Anda di halaman 1dari 31

Modul 10 Pengetahuan Dasar AKNOP Jaringan Irigasi

MODUL
MODUL 10 10

MODUL PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

PELATIHAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN IRIGASI


TINGKAT JURU

2017
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
validasi dan penyempurnaan Modul Pengetahuan Dasar AKNOP Jaringan irigasi
sebagai Materi Substansi dalam Pelatihan Operasi dan Pemeliharaan Jaringan
Irigasi Tingkat Juru . Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan kompetensi dasar
Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang Sumber Daya Air.

Modul Pengetahuan Dasar AKNOP Jaringan irigasi ini disusun dalam 3 (tiga) bab
yang terbagi atas Pendahuluan, Materi Pokok, dan Penutup. Penyusunan modul
yang sistematis diharapkan mampu mempermudah peserta pelatihan dalam
memahami Dasar AKNOP jaringan irigasi. Penekanan orientasi pembelajaran pada
modul ini lebih menekankan pada partisipasi aktif dari para peserta.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Tim
Penyusun dan Narasumber Validasi, sehingga modul ini dapat diselesaikan dengan
baik. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa
terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan
peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga Modul ini dapat memberikan manfaat
bagi peningkatan kompetensi ASN di bidang Sumber Daya Air.

Bandung, September 2017


Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Sumber Daya Air dan Konstruksi

Ir. K. M. Arsyad, M.Sc

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI i


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... iii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ........................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2 Deskripsi Singkat................................................................................................ 3
1.3 Tujuan Pembelajaran ......................................................................................... 3
1.3.1 Hasil Belajar ............................................................................................ 3
1.3.2 Indikator Hasil Belajar ............................................................................. 3
1.4 Materi Pokok dan Sub Materi ............................................................................. 3

BAB II PERHITUNGAN AKNOP .................................................................................. 5


2.1 Perhitungan AKNOP Bendung ........................................................................... 5
2.2 Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan .................................................... 6
2.3 Perhitungan AKNOP Bendung Gerak ................................................................ 6
2.4 Contoh Perhitungan (Data Asumsi) ................................................................... 7
2.4.1 Contoh Perhitungan AKNOP (Data Real) ............................................... 9
2.5 Latihan .............................................................................................................. 12
2.6 Rangkuman ...................................................................................................... 12
2.7 Evaluasi ............................................................................................................ 13

BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 15


3.1 Simpulan .......................................................................................................... 15
3.2 Tindak Lanjut .................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 16


GLOSARIUM .............................................................................................................. 17
KUNCI JAWABAN ..................................................................................................... 23

ii PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Data Existing ................................................................................................7


Tabel 2.2. Usulan Anggaran Operasi ..........................................................................11
Tabel 2.3. Usulan Biaya Pemeliharaan .......................................................................12

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI iii
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Deskripsi

Modul Pengetahuan Dasar AKNOP Jaringan Irigasi ini terdiri dari satu kegiatan
belajar mengajar yakni, membahas Perhitungan AKNOP Bendung, Perhitungan
AKNOP Saluran dan Bangunan, Perhitungan AKNOP Bendung Gerak, dan
Perhitungan AKNOP.

Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang


berurutan. Pemahaman setiap materi pada modul ini diperlukan untuk
memahami Dasar AKNOP Jaringan Irigasi. Setiap kegiatan belajar dilengkapi
dengan latihan atau evaluasi yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta
pelatihan setelah mempelajari materi dalam modul ini.

Persyaratan

Dalam mempelajari modul pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat


menyimak dengan seksama penjelasan dari pengajar, sehingga dapat
memahami dengan baik materi yang merupakan dasar dari Operasi dan
Pemeliharaan Irigasi Tingkat Juru. Untuk menambah wawasan, peserta
diharapkan dapat membaca terlebih dahulu materi terkait perencanaan dan
pelaksanaan operasi dan pemeliharaan irigasi.

Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah


dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara/ Fasilitator,
adanya kesempatan tanya jawab, curah pendapat, bahkan diskusi.

Alat Bantu/ Media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/


Media pembelajaran tertentu, yaitu: LCD/ proyektor, Laptop, white board dengan
spidol dan penghapusnya, bahan tayang, serta modul dan/ atau bahan ajar.

iv PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Tujuan Kurikuler Khusus

Setelah mengikuti semua kegiatan pembelajaran dalam mata pelatihan ini,


peserta diharapkan mampu memahami secara sederhana mengenai perhitungan
AKNOP bendung, perhitungan AKNOP saluran dan bangunan, perhitungan
AKNOP bendung gerak, dan perhitungan AKNOP.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI v


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

vi PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung
didalamnya, mempunyai fungsi sosial serta digunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Oleh sebab itu pemanfaatannya harus direncanakan
sedemikian rupa, sehingga air tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin, efisien, adil dan merata.

Berdasar survei yang dilakukan Bank Dunia , terdapat 1,5 juta Ha sawah
setiap tahun hilang karena bencana banjir, kerusakan infrastruktur irigasi, atau
akibat salinasi. Disamping itu diperkirakan 30 juta Ha sawah beririgasi
mengalami kerusakan berat dan 60 – 80 juta Ha mengalami kerusakan ringan.
Mengapa kerusakan irigasi sedemikian parah dan besar? Sebagian besar
studi berkesimpulan bahwa penyebab utama adalah lemahnya kegiatan
operasi dan pemeliharaan (OP) yang dilakukan oleh pengelola irigasi.

