Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PENDAHULUAN

OSTEOPOROSIS

Oleh Kelompok 5:

1. Agus Dwi Primantara 17089014001


2. Ketut Agus Sudiyasa 17089014002
3. Dewa Gede Alit Teja Adnyana 17089014004
4. I Gusti Ngurah Devasya Tindara 17089014022
5. I Made Diandika Bayu Sagitha 17089014026
6. Kadek Eri Wardiana 17089014031
7. I Kadek Feri Adi Nugraha 17089014033

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


Program Study S1 Ilmu Keperawatan
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi ddalam
kehidupan manusia. proses menua merupakan proses sepanjang hidup,
tidak hanya dimulai dari sewaktu-waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamia, yang
berarti seseorang telah melalui tiga taham kehidupannya yaitu, anak,
dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik seacara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut
memutih, gigi mulai ompong, pendenganran mulai kurang jelas,
penglihatan mulai memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak
proporsional (Nugroho, 2008).
Dengan bertambahnya usia harapan hidup orang indonesia, jumlah
manusia lanjut usia (lansia) di indonesia akan bertambah banyak pula.
Di negara berkembang insidensi penyakit degeneratif terus
meningkat sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup. Dengan
bertambah usia harapan hidup ini, maka penyakit degeneratif dan
metabolik juga meningkat, seperti penyakit jantung koroner, diabetes
melitus, hipertensi, obesitas, dislipidemia, dan termasuk osteoporosis. Saat
ini osteoporosis menjadi permasalahan di seluruh negara dan menjadi isu
global di bidang kesehatan.
Osteoporosis adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan
penurunan massa dan densitas tulang serta gangguan arsitektur tulang
normal. Berkurangnya kekuatan tulang, maka risiko terjadinya fraktur
akan meningkat . World Health Organization (WHO) memasukkan
osteoporosis dalam daftar 10 penyakit degeneratif utama di dunia. Tercatat
bahwa terdapat kurang lebih 200 juta pasien di seluruh dunia yang
menderita osteoporosis.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 TINJAUAN TEORITIS MEDIS
2.1.1 Definisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya
tulang, dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi,
osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaiyu penyakit penyakit yang
mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang,
disertai gangguan mikroarsitekturtulang dan penurunan kualitas jaringan
tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development
Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan
sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan
mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada
akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan
risiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut Nasional Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis
adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang
mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang.
Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu
densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang disebabkan
yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang
menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001, National Institute of
Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit
tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga
tulang mudah padah (Sudoyo, 2009)
2.1.2 Etiologi
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu pembentukan massa
puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan
meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Massa
tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia 40
tahun, pada wanila lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian
tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan
remodelling dan memperbarui cadangan mineralnya sepanjang garis beban
mekanik. Faktor pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan
melalui 2 proses yang selalu berada dalam keadaan seimbang dan disebut
coupling. Proses coupling ini memungkinkan aktivitas formasi tulang
sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12
minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau
lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun.
Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa fakto, yaitu
faktor local yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada
konsep Activation-Resorption Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi
oleh protein mitogenic yang berasal dari tulang yang merangsang
preosteoblas sepaya membelah menjadi osteoblast akibat adanya aktivitas
resorpsi oleh osteoklas.
Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling adalah faktor
hemonial. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormone paratiroid,
hormone pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. sedang yang
menghambat proses remodelling adalh kalsitonin, estrogen, dan
glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah
yang menyebabkan osteoporosis.
Selain gangguan pada proses remodelling tulang faktor lannya
adalah pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Walaupun terdapat
variasi asupan kalsium yang besar, tubuh teap memelihara konsentrasi
kalsium serum pada kadar yang tepat. Pengaturan homeostatis kalsium
serum dikontrol oleh organ tulang, ginjal, dan usus melalui pengaturan
paratiroid hormone (PTH), hormone kalsitonin, kalsitrol (1,25(OH)2
Vitamin D) dan penurunan fasfat serum. Faktor lain yang berperan adalah
hormone tiroid, glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor
mineralisasi tulang (pirofasfat dan pH darah). Pertukaran kalsium sebesar
1.000 mg/harinya antara tulang dan cairan ekstraseluler dapat bersifat
kinetikmelalui fase formasi dan resofsi tulang yang lambat. Absorpsi
kalsium dari gastrointestinal yang efisien tergantung pada asupan kalsium
harian, status vitamin D dan umur. Didalam darah absorpsi tergantung
kadar protein tubuh,yaitu albumis, karena 50% kalsium yang terserap oleh
tubuh terikat oleh albium, 40% dalam bentuk kompleks sitrat dan 10%
terikat fosfat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada
usia lanjut:
1) Determinan Massa Tulang
a) Faktor genetic
Perbedaan genetic mempunyai mempunyai pengaruh
terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang
mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil.
Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya
mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat. Jadi
seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit
Hitam Amerika), relative imun terhadap fraktur karena
osteoporosis.
b) Faktor makanis
Bebanmekanis berpengaruh terhadap massa tulang di
samping faktor genetic. Bertambahnya beban akan
menambah massa tulang dan berkurangnya akan
mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal
tersebut menunjukan respon terhadap kerja mekanik.
Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa
otot yang besar dan juga masa tulang yang besar. Sebagai
contoh adalah pemain tenis dan pengayuh becak, akan
dijumpai adanya hipertrifi baikpada otot maupun tulngnya
terutama padalengan maupun tungkainya, sebalilknya
atrofi baik pada otot maupun tulang akan dijumpai pada
pasien yang harus istirahat ditempat tidur pada waktu yang
lama, poliomyelitis atau pada penerbangan luar angkasa.
Walau demikian belum diketahui berapa besar mekanis
yang diperlukandanberapa lama untuk meningkatkan
massa tulang disamping faktor genetik.
c) Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang
cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan
mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan. Pemberian makan yang berlebih (misalnya
kalsium) di atas kebutuhan maksimalselama pertumbuhan,
disamgsikan dapat menghasilkan massa yang melebihi
kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan
sesuai dengan kemampuan genetiknya.
2) Determinan penuruna Massa Tulang
a) Faktor genetic
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih
mudah mendapat resiko fraktur dari padaseseorang yang
dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak adaukuran
universal yang dipakai sebagai ukuran tulang normal.
Setiap individu mempunyai ketentuan normalsesuai
dengan sifat genetiknya serta beban mekanis dan besar
badannya.apabila individu dengan tulang yang besar,
kemudian terjadi proses penurunan massa tulang
(osteoporosis) sehubungandengan lanjutnya usia, maka
individu tersebut relative mempunyai tulang lebih banyak
daripada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia
yang sama.
b) Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting
dalam proses penurunan massa tulang sehubung dengan
lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa
ada interaksi penting antara faktor mekanis dengan faktor
nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan
menurun dengan bertambahnya usia dan karena massa
tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang
tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
c) Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting
dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan
bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause.
Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-
wanita pada masa peri menopause, dengan masukan
kalsiumnya rendah dan absorsinya tidak baik, akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi
negative, sedang mereka yang kalsiumnya baik dan
absorsinya juga baik, menunjukkan bahwa keseimbangan
kalsiumnya positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada
wanita masa menopause ada hubungan era tantara
masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam
tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause
keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan
serta absorpsinya kurang serta eksresi melalui urine
bertambah. Hasil akhir kekurangan atau kehilangan
estrogen pada masa menopause adalah pergeseran
keseimbangan kalsium yang negative, sejumlah 25 mg
kalsium sehari.
d) Protein
Protein merupakan faktor yang penting dalam
mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang
kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino
yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan
meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein
tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan
lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka
fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi ekskresi kalsium
melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah
pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari
makanan yang mengandung protein berlebihan akan
mengakibatkan kecendrungan untuk terjadi keseimbangan
kalsium yang negative.
e) Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan
mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan
kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya
efisiensi absorpsi kalsium dari makanan dan juga
menurunnya konservansi kalsium di ginjal.
f) Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak
cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang,
lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah.
Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa
tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat
memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun
feses.
g) Alcohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang
sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme
mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah,
disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.
Mekanisme yang jelas belum dengan pasti.

