Anda di halaman 1dari 15

RUANG LINGKUP PEMIKIRAN/ FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
“Filsafat Pendidikan Islam”

Disusun Oleh:
Agung Aji Saputra
NIM: 17771050

Dosen Pengampu:
DR. H. M. Zainuddin, M. A

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG

2018

0
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hakikat Filsafat pendidikan Islam adalah konsep pemikiran tentang
pendidikan yang dijiwai oleh ajaran-ajaran Islam. Berangkat dari pendidikan
yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Juga cakupan filsafat
yang begitu luas, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang ada dan mungkin ada.
Melihat cakupan yang begitu luas, maka kiranya perlu untuk titik
terang batasan pembahasan filsafat pendidikan Islam. Karena berbagai
kegiatan khususnya keilmuan yang mencoba menjelaskan suatu term
tertentu, tanpa adanya batasan yang jelas pada objek kajiannya sangat
dimungkinkan akan keluar dari jalur dan akan mengaburkan atau bahkan
tidak tercapainya tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu, untuk dapat memahami filsafat pendidikan Islam
dengan baik, sehingga dapat diterapkan tidak hanya sebagai proses tetapi
sebagai hasil dari pemikiran yang tersistematis dan mendalam sehingga
ditemukan ide-ide baru yang dapat dijadikan pedoman dalam pendidikan
guna mengembangkan maupun merekonstruk bentuk praktek-praktek
maupun teori-teori pendidikan yang dicita-citakan, maka perlu adanya
pembatasan yang jelas dalam pembahasan filsafat pendidikan Islam.
Berangkat dari masalah di atas, makalah ini mencoba membahas dan
menjelaskan objek kajian/ ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam dengan
memaparkan berbagai pendapat para ahli diharapkan dapat diketahui
cakupan pembahsan filsafat pendidikan Islam. Dengan demikian, hal ini
akan memudahkan pembahsan-pembahasan pada tahap selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian filsafat?
2. Apa pengertin Filsafat Pendidikan Islam?
3. Bagaimana konsep kajian filsfat?
4. Apa saja objek filsafat pendidikan?
5. Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan Islam?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat
Kata Filasafat/ falsafah dari segi bahasa, menurut al-Farabi
sebagaimana dikutip Endang syaifudin Anshari, terambil dari bahasa
Yunani yang masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab, yaitu berasal dari
kata Philosophia. Philo berarti cinta dan shopia berarti hikmah, dan oleh
karena itu: Philoshopia berarti cinta akan hikmah atau cinta kebenaran.1
Sedangkan menurut Poedjawijatna, kata filasafat berasal dari kata
Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang
dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah Philoshopia, merupakan kata
majemuk yang terdiri atas Philo dan shopia; Philo artinya cinta dalam arti
yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang
diinginkan itu; shopia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian
yang mendalam.2
Berikut deskripsi filsafat menurut para ahli sebagaimana dikutip In’am
Esha:3
Tokoh Pengertian
Ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran
Plato yang asli dan murni. Juga, penyelidikan tentang sebab-
sebab yang paling akhir dari segala sesuatu yang
ada.
Ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari
Aristoteles prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas
ada. Juga, ilmu yang mempelajari peri ada sebagai ada
(being as being), (hakikat dari realitas ada)
Himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal
Descrates penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan
manusia

1
Endang Saifudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama. (Surabaya: Pt. Bina Ilmu,
1983), cet. Ke-4, 79.
2
I. R, Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. (Djakarta: Pembangunan,
1974), 1.
3
Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat. (Malang: UIN-Maliki Press,
2016), 28-29.

