Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Labiopalatoskisis adalah suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah


mulut, palato skisis (sumbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang)
untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21).

Berdasarkan Asian Congress of Oral dan Maxillofacial Surgeons


(ACOMS) ke-10 yang dilaksanakan di Kuta , Bali pada 15-18 November
2012 didapati bahwa penderita kelainan labiopalatoskisis di Indonesia setiap
tahun bertambah rata-rata 7500 orang yang mana kira-kira dijumpai 1 anak
yang menderita labiopalatoskisis dari sekitar 700 kelahiran anak di Indonesia.
(Antara News, 2012). Sementara itu di Banyumas sendiri terdapat 117 kasus
pada tahun 2013, 86 kasus pada tahun 2014 , 45 kasus pada tahun 2015 dan
terakhir sekitar 110 kasus pada tahun 2016. (Satelitpost,2016).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Labiopalatoskisis ?
2. Bagaimana penyebab Labiopalatoskisis ?
3. Apa manifestasi klinis dari Labiopalatoskisis ?
4. Apa saja pemeriksaan fisik Labiopalatoskisis ?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang Labiopalatoskisis ?
6. Apa saja diagnosis yang mungkin terjadi pada Labiopalatoskisis ?
7. Apa perencanaan pada Labiopalatoskisis ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Labiopalatoskisis.
2. Untuk mengetahui penyebab Labiopalatoskisis.
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis Labiopalatoskisis.
4. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik pada Labiopalatoskisis.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada Labiopalatoskisis.
6. Untuk mengetahui diagnosis yang mungkin terjadi pada
Labiopalatoskisis.
7. Untuk mengetahui perencanaan pada Labiopalatoskisis.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Labioplatoskisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa
adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Palatoskisis adalah adanya celah
pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan
palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya
propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama
perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2003).
2.2 Etiologi
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan
Labio palatoschizis, antara lain:
1. Faktor Genetik
Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat
ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua.
Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 – 30 % penderita labio palatoscizhis
terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan dan resesif dalam gen
merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya labio
palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan palatum
merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa
bagian kontak.
2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa
embrional,baik kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto
maternal). Zat –zat yang berpengaruh adalah:
a. Asam folat
b. Vitamin C
c. Zn
3. Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C
dan Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan
dalam tumbuh kembang organ selama masa embrional. Selain itu
gangguan sirkulasi foto maternal juga berpengaruh terhadap tumbuh
kembang organ selama masa embrional.
4. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah:
a. Jamu
Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh
pada janin, terutama terjadinya labio palatoschizis. Akan tetapi jenis
jamu apa yang menyebabkan kelainan kongenital ini masih belum
jelas. Masih ada penelitian lebih lanjut.
b. Kontrasepsi hormonal.
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal,
terutama untuk hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya hipertensi sehingga berpengaruh pada janin, karena akan
terjadi gangguan sirkulasi fotomaternal.
c. Obat – obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama
labio palatoschizis. Obat – obatan itu antara lain :
1. Talidomid, diazepam (obat – obat penenang)
2. Aspirin (Obat – obat analgetika)
3. Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam (cream
pemutih)
5. Faktor lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio
palatoschizis, yaitu:
a. Zat kimia (rokok dan alkohol)
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan alkohol
dapat berakibat terjadi kelainan kongenital karena zat toksik yang
terkandung pada rokok dan alkohol yang dapat mengganggu
pertumbuhan organ selama masa embrional.
b. Gangguan metabolik (DM)
Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetessangat rentan
terjadi kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi fetomaternal. Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat
berpengaruh padatumbuh kembang organ selama masa embrional.
c. Penyinaran radioaktif
Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi
penyinaran radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat
mengganggu proses tumbuh kembang organ selama masa embrional.
d. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial
Ibu hamil yang terinfeksi virus (toxoplasma) berpengaruh pada
janin sehingga dapat berpengaruh terjadinya kelainan kongenital
terutama labio palatoschizis.
6. Faktor usia ibu
Dengan bertambahnya usia ibu sewaktu hamil, maka bertambah pula
resiko dari ketidaksempurnaan pembelahan meiosis yang akan
menyebabkan bayi dengan kehamilan trisomi. Wanita dilahirkan dengan
kira-kira 400.000 gamet dan tidak memproduksi gamet-gamet baru selama
hidupnya. Jika seorang wanita umur 35 tahun maka sel-sel telurnya juga
berusia 35 tahun. Resiko mengandung anak dengan cacat bawaan tidak
bertambah besar sesuai dengan bertambahnya usia ibu.
7. Stress Emosional
Korteks adrenal menghasilkan hidrokortison yang berlebih. Pada
binatang percobaan telah terbukti bahwa pemberian hidrokortison yang
meningkat pada keadaan hamil menyebabkan cleft lips dan cleft palate.
8. Trauma
Salah satu penyebab trauma adalah kecelakaan atau benturan pada saat
hamil minggu kelima.

