Anda di halaman 1dari 53

1.

Bahasa gaul merupakan bahasa Indonesia juga

Semarang (ANTARA News) - Bahasa gaul anak remaja Jakarta bisa memperkaya bahasa
Indonesia, yang terbuka menerima unsur-unsur dari luar, sehingga keberadaannya tidak perlu
dipertentangkan dengan bahasa Indonesia baku.

Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri
Semarang (Unnes), Suseno, Jumat, mengatakan, di luar Jakarta, ragam bahasa anak baru gede
(ABG) ini pun banyak digunakan remaja perkotaan.

Di Semarang, misalnya, bahasa remaja gaya remaja Jakarta banyak digunakan untuk
berkomunikasi, terutama di sekolah-sekolah favorit.

Fenomena ini disebabkan anak-anak di perkotaan memiliki akses lebih luas pada televisi. Di
samping itu, di perkotaan juga terdapat kafe, mal, dan pasar swalayan, yang komunitasnya
biasa menggunakan ragam bahasa ABG Jakarta.

Menurut dia, bahasa ABG yang cenderung tidak formal atau tidak baku menurut kaidah Pusat
Bahasa, masih menimbulkan kontroversi, termasuk di kalangan pendidik ketika hendak
diperkenalkannya di dalam kelas.

"Masih banyak guru yang berpendapat bahwa bahasa ABG tidak beraturan dan tidak
menunjukkan citra bahasa Indonesia yang baik dan benar," katanya.

Oleh karena itu para guru di Indonesia tidak memperkenalkan bahasa ini di dalam kelas.

Walaupun ranah bahasa ini tidak diperkenalkan di dalam kelas secara formal, para ABG
dengan mudah memahaminya karena bahasa ini merupakan bahasa sehari-hari mereka.
Mereka bisa mempelajari dari acara televisi yang lebih banyak bernuansa ABG.

Karena bahasa ABG tidak dimasukkan ke dalam kurikulum, menurut dia, guru bisa
memperkenalkan ranah ini secara proporsional sesuai dengan alokasi waktu dan minat para
siswa, katanya.

"Yang perlu disampaikan kepada siswa adalah, bahasa ABG sangat mudah untuk dipelajari
karena struktur morfologi dan kalimatnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan bahasa
Indonesia baku," katanya.

Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes, Tommi Yuniawan mengatakan, bahasa Indonesia
yang digunakan ABG saat ini merupakan ragam bahasa gaul yang santai.

"Bahasa gaul ini merupakan bahasa sehari-hari penduduk Jakarta yang sangat kosmopolitan,"
katanya.

Mengutip ahli bahasa Jus Badudu, ia mengatakan, ragam tersebut oleh banyak kalangan
disebut ragam santai dialek Jakarta. Gaya bahasa ABG itu juga banyak digunakan siswa
SLTP, SMU, dan perguruan tinggi di luar Jakarta.(*)
2. Fenomena Bahasa Gaul di Sekitar Bahasa Indonesia

Sekarang ini terutama para pemuda lebih senang menggunakan bahasa gaul dibanding
dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahkan karena terlalu sering menggunakan
bahasa gaul, mereka lupa akan tata cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak
kita lihat sinetron-sinetron di televisi juga mencontohkan bahasa gaul di kalangan muda
mudi.

“Padahal seharusnya siapa saja yang berkomitmen dengan sumpah pemuda harus menjunjung
tinggi penggunaan Bahasa Indonesia yang baku sebagai bahasa persatuan,” kata pengamat
bahasa dan sastra Indonesia Jamal D Rahman di Yogyakarta, Kamis (15/10).

Menurutnya, generasi muda hendaknya mencontoh tokoh Muhammad Yamin. Dia adalah
cermin anak muda yang memiliki keyakinan penuh kedudukan bahasa dalam kebudayaan,
dan bahasa itu adalah Bahasa Indonesia.

Kita semua tidak terlepas dari pergaulan yang memperkenalkan kita pada bahasa gaul.
Pernahkah kita bertanya dari mana asal bahasa gaul? Bahasa gaul yang sering kita pakai tidak
sedikit yang berasal dari bahasa Betawi. Sebut saja : Gue (aku), doang (hanya). Itu
merupakan salah satu contoh bahasa gaul.

Ada juga bahasa gaul yang menyerap bahasa asing seperti : what’s up, bye-bye, OK.
Bahasa gaul juga ada yang mengambil kata-kata dari bahasa iklan. Contohnya : siapa takut,
gue banget.
Meskipun tidak banyak orang yang mengerti maksudnya, tapi mereka tetap saja ikut-ikutan
dan mengucapkan kata itu berulang-ulang.

Memang seiring dengan berjalannya zaman, kita semakin terbawa arus globalisasi dan
perkembangan bahasa gaul pun semakin pesat. Saat ini bahasa gaul sudah dianggap sangat
lumrah. Dulu sebelum maraknya teknologi email dan sms, orang lebih senang menulis yaitu
dengan surat. Sebenarnya dengan surat orang dapat lebih menggali kreatifitas untuk menulis.
Namun kini dapat kita lihat, kantor pos-kantor pos terlihat sepi. Orang lebih senang dengan
berkirim sms ataupun email yang tidak ada aturan untuk menulisnya. Jika para generasi muda
lupa akan bahasa persatuan lalu siapa yang akan melestarikan Bahasa Indonesia? Yang dapat
menyelesaikan semua masalah ini hanyalah kita. Boleh-boleh saja menggunakan bahasa gaul,
tetapi kita juga harus mengerti dahulu tentang bahasa Indonesia. Tidak perlu takut dibilang
tidak gaul atau kuper karena pasti ada kepuasan tersendiri bagi kita yang berhasil
melestarikan indahnya bahasa Indonesia. Karena kita generasi penerus dan juga Bangsa
Indonesia, maka cintailah bahasa Indonesia.

Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/15/100435/90/14/Bahasa-Gaul-Tantangan-
Berat-Pengembangan-Bahasa-Indonesia-

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_gaul_Indonesia

http://matanews.com/2009/10/16/bahasa-gaul-ancam-bahasa-indonesia/
http://www.um-pwr.ac.id/web/artikel/390-bahasa-indonesia-antara-variasi-dan-
penggunaan.html

http://www.fupei.com/IDForum-viewthread-tid-2431.html

3.Fenomena Bahasa Gaul


OPINI | 10 January 2011 | 11:03 310 0 Nihil

Bagaimanakah bahasa Indonesia di mata siswa? Bahasa Indonesia - maksudnya pelajaran


bahasa Indonesia - merupakan ilmu yang sangat sulit untuk dipelajari menurut mereka. Tidak
heran kalau untuk mendapatkan nilai sempurna dalam ujian nasional yaitu nilai 10 sangat
sulit bagi mereka. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, yang hampir setiap
hari dipakai, yang selalu digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar
di sekolah, yang selalu dipakai oleh siswa saat berkomunikasi dengan guru mereka, harusnya
sudah menyatu dengan mereka. Tapi mengapa banyak siswa mengeluh kalau pelajaran
bahasa Indonesia itu sangat sulit. Keluhan mereka bukan tanpa alasan, karena bahasa adalah
ilmu tidak pasti, diperlukan insting, penalaran, dan pemahaman untuk mempelajarinya.

Kaitannya dengan soal ujian nasional, mereka mengeluh karena terlalu banyak bacaan dan
bacaannya pun tidak pendek. Berdasarkan alasan tersebut, terjawab sudah mengapa siswa
merasa kesulitan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Semakin menurunnya minat baca siswa
yang menyebabkan mereka kesulitan untuk memahami bacaan. Mereka lebih suka
menghabiskan waktu luangnya di depan televisi daripada harus berhadapan dengan buku.
Untuk memperoleh informasi, mereka lebih suka mendengar daripada membaca.

Selain berkurangnya atau bahkan tidak adanya minat baca, ternyata perkembangan teknologi
yang semakin canggih juga berpengaruh terhadap kesulitan siswa dalam pelajaran bahasa
Indonesia. Gaya hidup manusia sekarang serba digital, untuk mencari informasi tentang apa
saja tanpa terikat ruang dan waktu, mereka bisa mengakses internet. Nah minat baca siswa
sekarang hanya pada internet, dan kalau kita lihat bahasa pada blog-blog di internet sebagian
besar menggunakan bahasa sehari-hari. Itulah sebabnya mengapa mereka mau membacanya,
karena menggunakan bahasa sehari-hari, maka mereka dapat dengan mudah memahaminya
dan tidak membosankan. Belum lagi bahasa SMS yang mereka gunakan saat ini sangat kacau
balau, termasuk dari segi penulisannya, bahasa gaul kata mereka. Bahasa SMS yang gaul itu
membuat mereka tidak peka terhadap bahasa dan cenderung membuat mereka berlaku kurang
sopan saat berbahasa lisan atau tulis, terutama dengan orang yang lebih tua. Berdasarkan
poling yang pernah dilakukan oleh salah satu surat kabar di Yogyakarta terhadap siswa
SMA/SMK, bahwa mereka lebih suka membaca teks bacaan yang menggunakan bahasa
sehari-hari karena tidak membosankan daripada teks bacaan yang menggunakan bahasa
teknis/baku atau bilingual.

Siswa sudah terbiasa dengan bahasa sehari-hari atau bahasa gaul, sehingga ketika mereka
dihadapkan dengan bahasa teknis atau bahasa baku, mereka akan mengalami kesulitan. Oleh
karena itu, marilah kita tingkatkan minat baca siswa. Tanamkan kebiasaan membaca kepada
siswa sedini mungkin. Selain itu, kita biasakan juga menulis dengan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar serta mudah dipahami dan tidak membosankan dalam setiap
kesempatan. Dalam berkomunikasi lisan, gunakan bahasa sesuai dengan tempat, sasaran, dan
situasi komunikasi. Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai pemersatu. Pemakaian bahasa
baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa.
Seseorang dapat dikatakan sebagai bangsa Indonesia, antara lain ditandai oleh
kemampuannya dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

4. Bahasa SMS

Diposkan oleh IBOEKOE pada 24 Sep 2009 | View Comments

Oleh Irfan Budiman

Telepon seluler saya berbunyi. Sebaris pesan pendek masuk. Isi pesan itu: ”Posi2 dmn boz?”

Dengan lahirnya era Internet, telepon seluler, dan chat (berbincang melalui Internet), lahir
pula lalu lintas pesan singkat, dengan bahasa yang tidak lazim, bahkan cenderung
”memberontak” dari tata bahasa Indonesia. Namun pesan dari teman kerja yang memang
usianya jauh di bawah saya ini cukup membingungkan. Sedang bertanya soal apakah dia?
”Posi2” (dalam pola umum begitu kan dibaca ”posi-posi”), siapakah dia? Apakah ini nama
binatang peliharaan?

Setelah lama kebingungan, akhirnya saya paham. ”Posi2” yang dimaksud ternyata posisi atau
lokasi. ”Ktr. watzup bro?” balas saya mencoba menandingi gayanya.

SMS atau short message service adalah media mutakhir yang ikut mempengaruhi bahasa di
masyarakat kita. Sebelumnya, pada 1980-an, radio komunikasi meramaikan istilah baru
dalam perbincangan. Farid Hardja, penyanyi kondang, saat itu membuat lagu Bercinta di
Udara yang memakai idiom percakapan radio komunikasi ini.

Pengaruhnya luar biasa. Sampai sekarang, satu-dua kata yang berasal dari kebiasaan ngebrik
itu masih ngendon. Di antaranya ”kopdar” alias kopi darat buat menyebutkan istilah untuk
bertemu secara fisik. Sisa istilah yang masih populer, setidaknya dari pria usia 40-an tahun,
antara lain ”YL” yang diucapkan ”wai el” yang berarti young lady, untuk menyebutkan
wanita muda.

Pada akhir 1990-an, awal era chatting dan electronic mail, lagi-lagi muncul berbagai istilah
yang tanpa disadari ikut masuk perbincangan sehari-hari. Kata ”japri” alias jalur pribadi,
yang berarti komunikasi khusus antara si pengirim dan penerima e-mail, menclok dalam
perbincangan sehari-hari.

Dengan pentingnya peran SMS sebagai alat pengirim pesan tercepat, berbagai istilah
komunikasi yang baru ikut lahir dan populer.

Pemakaian singkatan serta penggunaan lambang-lambang perasaan atau emoticons


bercampur aduk dengan bebas.
Ini bisa dimaklumi. Pesan pendek adalah layanan yang melekat pada telepon seluler. Pada
awal kelahirannya, dengan kapasitas yang terbatas, pengatur kebijakan harus menetapkan
jumlah karakter yang resmi dalam layanan ini.

Adalah Friedhelm Hillebrand, yang pada 1986 duduk menjadi ketua layanan non-voice dalam
jaringan Global System for Mobile Communications (GSM). Dialah yang menetapkan
jumlah karakter untuk tiap pesan pendek, yaitu 160 karakter. Jumlah ini mengacu ke
maksimal huruf dan spasi pada dua baris kata yang ditulis di mesin ketik. Penemuan
Hillebrand itulah yang disepakati sebagai jumlah karakter dalam telepon seluler hingga
sekarang. Temuan ini pun dikenal sebagai magic number.

Keputusan itulah yang mempengaruhi bahasa dalam pesan pendek di seluruh dunia. Namanya
juga pesan pendek. Apalagi karena ada tarif untuk setiap pengirimannya. Alhasil, kreativitas
pun sangat dibutuhkan. Sebab, untuk berkomunikasi tertulis, Anda dibatasi tarif.

Apa yang terjadi di sini sebenarnya hanyalah ekor dari perkembangan serupa yang terjadi di
luar negeri. Di negara-negara berbahasa Inggris, bahasa SMS pun mengalami perkembangan
yang tidak pernah dibayangkan.

Kata-kata ”FYI” dan ”IMHO” hanyalah sedikit dari kumpulan kata baru. Selain itu, masih
banyak, misalnya ”M$ULkeCrZ” (miss you like crazy!), ”M8” (mate), ”CMIIW”, untuk
menggantikan ”correct me if I’m wrong”, dan ”JstCllMe”, untuk kalimat ”just call me” yang
berarti seseorang minta ditelepon.

Bahasa pesan pendek di Indonesia tak hanya menggunakan singkatan dari bahasa asing, tapi
juga dari bahasa sehari-hari, yang hanya dipahami mereka yang menggunakannya.
Penggunaan bahasa SMS di Indonesia tak memiliki pola yang jelas. Terkadang ada yang
mengganti huruf dengan angka. Ada pula yang gemar menggabungkan huruf dalam ejaan
bahasa Inggris untuk menggantikan bahasa Indonesia.

Ini contohnya: ”4” untuk ”a”, ”5” untuk ”s” , ”0” untuk ”o”, dan seterusnya. Itu sebabnya
huruf vokal pun banyak yang hilang entah ke mana. Lainnya, muncul pula kombinasi huruf
dan angka: ”s4” untuk kata ”sempat” atau ”t4” untuk kata ”tempat”. Ada juga ”c2” yang
diucapkan sesuai dengan ejaan bahasa Inggris. Artinya? ”Situ”. Lihat kalimat kreatif ini: ”ok
g k c2”, yang berarti ”oke gue ke situ”.

Itu belum seberapa. Ada lagi kata-kata yang lazim di kalangan mereka, seperti sotoy untuk
”sok tahu” yang kemudian ditulis ”sty”; lalu pw untuk ”posisi wuenak”. Bingung?

”k0q gt az bngng?” Seorang remaja perempuan mengirimkan pesan pendek ke ponsel saya
(maksudnya: ”kok gitu saja bingung?”). Bagi mereka, bahasa jenis ini bagian dari identitas
mereka: bahasa gaul. Gaya bahasa ini juga muncul dalam catatan harian, entah di buku, blog,
atau situs jaringan pertemanan.

Barangkali benar juga, kita tak perlu bingung, apalagi ketakutan. Anggap saja ini hanya tren
yang akan hilang. Di masa lalu, pesan pendek dilakukan melalui telegram, dan kita juga
selalu berulang-ulang membacanya agar bisa memahaminya.
Mungkin saja seperti telegram yang kemudian hilang, gaya bahasa pesan pendek ini bisa
mengalami hal serupa. Yang jelas, sampai saat ini mereka masih menjawab pertanyaan di
kertas ulangan sekolah atau kampus dengan kalimat yang jelas, dan bisa dipahami.

(Irfan Budiman, Wartawan)

* Dinukil dari Majalah TEMPO Edisi 14-20 September 2009 dengan judul asli: “SMS”.
KODE KRONIK IBOEKOE (B Lok 2009 IBTEM)

5. sms dan bahasa gaul yang merusak tata bahasa

Maraknya pemakaian jalur komunikasi yang murah, efisien, dan murah, juga dapat
melahirkan dampak yang negatif dalam penggunaan tata bahasa. Pemakaian singkatan di
dalam menggunakan sms kerap kali membuat masyarakat menjadi terbawa arus di dalam
menuliskan kata-kata baku, sepeti menulis surat, cacatan dan sebagainya.

Terkadang pemakaian kata yang tak baku di dalam memanfaatkan layanan sms sering kali
menimbulkan keraguan atau makna ganda bagi si penerima, tak heran pesan yang kita kirim
lewat sms bisa menghasilkan arti yang berbeda dari yang kita maksutkan, mungkin bagi
mereka yang mengerti mungkin dengan mudah ia dapat mengartikannya, tapi bagi mereka
yang baru pertamakali melihat singkatan seperti ini mungkin ia akan akan bertanya-tanya apa
maksut yang hendak di sampaikan oleh si pengirim.

Contohnya saja adalah :


KTG KMU DI SKLH
PD TGL 120307 SSDH
ISTHT JAM 11.00

Bagi si penulis mungkin dengan mudah ia dapat mengartikan yaitu, ” Kutungu kamu di
sekolah pada tanggal 12-03-2007 sesudah istirahat jam 11.00.” Tapi bagi mereka yang tidak
mengerti mungkin ia akan kesulitan dalam mengartikannya atau dari singkatan-singkatan di
atas akan lahir arti yang berbeda-beda.
Dampak dari pemakaian singkatan pada sms adalah, banyak orang yang menulis surat dan
sebagainya menggunakan singkatan yang tak baku. Contohnya mempergunakan singkatan
kata “yang” menjadi “yg” dan terkadang di dalam instansi pemerintahan juga masih di
temukan pemakaian singkatan yang tak baku, kecuali Telegram. Karena pada pemakaian
telegram kita di haruskan untuk membuat kata sesingkat-singkatnya, hal ini di karenakan
setiap huruf di kenakan biaya. Seiring waktu berlalu sangat jarang sekali orang yang mau
mempergunakan telegram, karena pemakaian layanan sms selain efisien, murah, dan cepat.

Pemakaian singkatan yang tak baku di dunia jurnalistik adalah sesuatu kesalahan yang fatal,
karena singkatan-singkatan tersebut tidak sesuai dengan KBBI dan EYD yang berlaku saat
ini. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah menjamurnya buku-buku yang berlabel buku
bahasa gaul, hal ini adalah sebuah bukti yang sangat nyata bahwa penggunan ejaan bahasa
indonesia pada saat ini telah melenceng dari kaidah-kaidah yang berlaku pada saat ini.

