Anda di halaman 1dari 19

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. GADGET
2.1.1. Defenisi
Pada era globalisasi seperti saat ini, media untuk seseorang
melakukan sebuah interaksi sosial, khususnya untuk melakukan
kontak sosial maupun berkomunikasi satu dengan lainnya tidaklah
susah, hanya dengan menggunakan gadget seseorang dapat
berinteraksi satu dengan lainnya. Gadget adalah sebuah istilah dalam
bahasa Inggris yang mengartikan sebuah alat elektronik kecil dengan
berbagai macam fungsi (Chusna, 2017). Gadget sendiri dapat berupa
komputer atau laptop, tablet PC, dan juga telepon seluler atau
smartphone.

2.1.2. Fungsi Gadget


Gadget memiliki fungsi dan manfaat yang relatif sesuai
dengan penggunanya. Fungsi dan manfaat gadget secara umum di
antaranya adalah:
1) Komunikasi
Pengetahuan manusia semakin luas dan maju. Jika
zaman dahulu manusia berkomunikasi melalui batin, kemudian
berkembang melalui tulisan yang dikirim pos. Sekarang zaman
era globalisasi manusia dapat berkomunikasi dengan mudah,
cepat, praktis dan lebih efisien dengan menggunakan gadget.
2) Sosial
Gadget memiliki banyak fitur dan aplikasi yang tepat
untuk kita dapat berbagi berita, kabar dan cerita. Sehingga
dengan pemanfaatan tersebut dapat menambah teman dan
menjalin hubungan dengan kerabat yang jauh tanpa harus
menggunakan waktu yang relatif lama untuk berbagi atau
berjumpa satu sama lain.
8

3) Pendidikan
Seiring berkembangnya zaman, sekarang belajar tidak
hanya terfokus dengan buku. Namun melalui gadget kita dapat
mengakses berbagai ilmu pengetahuan yang kita perlukan
tentang pendidikan, politik, ilmu pengetahuan umum atau agama
tanpa harus repot pergi ke perpustakaaan yang mungkin jauh
untuk dijangkau.

2.1.3. Dampak Pemakaian Gadget


Berdasarkan hasil seminar Internasional “Pengaruh Media
Terhadap Perkembangan Anak” pada tanggal 1 November 2017 di
UIN Malang, pemakaian gadget dapat memberikan dampak positif
maupun negatif.
2.1.1.1. Dampak Positif
1) Mempermudah komunikasi
Dalam hal ini gadget dapat mempermudah komunikasi
dengan orang lain yang berada jauh dari kita dengan
cara sms, telepon, atau dengan semua aplikasi yang
dimiliki dalam gadget.
2) Menambah pengetahuan
Dalam hal pengetahuan kita dapat dengan mudah
mengakses atau mencari situs tentang pengetahuan
dengan menggunakan aplikasi yang ada di dalam
gadget.
3) Menambah teman
Dengan banyaknya jejaring sosial yang bermunculan
akhir – akhir ini kita dapat dengan mudah menambah
teman melalui jejaring sosial yang ada dalam gadget.
9

2.1.1.2. Dampak negatif


1) Merusak mata
Jika anda pernah merasa mata lelah dan perih saat
melihat ponsel, tidaklah mengherankan karena ketika
mata diajak terus menerus untuk fokus pada benda kecil
mata akan kering dan tingkat yang paling ekstrim bisa
menderita infeksi.
2) Mengubah postur tubuh
Kristen Lord seorang ahli fisioterapi mengungkapkan
bahwa tubuh bereaksi akan kebiasaan yang dilakukan
sehari-hari. Ketika kerap melihat ponsel leher dan
pundak turut terkena efeknya.
3) Mengganggu pendengaran
Hampir setiap pengguna ponsel atau tablet tampak
mengenakan headphone untuk mendengarkan musik.
Namun ini tidak baik jika terus menerus dilakukan,
apalagi dengan volume yang terlalu besar, dapat
merusak gendang telinga.
4) Mengganggu saat istirahat
Komputer, laptop, tablet dan ponsel mengganggu
hormon melatonin yang akan turut membuat tidur jadi
terganggu. Sebuah riset dari Mayo Clinic di Arizona
menganjurkan agar setiap orang menurunkan kadar
cahaya di ponsel lebih rendah sehingga tidak begitu
mengganggu di malam hari. Saat beristirahat sebaiknya
ponsel dalam keadaan silent atau jauhkan dari tempat
tidur.