2.3 Manifestasi Klinis


1. Pada Labio skisis
a. Distorsi pada hidung
b. Tampak sebagian atau keduanya
c. Adanya celah pada bibir
2. Pada Palato skisis
a. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen
incisive.
b. Adanya rongga pada hidung.
c. Distorsi hidung
d. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan
jari.
e. Kesulitan dalam menghisap/makan.
f. Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan
g. Gangguan komunikasi verbal

2.4 Pemeriksaan Fisik


1) Pada labio skisis
a) Distorsi pada hidung
b) Tampak sebagian atau keduanya
c) Adanya celah pada bibir
2) Pada palato skisis
a) Tampak ada celah pada tekak ( uvula ), palato lunak, dan keras dan
atau foramen incisive
b) Adanya rongga pada hidung
c) Distrosi hidung
d) Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan
jari

2.5 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan prabedah rutin (misalnya hitung darah lengkap)

Pemeriksaan Hasil Normal


Leukosit 13.000 mg/dl 9000 – 12000/ mm3
Eritrosit 3500 mg/dl 4,7-6,1 juta
Trombosit 270.000 mg/dl 200.000 -400.000 mg/dl
Hb 16 gr/dl 12-24 gr/dl
Ht 30 33-38
Kalium 4,8 mEq 3,6-5,8 mEq
Natrium 138 mEq 134-150 mEq
b. Pemeriksaan Diagnosis
1) Foto Rontgen
Beberapa celah orofasial dapat terdiagnosa dengan USG prenatal,
namun tidak terdapat skrining sistemik untuk celah orofasial. Diagnosa
prenatal untuk celah bibir baik unilateral maupun bilateral,
memungkinkan dengan USG pada usia janin 18 minggu. Celah
palatum tersendiri tidak dapat didiagnosa pada pemeriksaan USG
prenatal. Ketika diagnosa prenatal dipastikan, rujukan kepada ahli
bedah plastik tepat untuk konseling dalam usaha mencegah.
Setelah lahir, tes genetic mungkin membantu menentukan
perawatan terbaik untuk seorang anak, khususnya jika celah tersebut
dihubungkan dengan kondisi genetik. Pemeriksaan genetik juga
memberi informasi pada orangtua tentang resiko mereka untuk
mendapat anak lain dengan celah bibir atau celah palatum.
2) Radiologi
Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan melakukan foto rontgen pada
tengkorak. Pada penderita dapat ditemukan celah processus maxilla
dan processus nasalis media.
3) MRI untuk evaluasi abnormal

2.6 Diagnosa
a. Pra bedah
1. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan dalam pemberian makan.
2. Risiko infeksi yang berhubungan dengan kelainan.
3. Risiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan stres
akibat hospitalisasi.
4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan pembedahan.
b. Pasca bedah
1. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan teknik pemberian makan yang baru dan perubahan diet
pascaoperasi.
2. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan teknik pemberian
makan, dan perawatan di rumah
3. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan
5. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan
mengeluarkan sekresi sekunder dari palato skisis, efek anestesi.

