Anda di halaman 1dari 4

Resume Kuliah Filsafat 05

Narasumber : Prof. Dr. dr. Herkutanto, SpF, SH, LLM


Judul : Prinsip Berpikir Ilmiah: Logika & Kesalahan Berpikir
Tempat : RK Kimia 01
Tanggal : Senin, 4 Maret 2019

 Pasien tidak akan selamat apabila Anda melakukan kesalahan (error)


 Error bisa terjadi mulai dari diagnosis hingga treatment
 Pasien sekarang kritis dan cukup tahu
 Salah satu cara defense Anda untuk mengatasi masalah ini adalah pertanyaan-
pertanyaan berikut: is your diagnosis right? is your treatment right? is your concept
of disease right? is your technique used right?
 Apakah yang dimaksud dengan ‘right’ ini? yaitu adalah ‘make sense’ atau
‘acceptable’
 Pentingnya berpikir kritis adalah untuk melakukan clinical judgment (contoh: pasien
ini akan saya lakukan teknik ini bukan itu -> pertimbangannya harus rasional),
melihat trayektori/perjalanan penyakit (setiap kali pemeriksaan adalah cross-
sectional atau potongan-potongan informasi -> kita diminta untuk membuat suatu
trayekotori dan menggabungkan potongan-potongan yang ada -> melakukan sebuah
serial pemeriksaan dan terapi)
 Melakukan suatu serial pemeriksaan dan terapi adalah suatu seni tersendiri (seni
probabilitas) -> antar dokter bisa berbeda
 dalam menggabungkan potongan-potongan tersebut tadi, ada ketidakpastian
 ketika ada beberapa hasil laboratorium, Anda harus menentukan mana yang akan
Anda ikuti
 Ada contoh diagnosis pneumotoraks dan pneumotraks-ruptur limpa, kebanyakan
memilih diagnosis pneumotoraks-ruptur limpa karena ‘jaga-jaga’ padahal logikanya
adalah pasien hanya mengalami pneumotoraks. Di sinilah letak seni di antara critical
thinking.
 yang kita harus hati-hati adalah ketika kita meninggalkan critical thinking atau
evidence-based karena kebanyakan atau terlalu lama menggunakan seni
 makanya setiap tindakan ada protokol
 sekuens logika dari clinical care: situation setting (ini di IGD atau apa? termasuk
situasi keterbatasan Anda: daerah, hutan, puskesmas, atau tidak ada keterbatasan =
RS swasta) -> jangan sampai Anda menempatkan diri pada dunia yang Anda maui ->
pelajari situasi
 Setelah itu, Anda bertanya ‘what is the problem?’ -> makanya dalam anamnesa,
yang utama dan pertama adalah keluhan utama karena itu entry point-nya sehingag
Anda bisa menanyakan hal-hal relevan lainnya
 Setelah Anda merumuskan beberapa pertanyaan, Anda akan mencoba menjawab
dengan hipotesis (jawaban sementara atas suatu pertanyaan klinik)
 Hipotesis ini yang Anda harus buktikan dengan membuat suatu conceptual
framework
 conceptual framework: bagaimana Anda membuat suatu argumen
 Enam cara berpikir: 6 warna topi (putih, merah, kuning, hijau, hitam, biru)
 putih: cara berpikir netral -> dilakukan waktu investigasi atau koleksi data, tidak
dipengaruhi apa-apa karena Anda ingin mendapatkan genuine information (polos)
 topi merah: cara berpikir ketika Anda sedang emosi -> tidak harus logis, dilakukan
oleh medsos
 topi hitam: cara berpikir yang logis kritis, point out errors in thinking ->
dipertahankan sampai tahap konsulen -> bangga atau senang menunjukkan
kesalahan orang
 topi kuning: cara berpikir yang konstruktif, menimbulkan semangat -> bagaimana
cara Dokter meringankan beban pasien
 topi hijau: cara berpikir kreatif -> saat diskusi kelompok, mencari ide -> ketika ada
ide yang timbul, jangan buru-buru dibunuh
 tuliskan saja ide Anda yang tidak masuk akal -> jangan memakai topi hitam saat
brainstorming -> apalagi ditambah topi merah
 topi biru: topi overview -> saat menjadi pengajar atau moderator, tidak fokus pada
satu saja
 semua topi harus dipakai pada saat yang tepat
 bila memakai satu topi saja setiap saat, akan bosan -> harus dipakai silih berganti
sesuai dengan situasinya
 seorang yang berpikir kritis tidak mengatakan “ apa yang saya katakan itu sudah
benar “ “ coba seisi dunia berpikir seperti saya, pasti aman “ -> cara berpikir selfish
 seharusnya ia mengatakan “ pemikiran saya selalu bisa diperbaiki. Kebodohan ada