2.1.3 Patofiologi
Penybab pasti dari osteoporosis belum diketahui, kemungkinan pengaruh
dari pertumbuhan aktivitas osteoklas yang berfungsi bentuk tulang. Jika
sudah mencapai umur 30 tahun struktur tulang sudah tidak terlindungi
karena adanya penyerapan mineral tulang. Dalam keadaan norma terjadi
proses yang terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu proses
resorbsi dan proses pembentukasn tulang (remodelling). Setiap ada
perubahan dalam keseimbangan ini, misalnya proses resorbsi lebih besar
dari proses pembentukan, maka akan terjadi perubahan massa tulang.
Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun
untuk tulang bagian korteks A mengalami penipisan tulang bagian korteks
sebesar 0.3-0.5% tahun dan bagian trabekula pada usia lebih muda. Pada
pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-
30% dan pada wanita 40-50%. Penurunan massa tulang tulang lebih cepat
pada bagian-bagian tubuh seperti metacarpal, kolum femoris, dan korpus
vertebra bagian-bagian tubuh yang sering fraktur adalah vertebra, paha
bagian proksimal dan radius bagian distal.
Dalam keadaan norma terjadi yang terus menerus dan terjadi secara
seimbang yaitu proses resorbsi dan proses pembentukan tulang
(iremodellingi). Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini, misalnya
proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan terjadi
penurunan massa tulang.
1) Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35
tahun untuk tulang bagian korteks dan lebih dini pada bagian
trabekula.
2) Pada usia 40-45 tahun, baik wanita mauun pria akan mengalami
penipisan tulang bagian korteks sebersar 0.3-0.5% tahun dan
bagian trabekula pada usia lebih muda.
3) Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang
berkisar 20-30% dan pada wanita 40-50%.
4) Penurunan massa tulang lebih cepat pada bagian-bagian tubuh
seperti metacarpal, kolum femoris, dan korpus vertebra.
5) Bagian-bagian tubuh yang sering fraktur adalah vertebra, paha
bagian, proksimal, dan radius bagian distal.
2.1.4 WOC

Usia lajut
Kortikosteroid dalam waktu
lama, tdk adekuatnya asupan
vit. D
Aktifitas fisik Pada wanita pasca
menopause

Absorpsi kalsium terganggu

Kadar esterogen menurun


Ketidakseimbangan
Merangsang aktifitas osteoblas kecepatan regenerasi dan
& membatasi sel sel osteoklas pembentukan tulang