2.2. ANAK USIA SEKOLAH


2.2.1. Pengertian
Menurut wong (2009) dalam Kozier (2010), anak usia
sekolah adalah anak pada usia 6 – 12 tahun, yang artinya sekolah
10

menjadi pengalaman inti anak. Periode ketika anak – anak dianggap


mulai bertanggung jawab atas prilakunya sendiri dalam hubungan
dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia
sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar – dasar
pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan
dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu.

2.2.2. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah


Tugas – tugas perkembangan anak usia sekolah menurut
Havighurst dalam Kozier (2010) adalah sebagai berikut :
1) Mempelajari keterampilan fisik yang penting untuk permainan
umum.
2) Membangun sikap sehat terhadap diri sendiri sebagai makhluk
hidup yang bertumbuh.
3) Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4) Mempelajari peran sosial maskulin atau feminim yang sesuai.
5) Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca , menulis
dan berhitung.
6) Mengembangkan berbagai konsep penting dalam kehidupan
sehari – hari.
7) Membangun hati nurani, moralitas, dan skala nilai.
8) Mencapai kemandirian personal.
9) Membangun sikap terhadap kelompok sosial dan institusi.

2.3. KECERDASAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000) dalam Zakiah (2013),
mengartikan kecerdasan sebagai perihal cerdas (sebagai kata benda), atau
kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian dan ketajaman
pikiran).
Menurut Howard Gardner dalam Efendi (2005), kecerdasan adalah
kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai
bagi budaya tertentu. Sedangkan menurut Alfred Binet dan Theodore Simon
11

dalam Efendi (2005), kecerdasan terdiri dari tiga komponen yaitu (1)
kemampuan mengarahkan pikiran atau tindakan, (2) kemampuan mengubah
arah tindakan jika tindakan tersebut tidak dilakukan, dan (3) kemampuan
mengkritik diri sendiri.
Menurut Kuswana (2014), defenisi intelegensi yang dituliskan oleh
beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1) Intelegensi sebagai kemampuan menyesuaikan diri (Tyler,1956;
Wechsler, 1958; Sorenson, 1977)
2) Intelegensi sebgai kemampuan untuk belajar (Freeman, 1971)
3) Intelegensi sebagai kemampuan untuk berpikir abstrak (Mehrens, 1973;
Terman dalam Cider, 1983)
4) Intelegensi merupkan sisi tunggal dari karakteristik yang terus
berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Fungsi
intelegensi adalah (1) direction, kemampuan untuk memusatkan pada
suatu masalah yang harus dipecahkan; (2) adaptation, kemampuan
untuk menandakan adptasi terhadap masalah; dan (3) criticism,
kemampuan untuk menandakan kritik, baik terhadap masalah yang
dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri (Alfred Binet, 1857 – 1931).
5) Intelegensi sebgai kemampuan untuk memahami masalah – masalah
yang bercirikan : mengandung kesukaran, kompleks, abstrak dan
diarahkan pada tujuan (George D. Stoddard, 1941).
6) Whitheringtone mengemukakan yang paling tepat intelegensi adalah
“kelakuan cerdas” dengan ciri – ciri mendasar, seperti :
a) Cepat, makin cepat suatu pekejaan diselesaikan, makin cerdas
orang yang menyelesaikannya.
b) Cekatan, biasanya dihubungkan dengan keadaan, misalnya
pekerjaan tangan dengan mudah dan tangkas menyelesaikan.
c) Tepat, sesuai dengan tuntutan keadaan misalnya mengukur jalan
yang panjang dengan besaran yang benar.
12

Menurut Amstrong dalam Dwijayanti (2009) kecerdasan adalah


kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar
dari pengalaman masa lalu seseorang.
Gardner seorang Psikologis Amerika mengatakan bahwa kecerdasan
adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk
dalam suatu aturan yang bermacam-macam dan situasinya yang nyata (Yani,
2011 dalam Zakiah, 2013).
Dengan demikian dari beberapa pengertian diatas, kecerdasan dapat
diartikan sebagai kesempurnaan akal budi seseorang yang diwujudkan
dalam suatu kemampuan untuk memperoleh kecakapan-kecakapan tertentu
dan untuk memecahkan suatu persoalan atau masalah dalam kehidupan
secara nyata dan tepat.

