Anda di halaman 1dari 1

33

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gangguan penyesuaian didefinisikan sebagai gejala-gejala emosional atau
perilaku yang bermakna secara klinis dan terjadi sebagai respons terhadap suatu
stressor dan menghilang dalam waktu 6 bulan setelah tak ada stressor. Gangguan
ini dapat dijumpai pada semua usia dan lebih sering pada remaja.
Gangguan penyesuaian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stressor.
Walaupun adanya stressor merupakan komponen esensial dari gangguan
penyesuaian, namun stress adalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan
berkembangnya, jenis dan luasnya psikopatologi.
Berdasarkan DSM IV-TR, gangguan penyesuaian ditandai dengan gejala
berdasarkan beberapa kriteria. Gejala emosional dan perilaku bisa munculdalam
jangka waktu 3 bulan setelah onset stressor dan seharusnya pulih dalam jangka
waktu 6 bulan setelah stressor hilang. Menurut PPDGJ-III, gangguan penyesuaian
dapat terdiagnosis jika gejala muncul 1 bulan setelah onset stressor dan biasanya
tidak bertahan melebihi 6 bulan.
Pada gangguan penyesuaian, dapat diberikan psikoterapi atau farmakoterapi
atau kombinasi kedua terapi. Psikoterapi adalah pilihan utama; dengan tujuan
untuk menganalisa stressor yang mengganggu pasien kemudian dihilangkan atau
diminimalkan. Psikoterapi, konseling krisis medis, intervensi krisis, terapi
keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku-kognitif, dan terapi interpersonal semua
mendorong individu untuk mengekspresikan pengaruh, ketakutan, kecemasan,
kemarahan, rasa tidak berdaya, dan putus asa terhadap stressor. Farmakoterapi
diberikan dalam waktu singkat, dan tergantung dari tipe gangguan penyesuaian,
dapat diebrikan penggolongan obat yang efektif. Pemberian antiansietas berguna
untuk pasien dengan kecemasan. Antidepresi dapat diberikan bila dijumpai
adanya depresi. Farmakoterapi adalah sebuah augment psikoterapi dan bukan
sebagai terapi primer.