2
Al-Farabi Ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan
menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya
Deng Fung Yu Lan Pikiran yang sistematis dan refleksi tentang hidup
Berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas
Harun Nasution (tidak terikat pada tradisi, dogma, agama) dan dengan
sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar
persoalan
Poedjawijatna Ilmu yang mencari sebab sedalam-dalamnya bagi
segala sesuatu yang ada dan mungkin ada

Kemudian dari pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa


dengan berfilsafat berarti memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal
yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan
tingkat kenyataan yang ada.4
2. Radikal, yakni menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai ke
akar-akarnya.5
3. Rasional, maksudnya adalah berpikir logis, sistematis, kritis, dan
spekulatif.6
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa berfilsafat adalah berpikir
tentang segala sesuatu yang ada secara universal, radikal, rasional untuk
mendapatkan kebenaran hakiki.
Oleh karenanya menurut Ahmad Tafsir, epistemologi filsafat
membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yang dipikirkan), cara
memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan
filsafat).7

4
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), 6.
5
Ibid., 6.
6
Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat, 31.
7
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epitemologi dan Aksiologi
pengetahuan. (Bandung: PT Rosdakarya, 2010), 80.

3
B. Filsafat Pendidikan Islam
Sebelum membahas pengertian filsafat pendidikan Islam, diketahui
dahulu pengertian fisafat pendidikan, menurut Dr. Muhammad an-Najihi
bermakna penerapan perspektif dan metode filsafat dalam pendidikan.8
Selanjutnya, Munir Mulkhan memberikan pengertian Filsafat
Pendidikan Islam sebagai suatu analisis atau pemikiran rasional yang
dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk
memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam. 9 Pengertian
tersebut, hampir sejalan dengan batasan filsafat pendidikan yang
dikemukakan oleh Ali Khalil Abu al-‘Ainaini, sebagaimana dikutip oleh
Zubaedi berikut:10
‫النشاط الفكر المنظم الذي يتخذ الفلسفة وسيلة للتنظيم العملية التربوية وتنسييقها‬
‫وتوضيح القيام واالهداف التي تدل الى تحقيقها في سبيل ضبط العملية التربية‬
Filsafat pendidikan merupakan aktivitas pemikiran yang tersusun
secara sistematis, yang menggunakan filsafat sebagai alat untuk
mengukur dan menyusun pelaksanaan pendidikan, serta menjelaskan
nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang mengarahkan pelaksanaan praktik
pendidikan secara tepat.
Sementara itu, Arifin menjelaskan bahwa filsafat Pendidikan Islam
adalah konsep berfikir tentang pendidikan yang bersumber pada ajaran
Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan
dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh
pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.11
Filsafat pendidikan Islam adalah filsafat tentang pendidikan Islam atau
filsafat pendidikan menurut Islam? Dalam hal ini, Zubaedi menyimpulkan
bahwa filsafat pendidikan Islam adalah kajian filosofis mengenai berbagai
berbagai masalah pendidikan berlandaskan ajaran Islam. Dengan demikian,
menurutnya filsafat pendidikan Islam hakikatnya adalah mengajukan

8
Muhammad an -Najihi, Falsafah at- Tarbiyah, (Kairo: Muthobi’ al-Kailani, t.t),
36.
9
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat
Pendidikan Islam dan Dakwah. (Yogyakarta: Sipress, 1993), cet. I, 74.
10
Zubaedi, Isu-Isu Baru dalam Diskursus Filsafat Pendidikan Islam. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012), 25.
11
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Bina Aksara, 1987), 28.

4
beberapa pertanyaan mengenai pendidikan Islam, kemudian mencari
jawaban dari perspektif kefilsafatan.12
Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat
pendidikan Islam adalah kegiatan berpikir secara filosofis mengenai segala
aspek pendidikan berdasarkan ajaran Islam.

Dengan demikian, filsafat pendidikan islam dapat dikatakan sebagai


filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran islam atau filsafat pendidikan
yang dijiwai oleh ajaran islam. Jadi, ia bukan filsafat yang bercorak liberal,
bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat
pada umumnya.13

