Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Peran Obat Herbal Dalam Sistem Pengobatan Konvensional

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Fitoterapi Terapan Pada Program Studi Profesi Apoteker

KELOMPOK 1

M. Rahmatullah Zakaria

260112180017

Imroatul Chusniah

260012180047

Restika Eria Putri

260112180073

Putri Raraswati

260112180087

Siti Nuraeni Johari

260112180095

Bena Humaira

260112180103

Siti Nuraeni Johari 260112180095 Bena Humaira 260112180103 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS FARMASI 2018

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS FARMASI

2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peran Obat Herbal Dalam Sistem Pengobatan Konvensional” ini. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata Kuliah Fitoterapi Terapan di Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran.

Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan tersusun dengan baik tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Yoppi Iskandar, MSi., Apt., selaku Dosen Mata Kuliah Fitoterapi Terapan.

2. Rekan-rekan seperjuangan, mahasiswa program studi profesi Apoteker Unpad 2018 Angkatan Ganjil.

3. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dalam kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang farmasi.

Jatinangor, November 2018

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

1

DAFTAR ISI

2

BAB I PENDAHULUAN

3

I.1

Latar Belakang

3

I.2

Identifikasi Masalah

3

I.3

Tujuan

4

BAB II ISI

6

II.1

Rimpang Kunyit

6

II.2

Temulawak

7

II.2

Jahe

8

II.2

Sambiloto

10

II.2

Daun Sirih

11

II.2

Jati Belanda

13

II.2

Jambu Biji

14

II.2

Bawang Putih

15

II.2

Seledri

16

II.2

Daun Salam

18

BAB III SIMPULAN

19

DAFTAR PUSTAKA

20

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman tingkat tinggi dan tercatat 7.000 spesies tanaman telah diketahui khasiatnya namun baru sekitar 300 tanaman yang digunakan sebagai bahan baku industri farmasi secara regular. WHO pada tahun 2008 mencatat bahwa 68% penduduk dunia masih menggantungkan sistem pengobatan tradisional yang mayoritas melibatkan tumbuhan untuk menyembuhkan penyakit dan lebih dari 80% penduduk dunia menggunakan obat herbal untuk mendukung kesehatan mereka (Saifudin, 2011). Obat tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan untuk menunjang pembangunan kesehatan sekaligus untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Obat tradisional ini tentunya sudah diuji bertahun-tahun bahkan berabad-abad sesuai dengan perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia (Notoatmodjo, 2007). Meskipun obat tradisional cukup banyak digunakan oleh masyarakat dalam usaha pengobatan sendiri (self medication), profesi kesehatan/dokter umumnya masih jarang untuk meresepkan ataupun menggunakannya. Hal tersebut berbeda dengan negara tetangga seperti Cina, Korea dan India yang mengintegrasikan cara dan pengobatan tradisional di dalam sistem pelayanan kesehatan formal (Ardiyanto, 2011). Karena banyaknya tanaman yang dimiliki oleh Indonesia, seharusnya hal tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal, salah satunya adalah digunakan untuk pengobatan. Oleh karena itu diperlukan informasi mengenai tanaman apa saja yang dapat digunakan dalam sistem pengobatan konvensional. I.2 Identifikasi Masalah

1. Apa saja tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan konvensional?

I.3

Tujuan

1.

Mengetahui tanaman-tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan konvensional?

2.

Mengetahui peran obat herbal dalam sistem pengobatan konvensional?

II.1

BAB II ISI Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val)

II.1 BAB II ISI Rimpang Kunyit ( Curcuma domestica Val ) II.1.1 Gambar 2.1 Rimpang Kunyit

II.1.1

Gambar 2.1 Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) Identitas Tanaman Nama Lain : Kunyit, kunir Nama Tanaman Asal : Curcuma domestica(Val)

Nama Simplisia

: Curcuma domesticarhizoma

Zat Berkhasiat Utama: Minyak atsiri yang mengandung senyawa fellandrene, sabinene, sineol, borneol, zingiberene, curcumene, turmeron, kamfene, kamfor, seskuiterpene, asamkafrilat, asammethoksisinamat,

 

tolilmetilkarbinol, rimpang kunyit juga mengandung pati, zat warna kurkumin dan damar. (Depkes RI, 1995).

