fakultas B yang hanya melibatkan bendahara dan sekretaris
saja.Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh BS selaku bendahara SMF
Fakultas B. Setelah perencanaan dilakukan kemudian dilanjutkan dengan Rapat
Koordinasi yang diikuti oleh seluruh anggota SMF. Selanjutnya program kerja
beserta anggarannya disetujui dan disahkan oleh Pembantu Rektor 3 (PR 3).
Dalam tahap perencanaan potensi fraudmungkin terjadi ketika tahap
perencanaan penganggaran tidak melibatkan semua elemen dalam LK karena saat
perencanaan pembuatan anggaran seharusnya semua elemen fungsionaris LK
seperti ketua, sekretaris, dan ketua bidang, bahkan anggota lainnya, karena bisa
saja itu tidak cukup mewakili suara dari anggota lainnya terlibat, sehingga

13
diperlukan keterlibatan seluruh anggota LK, dengan begitu proses perencanaan
dapat dikatakan transparan.Meskipun terdapat RAKOR dalam tahap perencanaan
yang diikuti oleh seluruh anggota SMF tetapi saat RAKOR terjadi, anggaran PLK
tidak dapat diubah. Hal ini bisa saja membuka kesempatan bagi yang terlibat
untuk melakukan tindakan fraud.

Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan pada


Tahap Pelaksanaan
Setelah tahapan perencanaan di lanjutkan dengan tahapan pelaksanaan.
Dalam tahapan ini dimulai dengan pembentukan kepanitiaan untuk tiap kegiatan
yang telah dianggarkan di tahapan perencanaan. Panitia kegiatan akan membuat
proposal kegiatan untuk kemudian diajukan kepada Komisi C selaku bagian
program di dalam LK. Dalam proses pelaksanaan pembuatan anggaran, pihak
panitia sudah memiliki standar harga yang ditetapkan oleh pihak SMU sebagai
standarisasi harga. Standar harga yang dipakai adalah harga tertinggi di pasaran,
kemudian penanggungjawab panitia memberikan daftar nama ke komisi B BPMF
yang nantinya akan dibuatkan memo komisi B kemudian memo komisi B akan
diberikan ke SMF untuk dibuatkan SK kepanitiaan. Selanjutnyapanitia kegiatan
mengirim proposal kegiatan dan anggaran ke bendahara SMF dan sekretaris SMF
untuk dikoreksi dan ditandatangani oleh ketua bidang, BIKEM (Bidang
Kemahasiswaan), ketua dan bendahara SMU, Biro Kemahasiswaan dan juga
kepada PR 3 untuk disahkan, selanjutnya anggaran yang telah disetujui oleh PR 3
akan direalisasikan oleh bagian keuangan yang kemudian dana tersebut akan
dikirim ke TU fakultas. Terkait pengambilan dana sendiri dilakukan oleh
bendahara kegiatan dan bendahara SMF. Dana yang diterima tidak semua dalam
bentuk tunai melainkan ada sebagian yang langsung di transfer ke rekening
panitia atau penanggungjawab panitia, kemudian pihak panitia akan membayar
pembelian kepada vendor dengan cara transfer dengan mekanisme, anggota
panitia memberikan bukti nota transaksi, kemudian penanggungjawab panitia
akan mentransfer dana tersebut ke vendor yang bersangkutan. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada DL selaku bendahara SMF
Fakultas K yang mengungkapkan;

14
“Sekarang sistem yang dipakai selain cash juga pakai transfer, semisal
menganggarkan baju, nah itu nanti cara bayarnya gak tunai tapi sistem transfer ke
rekening vendornya”

Dalam tahapan pelaksanaan diperoleh hasil bahwa tidak semua kegiatan didanai
dengan menggunakan anggaran fakultas atau universitas dalam hal ini Dana PLK,
melainkan menggunakan sumber lain berupa usaha dana (USDA). USDA
merupakan sumber pembiayaan yang biasa dipakai untuk menopang kegiatan
yang sumber dana dari fakultas atau universitas masih belum mencukupi.
Mekanisme USDA diatur oleh universitas yaitu mencakup besaran dana USDA
yang boleh dilakukan hanya sebesar maksimal 30 persen dari total pemasukan.