6. SINETRON MENGANCAM
BAHASA INDONESIA
19/11/2009 in Uncategorized

Sinetron disinyalir mengancam bahasa Indonesia. Nampaknya memang begitu. Bahasa – bahasa
prokem begitu cepat populer ketimbang bahasa Indonesia yang baku. Lambat laun bahasa baku akan
hilang dan digantikan oleh bahasa prokem. Sebagaimana bahasa daerah yang tidak berkembang
atau malah punah Karena penggunaan bahasa lain yang lebih dominan.
Selain dari tercampurnya bahasa yang baku, ternyata sinetron memiliki dampak social yang lebih
dahsyat.
Suatu saat saya masuk ke kamar kecil sekolah. Di luar kamar kecil itu terdapat kran – kran tempat
anak – anak mengambil wudhu untuk shalat. Saat itu musim hujan. Dan seperti keadaan di desa
lainnya, musim hujan selalu membuat tanah lempung menjadi becek dan menempel di sepatu anak
–anak. Agar tidak mengotori kelas, anak –anak itu akan mencuci sepatu mereka di kran sebelum
masuk ke kelas.
Saya yang di dalam kamar kecil tidak diketahui oleh dua orang siswi yang tengah bercakap – cakap:
“Lagi ngapain gitu lhoh?”
Dijawab oleh temannya: “Sedang nyuci sepatu gitu lhoh”
“Kenapa dicuci gitu lhoh?”
“Kena jeblok gitu lhoh”
Saya tersenyum dalam hati. Saat itu kata gitu lhoh memang lagi musim. Semua orang berkata
dengan menambahkan kata itu. Siswi saya yang di desa juga terpengaruh.
Sangat lucu. Siswi saya yang terbiasa berkata dengan bahasa Jawa lalu menggunakan bahasa
Indonesia yang gaul. Namun sayang, kebiasaan menggunakan bahasa Jawa tidak bisa begitu saja
dihilangkan. Maka ketika seharusnya ia mengatakan “lumpur” ia mengatakan “jeblok”. “Jeblok”
adalah bahasa lokal untuk kata “lumpur”.
Ya, kita memang perlu waspada dengan bahaya sinetron dalam merusak bahasa Indonesia. Tapi
pengaruhnya dalam merusak moral yang sesuai dengan nilai –nilai lokal perlu lebih kita waspadai.
Dulu sinetron – sinetron kita begitu sarat dengan pesan – pesan moral. Mengapa sekarang begini
rusak?

7. Bahasa Nasional Indonesia Dirusak Sinetron

Benarkah yang tertera di artikel ini?


apakah kita juga menyumbah kehancuran bahasa Indonesia?
bukankah bahasa itu yang dinamis?
apa sih efek berbahasa
mari kita bahas...

thanks bro/sis DF, i love u full

Bahasa Nasional Indonesia Dirusak Sinetron


Bagus Kurniawan - detikNews
Yogyakarta - Bahasa yang diucapkan oleh artis-artis sinetron dilayar kaca merusak bahasa
nasional Indonesia. Sebab banyak kata yang diucapkan bercampur dengan bahasa asing
terutama Inggris.

Hal itu diungkapkan dua mahasiswa Univeristas Gadjah Mada (UGM), Dhinar Arga Dumadi
dan Analisa Widyaningrum kepada wartawan di kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta,
Jumat (12/12/2008).

Dua mahasiswa jurusan Sastra Perancis angkatan 2008 dan Psikologi angkatan 2007 berhasil
meraih juara pertama sebagai Duta Bahasa Indonesia tingkas Nasional 2008 yang diikuti
wakil generasi muda berusia antara 18-25 tahun itu.

"Salah satu contohnya adalah bahasa yang diucapkan oleh artis Cinta Laura," kata
Widyaningrum

Menurut Widya, gaya dan ucapan berbahasa Cinta Laura itu sudah salah. Namun justru
banyak masyarakat yang senang dan kemudian menirukannya. Selain bahasa yang campur-
campur, ada banyak ungkapan bahasa atau cara tutur kata yang seharusnya tidak ditayangkan
dalam acara tersebut.
"Ucapan yang patah-patah dan sengau itu justru banyak orang yang senang kemudian meniru,
tapi itu salah dan dapat merusak bahasa kita," ungkap Widya.

Widya dan Dhinar berhasil mengalahkan 25 peserta lain yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia. Dalam lomba yang digelar 20-27 Oktober itu, keduanya harus melalui berbagai
tahapan ujian seperti kemampuan bahasa Indonesia, bahasa asing dan daerah. Mereka juga
harus membuatan makalah serta penyajiannya di hadapan dewan juri dari Pusat Bahasa.

Widya menyampaikan makalah judul, 'Bahasa Sinetron Sebagai Pemicu Rusaknya Jati Diri
Bangsa.' Dalam makalahnya itu mereka menyoroti dampak dari penggunaan bahasa
Indonesia terhadap perilaku/kesopanan dan psikologis bagi masyarakat dan anak pada
khususnya.

"Bahasa sinetron kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya masyarakat
banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau kepingin dikatakan
modern," katanya.

Selain itu, ungkapan-ungkapan bahasa dalam sinetron itu banyak pula yang dipraktekkan di
masyarakat. Padahal banyak ungkapan-ungkapan bahasa yang cendrung kasar dalam
tayangan itu. Efek yang paling parah banyak anak kecil yang menirukannya setelah melihat
tayangan itu.

"Hal ini secara psikologis menyebabkan efek negatif bagi anak karena bahasanya yang kasar
dan tidak sopan," imbuh Dhinar.

(bgs/djo)

8.Diskusi bahasa LPDS: Singkatan


dan akronim
22 Juli 2010 oleh Ivan Lanin 6 Komentar

Pada hari Rabu, 21 Juli 2010, Lembaga Pers Dr. Sutomo (LPDS) telah mengadakan diskusi
bahasa Indonesia bertopik “Bahasa Jurnalistik: Menghindari Perkembangan Akronim dan
Singkatan” di Gedung Dewan Pers Lt. 3, Jl. Kebonsirih 34, Jakarta. Diskusi ini merupakan
bagian dari seri lokakarya media massa yang berlangsung tiga hari (21–23 Juli 2010) dalam
rangka menyambut HUT ke-22 LPDS. Tiga narasumber hadir pada acara yang dimoderatori
oleh Rita Sri Hastuti tersebut: (1) Anton Moeliono, pakar bahasa Indonesia; (2) Uu Suhardi,
redaktur bahasa Tempo; (3) Mauluddin Anwar, Produser Eksekutif Liputan 6 SCTV,
mewakili Pemrednya, Don Bosco Salamun. Acara dimulai pada sekitar pukul 14.00 dan
dihadiri oleh kurang lebih 60 orang peserta dari kalangan wartawan maupun masyarakat
umum pencinta bahasa Indonesia.

Pembicara pertama, Anton Moeliono, memberikan latar belakang kondisi bahasa di


Indonesia. Cukup banyak hal yang disampaikan oleh beliau dan agak sulit untuk saya
merangkai semua itu menjadi satu paragraf yang padu. Karenanya, berikut butir-butirnya.
 Bahasa adalah cerminan budaya suatu bangsa dan perubahan bahasa bisa dikatakan
mencerminkan perubahan budaya bangsa tersebut.
 Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia masih rendah (sekitar
18%) dan sisanya masih memilih menggunakan, atau memang hanya menguasai, bahasa ibu
(bahasa daerah). Sementara itu, tingkat keniraksaraan (illiteracy) di Indonesia juga masih
cukup tinggi, yaitu sekitar 13%.
 Bangsa Indonesia jauh lebih heterogen jika dibandingkan dengan, misalnya, Jepang,
sehingga perlakuan terhadap bahasanya pun lebih sulit.
 Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern membawa berbagai hal konkret maupun
abstrak baru yang memerlukan nama dan istilah untuk memerikannya.
 Penggunaan bahasa, khususnya untuk membuat istilah, harus bernalar dan kemampuan
penalaran ini antara lain ditentukan oleh tingkat pendidikan pengguna bahasa.
 Kosakata bahasa Indonesia secara umum bersuku kata lebih banyak daripada bahasa Inggris
sehingga singkatan dan akronim kadang dibutuhkan untuk membuat istilah yang lebih
ringkas.
 Untuk dapat dipahami khalayak, singkatan dan akronim perlu dibakukan agar seragam dan
dapat menjadi tolok ukur berdasarkan kesepakatan pihak yang berkepentingan.
 Wartawan berfungsi sebagai pencerdas bangsa dan dapat menjadi pihak yang
berkepentingan dengan pembakuan akronim.

Pembicara kedua, Uu Suhardi, menjabarkan bahwa akronim dibuat antara lain untuk
meringkas istilah atau nama, main-main, atau sebagai sandi agar tidak mudah dimengerti
orang luar. Menurutnya, akronim marak muncul di media massa antara lain karena
penulisnya malas, tidak (berusaha) mengetahui bentuk panjangnya, atau memang untuk
membuat tulisan menjadi lebih ringkas. Tempo menganut kebijakan untuk menolak akronim
dan, sebaliknya, berusaha membenahi tata bahasa untuk meringkas tulisan. Akronim
cenderung membuat bingung, atau bahkan mengecoh atau menipu pembaca, misalnya judul
makalahnya sendiri, “Sinonim”, yang merupakan akronim dari “Silakan Menolak Akronim”.

Pembicara terakhir, Mauluddin Anwar, berpendapat bahwa akronim muncul karena budaya
ingin serba gampang dan instan. Para petinggi negara pun punya andil dalam munculnya
akronim, misalnya presiden pertama kita, Soekarno, yang menciptakan Ganefo, berdikari, dll.
Presiden kita saat ini bahkan dikenal dengan singkatan namanya: Pak SBY. Liputan 6 hanya
menggunakan akronim yang sudah lazim dan mudah didengar atau diucapkan.

Menurut saya, pembentukan singkatan atau akronim adalah suatu hal yang wajar dan tak
terelakkan. Berbagai rujukan linguistik mengakui bahwa pemendekan adalah salah satu jenis
proses morfemis yang cukup produktif dalam pembentukan kata. Yang perlu kita lakukan
adalah (1) membakukan pola pemendekan yang berterima dalam bahasa Indonesia dan (2)
membuat sistem yang memungkinkan berbagai pihak yang berkepentingan untuk
menyepakati singkatan atau akronim serta mendokumentasikan (dan mengumumkan) hasil
kesepakatan itu agar dapat dipakai sebagai rujukan. Hal yang pertama harus dilakukan oleh
lembaga bahasa yang memiliki otoritas (Pusat Bahasa?), sedangkan hal yang kedua sudah
mulai dilakukan Kateglo.

Selain tambahan wawasan dari para narasumber, ada hal lain yang membuat hati saya
berbunga-bunga sepulang dari acara ini. Akhirnya saya bisa mendapat dua buku klasik tata
bahasa Indonesia, yaitu dua jilid Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia karya Sutan Takdir
Alisjahbana (1949), dan Tatabahasa Indonesia karya Gorys Keraf (1970). Terima kasih saya
ucapkan untuk Pak Zul dari milis Guyub Bahasa yang sudah bersedia berbagi buku-buku
langka ini.
"Bahasa Jurnalistik: Menghindari Perkembangan Akronim dan Singkatan"

SESI PRESENTASI

Anton M. Moeliono (Pembicara):

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Salam sejahtera. Titik. “Salam sejahtera” jangan dikatakan “untuk kita semua.” Sebab, “salam
sejahtera” itu untuk orang lain, bukan kepada diri kita. Ini kesalahan. Bagaimana kita mau
menyalami diri kita sendiri? Ini bukan kritik terhadap pendahulu saya, tapi marilah kita beri teladan
bagaimana kita memakai bahasa dengan bernalar. Bernalar itu ciri khas manusia jika dibandingkan
secara biologis dengan hewan. Hewan tidak bernalar.

Manusia yang istimewa adalah wartawan, insan pers. Mengapa saya sebut manusia istimewa?
Karena pengaruhnya luar biasa terhadap perkembangan dan pemakaian bahasa.

Pokok singkatan atau akronim sangat teknis, dan itu akan diuraikan nanti secara mendalam. Saya
ingin lebih ke umum, agar kita memahami mengapa singkatan atau akronim di Indonesia membanjiri
kosa kata bahasa Indonesia.

Kita tahu—dan itu saya kemukakan di dalam ringkasan ceramah saya—bahwa bahasa merupakan
ungkapan dan cerminan kehidupan budaya dalam arti yang luas. Dapat juga dikatakan bahwa
perubahan bahasa mencerminkan perubahan budaya dalam berbagai segi. Bahasa memberikan
gambaran orang yang memakai bahasa itu. Karena orang Indonesia tidak terlalu mementingkan
ketepatan waktu maka ada ungkapan “jam karet.” Bagi kita jangka waktu itu tidak linier. Time is
money tidak berlaku. Kita ini bangsa petani, bangsa agraria, berfilsafat dan mengambil kesimpulan:
waktu itu ada di musim hujan, musim

kemarau. Oleh karena kita bersikap budaya bahwa waktu tidak penting menjadi masa lampau, masa
kini, dan masa akan datang, maka kita tidak mengenal tenses. Bagi kita, apakah makan itu kemarin
atau besok, tetap makan. Itu bukan berarti saya tidak bisa membedakan makan kemarin dan makan
yang akan datang tetapi tidak perlu diungkapkan secara bahasa perbedaan makan kemarin dan
makan besok. Berbeda dengan bahasa inggris: I eat; I have eaten; I will eat. Itu contoh bagaimana
bahasa merupakan cerminan atau gambaran dari budaya.

Saya usulkan agar kita selanjutnya berbicara tentang budaya, sedangkan kebudayaan adalah
abstraksi, sebagaimana kita berbicara tentang bangsa dan abstraksinya “kebangsaan,” sebagaimana
kita berbicara tentang masyarakat dan kemasyarakatan. Ini saja sudah menjadi contoh yang baik
bagaimana wartawan atau media dapat mendidik, ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Mengapa diperlukan pencerdasan masyarakat?

Jika kita menaruh kepedulian terhadap bangsa kita, kita amat prihatin melihat bagaimana bangsa
Indonesia—walaupun ada reformasi, walaupun ada Presiden SBY, walaupun ada Anies Baswedan—
kita majunya tertatih-tatih. Sedangkan jika kita lihat bangsa yang serumpun atau sebenua, ambil
Malaysia, Singapura, Korea Selatan, maka ada sebabnya mengapa kita ini tidak maju-maju. Itu
disebabkan oleh tidak berkembangnya, tidak bertambah cerdasnya SDM (sumber daya manusia).

Mungkin hal ini perlu dikemukakan dalam karangan-karangan Anda bahwa mutu SDM Indonesia
sangat menyedihkan. Ada keniraksaraan yang sekarang masih disebut kebutahurufan—sebenarnya
tidak buta terhadap huruf tapi tidak mengenal atau tidak punya aksara. Kelebihan niraksara itu ialah
bahwa orang yang niraksara disebut niraksarawan. Orang yang buta huruf mau disebut apa?
Butahurufwan atau pembutahuruf? Di dalam pemakaian bahasa hendaknya kita ikuti suatu sistem
yang teratur. Kita tidak sadar bahwa bahasa makin teratur makin mudah dipelajari. Jadi, tidak
menguntungkan jika kita masih percaya pada mitos bahwa awalan “ter” misalnya mempunyai arti
“sudah”, “terkena”, “tidak sengaja”, dan sebagainya. Bagaimana orang dapat mempelajari bahasa
Indonesia jika awalan “ter” ada contoh “sampai tertolak”. Kalau nanti peserta di sini ada yang pergi
ke Bandung dan sampai di Bandung mengatakan “saya kemarin terbandung pukul 10,” tentu itu
sudah tidak dapat diterapkan.

Saya sebenarnya ingin menempatkan akronim sebagai akibat dari sikap bahasa, khususnya sikap
bahasa Indonesia. Sebentar lagi perlu ada catatan latar belakang SDM Indonesia. Dalam Sensus
Penduduk 1990, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa sehari-hari hanya oleh 15 persen
penduduk—itu didapat sebagai angka BPS (Badan Pusat Statistik). Dua puluh tahun kemudian
diperkirakan hanya 18 persen bangsa Indonesia memakai bahasa Indonesia sehari-hari. Saya kira
akibatnya, jika orang berpendapat bahwa kemajuan perkembangan bahasa janganlah diserahkan
kepada Pusat Bahasa tapi biarlah masyarakat yang menentukan, masyarakat yang mana yang harus
menentukan kemajuan bahasa Indonesia? Apakah yang 18 persen? Lalu, yang paham bahasa
Indonesia tetapi tidak memakainya sebagai bahasa sehari-hari itu 75 persen. Sedangkan yang tak
paham bahasa Indonesia masih 13 persen. Jadi, alangkah baiknya jika angka-angka ini
dimasyarakatkan. Wartawan harus jadi guru masyarakat. Saya senang jika wartawan dijuluki
pencerah masyarakat.

Ciri khas SDM itu antara lain digambarkan oleh taraf pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari. Yang
mengenal huruf Latin sekarang diperkirakan 80 persen. Dua persen belum mengenal aksara lain
(lebih tepat dipakai istilah “aksara” daripada “huruf”. Karena, “aksara” sudah mencakup “huruf”,
tapi “huruf” tidak mencakupi “aksara”. Sedangkan keniraksaraan—walaupun ada birokrat di
Kementerian Pendidikan Nasional yang berani mengatakan kita sudah lepas dari keniraksaraan—
ternyata di dalam sensus masih ada tiga belas persen yang tidak dapat membaca atau menulis. 13
persen dari katakanlah 200 juta orang Indonesia berarti masih ada 30 juta yang hidup tanpa

kemampuan membaca atau menulis. Tidak dapat membaca atau menulis berarti tidak dapat
memperoleh informasi tambahan yang bermanfaat untuk kemajuan sendiri sehingga segala-galanya
harus dipercayainya.

Itulah yang melambangkan proses kemajuan bangsa kita ini. Kita ribut tentang masalah yang bukan-
bukan. Korupsi hanya satu waktu didengungkan. Sekarang (masalah bank) Century hilang begitu
saja. Siaran porno diheboh-hebohkan. Setiap hari ada siaran, ada artikel tentang porno, seakan-akan
perbuatan yang mereka lakukan itu tidak pernah kita lakukan sendiri di ranjang (dan harus
dibuktikan bahwa mereka memang berniat perbuatannya itu hendak dibuat untuk disiarkan. Kan
tidak bisa dibuktikan bahwa perbuatan itu khusus dikerjakan untuk disiarkan). Seakan-akan dengan
demikian hidup harus dihentikan dan lalu kita siang malam disuguhi, apalagi oleh media elektronik,
tentang video porno itu. Atau kita diributkan karena kiblat berubah beberapa derajat. Apakah
dengan demikian shalat kita itu tidak akan diterima oleh Yang Maha Kuasa kalau sedikit berubah
daripada yang asli? Kita tidak maju-maju karena kita tidak diajarkan bernalar.

Sekarang tentang kemajuan perkembangan jiwa kita. Masyarakat harus disadarkan setiap hari—
bukan karena pesohor ini berselingkuh dengan pesohor itu, atau kawin lagi, atau mempunyai anak
haram. Saya berpikir-pikir, saya hidup dalam masyarakat yang dipenuhi dengan banyak barang yang
kotor, terbelakang, tidak menguntungkan. Untung sekali media cetak tidak separah media
elektronik. Tetapi, apakah manfaatnya kalau yang digambarkan hanya banjir, tanah longsor, kereta
api keluar dari rel? Apakah hidup di Indonesia hanya terdiri atas kenestapaan dan kesengsaraan
hidup saja? Lalu ada siaran berisik-berisik tentang selebritas. Biarkan. Tetapi apakah itu harus
menjadi pengetahuan bagi kita semua maka kita menjadi manusia yang lebih baik? Sudah pernah
dihitung, berapa banyak stasiun televisi Indonesia yang meracuni masyarakat dengan informasi yang
tidak baik?