Osteoklas & Osteoblas tdk


terangsang
Osteoporosis Kurang Pengetahuan

Tulang hancur

GANGGUAN MOBILITAS NYERI AKUT


FISIK
2.1.5 Manifestasi Klinis
Penyakit osteoporosis sering disebut dengan silent disease karena proses
kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada pendeerita
osteo senilis) dan berlangsung secara progresif selama betahun-tahun tanpa
kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala.
Gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti:
1) Patah tulang.
2) Punggung yang semakin membungkuk.
3) Hilangnya tinggi badan.
4) Nyeri punggung.
2.1.6 Klasifikasi
Beberapa klasifikasi osteoporosis berdasarkan penyebab (Junaidi, 20007)
yaitu:
1) Osteoporosis pascamenopause (Primer)
Osteoporosis yang terjadi karena kurangnya hormone estrogen
(hormone utama pada wanita), yang membantu mengatur
pengangkutan kalsium kedalam tulang.
Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75
tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormone
estrogen produksinya menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan
terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat
menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun
pertama setelah menopause.
2) Osteoporosis senilis
Osteoporosis akibat dari kekurangan kalsium yang berhubnungan
dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya
tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblast). Senilis
berarti bahwa keaadan ini hanya terjadi pada usia lanjut.penyakit ini
biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali
lebih sering wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis
dan pasca menopause.
3) Osteoporosis Sekunder
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga menderita osteoporosis
sekunder yang disebabkan oleh keadaan medis lain dan obat-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan
hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan
(misalnya kortikosteroid, barbiturate, anti kejang dan hormone tiroid
yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang berlebihan dapat
meperburuk keadaan ini.
4) Osteoporosis juvenile idiopatik
Merupakan osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini
terjadi pada anak-anak dan dewas muda yang memiliki kadar dan
fungsi hormone yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
Klasifikasi osteoporosis berdasarkan kondisi patologis yang menyertai:
1) Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer paling sering dan tidak berhubungan dengan
kondisi patologi yang mendasaari. Osteoporosis primer masih dibagi
lagi menjadi Tipe 1 (post menopause) dimana tipe ini terjadi pada
wanita usia 55-65 tahun, dan sering mengakibatkan fraktur vertebra
atau pergelangan tangan. Tipe ke-2 (senile), terjadi pada orang diatas
usia 65 tahun, sering mengakibatkan fraktur vertebra dan femur.
2) Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis Sekunder terjadi akibat dari kondisi medik seperti
hipertiroidisme, terapi kortikosteroid jangka Panjang.
2.1.7 Gejala Klinis
Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat
fraktur kompresi pada vertebra (paling sering Thoraks 11 dan 12) adalah:
1) Nyri timbul mendadak.
2) Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yang terserang.
3) Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
4) Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah oleh karena
melakukan aktivitas.
5) Deformitas vertebra thorakalis Penurunan tinggi badan.
2.1.8 Penatalaksanaan
Prisnsip Penatalaksanaan
1) Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yang dapat
menbingkatkan pembentukan tulang adalah Na-fluorida dan steroid
anabatic.
2) Menghambat resorbsi tulang, obat-obatan yang dapat menghambat
resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonis, estrogen, dan difosfonat.
2.1.9 Pencegahan
Pencegahan sebaliknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda,
hal ini bertujuan:
1) Mencapai massa tulang dewasa proses konsolidasi yang optimal.
2) Mengatur makanan dan life style yang menjadi seseorang tetap bugar
seperti:
a) Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
b) Latihan teratur setiap hari
c) Hindari: Makanan tinggi protein, minum alcohol, merokok,
minum kopi, minum antasida yang mengandung aluminium.
2.1.10 Penatalaksanaan Keperawatan
1) Membantu klien mengatasi nyeri.
2) Membantu klien dalam mobilitas.
3) Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.
4) Memfasilitasikan klien dalam beraktifitas agar tidak terjadi cedera.
2.1.11 Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan radiologic
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitive.
Gambaran rdiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan
korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan
tampakpada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran
picture-frame vertebra.
2) Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan yang akuran dan untuk menilai
densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis
apabila nilai BMD (Bone Mineral Density) berada dibawah -2,5 dan
dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan
tulang) bila nilai BMD berada antara-2.3 dan -1 dan normal apabila
nilai BMD berada diatas -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa
tulang:
a) Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotope I yang mempunyai energi
photon rendah guna menghasilakan bekas radiasi kolimasi tinggi.
SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang mempunyai
jaringan lunak yang tidak tebal seperti distal radius dan kallaneus.
b) Dual-Photon Absortiometry (DPA)
Metode ini menpunyai cara yang sama dengan SPA.
Perbedaannya berupa sumber energi yang mempunyai photon
dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan
jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk
evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai fraktur
geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan vertebrata.
c) Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupaka densitometri yang paling ideal karena mengukur
densitas tulang secara volimetrik.
d) Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer
dengan menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya risiko
radiasi.
e) Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas trabekula melalui dua langkah yaitu
pertama T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai
densitas serta kualitas jaringan tulang trabekula dan yang kedua
untuk menilai arsitektur trabekula.
3) Biopsy tulang dan Histomorfometri
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksakan
kelainan metabolisme tulang.
4) CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitaif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostic dan terapi follow up.
Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbilkan
fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra di bawah
65 mg/cm3 ada pada hamper semua klien yang mengalami fraktur.
5) Pemeriksaan Laboratorium
a) Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang
nyata.
b)Kadar HPT (pada pascamenopause kadar HPT meningkat) dan Ct
(terapi estrogen merangsang pembentukan Ct).
c) Kadar 1.25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
d)Ekskresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat
kadarnya.
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS
2.2.1 Pengkajian
a. Identitas
Identitas klien yang biasa di kaji pada penyakit sistem
musculoskeletal adalah usia, karena beberapa penyakit
musculoskeletal banyak terjadi pada klien diatas usia 60 tahun.
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan
penyakit musculoskeletal seperti: Rheumathoid Arthritis, Gout
Arthritis, Osteoarthritis, dan Osteoporosis adalah klien mengeluh
nyeri pada persendian yang terkena, adanya keterbatasan gerak
yang menyebabkan keterbatasan mobilitas.
c. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit yang
diderita oleh klien dari mulai timbulnya keluahan yang dirasakan
sampai klien masuk Rumah Sakit, dan apakah pernah
memeriksakan diri ke tempat lain selaian Rumah Sakit umum
serta pengobatan apa yang pernah diberikan dan bagaimana
perubahannya dan data yang didapatkan saat pengkajian.
d. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat kesehatan yang lalu seperti riwayat penyakit
musculoskeletal sebelumnya, riwayat pekerjaan pada pekerja
yang berhubungan dengan adanya riwayat penyakit
musculoskeletal, penggunaan obat-obatan, riwayat mengkonsumsi
alcohol dan merokok.
e. Riwayat penyakit keluarga
Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama karena faktor genetic/keturunan.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Keadaan umum klien lansia yang mengalami gangguan
musculoskeletal biasanya lemah.
2) Kesadaran
Kesadaran klien biasanya Composmentis dan Apatis
3) Tanda-tanda vital
a) Suhu meningkat (>370C).
b) Nadi meningkat (N: 70-82x/menit).
c) Tekanan darah meningkat atau dalam batas normal.
d) Pernafasan biasanya mengalami normal atau meningkat.

4) Pemeriksaan Review Of System (ROS)


