Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar belakang

Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan
politik islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam
beberapa Kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan
budaya dan peradaban islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.
Namun,kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk, sebagai mana telah
disebut,menghancurkan pusat-pusat kekuasaan islam yang lain.

Setelah Bani Abbas mengalami kehancuran, umat islam bangkit kembali dengan
adanyakerajaan-kerajaan Usmani, Mughal dan Safawi. Kerajan-kerajaan tersebut merupakan tiga
kerajaan terbesar pada masa itu. Akan tetapi dalam perjalanannya, ketiga kerajaan tersebut juga
mengalami kemunduran dan kehancuran. Apa penyebab kehancuran dan kemunduran ketiga
kerajaan tersebut?

Makalah ini akan membahas bagaimana kehancuran dan kemunduran tiga kerajaan
besar bagi umat islam tersebut yaitu kerajaan Safawi, Mughal dan Usmani.

b. Rumusan masalah
c. Tujuan makalah

BAB II

PEMBAHASAN

a. Pemerintahan Kerajaan Safawi

Struktur organisasi pemerintahan kerajaan safawi secara administratife dapat dibagi


menjadi dua yaitu vertikal dan horizontal. Secara horizontal yaitu pembagian organisasi
pemerintahan berdasarkan garis kesukuan/kedaerahan. Sedangkan secara vertikal terdiri
dari dua jenis yaitu istana (dargah) dan secretariat Negara (divan atau mamalik). Dari segi
kesukuan, Qizilbasy telah menjelma sebagai kelompok bangsawan dalam pemerintahan
militer Kerajaan Safawi. Qizilbasy merupakan suku keturunana turki yang dijadikan
sebagai tulang punggung Kerajaan Safawi di Persia1
Struktur pemerintahan Kerajaan Safawi terdiri dari tiga fase perkembangan yaitu:
1. Periode peralihan yaitu terjadinya banyak perubahan dan penyesuaian struktur
administrasi pemerintahan ini terjadi pada masa kekuasaan Syeh Isma’il sampai akhir
kekuasaan Muhammad Khudabanda (907 H/1501 M-996 H/1588 M). fase ini ditandai
dengan menonjolnya pertentangan kesukuan antara keturunan turki dan keturunan
Persia. Pada masa ini juga dibentuklah jabatan yang disebut denganvakil-I nafs-I nafis

1
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 270-
272
humayu yaitu jabatan wakil Syah baik sebagai pemimpin politik(padishah), maupun
sebagai pemimpin spiritual (mursyid-i kamil).
2. Kekuasaan Syeh Abbas I (996 H/1588 M-1038 H/1629 M) dengan melakukan penataan
kembali sistem administrasi Safawi, seperti melakukan pemusatan kekuasaan dengan
pengambilan keputusan yang berada dibawah kekuasaanya.
3. Masa kemunduran pada masa pemerintahan Syeh Safi yang mengakibatkan jatuhnya
kerajaaan Safawi ketangan orang-orang Afghan (1038 H/1629 M-1135 H/1722 M), ini
dikarenakan tidak efektifnya system politik dan ekonomi. Pada fase ini jabatan
tertinggi disebut dengan mulla-basyi (ketua dewan/majelis ulama) dan wewenan social
politik keagamaan yang disebut dengan Sadr (sadarat) sudah berkurang dan hanya
mengurusi wakaf dan membantu hakim dalam pengadilan.2
Adapun sebab-sebab runtuhnya kerajaan safawi diantaanya yaitu:
1. Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, yang dikarenakan
perbedaan paham yang dipegang oleh kerajaan ini.
2. Kurangnya perhatiannya raja terhadap persoalan social kemasyarakatan dan
kenegaraan.3
3. Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Safawi.
Pasukan ghulam (budak-budak) tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi,
karena lemahnya system pemerintahan dinasti Safawi yang diciptakan oleh Syeh
Abbas.4

Faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran


yaitu: Wilayah kekuasaan yang sangat luas; kerajaan Turki Usmani sering terlibat perang
secara terus-menerus sehingga susah untuk menjaga daerah yang telah dikuasai.
Kelemahan para penguasa; Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Dinasti Usmani diperintah
oleh sultan-sultan yang lemah, baik kepemimpinannya maupun kepribadiannya, sehingga
mudah ditaklukkan bangsa lain. Heterogenitas penduduk; sebagai kerajaan yang sangat
besar, tentunya masyarakatnya terdiri dari berbagai agama, aras, etnis yang berbeda
sehingga diperlukan pengambilan keputusan yang benar-benar bijaksana. Budaya korupsi;
korupsi merupakan hal yang umum terjadi dalam Dinasti Usmani, sehingga
mengakibatkan rapuhnya moral pemerintah. Pemberontakan tentara Yeniseri; tentara
Yeniseri adalah tentara terkuat, sehingga jika para pasukan Yeniseri memberontak pasti
pemerintah kalah. Merosotnya perekonomian; akibat perang yang tiada henti,
perekonomian merosot karena penguasa hanya mementingkan perang. Stagnasi dalam
lapangan ilmu dan teknologi; Dinasti usmani kurang berhasil dalam mengembangkan ilmu
dan teknologi, sehingga tidak mampu menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang
semakin maju.5

2
Ibid. 272-274
3
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 277
4
Ibid, h. 278
5