Indonesia sebagai negara dengan mengkonsumsi beras cukup besar, telah


mengembangkan irigasi seluas 7,145,168 Ha sejak peninggalan zaman
Belanda sampai dengan tahun 2015. Irigasi tersebut telah mengalami
kerusakan seluas 3,294,637 Ha (46,11%), dimana 1,141,084 Ha (15,97%)
rusak berat, 1,203,246 Ha (16,84%) rusak sedang dan 950,307 Ha ( 13,3 %)
rusak ringan. Kerusakan ini diakibatkan oleh karena gangguan alam dan
kurang optimalnya pengelolaan irigasi terhadap infrastruktur irigasi.

Keadaan demikian kalau dibiarkan terus dapat mengganggu keamanan


pangan nasional, yang berakibat pada stabilitas masa depan bangsa. Hal ini
tentu menganggu ketahanan pangan yang saat ini sedang digalakan. Melihat
gejala ini semua pemangku kepentingan irigasi sepakat betapa pentingnya
OP dalam menjaga keberlanjuan irigasi.

Kelemahan OP irigasi ditandai dengan rendahnya prioritas kegiatan OP,


kurang konsistennya komitmen pemerintah dalam menangani OP,

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 1


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

pembiayaan yang tidak memadai, tidak sesuai dengan Angka Kebutuhan


Nyata akan Operasi dan Pemeliharaan ( AKNOP ) dan rendahnya tenaga
pelaksana OP baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Perhitungan biaya OP
umumnya di hitung berdasarkan luas areal bukan berdasar angka kebutuhan
Nyata lapangan sesuai kondisi jaringan yang ada, Akibat dari ini semua sistem
OP kurang berjalan sebagaimana mestinya. OP irigasi selalu kurang prioritas
dibanding dengan Rehabilitasi dan pembangunan baru. Akibatnya kerusakan
infrastruktur irigasi terjadi dan kinerja irigasi menjadi semakin menurun ,
sehingga perlu dilakukan rehabilitasi lebih cepat dari rencana, Kejadian ini
berulang terus. Dan terjadi apa yang dinamakan lingkaran setan (Viscous
circle) yang tidak berujung, biaya untuk melakukan rehabilitasi akibat OP yang
tertunda jauh lebih besar dibanding biaya OP yang mestinya normal
dikeluarkan tiap tahun.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dalam kurun waktu 8
tahun, belakangan telah mengalokasikan dana untuk OP, pada areal yang
lebih besar 3000 ha, dengan luas sekitar 2 juta ha, dana yang disediakan
pemerintah sesuai dengan AKNOP, dampaknya telah terasa dan terlihat
secara fisik di lapangan, dengan cara yang sama kita berharap Provinsi dan
Kabupaten/ Kota juga melakukan hal ini, mengapa ? karena sampai saat ini
walaupun sudah 8 tahun undang undang mengamanatkan tetapi masih ada
Provinsi/Kabupaten/Kota yang belum menindak lanjuti, hal ini terlihat dari
jabaran APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, setiap tahun nya , bila mana ini
berjalan terus pada OP Irigasi, maka sistim seperti ini tentunya kurang efisien.
Akibat lemahnya OP, air irigasi sampai di sawah dalam jumlah yang kurang
memadai, berdampak pada menurunnya intensitas tanam dan produktifitas
pertanian menjadi rendah. Akhirnya produksi menurun dan ujung-ujungnya
pendapatan dan kesejahteraan petani berkurang. Hal ini tentunya tidak boleh
dibiarkan terus, karena kinerja irigasi merupakan pendukung utama ketahanan
pangan nasional.

UU No. 11/1974 tentang pengairan yang ditindak lanjuti dengan Peraturan


Pemerintah No.23/1982 tentang Tata Pengaturan Air, dan Permen PUPR
NO.12/2015, tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Irigasi, telah

2 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

mengamanatkan pentingnya kegiatan OP irigasi dalam rangka menjaga


keberlanjutan irigasi dalam rangka menunjang ketahanan pangan nasional.
Bahan serahan ini dipersiapkan untuk diklat OP Irigasi tingkat juru
diperuntukan bagi pejabat setingkat juru/staf calon juru pada Dinas PU
Kabupaten/ Kota, Dinas PU Provinsi atau Balai Wilayah Sungai agar yang
bersangkutan mempunyai kompetensi dan mampu dalam melaksanakan
kegiatan Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi khususnya dalam
menghitung angka kebutuhan nyata Operasi dan Pemeliharaan jaringan
Irigasi dan Bendung, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal sesuai yang
diharapkan.

Dengan demikian materi yang disampaikan sebagai bahan pelatihan ini


mengacu pada Peraturan Menteri PUPR tersebut.

1.2 Deskripsi Singkat


Mata pelatihan ini membahas tentang materi terkait dengan perhitungan
AKNOP.

1.3 Tujuan Pembelajaran


1.3.1 Hasil Belajar
Setelah mengikuti semua kegiatan pembelajaran dalam mata pelatihan ini,
peserta diharapkan mampu memahami secara sederhana mengenai
perhitungan AKNOP bendung, perhitungan AKNOP saluran dan bangunan,
perhitungan AKNOP bendung gerak, dan perhitungan AKNOP.