II.1.2

Taksonomi Tanaman

Divisio

: Spermatophyta

Sub-diviso

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Species

: Curcuma domestica Val (Winarto, 2004).

II.1.3

Khasiat Empiris dan Cara Penggunaan :

1.

Demam Bahan : Rimpang segar 20 gr, air ½ gelas. Pemakaian : Rimpang dicuci lalu diparut, kemudian tambahkan ½ gelas air matang, lalu diaduk merata, peras dengan sepotong kain. Air perasannya diminum, lakukan 2 kali sehari (Winarto, 2004).

1.

Dispepsia (perut kembung, nyeri, mual, tidak nafsu makan) Bahan : Kunyit 50 g danair 3 sendok Pemakaian : Kunyit dibersihkan lalu diparut kemudian tambahkan 3 sendok air minum, aduk merata lalu diperas dan disaring. Dibagi untuk 3 kali minum (Mahendra, 2005).

2.

Keputihan Bahan : Kunyit tua 1 ibu jari, larutan air ¾ cangkir dan larutan gula jawa secukupnya. Pemakaian : Kunyit sebesar ibu jari yang cukup tua setelah dibuang kulitnya, diparut. Tambahkan ¾ cangkir larutan air asam dan larutan gula jawa secukupnya, lalu diaduk merata. Peras dengan sepotong kain, minum. Lakukan setiap hari (Mahendra, 2005).

3.

Menghilangkan bau badan Bahan : Kunyit 1 ibu jari dan air hangat ¾ cangkir. Pemakaian : Kunyit sebesar ibu jari diparut, tambahkan ¾ cangkir air hangat, diaduk merata, lalu disaring dan diminum (Mahendra, 2005).

4.

Tekanan darah tinggi Bahan : Kunyit ½ jari dan madu 2 sendok makan Pemakaian : Kunyit dicuci bersih lalu diparut, tambahkan 1 sendok makan madu, diaduk merata lalu diperas, minum sehari 2- 3 kali (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2004).

II.2

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb)

 
 

II.2.1

Gambar 2.2 Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Identitas Tanaman

Nama Lain

: Temulawak, konenggede, temulabak

Nama Tanaman Asal : Curcuma xanthorrhiza (Roxb.)

Nama Simplisia

: Curcuma xanthorrhizarhizoma

Zat Berkhasiat Utama :Rimpang temulawak mengandung minyak asiri antara lain terdiri dari mirsen dan p- toluilmetilkarbinol, serta mengandung kurkumin, desmetoksikurkumin, bidesmetilkurkumin, felandren, sabinen, sineol, borneol, zingiberen, turmeron, atlanton, artumeron, ksantorizol, dan germakron (Depkes RI, 1995).

II.2.2

Taksonomi Tanaman Divisi : Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Keluarga : Zingiberaceae Genus : Curcuma

Spesies

: Curcuma xanthorrhiza Roxb (Tjitrosoepomo, 2005).

II.2.3

Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

Pemakaian : Rimpang temulawak diiris tipis-tipis, lalu dijemur hingga kering. Rimpang ini diseduh dengan air hangat, kemudian diminum seperti teh. Agar tidak terlalu pahit, sewaktu meminumnya dapat dicampur dengan gula merah (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2004).

2. Penyakit kuning, demam malaria, sembelit, serta memperbanyak ASI Bahan : Rimpang dan air Pemakaian : Rimpang diparut dan diperas airnya, kemudian diminum. Dapat juga dengan minum air rebusan rimpang temulawak yang kering (Mahendra, 2005).