2.3.1. Kecerdasan Intelektual


2.3.1.1. Pusat Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan Intelektual atau otak rasional berpusat di
cortex cerebri atau bagian luar otak besar yang berwarna
abu – abu. Volumenya cukup besar sampai mencapai 80%
dari volume seluruh otak. Besarnya volume cortex cerebri
memungkinkan manusia berpikir secara rasional dan
menjadikan manusia berbudaya. Semakin berbudi dan
berbudaya, manusia akan menggeser prilakunya lebih ke
pusat berpikir rasional.
Secara fisik, cortex cerebri terbelah menjadi
hemisfer kiri dan kanan. Namun, keduanya memproses
informasi (termasuk materi pelajaran) secara bersamaan.
Meskipun otak kiri mempunyai spesifikasi cara berpikir
linear dan sekuensial, bukan berarti otak kanan tidak
mampu berpikir linear sekuensial. Demikian pula
sebaliknya, meskipun otak kanan mempunyai spesifikasi
berpikir kreatif dan lateral, bukan berarti otak kiri tidak
mampu berpikir kreatif dan lateral.
13

Belahan secara fisik tidak berimplikasi pada sistem


kerja secara empiris. Secara anatomis, di dalam cortex
cerebri terdapat lobus frontal (di dahi), lobus occipital (di
kepala bagian belakang), lobus temporal (di seputaran
telinga), dan lobus parietal (di puncak kepala).
Lobus frontal bertanggung jawab untuk kegiatan
berpikir, perencanaan, dan penyusunan konsep. Lobus
temporal juga bertanggung jawab terhadap persepsi suara
dan bunyi. Memori dan kegiatan berbahasa (terutama pada
otak kiri) juga menjadi tanggung jawab lobus ini. Lobus
parietal bertanggung jawab juga untuk kegiatan berpikir
terutama pengaturan memori. Bekerja sama dengan lobus
occpiital, lobus parietal turut mengatur kerja penglihatan.
Lobus – lobus tersebut menjadi penting karena mereka
menyokong cortex cerebri yang mengemban fungsi vital
terutama untuk berpikir rasional dan daya ingat.
Otak rasional (IQ) tidak akan maksimal tanpa peran
otak emosional dan otak spiritual. Rasionalitas dalam
pembelajaran harus melibatkan emosionalitas dengan cara
mengemasmateri pelajaran dalam bentuk gambar, kata dan
suara. Berdoa sebelum belajar adalah gerbang memasuki
dimensi emosi – spiritual.

2.3.1.2. Defenisi Kecerdasan Intelektual


Intelegence quitient (IQ), adalah skor yang diperoleh
dari salah satu dari beberapa test standar yang dirancang
untuk menilai intelegensi. Singkatan IQ berasal dari istilah
bahasa Jerman Intelligens Quotient, awalnya diciptakan
oleh psikolog William Stern (Kuswana, 2014).
Kecerdasan intelektual merupakan interpretasi hasil
tes inteligensi (kecerdasan) ke dalam angka yang dapat
menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat inteligensi
14

seseorang. Kecerdasan intelektual berkaitan dengan


kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak,
dan penguasaan matematika. Kecerdasan intelektual mampu
bekerja mengukur ketepatan, mengukur hal – hal baru,
menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif serta
berperan aktif dalam menghitung angka – angka dan lain –
lain. Kita dapat menggunakan kecerdassan intelektual yang
menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan
fakta obyektif, akurat dan untuk memprediksi resiko,
melihat konsekuensi dari setiap keputusan yang ada
(Saputra, et al, 2017).
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan berfikir
dan akal cemerlang yang mengelol otak kanan dan otak kiri
secara seimbang (Vendy dalam Saputra, et al.,2017).
Kevcerdasan intelektual juga diartikan sebagai kemampuan
kognitif secra global yang dimiliki oleh individu agar dapat
bertindak secara terarah dan berpikir secara bermakna
sehingga dapat memecahkan masalah (Trihandini, 2005
dalam Saputra, 2017).