Mekanisme USDA sendiri dilakukan dengan berbagai cara, ada yang


dilakukan dengan cara menjual makanan atau minuman, menjual pakaian bekas,
ada juga yang dilakukan dengan cara live musik di cafe-cafe atau ngamen di
rumah makan pinggir jalan yang dirasa ramai. Biasanya panitia kegiatan
menetapkan target penjualan per anggota panitia, jika panitia kegiatan tidak
memenuhi target, akan dikenakan denda sebesar keuntungan dari hasil penjualan
USDA, dan jika ada keterlambatan pengumpulan uang USDA atau denda
biasanya panitia kegiatan akan memberikan denda tambahan yang jumlahnya
sudah ditetapkan bersama hal ini mereka lakukan demi menutupi kekurangan dana
yang dibutuhkan. Mekanisme USDA seperti ini terkadang memberatkan anggota
panitia, hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh DM selaku anggota panitia
yang mengatakan;

“Aku pernah mengikuti kepanitiaan dan dikenai denda sebesar Rp.300.000,00


karena gak mencapai target, aku rasa itu memberatkan banget, sedikit-sedikit
denda, sampai satu minggu cuma minum energen, karena uangnya dipakai untuk
bayar denda”.

Namun mekanisme seperti ini tidak semua dilakukan oleh fakultas, seperti halnya
Fakultas L, narasumber mengatakan:

“Untuk memulai kegiatan biasanya sih gak USDA, karena percuma jika dilakukan
USDA, pada akhirnya hanya sedikit yang akan jualan dan mereka dikenai denda,
dari pada USDA temen-temen kegiatan lebih milih ke iuran, untuk menutupi
kekurangan, jadi per anggota panitia nantinya akan dikenai uang sebesar

15
Rp.100.000,00 sampai dengan Rp.400.000,00 tergantung besarnya kekurangan
dana di kepanitiaan”

USDA sendiri sebenarnya tidak diwajibkan oleh universitas namun sering


kali dalam pelaksanaan kegiatan selalu diadakan USDA, hal tersebut dikarenakan
panitia pelaksana kegiatan selalu menginginkan acara yang terbaik dan biasanya
anggaran yang diberikan universitas tidak memenuhi, hal ini lah yang mendorong
panitia kegiatan untuk melakukan USDA. Hal ini sesuai dengan pernyataan BS
dan BR, selaku sekretaris dan bendahara di Fakultas B:

“Dana yang kita dapet banyak yang kurang, kan kita cuma sedikit jumlah
mahasiswanya jadi dapetnya juga sedikit sedangkan untuk menjalankan program
kegiatan tahun kemarin banyak bahan-bahan yang mahal jadi uangnya gak cukup,
makanya perlu USDA”

Selain dana yang dianggap kurang terkadang universitas juga terlambat dalam
mencairkan dana untuk kegiatan kepanitiaan. Hal ini sesuai yang diungkapkan
oleh RW selaku bendahara yang berada di SMF fakultas I:

“Jadi untuk periode lalu pernah dana PLK untuk kegiatan belum turun saat
kegiatan dimulai jadi kami harus pinjam-pinjam uang untuk memulai kegiatan”

Hal serupa juga diungkapkan oleh ES yang mengikuti kegiatan kepanitiaan


periode ini, yang bersangkutan mengungkapkan;

“ Kemarin aku ikut kepanitiaan tapi dana untuk kegiatan belum cair sampai acara
selesai siangnya baru dikasih tau kalau dananya baru cair”.

Untuk menyiasati hal tersebut panitia kegiatan dapat meminjam uang dari kas LK
yang didapat dari sisa periode lalu saat kegiatan memiliki kelebihan dana USDA.
Jadi sisa USDA biasanya akan diberikan ke kas LK sebagai dana simpanan yang
dapat digunakan jika ada kekurangan atau dana belum cair. Hal ini sesuai dengan
yang diungkapkan oleh KK, selaku narasumber yang berada di Fakultas F.