C. Konsep Kajian Filsafat


In’am Esha mengilustrasikan kajian filsafat laksana melakukan
anatomi sebuah pohon ada akar, batang, cabang, ranting, daun dan buah14
1. Akar Filsafat
Akar filsafat sebagai ilustrasi simbol darimana seseorang mulai
berfilsafat. Dalam hal ini, ia menyimpulkan setidaknya ada empat hal, yaitu:
ketakjuban, ketidaktahuan, keraguan dan hasrat bertanya.
2. Batang Filsafat
Batang filsafat menjadi simbol apa yang menjadi penopang utama
dalam berfilsafat, yakni berpikir. Karena itu berpikir menjadi hal yang
penting dalam berfilsafat.
3. Cabang dan Ranting Filsafat,
Menggambarkan pembahasan-pembahasan pokok yang ada dalam
filsafat, yaitu: metafisika (ontologi), epistemologi dan aksiologi. Kemudian
dalam ranting ini ada sub-sub pokok bahasan lagi, itulah daunnya.
4. Buah Filsafat

12
Zubaedi, Isu-Isu dalam DIskursus Filsafat Pendidikan Islam., 28-29.
13
Salmiawati, Filsafat pendidikan Islam. (Bandung: Citapustaka Media Perintis,
2012), 17.
14
Ibid., 67.

5
Buah menjadi simbol dari inti pokok tujuan filsafat yaitu meraih
kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran filsafat inilah yang kemudian
dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk banyak hal seperti: menghasilkan
teori-teori, menjadi norma-norma dalam masyarakat, pendidikan dan
melakukan kritik terhadap aspek kehidupan yang dirasa perlu diubah karena
tidak sejalan dengan perkembangan zaman.
Untuk melanjutkan pembahasannya selanjutnya, setelah diperoleh
pola dan sistem berpikir filosofis di atas, lalu dilaksanakanlah dalam ruang
lingkup (cabang/ ranting) filsafat, yaitu: metafisika (ontologi), epistemologi
dan aksiologi.
1. Metafisika
Adalah cabang yang membahas persoalan yang ada sebagai sesuatu
yang ada (being qua being). Ontologi sering diidentikkan dengan
metafisika, yang juga disebut dengan proto-filsafat atau filsafat yang
pertama.15
Adapun fungsi metafisika menurut In’am Esha setidaknya ada dua,
yaitu:16
a. Memahami hakikat realitas, maksudnya meafisika umum merupakan
bagian fisafat yang membahas ada sebagai ada (being as being).
b. Dasar pengetahuan, hal ini karena metafisika merupakan kunci untuk
mendedar pertanyaan paling penting yang dihadapi manusia dalam
kehidupan.
Matafisika dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu
metafisika umum dan khusus.
a. Metafisika Umum, disebut juga dengan ontologi. Dari kata Yunani to
ontoos yaitu yang sungguh-sungguh ada atau sesuatu yang wujud.
b. Metafisika khusus, terdiri dari kosmologi, teologi metafisik dan
filsafat antropologi.

15
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), 126-127.
16
Ibid., 87.

6
2. Epistemologi, pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan
diperoleh, apakah dari akal pikiran (aliran rasionalisme), panca indra
(aliran empirisme), dari ide-ide (aliran idealisme) atau dari Tuhan (aliran
teologisme). Juga pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia,
sampai dimana kebenaran pengetahuan.17
3. Aksiologi, dipahami sebagai cabang filsafat yang membahas persoalan
nilai (axios), membahas tentang mengapa sesuatu itu dikatakan baik/
buruk dan indah/ tidak indah (jelek). Oleh karena itu, aksiologi tidak
terlepas dari dua pembahasan utama, yaitu persoalan etika dan estetika.18
Jujun S. Suriasumantri berpendapat bahwa aksiologi adalah teori nilai
yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. 19
D. Objek Filsafat Pendidikan
Untuk memahami pembahasan filsafat secara sempurna, kita mesti
mengetahui objek dari filsafat. Apa saja yang dijadikan objek dalam
pembahasan filsafat?
Untuk ini Doktor Mahmoud Hubbullah menjelaskan, sebagaimana
dikutip Muhammad as-Said, sebagai berikut:20
‫تطلق كلمة الفلسفة ويراد بها البحث العقلي المنظم حول كل موجود سواء كان‬
‫ وهي تبحث في طبيعة‬.‫ذالك الموجود روحا ام مادة حيوانا ام نباتا ام جمادا‬
.‫الموجود في نفسه وفي عالقاته بالغير فانيا كان ذالك الموجود ام باقيا‬
Artinya: “kata filsafat digunakan untuk pengertian pembahasan
rasional yang sitematis, meliputi satiap maujud, baik yang
berwujud spiritual maupun material, apakah sebagai
hewani, nabati maupun jamadi”.