2.7 Perencanaan

Pra bedah
a. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan dalam pemberian makan.
1) Tujuan : Nutrisi yang adequat dapat dipertahankan
2) Kriteria Evaluasi:
a) Adanya peningkatan berat badan
b) Adaptasi dengan metode makan yang sesuai
3) Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Bantu ibu dalam menyusui, 1. Membantu ibu dalam
bila ini adalah keinginan ibu. memberikan Asi dan
Posisikan dan stabilkan posisi puting yang stabil
puting susu dengan baik di membentuk kerja lidah
dalam rongga mulut. dalam pemerasan susu.
2. Bantu menstimulasi refleks 2. Karena pengisapan di
ejeksi Asi secara manual / perlukan untuk
dengan pompa payudara menstimulasi susu yang
sebelum menyusui pada awalnya mungkin
tidak ada
3. Gunakan botol dan dot botol 3. Karena ketidakmampuan
yang sesuai (dot botol yang seorang bayi dengan celah
lunak, dipotong serong; palatum membuat suatu
botol-peras atau botol biasa; ruangan hampa, ia dapat
botol terutama yang mengalami refleks
dirancang untuk bayi mengisap yang tidak
prematur) untuk memberi efektif. Penggunakan dot
makan pada bayi. botol, botol yang tepat,
memudahkan aliran cairan
sehingga dapat
meningkatkan pemberian
makan. Dot botol khusus
yang diguanakan
bergantung pada tingkat
keparahan celah tersebut.
4. Tempatkan dol botol di 4. Meletakkan dot botol
dalam mulut bayi, pada sisi dengan cara ini dapat
berlawanan dari celah, ke menstimulasi tindakan
arah belakang lidah. “stripping” bayi (menekan
dot botol melawan lidah
dan atap mulut untuk
mengeluarkan susu ).
5. Posisikan bayi tegak atau 5. Posisi ini mencegah
semi-fowler, namun tetap tersedak dan regurgitasi per
relaks selama pemberian nasal.
makan.
6. Sendawakan bayi setelah 6. Bayi perlu disendawakan
setiap pemberian 15 hingga dengan frekuensi yang
30 ml susu, tetapi jangan sering karena kelainan
pindahkan dot botol terlalu tersebut dapat
sering selama pemberian menyebabkan menelan
makan. udara lebih banyak
sehingga menimbulkan rasa
tidak nyaman. Melepa dot
botol terlalu sering dapat
melelahkan, atau membuat
bayi frustasi sehingga
menyebabkan pemberian
makan tidak komplet.
7. Coba untuk memberi makan 7. Pemberian makan yang
selama kira-kira 45 menit lebih lama dapat
atau kurang untuk setiap melelahkan bayi sehingga
kali makan. menyebabkan pencapaian
berat badan yang sangat
kurang.
8. Apabila bayi tidak dapat 8. Posisi tegak mengurangi
makan tanpa tersedak atau risiko aspirasi;
teraspirasi, letakkan dalam menggunakan sebuah spuit
posisi tegak, dan beri makan dan slang karet lunak yang
dengan mengguanakn spuit mampu menampung cairan
serta slang karet lunak. di bagian belakang mulut
bayi dapat mengurangi
aspirasi melalui celah