“Untuk mengatasi dana yang belum turun dari universitas biasanya kita
menggunakan uang simpanan tahun lalu, meminjam uang sisa dari USDA periode
lalu sesuai dengan kebutuhan kita, kemudian saat dana sudah cair kita baru
kembalikan.”

Hal serupa diungkapkan oleh PD selaku bendahara Fakultas G ;

16
“Sisa uang periode kegiatan yang lalu harus dikembalikan lagi ke kas LK, hal ini
dilakukan supaya LK mempunyai cadangan dana saat ada kegiatan namun dana
belum cair, jadi bisa dibantu dari dana kas LK”.

Tidak hanya dua fakultas diatas namun Fakultas H dan K, juga mengharuskan sisa
uang USDA harus dikembalikan ke kas LK. Tujuan dari sisa USDA dikembalikan
ke kas LK sebenarnya merupakan tindakan yang tepat, sebagai dana cadangan
yang dapat dipakai jika ada kekurangan dalam kepanitiaan ataupun kebutuhan
mendesak didalam LK, mengingat dana yang terkadang belum turun saat kegiatan
berlangsung. Jadi USDA tetap dapat dilakukan dengan cara meminjam kas LK
sebagai modal awal USDA. Jadi memang ada beberapa fakultas yang
menggunakan uang sisa USDA periode lalu sebagai dana tabungan SMF yang
bisa digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak. Namun fakultas yang
lainnya menyatakan bahwa uang sisa dari USDA adalah hak panitia jadi
tergantung kebijakan panitia dana tersebut untuk apa. Seperti yang diungkapkan
BS dan BR selaku bendahara SMF yang berada di Fakultas B yang bersangkutan
menyatakan;
“Kalau uang USDA lebih ya buat panitia, kan itu haknya panitia, masa panitia
yang ngerjain masa masuk ke kas LK kan ya kasihan”

Hal serupa juga diungkapkan oleh SR selaku bendahara Fakultas I yang


mengungkapkan;

“Kalau dari periode-periode lalu sisa uang USDA dikembalikan ke kas LK, tapi
pernah dipertanyakan oleh panitiakegiatan kan itu uang kita sendiri, USDA yang
melakukan panitia sendiri, denda juga yang bayar panitia sendiri. Jadi untuk
periode ini sisa USDA dikembalikan ke panitia terserah panitia digunakan untuk
apa”.

Sisa USDA yang tidak dikembalikan ke LK biasanya digunakan untuk


pembubaran panitia ataupun dibagikan secara tunai kepada anggota panitia. Hal
ini sesuai dengan pernyataan HD sebagai salah satu narasumber yang mengikuti
kepanitiaan di Fakultas A mengatakan;

“Waktu itu ada sisa uang dari kegiatan kepanitiaan, rencana untuk pembubaran
panitia dan makan-makan, tetapi karena banyak yang sibuk dan tidak bisa
datang akhirnya uangnya dibagi per-anggota dapat Rp.200.000,00”

17
Hal serupa diungkapkan juga oleh bendahara SMF Fakultas D dan E;

“Di fakultas kita kalau ada uang sisa pasti dikembalikan anggota panitia,
biasanya langsung dalam bentuk uang atau makan-makan”.

Dari hasil konfirmasi dengan pihak fakultas, tidak ada aturan yang melarang
peruntukkan dana USDA, namun jika hal ini terus dilakukan maka akan
berpotensi menyimpang dari tujuan utama USDA, yang sebenarnya mereka
melakukannya untuk menutup dana yang kurang di kegiatan bukan mereka
jadikan ajang untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok dengan
kedok pembubaran panitia ataupun uang sisa untuk dibagi secara pribadi. Dalam
kaitannya dengan fraud triangle pada tahap pelaksaanan,masuk dalam jenis
rasioanalisasi, karena beberapa fakultas menganggap bahwa itu adalah hak
mereka karena mereka telah mngumpulkan dana tersebut secara pribadi, meskipun
itu di lakukan untuk menutupi dana yang kurang dalam pelaksanaan kegiatan.