1.3.2 Indikator Hasil Belajar


Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat
menjelaskan perhitungan AKNOP secara sederhana dan benar.

1.4 Materi Pokok dan Sub Materi


a) Materi Pokok 1: Perhitungan AKNOP
1) Perhitungan AKNOP Bendung
2) Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan
3) Perhitungan AKNOP Bendung Gerak
4) Contoh Perhitungan (Data Asumsi)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 3
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

5) Latihan
6) Rangkuman
7) Evaluasi

4 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

BAB II
PERHITUNGAN AKNOP
Indikator Hasil Belajar:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan perhitungan AKNOP
secara sederhana dan benar.

2.1 Perhitungan AKNOP Bendung


Perhitungan besarnya kebutuhan biaya untuk OP Bendung, dilakukan
berdasar aturan regulasi yang ada, dari mulai biaya rutin untuk
mengoperasikan pintu, perbaikan kecil, pembuangan sampah, gaji upah
pekerja. pengoperasian bangunan pengatur ini dilakukan oleh
petugas/POB/juru pengairan untuk mengatur debit air sesuai dengan
kebutuhan yang telah ditetapkan.

a) Tubuh Bendung
Hasil inventori sekitar Bendung, yang telah ditetapkan berdasar skala
prioritas perlu di amati secara cermat selanjutnya perlu di estimate besar
volume dan biaya nya ,umumnya domain pekerjaan beton dan pasangan
batu
b) Tembok Sayap Depan (Kiri Dan Kanan)
Batasan untuk sekitar bendung tergantung cara kita mempilah pilah
bagian bendung, dalam hal ini kita bagi dari as kearah upstream , hasil
inventori yang telah dilakukan kita cermati volume dan besar biayanya.
c) Tembok Sayap Belakang (Kiri Dan Kanan)
Bagian hilir tembok bendung juga harus di hitung sesuai hasil inventori.
d) Pilar Bendung
Pilar pada Bendung , dihitung volume dan biaya berdasar hasil inventori.
e) Pintu Intake
Pintu intake agar tetap berfungsi maka sretidaknya di lihat apakah ada
hal yang menganggu dalam operasinya, dalm kurun waktu setidak nya
satu tahun, kalo ada maka harus dimasukan dal perhitung volume dan
biaya.
f) Pintu penguras
Pintu Penguras cukup sering digerakkan perlu perhatian kita agar biaya
rutin tidak mengalami hambatan, volume dan biaya perlu di perhatikan.
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 5
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

g) Kantong Lumpur
khusus kantong lumpur disarankan termasuk bagian kegiatan sekitar
Bendung, kegiatan disini adalah galian dan perbaikan saluran serta pintu.
h) Bangunan bagi pertama.
Bangunan bagi pertama adalah batas dari kegiatan POB, volume dan
biaya harus di hitung untuk pintu dan beton atau pasangan batu.

2.2 Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan

a) Saluran Sekunder ( ruas 1 )


Besar volume dan biaya harus di hitung berdasar hasil inventor, Hm
sepanjang saluran harus jelas serta bangunan pelengkap yang ada.

b) Bangunan sadap 1
Bangunan sadap pertama, di hitung berdasar prioritas kegiatan pada
inventori, domain kegiatan adalah pasangan batu, beton, pintu dan sedikit
galian.

c) Saluran sekunder ruas 2


Perhitungan aknop sama dengan butir butir diatas, batas disesuaikan
pada batas wilayah juru.

2.3 Perhitungan AKNOP Bendung Gerak


Bendung gerak dibagi dalam beberapa bagian, dibatasi oleh pilar-pilar dan
tembok tepi satu ke tepi lainnya. Tiap pintu dapat dibuka untuk membilas
endapan yang berada di hulu masing-masing pintu (tidak serupa dengan
bendung tetap yang rnenyebabkan endapan bertambah terus sampai
mencapai ketinggian mendekati mercu bendung).

Bendung gerak mempunyai perubahan ketinggian air (affux) kecil, akibatnya


bendung gerak sering dibangun bila tepi / tebing sungai rendah. Pada
bendung gerak yang agak kecil (kurang dan 200 in), hanya dibuat pintu
pelimpah / pintu spillway dan pintu kantong bilas. Pada konstruksi yang lebih
panjang dapat dibangun pembilas sungai dan diletakkan antara pintu bilas dan
pintu pelimpah / pintu gerak (spillway gate). Bangunan pembersih lumpur
boleh dibuat atau pun tidak. Umumnya bila tak dilengkapi bangunan
pembersih lumpur dan kandungan lumpurnya tinggi, kantong lumpur perlu
dibangun pada saluran induk di hilir pengambilan.