Kita berbangga-bangga bahwa kita ini masyarakat yang majemuk, harus memberi penghormatan
kepada budaya daerah, dan sebagainya.

Tetapi, apakah kita pernah memikirkan bagaimana memprioritaskan persatuan budaya? Dengan
berpecah-pecah kita akan mempertahankan ikatan emosional kita pada budaya daerah yang lebih
kuat, kental, daripada ikatan emosional kita pada keindonesiaan. Buktinya begini: jika saya bertanya
kepada Anda, laki-laki atau perempuan, pernahkah Anda menjadi anak Batak? Bangga menjadi anak
Sunda? Jawabnya: Tentu saja. Saya asli Batak, Sunda, atau Minang. Sekarang Anda bangga tidak
menjadi orang Indonesia? Pikir-pikir dulu.

Tidak bangga terhadap bangsa Indonesia imbasnya juga terhadap bahasa Indonesia. Saya yakin,
peningkatan taraf SDM itu lewat bahasa yang menentukan dan ditentukan oleh media pers. Saya
tidak sependapat ada mitos yang mengatakan “bahasa koran merusak bahasa.” Apanya yang
dirusak? Bahwa wartawan perlu memelihara kepandaiannya berbahasa, itu benar. Saya kira tidak
merusak, tetapi memberi alternatif yang keliru. Nanti kita tunjukkan beberapa hal yang dapat
diperbaiki.

Indonesia walaupun disebut negara demokrasi, mungkin lebih tepat menyatakan bahwa Indonesia
itu negara birokrasi. Sebab, walaupun gaji PNS tidak seberapa, yang menyebabkan banyak korupsi di
antara birokrasi, ternyata PNS yang lulusan sekolah dasar 14 persen. Itu saya jabarkan dari sensus
1990. Yang lulus SLTP 10 persen. Yang banyak itu SLTA: 58 persen. Jadi, kita punya orang-orang yang
terkembang, terpelajar, berpengalaman, diatur oleh birokrat yang pada umumnya hanya lulus
sekolah menengah atas—dan karena birokrasi, maka mereka yang paling berkuasa. Yang sarjana
muda 10 persen dan yang lulus universitas 8 persen. Jadi, jika anda kebetulan menjadi sarjana, bisa
menempatkan gelar di belakang, di muka, atau di tengah, itu berarti Anda terpilih. Tetapi apa artinya
8 persen?
Presiden Obama menjanjikan dalam kampanye pemilihannya akan berusaha dalam kepresidenannya
agar semua warga negara Amerika Serikat diberi peluang sampai akhir pendidikan. Semuanya
sarjana muda. Di Indonesia, siapa yang dalam kampanyenya mencoba untuk menjanjikan agar
semua rakyat Indonesia sekurang-kurangnya menjadi

lulusan SLTA? Tujuh puluh persen dari penduduk kita hanya berijazah SD atau kurang, dan yang
lulusan universitas hanya 1,8 persen. Gambar ini menjelaskan mengapa kita tertatih-tatih untuk
maju. Bukan semata sensasi korupsi atau perselingkuhan, sebab itu tidak menghambat kemajuan,
tapi hakikatnya SDM Indonesia tidak dapat diandalkan.

Beralih ke kenyataan sekarang, media massa menyalurkan informasi baik dari dunia lama, dunia
masa kini, maupun dunia akan datang sebagaimana digelombangkan oleh budaya kita. Suka tidak
suka, mau tidak mau, budaya kita pun dimasuki dan dibanjiri oleh ilmu dan teknologi mutakhir.
Sekarang siswa SD pun sudah mengenal ponsel. Saya mohon kerja sama Anda, bagaimana
mencerdaskan masyarakat kita. Mengapa Indonesia menjadi satu-satunya bangsa yang bersikeras
memakai singkatan “HP”? Di seluruh dunia tidak ada yang memakai kata “HP”. Ada yang
menerjemahkannya menjadi “telepon genggam”. Semua macam telepon digenggam, baik yang
berkabel maupun nirkabel. Jadi, yang lazim adalah “telepon selular” atau “ponsel.” Hal ini saja
mengisyaratkan betapa sulitnya manusia Indonesia berubah untuk kebaikan.

Pers dapat berpengaruh untuk mendidik warga masyarakat siap sedia untuk berubah. Bukankah itu
juga yang dijadikan pedoman Obama dalam pemilihan presiden: yes we can. Kita memang harus
memiliki tekad untuk mau berubah dan mau mengubah situasi. Itu contoh dari kelambanan
mentalitas Indonesia yang mestinya dapat diatasi oleh media pers.

Mengapa media pers memiliki fungsi yang menentukan dan krusial? Krusial di sini dipakai dalam arti
yang sebenarnya. Anggota putra putri kita yang terbaik di DPR rupanya tidak paham bahasa Inggris
dan sampai hari ini memakai istilah “krusial” untuk “pasal yang masih diperdebatkan atau belum
diputuskan”. Padahal “krusial” berarti “menentukan”. Krusial berasal dari cross/silang: “Saya ada di
titik silang”. Titik silang itu menentukan: jika dipilih titik A saya akan ke sana, jika dipilih jalan B saya
akan ke sana. Misalnya, di dalam masalah polisi bercelengan gendut itu, sikap presiden menentukan.
Turun tangan atau tidak? Kalau turun tangan menjadi begini, kalau tidak begini. Sikap itu menjadi
“krusial”, bukan berarti “masih belum bisa diputuskan”. Wartawan terpanggil untuk mengoreksi
pemakaian bahasa yang masih keliru.

Wartawan pun bertanggung jawab memberi informasi yang benar. Baru-baru ini ada masalah Bank
Century. Waktu itu setiap hari saya baca: Bank Century mendapat bailout, lalu diikuti tanda kurung
“dana talangan.” Itu artinya wartawan yang bersangkutan tidak pernah membuka kamus. Bailout
makna sebenarnya ialah “dana penyelamatan:” Keadaan keuangannya sudah begitu kritis, diinjeksi
dengan bantuan uang untuk menghindari kebangkrutan. Itu bailout, bukan “talangan.” Tetapi, kita
seakan-akan dibuat percaya bahwa bailout itu “dana talangan”. Di sini terlihat akibat dari informasi
yang keliru.

Mengapa media pers bisa menyesatkan dan tidak mencerdaskan? Karena di dalam konstelasi
masyarakat, surat kabar, majalah, televisi, membanjiri jalan pikiran orang setiap hari. Setelah kita
mendapat ijazah SMA, masuk ke universitas, atau mulai bekerja, kita tidak lagi bergaul atau
berkomunikasi dengan sumber informasi. Yang menjadi sumber informasi ialah wartawan yang
menyalurkannya lewat surat kabar. Di sini pers memiliki fungsi pencerdas bangsa yang lebih
menentukan. Pers sekaligus menjadi pencari berita dan menjadi guru bahasa. Guru bahasa tidak
dalam arti bersertifikat atau mempunyai ijazah kebahasaan, tetapi memiliki kepedulian yang
akhirnya mencerahkan pikiran warga masyarakat.

Saya berbicara dengan Pak Asmadi (pengajar LPDS dari Forum Bahasa Media Massa). Beliau
mengusulkan bagaimana jika saya membuka blog dan di dalamnya memuat “pojok bahasa”. Sebab,
dengan demikian, dengan kerja sama dari Pusat Bahasa, semua konsep baru dari budaya yang
mutakhir akan diolah, apakah kita akan menyerapnya dengan mengubah ejaan atau lafalnya atau
mencari padanan secara bahasa Indonesia. Apakah whistle blower itu dipahami orang jika
diterjemahkan menjadi “peniup peluit”. Hal semacam ini

dapat disalurkan melalui blog. Saya menyediakan diri untuk menjadi narasumber dan Anda akan
menyebarkannya di dalam media massa. Kita harus menjadi lebih cermat, lebih teliti, dan hanya
dengan cara itu kita bisa maju.

Kita harus berhenti untuk berupaya sama dengan bangsa Jepang atau Korea. Mereka itu homogen,
kita tidak homogen. Jika kita mencari model bagaimana harus berkembang ialah satu masyarakat
yang majemuk dan jelas menggambarkan kemajuan. Betapa pentingnya bahasa Indonesia.
Pertanyaan mendasar: setuju bahasa daerah harus didorong dan dimajukan? Mempelajari bahasa
daerah untuk tujuan apa?

Rita Sri Hastuti (Moderator):

Pak Anton tadi sudah memberikan gambaran, tujuannya untuk memberikan alasan kenapa sekarang
masyarakat lebih suka memakai akronim.

Uu Suhardi (Pembicara):

Akronim itu sangat enak untuk main-main. Misalnya akronim “romantis” (rokok, makan, tidur gratis),
“sayu” (sayang uang), “syadu” (sayang duit), “gatot” (gagal total), “internet” (indomie telur kornet),
dan “kopasus” (kopi pakai susu atau kopi-paste ubah sedikit). Ada juga akronim yang keluarnya dari
lembaga resmi tapi kesannya main-main, misalnya, “balon” (bakal calon), “raskin” (beras miskin),
“rasdi” (beras bersubsidi). Kemudian “markus” (makelar kasus)-pun bisa masuk kategori main-main,
tapi main-mainnya kurang ajar karena memakai tokoh agama. Dari Polri muncul “cakus” untuk “calo
kasus”, sedang dari Kejaksaan ada “cakil” (calo keliling).

Anonim ada yang main-main, tapi ada juga yang serius untuk nama-nama lembaga. Di Indonesia
hampir semua lembaga punya akronim untuk namanya. Ada Bapepam, Bappenas, Depkominfo,
Kemenag, Kemenkes. Ada pula yang singkatannya non-akronim, misalnya, BPK, BPKP, KPK, KY, MA,
MK, dan seterusnya. Belum lagi nama-nama di kepolisian dan militer banyak sekali yang memakai
akronim.
Akronim awalnya juga untuk kata sandi. Kata “markus” mungkin awalnya dari kata sandi kepolisian
untuk menyebut seseorang yang berprofesi sebagai makelar untuk kasus. Namun, kata ini kemudian
diketahui umum dan bukan sandi lagi.

Salah satu kalangan yang produktif membuat akronim itu militer dan kepolisian. Ada alutsista, buser,
curanmor, miras, sajam, senpi, arhanud, armabar, armatim, akabri, akmil, akpol, kodam, koplat,
koptu, kopur, koramil, korem, kores, dan banyak lagi. Mungkin bisa beribu-ribu nama.

Segi positifnya, akronim membentuk kata baru, biasanya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Akronim ada juga yang dikeluarkan Pusat Bahasa: online menjadi “daring,” offline menjadi “luring”.
Menurut saya ini agak lucu. Daring itu mengingatkan saya kepada warung mie, yang artinya “dada
kering.” Entah mengapa itu dipakai untuk padanan online.

Bagaimana dengan Tempo? Tempo ingin tulisannya dibaca dan dipahami oleh sebanyak-banyaknya
orang mulai profesor sampai orang yang tidak lulus sekolah dasar. Karena itu, Tempo selalu
berusaha menyajikan tulisan dengan bahasa yang lancar, enak dibaca, dan dapat dimengerti oleh
siapa pun. Tentu saja usaha ini tidak selalu berhasil.

Akronim cenderung hanya dimengerti oleh kalangan tertentu. Akronim itu seperti jargon. Karena itu,
Tempo menolak akronim. Bahkan tidak hanya akronim, singkatan yang bukan akronim pun kami
menyatakan penolakan kecuali singkatan itu untuk nama diri, lembaga, seperti KontraS (Komisi
untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). “Gempur” banyak sekali dipakai untuk akronim:
Gerakan Mahasiswa Peduli Negeri, Gerakan Mahasiswa Peduli Uang Rakyat, Gerakan Mahasiswa
Pendukung Reformasi, Gerakan Masyarakat

Peduli Kepulauan Riau, Gerakan Masyarakat untuk Perubahan di Bumi Pasaman Barat, Gerakan
Membangun Perekonomian Ummat yang Religius. Semuanya menggunakan kata “Gempur”,
mungkin ada 20 sampai 30.

Tempo selalu menyebutkan nama tempat dan nama diri dengan lengkap. Singkatan nama diri
dipakai jika nama itu muncul berulang-ulang dan bertebaran dalam satu tulisan, tapi nama itu ditulis
lengkap ketika muncul pertama kali. Nama diri yang sudah sering muncul dan diasumsikan sudah
dikenal pembaca tidak perlu diikuti dengan singkatannya dalam tanda kurung. Misalnya, di awal
ditulis “Dewan Perwakilan Rakyat”, selanjutnya di tulis “DPR”, dan di awal tadi tidak perlu ditulis
“DPR” dalam tanda kurung. Kami menganggap pembaca sudah cukup tahu bahwa DPR itu mengacu
pada Dewan Perwakilan Rakyat.

Sekali lagi, Tempo menolak akronim. Daripada memakai akronim lebih baik terus membenahi tata
bahasa di Tempo, antara lain, misalnya, membuang kata-kata mubazir seperti “agar”, “dari”,
“dengan”, “kepada”, “oleh”, “untuk”. “Oleh karena itu”, “akan tetapi”, “berjanji untuk”, dan
“berjanji akan”, “sementara itu”, “dalam pada itu”, dan “selain itu” tidak lagi ditemui di Tempo.

Contohnya, “Fraksi PDIP meminta kepada pemerintah agar serius menangani jumlah angkatan kerja
yang selalu bertambah.” Kata kepada dan agar bisa dibuang sehingga menjadi “Fraksi PDIP meminta
pemerintah serius menangani jumlah angkatan kerja yang selalu bertambah.” Contoh lain, “Bush
meminta kepada AS agar menganekaragamkan sumber-sumber energinya.” Dibuang kata-kata
mubazirnya menjadi “Bush meminta AS menganekaragamkan sumber-sumber energinya.”

Di satu sisi kalimat-kalimat di atas berusaha tampil ringkas dengan singkatan, tapi di sisi lain boros
kata. Mudah-mudahan di Tempo tidak ditemukan kalimat seperti itu. Di Tempo juga tidak akan
ditemukan akronim pemdes, pemkot, pemkab, pemprov, pilkada, pilkadal, pemilukada, pemilukadal,
pileg, pilpres, pilgub, pilbup, pilkades, pilkawe, pilkaret, pilwalkot, pilwakot, apalagi pentilkecakot
(penjaga tilpun kecamatan kota). Anda juga tidak akan menemukan singkatan, misalnya, DPP, DPW,
DPC, apalagi CPD. CPD itu capek deh. Juga tidak akan ada buser, curanmor, miras, sajam, senpi,
sikon, apalagi sikon*** dan si******panjang (situasi, kondisi, toleransi, jangkauan, dan pandangan).
Itu semua main-main.

Sebagai penutup, mari kita sepakat, akronim itu cenderung bikin bingung, bahkan pembaca atau
pendengar bisa terkecoh atau tertipu. Kalau anda baca judul makalah saya “Sinonim,” padahal kita
sedang bicara akronim. Sebenarnya judul “Sinonim” itu akronim dari “Silakan Menolak Akronim.”

Rita Sri Hastuti (Moderator):

Tadi sudah kita dengar sikap majalah Tempo dalam menghadapi akronim. Tentu tujuannya agar
pembaca merasa nikmat saat membaca. Bayangkan kalau akronim-akronim itu dibacakan, tentu
akan langsung masuk ke telinga kita. Berbeda kalau kita membaca karena masih bisa kita hindari.
Ketika kita mendengar di radio atau televisi ada sekian banyak akronim, tentunya capek deh.
Bagaimana sikap SCTV?

Mauluddin Anwar (Pembicara):

Saya ingin sharing pengalaman di Liputan 6 dan tentu saja kami berharap ada masukan untuk
perbaikan agar akronim dan singkatan tidak lagi banyak digunakan di televisi, termasuk di Liputan 6
SCTV.

Saya beri judul makalah saya “Negeri Berjuta Akronim”. Andil petinggi negara sangat besar dalam
pembuatan akronim dan singkatan. Kita tahu Bung Karno bisa disebut bapaknya akronim Indonesia:
ada Trikora, Dwikora, dan lain-lain. Ini hanya untuk menunjukkan mengapa di negara kita orang
begitu gampang membikin akronim atau singkatan

karena Bapak Bangsa sendiri sudah menciptakan itu sehingga membuat media ikut berbangga
menciptakan akronim yang sebenarnya sering membuat salah kaprah.

Tidak hanya Bung Karno, tapi juga diteruskan juga di masa Orde Baru. Soeharto membikin Golkar,
Petrus—yang sempat diprotes oleh orang Kristen karena itu adalah nama seorang yang suci.
Kemudian muncul “markus” yang juga diprotes lagi oleh orang Kristen. Akhirnya diusulkan tidak
menggunakan nama “markus” dan seorang Jaksa Agung Hendarman Supandji menyebutnya “cakil”
(calo keliling). Kapolri mengusulkan “cakus” (calo kasus) agar tidak digunakan “markus”. Itu salah
kaprah yang makin salah. Mengapa tidak dipakai saja “makelar kasus”.
Ini menunjukkan para petinggi negara kita senang sekali menciptakan singkatan dan akronim yang
akhirnya kita ikut-ikutan. Presiden SBY bahkan senang namanya dipakai singkatan. Dia bahkan lebih
familier disebut SBY daripada Susilo Bambang Yudhoyono. Itu yang saya sebut mewabah ke semua
kalangan dan media pun ikut melahirkan akronim, bukan hanya menggunakan.

Di masa Orde Baru ada “pungutan liar" yang kemudian digunakan oleh media sebagai “pungli”. Di
masa perang Irak melawan Amerika muncul istilah “rudal” (peluru kendali). Sekarang ada istilah
“ponsel” yang sering dipakai oleh anak muda dan media ikut-ikutan. “Moge” (motor gede) juga
diciptakan oleh media, terutama media yang berkecimpung di bidang infotainmen atau gaya hidup.
Televisi pun kadang-kadang ikut menggunakan “moge”.

Di program televisi ada “buser” (buru sergap), “tikam” (tindak kriminal), “TKP”. Bahkan inisial
wartawan juga menggunakan singkatan: Goenawan Mohamad (GM), Karny Ilyas (KI). Di semua
koran, untuk tulisan nama di bawah, seperti Kompas, ada penulis besarnya yang ditulis nama
lengkap tetapi untuk reporter yang memberikan kontribusi untuk tulisan itu hanya dituliskan nama
singkatan atau mungkin akronimnya. Jadi, di dunia pers sendiri sudah sangat lazim digunakan kata-
katasingkatan atau akronim.

Mengapa muncul akronim dan singkatan? Menurut saya, karena budaya ingin gampang dan instan.
Daripada susah bilang Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan maka digunakan saja
Menkopolhukam. Epoleksosbudhankamnas terasa lebih singkat daripada menyebutkan “Ekonomi,
Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan, dan Keamanan”. Apalagi untuk televisi, lebih susah. Karenanya,
budaya gampang dan membuat orang enak mengucapkan itulah salah satu yang membuat begitu
banyak akronim dan singkatan di Indonesia.

Itu pun dibakukan dalam sebuah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sudah ada
pedoman bakunya, tahun 1987, tentang Pedoman Baku Ejaan yang Disempurnakan. Tetapi, masih
ada hal-hal yang kadang-kadang tidak konsisten dari pedoman baku yang sudah diciptakan. Intinya
adalah begitu gampangnya orang, bahkan media, untuk menciptakan istilah baru termasuk dalam
akronim dan singkatan. Misalnya, sering kita dengar “miras” yang diambil dari huruf awal
“minuman” dan huruf akhir dari “keras”. Kalau mau konsisten, mengapa tidak “miker”? kemudian
ada “mitan” dari “minyak tanah”. Untuk “kepala sekolah” kadang dipakai “kepsek” kadang “kasek”.
Ada juga “kades”, “kapolda”. Dari “ke” menjadi “ka”. Ini menunjukkan tidak konsisten dalam
penggunaan.