Identifikasi Potensi Fraud dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan pada


Tahap Pertanggungjawaban
Tahapan terakhir dari pengelolaan dana PLK adalah pertanggungjawaban.
Pembuatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dimulai dengan mengumpulkan
nota-nota pengeluaran selama kegiatan sesuai dengan sumber dana pemasukan.
Dana yang diterima dari PLK akan dipisahkan dengan dana yang lain dalam LPJ,
pembuatan LPJ disesuai dengan apa yang dianggarkan dalam dana PLK. Dalam
pembuatan LPJ harus selalu dilampirkan nota pengeluaran, standar dari nota
sendiri harus terdapat kop nota, nama, alamat, nomor telepon, cap, harga per item,
tanda tangan, tanggal. Nota-nota yang tidak sesuai standar akan dikembalikan
oleh bendahara SMF kepada panitia kegiatan untuk diperbaiki. Dalam proses
pembuatan LPJ terdapat beberapa kondisi yang mengindikasikan adanya
kecurangan, misalnya saja terletak pada tingginya harga yang digunakan dalam
proposal anggaran padahal realisasinya selalu menggunakan harga terendah saat
pembelian, ini mengakibatkan adanya selisih harga yang berpotensi digunakan
untuk kebutuhan diluar anggaran. Hal ini sesuai dengan yang di ungkapkan oleh
IC bendahara yang berada di Fakultas E:

18
“Jadi periode tahun lalu kita kekurangan dana untuk beli kebutuhan
fakultas, nah karena periode ini uangnya sisa banyak jadi digunakan untuk
beli tripot, supaya dananya tidak dikembalikan ke fakultas, itupun kita juga
menaikan harganya di nota, awalnya beli sekitar seratus lima puluhan tapi
di nota kita tulis tiga ratus supaya uangnya gak sisa”

Kondisi lain yang mengindikasikan adanya potensi fraud adalah tidak pernah
dilakukannya konfirmasi kepada pihak ketiga oleh bendahara SMF terkait harga
dalam pembelian barang di nota yang seharusnya untuk meminimalisir terjadinya
kecurangan. Dari hasil wawancara di tiga belas fakultas, masing-masing
bendahara fakultas tidak pernah melakukan konfirmasi atas pengeluaran yang
dilakukan di kepanitiaan. Hal tersebut yang membuat adanya potensi fraud
didalam pelaksanaan kegiatannya, seperti yang dikatakan oleh ES yang pernah
mengikuti kegiatan di kepanitiaan yang berkata:

“Aku pernah sih dulu naikin harga sewa di kwitansi saat sewa kursi, aku anggarin
dua ratus ribu, padahal sewa kursi hanya lima puluh ribu.Aku pake kwitansi
sendiri, terus tak tulis nomer telpon ku sendiri, bapak yang punya persewaan cuma
tak suruh tanda tangan aja karna udah kenal. Awalnya khawatir seandainya
dikonfirmasi sama bendahara tapi faktanya gak pernah di telpon kok, jadi
sekarang kebiasaan begitu kalau ikut panitia.

Namun, terbukti masih ada satu fakultas yang melakukan konfirmasi di dalam
pelaksanaan pembuatan LPJ, hal ini di ungkapkan oleh EL selaku bendahara SMF
di Fakultas D;

“Kemarin waktu aku jadi bendahara kegiatan saat ada nota yang gak bersih atau
gak masuk klasifikasi nota yang benar aku langsung konfirmasi langsung ke
tokonya seperti konfirmasi pembelian atau kalau ada yang kurang seperti cap,
tanda tangan, atau notanya ada coretan aku langsung dateng ketokonya untuk
minta yang baru”

Dari hasil wawancara di semua fakultas, ditemukan adanya penyalahgunaan


laporan pertanggungjawaban, yaitu dengan me-markup harga, mengganti tanggal
nota supaya hangus dan tidak dilaporkan pada LPJ, menggunakan nota kosong
supaya nominal antara pengeluaran dan anggaran sama. Hal ini sesuai dengan
hasil wawancara dengan bendahara SMF di Fakultas B;

19
“Untuk menyiasati supaya anggaran dan LPJ sama kita biasanya minta nota
kosong, atau kalau gak ganti harga yang ada di nota, semisal selisihnya ada lima
belas ribu, ya kita cari nota yang kira-kira harganya pantes untuk dinaikin”.