pada setiap tingkat. Adalah bodoh untuk menganggap sepele kemampuan berpikir
itu “
 sociocentric thinking: berpikir terbuka
 berpikir kritis: refleksi apa yang harus dipercayai (tidak mengambil semua)
 komponen critical thinking: clarity (kejelasan), accuracy (ketepatan), precision,
relevant (ngomong apa jawab apa), depth dan breadth (cukup dalam dan luas), dan
logic (potongan-potongannya koheren)
 elemen cara berpikir: tujuan (apa tujuannya?), pertanyaan/masalah (meskipun tidak
ditanya oleh lawan bicara, tapi Anda bertanya sendiri. Lawan bisa sengaja tidak
merumuskan pertanyaan – sedang menguji - atau tidak tahu cara merumuskan
pertanyaan), informasi/data/fakta, interpretasi/penarikan kesimpulan, bangun
konsep (teori, definisi), asumsi (presuposisi), implikasi/konsekuensi, sudut pandang
 semua proses ini berjalan dengan sangat cepat -> bila terlihat, orang-orang akan
bilang ‘ wah orang ini berpikir kritis sekali ‘ makanya Anda sekolah di UI
 inferensi adalah suatu langkah dari berpikir dimana seseorang itu menyimpulkan.
Contoh: bila Anda datang dan membawa pisau ke arah saya, saya mungkin akan
menyimpulkan bahwa Anda ingin melukai saya. (belum tentu benar)
 asumsi: sesuatu yang kita take for granted, merupakan bagian dari belief.
 belief dan asumsi dapat dijustifikasi dan dapat tidak. Contoh: bila pintu dicakar, itu
tanda kucing akan masuk. bila digonggong, artinya ada anjing.
 argumen terdiri atas premis dan kesimpulan (biasanya ada alasan yang logis)
 Bentuk konstruksi ‘simple reasoning’. Mulai dari pernyataan: saya mengklaim ini
karena ini ini ini. Pernyataan ini harus didukung oleh bukti-bukti (kuantifikasi) atau
jaminan (warranty).
 warranty: suatu dasar menjamin hubungan yang sah antara sebab dan akibat ->
seharusnya norma yang autoritatif
 Ada dua rule untuk memastikan suatu pernyataan ‘nyambung’: rabbit rule (harus
masuk dalam komponen premisnya), holding hand rule (terdapat koneksi antara
komponen premisnya)
 Quantification: sejauh mana hubungan sebab akibat tadi valid atau dapat diterima ->
jadi ini berlaku sejauh
 claim, reasons, warranty, dan quantification membuat suatu argumen ‘sound’
 hoax: sesuatu yang masuk akal dikatakan menjadi ‘sesuatu yang terjadi’ padahal
kan sebenarnya tidak selalu sesuatu yang masuk akal itu terjadi
 Contoh kasus: Claim -> A dihukum 10 tahun karena membunuh B; Reason: A
menusuk B hingga mati dengan senjata tajam. Warranty: Barang siap dengan sengaja
menghilangkan nyawa orang lain akan dihukum. Quantification: hukuman maks 15
tahun penjara. Evidence: B mati, A ada di TKP, dan ada senjata tajam.
 evidence: how do you prove it? Bagaimana cara Anda menerjemahkan dugaan Anda
menjadi nyata?
 evidence ada yang scientific dan non-scientific (common sense)
 deduktif: kesimpulan adalah implikasi dari premis -> kebiasaan orang hukum
 induktif: kesimpulan adalah proyeksi dari premis -> kebiasaan orang kedokteran
 deduktif untuk mengecek hasil dari penarikan kesimpulan induktif Anda
 banyak argumen yang tidak benar namun tampak persuasif
 common logical fallacies: strawman, red herring, post hoc ergo propter hoc, appeal
to ignorance, appeal to tradition, ad hominem, dll
 strawman fallacy: menyerang masalah tidak pada tempatnya (sengaja), ‘memelintir’
 red herring fallacy: subjek atau isu diubah total
 post hoc ergo propter hoc: seseorang mengalami kecelakaan mobil (Motor Vehicle
Accident) dan mengalami sakit punggung beberapa hari kemudian -> belum pasti
terjadi
 appeal to ignorance: the absence of evidence that sth is false means that sth is true
 appeal to tradition/history: has been held for many years it is correct (sudah
lazimnya, pokoknya)
 ad hominem: appeals to feelings or prejudices as opposed to logic.
 kesimpulan: mengabaikan critical thinking akan berdampak pada keselamatan
pasien
 jebakan fallacy perlu diwaspadai, terutama dalam menentukan kausalitas ->
berdampak pada reputasi praktisi medis