Ada lagi pengertian yang berbeda-beda. PBB digunakan untuk “Pajak Bumi dan Bangunan”, “Partai
Bulan Bintang”, “Perserikatan Bangsa -Bangsa”, dan macam-macam lagi. Ini membingungkan.

Bagaimana Liputan 6 SCTV dan televisi lain? Saya kira sama seperti Tempo. Menggunakan akronim
dalam bahasa agamanya itu makruh, bahkan mendekati haram. Makruh itu kalau ditinggalkan
mendapat pahala, kalau dikerjakan tidak berdosa, tapi tidak disukai. Kalau haram berarti tidak boleh
sama sekali. Akronim dan singkatan-singkatan, untuk televisi, saya kategorikan makruh, bahkan
mendekati haram. Walaupun pada kenyataannya masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang
dibuat oleh televisi. Inilah yang saya sebut sebaiknya menghindari penggunaan
akronim, apalagi dalam bahasa asing. Akronim dalam bahasa asing yang sering kita dengar dari
televisi, misalnya, WHO. Itu pun tidak konsisten karena menuturkannya tidak dengan bahasa Inggris.
Hal itu dilakukan televisi karena lebih suka mengambil bahasa yang enak didengar.

Bahasa jurnalistik di televisi harus bisa dipahami dari profesor sampai tukang sapu. Karena itu, ketika
menggunakan akronim atau singkatan harus bisa dipahami bahkan oleh anak kecil. Di televisi jangan
pernah menyebutkan satu singkatan atau akronim tanpa ada penjelasannya, termasuk yang dalam
bahasa Indonesia. Misalnya Sisminbakum (Sistem Administrasi Badan Hukum). Orang dewasa pun
kadang-kadang tidak tahu apa itu Sisminbakum apabila tidak dibaca kepanjangannya. Karena itu,
sebisa mungkin hindari penggunaan itu. Kalaupun terpaksa, penggunaannya harus disertai
penjelasan kepanjangannya.

Kalaupun akan menggunakan akronim atau singkatan, sebisa mungkin hanya untuk judul berita yang
biasa muncul di layar televisi. Di SCTV saat ini judul berita hanya maksimal empat kata. Karena itu,
misalnya “Bantuan Langsung Tunai” boleh disingkat menjadi BLT; “Hak Asasi Manusia” menjadi
HAM; “Menteri Agama” menjadi Menag. Dalam kondisi tertentu, apabila tempatnya masih cukup
ditulis “Menteri Agama” dan tidak akan ditulis “Menag”. Sementara untuk narasi yang dibacakan
oleh presenter atau reporter, tetap membaca kepanjangannya.

Berbeda dengan koran atau majalah, berita di televisi hanya sekelebat sifatnya. Untuk satu berita
mengenai pemeriksaan Yusril Ihza Mahendra, misalnya, dengan kutipan pernyataan dari tiga orang,
maksimal waktunya dua menit. Rata-rata berita di televisi hanya 1,5 menit. Kalau di koran bisa
seperempat halaman. Karena itu, berita di televisi harus enak didengar, tidak boleh yang susah
dipahami. Misalnya kata UKP3R (Unit Kerja Presiden untuk Percepatan Pembangunan Reformasi)
tidak harus digunakan, kecuali terpaksa digunakan. Kalaupun digunakan hanya disebutkan sekali
“Unit Kerja Presiden untuk Percepatan Pembangunan Reformasi”, setelah itu hanya disebut “Unit
Kerja Presiden”. Celakanya, bagi orang yang baru menyalakan televisi dan melihat acara sudah di
tengah berita, sungguh "berbahaya" ketika kita hanya menyebutkan “Unit Kerja Presiden”. Tapi,
daripada menyebutkan UKP3R lebih baik menyebut “Unit Kerja Presiden.”

Penyebutan singkatan untuk berita televisi, seperti MK, MA, KPK, sebisa mungkin hanya sekali di
depan. Tidak usah diulang-ulang lagi, kecuali yang sudah sangat familiar, misalnya Polri, DPR. Di
televisi tidak ada kesempatan kedua bagi pendengar untuk mendengarkan berita kita yang baru saja
berlangsung—kecuali kalau misalnya membuka di website. Berbeda dengan di koran, ketika ditulis
“UKP3R” orang bisa melihat lagi tulisan di atasnya untuk mengetahui apa kepanjangannya.

Akronim di televisi hanya untuk yang lazim dan umum, seperti “KPK”. Celakanya, seperti “PPP”
seharusnya disebut “P-P-P”, tapi sebagian besar orang lebih familier dengan sebutan “P tiga” dari
pada disebut “P-P-P”. Karena itu, untuk di televisi akan lebih bagus yang dibaca adalah “P tiga”.
Penulis berita televisi harus tahu yang lebih familiar di telinga pemirsa dan itulah yang akan ditulis
dalam naskah.

Akronim di televisi hanya untuk yang mudah didengar dan diucapkan. “UKP3R” atau
“Epoleksosbudhamkamnas” sudah tidak boleh lagi digunakan. Karena itu, yang asing pun berusaha
untuk diindonesiakan. Contohnya—meskipun ini sangat rancu—di akhir program berita presenter
menyatakan “silakan membuka www.liputan6.com” (“www” dibaca dengan bahasa Indonesia,
“com” dibaca dengan bahasa Inggris). Tidak mungkin dibaca seluruhnya dalam bahasa Indonesia.
Kata-kata itu sudah digunakan secara umum sehingga televisi pun ikut membakukannya.

Kalau bisa televisi harus menggunakan istilah lain yang bukan akronim atau singkatan. Dari dulu
orang lebih kenal “pom bensin” daripada “SPBU” yang dipakai pemerintah. Karena itu, televisi lebih
baik tetap menggunakan “pom bensin” meskipun mengindikasikan hanya satu produk saja (bensin).

Ada problem yang setiap saat menjadi bahan diskusi; sebaiknya

akronim seperti apa dan mana yang digunakan. Misalnya, karena negeri kita negeri berjuta akronim,
maka sangat gampang pejabat mengganti istilah yang sudah baku. Dulu “SMA”, kemudian karena
Menteri Pendidikannya berganti maka berubah menjadi “SMU”. Tidak lama kemudian berubah lagi
menjadi “SMA”. Bagi televisi, ini membingungkan dan menimbulkan perdebatan, singkatan mana
yang mau dipakai. “Pilkada” baru lima tahun dipakai tiba-tiba DPR mengeluarkan “pemilukada”.

Kita ingin menyederhanakan bahasa, termasuk akronim dan singkatan. Tetapi, ada kekhawatiran di
media, termasuk Liputan 6, bahwa kita tidak mematuhi dan mengikuti istilah resmi. Misalnya,
Menteri Kehakiman berubah menjadi Menteri Hukum dan HAM yang disingkat Menkumham. Untuk
penggunaan judul ada perdebatan: Daripada menulis “Menkumham”, lebih baik menulis “Menteri
Hukum”. Orang juga tahu itu adalah Menteri Hukum dan HAM. Perdebatan ini belum selesai. Liputan
6 punya pedoman, tapi bisa berubah sesuai dengan perkembangan di masyarkat.

Media massa ikut dan turut bertanggung jawab terhadap penciptaan akronim dan istilah yang
kadang-kadang rancu. Karena itu, meskipun tadi saya katakan mudah-mudahan akan menjadi haram
hukumnya menggunakan akronim, namun apa boleh buat-karena kita masih senang dengan istilah
dan singkatan maka media pun ikut terlibat dalam penciptaan dan bahkan sosialisasi akronim.

Rita Sri Hastuti (Moderator):

Media di Indonesia cukup gelisah dengan keberadaan akronim. Saya mengundang hadirin untuk
menyampaikan pendapat atau bertanya.

SESI DIALOG

Ivan Lanin (Wikipedia Indonesia, Peserta):

Pembicara Mauluddin Anwar tadi menyatakan, akronim yang dipilih hanya yang lazim dan mudah
untuk didengar atau diucapkan. Apa kriterianya?

Di makalah Pak Anton dinyatakan, untuk dapat diketahui khalayak umum, akronim perlu dibakukan.
Yang ingin saya tanyakan, siapa yang berwenang untuk membakukan itu?

Melihat perkembangan akronim yang sangat pesat, selama ini rujukan kita dari kamus yang lima
tahun sekali direvisi. Apakah nanti lembaga yang membakukan akronim bisa memfasilitasi
kebutuhan masyarakat yang sangat cepat?
Arya Gunawan (UNESCO Jakarta, Peserta):

Saya tadi ikuti presentasi Pak Anton yang hampir tidak saya jumpai sedikitpun kesalahan atau
kekeliruan dalam pengucapan. Saya kira memang ini empu kita yang kian langka jumlahnya, orang
yang bersedia memberikan sepenuh perhatiannya untuk kemajuan perkembangan bahasa
Indonesia.

Saya teringat, banyak orang yang menyebut bahwa para pendiri bangsa kita dulu berbicara dan
menulis dengan sangat hati-hati dan mencerminkan kecintaan mereka yang penuh terhadap bahasa
Indonesia. Misalnya, M Hatta merupakan salah satu penutur dan penulis sekaligus yang nyaris sulit
kita jumpai kekeliruannya dalam praktik sehari-hari. Sebetulnya salah satu harapan terbesar yang
kita miliki sekarang yang ingin kita sandarkan adalah kepada kawan-kawan media sebagai benteng
terakhir. Semestinya salah satu fungsi terpenting media adalah menjaga perkembangan bahasa
Indonesia. Tapi, justru di sini juga kita memiliki persoalan yang cukup serius karena secara

kasat mata, yang tampak sehari-hari dari produk berita televisi maupun media cetak atau online,
dengan mudah kita bisa menjumpai kekeliruan penggunaan bahasa.

Profesor Anton menyebutkan peran penting media yang setiap hari bergelut dengan bahasa. Bahasa
merupakan modal utama, senjata utama, bagi orang media. Tapi, pada sisi yang lain, saya agak
meragukan apakah peran penting itu layak kita mandatkan atau amanahkan kepada kawan-kawan
ini karena sebagian besar dari mereka justru tidak mempraktikkan cara berbahasa menulis yang
benar. Saya tidak tahu bagaimana cara membenahi ini, apakah dengan pelatihan yang berlangsung
rutin dan terus menurus khusus untuk bahasa Indonesia? Atau kita membenahi di sektor hulunya,
yaitu di pendidikannya yang ideal dimulai di tingkat paling awal. Atau kalau itu sudah terlambat kita
bisa mulai dari pendidikan tinggi, walaupun pendidikan tinggi kita menerima bahan baku yang tidak
ideal karena dari SD sampai SMA tidak dibenahi dengan benar. Pertanyaan saya untuk Profesor
Anton, bagaimana kita membenahi ini?

Saya ingin menanggapi apa yang disampaikan Bung Mauluddin Anwar bahwa satu penyebab utama
dari kisruhnya situasi bahasa kita, secara spesifik pada penggunaan akronim, adalah karena budaya
instan, ingin gampang, yang melekat pada orang-orang yang menggauli bahasa. Tapi saya kira ada
penyebab lain yaitu tidak adanya lembaga yang punya wewenang dan kharismatik. Tidak ada
lembaga otoritatif yang menjadi polisi, pengawal cara kita berbahasa, baik oral maupun tulisan. Kita
memang punya Pusat Bahasa tetapi barang kali belum memainkan perannya secara maksimal. Saya
tidak tahu apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan lembaga yang otoritatif tadi. Kalau sejauh
ini lembaga tersebut tidak kita miliki, problem seperti ini akan terulang, akan terjadi tiga tahun lagi
dan kita akan berdiskusi lagi dengan topik yang sama dan bahan-bahan yang nyaris sama. Berbeda
dengan di negara lain, seperti Malaysia, yang punya Dewan Bahasa. Peran mereka sebagai polisi
bahasa jauh lebih berperan dibanding dengan yang ada di Indonesia.

Betul-betul tidak ada perhatian dari pemerintah. Mungkin saja saya keliru tapi apa yang tampil di
hadapan kita memperlihatkan tidak adanya perhatian yang sungguh-sungguh dan serius dari
pemerintah. Bahkan mungkin kesadaran bahwa bahasa Indonesia sudah menjadi persoalan yang
serius. Misalnya, sudah ada hasil yang buruk dari ujian akhir nasional Sekolah Menengah Atas
beberapa waktu lalu. Itu sebenarnya lonceng yang berbunyi nyaring untuk menjadi pengingat, untuk
menemukan kesadaran dan melakukan langkah nyata menghadapi situasi ini.

Semula saya memiliki harapan besar kepada Presiden SBY karena beliau pernah menerima anugerah
sebagai tokoh masyarakat yang berbahasa dengan baik tahun 2003. Tapi, belakangan saya
meragukan penghargaan tersebut apakah layak disematkan kepadanya karena belakangan kita jadi
bingung: Presiden kita ini berbicara bahasa Indonesia yang baik atau kadang-kadang beliau dari
negeri seberang. Begitu banyak kosa kata asing yang masuk dalam perbendaharaan kata beliau.

Khusus untuk akronim, memang sudah menjadi penyakit yang akut, yang barangkali
penyembuhannya harus melalui operasi yang radikal. Saya tidak tahu dengan cara apa. Intinya, harus
dilakukan sesuatu yang radikal untuk mencegah dia berkembang menjadi tidak menentu seperti
sekarang. Bukan berarti akronim itu tidak baik dan tidak bermanfaat. Dia bisa memperkaya tapi
tentu ada pedoman baku, ada konsistensi.

Terakhir, saya ingin bikin kuis, adakah yang tahu kepanjangan dari Ladiagalaska? Atau makhluk
apakah Ladiagalaska? Apakah dia nama seorang perempuan cantik yang akan ikut kontes Putri
Indonesia dua tahun mendatang?

Ladiagalaska itu singkatan dari Lautan Hindia Galau Alas Selat Malaka. Itu jalan yang akan dibangun
menerabas sisi barat menuju sisi timur provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Salah satu penyebab
munculnya akronim mungkin kegenitan kita untuk mencari istilah yang kelihatan cantik
dikumandangkan tapi itu menambah timbunan limbah

akronim dalam kancah bahasa Indonesia kita.

Wieke Gur (www.bahasakita.com, Peserta):

Saya ingin menanggapi pemaparan Mauluddin Anwar mengenai budaya gampang dan instan yang
melanda kita semua dalam pembuatan akronim. Pak Uu Suhardi juga menyebutkan bahwa beberapa
akronim terpaksa diakomodasi ke dalam tulisan untuk dimengerti oleh khalayak ramai.

Mudah dimengerti itu sebenarnya relatif. Bagi warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, apalagi
para penutur asing, terus terang merasa sangat tertinggal dalam perkembangan akronim yang
berjalan begitu cepat. Ditambah lagi penambahan kosa kata baru. Masalah-masalah itulah yang
mendorong saya menggagas didirikannya bahasakita.com. Saya merasa warga Indonesia di luar
negeri membutuhkan rujukan apa yang terjadi dan berkembang di dalam bahasa Indonesia.

Saya tadinya ingin memasukkan menu akronim dalam situs tersebut. Namun, karena
perkembangannya cepat sehingga saya merasa kesulitan untuk mengikuti. Jadi, alangkah baiknya
kalau ada semacam pembakuan mengenai akronim dan ada satu sumber dimana orang-orang
Indonesia di luar negeri tetap bisa mengikuti perkembangan bahasa. Dan juga bagi para penutur
asing mudah belajar bahasa Indonesia.

Di Australia sejak tahun 2001 peminat bahasa Indonesia turun drastis. Beberapa universitas
menutup departemennya karena tidak ada lagi yang berminat belajar bahasa Indonesia. Ketika saya
berkomunikasi dengan mereka, alasan utamanya, setelah mereka belajar bahasa Indonesia mereka
tetap tidak mampu memahami bahasa Indonesia ketika berkunjung ke Indonesia karena ternyata
ada bahasa formal, informal, dan gaul. Mereka tertukar-tukar menggunakan antara bahasa formal
dan gaul. Yang sebenarnya terjadi, pembuat kurikulum di Australia adalah orang Australia. Mereka
menganggap bahasa informal adalah bahasa gaul. Di dalam kurikulum bahasa Indonesia di sekolah
dasar Australia, mereka memasukkan bahasa gaul ke dalam ujian nasional mereka. Di situlah saya
tekankan kepada mereka bahwa bahasa gaul jangan dipelajari karena sifatnya musiman. Yang harus
dipelajari adalah bahasa informal. Kalau dalam bahasa formal kita menggunakan “kan” kalau dalam
bahasa informal sah-sah saja menggunakan “in”, contohnya “ambilkan” menjadi ‘ambilin.” Itulah
yang digunakan kita sehari-hari.

Masalah-masalah seperti itu terjadi di luar negeri. Akhirnya mereka merasa bahasa Indonesia sangat
kompleks, minat mereka untuk mempelajarinya turun. Lebih baik belajar bahasa China dan Spanyol
yang jelas peraturannya. Dua bahasa itulah yang sekarang menjadi favorit di Australia. Ketika
masalah ini saya bicarakan dengan Kedutaan Indonesia di Australia, mereka menganggap peminat
bahasa Indonesia turun karena mereka tidak bisa datang ke Indonesia. Ada travel warning dari
pemerintah Australia sehingga mereka tidak bisa praktik. Menurut saya, masalahnya lebih dari itu.
Tidak hanya sekadar akronim yang membingungkan tetapi juga perkembangan kosakata yang terjadi
di kita semua.

Pada perkembangannya, bahasakita.com dianggap mewakili Pusat Bahasa. Padahal berkali-kali saya
tegasnya bahwa kami sebuah badan independen. Dua hari lalu kami menerima email dari salah satu
ketua asosiasi guru bahasa Indonesia di Australia Barat yang bertanya: “mohon maaf ibu Mike, saya
harus membuat kurikulum kelas 12 untuk bahan ujian. Kata apa yang harus saya ajarkan, “manula”
atau “lansia”?

Saya sendiri tidak pernah berpikir bahwa itu akan menjadi masalah. Pertanyaan itu mengejutkan
saya. Mana yang harus digunakan karena ketika saya cari di google, kedua-duanya masih ada. Tapi,
mana sekarang yang harus digunakan atau diajarkan, terutama untuk penutur asing?

SESI TANGGAPAN PEMBICARA

Anton M Moeliono:

Saya senang dapat tanggapan yang begitu banyak. Saya kembali kepada dalil saya: kita ini negara
birokrat. Kita menjadi mangsa birokrat. Apapun yang kita putuskan dalam pertemuan ini tidak akan
ada imbasnya bila birokrasi tidak akan mengubah sikap. Jadi, bagaimana kita akan menghindari
penggunaan PPATK kalau itu dipakai oleh pejabat pemerintah?

Pers dapat berbuat sesuatu tapi tidak akan mungkin dapat menghilangkan akronim. Sebenarnya ini
bukan dosa birokrasi saja. Hakikat bahasa nusantara memang cenderung untuk memegang kaedah
dua suku. Ada untungnya ada ruginya.
Saya mulai dengan ruginya dulu. Kosa kata sehari-hari bahasa Inggris jika dibandingkan kosa kata
sehari-hari bahasa Indonesia lebih unggul karena mereka memakai satu suku sedangkan kita harus
menggunakan beberapa suku.