Hal senada diungkapkan juga oleh bendahara SMF Fakultas K;

“Fakultas K biasanya juga pakai nota kosong sih untuk menyamakan nominal LPJ
dan proposal, tapi periode ini kami ganti tanggalnya dinota, jadi aturan dari
fakultas nota pembelian kan gak boleh dimasukan di LPJ kalau lebih dari tiga
puluh hari, kalau lebih dari tiga puluh hari nota dianggap kadaluarsadan akan
dipermasalahin jadi kemarin kami ganti tanggalnya supayagak masuk di LPJ,
sesuai sama nominal yang dibutuhin supaya bisa pas, ya pokoknya dimain-mainin
aja di LPJ kalau gak bisa nol”.

Hasil wawancara di Fakultas H, J, L, dan fakultas yang lain pun


mengungkapkan hal serupa bahwa cara tersebut sering mereka lakukan untuk
menyiasati kekurangan ataupun kelebihan yang ada antara LPJ dan proposal
anggaran. Meskipun ada beberapa fakultas yang tidak melakukan hal tersebut
pada periode ini seperti yang terjadi di Fakultas A, DW selaku bendahara
mengungkapkan:

“Periode ini selama aku jadi bendahara aku belum lakuin hal itu sih, karena kalau
di fakultas A ada uang sisa gak pernah di permasalahin, uangnya pasti aku
kembaliin, kemarin pernah sisasampai seratusan ribu waktu aku kembaliin ya gak
dipermasalahin kok. Tapi kalau ada cara naikin harga di nota atau pake nota baru
aku tau kok itu udah turun temurun”.

Hal serupa diungkapkan juga oleh Fakultas D yang mengungkapkan;

“Selama aku pegang bendahara di SMF, belum pernah ada nota yang dilebih-
lebihin atau dikurangin di LPJ, jadi bener-bener real karna selama ini uang LPJ
juga gak pernah lebih.tapi kalau uang USDA lebih dikembalikan ke panitia lagi,
biasanya untuk pembubaran atau makan-makan”

Namun dari hasil wawancara di seluruh fakultas kecurangan semacam itu sudah
tidak asing bagi mereka, bahkan ada satu fakultas yang malah mengajarkan hal
tersebut kepada bendahara kegiatan untuk memanipulasi data laporan keuangan
supaya antara anggaran proposal dan LPJ sama. Hal ini di ungkapkan oleh BS dan
BR selaku bendahara Fakultas B:

20
“Kadang kita turun langsung waktu pembuatan LPJ kepanitiaan saat bendahara
kegiatan kesusahan, kita juga kasih masukan dan bantuin gimana caranya supaya
LPJ dan proposal bisa sama”

Dengan demikian diperoleh hasil bahwa, dalam tahapan pertanggungjawaban


memiliki potensi kecurangan yang cukup konsisten di beberapa fakultas yang ada.
Motif mereka melakukan hal tersebut salah satunya karena adanya tekanan, jika
ada uang sisa maka anggaran untuk periode depan akan di potong, dan juga
mereka menganggap hal tersebut wajar dan itu sudah menjadi budaya turun-
temurun setiap angkatan.

