Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ILEUS PARALITIK
A. DEFINISI OBSTRUKSI USUS
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus

sepanjang saluran usus.Obstruksi usus terdiri dari akut dan kronik, partial atau total. Obstruksi usus
biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat.Sebagian dasar
dari obstruksi justru mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat
yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap

hidup. Ada dua tipe obstruksi, yaitu:

1. Mekanis (Ileus Obstruktif)

Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik.Ileus obstruktif

ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari.

Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura,
perlengketan, hernia dan abses.

2. Neurogenik/Fungsional (Ileus Paralitik)


Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus

terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis,

distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti

penyakit parkinson.

B. ETIOLOGI ILEUS PARALITIK


Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pascabedah abdomen, tetapi ada faktor

predisposisi lain yang mendukung peningkatan risiko terjadinya ileus, diantaranya sebagai berikut :

1. Sepsis.

2. Obat-obatan (misalnya : opioid, antasid, coumarin, amitriptyline, chlorpromazine).


3. Gangguan elektrolit dan metabolik (misalnya hipokalemia, hipomagnese-mia, hipernatremia,

anemia, atau hiposmolalitas).

4. Infark miokard.

5. Pneumonia.
6. Trauma (misalnya : patah tulang iga, cedera spina).
7. Bilier dan ginjal kolik.

8. Cedera kepala dan prosedur bedah saraf.


9. Inflamasi intra abdomen dan peritonitis.
10. Hematoma retroperitoneal.
Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada :

a. proses intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal
(peritonitis, pankreatitis, perdarahan);
b. sakit berat seperti pneumonia, gangguan pernafasan yang memerlukan intubasi, sepsis atau

infeksi berat, uremia, dibetes ketoasidosis, dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia,


hiperkalsemia, hipomagnesemia, hipofosfatemia); dan
c. obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid, antikolinergik, fenotiazine). Setelah
pembedahan, usus halus biasanya pertama kali yang kembali normal (beberapa jam), diikuti

lambung (24-48 jam) dan kolon (48-72 jam).

Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus mekanik.

Diduga, otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus. Kurangnya tindakan

pendorong terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus. Meskipun ileus

disebabkan banyak faktor, keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling umum untuk
terjadinya ileus. Memang, ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut.

Fisiologisnya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari, setelah motilitas sigmoid kembali
normal. Ileus yang berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus

adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi.

Sering, ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal, tetapi mungkin juga terjadi setelah

pembedahan retroperitoneal dan extra-abdominal. Durasi ter-panjang dari ileus tercatat terjadi

setelah pembedahan kolon. Laparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih

singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka.


Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. Pasien dengan ileus merasa tidak nyaman

dan sakit, dan akan meningkatkan risiko komplikasi paru. Ileus juga meningkatkan katabolisme

karena gizi buruk. Secara keseluruhan, ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena

memperpanjang rawat inap di rumah sakit. Penyakit/keadaan yang menimbulkan ileus paralitik
dapat diklasi-fikasikan seperti yang tercantum dibawah ini:

1) Neurogenik. Pasca operasi, kerusakan medulla spinalis, keracunan ureter, iritasi persarafan

splanknikus, pankreatitis.

2) Metabolik. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia), uremia, komplikasi DM,


penyakit sistemik seperti SLE, sklerosis multiple.
3) Obat-obatan. Narkotik, antikolinergik, katekolamin, fenotiazin, antihistamin.

4) Infeksi/ inflamasi. Pneumonia, empiema, peritonitis, infeksi sistemik berat lainnya.


5) Iskemia usus.
C. PATOFISIOLOGI ILEUS PARALITIK

Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis
dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal, menimbulkan banyak efek
yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Sistem simpatis

menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara : pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung
norepineprin pada otot polos (kecuali muskularis mukosa, dimana ia merangsangnya), dan pada
tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf
enterik. Jadi, perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan

makanan melalui traktus gastrointestinal. Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam

sistem saraf enterik akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastro

intestinal, namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat

eksitatorik, beberapa neuron bersifat inhibitorik, ujung seratnya mensekresikan suatu transmitter

inhibitor, kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya. Peristiwa
patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah

obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah
obstruksi paralitik dimana peristaltic dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik

peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Perubahan pato-

fisiologi utama pada obstruksi usus adalah lumen usus yang tersumbat secara progresif akan

tergang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen,

yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan

diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari ke sepuluh. Tidak adanya absorbs dapat
mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah

pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolik. Pengaruh atas

kehilangan ini adalah penyempitan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok-hipotensi,

pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus
yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorbs cairan dan peningkatan

sekresi cairan ke dalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan

peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin bakteri kedalam rongga

peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia. Pada obstruksi mekanik
simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologic. Makanan dan
cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya

komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorbs
membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi edema dan kongesti. Distensi
intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan
peristaltic dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan risiko dehidrasi, iskemia, nekrosis,

perforasi, peritonitis, dan kematian.


D. PATHWAY

Ileus paralitik

Penyempitan lumen usus : hernia inkarserata


(isi lumen : benda asing, skibala,ascariasis.
Dinding usus : stenosis ( radang kronik ), keganasan.
Ekstra lumen : Tumor intraabdomen.)

Obstruksi ileus

Akumulasi isi usus, cairan, dan gas didaerah diatas usus yang mengalami obstruksi

Distensi abdomen

Tekanan intralumen usus mengurangi absorbsi cairan dan

Penurunan tekanan kapiler vena arteriola merangsang lebih banyak sekresi lambung
Edema ,kongesti,nekrosis asam lambung

Dan akhirnya rupture atau perforasidinding usus refluk

Perironitis mual muntah

pengeluaran mediator kimia pengeluaran interleukin Gangguan


pemenuhan
( bradikinin, serotonin, histamine, dan set point temperature nutrisi

Prostaglandin ) febris

Merangsang ujung saraf bebas

Medulla spinalis Peningkatan


suhu tubuh
talamus

kortek serebri

respon nyeri abses

Gangguan rasa Resiko


nyaman infeksi
E. MANIFESTASI KLINIS ILEUS PARALITIK

Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal distention), anoreksia, mual
dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus
paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi.

Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung, tidak disertai nyeri kolik abdomen yang
paroksismal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan
bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pada palpasi, pasien
hanya menyatakan perasaan tidak enak pada perutnya. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal

(nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis yang

ditemukan adalah gambaran peritonitis.

Gejala klinisnya,yaitu :

1. Distensi yang hebat tanpa rasa nyeri (kolik).

2. Mual dan mutah.


3. Tak dapat defekasi dan flatus, sedikitnya 24-48 jam.

4. Pada palpasi ringan perut, ada nyeri ringan, tanpa defans muskuler.
5. Bising usus menghilang.

6. Gambaran radiologis : semua usus menggembung berisi udara.

F. KOMPLIKASI ILEUS PARALITIK

1. Nekrosis usus.

2. Perforasi usus dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada organ intra
abdomen.

3. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga terjadi peradangan atau

infeksi yang hebat pada intra abdomen.

4. Sepsis infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
5. Syok dehidrasi terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.

6. Abses sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi.

7. Pneumonia aspirasi dari proses muntah.

8. Gangguan elektrolit, refluk muntah dapat terjadi akibat distensi abdomen. Muntah
mengakibatkan kehilangan ion hidrogen dan kalium dari lambung, serta menimbulkan
penurunan klorida dan kalium dalam darah.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG ILEUS PARALITIK

1. Pemeriksaan radiologi
a. Foto polos abdomen 3 posisi
Dengan posisi terlentang dan tegak (lateral dekubitus) memper-lihatkan dilatasi lengkung

usus halus disertai adanya batas antara air dan udara atau gas (air-fluid level) yang
membentuk pola bagaikan tangga, posisi setengah duduk untuk melihat Gambaran udara
cairan dalam usus atau di luar usus, misalnya pada abses, Gambaran udara bebas di bawah
diafragma, Gambaran cairan di rongga pelvis atau abdomen bawah.

b. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema

Mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus halus. Pengujian

Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi letak rendah yang tidak

dapat pada pemeriksaan foto polos abdomen. Pada anak-anak dengan intussuscepsi,

pemeriksaan enema barium tidak hanya sebagai diagnostik tetapi juga mungkin sebagai
terapi.