Penyakit yang muncul sejak kita merdeka, tadi dengan eloknya dikemukakan Pak Anwar, dimulai dari
presiden pertama diikuti oleh rezim Orde Baru—waktu kelompok militer memiliki pengaruh yang
luar biasa dalam kehidupan kita. Akronim memang diperlukan di dalam bahasa militer demi
kerahasiaan, menghindari salah paham. Kebiasaan yang berlaku di militer itu kemudian menjadi
penyakit menular, berjangkit ke masyarakat sipil. Dapat dipahami, demi kerahasiaan, militer
memerlukan akronim sebagai bahasa sandi. Tetapi, dalam pada itu, dasar atau sikap bahasa
nusantara itu menuju singkatan. Daripada berbicara “kantong kempes” lebih baik “tongpes.” Itu
bukan lagi penyakit masa kini sehingga “guru” pun dianggap akronim yang berarti “digugu lan
ditiru.”

Masalahnya kita tidak dapat memisahkan diri dari akronim. Tidak mungkin akronim ditinggalkan.
Pertama, karena kuasa birokrasi. Kedua, karena memang kita senang pada akronim. Alasan yang
ketiga, akronim diperlukan karena budaya mutakhir menghasilkan hal yang rumit, kompleks,
majemuk, yang tidak mungkin dilambangkan dengan satu kata. Jika mungkin, bagaimana orang
Inggris bisa menciptakan—dan ini militer lagi—kata “leser” menjadi “laser”. Kita mungkin tidak tahu
lagi apa bentuk lengkapnya, akan tetapi kita akrab dengan satuan leksikal “laser”, dengan aslinya
“redar” menjadi “radar.”

Bagi saya, akronim itu tidak perlu dianggap kuman yang membahayakan. Tetapi, tadi sudah saya
dengar konsep pembakuan. Baku adalah ciri khas masyarakat modern. Jika ada lampu mati karena
sudah tidak bisa menyinarkan cahaya, dengan mudah saya minta orang membeli yang baru di toko
dan pasti akan menyala karena ukuran lampu itu dibakukan. Jika saya harus mengganti ban, tidak
perlu saya mengukur sendiri. Jadi, untuk menghindari salah paham pemakaian akronim, perlu ada
pembakuan.

Yang perlu dibakukan itu adalah kaedahnya, bukan bentuknya. Kaedah itu harus ditentukan oleh
siapa? Jika Pusat Bahasa dewasa ini dianggap oleh masyarakat tidak mempunyai wibawa, tentukan
saja sendiri. Misalnya, pers bersepakat untuk memakai daftar akronim yang ditentukan pemerintah.
Dengan catatan, jika akronim dari pemerintah yang akan dipakai kita tidak bisa mengubahnya
sendiri.

Salah satu hal yang disayangkan adalah birokrasi Indonesia senang sekali pada kelewahan
(redandensi). Ingat bagaimana di masa kolonial dan masa awal republik Indonesia, kita kenal
Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan. Mengapa sekarang harus disebut Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia? Apakah Hak Asasi Manusia tidak dengan sendiri masuk di wilayah
hukum? Mengapa harus dieksplisitkan “kelautan dan perikanan”? Departemen Keuangan menangani
masalah keuangan, pajak, tetapi tidak diumumkan secara detail. Orang tahu Departemen Keuangan
mengurus hal-hal seperti itu.

Penyakit untuk mengeksplikasi sampai ke unsur-unsurnya, itulah yang menjadi sebab kita terpaksa
membuat akronim. Saya setuju sekali dengan pihak media yang beranggapan berikan saja nama
singkat, diterangkan definisinya, apa fungsi operasionalnya, tidak perlu dilambangkan di dalam
judulnya atau di nama resminya. Dan itu menjadi dorongan bagi media pers bersama-sama
menentukan apakah untuk badan, nama, dan sebagainya perlu dipakai akronim yang dibakukan.
Segala-galanya dijamin tidak akan ada masalah kalau dibakukan sebagaimana kita telah
membakukan singkatan “a.n.”

Bagi saya, sebenarnya singkatan atau akronim tidak perlu dilebih-lebihkan. Itu bukanlah kesalahan
media. Media perlu menyalurkan informasi. Sarang masalahnya ada di birokrasi bukan di media pers.
Sekarang media pers dapat menguraikan masalahnya secara kritis.

Sangat baik apa yang dilakukan Tempo, memberi komentar atas apa yang berlaku di masyarakat.
Kalau kita menderita akronomitis, jangan dibiarkan, harus dilawan. Mengapa harus disebut Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa karena akhirnya dengan disebut Pusat Bahasa juga jalan. Ini
salah satu contoh yang paling jelas bahwa nama tidak perlu diuraikan secara secermat-cermatnya.
Dan itu penyakit birokrasi. Selama birokrasi mempunyai kewenangan untuk mengaturnya, rasanya
kita tidak akan dapat membahasnya. Jangan lupa keterangan saya tadi, birokrasi itu mayoritas
lulusan SMA. Bagaimana mau berunding dengan mereka? Susah.

Itulah pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini bukan pidato tapi benar-benar panggilan
yang luhur. Bagaimana anda dengan pemakaian bahasa sehari-hari dapat membuat orang lebih
cerdas. Bahasa Indonesia harus dicendekiakan, harus diintelektualisasi. Kita ini takut pada
intelektualisasi. Kita lebih sering menganut pendapat emosional. Jika emosi mendorong kita untuk
berunjukrasa, menghancurkan rumah ibadah misalnya, maka intelektualisasi menjadikan kita
berpikir apa yang harus dijalankan.

Andaikata Pusat Bahasa dianggap tidak mampu, anda (pers) sendiri yang harus jalan. Masalahnya,
bahasa harus dikembangkan oleh Pusat Bahasa tetapi bahasa itu bukan milik Pusat Bahasa.
Wartawan di sini diharapkan betul-betul ingin menjalankan kaedah-kaedah bahasa.

Di dalam sistem persekolahan Australia diajarkan bahasa Mandarin dan Spanyol karena kaedahnya
pasti. Begitu juga bahasa Indonesia akhirnya kita harus menuntut kaedahnya itu pasti. Kaedah yang
pasti ialah kaedah yang memberi ketaatasasan, kekonsekuenan. Jangan sampai satu kaedah dapat
ditafsirkan tiga-empat macam.

Sumber lainnya yang sulit diperbaiki yaitu pendidikan pengajar. Khususnya guru bahasa di Indonesia,
baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, sangat terabaikan. Jika kita menoleh secara historis
dan tanpa mau tidak menghormati tokoh sejarah, maka sebenarnya yang bertanggung jawab atas
kemunduran pendidikan di Indonesia adalah Muhammad Yamin. Muhammad Yamin waktu itu
Menteri Pendidikan dan ikut menciptakan kursus-kursus A dan B. Dahulu saya mengikuti untuk
diplomasi B atau A kemudian menjadi PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru). PTPG memberi
ijazah dan tidak memberi gelar. Lalu diusahakan ada satu lembaga yang memberi gelar sarjana. Dan
kepala jurusan menjadi dekan. Dekan menjadi rektor. Kalau di IKIP dulu diajarkan 50 persen ilmu
pendidikan, di antaranya filsafat pendidikan, psikologi perkembangan. Artinya, sekarang kita pun
masih menderita akibat guru-guru yang tidak berkualifikasi, tidak memberikan semangat yang besar.
Saya mendapat informasi dari Badan Penelitian, Pengembangan Kementerian Pendidikan—sekarang
masih disebut Balitbang—bahwa guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita hanya 17 persen yang
berkualifikasi. Bagaimana bisa mengharapkan peserta didik, yang setelah enam tahun mempelajari
bahasa Inggris, dapat memakai bahasa Inggris? Bagaimana menjelaskan dalam ujian akhir nasional
ada SMA yang 100 persen anak didiknya tidak lulus? Kalau 100 persen lulus itu lazim. Tapi, ini harus
masuk catatan rekor: 100 persen tidak lulus. Sebabnya itu bahasa Indonesia dan Inggris.

Anak Indonesia mempunyai otak yang sebenarnya potensial, sama dengan anak Australia, Amerika,
China. Itu dibuktikan oleh kelompok

yang dididik oleh Profesor Yohanes Surya dan bertarung di dalam olimpiade ilmu pengetahuan.
Berapa banyak hadiah atau mendali emas, perak, dan perunggu dapat dibawa pulang? Mengapa
tidak ada juara mengarang bahasa Indonesia atau Inggris secara internasional? Kita ini mau disebut
seperti judul roman “salah asuhan”. Kita memang “salah asuhan” dalam bidang bahasa.

Di dalam ikhtisar saya ditulis bahasa akronim dan singkatan. Sehingga, bila anda temukan singkatan
seperti “dst” walaupun terdiri atas tiga huruf tetapi karena dibakukan, semua orang akhirnya harus
mempelajari artinya. Jika anda ditanya apa yang harus diajarkan “lansia” atau “manula”, anda bisa
jawab dari keduanya tidak ada yang perlu diajarkan. Ajarkan saja “manusia lanjut usia.” Jangan ikut
arus. Sebab, tidak ada hentinya nanti dan itu namanya pembodohan rakyat, bukan pencerdasan.

Saya betul-betul yakin bahwa jika kita dapat dicerdaskan, kita menjadi salah satu negara atau
masyarakat yang besar. Dari 200 juta lebih masak tidak ada yang dapat memimpin, dengan
meningkatkan taraf sumber daya manusia mulai dari awal.

Tadi ada yang bertanya, dari mana kita harus mulai? Mulainya itu adalah kita mengharapkan nanti
tahun 2014 ada presiden dan menteri pendidikan yang mempunyai perhatian. Kita boleh saja
menerima anggaran pendidikan 20 persen yang mendekati 100 triliun. Tetapi, apabila tidak
mempunyai rencana, mau apa lagi? Mau dibagi-bagikan saja, bermutu tidak bermutu tidak
diperhatikan yang penting uang habis? Kalau menteri pendidikan tidak mempunyai rencana, hanya
didekte oleh bawahan-bawahannya, terjadilah seperti sekarang.

Apa yang hendak diperbaiki tentang rintisan sekolah berstandar internasional? Tanya kepada
menteri pendidikan kita, itu bagus atau tidak bagus? Dia akan melihat ke direktur jenderal
pendidikan tinggi apakah itu sesuai atau tidak? Jika menteri pendidikan kita dapat mempunyai
program, tentu akan mulai dengan mengatakan akan memperbaiki sekolah dasar, lalu sekolah
menengah, lalu universitas. Jangan seperti sekarang ramai-ramai membingungkan diri apakah kita
sudah menjadi universitas berkelas dunia dan menempati kedudukan nomor lima atau sepuluh. Itu
semua hanya meninabobokkan diri kita sendiri.

Kita tidak perlu dari satu ekstrim ke ekstrim lain. Masalah akronim itu akibat dari kerumitan
kekomplekan budaya modern. Lihat saja pengaruh komputer dan internet, seperti “online” yang
harus diartikan. Komputer dan internet ikut membantu pertumbuhan akronim-akronim yang baru di
dalam bahasa. Masalahnya, apakah kita merasa terpanggil untuk mengompakkannya ke dalam
bahasa kita?
Mana yang lebih lazim dipakai sampai sekarang, “download” atau “mengunduh”, “upload” atau
“mengunggah”, “mouse” atau “tetikus.” Kalau “tetikus” seperti tikus, ditertawakan. Usaha untuk
mengindonesiakan saja ditertawakan. Kita memang beranggapan tidak bisa lebih bagus dari bahasa
Inggris.

Media pers memiliki kewenangan untuk juga mengembangkan peristilahan yang tidak bisa
menjadikan monopoli Pusat Bahasa. Dari anda juga diharapkan daya cipta, misalnya bagaimana
mengindonesiakan bailout. Bailout itu bukan “dana talangan” atau “tidak menalangi.” Inti makna
bailout adalah penyelamatan dengan suntikan uang untuk menghindari kebangkrutan.

Inilah antara lain yang membawa ke permasalahan betapa pentingnya kamus untuk wartawan. Saya
rasa kamus belum menjadi sahabat anda (wartawan). Sebab, andaikata jadi sahabat, tidak akan
muncul kata yang di bahasa Indonesia modern itu menimbulkan pertanyaan. Untuk itulah dianjurkan
sekurang-kurangnya di setiap kantor harus ada kamus bahasa Inggris dan kamus bahasa Indonesia.
Jika tidak ingin memakai kamus bahasa Inggris yang monoligual, belilah kamus dwi bahasa: Inggris-
Indonesia. Yang saya pakai sekarang ialah kamus Inggris-Melayu.

Mauluddin Anwar:

Pak Profesor (Anton M Moeliono) sudah luar biasa memberikan

pencerahan kepada kita, terutama media. Sesungguhnya saya ingin katakan betapa kita sering
melakukan kesalahan dan salah kaprah dalam penggunaan bahasa yang mestinya baik dan benar,
meskipun tidak ketinggalan zaman.

Saya setuju apa yang digelisahkan Mas Arya Gunawan. Tapi, yang paling merisaukan adalah bahasa
anak-anak sekarang, terutama yang digunakan untuk SMS. Anak umur 12 tahun kadang-kadang
menggunakan satu huruf “g” untuk bermacam istilah atau kemungkinan dalam berbahasa. Mau
tidak mau itu pun akhirnya mempengaruhi bahasa gaulnya anak-anak dan juga masuk ke acara
televisi. Anak-anak sekarang punya program di televisi. Bahkan infotainmen membawa kata-kata
yang biasa digunakan anak muda, yang menurut saya sudah melangkah dari bahasa baku.

Bisa dibayangkan, kita sekarang sudah resah dengan begitu banyaknya bahasa, akronim, apalagi 10
atau 20 tahun yang akan datang. Setelah anak-anak tumbuh dan menjadi wartawan atau memimpin,
betapa rusaknya bahasa mereka. Saya lebih konsen pada masalah itu daripada misalnya penggunaan
istilah-istilah yang sebetulnya tidak lebih banyak digunakan. Timbul bahasa-bahasa baru yang
digunakan anak-anak sekarang, terutama lewat SMS dan facebook.

Betul, sambil menunggu sikap pemerintah yang susah diharapkan, media juga harus punya
komitmen sendiri bersama-sama. Harus ada komitmen dari masing-masing media, mungkin menolak
kalau ada istilah-istilah yang tidak lazim dan dipaksakan oleh pemerintah. Kita tahu pemerintah
pusat sampai ke daerah gampang sekali menggunakan istilah. Misalnya “Tangerang Beriman”
(bersih, indah, aman). Itu penciptaan yang mempersulit pengertian kita.

Salah satu hal yang paling menerima dampak munculnya akronim adalah warga asing yang
mempelajari bahasa Indonesia dan terutama warga negara Indonesia yang sudah lama tidak ke
Indonesia. Itu yang pernah disampaikan Mas Farid, dalam sebuah kesempatan, bahwa munculnya
akronim yang salah kaprah akan makin membingungkan warga negara asing untuk mempelajari
bahasa Indonesia. Media cetak, misalnya, menyebut sebuah perusahaan dengan singkatan PT. ALS.
Tapi, sehari kemudian media itu menggunakan singkatan yang sama untuk perusahaan lainnya.
Belum lagi orang Indonesia suka berebut istilah. Misalnya, LSI saja ada: Lingkaran Survei Indonesia,
Lembaga Survei Indonesia.

Memang sudah saatnya media ikut memperbaiki penggunaan bahasa. Sekarang di masing-masing
media saya rasa sudah ada litbang yang menangani persoalan bahasa. Tapi, mungkin belum ada
tindakan yang lebih galak. Kalau kita tidak bisa menunggu langkah dari pemerintah, mengapa media
tidak menciptakan atau hanya menggunakan bahasa yang baku yang akan dipakai masyarakat.

Media tidak harus menggunakan banyak akronim. Misalnya di televisi, nama PT Salamah Arwana
Lestari dalam kasus Susno Duadji tidak disebut PT SAL. Yang kita gunakan awalannya yaitu PT
Salamah. Itu salah satu yang kita bakukan. Daripada menggunakan akronim lebih baik menggunakan
kata pertama dari sebuah nama yang panjang. Sudah saatnya media ikut memperjuangkan bahasa
kita agar tidak punah atau rusak seperti yang kita risaukan.

Mengenai kriteria akronim yang lazim dan mudah diucapkan, beberapa akronim sudah akrab di
masyarakat, misalnya “KPK”. Komisi Yudisial belum cukup terkenal maka kita tidak akan gunakan
“KY”. “KPK” selain enak didengar juga lazim digunakan, dan di SCTV diperbolehkan digunakan.
Tetapi, misalnya “UKP3R” atau singkatan lain yang panjang dan susah menyebutkannya, maka
biasanya ditinggalkan atau tidak dipakai.

Uu Suhardi:

Ada pertanyaan, bagaimana kita mengetahui akronim itu bisa dipahami pembaca? Justru kita tidak
tahu makanya kami (Tempo) menolak akronim. Seperti “lansia” atau “manula” tidak kita pakai.

Kadang-kadang ada akronim yang lolos karena itu perkataan dari narasumber yang harus dilaporkan
apa adanya.

Soal pembakuan kaedah akronim, seperti yang saya sampaikan, akronim itu banyak untuk main-
main. Akronim juga menjadi kata sandi dan kalau dibakukan bukan rahasia lagi. Yang bisa dilakukan
media adalah menolak akronim yang main-main.

SESI DIALOG

Eman Dapa Loka (Majalah Inspirasi, Peserta):

Beberapa waktu lalu ketika Paul, si gurita peramal, berhasil meramal bahwa Spanyol akan menang
(dalam Sepakbola Piala Dunia), timbul berita-berita di Indonesia begini: “Si Paul berhasil meramal,
dia mau digoreng.” Sering kali pers menggunakan kalimat pasif lalu membuat kalimatnya menjadi
tidak jelas.
Saya mencoba menganalisanya, apakah karena ada keinginan dari wartawan untuk
menyembunyikan subyek atau karena pengaruh bahasa daerah yang selalu menggunakan kalimat
aktif?

Sepertinya tadi disepakati boleh menggunakan akronim tapi harus jelas aturannya atau dibakukan
agar tidak menimbulkan kebingungan. Pertanyaan saya, baku seperti apa? Misalnya, kita mau
gunakan “markus” atau “maksus”? Karena penggunakan “markus” merupakan bentuk kriminalisasi
terhadap “Markus” yang orang suci itu.

Galih (Harian Kompas/Peserta):

Profesor Anton Moeliono mengatakan untuk menghindari kerancuan penggunaan akronim perlu ada
pembakuan. Permasalahannya, pemakai bahasa Indonesia tidak mau atau tidak mau tahu sehingga
mereka seenaknya menggunakan akronim. Tidak hanya akronim tetapi juga bahasa Indonesia yang
lain. Misalnya penggunakan “merubah” yang seharusnya “mengubah”. Saya pernah tanyakan hal ini
di sebuah kelas SMA. Hampir setengahnya mengatakan yang benar adalah “merubah”. Ketika saya
jelaskan mereka kaget bahwa “merubah’ itu sama dengan “menjadi rubah.”

SMS ternyata berperan cukup besar dalam penggunaan dan pembuatan akronim karena hanya
menyediakan sedikit karakter, sementara penulis SMS harus pandai mengatur. Misalnya ada “TTDJ”
yang artinya “hati-hati di jalan.” “Jl Gatot Subroto pamer paha” artinya “padat merayap tanpa
harapan.”