6 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

a) Pintu Gerak Bendung


Dianjurkan mengoperasikan dengan cara kolam tenang. Bila tak ada
pembilasan (pintu pembilas ditutup), pintu pengambilan dibuka untuk
memperoleh d.
b) Bendung gerak dengan pembilas sungai.
Debit melalui pembilas sungai dengan perbandingan (Vs/Vp >1) dan debit
sisa dan pembilasan dan pembilas sungai dialirkan melalui bendung gerak
(spillway bay), dengan membuka sernua pintu / bendung gerak sama
besar. Apabila ada endapan di muka pintu gerak yang perlu dibilas, pintu
tersebut dibuka penuh untuk mengaktifkan pembilasan.
c) Bendung gerak tanpa pembilas sungai.
Debit sisa (sisa debit pengambilan ditambah debit pembilasan) dialirkan
melalui bendung gerak (spillway hat). Untuk pelimpahan, secara
menyeluruh bukaan pintu lebih disukai berbentuk miring (wedge shape)
dan pada membuka pintu dengan tinggi sarna. Pintu dekat pembilas
dibuka lebih tinggi selanjutnya berangsur mengecil makin jauh dan
pembilas. Bila pengambilan air hanya pada satu sisi saja maka bukaan
pintu gerak pada sisi yang tak ada pengambilan air dibuka paling kecil
atau ditutup sama sekali. Dengan kata lain, bila ada dua pengambilan
(kiri-kanan) maka pintu gerak p.

2.4 Contoh Perhitungan (Data Asumsi)


a) Data Existing/D.I , ini diambil dari data skema DI dan skema Bangunan
sbb:
D.I Barang A = 4.408 Ha

Tabel 2.1. Data Existing

No. Saluran Panjang Bendung Bagi/ Jembatan Terjun Gorong2 Siphon Talang
(m) Sadap

1 SI. Barang 500 1 1 1 - - - -


2 SS. Makawa 14.000 - 12 1 3 1 - -
3 SS. Sambak 4.000 - 4 2 3 1 1 -
4 SS.Kedawung 5.000 - 5 1 6 - 1 1
5 SS. Lamogo 3.500 - 4 1 3 4 - 1

27.000 1 26 6 15 6 2 2

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 7


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

b) Biaya Operasi
1) Gaji/Upah/Honor
Pengamat *) (1) x Rp. 2.500.000 x 12 = Rp. 30.000.000,-
Juru *) (6) x Rp. 1.800.000 x 12 = Rp. 144.000.000,-
Penjaga Bendung *) (1) x Rp. 1,200.000 x 12 = Rp. 100.800.000,-
Penjaga Pintu Air (7) x Rp. 1.200.000 x 12 = Rp. 100.800.000,-
*) (7) x Rp. 1.200.000 x 12 = Rp. 100.800.000,-
Pekerja Saluran (28) x Rp. 1,200.000 x 12 = Rp. 403.200.000,-
Staf administrasi *) (3) x Rp. 1 .200,000 x 12 = Rp. 43.200.000,-
Sub Total 1 = Rp 850.200.000,-

2) Biaya Administrasi
Rapat dan Adm 12 x Rp. 5.000.000 = Rp. 60.000.000,-
Bahan Habis Pakai 12 x Rp. 1.000.000 = Rp. 12.000.000,-
Sub Total 2 = Rp 72.000.000,-

c) Biaya Pemeliharaan (Asumsi)


Bendung (1) x Rp. 5.000.000 x 12 = Rp. 60.000.000,-
Bangunan bagi/sadap (26) x Rp. 500.000 x 12 = Rp. 156.000.000,-
Bangunan Pelengkap (31) x Rp. 200.000 x 12 = Rp. 74.400.000,-
Saluran (27.000) x Rp.30.000 = Rp. 810.000.000,-
Sub Total 3 = Rp 1.100.400.000,-

Total biaya OP pertahun b+c = Rp. 2.022.600.000,- atau ± Rp 458.847,.


dibulatkan Rp 459,000/ha.

Catatan: perkiraan kerusakan/ perbaikan agar air tetap mengalir,


seharusnya di lakukan dengan detail pada masing masing ruas dicatat
masalahnya, lalu dihitung besarnya volume, sesuai gambar yang ada.
Dan kebutuhan total ini harus kita bagi sesuai wilayah juru pada masing
masing DI.secara proporsional..

Untuk kegiatan Administrasi Operasional kegiatan OP yaitu sebesar Rp.


922.200.000 atau sekitar 45,59 % , kebutuhan biaya ini harus dipenuhi
8 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

yang tidak bisa dikurangi ini merupakan kebutuhan dana minimal untuk
kegiatan Operasional administrasi OP sedang sisanya yaitu sebesar Rp.
1,100.000.000, atau sekitar 54,41 % harus digunakan untuk kegiatan fisik
Pemeliharaan.

Kesimpulan:

1) Besarnya biaya OP, sangat tergantung pada topografi dan posisi D.I,
apakah di daerah hulu atau hilir untuk perkiraan besarnya dana OP
kedepan bias dilaku kan pada 3 type, yaitu hulu,tipe 1, tengah tipe
2,dan hilir.tipe 3
2) Besarnya biaya OP (aknop) untuk DI Barang dengan luas 4408 ha
adalah sebesar Rp. 1.588.200.000 Atau sebesar Rp 360.000 per
hektar.
3) Perhitungan AKNOP, mengacu kreteria Permen PU NO .32 /2007 dan
kondisi lapangan Daerah Iriigasi BARANG,hasil inventarisasi
(penelusuran), bukan arel dikali harga satuan.

2.4.1 Contoh Perhitungan AKNOP (Data Real)

Pertimbangan utama dalam penggunaan utama dalam penggunaan dana


yang terbatas adalah penghematan untuk mencapai sasaran operasi dan
pemeliharaan.

Kegagalan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut akan menyebabkan


ketidak adilan dan pemborosan atas penggunaan sumber air yang tersedia
dan merosotnya produksi tanaman serta turunnya pendapatan para petani.