Badan letih dan karminatif Bahan : Rimpang temulawak 50 g, air secukupnya dan gula aren. Pemakaian : Rimpang dibersihkan dan diparut sampai halus , lalu ditambahkan air secukupnya. Kemudian direbus. Setelah air mendidih, didinginkan, lalu diminum. Lakukan hal ini 2 kali sehari, cukup 1 gelas. Bila perlu dapat ditambahkan madu atau air gula aren agar ramuan lebih enak dan berkhasiat(Mahendra, 2005). Rimpang Jahe (Zingiber officinale Roxb.)

II.3

3.

2005). Rimpang Jahe ( Zingiber officinale Roxb.) II.3 3. II.3.1 Gambar 2.3 Rimpang Jahe ( Zingiber

II.3.1

Gambar 2.3 Rimpang Jahe (Zingiber officinale Roxb.) Identitas Tanaman

Nama Lain

Nama Tanaman Asal : Zingiber officinale (Roxb.)

Nama Simplisia

: Jahe

: Zingiberis rhizoma

Zat Berkhasiat Utama :Rimpang jahe mengandung minyak asiri yang terdiri atas n-nonylaldehide, d-camphene, d-β- phellandrene, methyl heptenone, cineol, d-borneol, geraniol, linalool, acetates, caprylate,citral, chavicol, zingiberene. Selain itu juga mengandung resin dan serat (Depkes RI, 1995)

II.3.2

Taksonomi Tanaman

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub division

: Angiospermae

Class

: Monocotyledonae

Ordo

: Zingiberales

Family

: Zingiberaceae

Genus

: Zingiber

Species

: Zingiber officinale Roxb (Tjitrosoepomo, 2005).

II.3.3

Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

1.

Asma

Bahan

: Jahe 25 g, bunga melati 15 g, air 600 cc

Pemakaian

: Jahe dan bunga melati direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat sebanyak ½ gelas. Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Mahendra, 2005).

2.

Rematik

Bahan

: Jahe 1-2 buah

Pemakaian

: Panaskan rimpang jahe di atas api atau bara kemudian ditumbuk. Tempel tumbukan jahe pada bagian tubuh yang sakit rematik (Maryani dan Suharmiati, 2003).

3.

Tekanan darah rendah

Bahan

: Jahe 25 g, gula merah secukupnya, air 400 cc

Pemakaian : Jahe dan gula merah direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat. Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Mahendra, 2005).

4. Karminatif Bahan : Jahe 25 g, kencur 25 g, kapulaga 3 butir, air 400 cc Pemakaian : Jahe, kencur, kapulaga direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. Tunggu hingga air rebusannya hangat lalu diminum. Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Mahendra,

5.

II.4

2005).

Hernia Bahan : Jahe 20 g, adas 5 g, pulo sari 1 ibu jari, kapulaga 5 butir, kayu manis 1 ruas ibu jari, air secukupnya Pemakaian : Bahan direbus dengan air secukupnya. Setelah hangat, airnya diminum. Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Mahendra, 2005). Daun Sambiloto (Andrographis paniculata)

(Mahendra, 2005). Daun Sambiloto ( Andrographis paniculata) Gambar 2.4 Daun Sambiloto ( Andrographis paniculata )

Gambar 2.4 Daun Sambiloto (Andrographis paniculata) II.4.1 Kandungan Kimia

seperti

deoksiandrografolid, andrografolid, neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12

didehidroandrografolid, dan homoandrografolid (Hariana, 2006). II.4.2 Taksonomi Tanaman

Daun

dan

cabang

sambiloto

terdapat

senyawa

kimia

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Solanaceae

Familia

: Acanthaceae

Genus

: Andrographis

Spesies

: Andrographis paniculata Ness.

(Dalimartha, 1999).

II.4.3

Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

1.

Influenza, Infeksi Saluran Kemih, Keputihan

Bahan

: Dianjurkan dosis sebesar 5 gr daun sambiloto

Pemakaian : Direbus bersama air dua gelas sampai sisa satu gelas untuk satu hari (diminum 3 x 1/3 gelas). Jika menggunakan daun segar, dosisnya adalah 30 lembar daun dengan cara yang sama seperti merebus daun kering. Dalam bentuk ekstrak, mengkonsumsi sampai dengan 1500 mg per hari masih dianggap aman (Dewi, 2013).