2.3.1.3. Komponen kecerdasan Intelektual


Dalam penelitian ini kecerdasan intelektual
mahasiswa diukur dengan indikator sebagai berikut:
(Dwijayanti, 2009 dalam Zakiah.,2013)
1) Kemampuan Memecahkan Masalah
Kemampuan memecahkan masalah yaitu mampu
menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yang
dihadapi, mengambil keputusan tepat, menyelesaikan
masalah secara optimal, menunjukkan fikiran jernih.
2) Intelegensi Verbal
15

Intelegensi verbal yaitu kosakata baik, membaca


dengan penuh pemahaman, ingin tahu secara
intelektual, menunjukkan keingintahuan.

3) Intelegensi Praktis
Intelegensi praktis yaitu tahu situasi, tahu cara
mencapai tujuan, sadar terhadap dunia keliling,
menujukkan minat terhadap dunia luar.

2.3.2. Kecerdasan Emosional


2.3.2.1. Pusat Kecerdasan Emosional
Otak emosional berpusat di dalam sistem limbik.
Sistem ini secara evolutif jauh lebih tua daripada bagian
cortex cerebri karena sistem limbik tumbuh dan
berkembang lebih awal dari cortex cerebri. Artinya, pada
awalnya bagian otak yang pertama muncul adalah sistem
limbik. Fungsi sistem limbik adalah pengaturan emosi. Hal
ini menunjukkan bahwa perkembangan otak manusia
dimulai dengan pikiran emosional sebelum pikiran rasional
berfungsi. Oleh karena itu, otak anak – anak pada dasarnya
adalah otak emosional, bukan otak rasional. Atas dasar ini,
pembelajaran yang efektif pada anak – anak adalah
stimulasi emosionalitas, seperti memberikan rasa gembira,
antusias dan lain – lain.
Namun demikian, otak emosional juga tidak dapat
bekerja sendirian tanpa peran otak rasional dan otak
spiritual. Antonio Damasio, sebagaimana dikutip Eric
Jensen menyatakan bahwa emosi dan rasio, termasuk
spiritual terangkai menjadi satu – kesatuan dalam jaringan
neural dari akal sehat. Selanjutnya Damasio menyatakan
bahwa emosi yang tidak terkendali atau tidak terarahkan
16

dapat menjadi sumber utama dari prilaku irasional, tetapi


mengurangi emosi juga menjadi sumber yang sama
pentingnya dalam membentuk prilaku irasional. Dengan
kata lain, emosi yang tidak terkontrol menimbulkan prilaku
brutal yang berujung pada tindakan kriminal, sedangkan
rendahnya emosional akan menimbulkan prilaku malas,
lemah pikir, lemah penglihatan, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, hasil kerja otak emosional disebut
kecerdasan emosional. Goleman (1997) mendefenisikan
kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk
memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustrasi,
mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih – lebihkan
kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban
stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati
dan berdoa.

2.3.2.2. Defenisi Kecerdasan Emosional


Kecerdasan emosional adalah kemampuan
mengenali perasaan diri kita sendiri dan perasaan orang
lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan
mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam
hubungannya dengan orang lain (Goleman dalam Efendi,
2005).
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk
mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan emosi diri
sendiri, orang lain dan kelompok (Kuswana, 2014).
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk
memahami perasaan diri sendiri, untuk berempati terhadap
perasaan orang lain dan untuk mengatur emosi, yang secara
bersama berperan dalam peningkatan taraf hidup seseorang
(Martin dalam Saputra, 2017)
17

2.3.2.3. Komponen Kecerdasan Emosional


Pengembangan kecerdasan emosional dirangkum
dalam lima komponen berikut :
1) Pengenalan Diri (Self Awareness)
Pengenalan diri adalah kemampuan seseorang untuk
mengetahui perasaan dalam dirinya dan digunakan
untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki
tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan
memiliki kepercayaan diri yang kuat. Unsur-unsur
kesadaran diri, yaitu kesadaran emosi, penilaian diri,
dan percaya diri.

2) Pengendalian Diri (Self Regulation)


Pengendalian diri adalah kemampuan menangani emosi
diri sehingga berdampak positif pada pelaksanaan
tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda
kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan
mampu segera pulih dari tekanan emosi. Unsur-unsur
pengendalian diri, yaitu kendali diri, sifat dapat
dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan inovasi.

3) Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat agar
setiap saat dapat membangkitkan semangat dan tenaga
untuk mencapai keadaan yang lebih baik, serta mampu
mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif. Unsur-
unsur motivasi, yaitu dorongan prestasi, komitmen,
inisiatif, dan optimisme.

4) Empati (Emphaty)
Empati adalah kemampuan merasakan apa yang
dirasakan oleh orang lain. Mampu memahami
18

perspektif orang lain dan menimbulkan hubungan


saling percaya, serta mampu menyelaraskan diri dengan
berbagai tipe individu. Unsur – unsur empati, yaitu
memahami orang lain, mengembangkan orang lain,
orientasi pelayanan, memanfaatkan keragaman, dan
kesadaran politis.

5) Ketrampilan Sosial (Social Skills)


Ketrampilan sosial adalah kemampuan menangani
emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang
lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah,
menyelasaikan perselisihan, dan bekerjasama dalam
tim. Unsur – unsur keterampilan sosial, yaitu pengaruh,
komunikasi, manajemen konflik, kepemimpinan,
membangun hubungan, kolaborasi dan kooperatif, dan
kemampuan tim.

2.3.3. Kecerdasan Spiritual


2.3.3.1. Pusat Otak Spiritual
Otak spiritual berpusat pada noktah Tuhan yang
ditemukan oleh Ramachandran di Lobus Temporal. Bagian
inilah basis neurologis dibangunnya kesadaran tingkat
tinggi (spiritualitas) manusia. Kesadaran tersebut dibangun
oleh adanya sel – sel kelabu dalam otak. Jika sel – sel ini
bekerja, lahirlah pikiran rasional yang merupakan titik pijak
awal menuju kesadaran tingkat tinggi (spiritual) tersebut.
Terdapat empat bukti yang memperkuat dugaan
adanya potensi spiritual dalam otak, yaitu potensi untuk
membentuk kesadaran sejati manusia tanpa pengaruh
pancaindra dan dunia luar. Keempat bukti tersebut adalah:
(1) Osilasi 40 Hz yang ditemukan Denis Pare dan udolpho.
Dengan alat MEG (magnetoencephalography) ditemukan
19

bahwa gerakan – gerakan saraf akan berlangsung secara


terpadu pada tingkatan frekuensi 40 Hz; (2) Alam bawah
sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph Ledoux; (3) God
Spot pada daerah temporal yang ditemukan oleh
Ramachandran; (4) Somatic Marker yang ditemukan oleh
Antonio Damasio.
Secara neurologis, Tuhan telah meninggalkan
“jejakNya” dalam diri manusia. Adanya noktah Tuhan
membuat manusia sanggup berpikir dalam kerangka nilai
(value). Pelembagaan nilai tersebut secara umum disebut
agama dan merupakan sistematisasi dari fungsi spiritual
otak. Jadi, ketika seseorang menganut suatu agama, itu
berarti ia sedang mewujudkan dimensi spiritual atas
otaknya. Demikian halnya ketika seseorang tidak menganut
agama secara formal, tetapi mewujudkan nilai dalam prilaku
hidupnya, ia juga sedang mewujudan dimensi spiritual
dalam otaknya. Dengan demikian, optimalisasi otak
spiritual akan membuat seseorang hidup lebih baik dan
bermakna, apapun agamanya.
Cara kerja otak spiritual disebut berpikir intuitif.
Hasil kerja dari kerja berpikir intuitif disebut kecerdasan
spiritual. Pada dasarnya kecerdassan spirirtual merupakan
kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan,
khususnya terkait dengan makna hidup dan nilai.
Kecerdasan spiritual yang kuat akan menjadi landasan
kokoh untuk memfungsikan kecerdasan intelektual dan
kecerdasan emosional secara efektif. Kecerdasan spiritual
digunakan untuk bergulat dengan hal ihwal baik dan buruk,
serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum
terwujud.