Pengalokasian biaya yang efektif untuk pelaksanaan yang mantaf bukan hal
yang mudah. Kebutuhan pemeliharaan bergantung kepada beberapa faktor
yang tidak dapat di standarkan atau di masukan dalam rumus-rumus sehingga
diperlukan suatu jumlah biaya yang bervariasi dari tahun ke tahun.

Perencanaan program dan perhitungan biaya yang cermat untuk O&P irigasi
sangat penting untuk menjamin adanya keuntungan yang maksimal serta
berhasil guna yang diperoleh dari biaya O&P yang terbatas.

Peran serta P3A dalam pelaksanaan dan pembiayaan P3A harus digalakan
sebagaimana Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004. Tentang Sumber Daya

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 9


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Air, Pasal 64 ayat (6) huruf a yang berbunyi: pelaksanaan operasi dan
pemeliharaan system irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan
tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya (hal. 35). Pada hal. 94, mengenai penjelasan ayat (6) huruf
a, berbunyi: Kegiatan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan system irigasi
primer dan sekunder dilakukan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, tidak
menutup kemungkinan petani pemakai air berperan serta sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuannya.

Karena itu beban pemeliharaan yang tidak menyangkut materi, tetapi tenaga
dapat dilakukan oleh P3A, seperti pembabatan rumput-runputan liar perbaikan
tanggul dan lain-lain perawatan yang bersifat rutin.

a) Rencana Anggaran Operasi


Perkiraan Anggaran kebutuhan operasi untuk suatu D.I. antara lain:
1) Gaji dan Tunjangan Petugas Pengairan.
(a) Pengeluaran gaji untuk pegawai negeri / Petugas Pengairan
(b) Upah dan Tunjangan:
(1) Berbagai tunjangan untuk pegawai (honorarium), tunjangan
Keluarga, lembur dan sebagainya.
(2) Pembayaran Pekerja Harian Tetap
(3) Pembayaran Pekerja Harian Lepas (swakelola).
(c) Biaya perjalanan untuk semua kegiatan.
2) Biaya Operasi untuk pasilitas pendukung.
(a) Gaji dan tunjangan untuk tenaga swakelola pada pemeliharaan.
(b) Material.
(1) Alat-alat kantor (kertas, pensil, pena dll).
(2) Bahan untuk pekerjaan pengukuran dan inspeksi (meteran,
clip board, dan lain-lain)
(3) Bahan untuk pemeliharaan kantor (cat, bahan pembersih dan
lain-lain)
(c) Perlengkapan
(1) Perlengkapan kantor (mesin tik, stepler dan lain-lain).
(2) Perlrngkapan pengukuran (roll meter, alat water pass, patok
ukur dan sebagainya.)

10 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

(3) Transport (biaya operasi, pemeliharaan. Suku cadang untuk


semua jenis kendaraan)

(d) Biaya operasi kantor lainnya (listrik, foto copy, pengadaan blanko
dan sebagainya)
3) Biaya Pengelolaan O&P lain-lain (rapat, penataran, pengukuran
khusus pemetaan, penyuluhan/pembinaan dari tim Pembina dsb.)
b) Rencana Anggaran Biaya O&P Tahunan
1) Perkiraan Anggaran Kebutuhan O&P untuk Daerah Irigasi dibuat
daftar rincian yang kemudian diketahui oleh Pengamat.
2) Anggaran kebutuhan O&P Daerah Irigasi tersebut diupayakan untuk
dapat di pisah-pisahkan secara mudah bila dibutuhkan berdasarkan
asal sumber dana (APBN, APBD Tk I, APBD Tk II, P3A dan lain-lain).
Tabel 2.2. Usulan Anggaran Operasi
No Uraian Satuan Volume Harga Jumlah

1. Gaji & Upah

1.1 Pengamat Orang-bulan


1.2 Juru Orang-bulan
1.3 Staf Pengamat Orang-bulan
1.4 PPA / POB Orang-bulan
1.5 Pekerja Harian Tetap Orang-bulan
1.6 Pekerja Harian Lepas Orang-bulan
Sub Total :
2 Perjalanan Dinas
2.1. Pengamat ke Kantor Sub Dinas Orang-hari
2.2. Juru ke kantor Sub Dinas Orang-hari
Sub Total :
3. Bahan habis dipakai dan ATK
3.1. Kertas, Alat Gambar, Pita dll Bulan
3.2. Biaya cetak form O&P Bulan
Pembuatan laporan, copy,
3.3. Bulan
dokumen
Sub Total :
4. Pemeliharaan bangunan
4.1. Operational rutin (listrik, air dll) Bulan
4.2 Perawatan kantor, rumah dinas Bulan
Sub Total Operasi :

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 11


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Tabel 2.3. Usulan Biaya Pemeliharaan


No Uraian Satuan Volume Harga Jumlah
1. Gaji dan Upah
1.1 Pekerja Harian Lepas Orang-
bulan
Sub Total
2. Bahan habis dipakai
2.1 Pemeliharaan bangunan,
saluran
- cat tembok Kg/tahun
- kapur tembok Kg/tahun
- cat kayu Kg/tahun
- semen Kg/tahun
- pasir Kg/tahun
2.2 Pemeliharaan pintu
- cat bronz Kg/tahun
- teer Kg/tahun
- stenvet Kg/tahun
- solar Kg/tahun
- olie SAE 90 Kg/tahun
Sub Total Kg/tahun
3. Peralatan
3.1. Perlengkapan petugas
pengairan
- Alat tulis Set / tahun
- Alat-alat kerja Set / tahun
Sub Total
Total Biaya Pemeliharaan

2.5 Latihan
1. Jelaskan dengan singkat item yang harus dihitung pada Tubuh Bendung,
Tembok Sayap Depan (kiri dan kanan) dan Tembok Sayap Belakang (kiri
dan kanan)!
2. Jelaskan dengan singkat Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan!
3. Jelaskan dengan singkat perhitungan AKNOP Bendung Gerak!