c. CT–Scan
Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya

strangulasi. CT–Scan akan mempertunjukkan secara lebih teliti adanya kelainan-kelainan

dinding usus, mesenterikus, dan peritoneum. CT–Scan harus dilakukan dengan

memasukkan zat kontras kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui

derajat dan lokasi dari obstruksi.

d. USG
Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran dan penyebab dari obstruksi.

e. MRI

Walaupun pemeriksaan ini dapat digunakan, tetapi tehnik dan kontras yang ada sekarang

ini belum secara penuh mapan. Teknik ini digunakan untuk mengevaluasi iskemia
mesenterik kronis.

f. Angiografi

Angiografi mesenterik superior telah digunakan untuk men-diagnosis adanya herniasi

internal, intussuscepsi, volvulus, malrotation, dan adhesi.

2. Pemeriksaan laboratorium

Leukositosis mungkin menunjukkan adanya strangulasi, pada urinalisa mungkin menunjukkan


dehidrasi. Analisa gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolic.
H. PENATALAKSANAAN

1. Konservatif
a. Penderita dirawat di rumah sakit.
b. Penderita dipuasakan

c. Kontrol status airway, breathing and circulation.


d. Dekompresi dengan nasogastric tube.
e. Intravenous fluids and electrolyte
f. Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.

2. Farmakologis

a. Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.

b. Analgesik apabila nyeri.

3. Operatif

a. Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis.
b. Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis

sekunder atau rupture usus.


c. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang

disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.

I. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan gaya

hidup.
b. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji. Pada umumnya

akan ditemukan klien merasakan nyeri pada abdomennya biasanya terus menerus,
demam, nyeri tekan dan nyeri lepas, abdomen tegang dan kaku.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari pertolongan, dikaji dengan

menggunakan pendekatan PQRST :

P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan.


Q :Bagaiman keluhandirasakan oleh klien, apakah hilang, timbul atau terus- menerus

(menetap).
R : Di daerah mana gejala dirasakan
S : Keparahan yang dirasakanklien dengan memakai skala numeric1 s/d 10.
T :Kapan keluhan timbul, sekaligus factor yangmemperberat dan memperingan

keluhan.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit pada sistem pencernaan, atau

adanya riwayat operasi pada sistem pencernaan.


4) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan klien.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Status kesehatan umum
Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum,

ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap

petugas, bagaimana mood pasien.

b. Sistem pernafasan
Peningkatan frekuensi napas, napas pendek dan dangkal

c. Sistem kardiovaskuler
Takikardi, pucat, hipotensi (tanda syok)

d. Sistem persarafan
Tidak ada gangguan pada sistem persyarafan

e. Sistem perkemihan
Retensio urine akibat tekanan distensi abdomen, anuria/oliguria, jika syok hipovolemik

f. Sistem pencernaan
Distensi abdomen, muntah, bising usus meningkat, lemah atau tidak ada,

ketidakmampuan defekasi dan flatus.

g. Sistem muskuloskeletal
Kelelahan, kesulitan ambulansi

h. Sistem integumen
Turgor kulit buruk, membran mukosa pecah-pecah (syok)

i. Sistem endokrin
Tidak ada gangguan pada sistem endokrin

j. Sistem reproduksi

Tidak ada gangguan pada sistem reproduksi


3. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi
nutrisi.

c. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


d. Resiko infeksi berhubungan denganperforasi dinding usus
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan
Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Nyeri akut berhubungan dengan: NOC : NIC :

Agen injuri (biologi, kimia, fisik,  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
psikologis), kerusakan jaringan  pain control, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

 comfort level  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama ….  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan

Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil: dukungan


 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti

mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

mengurangi nyeri, mencari bantuan)  Kurangi faktor presipitasi nyeri

 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
menggunakan manajemen nyeri  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,

 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi distraksi, kompres hangat/ dingin

dan tanda nyeri)  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri


 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang  Tingkatkan istirahat

 Tanda vital dalam rentang normal  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa

 Tidak mengalami gangguan tidur lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari

prosedur

 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik


pertama kali.
Risiko infeksi NOC : NIC :
Faktor-faktor risiko :  Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
- Prosedur Infasif  Knowledge : Infection control  Batasi pengunjung bila perlu
- Kerusakan jaringan dan peningkatan  Risk control  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
paparan lingkungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…… keperawatan
- Malnutrisi pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
- Peningkatan paparan lingkungan  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi  Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
patogen  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah umum
- Imonusupresi timbulnya infeksi  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
- Tidak adekuat pertahanan sekunder  Jumlah leukosit dalam batas normal kandung kencing
(penurunan Hb, Leukopenia,  Menunjukkan perilaku hidup sehat  Tingkatkan intake nutrisi
penekanan respon inflamasi)  Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam  Berikan terapi antibiotik
- Penyakit kronik batas normal  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
- Imunosupresi  Pertahankan teknik isolasi k/p
- Malnutrisi  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
- Pertahan primer tidak adekuat panas, drainase
(kerusakan kulit, trauma jaringan,  Monitor adanya luka
gangguan peristaltik)  Dorong masukan cairan

 Dorong istirahat

 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi

 Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam


Resiko ketidakseimbangan nutrisi lebih NOC : NIC :
dari kebutuhan tubuh  Nutritional Status : food and Fluid Intake Weight Management

Berhubungan dengan :  Nutritional Status : nutrient Intake  Diskusikan bersama pasien mengenai hubungan antara
Intake yang berlebihan terhadap  Weight control intake makanan, latihan, peningkatan BB dan penurunan BB

kebutuhan metabolisme tubuh Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….  Diskusikan bersama pasien mengani kondisi medis yang
Ketidak seimbangan nutrisi lebih teratasi dengan dapat mempengaruhi BB

kriteria hasil:  Diskusikan bersama pasien mengenai kebiasaan, gaya hidup


 Mengerti factor yang meningkatkan berat dan factor herediter yang dapat mempengaruhi BB

badan  Diskusikan bersama pasien mengenai risiko yang

 Mengidentfifikasi tingkah laku dibawah kontrol berhubungan dengan BB berlebih dan penurunan BB

klien  Dorong pasien untuk merubah kebiasaan makan

 Memodifikasi diet dalam waktu yang lama  Perkirakan BB badan ideal pasien

untuk mengontrol berat badan Nutrition Management

 Penurunan berat badan 1-2 pounds/mgg  Kaji adanya alergi makanan


 Menggunakan energy untuk aktivitas sehari  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori

hari dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

 Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe


 Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

 Berikan substansi gula

 Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk

mencegah konstipasi

 Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan


dengan ahli gizi)
 Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
 Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

 Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi


 Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang

dibutuhkan.
Weight reduction Assistance

 Fasilitasi keinginan pasien untuk menurunkan BB


 Perkirakan bersama pasien mengenai penurunan BB

 Tentukan tujuan penurunan BB

 Beri pujian/reward saat pasien berhasil mencapai tujuan

 Ajarkan pemilihan makanan

Hipertermia NOC: NIC :


Berhubungan dengan : Thermoregulasi  Monitor suhu sesering mungkin

- penyakit/ trauma Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...  Monitor warna dan suhu kulit
- peningkatan metabolisme pasien menunjukkan :  Monitor tekanan darah, nadi dan RR

- aktivitas yang berlebih Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:  Monitor penurunan tingkat kesadaran

- dehidrasi  Suhu 36 – 37C  Monitor WBC, Hb, dan Hct


 Nadi dan RR dalam rentang normal  Monitor intake dan output

 Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada  Berikan anti piretik:

pusing, merasa nyaman  Kelola Antibiotik

 Selimuti pasien

 Berikan cairan intravena

 Kompres pasien pada lipat paha dan aksila


 Tingkatkan sirkulasi udara
 Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR


 Catat adanya fluktuasi tekanan darah

 Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran


mukosa)
DAFTAR PUSTAKA

Ahern, Wilkinson. 2012. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.


Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. 2012-2014. Jakarta: Salemba
Medika.

Price, Sylvia. 2003 . Patofisiologi Volume 2. Jakarta: EGC.


Smeltzer, Suzanne C. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, alih bahasa:
Agung Waluyo (et. al.), vol. 1, edisi 8, Jakarta: EGC