II.5.

Daun Sirih (Piper bettle L.)

(Dewi, 2013). II.5. Daun Sirih ( Piper bettle L.) Gambar 2.5 Daun Sirih ( Piper bettle

Gambar 2.5 Daun Sirih (Piper bettle L.) II.5.1 Kandungan Kimia Tumbuhan ini kaya akan kandungan kimia, seperti minyak asiri, hidroksicavikol, kavicol, kavibetol, allypykatekol, karvakol, eugenol, eugenol methyl ether, pcymene, cyneole, alkohol, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, eskuiterpena, fenil propane, tannin, diastase, gula, danpati (Permadi,

2008).

II.5.2 Taksonomi Tanaman

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper bettle L.

(Tjitrosoepomo, 1993)

II.5.3

Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

1.

Batuk Rejan

Bahan

: 7 lembar daun sirih dan gula batu

Pemakaian

: Ramuan tersebut direbus dengan 1 gelas air hingga tersisa ½ gelas air. Ramuan tersebutdiminum 3 kali sehari 1 sendok makan

2.

Ambeien

Bahan

: 11 lembar daun sirih dengan ¼ ruas kunyit dan 1 ons buah

Pemakaian

asam : Ramuan tersebut direbus sampai mendidih dan diminum secukupnya.

3.

Disentri

Bahan

: Sirih dicampur gambir dan kapur ditumbuk halus dan

Pemakaian

diseduh dengan air. : Ramuan tersebut ditumbuk dan diseduh dengan air, ramuan tersebut diminum 3 kali sehari 1 sendok makan. (Ningtias dkk, 2014).

II.6. Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) II.6.1 Gambar 2.6 Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia
II.6.
Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
II.6.1
Gambar 2.6 Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
Kandungan Kimia

Daun jati belanda juga mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, damar, fenol, triterpen, glikosidasi anogenik, dan steroid (Mun’im dan Hanani, 2011).

II.6.2

Taksonomi Tanaman

 

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Malvales

Family

: Stercuiliaceae

Genus

: Guazuma

Spesies

: Guazuma ulmifolia Lamk.

 

(Dasuki, 1991)

II.6.3

Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

Air masakan daun jati belanda digunakan untuk melangsingkan atau mengatasi kegemukan. Selain daunnya, bagian dalam kuli tjati belanda dapat dipakai sebagai obat untuk penyakit cacing, kaki gajah, astringen dan diaforetik. Buahnya dapat digunakan sebagai obat batuk rejan. Rebusan biji yang dibakar dapat diminum sebagai obat sembelit (Sukandar, 2009).

II.7.

Daun Jambu Biji (Psidium guajava)

 
 

II.7.1

Gambar 2.7 Daun Jambu Biji (Psidium guajava) Identitas Tanaman Nama Daerah : Jambu Biji Nama Tanaman Asal : Psidium guajava Zat Berkhasiat Utama :Daun jambu biji memiliki kandungan flavonoid yang tinggi, yang terutama jenis kuersetin. Selain itu juga mengandung saponin, minyak atsiri, dan tanin. Diketahui kuersetin ini dapat memiliki aktivitas antibakteri. Untuk buah jambu biji mengandung vitamin C, vitamin A, zat besi, kalsium, mangan, fosfor, oksalat, asam malat, kombinasi saponin dan asam oleat, flavonoid, kuersetin dan guajivarin.

II.7.2

Taksonomi Tanaman Kingdom : Plantae Ordo : Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

II.7.3

Spesies : Psidium guajava Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

Tanaman jambu biji secara empiris banyak digunakan masyarakat Indonesia. Bagian tanaman jambubiji yang sering digunakan yaitu daun dan

buahnya. Untuk daun jambu biji sering digunakan sebagai antidiare. Selain untuk diare, daun jambu biji juga dapat digunakan sebagai astringen kulit. Penggunaannya biasanya dibuat dekok atau infusa. Buah jambu biji sering digunakan untuk penyakit demam berdarah dengue (DBD). Buah jambu biiji biasanya diberikan dalam bentuk sudah dijus, dan diketahui dapat meningkatkan kadar trombosit darah. II.8. Bawang Putih (Allium sativum)

trombosit darah. II.8. Bawang Putih ( Allium sativum ) II.8.1 Gambar 2.8 Bawang Putih ( Allium