2.6 Rangkuman
Perhitungan AKNOP dilakukan dalam beberapa tahap diantarany: perhitungan
AKNOP Bendung; Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan; dan
Perhitungan AKNOP Bendung Gerak.

12 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Perhitungan besarnya kebutuhan biaya untuk OP Bendung, dilakukan


berdasar aturan regulasi yang ada, dari mulai biaya rutin untuk
mengoperasikan pintu, perbaikan kecil, pembuangan sampah, gaji upah
pekerja

Perhitungan AKNOP saluran dan bangunan dihitung berdasarkan hasil


inventori, berdasarkan prioritas kegiatan pada inventori yang disesuaikan
pada batas wilayah juru.

2.7 Evaluasi
1. Berikut ini merupakan perhitungan AKNOP Bendung....
a. Tubuh bendung dan pilar bendung
b. Tubuh bendung dan saluran sekunder
c. Saluran sekunder dan bangunan sadap 1
d. Pilar bendung dan saluran sekunder

2. Berikut ini merupakan perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan.....


a. Tubuh bendung dan pilar bendung
b. Tubuh bendung dan saluran sekunder
c. Saluran sekunder dan bangunan sadap 1
d. Pilar bendung dan saluran sekunder

3. Perbandingan debit melalui pembilas sungai adalah.....


a. (Vs/Vp >1)
b. (Vs/Vp <1)
c. (Vs/Vp <0)
d. (Vs/Vp >0)

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 13


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

14 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Perhitungan AKNOP dilakukan dalam beberapa tahap diantarany: perhitungan
AKNOP Bendung; Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan; dan
Perhitungan AKNOP Bendung Gerak.

Perhitungan besarnya kebutuhan biaya untuk OP Bendung, dilakukan


berdasar aturan regulasi yang ada, dari mulai biaya rutin untuk
mengoperasikan pintu, perbaikan kecil, pembuangan sampah, gaji upah
pekerja

Perhitungan AKNOP saluran dan bangunan dihitung berdasarkan hasil


inventori, berdasarkan prioritas kegiatan pada inventori yang disesuaikan
pada batas wilayah juru.

3.2 Tindak Lanjut


Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, peserta diharapkan membaca
referensi/ literatur yang terdapat pada daftar pustaka modul ini.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 15


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

DAFTAR PUSTAKA

UU No.11/1984, pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

PP No. 23/1982, tentang Irigasi, Depertemen Pekerjaan Umum, Jakarta

Permen PU No.11 Tahun 2013, tentang analisa harga satuan, Departemen


Pekerjaan Umum

Permen PUPR No. 17/PRT/M/2015, tentang Komisi Irigasi, Kementerian


Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta

Permen PUPR No. 12/PRT/M/2015, tentang Pedoman OP Jaringan Irigasi.


Jakarta.

2011 Standar Perencanaan Irigasi, Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen


Pekerjaan Umum

16 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

GLOSARIUM

Free Intake : Bangunan pengambilan terletak disalah satu


tebing sungai yang berfungsi mengarahkan aliran
sungai agar bisa masuk ke daerah yang
diinginkan.
Chek Dam : Bangunan yang terletak di sungai atau avoer, yang
berfungsi untuk memperkecil kemiringan, agar
Saluran stabil.
Irigasi : adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan
pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian
yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi
rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan
irigasi tambak.
Daerah irigasi : Kesatuan lahan yang mendapat air dari satu
jaringan irigasi.
Jaringan irigasi : Saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya
yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan
untuk penyediaan, pembagian, pemberian,
penggunaan, dan pembuangan air irigasi.
Jaringan irigasi primer : Bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari
bangunan utama, saluran induk/primer, saluran
pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi-
sadap, bangunan sadap, dan bangunan
pelengkapnya.
Jaringan irigasi sekunder : Bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran
sekunder, saluran pembuangannya, bangunan
bagi, bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan
bangunan pelengkapnya.
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Jaringan irigasi tersier : Jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana


pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang
terdiri dari saluran tersier, saluran kuarter dan
saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter,
serta bangunan pelengkapnya
Pemeliharaan jaringan : Upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi
irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna
memperlancar pelaksanaan operasi dan
mempertahankan kelestariannya
Pemeliharaan Rutin : Usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi
jaringan yang dilaksanakan setiap waktu.
Pemeliharaan Berkala : Usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi
jaringan yang dilaksanakan secara berkala
Rehabilitasi jaringan : Kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi dalam satu
irigasi tahun anggaran guna mengembalikan fungsi dan
pelayanan irigasi seperti semula
Pengembangan dan : Penyelenggaraan irigasi berbasis peran serta
pengelolaaî sistim irigasi masyarakat petani mulai dari pemikiran awal,
partisipatif (PPSIP) pengambilan keputusan, sampai dengan
pelaksanaan kegiatan pada tahapan perencanaan,
pembangunan, peningkatan, operasi,
pemeliharaan, dan rehabilitasi
Inventarisasi jaringan : Kegiatan yang diilaksanakan setiap tahun untuk
irigasi mendapatkan data jumlah,dimensi,jenis,kondisi
dan fungsi seluruh asset irigasi serta sata
ketersediaan air,nilai asset jaringan irigasi dan
areal pelayanan pada setiap daerah irigasi.
Inspeksi rutin : Pemeriksaan jaringan irigasi yang dilakukan
secara rutin setiap periode tertentu (10 atau 15
hari sekali) yang dilakukan oleh Juru Pengairan
pada wilayah kerjanya ntuk mengetahui kondisi
dan fungsi jaringan irigasi.

18 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Penelusuran jaringan : Kegitan pemeriksaan bersama antara Pengamat/


irigasi UPTD, juru pengairan dan P3A/ GP3A/ IP3A, dari
hulu sampai ke hilir untuk mengetahui tingkat
kerusakan dalam rangka usulan pekerjaan
pemeliharaan tahun depan dilaksanakan dua kali
setahun yaitu pada saat pengeringan dan pada
saat air normal.
PSETK (Profil Sosio : Analisis dan gambaran keadaan sosial ekonomi,
Ekonomo Teknik dan teknis dan kelembagaan yang terdapat pada satu
Kelembagaan) atau sebagian daerah irigasi dalam kurun waktu
tertentu.
Masyarakat petani : Kelompok masyarakat yang bergerak dalam
pemakai air bidang pertanian, baik yang telah tergabung dalam
organisasi perkumpulan petani pemakai air
maupun petani lainnya yang belum tergabung
dalam organisasi perkumpulan petani pemakai air
Induk perkumpulan petani : Kelembagaan sejumlah P3A yang bersepakat
pemakai air (IP3A) bekerja sama untuk memanfaatkan air irigasi dan
jaringan irigasi pada daerah layanan blok primer,
gabungan beberapa blok primer,atau satu daerah
irigasi.
Gabungan perkumpulan : Kelembagaan sejumlah P3A yang bersepakat
petani pemakai air (GP3A) bekerjasama memanfaatkan air irigasi dan
jaringan irigasi pada daerah layanan blok
sekunder, gabungan beberapa blok sekunder atau
satu daerah irigasi.
Perkumpulan petani : Kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi
pemakai air (P3A) wadah petani pemakai air dalam satu petak tersier
atau desa yang dibentuk oleh petani pemakai air
sendiri secara demokratis, termasuk lembaga lokal
pengelola irigasi.
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Forum koordinasi daerah : Sebagai sarana konsultasi dan komunikasi antara


irigasi wakil perkumpulan petani pemakai air, wakil
pengguna jaringan irigasi, dan wakil pemerintah
dalam rangka pengelolaan irigasi yang jaringannya
berfungsi multiguna pada suatu daerah irigas.
Operasi jaringan irigasi : Upaya pengaturan air irigasi dan pembuangannya,
termasuk kegiatan membuka-menutup pintu
bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam,
menyusun sistem golongan, menyusun rencana
pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/
bangunan, mengumpulkan data, memantau, dan
mengevaluasi.
Hak guna air untuk irigasi : Hak untuk memperoleh dan memakai atau
mengusahakan air dari sumber air untuk
kepentingan pertanian.
Debit Andalan : Debit perhitungan ketersediaan air berdasarkan
probabilitas 80% terjadinya debit sungai.
Peta Petak / layout : Peta yang menggambarkan/ menunjukkan segala
informasi, lokasi dan arah saluran pembawa/
pembuang, bangunan utama/ pelengkap, jalan
batas petak primer, saluran dan tersier yang dapat
diairi berdasarkan keadaan topografi daerah
tersebut, dalam skala 1 : 5.000 ; 1 : 10.000 dan
seterusnya.
Peta Ikhtisar Irigasi (Skala : Peta yang mengambarkan batas daerah irigasi dan
1 : 25.000 atau Skala 1 : tata letak saluran induk & sekunder, bangunan air,
10.000), pembagian areal layanan irigasi. Merupakan
perkecilaan dari layout.
Skema Jaringan Irigasi : Peta yang menggambarkan letak dan nama-nama
saluran induk & sekunder, bangunan air
(bangunan utama, bangunan bagi, bangunan bagi-
sadap, bangunan sadap), dan bangunan lainnya
yang ada di setiap ruas dan panjang saluran, petak