Lebih jauh, filsafat membahas mengenai tabiat maujud itu sendiri (to
know the nature of everything), dan hubungan-hubungannya dengan yang
lain, apakah yang bersifat fana, maupun kekal.

17
Abd. Aziz, Filasafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan
Islam. (Yogyakarta: Teras, 2009), 14.
18
Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat., 77.
19
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1998), cet ke-2, 234.
20
Muhammad as-Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,
2011), 4.

7
Objek filsafat ada dua yaitu objek material dan objek formal, tentang
objek material ini banyak yang sama dengan objek material sains. Sains
memiliki objek material yang empiris, filsafat menyelidiki objek itu juga,
tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak.21
Lebih jelasnya, diuraikan oleh Muhammad Noor Syam sebagaimana
dikutip Muhammad as-Said, berikut:22
1. Objek material atau objek material filsafat: segala sesuatu yang ada dan
mungkin ada, baik material konkrit, phisis maupun yang non material
abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional,
spiritual dan nilai-nilai.
2. Objek forma atau objek formal filsafat: menyelidiki segala sesuatu itu
guna mengerti hakikatnya sedalam-dalamnya. Atau mengerti objek
material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara
mendalam (to know the nature of everything). Objek forma inilah sudut
pandang yang membedakan watak filsafat dengan ilmu pengetahuan.
Dengan kata lain, objek formalah yang menjadi fondasi pengetahuan
pengetahuan satu ilmu yang berdiri sendiri, yang membedakannya
dengan ilmu-ilmu lain. Filsafat berusaha mengerti hakikat sesuatu
sedalam-dalamnya.
Di atas telah dijelaskan, bahwa yang membedakan pembahasan
filsafat adalah objek formalnya. Jika objek material filsafat secara umum
adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sedangkan objek formal
fisafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal tentang objek
material.23 Maka objek formal pendidikan adalah menyelidiki pelaksanaan
pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan
komponen-komponen lain berkaitan dengan pendidikan.24

21
Ahmad Tafsir. Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James.
(Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 1990), cet. ke-1, 18-19.
22
Muhammad as-Said, Filsafat Pendidikan Islam., 4.
23
ABd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam., 17.
24
Redja Mudyaharjo, Filsafat Ilmu Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2006), 5.

8
Sementara itu Tim Dosen IKIP Malang, sebagaimana dikutip oleh
Jalaluddin dan Abdullah Idi mengelompokkan ruang lingkup mikro filsafat
pendidikan mencakup:25
1. Merumuskan secara tegas sifat hakiki pendidikan (the nature of
education)
2. Merumuskan sifat hakiki manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan
(the nature of man)
3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat , filsafat pendidikan,
agama dan kebudayaan
4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori
pendidikan
5. Merumuskan antara fisafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan
politik pendidikan (sistem pendidikan)
6. Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang
merupakan tujuan pendidikan.
Dari hal di atas, dapat diketahui bahwa objek filsafat pendidikan
berarti upaya mencari keterangan secara mendalam tentang segala hal yang
berkaitan dengan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan dapat
dicapai sebagaimana yang dicita-citakan.

E. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam


Pemikiran dan kajian tentag Filsafat Pendidikan Islam menyangkut
tiga hal pokok, yaitu penelaahan tenang fisafat, pendidikan dan tentang
Islam. Karena itu setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam
dunia Filsafat Pendidikan Islam seharusnya memahami dan memiliki modal
dasar tentang filsafat, pendidikan dan Islam.
Kajian dan pemikiran mengenai pendidikan pada dasarnya
menyangkut aspek yang sangat luas dan menyeluruh bahkan seluruh aspek
kebutuhan dan/ atau kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam.

25
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan
Pendidikan., 24-25.