a) Sistem Pernafasan (B1 : Breathing)
Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih
dalam batas normal.
b) Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)
Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apical,
sirkulasi perifer warna dan kesehatan.
c) Sistem Pesarafan (B3 : Brain)
Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot,
terlihat kelemahan/hilang fungsi. Pergerakan
mata/kejelasan melihat, dilatasi pupil. Agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri/ansietas).
d) Sistem Perkemihan (B4 : Bleder)
Perubhan pola berkemih, seperti inkontinensia urin, dan
kebersihannya.
e) Sistem pencernaan (B5 : Bowel)
Konstipasi, konsisten feses, frekuensi eliminasi, auskultasi
bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen, nyeri
tekan abdomen.
f) Sistem Muskuloskeletal (B6 : Bone)
Kaji adanya nyeri berat tiba-tiba/mungkin terlokalisasi
pada area jaringan, dapat berkurang pada imobilitas,
kekuatan otot, kontraktur, atrofi otot, laserasi kulit dan
perubahan warna.
g) Pola fungsi kesehatan
Yang perlu dikaji adalah aktivitas apa saja yang biasa
dilakukan sehubung dengan adanya nyeri pada persendian,
ketidakmampuan mobilitas.
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan, dan penanganan
kesehatan.
2) Pola nutrisi
Menggambarkan masuikan nutrisi, balance cairan, dan
elektrolit, nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan
menelan, mual/muntah, dan makanan kesukaan.
3) Pola eliminasi
Menjelaskan pola fungsi ekskresi, kandung kemih,
defekasi, ada tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi
dan penggunaan kateter.
4) Pola tidur dan istirahat
Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan persepsi
terhadap energi, jumlah jam tidur pada siang dan
malam,masalah tidur, dan insomnia.
5) Pola aktivitas dan istirahat
Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan
dan sirkulasi, riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama,
dan kedalam penapasan. Pengkajian Indeks KATS.
6) Pola hubungan dan peran
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran
klien terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat
tinggal, pekerjaan, tidak punya rumah, dan masalah
keuangan. Pengkajian APGAR Keluarga (Tabel APGAR
Keluarga).
7) Pola sensori dan kognitif
Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola persepsi
sensori meliputi pengkajian penglihatan, pendengaran,
perasaan, dan pembau. Pada kelayan katarak dapat
ditemukan gejala gangguan penglihatan perifer, kesulitan
memfokuskan kerja dengan merasa diruang gelap.
Sedangkan tandanya adalah tampak kecoklatan atau putih
susu pada pupil, peningkatan air mata. Pengkajian Status
Mental menggunakan Tabel Short Portable Mental Status
Quesionare (SPMSQ).
8) Pola persepsi dan konsep diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi
terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri
menggambarkan gambaran diri, harga diri, peran, identitas
diri. Manusia sebagai sistem terbuka dan makhluk bio-
psiko-sosio kultural spritual, kecemasan, ketakutan dan
dampak terhadap sakit. Pengkajian tingkat Depresi
menggunakan Tabel Inventaris Depresi Back.
9) Pola seksual dan reproduksi
Menggambarkan kepuasan/masalah terhadap seksualitas.
10) Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan
termasuk spiritual (Allen. 1998).
2.2.2 Diagnosa
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan Agen injuri (biologi,
kirnia, fisik, psikologis) ditandai dengan klien melaporkan
adanya nyeri pada persendian, ekspresi wajah meringsis.
b. Kerusakan Mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan
ketidaknyamanan, kerusakan neuromuskuler, kehilangan
integritas struktur tulang, kekakuan sendi atau kontraktur.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan Kurang paparan,
mudah lupa, misinterpretasi informasi ditandai dengan klien
mengungkapkan adanya masalah, klien mengikuti intruksi
tidak akurat.
d. Cemas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan
status peran, perubahan status kesehatan, stres, ancaman
terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian ditandai
dengan produktivitas berkurang mata buruk, klien tampak
gelisah, klien mudah tersinggung, klien tampak khawatir, klien
tampak cemas, respirasi meningkat, nadi monin suara gemetar,
Refleks meningkat, wajah tegang, anoreksia, kelelahan,
peningkatan tekanan darah, klien sulit berkonsentrasi.
e. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pengobatan
penyakit, trauma atau cedera, pembedahan ditandai dengan
klien mengungkapkan mengenai perubahan dalam penampilan,
struktur dan fungsi, Perasaan negatif tentang tubuh (perasaan
tidak berdaya, keputusan atau tidak ada kekuatan),
Mengatakan perubahan dalam kehidupan.
f. Risiko jatuh berhubungan dengan adanya peradangan pada
persendian (arthritis), penurunan kekuatan ekstremitas bawah,
kerusakan mobilitas fisik.
g. Defisit perawatan diri mandi berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal ditandai dengan klien tidak mampu
membersihkan sebagian atau seluruh badan, klien tidak mamu
masuk dan keluar dari kamar mandi.
h. Deficit perawatan diri: Toileting berhubungan dengan
kerusakan musculoskeletal ditandai dengan klien tidak mampu
ke toilet atau menggunakan pispot, klien tidak mampu duduk
atau bangun dari toilet atau pispot, klien tidak mampu
memenuhi kebersihan toileting.
2.2.3 Intervensi
DIAGNOSA PERENCANAAN
NO
KEPERAWATAN Tujuan dan kriteria Intervensi
(1) (2) (3) (4)
1 Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (Pain
dengan Agen injuri keperawatan diharapkan Management):
- Kaji secara
(biologi, kimia, fisik, klien dapat:
1. Mengontrol nyeri (Pain komprehensif tentang
psikologis) ditandai
Control), dengan nyeri, meliputi: lokasi
dengan klien melaporkan
kriteria: karakteristik dan onset,
nyeri secara verbal atau
a. Klien dapat
durasi, frekuensi,
nonverbal, posisi untuk
mengetahui
kualitas, intensitas
mengurangi nyeri,
penyebab nyeri,
/beratnya nyeri, dan
ekspresi wajah meringis.
onset nyeri, mampu
faktor-faktor presipitasi.
menggunakan teknik - Observasi isyarat-isyarat
non farmakologi non verbal dari
untuk mengurangi ketidaknyamanan,
nyeri, dan tindakan khususnya dalam
pencegahan nyeri. ketidakmampuan untuk
b. Klien mampu
komunikasi secara
mengenali tanda-
efektif.
tanda pencetus nyeri - Gunakan komunikasi
untuk mencari terapeutik agar klien
pertolongan. dapat mengekspresikan
c. Melaporkan bahwa
nyeri.
nyeri berkurang - Kaji latar belakang
dengan budaya klien.
- Tentukan dampak dari
menggunakan
ekspresi nyeri terhadap
manajemen nyeri.
2. Menunjukkan tingkat kualitas hidup: pola
nyeri (Pain Level) tidur, nafsu makan,
a. Klien melporkan
aktivitas kognisi, mood,
nyeri dan
relationship, pekerjaan,
pengaruhnya pada
tanggung jawab peran.
tubuh. - Kaji pengalaman
b. Klien mampu
individu terhadap nyeri,
mengenal skala,
keluarga dengan nyeri
intensitas, frekuensi,
kronis.
dan lamanya episode - Evaluasi tentang
nyeri. keefektifan dan tindakan
c. Klien mengatakan
mengontrol nyeri yang
rasa nyaman setelah
telah digunakan.
nyeri berkurang. - Berikan
d. Tanda-tanda vilat
dukunganterhadap klien
dalam batas normal.
dan keluarga.
e. Ekspresi wajah
- Berikan informasi
tenang.
tentang nyeri, seperti:
penyebab berapa lama
terjadi, dan tindakan
pencegahan.
- Control faktor-faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
klien terhadap
ketidaknyamanan
(misalnya: temperature
ruangan, penyinaran,
dll).
- Anjurkan klien untuk
memonitor sendiri nyeri.
- Tingkatkan tidur
/istirahat yang cukup.
- Ajarkan penggunaan
Teknik non-farmakologi
(misalnya: relaksasi,