b. Risiko infeksi yang berhubungan dengan kelainan


1) Tujuan : tidak menunjukkan tanda –tanda infeksi sebelum atau
sesudah infeksi
2) Kriteria Evaluasi :
a) Luka tampak bersih, kering
b) Tidak oedema
3) Intervensi
Intervensi Rasional
1. Beri minum bayi sebanyak 1. Air dapat membersihkan
5-10 ml air, setelah setiap pasase nasal dan palatum,
pemberian makan. serta mencegah susu
mengumpul di saluran
eustasia, yang pada
gilirannya dapat mencegah
pertumbuhan bakteri yang
dapat mengarah pada
terjadinya infeksi.
2. Buang formula atau susu 2. Merontokkan dan
yang mengering dengan melepaskan materi ayng
menggunakan aplikator berkerak dalam botol,
yang berujung kapas basah dapat menjaga agar celah
tersebut bersih dan bebas
dari bakteri sehingga
mengurangi resiko infeksi.
3. Setelah setiap pemberian 3. Mengatur posisi bayi
makan, letakkan bayi di dengan cara ini dapat
ayunan bayi atau mencegah aspirasi yang
baringkan bayi di tempat dapat menimbulkan
tidurnya dengan posisi pneumonia.
miring kanan dengan
kepala tempat tidur
ditinggikan 30.
4. Kaji bayi untuk 4. Kekambuhan otitis media
menentukan bila ada tanda yang terjadi akibat saluran
infeksi, termasuk drainase eustasia yang tidak normal
telinga yang berbau dan dapat diakaitkan dengan
demam. Beri obat celah bibir palatum.
antibiotik sesuai program.

c. Risiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan stres akibat
hospitalisasi.
1) Hasil yang diharapkan: orang tua mengajukan pertanyaan yang tepat
tentang kondisi bayi, dapat melibatkan perawatan bayi ke dalam gaya
hidup normal mereka, serta mengekspresikan perasaan mereka tentang
penampilan bayi.
Intervensi Rasioanal
1. Beri kesempatan pada orang 1. Kesempatan ini meningkatkan
tua untuk menggendong serta ikatan dan mempersiapkan
memeluk bayi, dan dapat orang tua dalam perawatan
mempraktikan tugas bayi di rumah.
pemberian perawatan sebelum
pemulangan.
2. Anjurkan orang tua untuk 2. Mempersiapkan anggota
mempersiapkan anggota keluarga untuk kedatangan
keluarga, termasuk saudara bayi memungkinkan mereka
kandung dan kerabat lain, beradaptasi dengan
untuk menyambut kehadiran penampilan bayinya, dan
bayi di rumah. Nasihatkan memungkinkan orang tua
mereka untuk menjelaskan berfokus pada kebutuhan bayi
kepada seluruh anggota yang mendesak.
keluarga, tentang penampilan
bayi dengan menggunakan
istilah sederhana,
memperlihatkan kepada
mereka gambar, dan meminta
mereka mengunjungi bayi di
rumah sakit.
3. Anjurkan orang tua untuk 3. Orang tua memiliki pemikiran
memperlakukan bayi layaknya bahwa bayi mereka
anggota keluarga yang normal, merupakan individu yang
dan menjadwalkan kegiatan normal, dengan menderita
perawatan mereka ke dalam celah bibir atau palatum bukan
rutinitas sehari-hari. sebagai individu yang sedang
sakit sehingga dapat memberi
perawatan di rumah yang
adekuat, dan menjaga
keutuhan keluarga.
4. Anjurkan orang tua untuk 4. Meminta bantuan orang lain
meminta bantuan dari anggota dalam perawatan bayi dan
keluarga yang lain atau dari pemberian makan dapat
teman saat memberi makan memberi orang tua
dan perawatan bayi. kesempatan beristirahat, serta
berfokus pada kebutuhan
mereka sendiri.
5. Rujuk orang tua ke kelompok 5. Kelompok pendukung
pendukung yang tepat serta memberi kesempatan pada
pusat kraniofasial, jika ada. orang tua untuk berbagi
perasaan dan pengalaman
dengan orang lain, yang juga
memiliki situasi sama, dapat
mengurangi kecemasan dan
meningkatkan ketrampilan
koping serta ketrampilan
penyelesaian masalah. Pusat
kraniofasial memiliki
pengalam dalam memberi
perawatan bagi anak-anak
dengan celah palatum atau
celah bibir.
d. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan pembedahan
1) Hasil yang diharapkan: orang tua mengalami penurunan rasa cemas
yang ditandai oleh mengekspresikan pemahaman tentang kebutuhan
pembedahan dan berpartisipasi dalam perawatan pra dan pascabedah
anak atau bayi.
Intevensi Rasional
1. Kaji pemahaman orang tua 1. Pengkajian ini merupakan
tentang kelainan anak dan dasar untuk penyuluhan.
kebutuhan pembedahan.
2. Jelaskan kepada orang tua 2. Penjelasan yang demikian
prosedur pembedahan, mempersiapkan orang tua
termasuk prosedur tentang prosedur perioperasi
pembedahan itu sendiri, lama dan hasil yang diharapkan
pembedahan, serta sehingga dapat mengurangi
penampilan anak yang kecemasan.
diharapkan saat pascaoperasi.
3. Demonstrasikan kepada orang 3. Mendemostrasikan teknik
tua teknik pemberian makan pemberian makan dan
yang benar, untuk dipraktekan menggunakan restrain lengan
setelah pembedahan membantu orang tua mengenal
(meletakkan slang pada perawatan pascaoperasi
mukosa bukal dan sehingga dapat mengurangi
mengalirkan cairan sedikit rasa cemas.
demi sedikit melalui spuit);
minta mereka untuk
mempraktikan teknik tersebut.
Juga demonstrasikan
penggunaan restrain yang
benar pada lengan sehingga
mencegah bayi atau anak
menyentuh dan mengaggu
insisi.
Pasca bedah
a. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan
mengeluarkan sekresi sekunder dari palato skisis, efek anestesi.
1) Tujuan : Jalan nafas efektif
2) Kriteria Evaluasi :
a) Anak bebas dari aspirasi
b) Pernafasan teratur
c) Bunyi nafas Vesikuler
3) Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji status pernapasan bayi 1. Tanda distres ini dapat
atau anak setiap 4 jam mengindikasikan
untuk mendeteksi suara pneumonia, yang
napas yang abnormal, membutuhkan terapi
sianosis, retraksi, antibiotik.
mendengkur, atau
pernapasan cuping hidung.
2. Atur ulang posisi bayi atau 2. Pengaturan-kembali
anak setiap 2 jam. Setelah posisi dapat
pembedahan celah bibir, meningkatkan drainase
bayi atau anak dapat sekresi paru.
diletakkan dengan baik di
ayunan bayi atau dalam
posisi terlentang atau
miring dengan kepala
ditinggikan; setelah
pembedahan celah palatum,
ia dapat di tempatkan pada
posisi tengkurap.
3. Tempatkan bayi atau anak 3. Udara yang sejuk dan
dalam tenda lembap, sesuai yang dilempbapkan
program. Pertahankan bayi membantu mencairkan
diselimuti dan ganti sprei sekresi sehingga dapat
dengan teratur. membantu bayi atau anak
bernapas dengan lebih
mudah. Menutupi tubuh
dengan selimut dapat
mencegah anak dari
menggigil.
4. Pertahankan bayi atau anak 4. Posisi tegak mengurangi
dalam posisis tegak dalam risiko tersedak dan
pemberian makan. aspirasi.

b. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan tekhnik


pemberian makan, dan perawatan di rumah
1) Tujuan : Orang tua dapat memahami metode pemberian makan pada
anak
2) Kriteria Evaluasi :
a) Orang tua dapat mendemonstrasikan metode pemberian makan
pada anak
b) Orang tua dapat memahami perawatan dan pengobatan setelah
pembedahan
3) Intervensi :
a) Orang tua dapat mendemonstrasikan metode pemberian makan
pada anak
Intervensi Rasional
1. Jelaskan pada orang tua 1. Penjelasan yang demikian
sifat dari kelainan dan dapat mengurangi
kebutuhan untuk kecemasan, dan
perawatan lanjutan. meningkatkan kepatuhan
terhadap terapi yang
diprogramkan dan
pembedahan selanjutnya.
2. Ajarkan orang tua dari 2. Karena kelainan tersebut,
bayi yang mengalami orang tua perlu memberi
celah bibir atau celah perhatian khusus saat
palatum, tentang teknik pemberian makanan bayi
pemberian makan berikut a. Karena kelainan ini
ini: mungkin refleks
a. Beri bayi makan menghisapnya tidak
dengan menggunakan efektif. Menggunakan
botol dan dot botol alat pemberian makan
yang sesuai (dot bayi yang sesuai dapat
yang lunak berbentuk memastikan bahwa ia
serong atau dot khusus mengonsumsi setiap
yang didesain untuk porsi makanan yang
bayi prematur; botol diberikan.
peras atau botol biasa).
b. Atur posisi dot botol b. Meletakkan dot botol
didalam mulut bayi dengan cara demikian,
berlawanan arah dapat menstimulasi
dengan celah dan gerakan “menyedot”
mengarah ke bagian yang digunakkan bayi
belakang lidah. untuk mngisap cairan
dari dalam botol.
c. Pertahankan bayi c. Mengatur posisi bayi
dalam posisi tegak atau tegak atau semi fowler
semi fowler dapat mencegah
regurgitasi per nasal
d. Sendawakan bayi dan tersedak
setelah setiap d. Menyendawakan
pemberian 15-30 ml. dengan sering dapat
mengurangi jumlah
udara yang ditelan
selama pemberian
makan sehingga
e. Bersihkan celah segera mengurangi rasa tidak
setelah pemberian nyaman bayi.
makan. e. Membersihkan celah
segera setelah
pemberian makan
dapat mengurangi
resiko infeksi.
3. Jelaskan kepada orang 3. Bayi mungkin
tua tentang tujuan dan memerlukan
pembinaan pemantauan terhadap
penggunaan alat apnea, untuk
pantau apnea, jika alat mendeteksi episode
pantau diprogramkan apnea yang
untuk penggunaan di berhubungan dengan
rumah. kesulitan pernapasan
akibat aspirasi
pemberian makan.