Identifikasi Potensi Whistleblowing dalam Pengelolaan Dana Kemahasiswaan


Berdasarkan hasil identifikasi potensi fraud yang telah dijelaskan
sebelumnya, penelitian ini juga bermaksud untuk menilai potensi whistleblowing
yang ada. Hasil wawancara menunjukkan bahwa narasumber memiliki niat untuk
mengungkapkan fraud yang ada dalam pengelolaan dana kemahasiswaan, seperti
yang di sampaikan oleh DW selaku bendahara SMF Fakultas A;

“Jika ada terjadi penyimpangan kecurangan atau melalaikan tugas pasti kita tegur
biasanya pakai surat peringatan (SP) satu-tiga”

Sama halnya dengan fakultas B yang bersangkutan mengungkapkan;

“Jika ada kecurangan atau tindakan yang melanggar pasti akan dilaporkan, tapi
sebelumnya akan di tegur dulu, kenapa mereka melakukan hal tersebut”

Dalam hasil wawancara di Fakultas C, D E, F, M mereka juga setuju bahwa


akan melaporkan tindak fraud ataupun penyimpangan. Namun karena kondisi
yang terjadi adalah narasumber juga merupakan salah satu dari pendukung
kecurangan, dan hal itu sudah menjadi hal turun-temurun menjadi budaya
organisasi, sehingga mereka memilih untuk diam, sehingga kecurangan yang
terjadi di dalam internal SMF tidak pernah diketahui oleh sebagian besar
mahasiswa yang lain. Meskipun ada beberapa fakultas yang menyatakan akan
melaporkan tindak kecurangan namun dalam kenyataannya mereka tidak pernah
melaporkan tindakan kecurangan yang SMF fakultas mereka lakukan. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan oleh PD selaku bendahara fakultas G yang
bersangkutan mengungkapkan;

21
“Kita gak ada aturan yang berlaku seperti SP saat ada kecurangan, dan memilih
tidak lapor, tapi diselesaikan secara kekeluargaan di internal LK, jadi gak sampai
ke atas”

Hal serupa juga diungkapkan oleh bendahara SMF Fakultas L yang


mengungkapkan;

“Jika ada tindakan kecurangan didalam kepanitiaan biasanya kita akan tegur
dan diselesaikan secara kekeluargaan, tidak ada blacklist atau SP, dan hanya di
selesaikan di unit LK kita aja, gak sampai dilaporin”

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN


Kesimpulan
Secara keseluruhan terdapat potensi fraud khususnya dalam tahapan
pertanggungjawaban yaitu penyalahgunaan laporan keuangan yaitu dengan
memalsukan nota dan mark up harga. Jika dibiarkan hal tersebut akan
menimbulkan moral yang tidak baik terhadap mahasiswa, karena mereka bisa saja
mengumpulkan uang USDA tersebut hanya untuk pembubaran ataupun hal lain
dan malah tidak fokus dalam hal kepanitiaan. Motif mereka melakukan hal
tersebut yaitu karena mereka merasa hal tersebut adalah hal yang wajar dan sudah
menjadi budaya turun-temurun. Dalam fraud triangle hal tersebut disebut
rasionalisasi, serta timbulnya tekanan akibat adanya rasa kekhawatiran anggaran
periode berikutnya akan dipangkas jika tidak sama antara proposal anggaran dan
LPJ.
Selain itu potensi whistleblowing pada tahap pertanggungjawaban tidak
ditemukan.Dari semua narasumber mengetahui potensi kecurangan hanya saja
mereka enggan untuk mengungkapkan lebihdalam dikarenakan mereka
menganggap jika terjadi potensi fraud lebih baik dibicarakan secara kekeluargaan
dan tidak melaporkan tindakan tersebut, selain itu hal tersebut sudah menjadi
budaya turun-temurun didaalam organisasi, sehingga mereka memilih untuk diam.

Keterbatasan Penelitian dan Saran


Keterbatasan penelitian yaitu tidak adanya triangulasi data, seperti
mendapatkan bukti-bukti pendukung seperti halnya nota-nota, LPJ, proposal, serta
narasumber kurang terbuka dalam memberikan jawaban saat proses wawancara.

22
Serta wawancara hanya dilakukan kepada 13 fakultas meskipun seharusnya
terdapat 14 fakultas, hal ini karena salah satu fakultas dianggap masih belum ada
kegiatan dan baru berjalan saat kegiatan penelitian dilakukan.Saran kedepan
penelitian selanjutnya memperluas objek penelitian tidak hanya di satu universitas
namun dapat membandingkan dengan universitas lain, atau lebih memperdalam
hanya dalamsatu tahapan saja dan hanya fokus dalam satu jenis kecurangan.