guided imagery, terapi
music, distraksi, aplikasi
panas-dingin, massage).
- Evaluasi keefektifan dari
tindakan mengontrol
nyeri.
- Modifikasi tindakan
mengontrol nyeri
berdasarkan respon
klien.
- Anjurkan klien untuk
berdiskusi tentang
pengalaman nyeri secara
tepat.
- Bantu klien
mengindetntifikasi faktor
presipitasi nyeri baik
actual maupun potensial.
- Hilangkan faktor yang
meningkatkan
pengalaman nyeri
(misalnya: rasa takut,
kelelahan dan kurangnya
pengetahuan).
- Lakukan Teknik variasi
untuk mengurangi nyeri
(farmakologi, non-
farmakologi, dan
interpersonal).
- Libatkan keluarga untuk
mengurangi nyeri.
- Informasikan kepada tim
kesehatan lainya/anggota
keluarga saat tindakan
nonfarmakologi
dilakukan, untuk
pendekatan preventif.
Pemberian Analgetik
(Analgetic Adminnistratio)
- Tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas
dan keparahan sebelum
pengobatan.
- Berikan obat dengan
prinsip 5 benar.
- Cek riwayat alergi obat.
- Libatkan klien dalam
pemilihan anlgetik yang
akan digunakan.
- Monitor vital sigh
sebelum dan sesudah
pemberian anlgetik
pertama kali.
- Berikan anlgetik yang
tepat waktu terutama saat
nyeri hebat.
- Evaluasi evektifitas
analgetik, tanda dan
gejala (efek samping).
2 Kerusakan mobilitas Setelah dilakukan tindakan Terapi aktivitas: Ambulasi
fisik berhubungan keperawatan diharapkan (Exercise Therapy
dengan nyeri dan klien dapat menunjukkan Ambulation)
- Kaji kebutuhan akan
ketidaknyamanan, tingkat mobilitas dengan
kerusakan kriteria: bantuan pelayanan
- Klien menunjukkan
neuromuskuler, kesehatan di rumah dan
penampilan yang
kehilangam, integritas kebutuhan akan
seimbang.
struktur tulang, kekakuan peralatan pengobatan
- Klien menunjukkan
sendi atau kontraktur. yang tahan lama.
penampilan posisi tubuh.
- Ajarkan dan bantu klien
- Klien menunjukkan
untuk berpindah sesuai
pergerakan sendi.
- Klien melakukan kebutuhan (misalnya dari
perpindahan. tempat tidur ke kursi).
- Klien melakukan - Bantu klien untuk
ambulasi: berjalan. mengenali ambulasi dini
- Klien menunjukkan
sesuai kebutuhan.
penggunaan alat - Instruksikan klien atau
bentusecara benar pemberi pelayanan
dengan pengawasan. tentang keamanan
- Klien meminta bantuan
berpindah dan Teknik
untuk aktivitas
ambulasi yang aman.
mobilisasi jika - Pantau penggunaan alat
diperlukan. bantu mobilitas
- Klien dapat melakukan
(misalnya: tongkat,
aktivitas sehari-hari
walker, kruk atau kursi
secara mandiri.
roda).
- Rujuk ke ahli therapi
fisik untuk program
latihan.
- Berikan penguatan
positif selama aktivitas.
- Ajarkan klien bagaimana
menggunakan postur dan
mekanika tubuh yang
benar saat melakukan
aktivtas.
- Ajarkan dan dukung
klien dalam latihan ROM
aktif/pasif untuk
mempertahankan atau
meningkatkan kekuatan
dan krtahanan otot.
Terapi aktivitas:
mobilisasi sendi (Exercise
Therapy: Joint mobility)
- Tentuukan keterbatasan
rentan gerak sendi, efek
dan fungsimya.
- Kolaborasi dengan terapi
fisik dalam
mengembangkan
program latihan.
- Tentukan tingkat
motivasi klien dalam
mempertahankan atau
meningkatkan rentang
gerak sendi.
- Jelaskan pada klien/
keluarga tentang maksud
dan rencana latihan
gerak sendi.
- Lindungi klien dari
trauma selama latihan.
- Bantu klien untuk
mengatur posisi yang
optimal dalam ROM
aktif/pasif.
- Motivasi klien untuk
latihan ROM aktif/pasif
dan merencanakan
jadwal.
- Bantu latihan ROM
sesuai indikasi.
- Intruksikan klien/
keluarga bagaimana
melakukan latihan ROM
aktif/pasif secara
sistematis.
- Bantu klien untuk
mengembangkan jadwal
latihan ROM aktif/pasif.
- Motifasi klien untuk
membayangkan gerakan
tubuhnya sebelum
memulai pergerakan.
- Berikan penguatan
positif selama aktivitas.
3 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan Pendidikan kesehatan:
berhubungan dengan keperawatan diharapkan Proses penyakit (Teaching
kurang paparan, mudah pengetahuan klien tentang Pregnancy Process)
- Kaji tingkat pengetahuan
lupa, misinterpretasi kehamilan meningkat
pasien berhubungan
informasi ditandai (Knowledge Disease
dengan proses kehamilan
dengan klien Process) dengan kriteria:
- Menjelaskan proses yang spesifik.
mengungkapkan adanya
- Tentukan motivasi klien
penyakit.
masalah, klien mengikuti
- Menjelaskan penyebab untuk mempelajari
instruksi tidak akurat.
dan pathofisiologi informasi-informasi yang
penyakit. khusus (misalnya: status
- Menjelaskan tanda-tanda
psikologis, orientasi,
dan gejala penyakit.
nyeri, keletihan, tidak
- Menjelaskan tindakan-
terpenuhinya kebutuhan
tindakan untuk
dasar, keadaan emosional
meminimalkan keluhan
dan adaptasi terhadap
selama proses penyakit.
sakit).
- Berikan pengajaran
sesuai dengan tingkat
pemahaman klien,
mengulang informasi
bila diperlukan.
- Sediakan lingkungan
yang kondusif untuk
belajar.
- Berikan informasi
kepada klien tentang
kondisinya.
- Berikan informasi
tentang tindakan
diagnostic yang
dilakukan.
- Diskusikan perubahan
prilaku yang dapat
mencegah komplikasi.
- Sediakan waktu bagi
klien untuk menanyakan
beberapa pertanyaan dan
mendiskusikan
permasalahnya.
- Ikutsertakan keluarga
atau anggota keluarga
lain bila memungkinkan.
- Rencanakan penyesuaian
dalam penanganan
bersama klien dan dokter
untuk memfasilitasi
kemampuan klien
mengikuti penanganan
yang dianjurkan.
- Berinteraksi kepada
klien dengan cara tidak
menghakimi untuk
memfasilitasi
pengajaran.
4 Cemas berhubungan Setelah dilakukan asuhan Menurunkan kecemasan
dengan krisis situasional, keperawatan selama …x 24 (Anxiety Reduction):
- Gunakan ketenangan
perubahan status peran, jam orang tua klien mampu
dalam pendekatan untuk
perubahan status mengontrol cemas
menenangkan klien.
kesehatan, stress, (Anxietty Control) dengan
- Jelaskan seluruh
ancaman terhadap kriteria:
prosedur tindakan
- Klien dapat
konsep diri, ancaman
kepada klien dan
merencankan trategi
terhadap kematian
perasaan yang mungkin
koping untuk situasi
ditandai dengan
muncul dalam pada saat
yang membuat stress.
produktivitas yang
- Klien dapat melalukan tindakan.
berkurang, kontak mata - Berusaha memahami
mempertahankan
buruk, klien tampak keadaan klien situasi
penampilan peran.
gelisah, klien mudah - Klien melaporkan tidak stress yang dialami klien.
- Berikan informasi
tersinggung, klien ada gangguan persepsi
tentang diagnose,
tampak khawatir, klien sensori.
- Klien melaporkan tidak prognosis dan tindakan.
tampak cemas, respirasi
- Temani klien untuk
ada manifestasi
meningkat. Nadi
memberikan
kecemasan secara fisik.
meningkat suara
- Klien melaporkan kenyamanan dan
bergetar, reflex
manifestasi prilaku mengurangi ketakutan.
meningkat, wajah - Dorong keluarga untuk
akibat kecemasan: tidak
tegang, anoreksia, menemani klien sesuai
ada.
kelelahan, peningkatan - Klien dapat meneruskan kebutuhan.
- Dorong klien untuk
tekanan darah, klien sulit aktivitas yang
mengungkapkan
berkonsentrasi. dibutuhkan meskipun
perasaan, pengharapan
ada kecemasan.
- Klien menunjukkan dan ketakutannya.
- Identifikasi tingkat
kemampuan untuk
kecemasan klien.
berfokus pada
- Berikan aktivitas hiburan
pengetahuan dan
untuk mengurangi
keteramplan yang baru.
- Klien dapat ketegangan.
- Bantu klien untuk
mengidentifikasi gejala
mengidentifikasi situasi
yang merupakan
yang menyebabkan
indicator kecemasan.
kecemasan.
- Control stimulus sesuai
kebutuhan klien.
- Dengarkan dengan
penuh perhatian.
- Ciptakan hubungan
saling percaya.
- Bantu klien untuk
mengungkapkan hal-hal
yang membuat cemas.
Tentukan kemampuan
klien dalam membuat
keputusan.
- Ajarkan klien Teknik
relaksasi.
- Observasi gejala verbal
dan non verbal dari
kecemasan
5 Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan tindakan Peningkatan Citra Tubuh