Kompas pernah menggunakan “Kepala Polri” alih-alih “Kapolri”. Alasannya untuk menghindari
pemakaian singkatan dalam singkatan. Namun, sekarang mau tidak mau menggunakan “Kapolri”
dengan alasan area judul yang sempit. “Kepala Polri” sudah tidak efisien dan masyarakat lebih
mengetahui “Kapolri”.

Penamaan “KontraS”—kalau kita perhatikan huruf “S” di belakang nama itu huruf kapital. Mana
yang akan kita ikuti, KontrasS dengan “S” kapital di belakang karena nama diri, atau hanya “K” yang
besar? Sekarang memang ada organisasi atau lembaga yang suka membuat akronim dengan huruf
kecil atau besar di tengah, seperti memang berantakan.

Apolo (Harian Kompas, Peserta):

Akronim tidak harus ditakuti. Kita perlu akronim. Kompas memang punya sikap: diharamkan
menggunakan akronim untuk judul. Akronim tidak perlu ditakuti tapi tergantung bagaimana media
massa bersikap, tidak serta merta mengikuti akronim yang muncul.

Lembaga apakah yang bertanggung jawab menegur media massa yang menggunakan akronim yang
tidak taat asas atau kaedah yang ditetapkan?

Tempo, misalnya, mengharamkan akronim tapi bisa juga dikatakan sekali-kali menggunakan
akronim, contohnya “DPR”. Mereka tidak
memberi kepanjangannya karena pembaca sudah tahu. Namun, ada pemikiran lain. Penyebutan
“DPR” harus tetap diberi kepanjangannya dengan pemikiran entah berapa tahun kemudian, ketika
ada orang membaca Tempo, sudah tidak tahu lagi apa yang dimaksud “DPR” kalau tidak diberi
kepanjangannya.

Media massa bisa meredam akronim asal ada niat baik bersikap untuk menghambat penyebarannya
secara terus menerus.

Yaya (Peserta):

Kementerian Aparatur Negara bekerjasama dengan Universitas Indonesia menyusun kerangka


reformasi birokrasi. Pada bagian akhir perumusan, saya dilibatkan, dua tahun lalu. Masalah akronim
dan singkatan masuk ke dalam bagian tata naskah dinas dalam reformasi birokrasi. Di dalam tata
naskah dinas, atau saya menyebutnya ragam bahasa birokrasi, ada banyak penggunaan akronim
seperti “a.n.” Ini betul-betul berkaitan dengan implementasi reformasi birokrasi. Waktu itu saya
sangat setuju jika reformasi bahasa birokrasi menjadi bagian dari sasaran Menpan karena memang
Pusat Bahasa berada di dalamnya. Waktu itu saya mendapat tugas dari Pusat Bahasa untuk bersama-
sama dengan tim kecil.

Saya mendapat tugas untuk menyusun seluruh akronim yang ada di buku Depdikbud. Dan ternyata
memang berkelimpah, sulit sekali dibakukan. Oleh karena itu, keputusannya adalah membuat pola
yang dasarnya enak didengar. Waktu itu kami menyisipkan bahwa yang harus ditambahkan dalam
pembentukan akronim bukan hanya keselarasan, kaedah, dan kelaziman dalam bunyi bahasa
Indonesia tetapi juga tidak berkonotasi buruk. Sebab, terutama di daerah, akronim sedikit-dikit
diplesetkan. Plesetannya porno. Karena itu, sekda (sekretariat daerah) diganti menjadi setda,
sedangkan sekretarisnya menjadi sesda.

Saya mencoba menaatasaskan melalui ejaan yang disempurnakan (EYD) dan memang masih banyak
kekurangan, belum tertampung semua. Karena itu, saya memaslahatkan kamus sebagai bagian dari
penelitian saya untuk membuat pola-pola yang lebih manis, yang enak didengar tetapi tidak
melanggar kaedah.

Saya sedih sekali mendengar “Bandara Suta” sebagai singkatan “Bandara Soekarno Hatta.” Soekarno
Hatta kebanggaan kita sehingga bandara diberi nama itu. Tetapi, mengapa diakronimkan menjadi
“Suta?” Sepertinya lebih beken tapi tidak positif.

Kondisi sosial kita memang sangat luar biasa. Dengan 760 lebih kultur bangsa, lewat yang disebut
bahasa daerah, ikatan emosi sangat tinggi. Kondisi kebahasaan, umumnya memilih kata, banyak
sekali yang ditautkan dengan emosi kultur. Karena itu, akronim atau singkatan tidak perlu
diharamkan. Lagi pula mari kita hindarkan konsep atau istilah yang berkaitan dengan kaedah
keagamaan. Kaedah agama jelas itu perintah yang Maha. Gunakan metafor yang lain, jangan
menyebut haram dan halal. Saya merasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Indonesia
satu, ikut membudayakan kata “fitnah”: “Saudara, ini budaya fitnah”. Saya kira beliau bisa
menghindarkan kata itu.
Konotasi bahasa yang diplesetkan, yang buruk, mungkin bisa diredam walaupun tidak disebut
haram. Sebenarnya media massa sebagai pengguna, seperti juga saya pengguna akronim. Jadi, kalau
sudah ada acuan, kita coba mengimplementasikan acuan itu sejauh mungkin, sebanyaknya, kalau
memang perlu. Jangan keluar dari konsep yang disepakati. Sebagai pengguna, media massa kalau
perlu meminta kepada Pusat Bahasa, atau Pusat Bahasa yang harus memberikan seluruh hasil
glosarium kepada pengguna. Nomor satu yaitu kepada sektor pendidikan dan jurnalistik.

Sulistino (Suratkabar Mitra Indonesia/Peserta):

Sering kali media kecil menjadi korban dari media besar seperti Kompas, Tempo. Saya ingat sekali
kata “memesona”. Di Kompas keluar kata “memesona.” Kami jadi rebut, mana yang benar,
“memesona” atau

“mempesona?” Tempo tetap “mempesona”. Ada banyak contoh lagi kata baru yang dibuat media
besar dan kemudian media kecil, supaya keren, ikut juga.

Bisa tidak untuk istilah baru atau akronim, media-media besar berkompromi mau pakai yang mana.

TANGGAPAN PEMBICARA

Uu Suhardi:

Untuk penyebutan “DPR,” di Tempo disebutkan dulu kepanjangannya baru kemudian ditulis “DPR.”
Sehingga orang tidak lupa puluhan tahun nanti bahwa DPR itu Dewan Perwakilan Rakyat.

Dalam diskusi di Pusat Bahasa saya selalu menyarankan, mari kita perangi akronim. Sebagian
menanggapi setuju walaupun hati-hati karena begitu banyaknya akronim dan begitu kerasnya
perjuangan untuk itu. Tapi, yang penting niat untuk melawannya.

Soal “memesona” atau “mempesona”, Tempo punya kebijakan bahwa bahasa selain soal kaedah
juga terkait dengan rasa. Tempo merasa “mempesona” lebih berbunyi daripada “memesona”. Kami
sempat mengadakan rapat, mengumpulkan semua wartawan, mana yang mau dipakai, “memesona”
atau “mempesona”? Enak “mempesona” maka dipakai “mempesona”. “Memengaruhi” atau
“mempengaruhi”? Kami sepakat memakai “mempengaruhi” karena lebih enak. “Memosisikan” atau
“memposisikan”, sebagian besar memilih “memposisikan”.

Mauluddin Anwar:

Ada semacam dilema terutama di televisi—kalau di media cetak dilemanya tidak terlalu besar.
Seperti tadi disampaikan Mas Uu dari Tempo, mana yang diambil, “memesona” atau “mempesona”?
Kalau di televisi ada pertimbangan lain: gampang diucapkan.

Ketika SCTV mendapatkan hal-hal baru dari Pusat Bahasa, dilemanya, apakah kita mau mengambil
kata baku tetapi masih asing dan kita ikut andil di dalamnya untuk memasyarakatkan atau
mengambil yang sudah memasyarakat dan kita ikut bersama menggunakannya? Misalnya kata
“mengunggah” atau “meng-upload”. “Mengunggah” kelihatan sekali mudah diucapkan.

Bagaimanapun kita tetap membutuhkan pedoman baku, sehingga kita tahu mana yang benar mana
yang salah. Tentu saja kita akan mengambil yang benar kalau bisa. Tapi, sekali lagi, ada beberapa
pertimbangan lain, termasuk untuk televisi, yaitu harus enak didengar, mudah diucapkan, dan
masyarakat pun tahu apa artinya.

Kalau kita baca novel Remy Silado, banyak kata baru yang tidak dikenal tetapi baku. Apakah kita mau
membawa bahasa Mas Remy ke berita televisi yang harus dipahami oleh anak kecil sampai profesor?
Itu dilema yang harus kita jawab. Kita harus memasyarakatkan kata-kata yang baku tetapi juga tidak
susah untuk dimengerti masyarakat.

Anton M. Moeliono:

“Fatwa” dalam bahasa Melayu “petuah”, sekedar nasehat. Saya ingin mulai apa yang kita simpulkan
dari dialog mengenai pembakuan. Menetapkan baku pemakaian akronim dan singkatan. Salah satu
yang menarik yang diungkapkan Kompas: di dalam Tajuk jangan memakai akronim. Ini, misalnya,
bisa menjadi kaedah yang disepakati dan menjadi baku untuk semua media.

Kaedah lain yang dapat disepakati ialah akronim pemerintah jangan dipakai sebagai akronim lagi
karena kita tidak bisa mengubah akronim pemerintah. Biar birokrasi yang menggunakan akronim.
Jadi, akronim berlaku untuk wilayah, ranah, dan daerah yang berkepentingan. Untuk angkatan
bersenjata silahkan mau memakai “alutsista”. Atau Lemhamnas mau bercakap tentang
Epoleksosbud. Tapi, jangan dibiarkan merambah ke wilayah lain.

Saat mengutip satu akronim, tetap tulis lengkapnya. Ini memberi pendidikan bahwa media tidak
sekadar menggambarkan apa yang menjadi kebiasaan di dalam masyarakat. Kadar pendidikan
masyarakat Indonesia kira-kira 70 persen masih hanya lulusan sekolah dasar. Di dalam pendidikan,
apakah kita menurunkan diri atau kita angkat mereka? Itu menjadi sikap.

Beralih ke pemakaian bahasa yang tepat, saya senang dipakai “mengubah” dan “berubah”. Di situlah
saya ingin menganjurkan kalangan media massa mengikuti pola paradigma yang dianjurkan oleh
Pusat Bahasa.

Sebagai contoh: kaitan makna antara penulisan dan tulisan menjadi jelas jika saya deretkan: menulis,
penulis, penulisan, tulisan. Ini hendaknya dijadikan patokan. Menulis itu verbanya, penulis itu
pelakunya, penulisan itu prosesnya, tulisan itu hasilnya. Jika pola ini diterapkan pada yang lain dalam
bahasa Indonesia maka menjadi: mengubah, pengubah, pengubahan, ubahan. Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia 1945 itu “diubah” yang berasal dari “mengubah” bukan “berubah”. Panitia
kerja di MPR atau DPR menjadi panitia “pengubah” dan prosesnya “pengubahan”, hasilnya “ubahan”
bukan “perubahan”.

Di sini kita bisa mencerdaskan pemakaian bahasa Indonesia, bisa meningkatkan kualitas pemakaian.
Mungkin sekali pemerintah pun harus diajari bagaimana berbahasa Indonesia. Maklum, mayoritas
PNS hanya Sekolah Menengah Atas.
Di dalam bahasa Indonesia, jika kalimatnya dipusatkan kepada pelakunya, maka dipakai kalimat
aktif. Jika tekanannya tidak pada subyek sebagai pelaku, dibuat kalimat pasif. Dalam hal ini media
massa sebagai langkah pertama dapat mengoreksi diri dalam pemakaian bahasa “pencuri berhasil
ditangkap”. Di sini yang berhasil polisi kan? Keanehan logikanya akan muncul jika “berhasil” diubah
menjadi “berusaha.” Pencuri tidak berusaha ditangkap, karena dia justru berusaha untuk tidak
ditangkap.

Soal SMS, di sini kita menjadi guru masyarakat. Jika SMS dibahasaindonesiakan menjadi “surat
menyurat singkat,” anda kan tidak mengirim surat menyurat singkat? Yang anda kirim adalah pesan
singkat. Di dalam bahasa Inggris namanya a text message. Kita bisa memasyarakatkan menjadi
“pesan teks” bukan “SMS”. Dari sudut jumlah suku, “pesan teks” itu lebih ringkas dari SMS.

Masalah nama KontraS, dipersoalkan yang dianggap serius. Pada hemat saya apakah kapital ditulis di
tengah, di awal, atau di akhir itu daya kreativitas orang perorang. Dia mau menulis namanya dengan
sedikit variasi. Bagi saya tidak untuk segala hal harus ada polisi. Dahulu ada seorang yang terkenal di
dunia sastra dari Aceh, namanya Meraxsa. Meraxsa ditulisnya dengan huruf “x”. Apakah hal itu
salah? Di Indonesia warga negara sudah begitu terbatas kebebasannya, biarlah dia menikmati
kebebasan yang terbatas itu.

Soal “memesona”, sayang sekali bahwa saya tidak ikut di dalam perundingan untuk menaatasaskan
pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia sebenarnya mengenal beberapa “per”. Ada “per” yang berasal
dari “pra”. Seperti “perwira” dari “prawira.” Itu menjadi bagian dari kata yang dapat diluluhkan.
“Pesona” yang aslinya bahasa Arab Persia “absun”, jika mau taat asas menjadi “memesona.” Tetapi,
setiap kaedah tentu ada perkecualiannya, entah karena bunyi dan lainnya. Itu dibolehkan saja,
disepakati.

Ada “per” yang berasal dari ‘ber.” “Mempersuamikan” menjadikan “bersuami.” “Memperhatikan”
menjadi “berhati-hati.” Di situ sudah dibuah “ber” menjadi “per,” jangan diubah lagi menjadi “mer”.
“Mempertemukan”, “memperbandingkan” berasal dari “ber” yang memang tidak diajarkan di
sekolah.

Saya mengakui, demi kebebasan dari media pers, alangkah bersyukurlah kita kalau anggota media
pers bersepakat mau “memesona” atau “mempesona.” Kalau dianggap “mempesona” lebih
berbunyi, silahkan dipakai, dianggap sebagai perkecualian.

Yang saya maksudkan pembakuan yaitu ada kesepakatan pendapat di antara warga, di antara
wilayah pers. Mana-mana yang tidak dapat

disanggah oleh pers karena kuasa yang lebih tinggi, kita hindari. Walaupun badan pemerintah
menyebut dirinya “bakosutarnal,” tidak usah diambil alih “bakosutarnal.” Tulis lengkapnya saja.
Bahwa di kalangan birokrasi ada penjelasan yang terang, itu tanggung jawab mereka. Untuk
memberi informasi yang jelas kapada pembaca, kita tidak wajib memakai akronim. Jika memakai
akronim harus ada jaminan akronim itu dipahami. Anda selaku wartawan bersepakatlah dan tidak
perlu memakai akronim.
Jika ada orang ingin memakai akronim selama tidak memakai bentuk tertulisnya, tidak menjadi
masalah. Kita tidak mungkin mengatur bahasa gaul. Bahasa gaul mempunyai hak hidup tersendiri.
Biarkan. Jangan ingin mengatur bahasa gaul. Kita berhubungan dengan bahasa formal.

Jika ada orang asing yang mengeluh berkata “saya belajar bertahun-tahun bahasa Indonesia di
universitas, datang ke Indonesia tidak ada yang mengerti. Saya memakai bahasa formal sedang
rakyat memakai bahasa tak formal, bahasa sehari-hari.” Itulah keadaan Indonesia yang belum maju.

Kita menghadapi keadaan, istilah kerennya, diglosia. Ada bahasa sehari-hari yang tidak formal yang
apa saja boleh dan bahasa yang baku. Bahasa baku inilah yang akan memajukan bangsa Indonesia.
Kalau ada orang asing memakai bahasa yang baku di warung kopi, paling-paling dia sedikit
diketawakan tapi dipahami. Lebih baik dia membuat kesalahan karena bahasanya terlalu formal
daripada tidak. Berlakulah di sini peristiwa yang masih saya ingat ketika Menteri Pendidikan
Wardiman bercerita kepada saya: Wakil Menteri Pendidikan Australia datang ke Indonesia yang
sebelumnya mempelajari bahasa Indonesia. Dia sama sekali tidak tahu kelaziman tutur sapa:
“Selamat siang bapak menteri, bagaimana kamu sekarang?” “Kamu” adalah “you”.

Rita Sri Hastuti:

Apa yang disampaikan Pak Anton barangkali karena bahasa Indonesia masih terus berkembang.
Inilah tantangan media massa untuk ikut mencerdaskan bangsa. Kesempatan kita menentukan atau
memilih kata yang tepat itu terkait dengan bisa diterima atau tidak oleh masyarakat. Kalau memilih
bukan sekedar memilih tetapi betul-betul paham. Akrablah dengan kamus.*

(Naskah ini dimuat di dalam buku "Etika Penyiaran, Bahasa Jurnalistik, dan Peran Pers dalam Diplomasi" yang diterbitkan
LPDS tahun 2010. Buku tersebut memuat pemikiran yang muncul dalam tiga hari lokakarya media massa yang
diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun LPDS ke-22)

04 Maret 2010
JARGON POLITIK
Di mana akronim-akronim lahir?
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang muda dan rupanya orang-orang yang
mengunakan bahasa Indonesia suka sekali mengubah dan mengadakan eksperimen
bahasa ini. Bahasa Indonesia terkenal berisi banyak akronim dan singkatan, yang
digunakan sehari-hari. Kebanyakan orang tahu artinya akronim-akronim itu, dan tersebar
luas di seluruh Indonesia. Bisa dilihat di dalam koran, plakat besar, dan dilihat dari televisi.
Ada banyak akronim resmi dari media massa dan dimengerti oleh masyarat luas, itu hanya
karena kebiasaan sehari-hari.
Dengan membuka koran saja, banyak akronim bisa dilihat. Bukan kata politik saja, tetapi
juga dari bidang olah raga dan bisnis. Kebanyakan kata ini menurut editor sudah diketahui
oleh banyak orang, tetapi kadang-kadang ada juga yang memerlukan keterangan.
Baru-baru ini, terbit di The Manila Times, terdapat artikel tentang adanya akronim-akronim
dalam bahasa Indonesia yang berlebihan. Semakin lama, semakin banyak akronim-akronim
dan singkatan dikenalkan di dalam bahasa; dan semakin susah untuk orang-orang asing
mengerti dan orang Indonesia sendiripun banyak yang tidak mengerti istilah-istilah tersebut.
(Suwastoyo August 31, 2004).
Menurut Pak Arjun yang ahli bahasa, pebedaan di antara akronim dan singkatan adalah
bahwa akronim bisa dibaca sebagai kata, misalnya ‘polri’. Akronim adalah jenus singkatan,
tetapi kebanyakan singkatan adalah dilafalkan sebagai setiap huruf, misalnya ES-BE-YE
untuk SBY.
Bahwa ada banyak singkatan dalam Bahasa Indonesia tidak perlu menjadi masalah karena
kebanyakan orang sudah tahu artinya. Tetapi setiap bidang mempunyai singkatan sendiri,
misalnya militer, mahasiswa, binis dan lain-lain. Mungkin ada masalah untuk seseorang
yang di luar bidang ini karena mereka belum tentu memahaminya.
Beberapa contoh akronim-akronim dan singkatan adalah sebagai berikut:
Bidang Politik
• SBY = Susilo Bambang Yudoyono
• PNS = Pegawai Negeri Sipil
• HAM = Hak Asasi Manusia
• DPR = Dewan Pewakilan Rakyat
• GolKar = Golongan Karya
• Pilkadal = Pemilihan Kepala Daerah Langsung
Bidang Pendidikan
• DPC = Dewan Pimpihan Cabang
• PTN = Perguruan Tinggi Negeri
• PTS = Perguruan Tinggi Swasta
• OrMah = Organisasi Mahasiswa
• UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa
Bidang Bisnis dan Eknomik
• BNI = Bank Nasional Indonesia
• BPK = Badan Pemeriksa Keuangan
• Kadin = Kamar Dagang dan Industri
• REI = Real Estate Indonesia
Bidang Olah raga
• KONI = Komite Olah raga Nasional Indonesia
• Arema = Arek Malang
• PSSI = Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia
• PBSI = Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia
Bidang Militeris dan Polisi
• TNI = Tentara Nasional Indonesia
• Polri = Polisi Republik Indonesia
• Kodam = Komando Daerah Militer
Menurut Manila Times, acara televisi dan dinas pemerintah di Indonesia melakukan
kesalahan dalam membuat dan menyebarkan singkatan baru.
Mengapa Orang Indonesia suka sekali membuat akronim-akronim? Dalam pendapat Pak
Arjan itu untuk alasan yang sama, karena berkaitan dengan kemudahan, dan lebih cepat
untuk berbicara dan ditulis. Kata panjang dalam Bahasa Indonesia merupakan dorongan
munculnya akronim. Media massa suka sekali singkatan-singkatan untuk alasan ini, dan
kata baru disebarkan dengan bantuan media massa.
Sampai tingkat tertentu, semua bahasa-bahasa di dunia mengunakan singkatan dan
akronim, tetapi pasti di Indonesia itu lebih biasa. Menurut artikel dalam Manila Times,
masalah tertinggi adalah tidak ada peraturan nasional untuk mematuhi kalau membuat
singkatan atau akronim yang baru. Akibatnya, ada orang yang kuatir bahwa bahasa
Indonesia mungkin memburuk dalam ‘padan lisan pesan sms hand phone’ sebab banyak
akronim ini (Suwastoyo 2004).