23
Daftar Pustaka
ACFE. (2016). Survai Fraud Indonesia. Jakarta: ACFE Indonesia Chapter.
Appelbaum, M. K., Law, J. B., Jones, D., Barnacz, A., Johnson, A., dan Keenan,
J. P. (2007). “I think I know what you mean.” The role of theory of mind in
collaborative communication. Interaction Studies: Social Behaviour and
Communication in Biological and Artificial Systems, 8(2), 267–280.
Arens, A., Randy, E., dan Mark, B. (2008). Auditing dan Jasa Assurance
Pendekatan Terintegrasi. In Auditing dan Jasa Assurance Pendekatan
Terintegrasi. Jakarta: Erlangga.
Asikin, I. (2017, April 24). ICW Ungkap Korupsi di Dunia Pendidikan, Dinas
Pendidikan.urutan.Teratas..Tribun.News..Retrieved.from.http://www.tribunn
ews.com/nasional/2017/04/24/icw-ungkap.korupsi.diIdunia-pendidikandinas-
pendidikan-urutan-teratas.
Bagustiantoi, Rizki, dan Nurkholis. (2013). Faktor-Faktor yang
MempengaruhiMinat.Pegawai.Negeri.Sipil.(PNS).untuk.Melakukan.Tindaka
n.Whistleblowing. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB., 3(1).
Dasgupta, S., dan Kesharwani, A. (2010). Whistleblowing: A Survey of
Literature. IUP Journal of Corporate Governance.
Dyck, Alexander, Morse, dan Zingales, L. (2010). Who blows the whistle on
coporate fraud? The Journal of Finance, 2213–2253.
Hasrat, W. (2016). Diduga Tilep Dana BOS, Kepsek Ini Ditahan Jaksa.Sindonews.
Retrieved from https://daerah.sindonews.com/read/1126660/192/diduga-
tilep-dana-bos-kepsek-ini-ditahan-jaksa-1469611974.
Matthew, Miles, B., Huberman, A. M., dan Saldana, J. (1992). Qualitative Data
Analysis A Methods Sourcebook.
Miceli, M. P., Near, J. P., dan Dworkin, T. M. (2008). Whistleblowing in
Organizations. New York: Rotledge.
Park, H., dan Blenkinsopp, J. (2009). Whistleblowing as planned behavior - A
survey of south korean police officers. Journal of Business Ethics.
https://doi.org/10.1007/s10551-008-9788-y
Park, H., Blenkinsopp, J.,Oktem, K. M., dan Omurgonul. (2008). Ultural
Orientation and Attitudes Toward Different Forms of Whistleblowing: A

24
Comparison of South Korea, Turkey, and the U.K. Journal of Business
Ethics., 82, 929–939.
Priantara, D. (2014). Fraud Auditing and Investigation. Jakarta: Mitra Wacana
Media.
Purnami, G. A. K. M., Sulindawati, N. L. G. E., dan Marvilianti, P. E. (2017).
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Organisasi Kemahasiswaan Keluarga
Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya Universitas Pendidikan
Ganesha. Universitas Pendidikan Ganesha, 8(2).
Puspitasari, Y. R., Haryadi, B., dan Setiawan, A. R. (2015). Sisi Remang
Pengelolaan Keuangan Organisasi Mahasiswa. Jurnal Akuntansi Paradima
JAMAL, 6(1), 1–174.
Rakhmawaty, P. (n.d.). Eks Rektor Unair Tersangka Korupsi Pengadaan Alkes.
Sindonews.MRetrievedMfromMhttps://nasional.sindonews.com/read/109698
4/13/eks-rektor-unair-tersangka-korupsi-pengadaan-alkes-1459343409
Rezaee, Z. (2005). Causes, consequences, and deterence of financial statement
fraud. Critical Perspectives on Accounting. https://doi.org/10.1016/S1045-
2354(03)00072-8
Rustiarini, Wayan, N., dan Sunarsih, N. M. (2015). Fraud Dan Whistleblowing:
Pengungkapan Kecurangan Akuntansi Oleh Auditor Pemerintah.
Saptarengga, H. (2014, November 29). Mengkaji Dana Kemahasiswaan.
Setarnews. Retrieved from https://www.setaranews.com/mengkaji-dana-
kemahasiswaan.html
Seifert, D. L., Sweeney, J. T., Joireman, J., dan Thornton, J. M. (2010). The
influence of organizational justice on accountant whistleblowing.
Accounting,MOrganizationsMandMSociety.Mhttps://doi.org/10.1016/j.aos.2
010.09.002
Siringoringo, W. (2015). Pengaruh Penerapan Good Governance dan
Whistleblowing System Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
dengan Resiko Sanksi Pajak sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris
terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota Bekasi).
UKSW.2011.IKetentuanIUmumIKeluargaIMahasiswa.ISalatiga.