2.3.3.2. Defenisi Kecerdasan Spiritual


20

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk


menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai,
yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita
dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan
untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang
lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar, et al
2000 dalam Saputra., 2017).
Kecerdasan spiritual digambarkan sebagai ukuran
yang terlihat pada kecerdasan spiritual seseorang dalam cara
yang sama seperti IQ terlihat pada kecerdasan kognitif. Ini
adalah studi di mana terdapat6 jenis kepribadian: sosial,
investigai, artistik, realis, kontrator dan konvensional
(Wikipedia defenisi Spiritual Quotient dalam Kuswana,
2014).
Kecerdasan spiritual adalah pemikiran yang
terilhami. Kecerdasan diilhami oleh dorongan efektivitas,
keberadaan atau hidup ilahia yang mempersatukan kita
sebagai makhluk ciptaan Tuhan (Sinetar, 2001 dalam
Saputra, 2017).

2.3.3.3. Komponen Kecerdasan Spiritual


Kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang
untuk menyatukan hal – hal yang bersifat intrapersonal dan
interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri
dan orang lain. Kecerdasan spiritual yang telah berkembang
baik mencakup komponen – komponen berikut :
1) Kemampuan bersikap fleksibel
Kemampuan bersikap fleksibel yaitu mampu
menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk
mencapai hasil yang baik, memiliki pandangan yang
pragmatis (sesuai kegunaan), dan efisien tentang
realitas. Unsur-usur bersikap fleksibel yaitu mampu
21

menempatkan diri dan dapat menerima pendapat orang


lain secara terbuka.

2) Kesadaran diri yang tinggi


Kesadaran diri yang tinggi, yaitu adanya kesadaran
yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari
berbagai situasi yang datang dan menanggapinya.
Unsur-unsur kesadaran diri yang tinggi yaitu
kemampuan autocritism dan mengetahui tujuan dan visi
hidup.

3) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan


penderitaan
Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan
penderitaan yaitu tetap tegar dalam menghadapi
musibah serta mengambil hikmah dari setiap masalah
itu. Unsur-unsur kemampuan untuk menghadapi dan
memanfaatkan penderitaan yaitu tidak ada penyesalan,
tetap tersenyum dan bersikap tenang dan berdoa.

4) Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa


sakit
Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa
sakit yaitu seseorang yang tidak ingin menambah
masalah serta kebencian terhadap sesama sehingga
mereka berusaha untuk menahan amarah. Unsur-unsur
kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa
sakit yaitu ikhlas dan pemaaf.

5) Keengganan untuk menyebabkan kerugian


Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak
perlu yaitu selalu berfikir sebelum bertindak agar tidak
22

terjadi hal yang tidak diharapkan. Unsur-unsur


keengganan untuk menyebabkan kerugian adalah tidak
menunda pekerjaan dan berpikir sebelum bertindak.

6) Kualitas hidup
Kualitas hidup yaitu memiliki pemahaman tentang
tujuan hidup dan memiliki kualitas hidup yang diilhami
oleh visi dan nilai-nilai. Unsur-unsur kualitas hidup
yaitu, prinsip dan pegangan hidup serta berpijak pada
kebenaran.

7) Berpandangan holistik
Berpandangan Holistik yaitu melihat bahwa diri sendiri
dan orang lain saling terkait dan bisa melihat
keterkaitan antara berbagai hal. Dapat memandang
kehidupan yang lebih besar sehingga mampu
menghadapi dan memanfaatkan, melampaui
kesengsaraan dan rasa sehat, serta memandangnya
sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
Unsur-unsur berpandangan holistik yaitu kemampuan
berfikir logis dan berlaku sesuai norma sosial.