Akronim-akronim resmi
Tidak hanya televisi yang membuat kata-kata baru, tetapi juga banyak akronim dibuat oleh
pemerintah, terutama pada masa menjelang pemilu. Selama masa kampanye pemilu, ada
banyak contoh akronim-akronim politik yang digunakan calon-calon berkali-kali.
Alasan bahwa politikus berbicara dalam semboyan adalah karena lebih mudah
dibandingkan dengan menggunakan kalimat lengkap. Singkatan-singkatan lebih pendek dan
sederhana, semboyan-semboyan lebih efektif dan ekonomi.
Banyak semboyan dipakai terlalu sering dan menjadi klise. Dalam buku program untuk calon
presiden tahun ini, ada kata tertentu yang muncul berkali-kali (Narwanto 2004). Misalnya
kata yang selalu diberbicarakan oleh calon-calon adalah KKN (Kolusi, Korrupsi dan
Nepotisme). Pasangan calon utama selama kampanye yang lalu, berjanji membuat kabinet
‘bebas KKN’. Mereka juga berjanji membantu HAM (Hak Asasi Manusia). Hal yang
terpenting adalah pemilu yang Jurdil (Jujur dan Adil). Kata-kata ini sudah menjadi kata yang
semua orang tahu dan populer. Karena itu, rupanya politikus-politikus hampir tidak harus
memikir tentang jawabannya sebelum mereka berkata sesuatu, mereka mengunakan
singkatan ini. Akibatnya, singkatan-singkatan ini hilang artinya, seperti semua klise, dan
menjadi kata kosong yang orang-orang tidak percaya lagi.
Pokok yang terpenting adalah bahwa kata-kata ini, terutama singkatan politik, dibuat
pemerintah dan ditujukan kepada masyarakat lewat media massa. Kata-kata ini tidak dibuat
oleh masyarakat sendiri, jadi orang biasa tidak merasa senang.

Bahasa politik
Selama pemilu presiden baru-baru ini, yang dipanggil pilpres (pemilihan presiden), bahasa
politik lebih tajam, karena pasangan calon ingin menyakinkan masyarakat mengenai
kebaikannya. Bahasa sangat penting sebagai alat untuk memberitahukan kebijaksanaannya
dan menyakinkan rakyat memberikan suaranya. Ada bahasa politik yang berbeda dengan
bahasa sehari-hari; politikus-politkus mengunakan semboyan-semboyan dan kata klise
dalam menyampaikan maksudnya. Selama waktu kampanye, banyak jargon digunakan,
seperti singkatan yang klise tersebut, dan sering kalau jargon digunakan, isu-isu yang benar
tidak dibahas. Rupanya semua partai memfokuskan tentang isu-isu yang sama, seperti
korupsi dan hak asasi manusia, tanpa menjelaskan solusi untuk isu-isu ini. Memang, pemilu
presiden baru, banyak orang mengkomentari dalam koran bahwa debat umum dangkal
sekali, dan calon-calon tidak memfokuskan kebijaksanaannya tetapi malahan pemilu ini
menunjukkan pasangan calon yang mana yang lebih kuat atau siapa yang mempunyai
penampilan lebih baik.
Bahasa politik tidak sekedar memberitahukan kebijaksanaan, tetapi lebih lagi. Setiap orang
perlu mengerti arti lain yang disembunyikan dalam katanya. Karena tidak ada sesuatu yang
berkata tanpa alasan bagus, dan setiap politikus tahu bagaimana mengatakan kata-kata
kosong sambil mewujudkan kesannya yang baik. Banyak orang tidak percaya politikus-
politikus karena masyarakat tahu bagaimana politikus-politikus pandai bersilat lidah dengan
mengunakan bahasa.
Bahasa politik adalah diawasi lewat pidato dan jawaban yang sudah siapkan. Seorang
responden dosen berkata, ‘Tidak ada kata dibicarakan tanpa memikirkan akibatnya. Mereka
bersembunyi di belakang bahasanya dan tidak mengatakan hal yang merugikan’. Alasan ini
karena bahasa adalah kuat sekali. Politikus mengunakan bahasa supaya menciptakan
kesannya, dan kesan ini adalah aspek yang terpaling hidupnya umum. Kalau mereka
memberi jawaban yang salah kepada pertanyaan wartawan, mereka mungkin menyakitkan
hati orang lain, dan menyebabkan perdebatan umum dan karirnya akan rusak. Karena itu,
politikus tahu bagaimana mengelak dari pertanyaan yang susah.
Dalam penelitian saya, ada petunjuk bahwa kebanyakan orang tidak percaya janji-janji dari
pemerintah, terutama pemerintah baru yang terpilih. Mereka tidak percaya bahwa politikus-
politikus bisa menghentikan korupsi atau bahwa mereka akan berkerja untuk kepentingan
rakyat. Seperti bunyi peribahasa: “Siapapun yang menjadi presiden, saya tetap miskin’. Dan
juga ‘Besok berubah lagi’.
Walaupun, menurut beberapa aktivis, ada banyak orang dalam kaum buruh yang percaya
janji presiden, yang adalah kontradiksi karena mereka yang sering menghilangkan banyak
kebijaksanaan dari pemerintah konservatif. Sementara itu orang di kelas menengah, yang
sudah terdidik tentang pemerintah, tidak percaya politikus tetapi mendapat keuntungan yang
lebih dari mereka.
Kebanyakan orang diwawancarai saya juga setuju bahwa ada kelompok-kelompok di
masyarakat yang dikesampingkan oleh politikus-politikus atau media massa. Kelompok-
kelompok ini termasuk orang miskin, perempuan dan petani. Kolompok yang tidak kaya atau
tidak mempunyai kekuasaan dan oleh karena itu lebih mudah untuk diabaikan.
Menarik bahwa beberapa orang berpikir ada terlalu banyak singkatan dalam bahasa
Indonesia, sambil orang yang lain tidak menganggap masalah ini. Singkatan yang termasuk
bidang politik adalah jargon politik, kata yang mungkin tidak dimengerti oleh semua orang
dalam masyarakat. Kalau seorang membaca koran atau menonton berita televisi, mereka
pasti belajar kata-kata ini. Tetapi ada orang-orang yang tidak membaca koran atau
menonton televisi, mereka tidak akan mengerti dan akibatnya tidak bisa mewahaminya.
Bahasa politik biasanya diawasi dengan teliti tetapi selalu terjadi kemungkinan kesalahan.
Ini kadang-kadang terjadi kalau politikus-politikus harus berbicara tanpa naskah yang
disiapkan terlebih dahulu.
Walaupun bahasa adalah penting dalam bidang politik, itu tidak selalu berhasil memperoleh
kepercayaan dari masyarakat. Alasan itu mungkin karena bahasa politik terlalu jauh dari
bahasa sehari-hari.
Jargon politik mempengaruhi wacana politik, karena orang yang ingin mengambil bagian
dalam debat umum, pasti harus tahu bagaimana mengunakan bahasa yang cocok.

Dikutip dari: "Bahasa dan Politik: Wacana Politik dan Plesetan", oleh Melanie Barnes

Diposting oleh Masnur Muslich di 3/04/2010 06:17:00 PM

04 Maret 2010
JARGON POLITIK
Di mana akronim-akronim lahir?
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang muda dan rupanya orang-orang yang
mengunakan bahasa Indonesia suka sekali mengubah dan mengadakan eksperimen
bahasa ini. Bahasa Indonesia terkenal berisi banyak akronim dan singkatan, yang
digunakan sehari-hari. Kebanyakan orang tahu artinya akronim-akronim itu, dan tersebar
luas di seluruh Indonesia. Bisa dilihat di dalam koran, plakat besar, dan dilihat dari televisi.
Ada banyak akronim resmi dari media massa dan dimengerti oleh masyarat luas, itu hanya
karena kebiasaan sehari-hari.
Dengan membuka koran saja, banyak akronim bisa dilihat. Bukan kata politik saja, tetapi
juga dari bidang olah raga dan bisnis. Kebanyakan kata ini menurut editor sudah diketahui
oleh banyak orang, tetapi kadang-kadang ada juga yang memerlukan keterangan.
Baru-baru ini, terbit di The Manila Times, terdapat artikel tentang adanya akronim-akronim
dalam bahasa Indonesia yang berlebihan. Semakin lama, semakin banyak akronim-akronim
dan singkatan dikenalkan di dalam bahasa; dan semakin susah untuk orang-orang asing
mengerti dan orang Indonesia sendiripun banyak yang tidak mengerti istilah-istilah tersebut.
(Suwastoyo August 31, 2004).
Menurut Pak Arjun yang ahli bahasa, pebedaan di antara akronim dan singkatan adalah
bahwa akronim bisa dibaca sebagai kata, misalnya ‘polri’. Akronim adalah jenus singkatan,
tetapi kebanyakan singkatan adalah dilafalkan sebagai setiap huruf, misalnya ES-BE-YE
untuk SBY.
Bahwa ada banyak singkatan dalam Bahasa Indonesia tidak perlu menjadi masalah karena
kebanyakan orang sudah tahu artinya. Tetapi setiap bidang mempunyai singkatan sendiri,
misalnya militer, mahasiswa, binis dan lain-lain. Mungkin ada masalah untuk seseorang
yang di luar bidang ini karena mereka belum tentu memahaminya.
Beberapa contoh akronim-akronim dan singkatan adalah sebagai berikut:
Bidang Politik
• SBY = Susilo Bambang Yudoyono
• PNS = Pegawai Negeri Sipil
• HAM = Hak Asasi Manusia
• DPR = Dewan Pewakilan Rakyat
• GolKar = Golongan Karya
• Pilkadal = Pemilihan Kepala Daerah Langsung
Bidang Pendidikan
• DPC = Dewan Pimpihan Cabang
• PTN = Perguruan Tinggi Negeri
• PTS = Perguruan Tinggi Swasta
• OrMah = Organisasi Mahasiswa
• UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa
Bidang Bisnis dan Eknomik
• BNI = Bank Nasional Indonesia
• BPK = Badan Pemeriksa Keuangan
• Kadin = Kamar Dagang dan Industri
• REI = Real Estate Indonesia
Bidang Olah raga
• KONI = Komite Olah raga Nasional Indonesia
• Arema = Arek Malang
• PSSI = Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia
• PBSI = Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia
Bidang Militeris dan Polisi
• TNI = Tentara Nasional Indonesia
• Polri = Polisi Republik Indonesia
• Kodam = Komando Daerah Militer
Menurut Manila Times, acara televisi dan dinas pemerintah di Indonesia melakukan
kesalahan dalam membuat dan menyebarkan singkatan baru.
Mengapa Orang Indonesia suka sekali membuat akronim-akronim? Dalam pendapat Pak
Arjan itu untuk alasan yang sama, karena berkaitan dengan kemudahan, dan lebih cepat
untuk berbicara dan ditulis. Kata panjang dalam Bahasa Indonesia merupakan dorongan
munculnya akronim. Media massa suka sekali singkatan-singkatan untuk alasan ini, dan
kata baru disebarkan dengan bantuan media massa.
Sampai tingkat tertentu, semua bahasa-bahasa di dunia mengunakan singkatan dan
akronim, tetapi pasti di Indonesia itu lebih biasa. Menurut artikel dalam Manila Times,
masalah tertinggi adalah tidak ada peraturan nasional untuk mematuhi kalau membuat
singkatan atau akronim yang baru. Akibatnya, ada orang yang kuatir bahwa bahasa
Indonesia mungkin memburuk dalam ‘padan lisan pesan sms hand phone’ sebab banyak
akronim ini (Suwastoyo 2004).

Akronim-akronim resmi
Tidak hanya televisi yang membuat kata-kata baru, tetapi juga banyak akronim dibuat oleh
pemerintah, terutama pada masa menjelang pemilu. Selama masa kampanye pemilu, ada
banyak contoh akronim-akronim politik yang digunakan calon-calon berkali-kali.
Alasan bahwa politikus berbicara dalam semboyan adalah karena lebih mudah
dibandingkan dengan menggunakan kalimat lengkap. Singkatan-singkatan lebih pendek dan
sederhana, semboyan-semboyan lebih efektif dan ekonomi.
Banyak semboyan dipakai terlalu sering dan menjadi klise. Dalam buku program untuk calon
presiden tahun ini, ada kata tertentu yang muncul berkali-kali (Narwanto 2004). Misalnya
kata yang selalu diberbicarakan oleh calon-calon adalah KKN (Kolusi, Korrupsi dan
Nepotisme). Pasangan calon utama selama kampanye yang lalu, berjanji membuat kabinet
‘bebas KKN’. Mereka juga berjanji membantu HAM (Hak Asasi Manusia). Hal yang
terpenting adalah pemilu yang Jurdil (Jujur dan Adil). Kata-kata ini sudah menjadi kata yang
semua orang tahu dan populer. Karena itu, rupanya politikus-politikus hampir tidak harus
memikir tentang jawabannya sebelum mereka berkata sesuatu, mereka mengunakan
singkatan ini. Akibatnya, singkatan-singkatan ini hilang artinya, seperti semua klise, dan
menjadi kata kosong yang orang-orang tidak percaya lagi.
Pokok yang terpenting adalah bahwa kata-kata ini, terutama singkatan politik, dibuat
pemerintah dan ditujukan kepada masyarakat lewat media massa. Kata-kata ini tidak dibuat
oleh masyarakat sendiri, jadi orang biasa tidak merasa senang.

Bahasa politik
Selama pemilu presiden baru-baru ini, yang dipanggil pilpres (pemilihan presiden), bahasa
politik lebih tajam, karena pasangan calon ingin menyakinkan masyarakat mengenai
kebaikannya. Bahasa sangat penting sebagai alat untuk memberitahukan kebijaksanaannya
dan menyakinkan rakyat memberikan suaranya. Ada bahasa politik yang berbeda dengan
bahasa sehari-hari; politikus-politkus mengunakan semboyan-semboyan dan kata klise
dalam menyampaikan maksudnya. Selama waktu kampanye, banyak jargon digunakan,
seperti singkatan yang klise tersebut, dan sering kalau jargon digunakan, isu-isu yang benar
tidak dibahas. Rupanya semua partai memfokuskan tentang isu-isu yang sama, seperti
korupsi dan hak asasi manusia, tanpa menjelaskan solusi untuk isu-isu ini. Memang, pemilu
presiden baru, banyak orang mengkomentari dalam koran bahwa debat umum dangkal
sekali, dan calon-calon tidak memfokuskan kebijaksanaannya tetapi malahan pemilu ini
menunjukkan pasangan calon yang mana yang lebih kuat atau siapa yang mempunyai
penampilan lebih baik.
Bahasa politik tidak sekedar memberitahukan kebijaksanaan, tetapi lebih lagi. Setiap orang
perlu mengerti arti lain yang disembunyikan dalam katanya. Karena tidak ada sesuatu yang
berkata tanpa alasan bagus, dan setiap politikus tahu bagaimana mengatakan kata-kata
kosong sambil mewujudkan kesannya yang baik. Banyak orang tidak percaya politikus-
politikus karena masyarakat tahu bagaimana politikus-politikus pandai bersilat lidah dengan
mengunakan bahasa.
Bahasa politik adalah diawasi lewat pidato dan jawaban yang sudah siapkan. Seorang
responden dosen berkata, ‘Tidak ada kata dibicarakan tanpa memikirkan akibatnya. Mereka
bersembunyi di belakang bahasanya dan tidak mengatakan hal yang merugikan’. Alasan ini
karena bahasa adalah kuat sekali. Politikus mengunakan bahasa supaya menciptakan
kesannya, dan kesan ini adalah aspek yang terpaling hidupnya umum. Kalau mereka
memberi jawaban yang salah kepada pertanyaan wartawan, mereka mungkin menyakitkan
hati orang lain, dan menyebabkan perdebatan umum dan karirnya akan rusak. Karena itu,
politikus tahu bagaimana mengelak dari pertanyaan yang susah.
Dalam penelitian saya, ada petunjuk bahwa kebanyakan orang tidak percaya janji-janji dari
pemerintah, terutama pemerintah baru yang terpilih. Mereka tidak percaya bahwa politikus-
politikus bisa menghentikan korupsi atau bahwa mereka akan berkerja untuk kepentingan
rakyat. Seperti bunyi peribahasa: “Siapapun yang menjadi presiden, saya tetap miskin’. Dan
juga ‘Besok berubah lagi’.
Walaupun, menurut beberapa aktivis, ada banyak orang dalam kaum buruh yang percaya
janji presiden, yang adalah kontradiksi karena mereka yang sering menghilangkan banyak
kebijaksanaan dari pemerintah konservatif. Sementara itu orang di kelas menengah, yang
sudah terdidik tentang pemerintah, tidak percaya politikus tetapi mendapat keuntungan yang
lebih dari mereka.
Kebanyakan orang diwawancarai saya juga setuju bahwa ada kelompok-kelompok di
masyarakat yang dikesampingkan oleh politikus-politikus atau media massa. Kelompok-
kelompok ini termasuk orang miskin, perempuan dan petani. Kolompok yang tidak kaya atau
tidak mempunyai kekuasaan dan oleh karena itu lebih mudah untuk diabaikan.
Menarik bahwa beberapa orang berpikir ada terlalu banyak singkatan dalam bahasa
Indonesia, sambil orang yang lain tidak menganggap masalah ini. Singkatan yang termasuk
bidang politik adalah jargon politik, kata yang mungkin tidak dimengerti oleh semua orang
dalam masyarakat. Kalau seorang membaca koran atau menonton berita televisi, mereka
pasti belajar kata-kata ini. Tetapi ada orang-orang yang tidak membaca koran atau
menonton televisi, mereka tidak akan mengerti dan akibatnya tidak bisa mewahaminya.
Bahasa politik biasanya diawasi dengan teliti tetapi selalu terjadi kemungkinan kesalahan.
Ini kadang-kadang terjadi kalau politikus-politikus harus berbicara tanpa naskah yang
disiapkan terlebih dahulu.
Walaupun bahasa adalah penting dalam bidang politik, itu tidak selalu berhasil memperoleh
kepercayaan dari masyarakat. Alasan itu mungkin karena bahasa politik terlalu jauh dari
bahasa sehari-hari.
Jargon politik mempengaruhi wacana politik, karena orang yang ingin mengambil bagian
dalam debat umum, pasti harus tahu bagaimana mengunakan bahasa yang cocok.

Dikutip dari: "Bahasa dan Politik: Wacana Politik dan Plesetan", oleh Melanie Barnes
Diposting oleh Masnur Muslich di 3/04/2010 06:17:00 PM

KISAHKU DI SMK MOTIVASI INSANI


blog ini dibuat untuk dapat memotivasi anak-anakku dan teman-teman guru di SMK Motivasi
Insani.

Rabu, 10 November 2010


Kisi-Kisi Debat Bahasa Indonesia SMK Th.2010

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Kementerian Pendidikan Nasional

2010
A. Latar Belakang

Kegiatan debat dalam Bahasa Indonesia dengan mengikuti suatu pola atau aturan tertentu
dapat dikatakan belum menjadi tradisi dalam kehidupan intelektual maupun dalam
keseharian. Belum terjadinya suatu perdebatan yang elegan di ranah pemerintahan maupun
di parlemen, seperti yang tertayang di televisi, setidak-tidaknya merupakan suatu gambaran
bahwa laku berdebat belum menjadi bagian dari sistem komunikasi di Indonesia, baik dalam
tingkat kelembagaan maupun personal. Sekaitan dengan kenyataan tersebut maka gagasan
untuk mengadakan lomba debat dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah kebutuhan,
terlebih lagi jika dikaitkan dengan dunia pendidikan.

Dalam Bahasa Inggris, debat formal atau lomba debat, sudah merupakan suatu kebiasaan
intelektual, baik di negara-negara berbahasa Inggris maupun bahkan juga di negara yang
bukan berbahasa-ibu Bahasa Inggris, seperti di Indonesia. Tentu merupakan hal yang
sangat kurang positif jika di negara seperti Indonesia yang dalam praktik pemerintahan
maupun dalam kehidupan sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia, para siswa,
utamanya di sekolah menengah, kurang atau malahan tidak mampu berdebat dengan
Bahasa Indonesia yang formal. Dalam hubungannya dengan hal ini, maka debat Bahasa
Indonesia, khususnya bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan dari seluruh provinsi di
Indonesia, akan diselenggarakan.

B. Tujuan

Tujuan diadakannya debat Bahasa Indonesia untuk siswa SMK ini adalah:

1. melatih kemampuan Bahasa Indonesia siswa dalam ragam resmi sebagai sarana
komunikasi formal dan intelektual;

2. menunjukkan kepada siapa saja bahwa Bahasa Indonesia pada dasarnya sederajat
dengan bahasa lain, yang mempunyai kemungknan untuk dipergunakan dalam suatu debat
yang elegan dan bercita rasa memadai; serta

3. mengondisikan dunia pendidikan pada umumnya bahwa Bahasa Indonesia merupakan suatu
bahasa yang lengkap, yang salah satu fungsinya dapat dipergunakan sebagai sarana
berdebat.

C. Topik
Mengingat bahwa pemakaian bahasa mengalami perkembangan dan dinamika yang pesat—
termasuk Bahasa Indonesia—maka dalam konteks Debat Bahasa Indonesia ini topik yang
ditentukan dan ditawarkan kepada calon peserta debat berkenaan dengan permasalahan
Bahasa Indonesia itu sendiri.

Topik-topik tersebut adalah sebagai berikut.

1. Fenomena “bahasa gaul” di Indonesia.

2. Bahasa SMS dewasa ini.

3. Bahasa sinetron kita.

4. Permasalahan singkatan dan akronim dalam Bahasa Indonesia.

5. Ragam “bahasa parlemen” dan “bahasa perundang-undangan”

D. Materi

Topik debat yang telah disebutkan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kelompok A
(Fenomena “bahasa gaul” di Indonesia, Bahasa SMS dewasa ini, Bahasa sinetron kita) untuk
babak penyisihan dan Kelompok B (Permasalahan akronim dalam Bahasa indonesia,
Ragam “bahasa parlemen” dan “bahas perundang-undangan ”) untuk babak semifinal dan
final.

E. Kisi-kisi Materi

I Kelompok A

1. Fenomena “bahasa gaul” di Indonesia

 Kesenjangan berbahasa antara anak muda dengan orang dewasa atau orang tua, akhir-
akhir ini, dapat dikatakan cukup lebar, Kalangan dewasa atau tua sering merasa kewalahan
atau bahkan tidak mampu memahami bahasa—utamanya pilihan kata—yang dipakai oleh
anak-anak muda dalam komunikasi sehari-hari.
 Kata seperti “bete” untuk menggambarkan ‘hati yang sedang tidak nyaman atau galau’,
“jaim” yang sesungguhnya akronim dari “jaga imaji” tetapi maknanya sudah melebar kepada
arti ‘bergaya’, “cupu” yang merupakan singkatan dari ‘culun punya’ untuk menggambarkan
seorang anak yang bertampang kampungan atau dari desa, “melow” untuk menggambarkan
‘suasana hati yang sedang sedih atau bermasalah’, atau “anjrit” yang merupakan umpatan
dari kata “anjing” yang disimpangkan, tidak sepenuhnya langsung dapat dipahami oleh
orang dewasa atau tua.

 Bahasa gaul yang banyak mengambil kosakata dari kalangan tertentu, seperti “akika”
untuk ‘aku’ atau “Titi DJ” untuk ‘hati-hati di jalan’ tidak selamanya efektif, khususnya bagi
penutur bahasa dari kalangan tua.

 Berkenaan dengan “bahasa gaul” ini akan timbul sejumlah pertanyaan.

 Mungkinkah “bahasa gaul” ini akan merusak Bahasa Indonesia?

 Haruskah dibuat peraturan agar siapa saja dilarang menggunakan “bahasa gaul”?

 Apakah “bahasa gaul” hanya milik orang kota?

 Apakah penutur bahasa—khususnya anak muda—di semua daerah di Indonesia akan


memahami “bahasa gaul” Jakarta, misalnya; ataukah setiap daerah akan mempunyai
“bahasa gaul” sendiri?

 Apakah “bahasa gaul” perlu diajarkan di sekolah atau masuk kurikulum?

2. Bahasa SMS dewasa ini

 Sejak populernya ponsel di Indonesia dan istimewanya di kalangan anak muda, sejak itu pula
terjadi “revolusi” dalam berkomunikasi.

 Dalam pesan yang disampaikan melalui ponsel, tidak lagi banyak kata yang ditulis
lengkap, melainkan disingkat, seperti “q”, “aq”, “w”, “ak”, atau “gw” untuk persona “aku”
atau “saya”. Contoh lainnya sangat banyak.

 Adakah singkatan kata dalam bahasa SMS itu selalu efektif atau berkemungkinan
menimbulkan salah paham?
 Bagaimana jika “bahasa SMS” itu ditulis lengkap?

 Bagaimana jika kebiasaan ber-“bahasa SMS” itu diterapkan dalam makalah di sekolah?

 Sesuaikah “bahasa SMS” itu bagi semua kalangan dan dalam berbagai situasi?

 Apakah “bahasa SMS” harus dilarang?

3. Bahasa sinetron kita

 Sinetron adalah program di televisi Indonesia yang paling banyak mendapat perhatian
dari pemirsa namun banyak yang menyayangkan segi bahasanya, terutama dalam dialog
atau percakapan.

 Apakah bahasa sinetron harus memakai bahasa khusus?

 Bagaimana kalau bahasa dalam sinetron bersifat formal?

 Bagaimana pula jika sinetron Indonesia lebih banyak memakai “bahasa gaul” atau “bahasa
Jakarta”?

 Adakah “bahasa sinetron” memang mencerminkan bahasa keseharian di Indonesia?

 Adakah pengaruh negatif, atau juga positif, dari “bahasa sinetron” bagi perkembangan
Bahasa Indonesia di masa datang?

 Haruskah “bahasa sinetron” diseragamkan?

 Sudah cukup kreatifkah dialog dalam “bahasa sinetron” kita?

II Kelompok B

1 Permasalahan singkatan dan akronim dalam Bahasa Indonesia

 Singkatan berbeda dengan akronim. Jika singkatan adalah penyingkatan sejumlah frase yang
diambil huruf pertamanya saja dan tidak dapat dibaca sebagai sebuah kata, maka akronim
dapat berupa penyingkatan yang diambil hanya dari huruf pertama maupun juga dari
gabungan huruf dan suku kata serta dapat dibaca sebagai sebuah kata. Contoh singkatan
adalah “TNI” sedangkan akronim adalah “Akabri”.

 Banyak yang berpendapat bahwa akronim setiap hari lahir; ada yang langsung dapat
dipahami oleh khalayak, seperti “curhat”, namun lebih banyak yang membingungkan
meskipun akronim itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Contoh untuk ini adalah
“minah” yang ternyata akronim dari “minyak tanah” atau “curcol” yang ternyata berasal dari
“curhat colongan”. Contoh terakhir ini lebih membingungkan sebab “curhat” sendiri adalah
sebuah akronim. Di masa lalu, hal seperti ini juga terjadi seperti AMD yang berasal dari ABRI
Masuk Desa”.

 Lahirnya banyak singkatan atau akronim adalah gejala tidak sehat dari suatu bahasa.
Sejumlah ahli menyatakan bahwa ketidaksehatan bahasa itu menunjukkan bahwa bahasa
bersangkutan adalah bahasa yang belum dewasa.

 Banyaknya singkatan atau akronim yang muncul di dalam Bahasa Indonesia juga menyiratkan
bahwa kosakata atau istilah dalam Bahasa Indonesia cenderung tidak ringkas dan kurang
mengandung konsep.

 Namun demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa munculnya banyak singkatan atau
akronim itu karena aspek kemalasan pada diri orang Indonesia; maunya hanya serba cepat.

2. Ragam “bahasa parlemen” dan “bahasa perundang-undangan”

 Belum lama ini para pemirsa televisi dapat menyaksikan secara langsung perdebatan di
parlemen Indonesia berkenaan dengan sejumlah kasus, termasuk kasus Bank Century.
Dalam dengar-pendapat itu pemirsa dapat menyimak dengan baik banyaknya pilihan kata
yang dipakai oleh para anggota dewan yang sebagian besar ucapannya kurang santun dan
cenderung sangat kasar. Bagaimana seharusnya para anggota dewan memilih kata atau
berbicara dalam suatu forum formal dan disiarkan secara nasional oleh sejumlah televisi?

 Sidang di parlemen adalah sidang resmi dan oleh karena itu apa pun masalah yang
dibicarakan harus dikemukakan secara resmi dan formal.

 Dimungkinkah munculnya ucapan-ucapan yang tidak pantas dalam suatu sidang, baik di
parlemen maupun di luar parlemen?

 Siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal kesantunan berbahasa ini?

 Masalah yang cukup ramai adalah mengenai sejumlah katra dalam bahasa perundang-
undangan yang ternyata dapat ditafsirkan ganda. Contoh yang belakangan ini ramai adalah
adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa pasal 55 UU N0. 30/2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bertentangan dengan pasal 24A ayat
(5) UUD 1945. Pada pasal ini ada frase “diatur dengan” yang dimaknai bahwa adanya kata
“dengan” mengharuskan dibuatnya Undang-Undang baru.

 Demikian pula dengan kata “daripada” yang terdapat pada UUD 1945, tidak sesuai dengan
makna kata tersebut dalam dinamika Bahasa Indonesia. Namun haruskah UUD 1945
diamandemen?

 Bahasa perundang-undangan terkesan panjang-panjang dan merepotkan.


F. Panduan Teknis

1. Format debat mengikuti Sistem Parlemen Asia, yang memungkinkan adanya interupsi dari
pihak “oposisi”.

2. Setiap sesi debat diikuti oleh 2 tim, yaitu pihak yang “yang pro” dan “yang kontra”.

3. Anggota setiap tim berjumlah 3 orang (Pembicara I, Pembicara II, Pembicara III, dan
Pembicara Akhir yang sama dengan I). Setiap pembicara akan berbicara selama 3 menit,
sedang Pembicara Akhir hanya 2 menit.

4. Interupsi yang dimungkinkan hanya dapat diajukan antara menit ke-2 dan ke-4 dengan
durasi waktu paling banyak selama 30 detik.

5. Atas interupsi yang diajukan, pembicara boleh menanggapi atau menolaknya.

6. Kesantunan sikap maupun dalam berbahasa adalah sebuah keharusan, yang jika tidak
diindahkan akan berpengaruh pada total penilaian.

7. Bahasa Indonesia yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia ragam formal yang
dikemukakan dengan sopan dan elegan.

 Urutan Berbicara

Berselang-seling : 1 Pembicara I “yang pro”

1a Pembicara I “yang kontra”

2 Pembicara II “yang pro”

2a Pembicara II “yang kontra”

3 Pembicara III “yang pro”

3a Pembicara III “yang kontra”

4 Pembicara Penutup (I) “yang pro”

4a Pembicara Penutup (I) “yang kontra”

 Muatan Pembicaraan

 Pembicara I: mengemukakan hal-hal yang mendasar, prinsip, terminologis, atau ya`ng


definitif.
 Pembicara II: memberikan argumentasi atas hal-hal yang dikemukakan oleh Pembicara I.

 Pembicara III: menegaskan pembicaraan dengan penjelasan-penjelasan yang bercontoh,


khas, dan faktual.

 Pembnicara Akhir (I) menyampaikan rangkuman atau kesimpulan atas paparan yang telah
dikemukakan.

 Tugas Pembicara

 Pembicara I “yang pro”: menjelaskan dengan terang pemahaman dasar topik debat.

o Pembicara I “yang kontra”: menyanggah paparan Pembicara “yang pro”.

 Pembicara II “yang pro”: menolak Pembicara I “yang kontra”.

o Pembicara II “yang kontra”: menyangkal tolakan Pembicara I “yang pro” sambil


menegaskan dukungan terhadap Pembicara I “yang kontra”.

 Pembicara III “yang pro”: menyangkal pendapat Pembicara II “yang kontra”.

o Pembicara III “yang kontra”: menegaskan kembali pandangan Pembicara I “yang kontra”.

 Pembicara Akhir (I “yang pro”) menegaskan atau merangkum seluruh sikap kelompok
“yang pro” dan menggarisbawahi argumen yang penting serta meyakinkan juri maupun
hadirin akan tepatnya sikap atau pandangan mereka.

o Pembicara Akhir (I “yang kontra”) menegaskan ketidaksepahaman mereka dengan pendapat


atau pandangan kelompok “yang pro” sambil mengajukan kembali butir-butir
ketidaksepahaman itu.

G. Lingkup Argumen: CERDAS

Para pembicara diharap menerapkan pola debat dengan argumen yang “cerdas”.

Cepat: pembicaraan harus dikemukakan dengan cepat namun jelas.

Efektif: pembicaraan tidak boleh melantur ke mana-mana; harus fokus dan tidak bertele-tele
atau banyak memakai hal-hal yang mubazir.

Rasional: dasar pembicaraan harus bernalar dan masuk akal.

Digdaya: pembicaraan harus mampu menunjukkan wawasan atau pengetahuan mengenai


bahasa Indonesia yang baik, teoretis maupun praktis.
Argumentatif: pembicaraan harus masuk wilayah perdebatan; bukan sekadar perian atau
naratif belaka.

Santai: pembicaraan harus menunjukkan keeleganan dengan penampilan yang tidak kaku
melainkan santai, namun tetap memperlihatkan keseriusan.

H. Waktu Pelaksanaan

Kegiatan Debat Bahasa Indonesia ini akan diselenggarakan pada tanggal 25 – 29 Oktober
2010

Jadwal Kegiatan dan Tempat Lomba

No Tanggal Waktu Kegiatan Tempat

1 Senin 07.00 – Registrasi Peserta Hotel Shapir


12.00 wib Yogyakarta
08-11-
2010

13.00 – Chek In Peserta Hotel Shapir


14.00 wib Yogyakarta

15.00 – TCM Hotel Shapir


17.00 wib Yogyakarta

19.00 – Pembukaan Hotel Shapir


21.00 wib Yogyakarta

2 Selasa 08.00 wib Pelaksanaan lomba Hotel Shapir


- selesai Yogyakarta
09-11- Debat bahasa
2010 Indonesia dan bahasa
Inggris
3 Rabu 08.00 wib Pelaksanaan lomba Hotel Shapir
- selesai Yogyakarta I. Bagan
10-11- Debat bahasa
2010 Indonesia dan bahasa Debat
Inggris

4 Kamis 08.00 wib Pelaksanaan lomba Hotel Shapir


- selesai Yogyakarta
11-11- Debat bahasa
2010 Indonesia dan bahasa
Inggris

5 Jumat 08.00 wib Pelaksanaan lomba Hotel Shapir


– 15.00 Debat bahasa Indonesia Yogyakarta
12-11- dan bahasa Inggris
2010

19.00 wib Penutupan Hotel Shapir


– selesai Yogyakarta

6 Sabtu 10.00 wib Check Out Hotel Shapir


Yogyakarta
13-11-
2010

____
_
____
_
____
_
____
_
____
_
____
_
____
_ _____ _____

_____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____

_____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____

J. Kriteria Penilaian

Kriteria penilaian Debat Bahasa Indonesia ini didasarkan atas tiga komponen utama yaitu :

(a) kompetensi berbahasa formal,

(b) nalar atau argumen dalam berpendapat atau dalam menyangkal pendapat,

(c) kesopanan dan ketertiban dalam penampilan ketika tengah berdebat.

Sedangkan komposisi bobot penilaian adalah 45% untuk (a), 35% untuk (b), dan 20%
untuk (c) dengan kemungkinan nilai antara 60 sampai dengan 100 untuk tiap-tiap
komponen.

K. Skema Penyisihan

Mengingat bahwa terdapat 33 provinsi di Indonesia maka pada babak penyisihan setiap 3
kelompok wakil provinsi akan saling berhadapan yang ditentukan berdasarkan undian, untuk
kemudian dipilih sebuah kelompok yang paling unggul. Dari babak ini akan dihasilkan 11
kelompok semifinalis yang akan dikerucutkan lagi menjadi 4 finalis.

Dari 11 semifinalis ini tiga kelompok akan saling mengalahkan untuk memperoleh
kesempatan sebagai finalis, sedangkan ada satu sesi yang hanya diikuti oleh dua kelompok.
Agar penyeleksian ini berjalan dengan terbuka dan tidak menimbulkan kecurigaan, hal ini
akan diumumkan terlebih dahulu kendati system pengelompokannya sama, yaitu melalui
pengundian.

Setelah diperoleh 4 besar berdasarkan total nilai yang diperoleh selama mengikuti babak
final, maka akan ditetapkan :

 Juara I
 Juara II
 Juara III
 Juara Harapan
 Pembicara Terbaik ( 3 orang )