II.8.1

Gambar 2.8 Bawang Putih (Allium sativum) Identitas Tanaman Nama Daerah : Bawang putih Nama Tanaman Asal : Allium sativum Zat Berkhasiat Utama: Bawang putih mengandung banyak minyak atsiri, vitamin, mineral, flavonoid, saponin, senyawa fenolik, nitrogen oksida, amidadan protein.

II.8.2

Taksonomi Tanaman Kingdom : Plantae

Ordo : Asparagales

Famili

: Amarylidaceae

Genus

: Allium

II.8.3

Spesies : Allium sativum Khasiat Empiris dan Cara penggunaan

Bawang putih merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai bahan bumbu masakan oleh masyarakat. Selain itu, bawang putih sering digunakan untuk membantu pernafasan, membantu pencernaan, mengobati kusta

dan infeksi parasit. Diketahui bawang putih dapat berguna dalam pengobatan penyakit kardiovaskular, yaitu dapat menurunkan tekanan darah, mencegah terjadinya arterosklerosis, menurunkan kadar lipid darah inhibisi agregrasi platelet dan lain sebagainya. II.9. Seledri (Apium graveolens)

dan lain sebagainya. II.9. Seledri ( Apium graveolens ) Gambar 2.9 Seledri ( Apium graveolens )

Gambar 2.9 Seledri (Apium graveolens) II.9.1 Kandungan Kimia Seledri mempunyai banyak kandungan gizi antara lain protein, lemak, kalsium, fofor, besi, dan berbagai vitamin. Seledri juga mengandung flavonoid, saponin, tanin 1%, minyak asiri 0,033%, flavo-glukosida (apiin), apigenin, fitosterol, kolin, lipase, pthalides, asparagine, zat pahit, vitamin (A, B dan C), apiin, minyak menguap, apigenin dan alkaloid. Apigenin berkhasiat hipotensif (Dalimartha, 2000). Daun Seledri juga memiliki kandungan alami berupa fitosterol.Fitosterol merupakan komponen fitokimia yang mempunyai fungsi berlawanan dengan kolesterol bila dikonsumsi oleh manusia. Fitosterol diketahui mempunyai fungsi menurunkan kadar kolesterol di dalam darah dan mencegah penyakit jantung sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Pada tanaman terdapat lebih dari 40 senyawa sterol yang didominasi oleh tiga bentuk utama dari fitosterol, yaitu beta-sitosterol.Sitosterol adalah zat antihiperkolesterol dan mencegah deposisi kolesterol pada dinding dalam pembuluh darah yang penting untuk mengobati kasus atherosklerosis. Khasiat fitosterol untuk menurunkan kadar kolesterol darah telah diakui secara klinis. Khasiat ini telah dimanfaatkan dalam

dunia medis, yakni ekstrak fitosterol telah diberikan kepada Penderita hiperkolesterolemia (kadar kolesterol dalam plasma darah berlebihan) dalam usaha untuk mengurangi absorpsi kolesterol (Setiawan, 2010).

Air masakan daun jati belanda digunakan untuk melangsingkan atau mengatasi kegemukan. Selain daunnya, bagian dalam kuli tjati belanda dapat dipakai sebagai obat untuk penyakit cacing, kaki gajah, astringen dan diaforetik. Buahnya dapat digunakan sebagai obat batuk rejan. Rebusan biji yang dibakar dapat diminum sebagai obat sembelit (Sukandar, 2009). Apigenin dalam daun seledri berfungsi sebagai beta blocker yang dapat memperlambat detak jantung dan menurunkan kekuatan kontraksi jantung sehingga aliran darah yang terpompa lebih sedikit dan tekanan darah menjadi berkurang. Manitol dan apiin, bersifat diuretik yaitu membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam darah akan menurunkan tekanan darah (Dalimartha,

2000).