9
Ketika dilakukan kajian dan dirumuskan pemikiran mengenai tujuan
pendidikan Islam, maka tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup umat
Islam. Karena tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya dalam rangka
mencapai tujuan hidup umat Islam, sehingga esensi dasar tujuan Pendidikan
Islam sebetulnya sama dengan tujuan hidup umat Islam. Menurut Ahmad D.
Marimba, sebagaimana dikutip Ahmad Syar’i mengatakan bahwa
sesungguhnya tujuan pendidikan Islam identik dengan tujuan hidup setiap
muslim.26
Sebagai contoh, firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 102, sebagai
berikut:
 
   
   
  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Ayat ini menggambarkan tentang tujuan hidup umat Islam yang harus
mencapai derajat ketakwaan, dimana ketakwaan itu harus senantiasa
melekat dalam kehidupan umat Islam hingga akhir hayatnya.
Filsafat pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan dalam
rangka mencapai tujuan hidup umat manusia. Bila tujuan hidup umat Islam
untuk mencapai derajat ketakwaan yang sempurna sebagaimana disebutkan
di atas, maka tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan filasafat pendidikan
Islam tentu pembinaan peserta didik dalam rangka menjadi manusia
mutqin.27
Pembahasan tentang ruang lingkup filsafat pendidikan Islam
sebenarnya merupakan jawaban dari pertanyaan, apa itu objek filsafat
pendidikan Islam? Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

26
Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), 8.
27
Ibid., 8.

10
Karena objek formalah yang membedakan antara satu ilmu dan ilmu
lainnya, maka pembahasan ini akan ditekankan pada objek formalnya.
Dalam konteks ini, Toto Suharto mambagi ruang lingkup filsafat pendidikan
Islam menjadi dua bagian, yaitu makro dan mikro. Yang dimaksud makro
adalah melihat Filsafat Pendidikan Islam dari sudut teoritis-filosofis,
sedangkan yang dimaksud mikro adalah melihat Filsafat Pendidikan Islam
dari segi praktis-pragmatis dalam sebuah proses pelaksanaannya.28
Secara makro, yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan Islam
adalah objek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara
radikal mengenai Tuhan, manusia dan alam, yang tidak dapat dijangkau oleh
pengetahuan biasa. Sebagaimana filsafat, filsafat pendidikan juga mengkaji
ketiga ini berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistemologi dan
aksiologi.29
Adapun secara mikro, objek kajian Filsafat Pendidikan adalah hal
yang merupakan faktor atau komponen dalam proses pelaksanaan
pendidiakan. Faktor atau komponen pendidikan ini umumnya ada lima,
yaitu tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan (kurikulum,
metode dan penilaian pendidikan), dan lingkungan pendidikan.30
Hasan Basri menjelaskan bahwa ruang lingkup pembahasan filsafat
pendidikan Islam adalah mencari hakikat-hakikat dari hal-hal yang berkaitan
dengan pendidikan diantaranya:31
a. Pendidik dan anak didik.
b. Materi pendidikan dan metode penyampaian materi.
c. Tujuan pendidikan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan.
d. Model-model pendidikan.
e. Lembaga formal dan nonformal dalam pendidikan.
f. Sistem pendidikan.

28
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), 46.
29
Ibid., 46.
30
Ibid., 48.
31
Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam. (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 15.

11
g. Evaluasi pendidikan.
h. Hasil-hasil pendidikan.
Secara eksplisit, Abudin Nata menyebutkan bahwa objek-objek kajian
Filsafat Pendidikan Islam adalah pemikiran yang serba mendalam,
mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh dan universal mengenai
konsep-konsep pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam.32
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi ruang
lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam adalah apa yang menjadi
objek kajian filsafat secara umum, tetapi jika dikerucutkan lagi yang
menjadi ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam adalah
berkaitan dengan permasalahan-permasalahan pendidikan Islam
menyangkut berbagai aspek yang ditinjau secara filosofis guna mencapai
tujuan pendidikan Islam.
Filsafat pendidikan yang membahas permasalahan pendidikan Islam
tidak berarti membatasi diri pada permasalahan yang ada di dalam ruang
lingkup kehidupan beragama umat Islam semata-mata, melainkan juga
menjangkau permasalahan yang luas yang berkaitan dengan pendidikan bagi
umat Islam. Akan tetapi semua permasalahan yang non religius itu dianalisis
secara mendalam, sehingga diperoleh hakikatnya, dari segi pandangan Islam
filsafat bertugas pokok mencari hakikat segala sesuatu.33
Selanjutnya, setelah mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan
Islam, sebagaimana di sebutkan di atas. Pertanyaaan yang timbul adalah
bagaimana merumuskan ruang lingkup tersebut agar dapat dijadikan sebuah
ide/ gagasan-gagasan baru yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan
Islam sebagaimana yang diharapkan oleh pendidikan Islam itu sendiri.
Berangkat dari konsep kajian filsafat di atas, maka dalam memikirkan
objek kajiannya, yaitu hal-hal yang ada maupun mungkin ada, dalam hal ini
seluruh aspek/ komponen pendidikan dilakukan dalam kerangka berpikir
ontologis, epistemologis dan aksiologis (cabang filsafat).

32
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos, 1997), 16.
33
Muzayyin Arifin, 9.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengertian Filsafat, dapat dipahami bahwa berfilsafat adalah berpikir
tentang segala sesuatu yang ada secara universal, radikal, rasional untuk
mendapatkan kebenaran hakiki.
Konsep Kajian Filsafat, laksana anatomi sebuah pohon: ada akar,
batang, cabang, ranting, daun dan buah. Akar menandakan pijakan awal
seseorang berfilsafat, batang menendakan sebagai penopang dalam
berfilsafat, ranting/ cabang menandakan sebagai pembahasan pokok dalam
berfilsafat kemudian dalam ranting ini ada sub-sub pokok bahasan lagi,
itulah daunnya dan buah sebagai simbol dari tujuan berfilsafat/ hasil
berfilsafat (kebenaran yang sesungguhnya).
Objek Filsafat, terbagi menjadi dua yaitu objek material dan objek
formal. Adapun Filsafat Pendidikan Islam, bararti pemikiran secara
mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari
kebenaran, inti arau hakikat pendidikan Islam.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam, dibagi menjadi dua yaitu
ruang lingkup secara makro dan mikro. Secara makro berarti sama dengan
ruang lingkup filsafat secara umum, sedangkan ruang lingkup secara mikro
berarti pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu,
logis, menyeluruh dan universal mengenai konsep-konsep pendidikan yang
didasarkan pada ajaran Islam.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, tentu masih jauh dari kata sempurna
dalam berbagai hal masih terdapat kekurangan baik dari segi penulisan,
pemaparan konsep maupun penjelasannya. Oleh karena itu, penulis berharap

13
adanya kritik dan saran yang merekonstruk dari pembaca sangat penulis
harapkan guna memperoleh kesempurnaan pada penulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA

An-Najihi, Muhammad, Falsafah at- Tarbiyah, Kairo: Muthobi’ al-Kailani,


tt.
Anshari, Endang Saifudin, Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya: PT. Bina
Ilmu, 1983. cet. Ke-4.
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bina Aksara, 1987.
Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005.
As-Said, Muhammad, Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Mitra
Pustaka, 2011.
Aziz, Abd., Filasafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun
Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras, 2009.
Basri, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Esha, Muhammad In’am, Menuju Pemikiran Filsafat. Malang: UIN-Maliki
Press, 2016.
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.
Mudyaharjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006.
Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat
Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: Sipress, 1993. cet. I.
Nata Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1997.
Poedjawijatna, I. R, , Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Djakarta:
Pembangunan, 1974.
Salmiawati, Filsafat pendidikan Islam. Bandung: Citapustaka Media
Perintis, 2012.
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1998. Cet ke-2.
Syar’i, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epitemologi dan
Aksiologi pengetahuan. Bandung: PT Rosdakarya, 2010.
_____________, Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai
James. Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 1990.
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2006.
Zubaedi, Isu-Isu Baru dalam Diskursus Filsafat Pendidikan Islam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

14