Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendisikitis adalah salah satu penyebab nyeri abdomen akut yang paling
sering ditemukan dan membutuhkan pembedahan dengan segera. Yang
disebabkan oleh adanya obstruksi lumen yang berlanjut dengan kerusakan dinding
apendiks dan pembentukan abses.(Windy dan Sabir:2016).
Peradangan pada usus buntu merupakan suatu satu penyakit inflamasi
(peradangan) Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya, antara lain
sumbatan lumen apendiks, pola makan serat rendah mengakibatkan konstipasi
serta timbulnya apendiks.(Arifuddin dan Salmawati:2017) peradangan akut
apendiks memerlukanntindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya. Tindakan pembedahan yang menyebabkan. (Sjamsuhhidajat
dan De jong:2015)Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang
tidak menyenagkan akibat dari kerusakan jaringan yang yang aktual dan potensil..
(Diantari:2018)
Insiden terjadinya radand usus buntu akut di negara maju lebih
tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Kejadian radang usus buntu di
Amerika Serikat merupakan kedaruratan bedah abdomen yang paling sering
dilakukan, dengan jumlah penderita pada tahun 2008 sebayak 734.138 orang dan
meningkat pada tahun 2008 sebanyak 734.138 dan meningkat pada tahun 2009
menjadi 739.177. Word health organization(WHO) menyatakan angka akibat
apendsiditis di dunia adalah 0,2-0,8% penelitian ini bertujuan untukmengetahui
risiko usia,jenis kelamin,dan pola makan dengan kejadian apendisitis peradangan
usus buntu di indonesia berada pada urutan keempat terbanyak pada tahun 2006.
Departemen kesehatan republok indonesia pada tahun 2008 data jumlah penderita
radang usus buntu di indonesia mencapai 591.819 orang dan tahun 2009 terjadi
peningkatan sebesar 596.132 orang. Kelompok kelompok usia umumnya
mengalami radang usus buntu yaitu pada usia antara 10-30 tahun dimana insiden
laki-laki lebih tinggi dari perempuan.(Diantari:2018). Apendikitis dapat
ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dengan risiko menderita apendikitis
selama hidupnya mencapai 7-8% insiden tertinggi dilaporkan pada rentang usia
20-30 tahun. Kasus perforasi apendiks pada apendisitis akut berkisar antara 20-
30% dan meningkat 32-72% pada usia lebih dari 60 tahun, sedangkan pada anak
kurang dari satu tahun kasus apendikitis jarang ditemukan.(Windy dan
Sabir:2016).

Survey di 12 propinsi termasuk nusa tenggara tahun 2008 menunjukan jumlah


apendisitis yang dirawat di rumah sakit sebanyak 3.251 kasus. Jumlah ini
meningkat drastis dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 1.236
orang. Di awal tahun 2009, tercatat 2.159 orang di akibat apenditis (Ummualya,
2008), melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus apendisitis
yang tidak terlaporkan, Departemen Kesehatan mengatakan apendisitis
merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena
mempunyai dampak besar pada kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2008)
Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menebab kan
peritoritis, pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau flebitis
portal. Perforasi biasanya terjadinya 24 jam etelah awitan nyeri. Gejala yang
muncul antara lain demam 37,7oC atau lebih, tampilan toksik, dan nyeri tekan
atau nyeri abdomen yang terus menerus komplikasi utama apendikitis adalah
perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden
perforasi adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia.
Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup
demam dengan suhu 37,7oC atau lebih tinggi, penampilan toksik dan nyeri atau
nyeri tekan abdomen yang kontinyu. .(Susan:2013)
Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendetomi
keterlembatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi teknik
laparoskopik, apendektomi laparoskopik sudah terbukti menghasilkan nyeri pasca
bedah yang lebih sedikit, pemulihanang lebih cepat dan angka kejadian infeksi
luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra
abdomen dan pemanjangan waktu oprasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk
diagnosa dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita
(birnbaum BA) (Nurarif:2016). Pembedahan (konvensional atau laparoskopi)
diindikasikan apabila diagnosa apendisitis telah ditegakkan dan harus segera
dilakukan untuk mengurangi risiko perforasi.berikan antibiotik dan cairan IV
samapai pembedahan dilakukan.agens analgesik dapat diberikan setelah diagnosa
ditegakkan(Smeltzer:2013)

Berdasarkan kasus diatas maka penulis tertarik mengambil kasus


“APENDIKITIS” Di Rsud Mrg Gabriel Manek SVD Atambua

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakan asuhan keperaawatan pada klien yang mengalami
apendisitis dengan masalah keperawatan nyeri akut di RSUD Mgr Gabriel
Manek SVD

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Melaksanakan asuhan keperawatan klien mengalami apendikitis
dengan masalah keperawatan nyeri akut di RSUD Mgr Gabriel
Manek SVD

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien asuhan keperawatan


klien mengalami apendikitis dengan masalah keperawatan nyeri akut
di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD
2. Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami
asuhan keperawatan klien mengalami apendikitis dengan masalah
keperawatan nyeri akut di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD
3. Menyusun perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami
asuhan keperawatan klien mengalami apendikitis dengan masalah
keperawatan nyeri akut di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD
4. Melaksanakan tindakan keparawatan pada klien asuhan keperawatan
klien mengalami apendikitis dengan masalah keperawatan nyeri akut
di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien yang mengalami asuhan
keperawatan klien mengalami apendikitis dengan masalah
keperawatan nyeri akut di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD

1.4 Manfaat Teoritis


Menambah pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
apendikitis dengan masalah keperawatan nyeri akut
1.5 Manfaat Praktis
1. Rumah Sakit
sebagia bahan evaluasi dalam melakukan tindakan keperawatan pada
klien apendikitis dengan masalah keperawatan nyeri akut yang
meliputi pengkajian diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi,
dan evaluasi
2. Bagi Perawat
Memberikan tindakan bagaimana perawatan pada pasien apendikitis
dengan masalah nyeri akut yang meliputi pengkajian,diagnosa
keperawatan,intervensi,implementasi,dan evaluasi
3. Bagi Institusi Pendidikan
Memberi gambaran tentang kemampuan mahasiswa/i dalam
penerapan teori dan mampu peserta didik dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada klien dengan nyeri akut
4. Bagi Pasien
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien mampu
memahami apa itu apendikitis