b) Orang tua dapat memahami perawatan dan pengobatan setelah


pembedahan
Intervensi Rasional
1. Ajarkan orang tua tentang 1. Menggunakan sendok
teknik pemberian makan makan padat, dan spuit
berikut ini : berujung karet untuk cairan
a. Gunakan sendok, buka dapat mengurangi risiko
garpu, untuk memberi trauma pada alur jahitan.
anak makanan lunak, Menggunakan sedotan
serta souit berujung dapat membahayakan alur
karet atau mangkuk jahitan.
(jika memungkinkan)
untuk memberi bayi
atau anak cairan.
b. Jangan biarkan anak
menggunakan sedotan.
2. Ajarkan orang tua cara 2. Perawatan alur jahitan yang
merawat alur jahitan : benar dapat memastikan
a. Gunakan larutan salin kebersihan sehingga
dan aplikator berujung mengurangi risiko infeksi,
kapas untuk dan mengurangi
membersihkan alur pembentukan kerak yang
jahitan. dapat menyebabkan
b. Oleskan salep jaringan parut membesar;
antibiotik sesuai infeksi membutuhkan
program untuk intervensi medis.
menutup insisi.
c. Periksa area insisi
bedah untuk melihat
tanda infeksi,
misalnya, kemerahan,
pembengkakan, dan
drainase purulen, dan
laporkan temuan
tersebut kepada dokter.
d. Beri air sedikit sedikit
setelah pemberian
makan, untuk
membuang sisa susu
yang menempel,
mengingat ini
merupakan media yang
baik bagi pertumbuhan
bakteri dan infeksi.
3. Sampaikan kepada orang 4. Restrain lengan
tua bahwa mereka harus mencegah bayi atau
mempertahankan lengan anak menggaruk alur
bayi atau anak terfiksasi. jahitan, atau
Jelaskan bahwa mereka memasukkan benda di
harus melepas restrain dalam mulutnya.
secara berkala, Melepaskan restrain
mempertahankan agar bayi memungkinkan ROM
atau anak tetap diawasi. dan mencegah
gangguan
neurovascular.
5. Setelah pembedahan celah 3. Mengatur posisi bayi
bibir, instruksikan orang atau anak melalui cara
tua untuk mengatur posisi ini, mencegahnya
bayi atau anak pada menggosokkan bibir ke
ayunan bayi, atau dalam linen tempat tidur.
posisi miring atau
telentang jangan menekan
daerah abdomen dengan
kepala tempat tidur
ditinggikan; setelah
pembedahan celah
palatum, instruksikan
orang tua untuk
meletakannya dalam posisi
tengkurap.
6. Beri tahu orang tua untuk Menangis yang lama
mengantisipasi perlunya menyebabkan tegangan pada
bayi atau anak mengurangi alur jahitan
tangisan.
7. Jelaskan kepada orang tua Inspeksi telinga dan evaluasi
pentingnya perawatan pendengaran sangat penting,
tindak lanjut, termasuk karena perkembangan saluran
perlunya inspeksi telinga eustaki yang abnormal dapat
dan evaluasi dan mepredisposisi bayi atau anak
pendengaran setiap 2-4 pada serangan otitis media
bulan dan pemeriksaan yang lebih sering, yang dapat
rutin serta imunisasi. mengarah pada kehilangan
pendengaran. Pemeriksaan
rutin dan imunisasi membantu
mempertahankan kesehatan
optimal
8. Diskusikan kemungkinan Anak-anak dengan celah
perawatan lanjutan di palatum dapat mengalami
pusat kraniofasil regional hambatan wicara dan masalah
jika memungkinkan struktur geligi sehingga
termasuk terapi wicara, membutuhkan pembedahan.
perawatan otodontik, dan Anak mungkin ekstensif
pembedahan. bergantung pada keparahan
defek.

c. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan


1) Tujuan : Rasa nyaman anak dapat di pertahankan
2) Kriteria Evaluasi :
a) Anak tidak menangis
b) Tidak labil
c) Tidak gelisah
3) Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Kaji bayi atau anak untuk 1. Bayi atau anak mungkin
mengetahui iritabilitas terlalu muda usianya untuk
kehilangan selera makan, memeriksakan rasa tidak
dan kegelisahan setiap 2 nyaman melalui kata-kata;
jam setelah pembelahan. petunjuk perilaku adalah
satu-satunya indikasi nyeri.

2. Beri obat analgetik sesuai 2. Obat analgesik dapat


program. mengurangi nyeri.
3. Lakukan aktivitas 3. Aktivitas pengalihan
pengalihan, misalnya, memfokuskan kembali
permainan, kartu, perhatian anak, mengurangi
videotapes, dan membaca persepsinya terhadap nyeri.
buku untuk anak yang
lebih besar.