20 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

tersier dengan data debet rencana, luas petak,


kode golongan yang masing-masing dilengkapi
dengan nomenklatur.
Skema Bangunan : Sketsa yang menggambarkan letak dan nama
nama Bangunan, Bendung, bangunan bagi,
bangunan bagi/sadap, bangunan sadap dan
bangunan pelengkap lainnya yang masing-masing
dilengkapi dengan nomenklatur.
Gambar purna laksana (as : Gambar bangunan/ saluran terpasang.
built drawing)
Bangunan utama : Bangunan pengambilan/penampungan air yang
berfungsi menyadap air pada sumbernya yang
digunakan untuk irigasi (Bendungan, bendung,
Free intake, Station Pompa).
Bendung : Bangunan yang melintang dipalung sungai yang
berfungsi menaikkan muka air.
Station Pompa : Bangunan pengambilan terletak disalah satu
tebing sungai yang berfungsi untuk menaikkan
muka air melalui tenaga pompa.
Bangunan bagi : Bangunan yang terletak pada saluran
primer/sekunder yang berfungsi membagi air ke
saluran sekunder lainnya.
Bangunan sadap : Bangunan yang terletak di saluran primer/
sekunder yang dapat memberi air langsung ke
petak tersier.
Bangunan Bagi / sadap : Kombinasi kedua bangunan diatas.
Bangunan pengatur muka : Bangunan yang dibuat di saluran, yang berfungsi
air untuk mengatur elevasi muka air sesuai dengan
yang dikehendaki.
Bangunan : Bangunan yang ada dijaringan irigasi diluar
pelengkap/silang bangunan utama dan bangunan bagi/sadap misal :
gorong-gorong, talang siphon, dll.
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

Gorong-gorong : Bangunan yang mengalirkan air irigasi yang


melintasi, dibawah bangunan lain (jalan, saluran).
Talang : Bangunan yang mengalirkan air irigasi, melintas
lembah/ sungai/ saluran, bisa tertutup atau terbuka,
digunakan manakala waking cukup aman
Siphon : Bangunan yang mengalirkan air, berada dibawah
sungai/ saluran/ jalan, digunakan manakala elevasi
muka air banjir terlalu dekat dengan dasar saluran.
Talang Siphon : Bangunan kombinasi dari kedua bangunan diatas.
Bangunan terjun : Bangunan pematah energi yang ada pada saluran
irigasi, dibuat manakala kemiringan medan jauh
lebih besar dad kemiringan saluran.
Got miring : Bangunan pematah energi merupakan saluran
dengan pasangan yang mempunyai kemiringan
lebih besar dari kemiringan saluran, digunakan bila
pembuatan bangunan terjun tidak memungkinkan.
Pelimpah : Bangunan pengamanan yang ada disaluran/sungai
yang berfungsi untuk melewati air pada saat
elevasi m.a saluran melebihi elevasi m.a rencana

22 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

KUNCI JAWABAN

A. Latihan Materi Pokok 1: Perhitungan AKNOP


1. Jelaskan dengan singkat item yang harus dihitung pada Tubuh Bendung,
Tembok Sayap Depan (kiri dan kanan) dan Tembpk Sayap Belakang (kiri
dan kanan)
Jawaban:
2.4.1 Tubuh Bendung
Hasil inventori sekitar Bendung, yang telah ditetapkan berdasar skala
prioritas perlu di amati secara cermat selanjutnya perlu di estimate
besar volume dan biaya nya ,umumnya domain pekerjaan beton dan
pasangan batu
2.4.2 Tembok Sayap Depan (Kiri Dan Kanan)
Batasan untuk sekitar bendung tergantung cara kita mempilah pilah
bagian bendung, dalam hal ini kita bagi dari as kearah upstream , hasil
inventori yang telah dilakukan kita cermati volume dan besar
biayanya.
2.4.3 Tembok Sayap Belakang (Kiri Dan Kanan)
Bagian hilir tembok bendung juga harus di hitung sesuai hasil
inventori.
2. Jelaskan dengan singkat Perhitungan AKNOP Saluran dan Bangunan!
Jawaban:
a. Saluran Sekunder ( ruas 1 )
Besar volume dan biaya harus di hitung berdasar hasil inventor, Hm
sepanjang saluran harus jelas serta bangunan pelengkap yang ada.
b. Bangunan sadap 1
Bangunan sadap pertama, di hitung berdasar prioritas kegiatan pada
inventori, domain kegiatan adalah pasangan batu, beton, pintu dan
sedikit galian.
c. Saluran sekunder ruas 2
Perhitungan aknop sama dengan butir butir diatas, batas disesuaikan
pada batas wilayah juru.
MODUL 10 PENGETAHUAN DASAR AKNOP JARINGAN IRIGASI

3. Jelaskan dengan singkat perhitungan AKNOP Bendung Gerak!


Jawaban:
Bendung gerak dibagi dalam beberapa bagian, dibatasi oleh pilar-pilar dan
tembok tepi satu ke tepi lainnya. Tiap pintu dapat dibuka untuk membilas
endapan yang berada di hulu masing-masing pintu (tidak serupa dengan
bendung tetap yang rnenyebabkan endapan bertambah terus sampai
mencapai ketinggian mendekati mercu bendung).

Bendung gerak mempunyai perubahan ketinggian air (affux) kecil,


akibatnya bendung gerak sering dibangun bila tepi / tebing sungai rendah.
Pada bendung gerak yang agak kecil (kurang dan 200 in), hanya dibuat
pintu pelimpah / pintu spillway dan pintu kantong bilas. Pada konstruksi
yang lebih panjang dapat dibangun pembilas sungai dan diletakkan antara
pintu bilas dan pintu pelimpah / pintu gerak (spillway gate). Bangunan
pembersih lumpur boleh dibuat atau pun tidak. Umumnya bila tak
dilengkapi bangunan pembersih lumpur dan kandungan lumpurnya tinggi,
kantong lumpur perlu dibangun pada saluran induk di hilir pengambilan.

B. Evaluasi Materi Pokok 1: Perhitungan AKNOP


1. A
2. C
3. A

24 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI