Anda di halaman 1dari 6

Sifat dan Pentingnya Air Bagi Kehidupan Tumbuhan

Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya kehidupan. Air
dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organic untuk melakukan replikasi.
Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat
pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme.
Air juga dibutuhkan dalam fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis menggunakan cahaya matahari
untuk memisahkan atom hidroden dengan oksigen. Hidrogen akan digunakan untuk membentuk
glukosa dan oksigen akan dilepas ke udara.

Dwijoseputro (1985), menjelaskan bahwa pemasukan air dari dalam tanah ke dalam jaringan
tanaman melalui sel-sel akar secara difusi dan osmosis. Dengan masuknya aie melalui sel akan
tentulah akan terbawa ion-ion yang terdapat di dalam tanah karena larutan tanah mengandung ion.
Pertumbuhan juga bergantung pada pengambilan air, dan banyak hal dalam hubungan air
tumbuhan bergantung pada interaksi antara sel dengan lingkungan. Tumbuhan memang
merupakan sistem yang dinamis dan sangat rumit, fungsi yang satu berinteraksi dengan fungsi
yang lain. Dengan kata lain, tumbuhan adalah sistem multidimensi. (Salisbury dan Ross, 1995).

Air merupakan esensi dalam kelangsungan hidup tumbuhan. Setiap hari, sebatang tumbuhan dapat
menyerap bergalon-galon air. Tumbuhan menyerap air melalui akar, mendistribusikannya melalui
pembuluh, dan menguapkannya melalui daun. Namun, penelitian fisiologis tumbuhan belakangan
ini menyatakan bahwa hanya 5 % dari air yang diserap digunakan untuk proses metabolism.
Pertanyaan yang muncul ialah mengapa tumbuhan menyerap begitu banyak air untuk
melangsungkan proses kehidupannya.

Hampir dari seluruh anggota dari Kingdom Plantae membutuhkan substrat untuk hidup. Substrat
menyediakan mineral dan air yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Mineral dan air diserap melalui
akar, kemudian didistribusikan oleh pembuluh xylem. Air masuk ke dalam sistem tubuh tumbuhan
melalui proses imbibisi, proses penyerapan cairan melalui ruang antar sel. Mineral melalui jalur
lain untuk masuk ke sistem tubuh tumbuhan, yaitu melalui difusi dan transport aktif. Beberapa
dugaan mengenai fungsi air ialah sebagai media pendistribusian mineral, karena kemampuan air
yang dapat mengionisasi mineral. Fungsi air juga dapat dikaitkan pada fakta bahwa reaksi kimia
metabolisme terjadi pada fase cair. Namun penelitian dengan menggunakan mineral yang diberi
label radioaktif menunjukkan peredaran mineral dalam tumbuhan dapat terjadi tanpa air.

Sebesar 95% air yang diserap akar akan dievaporasikan oleh daun melalui transpirasi. Secara
sederhana, tentulah hal tersebut merupakan pemborosan, namun evaporasi merupakan jawaban
mengenai fungsi air pada tumbuhan. Daun merupakan organ yang sangat terpigmentasi pada
tumbuhan. Klorofil, xantofil, dan beta-karoten ialah beberapa dari pigmen yang terdapat pada
daun. Pigmen-pigmen itu berfungsi untuk menunjang kelangsungan fotosintesis yang
membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Dengan demikian daun menyerap
begitu banyak radiasi matahari. Energi radiasi matahari tidak diubah seluruhnya oleh daun menjadi
energi kimia, sisa energy radiasi tersebut menjadikan suhu daun meningkat.

1
Air merupakan 85 – 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel, air diperlukan
sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya, selain itu air
diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses
fotosintesis, dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat
digunakan untuk aktivitas katalisnya. Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan
apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan
kematian.

Fungsi Air bagi tumbuhan adalah sebagai berikut :


 Penyusun utama protoplasma
Molekul – molekul makro dalam protoplasma seperti protein, karbohidrat, pektin dan lain-
lain membentuk struktur yang unik berasosiasi dengan molekul air dalam bentuk koloid.
 Menjadi pelarut bagi zat hara yang diperlukan tumbuhan.
 Menjadi alat transpor untuk memindahkan zat hara. Bahan yang diangkut dapat berupa
bahan mineral dari dalam tanah, bahan – bahan organik hasil fotosintesa, dan olahan sel
lain.
 Menjadi medium berlangsungnya reaksi-reaksi biokimia. Kita tahu terkadang proses reaksi
terjadi dalam bentuk larutan dan air adalah pelarut yang sangat baik.
 Menjadi bahan dasar untuk reaksi – reaksi biokimia. Seperti pada fotosintesis, tanpa adanya
air yang berperan sebagai donor elektron. Fotosintesis tidak dapat berlangsung.
 Sebagai sistem hidrolik Air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel seliingga
menimbulkan turgor pada dinding sel tumbuhan. Memberikan kekuatan mekanik pada
jaringan – jaringan yang tidak memiliki sokongan struktur (zat kayu) pada dinding selnya,
misalnya pada parenkim. Sistem hidrolik juga dapat di jumpai pada membuka dan
menutupnya stomata.
 Stabilisasi dan pemindahan panas
Tingginya panas jenis yang dimiliki air, telah memungkinkan air berperan sebagai
penyangga (buffer) dalam pengaturan panas tubuh tumbuhan. Penyerapan sejumlah besar
panas (radiasi) oleh tumbuhan, hanya akan mengubah suhu tubuh sedikit saja. Sebab
sebagian besar panas (radiasi) tersebut dikembalikan lagi ke lingkungannya dengan cara
penguapan air dari permukaan tubuhnya.
 Sebagai alat gerak misalnya pada pulvinus tangkai daun pada gerak nasti. Air di dalam sel
berada dalam bentuk bebas dan terikat. Keterikatan air itu dapat dengan ion atau molekul
polar, terkait dengan ikatan H pada molekul lain, terikat pada koloid atau terikat secara
kapiler. Air bebas terdapat pada vacuola sebagai cairan encer. Apabila tumbuhan
kekurangan air, air bebaslah yang hilang lebih dulu. Sebagai larutan air dalam sel
mempunyai potensial air lebih kecil dari nol. Besamya potensial air larutan cairan sel
dipengaruhi oleh temperatur, adanya bahan pelarut lain, adanya imbibiban yaitu zat yang
mampu mengadakan imbibisi. Dan adanya tekanan atau tegangan (tekanan hidrostatik).

2
Fungsi air yang paling penting yaitu dalam reaksi-reaksi biokimia dalam protoplasma yang
dikontrol oleh enzim. Selain memberi fasilitas bagi berlangsungnya suatu reaksi biokimia,
molekul air dapat berinteraksi secara langsung sebagai komponen reaktif dalam proses
metabolisme di dalam sel.

Selain berperan dalam reaksi biokimia, air memiliki fungsi-fungsi lainya, seperti dalam:

a. Protoplasma
Pada protoplasma terdapat molekul-molekul makro, meliputi protein-enzim, asam nukleat,
dll, membentuk berasosiasi dengan air membentuk suatu struktur yang unik yang dikenal
dengan koloida.
b. Sistem hidrolik
Air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel sehingga menimbulkan turgor pada sel-
sel tumbuhan, memberikan sokongan kekuatan pada jaringan-jaringan tumbuhan yang
tidak memiliki sokongan struktur pada dinding selnya. Selain itu tekanan hidrolik juga
berperan dalam proses membuka menutupnya stomata.
c. Sistem angkutan
Air berperan dalam mengangkut bahan-bahan dari satu sel ke sel lainnya, dimana bahan
yang diangkut dapat berupa garam-garam mineral atau bahan-bahan organic hasil
fotosintesis dan olahan sel lainnya.
d. Stabilitas dan pemindahan
Panas air berperan dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan, sehingga tumbuhan tidak
mengalami kepanasan. Hal ini disebabkan karena tingginya panas jenis yang dimiliki air,
memungkinkan air sebagai dapar ( buffer ) dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan.

Sifat air pada dasarnya adalah tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Dan seperti telah
disinggung sebelumnya bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan air berubah wujud.

Air di dalam perwujudannya dapat berubah ke dalam tiga bentuk. Yakni bentuk padat berupa es,
bentuk cair berupa perwujudan air itu sendiri serta bentuk gas berupa embun atau awan yang
terlepas di langit dan udara bebas.Bentuk padat berupa es terjadi karena ada proses pembekuan.
Kemudian bentuk cair berupa air terjadi karena ada perubahan bentuk padat yang mencair menjadi
air. Sedangkan bentuk gas atau embun terjadi karena adanya proses penguapan dari air yang
semula berupa cairan tadi. Adapun sifat-sifat air lainnya adalah memiliki titik lebur 0ᵒ C serta
memiliki titik didih pada 100ᵒC.

Air memiliki sifat-sifat fisika yang penting bagi kehidpan tumbuhan maupun semua organisme
hidup, sifat-sifat tersebut antara lain:
 Titik didih air jauh lebih tinggi dibanding jenis cairan yang lain dan merupakan cairan
yang paling umum. Sehingga air dapat menyerap sejumlah besar energi tanpa banyak
menaikkan suhu, sehingga tubuh organisme menjadi lebih stabil dan metabolismenya akan
stabil pula.

3
 Air mempunyai titik densitas maksimum pada 4oc. Hal ini yang menyebabkan kenapa air
jarang membeku di dalam lautan atau danau . Sehingga, organisme dapat hidup di
dalamnya.
 Molekul air mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan molekul lain ( adhesi,
sedangkan kemampuan molekul tersebut untuk saling berikatan, disebut kohesi. Hal ini
sangat membantu dalam proses pengangkutan air di dalam tubuh tumbuhan.
 Air memiliki panas penguapan ( heats of vaporization ). Cukup tinggi, sekitar 540 cal gm-
1. Angka tersebut sangat membantu dalam pemeliharaan temperature organisme.
 Air tegangan muka sangat tinggi. Sehingga air ini boleh naik didalam suatu kapiler sampai
ketinggian sekitar 120cm, dan sangat bermanfaat bagi tumbuhan, dimana memungkinkan
air untuk pindah atau bergerak secara ekstensif antar ruang partikel dan dalam dinding sel
tumbuhan.
 Air mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mentransmisikan cahaya, sehingga
membantu tumbuhan di dalam fotosintesis terutama pada tumbuhan yang berada di dalam
air. Selain itu dapat memampukan cahaya untuk menembus dan menjangkau jaringan
daun-daun yang lebih dalam.
 Air berbentuk cair dalam suhu kamar, sehingga kehadiran air yang cair pada suhu kamar
dan tidak bersifat toksik merupakan sifat air yang penting bagi kehidupan, selain itu air
tidak dapat dimampatkan.
 Air memiliki viskositas yang rendah, sehingga dapat dengan mudah mengalir. Hal ini
sangat penting bagi kehidupan, karena dengan demikian air dengan mudah berpindah di
dalam tubuh.

Terdapat lima mekanisme utama yang menggerakkan air dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu
melalui proses: difusi, osmosis, tekanan kapiler, tekanan hidrostatik, dan gravitasi.

1. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah
dengan konsentrasi rendah.
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas
berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih
lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya
dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan
contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2
sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan
difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar
masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan
contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat
disbanding dengan proses difusi.

4
2. Osmosis
Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-
sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler,
air bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang
berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul
tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses
Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai
keseimbangan.
Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran. Osmosis dapat
dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka
menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah
osmosis. Jika anda merendam wortel ke dalam larutan garam 10 % maka sel-selnya akan
kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel wortel
tersebut lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari
dalam sel akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka
vakuola sel-sel wortel tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran
sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut
plasmolisis.
3. Tekanan kapiler
Apabila pipa kapiler dicelupkan ke dalam bak yang berisi air, maka permukaan air dalam
pip a kapiler akan naik sampai terjadi keseimbangan antara tegangan yang menarik air
tersebut dengan beratnya. Tekanan yang menarik air tersebut disebut tekanan kapiler.
Tekanan kapiler tergantung pada diameter kapiler : semakin kecil diameter kapiler semakin
besar tegangan yang menarik kolom air tersebut.
4. Tekanan hidrostatik
Masuknya air ke dalam sel akan menyebabkan tekanan terhadap dinding sel sehingga
dinding sel meregang. Hal ini akan menyebabkan timbulnya tekanan hidrostatik untuk
melawan aliran air tersebut. Tekanan hidrostatik dalam sel disebut tekanan turgor. Tekanan
turgor yang berkembang melawan dinding sebagai hasil masuknya air ke dalam vakuola
sel disebut potensial tekanan. Tekanan turgor penting bagi sel karena dapat menyebabkan
sel dan jaringan yang disusunnya menjadi kaku. Potensial air suatu sel tumbuhan secara
esensial merupakan kombinasi potensial osmotic dengan potensial tekanannya. Jika dua
sel yang bersebelahan mempunyai potensial air yang berbeda, maka air akan bergerak dari
sel yang mempunyai potensial air tinggi menuju ke sel yang mempunyai potensial air
rendah.
5. Gravitasi
Air juga bergerak untuk merespon gaya gravitasi bumi, sehingga perlu tekanan untuk
menarik air ke atas. Pada tumbuhan herba, pengaruh gravitasi dapat diabaikan karena
perbedaan ketinggian pada bagian tanaman tersebut relatif kecil. Pada tumbuhan yang
tinggi, pengaruh gravitasi ini sangat nyata. Untuk menggerakkan air ke atas pada pohon
setinggi 100 m diperlukan tekanan sekitar 20 atmosfer.

5
B. Potensial Air, Potensial Osmosis Dan Potensial Tekanan
Potensial Kimia Air atau Potensial Air ( PA/Ѱ ); menggambarkan kemampuan molekul air
untuk dapat melakukan difusi. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram
molekul ( Energi bebas mol-1 ) disebut Potensi kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih
sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Potensial kimia air merupakan konsep yang sangat
penting dalam fisiologi tumbuhan. Pada tahun 1960, Ralph O. Slatyer di Canbera, Australia dan
Sterling A. Taylor di Utah State University, mengusulkan bahwa potensial kimia air digunakan
sebagai dasar untuk sifat air dalam system tumbuhan-tanah-udara.
Mereka mendefinisikan Potensial Air sebagai sesuatu yang sama dengan potensial kimia air
dalam suatu system, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan
suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa potensial air murni dinyatakan sebagai nol (
merupakan konvensi ), yang satuannya dapat berupa satuan tekanan ( atm., bar ) atau satuan energi.
Tekanan yang diberikan pada air atau suatu larutan akan meningkatkan energi bebasnya, sehingga
potensial air dapat meningkat. Dengan konsep potensial air ini, kita bias membayangkan osmosis
yang terjadi pada haipertonis ke larutan hipotonis, asal saja potensial air pada larutan yang
hipertonis lebih besar dari larutan hipotonis. Hal ini hanya dapat terjadi bila larutan hipertonis
diberikan tambahan tekanan yang dapat meningkatkan nilai potensial airnya. Tekanan yang
diberikan atau yang timbul dalam system ini disebut sebagai Potensial Tekanan ( PT/Ѱp ) dan di
dalam kehidupan tumbuhan potensial tekanan dapat timbul dalam bentuk tekanan turgor.
Di dalam proses osmosisi, di samping komponen Potensial Air ( PA/Ѱ ), Potensial Tekanan
( PT/Ѱp ). Terdapat komponen lain yang juga penting, yaitu Potensial Osmotik ( PO/Ѱs ). Potensial
osmotic ini lebih menyatakan status larutan dan status larutan ini dapat kita nyatkan dalam satuan
konsentrasi, satuan tekanan atau satuan energi.

Potensial Osmotik dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain:


 Konsentrasi; Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial
osmotiknya. Bila zat terlarut bukan elektrolit dan molekulnya tidak mengikat air hidrasi,
maka potensial osmotic larutan tersebut hamper pasti akan sebanding dengan konsentrasi
molalnya.
 Ionisasi Molekul Zat Terlarut; larutan dari suatu zat elektrolit dalalm molalitas yang sama
mempunyai tekanan osmose yang lebih besar daripada larutan yang bukan elektrolit.
Sehingga semakin besar daya ionisasi dari zat yang dilarutkan biasanya potensial
osmosisnya juga meningkat.
 Hidrasi Molekul Zat Terlarut; air yang berasosiasi dengan partikel zat terlarut biasanya
disebut sebagai ar hidrasi. Air dapat berasosiasi dengan ion, molekul atu partikel koloida.
Dampak air hidrasi terhadap suatu larutan, dapat menyebabkan larutan menjadi lebih pekat
dari yang kita perkirakan.
 Temperatur; potensial osmotic suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu.
Potensial osmotic suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan suhu absolutnya.
Potensial osmotic air murni memiliki nilai sama dengan nol, sehingga kalau digunakan
satuan tekanan maka nilainya akan menjadi 0 atm atau 0 bar. Klau status suatu larutan tidak
berubah, maka milainya pun tidak berubah.