Daun seledri diperas dengan air masak secukunya kemudian disaring. Diminum 3 kali sehari 2 sendok makan da dilakukan secara teratur (Thomas,

2012).

II.10.

Daun Salam (Eugenia polyantha Wight)

II.10. Daun Salam ( Eugenia polyantha Wight) Gambar 2.10 Salam ( Eugenia polyantha Wight) II.10.1 Kandungan

Gambar 2.10 Salam (Eugenia polyantha Wight)

II.10.1 Kandungan Kimia Eugenia polyantha mengandung tanin, minyak atsiri, seskuiterpen, triterpenoid,fenol, steroid, sitral, lakton, saponin, dan karbohidrat. Selain itu daun salam juga mengandung beberapa vitamin, di antaranya vitamin C, vitamin A, Thiamin, Riboflavin, Niacin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat. Bahkan mineral seperti selenium terdapat di dalam kandungan daun salam.Dengan berbagai kandungan zat yang terdapat pada Eugenia polyantha, diharapkan tanaman ini dapat berfungsi menurunkan kadar kolesterol yang tinggi,dengan mekanisme kerja yaitu, merangsang sekresi cairan empedu sehingga kolesterol akan keluar bersama cairan empedu menuju usus, dan merangsang sirkulasi darah sehingga mengurangi terjadinya pengendapan lemak pada pembuluh darah

(Dalimartha,2000).

II.10.2 Taksonomi Tanaman

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Syzygium

Spesies

: Syzygium polyanthum Wight Walp

Sinonim

: Eugenia polyantha Wight

II.9.3 Khasiat Empiris dan Cara penggunaa Salam atau Eugenia polyantha dikenal masyarakat Indonesia sebagai bumbu masak karena memiliki keharuman khas yang bisa menambah kelezatan masakan. Daun salam mempunyai rasa yang kelat dan bersifat astringent. Untuk pengobatan, memang daunlah yang paling banyak digunakan, tetapi akar, kulit, dan buahnya pun berkhasiat sebagai obat. Pengobatan secara tradisional menggunakan daun salam untuk mengobati kolesterol tinggi, kencing manis, hipertensi, gastritis, dan diare (Dalimartha,2000). Masukkan daun salam sebanyak 7-20 lembar daun segar atau pun simplisia ke dalam air panas lalu didinginkan (Dalimartha,2000).

BAB III

PENUTUP

III.

Kesimpulan

1.

Tanaman herbal sangat berperan penting dalam pengobatan konvensional (tradisional) dimana tanaman herbal menjadi kunci sebagai obat yang manjur dan terbukti secara empirik bahkan sudah terbukti secara praklinis dan uji klinis. Tanaman yang biasa digunakan seperti jahe, kunyit, temulawak, sambiloto, daun jambu biji, jati belanda, daun seledri, daun salam, dan lain sebagainya.

2.

Tanaman herbal sering digunakan dimana efek yang ditimbulkan apabila rutin digunakan sangat besar

3.

Tanaman herbal tidak hanya kuratif, namun sangat terpercaya sebagai pengobatan preventif dan promotif terhadap kesehatan manusia

DAFTAR PUSTAKA Ardiyanto, D. 2011. Observasi Klinik Jamu Sebagai Dasar Ilmiah Terapi Kedokteran Modern. Solo: Badan Litbangkes. Simposium Penelitian Bahan Obat Alami. 15(1): 16-17

Bangun AP. Menangkal penyakit dengan jus buah dan sayuran. Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka; 2004.

Bayan, L., Koulivand, P. H., &Gorji, A. (2014). Garlic: a review of potential therapeutic effects. Avicenna journal of phytomedicine, 4(1), 1-14.

Bustan MN. Epidemiologi: penyakit tidak menular. Rineka Cipta. Jakarta; 2007.

Dalimartha, S., 1999, Atlas Tumbuhan Indonesia, Jilid II, 120-121, Trubus Agrowidya, Jakarta

Dasuki, U.A. 1991. SistematikaTumbuhan Tinggi. Bandung. ITB.

Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia (MMI) Jilid VI. Jakarta :Depkes RI Press.

Dewi N. 2013. Khasiat dan cara olah sambiloto untuk menumpas berbagai penyakit. Yogayakarta: PustakaBaru.

Dhiman, et al, 2011 In vitro antimicrobial activity of methanolic leaf extract of Psidiumguajava L. J Pharm Bioallied Sci. Apr;3(2):226-9

Díaz-de-Cerio, E., Verardo, V., Gómez-Caravaca, A. M., Fernández-Gutiérrez, A., & Segura-Carretero, A. (2017). Health Effects of Psidiumguajava L. Leaves: An Overview of the Last Decade. International journal of molecular sciences, 18(4), 897

Hariana, H. A., 2006, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 3, 30-32, Penebar Swadaya, Jakarta.

Jatmiko S, Pramono M. Standarisasi sediaan daun seledri (apium graveolens l.)secara klt- densitometry menggunakan apigenin sebagai parameter. Yogyakarta: Majalah Farmasi Indonesia; 2001. hlm. 59-64.

Khomsan A. Pangan dan gizi untuk kesehatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada; 2010.

Mahendra, B., 2005. Seri Agrisehat ; 13 Jenis Tanaman Obat Ampuh. Jakarta:

PenebarSwadaya.

Martins, N., Petropoulos, S., & Ferreira, I. C. F. R. (2016). Chemical composition and bioactive compounds of garlic (Allium sativum L.) as affected by pre- and post-harvest conditions: A review. Food Chemistry, 211, 41–50.

Maryani, H., Suharmiati, 2003. Tanaman Obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta :AgromediaPustaka.

Morais-Braga, M. F. B., Carneiro, J. N. P., Machado, A. J. T., dos Santos, A. T. L., Sales, D. L., Lima, L. F., … Coutinho, H. D. M. (2016). Psidium guajava L., from ethnobiology to scientific evaluation: Elucidating bioactivity against pathogenic microorganisms. Journal of Ethnopharmacology, 194, 1140–1152

Mun’im A., Hanani E., 2011. Fitoterapi Dasar. EdisiPertama. Jakarta :PT.Dian Rakyat

Ningtias, Apri F., Iis Nur Aisyah, Pujiastuti. 2014. Manfaat Daun Sirih (Piper betle L.) Sebagai Obat Tradisional Penyakit Dalam di Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep Madura (Benefits of Betel Leaf (Piper betle L.) As Traditional Medicine for Internal Disease in Kalianget District Sumenep Regency Madura). Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa Universitas Jember.

Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan Teori dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Permadi, Adi. 2008. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Bunda

Saifudin, A., Rahayu, V., dan Teruna, H.Y. 2011. Standardisasi Bahan Obat Alam. Jakarta: Graha Ilmu.

Setiawan S. Pengaruh air perasan herba seledri (Apium graveolens L)terhadap kadar kolesterol total darah tikus putih ( Rattus norvegicus ) [skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret; 2010.

Sukandar, Elin Y., Elfahmi, Nurdewi. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Daun Jati Belanda (Guazuma Ulmifolia Lamk.) terhadap Kadar Lipid Darah pada Tikus Jantan. JKM Vol 8 (2) hal 102-112

Sundari, D., Almasyhuri, dan Lamid, A. (2015). Pengaruh proses pemasakan terhadap komposisi gizi bahan pangan sumber protein. Media Litbang. 25 (4), 235-242.

Thomas, 2012, Tanaman Obat Tradisional 1, Kanisius, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Tjitrosoepomo,

G.,

2005.

Taksonomi

:Gajahmada University Press.

Tumbuhan

Obat-obatan.

Yogyakarta

Winarto, I.W. (2004). Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agro Media Pustaka. pp 2 - 12.

Wiryowidagdo, S., Sitanggang, M., 2004. Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung, Darah Tinggi dan Kolesterol. Jakarta :AgromediaPustaka.