8) Kecendrungan bertanya
Kecenderungan bertanya yaitu kecenderungan nyata
untuk bertanya mengapa atau bagaimana jika untuk
mencari jawaban-jawaban yang mendasar. Unsur-unsur
kecenderungan bertanya yaitu kemampuan berimajinasi
dan keingintahuan yang tinggi.

9) Bidang mandiri
23

Bidang mandiri yaitu memiliki kemudahan untuk


bekerja melawan konvensi, seperti: mau memberi dan
tidak mau menerima.

2.3.4. Kecerdassan Sosial


2.3.4.1. Defenisi Kecerdasan Sosial
Menurut Goleman (2006) kecerdasan sosial adalah
ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di
masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan
orang-orang di sekeliling atau sekitarnya.
Sedangkan menurut Thorndike (dalam Goleman,
2006) kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk
memahami dan mengatur orang untuk bertindak bijaksana
dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Orang dengan kecerdasan sosial tinggi tidak akan
menemui kesulitan saat memulai suatu interaksi dengan
seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok kecil
maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan
kemampuan otak dan bahasa tubuhnya untuk “membaca”
teman bicaranya.
Kesimpulannya adalah kecerdasan sosial adalah
ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di
masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan
orang-orang disekitarnya.

2.3.4.2. Komponen Kecerdasan Sosial


Menurut Goleman (2006) kecerdasan sosial dapat
dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu kesadaran sosial
dan social facility. Kesadaran sosial, yaitu kepekaan
seseorang terhadap sesama dan social facility, yaitu apa
yang kita lakukan dengan kesadaran itu sendiri. Komponen
kecerdasan sosial adalah :
24

1) Kesadaran Sosial
Kesadaran sosial mengarah pada sebuah
spectrum dan yang secara tidak langsung merasakan
apa yang dirasakan oleh orang lain, memahami
perasaan dan pikirannya untuk ikut terlibat dalam
situasi yang sulit. Kesadaran sosial ini meliputi:
a) Primal Empathy (empati terpenting); perasaan
terhadap seseorang yang lain, merasakan tanda
isyarat emosi.
b) Attuntment (penyesuaian atau adaptasi);
mendengarkan dengan kemauan penuh,
membiasakan diri mendengarkan seseorang.
c) Empathic accuracy (empati yang tepat);
memahami pikiran gagasan, perasaan dan
kehendak orang lain.
d) Social cognition (kesadaran sosial); mengetahui
bagaimana kehidupan bersosialisasi terjadi.

2) Kecakapan Sosial
Secara sederhana yakni merasakan perasaan
orang lain, atau sekedar tahu apa yang mereka pikirkan
ataupun inginkan, tidak sama sekali menjamin sebuah
keberhasilan dalam suatu interaksi. Kecakapan sosial
terbentuk dalam kesadaran sosial untuk memenuhi
sebuah interaksi yang lancar dan efektif. Spektrum
kecakapan sosial meliputi:
1. Synchrony (Sinkroni) : Menginteraksikan dengan
lancar pada level non verbal.
2. Self Presentation (Presentasi Diri Pribadi) :
Mempresentasikan diri sendiri dengan efektif.
3. Influence ( Pengaruh) : Menghadirkan jalan keluar
dari interaksi sosial
25

4. Concern ( Peduli) : Peduli terhadap orang lain


sesuai dengan kebutuhan dan perilaku masing-
masing individu.

2.4. KERANGKA TEORI


Skema 1 kerangka teori penelitian Hubungan Antara Penggunaan
Gadget dengan Kecerdasan (Intelektual, Emosional, Spiritual dan Sosial)
Anak Usia Sekolah di SDK St. Theresia Atambua II.

Penggunaan Kecerdasan : Intelektual,


Gadget Emosional, Spiritual, dan
Sosial

Faktor yang mempengaruhi


penggunaan gadget :

1. Komunikasi

2. Sosial

3. Pendidikan

4. Menambah teman

(Chusna, 2017)