berhubungan dengan keprawatan diharapkan (Body Image
pengobatan penyakit, klien menunjukkan citra Anchancment)
- Kaji dan
trauma atau cedera, tubuh yang positif dengan
dokumentasikan respon
pembedahan ditandai kriteria:
- Klien mendemonstrasi- verbal dan non verbal
dengan klien
kan penerimaan terhadap klien tentang tubuh
mengungkapkan
perubahan bentuk tubuh. klien.
mengenai perubahan
- Klien mengungkapkan - Tentukan harapan klien
dalam penampilan,
kepuasan terhadap tentang gambaran tubuh
struktur dan fungsi,
penampilan dan fungsi berdasarkan tahap
perasaan negative
tubuh. perkembangan.
tentang tubuh (perasaaan - Keinginan untuk - Tentukan apakah
tidak berdaya, keputusan menyentuh bagiantubuh perubahan fisik saat ini
atau tidak ada kekuatan), yang mengalami telah dikaitkan kedalam
mengatakan perubahan gangguan. citra tubuh klien.
- Mengidentifikasi - Pantau frekuensi
dalam kehidupan.
kekuatan personal. pernyataan yang
- Mengungkapkan
mengkritik diri.
pengakuan terhadap - Obserbasi mekanisme
perubahan actual pada koping yang digunakan
penampilan tubuh. klien saat stress.
- Memelihara hubungan - Identifikasi klien
social yang dekat dan terhadap resiko ganguan
personal. citra tubuh.
- Rujuk pada layanan
social untuk
merencanakan perawatan
klien/keluarga.
- Dengarkan klien/
keluarga secara aktif dan
akui realitas adanya
perhatian terhadap
perawatan, kemajuan dan
prognosis.
- Dukung klien/keluarga
untuk mengungkapkan
perasaan.
- Berikan dorongan pada
klien untuk:
 Pertahankan
kebiasaan
berpakaian sehari-
hari yang rutin
dilakukan.
 Mengungkapkan
perhatian tentang
hubungan personal
yang dekat.
 Mengungkapkan
konsekuensi
perubahan fisik dan
emosional yang
dapat mempengaruhi
konsep diri.
- Identifikasi cara-cara
untuk mengurangi
dampak dari segala
kesalahan
penggambaran melalui
berpakaian, kosmetik
sesuai kebutuhan.
- Eksplorasi kekuatan
dan sumber dari klien.
Diskusikan jika
memungkinkan
perubahan berat badan.
- Dorong klien untuk
mendiskusikan secara
interpersonal tentang
masalah yang dihadapi.
- Dorong klien untuk
mendapatkan support
dari orang yang berarti.
- Dorong klien untuk
ikut berpartisipasi
membuat keputusan
dalam rencana
perawatannya.
- Bantu klien agar dapat
menerima bantuan dari
orang lain.
- Bantu klien untuk
menggambarkan
tentang ideal dirinya,
karakteristik identitas
dirinya dan
menerimanya.
6 Risiko jatuh Setelah dilakukan tindakan Mencegah Jatuh (fall
berhubungan dengan keperawatan diharapkan Prevention)
- Identitas kebutuhan
adanya peradangan pada klien melakukan tindakan
keamanan klien
persendian (arthritis), pengamanan :
Pencegahan jatuh dengan berdasarkan tingkat
penurunan kekuatan
kriteria: fungsi fisik, kognitif dan
ekstremitas bawah,
- Klien dapat
riwayat prilaku
kerusakan mobilitas
menggunakan alat bantu
sebelumnya.
fisik.
dengan benar. - Identifikasi prilaku dan
- Klien dapat
faktoryang berpengaruah
menempatkan penopang
terhadap resiko jatuh.
untuk mencegah jatuh. - Kaji riwayat jatuh klien
- Klien dapat
dan keluarga.
menempatkan susunan - Identifikasi karakteristik
pegangan tangan sesuai lingkungan yang
kebutuhan. mungkin meningkatkan
potensial untuk jatuh.
- Pantau gaya berjalan,
keseimbangan dan
tingkat kelelahan selama
ambulasi.
- Diskusikan dengan klien
tentang gaya berjalan
dan pergerakan.
- Ajarkan pada klien/
keluarga tindakan
keamanan pada area
yang spesifik.
- Berikan materi
Pendidikan yang
berhubungan dengan
strategi untuk
pencegahan trauma.
- Berikan informasi
tentang bahaya
lingkungan dan ciri-
cirinya (misalnya:
tangga, jendela, kunci,
pintu, kolam renang,
jalan atau gerbang).
- Ajarkan pada klien
tentang bagaimana
meminimalkan cedera.
- Pantau kemampuan klien
untuk berpindah dari
tempat tidur ke kursi.
- Gunakan Teknik yang
tepat untuk
memindahkan klien dari
dan ke kursi roda, tempat
tidur, kamar mandi, dll.
7 Deficit perawatan diri: Setelah dilakukan asuhan Bantu Perawatan Diri
Mandi/Kebersihan
keperawatan selama …x 24 (Self Care Assistance):
berhubungan dengan - Kaji kempuan klien
jam klien dapat
kelemahan, adanya nyeri, untuk menggunakan alat
menunjukkan perawatan
gangguan neurovaskuler bantu.
diri:
- Pantau adanya
ditandai dengan klien 1. Aktivitas kehidupan
perubahan kemampuan
mengatakan adanya sehari-hari: Mandi
fungsi.
ketidakmampuan dalam dengan kriteria:
- Pantau kemampuan klien
- Klien menerima bantuan
membersihkan sebagian perawatan total dari dalam melakukan
atau seluruh badan, pemberian perawatan perawatan diri secara
menyediakan sumber air jika diperlukan. mandiri.
- Klien mengungkapkan - Pantau kebutuhan klien
mandi, mengatur suhu air
secara verbal kepuasan terhadap kelengkapan
mandi regular,
tentang kebersihan tubuh alat-alat untuk
mendapatkan peralatan
dan hygiene mulut. kebersihan diri,
mandi, mengeringkan
- Klien mempertahankan
bepakaian, dan makan.
badan, masuk dan keluar
mobilitas yang - Berikan bantuan sampai
dari kamar mandi.
diperlukan untuk ke klien mampu untuk
kamar mandi dan melakukan perawatan
menyediakan diri.
- Bantu klien dalam
perlengkapan mandi.
- Klien mampu menerima
membersihkan dan ketergantungan
mengeringkan tubuh. pemenuhan kebutuhan
- Klien mampu melakukan
sehari-hari.
perawatan mulut. - Dukungan kemandirian
dalam melakukan mandi
dan hygiene mulut, bantu
klien hanya jika
diperlukan.
Bantu Perawatan Diri:
Mandi (Self Care
Assistance: bathing)
- Kaji membrane mukosa
oral dan kebersihan
tubuh setiap hari.
- Kaji kondisi kulit saat
mandi.
- Pantau kebersihan kuku,
berdasarkan kemampuan
perawatan diri klien.
- Berikan bantuan sampai
klien mampu secara
penuh untuk melakukan
perawatan diri.
- Letakkan sabun, handuk,
deodorant, alat cukur dan
peralatan lain yang
dibutuhkan disamping
tempat tidur/kamar
mandi.
- Pantau kebersihan kuku,
berdasarkan kemampuan
perawatan diri klien.
8 Deficit perawatan diri: Setelah dilakukan asuhan Bantu Perawatan Diri
Toileting berhubungan
keperawatan selama …x 24 (Self Care Assistance):
dengan kelemahan, - Kaji kemampuan klien
jam klien dapat
adanya nyeri, gangguan untuk menggunakan alat
menunjukkan perawatan diri
neurvaskuler ditandai 1. Aktifitas kehidupan bantu.
- Pantau adanya
dengan klien mengatakan sehari-hari: Toileting
perubahan kemampuan
adanya ketidakmampuan dengan kriteria:
- Klien menerima bantuan fungsi.
dalam menggunakan
- Pantau kemampuan klien
dari pemberi perawatan.
pispot, pergi ke toilet,
- Klien mengenali/ dalam melakukan
duduk atau bangun dari
mengetahui kebutuhan perawatan diri secara
toilet atau pispot,
akan kebantuan untuk mandiri.
memenuhi kebersihan - Pantau kebutuhan klien
toileting.
toileting, menyiram toilet - Klien mengenali dan terhadap perlengkapan
atau pispot. berespon terhadap alat-alat untuk
urgency untuk berkemih kebersihan diri,
atau defekasi. berpakaian, dan makan.
- Klien mampu untuk - Berikan bantuan sampai
pergi atau keluar dari klien mampu untuk
toilet. melakukan perawatan
- Klien mampu
diri.
membersihkan diri - Bantu klien dalam
setelah toileting. menerima
ketergantungan
pemenuhan kebutuhan
sehari-hari.
- Dukung kemandirian
daam melakukan mandi
dan hygiene mulut, bantu
klien hanya jika
diperlukan.
Bantu Perawatan Diri:
Toileting (Self Care
Assistance: Toileting)
- Ajarkan klien/orang
terdekat dalam turinitas
toileting.
- Berikan informasi
perawatan diri kepada
keluarga/orang lain yang
penting tentang
lingkungan rumah yang
aman untuk klien.
- Bantu klien dan toilet/
menggunakan pispot/
urinal pada jangka waktu
tertentu.
- Fasilitas hygiene toilet
setelah selesai eliminasi.
- Siram toilet bersihkan
peralatan eliminasi.
- Ganti pakaian klien
setelah eliminasi.
- Berikan privasi selama
eliminasi.

2.2.4 Evaluasi
Diagnosa Keperawatan : Nyeri Akut
a. Klien menunjukkan kemampuan menggunakan teknik non
farmakologi untuk mengurangi nyeri, dan tindakan pencegahan
nyeri).
b. Klien mampu mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk
mencari pertolongan.
c. Klien melaporkan nyeri berkurang.
d. Klien mengungkapkan kenyamanan setelah nyeri berkurang.
e. Klien menunjukkan tanda vital dalam batas normal.
f. Klien menunjukkan ekspresi wajah tenang.
Diagnosa Keperawatan : Kerusakan Mobilitas Fisik
a. Klien menunjukkan penampilan yang seimbang.
b. Klien menunjukkan penampilan posisi tubuh.
c. Klien dapat melakukan pergerakan sendi.
d. Klien dapat melakukan perpindahan.
e. Klien dapat berjalan.
f. Klien menggunakan alat bantu secara benar dengan
pengawasan.
g. Klien mau meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi jika
diperlukan.
h. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Diagnosa Keperawatan : Kurang Pengetahuan
a. Klien mengetahui nama penyakitnya.
b. Klien dapat menjelaskan proses penyakit.
c. Klien dapat menjelaskan faktor penyebab dan risiko
penyakitnya.
d. Klien menjelaskan efek dari penyakit.
e. Klien menjelaskan tanda-tanda dan gejala penyakit.
f. Klien menjelaskan tindakan-tindakan untuk meminimalkan
progresi penyakit.
g. Klien menjelaskan tanda-tanda dan gejala komplikasi.
Diagnosa Keperawatan : Cemas
a. Tidak ada tanda-tanda kecemasan secara fisik pada klien.
b. Klien tidak menunjukkan perubahan perilaku akibat
kecemasan.
c. Klien meneruskan aktivitas yang dibutuhkan.
d. Klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara
fisik.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Citra Tubuh
a. Klien mendemonstrasikan penerimaan perubahan bentuk
tubuh.
b. Klien puas dengan penampilan dan fungsi tubuh.
c. Klien mau menyentuh bagian tubuh yang mengalami
gangguan.
d. Klien dapat melakukan hubungan sosial yang dekat.
Diagnosa Keperawatan : Risiko Jatuh
a. Klien menggunakan alat bantu dengan benar.
b. Klien dapat menempatkan penopang untuk mencegah jatuh.
c. Klien dapat menempatkan susunan peggangan tangan sesuai
kebutuhan.
Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Mandi
a. Klien menunjukkan kepuasan tentang kebersihan tubuh dan
hygiene mulutnya.
b. Klien membersihkan dan mengeringkan tubuh.
c. Klien menunjukkan kemampuan melakukan perawatan mulut.
Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Toileting
a. Klien mau menerima bantuan untuk toileting.
b. Klien dapat berespon terhadap urgensi untuk berkemih atau
defekasi.
c. Klien menunjukkan kemampuan untuk pergi atau keluar dari
toilet.
d. Klien menunjukkan kemampuan membersihkan diri setelah
toileting.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang disebabkan
yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang
menjadi rapuh dan mudah patah. Penybab pasti dari osteoporosis belum
diketahui, kemungkinan pengaruh dari pertumbuhan aktivitas osteoklas
yang berfungsi bentuk tulang. Jika sudah mencapai umur 30 tahun struktur
tulang sudah tidak terlindungi karena adanya penyerapan mineral tulang.
Dalam keadaan norma terjadi proses yang terus menerus dan terjadi secara
seimbang yaitu proses resorbsi dan proses pembentukasn tulang
(remodelling). Beberapa klasifikasi osteoporosis berdasarkan penyebab,
yaitu ada osteoporosis pascamenopause (primer), osteoporosis senilis,
osteoporosis sekunder, osteoporosis juvenile idiopatik. Klasifikasi
osteoporosis berdasarkan kondisi patologis yang menyertai osteoporosis
primer dan osteoporosis sekunder. Pencegahan sebaliknya dilakukan pada
usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan mencapai massa tulang
dewasa proses konsolidasi yang optimal dan mengatur makanan dan life
style yang menjadi seseorang tetap bugar.
3.2 Saran
Diharapkan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa keperawatan
agar dapat mengerti, memahami, dan natinya juga dapat
mengaplikasikannya dalam melakukan asuhan keperawatan serta dapat
mengurangi atau dapat melakukan pencegahan sehingga menurunkan
potensi terjadinya osteoporosis nantinya.
DAFTAR PUSTAKA

Yuli, A. 2014. Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta Timur : CV. Trans Info
Media
FORMAT PENILAIAN MAKALAH ILMIAH MAHASISWA

A. IDENTITAS
1. Kelompok : V ( Lima )
2. Jumlah Anggota Kelompok : 7 Orang
B. PENILAIAN

Aspek yang Skor Ket.


dinilai
Tata Tulisan 4 >80 % sesuai kaedah penulisan
3 60-79% sesuai kaedah penulisan
2 50-59% sesuai kaedah penulisan
1 <50% sesuai kaedah penulisan
Daftar pustaka 4 Minimal 4 sumber
3 Minimal 3 sumber
2 Minimal 3 sumber
1 Minimal 1 sumber
Isi tulisan 4 >80 % sesuai topik
3 60-79% sesuai topik
2 50-59% sesuai topik
1 <50% sesuai topik
Etika penulisan 4 Tidak ada kemiripan dengan kelompok
(plagiarism)
lain ( original)
3
2
1 10-30% ada kemiripan dengan
kelompok lain

31-60% ada kemiripan dengan


kelompok lain

61-100% ada kemiripan dengan


kelompok lain
Total nilai

Catatan :
Nilai batas lulus adalah 3,00
1. Bila nilai makalah dibawah 3,00 maka tugas akan dikembalikan untuk diperbaiki
sampai mendapat nilai minimal 3,00.
2. Bila nilai etika penulisan 0 maka makalah harus diulang ( termasuk kelompok
yang sama )

FORMAT PENILAIAN PRESENTASI KELOMPOK

A. IDENTITAS
1. Nama kelompok : V (Lima )
2. Jumlah Anggota Kelompok : 7 Orang

B. PENILAIAN

Aspek yang dinilai Skor Ket.


Kejelasan 4 >80 %
3 60-79 %
mengemukakan
2 50-59 %
intisari dari tulisan 1 <50 %
Kelancaran dalam 4 >80 %
3 60-79 %
penyajian, media
2 50-59 %
penyajian 1 <50 %
Kemampuan dalam 4 >80 %
3 60-79 %
mengemukakan
2 50-59 %
argumentasi 1 <50 %
Total nilai

Catatan :
Nilai batas lulus adalah 3,00
Bila nilai presentasi dibawah 3,00 maka harus mengulang presentasi sampai
mendapatkan nilai minimal 3,00.
FORMAT PENILAIAN PRESENTASI
PERSEORANGAN MAHASISWA

Kelompok : V (Lima)

Anggota kelompok : 7 Orang

No Nama mahasiswa kehadiran Keaktifan partisipasi sikap


1 Agus Dwi Primantara
2 Ketut Agus Sudiyasa
3 Dewa Gede Alit Teja
Adnyana
4 I Gusti Ngurah
Devasya Tindara
5 I Made Diandika
Bayu Sagitha
6 Kadek Eri Wardiana
7 I Kadek Feri Adi
Nugraha

Keterangan :
1. Kehadiran diisi dengan tanda tangan
2. Keaktifan mahasiswa dalam bertanya atau menjawab pertanyaan
3. Partisipasi mahasiswa mengikuti presentasi sampai selesai
4. Sikap selama presentasi
5. Rentang nilai 1,0 – 4,0 ( kecuali kehadiran )