25
Lampiran-Lampiran

Daftar pertanyaan wawancara


1. Pertanyaan yang diajukan untuk SMF terkait potensi fraud dan
whistleblowing
a) Bagaimana mekanisme, perencanaan pembuatan anggaran dana PLK,
apakah semua elemen mahasiswa terlibat ?
b) Bagaimana mekanisme, pelaksanaan pencairan dana PLK ?
c) Bagaimana mekanisme pembuatan LPJ? Apakah nominal jumlah LPJ
harus selalu sama dengan proposal saat diajukan ?
d) Apakah di perbolehkan melakukan usaha dana (USDA)? Jika iya,
bagaimana mekanisme pelaksanaan USDA? Bagaimana mekanisme
pertanggungjawaban dana USDA?
e) Dalam pembuatan LPJ apakah selalu disertai dengan nota-nota yang valid?
Siapa yang berhak menilai validitas dan reliabilitas nota-nota?
f) Apakah pernah dilakukan konfirmasi kepada pihak eksternal terkait nota-
nota di LPJ?
g) Jika dalam pelaksanaan kegiatan ditemukan adanya kecurangan dalam
pembelian, maupun nota, hal apakah yang akan dilakukan? apakah
bersedia melaporkan kepada pihak yang berkepentingan?
h) Adakah aturan yang berlaku dalam pemakaian inventaris dalam LK ?
i) Bagaimana proses pengalokasian dana yang diterima SMF untuk unit-unit
dibawah SMF ?
2. Pertanyaan yang diajukan di dalam kepanitiaan
a) Bagaimana mekanisme penerimaan alokasi dana dari SMF?
b) Adakah pengawasan yang dilakukan dari SMF maupun BPMF saat
pemanfaatan alokasi dana PLK ?
c) Apakah diperbolehkan melakukan usaha dana (USDA)? Jika iya,
bagaimana mekanisme pelaksanaan USDA? Bagaimana mekanisme
pertanggungjawaban dana USDA?

26
3. Pertanyaan yang diajukan kepada BIKEM (Biro Kemahasiswaan)
a) Bagaimana mekanisme proses perencanaan pembuatan anggaran sampai
dengan LPJ ?
b) Bagaimana mekanisme pengecekan LPJ sebelum ke Bagian Keuangan?
c) Adakah standar atau format pelaporan LPJ, jika terdapat indikasi
kecurangan apa yang dilakukan ?
d) Jika terdapat kecurangan pada pelaporan LPJ, adakah niat untuk
melaporkan kepada pimpinan universitas atau pihak lain yang berwenang ?
4. Pertanyaan untuk bagian keuangan
a) Adakah standar atau format pelaporan LPJ, jika terdapat indikasi
kecurangan apa yang dilakukan ?
b) Jika terdapat kecurangan dalam pelaporan LPJ, akankah adanya tindak
lanjut oleh bagian keuangan ?seperti apa mekanismenya ?
c) Pernahkah di temukan kasus kecurangan pengelolaan dana
kemahasiswaan? jika ada bagaimana cara mengatasinya dan adakah niat
untuk melaporkan kecurangan tersebut kepada pihak yang berwenang ?

27
28