d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan


1) Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kerusakan pada kulit
2) Kriteria Evaluasi :
a) Insisi tetap utuh
b) Tidak ada tanda infeksi
c) Terdapat tanda-tanda penyembuhan
3) Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Lakukan perawatan alur 1. Perawatan alur jahitan
sutura berikut ini setelah yang tepat menjamin
pemberian makan, dan tercapainya kebersihan,
sesuai kebutuhan: mencegah pemisahan
a. Bersihkan garis sutura sutura, mengurangi resiko
dengan menggunakan infeksi, dan mengurangi
larutan salin dan jumlah materi berkerak
aplikator berujung kapas disekitar alur jahitan,
basah. yang mungkin
b. Oleskan salep antibiotik mengakibatkan
sesuai program untuk pembesaran jaringan
melembapkan mulut dan parut.
mencegah pemisahan
sutura.
c. Pantau tanda dan gejala
infeksi.
d. Beri sedikit air setelah
pemberian makan untuk
membersihkan mulut
dari setiap sisa susu,
yang dapat
menyebabkan
pertumbuhan bakteri.
2. Lakukan perawatan alur 2. Restrain lengan
sutura berikut ini setelah mencegah bayi atau anak
pemberian makan, dan menggaruk alur jahitan
sesuai kebutuhan: atau meletakkan objek
e. Bersihkan garis sutura dalam mulutnya sampai
dengan menggunakan insisi pemulihan.
larutan salin dan Evaluasi memastikan
aplikator berujung kapas sirkulasi yang adekuat,
basah. dan latihan ROM
f. Oleskan salep antibiotik mencegah kekuatan dan
sesuai program untuk kontaktur otot.
melembapkan mulut dan
mencegah pemisahan
sutura.
g. Pantau tanda dan gejala
infeksi.
h. Beri sedikit air setelah
pemberian makan untuk
membersihkan mulut
dari setiap sisa susu,
yang dapat
menyebabkan
pertumbuhan bakteri.

3. Setelah pembedahan celah 2. Duduk ditempat duduk


bibir, posisikan bayi atau bayi atau berbaring
anak dengan baik, miring atau terlentang
berbaring miring atau setelah pembedahan
terlentang bukan posisi celah bibir, mencegah
telungkup pertahankan anak menggesekan
kepala tempat tidur bibirnya pada linen
ditinggikan; setelah tempat tidur,
pembedahan celah palatum, mengnurangi risiko
posisikan anak atau bayi ruptur; berbaring
telungkup. telungkup setelah
pembedahan celah
palatum mencegah
tekanan pada alur jahitan.
4. Antisipasi perlunya anak 4. Menangis menyebabkan
mengurangi menangis. tegangan pada alur
jahitan yang dapat
menyebabkan ruptur.

i. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan tampak kecacatan


pada anak
1) Tujuan : Orang tua sering melakukan bonding dengan anak
2) Kriteria Evaluasi :
a) Keinginan untuk merawat anak
b) Mampu mengidentifikasi aspek positif pada anak
3) Intervensi :
a) Kaji pemahaman orang tua tentang kecacatan dan keperluan
setelah pembedahan
b) Jelaskan tentang prosedur operasi : Lamanya, harapan yang
diinginkan setelah pembedahan
c) Demonstrasikan pada orang tua cara pemberian makan pada
bayi atau anak
d) Ajarkan melakukan bonding pada anak
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Labioplatoskisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa


adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Penyebab dari
Labiopalatoskis bisa jadi karena Faktor Genetik, apabila pada kehamilan
ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan Zn dapat
berpengaruh pada janin, mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat
berpengaruh pada janin, kontrasepsi hormonal, trauma, faktor usia ibu,
infeksi, stress emosional, dan juga rokok dan alkohol.

3.2 Saran
Labioplatoskis adalah penyakit dengan kelainan bibir. Untuk itu perawat
harus memberi himbauan kepada klien agar selalu memperhatikan bayinya.
Bagi ibu yang sedang hamil harus mengerti apa saja yang harus dilakukan
seperti banyak mengkonsumsi asam folat , vitamin c dan Zn agar dapat
membuat janin menjadi lebih sehat dan juga apa apa yang tidak boleh seperti
mengkonsumsi Jamu saat sedang hamil karena dapat berbahaya bagi janin.
DAFTAR PUSTAKA

Speer, Kathleer Morgan. 2004. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik Dengan


Clinical Pathways. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Suriadi dan Rita. (2001). Asuhan Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta : CV.
Agung Seto.

Wong, Dona L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EGC