Anda di halaman 1dari 12

PEMBUATAN PREPARAT ALGA, LUMUT DAN PAKU

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikroteknik


yang dibimbing oleh Drs. Soelisetijono, M. Si

Oleh:
Kelompok 4
Rizqi Zidni Hidayati (160342606277)
Offering GHK 2016

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2019
A. Tujuan
Kegiatan pembuatan preparat polen dan spora bertujuan untuk:
1. Membuat preparat utuh permanen alga, gametofit lumut dan protalium paku
dengan metode gliserin jelly
2. Mendeterminasi bentuk kloroplas alga pada preparat yang dihasilkan
3. Mendeterminasi nama alga preparat yang dihasilkan
4. Mempelajari struktur talus alga pada preparat yang dihasilkan
5. Membuat preparat utuh tapak ventral gametofit dan paku
6. Membuat preparat utuh tapak dorsal gametofit dan paku
7. membuat preparat gamma lumut
8. mendeskripsikan morfologi, talus gametofit dan berdasarkan amatan pada
preparat yang dihasilkan

B. Alat dan Bahan


1. Vial (floacon) 17. Akuades
2. Cawan petri 18. Formaldehid
3. Centrifuge 19. HCl
4. Kaca benda 20. Gliserin jelly
5. Pipet 21. PhenoFormaldehidl
6. Penangas air 22. Ethyl alcohol
7. Kaca penutup 23. Gametofit lumut
8. Lap pembersih 24. Protalium paku
9. Lampu spiritus 25. Kaca pengaduk
10. Jarum preparat 26. Air kran
11. Gelas ukur 27. Alkohol 70%
12. Silet 28. Formalin
13. Mikroskop 29. Alga
14. Kayu penjepit 30. Xylol
15. Kupri sulfat 31. Balsam kanada
16. Asam cuka glasial 32. Glisin + alcohol 70%
= 1:9

C. Prosedur
Memasukkan alga, protalium paku, dna gametofit lumut kedalam larutan 0,2g kupri
sulfat + 35 ml air (FAA) selama 3-4 hari
Memindahkan specimen kedalam cawan petri dan mencucinya dengan alcohol 70%

Merendam specimen dengan gliserin murni : alcohol 70% dengan perbandingan 1:9
sampai mengental.

Menambahkan gliserin jelly dan beberapa tetes fenol pada kaca benda yang sudah ada
spesimen.

Menutup dengan kaca benda dan mengamati dengan mikroskop.

D. Dasar Teori
Alga hijau air tawar dapat ditemukan di kolam, parit, dan sungai yang aliran
airnya tidak deras. Alga hijau air tawar ada yang hidup bebas, tetapi ada pula yang
menempel pada substrat. Permukaan air kolam yang berbuih dan nampak ada benang-
benang berwarna hijau atau coklat kehijauan dapat diduga di sana dapat ditemukan alga
hijau bentuk benang (Setjo, 2004).
Tubuh alga hijau ada yang bersifat uniselular dan ada pula yang tersusun dari
sel-sel yang membangun koloni. Alga hijau bentuk filamen mempunyai kloroplas
dalam sel-sel penyusunnya. Kloroplas mempunyai bentuk yang beragam, kloropla
bentuk spiral terdapat pada Spirogyra, bentuk jala misalnya terdapat pada Cladophora,
bentuk sabuk misalnya terdapat pada Ullothrix (Setjo, 2004).
Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat
rendah, karena meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai
sistem pembuluh tetapi belum menghasilkan biji dan alat perkembangbiakan yang lain.
Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan
tumbuhan paku kedalam golongan tingkat rendah atau tinggi bisa berbeda-beda
tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika didasarkan pada macam alat
perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong tumbuhan tingkat
rendah. Namun, jika didasarkan pada macam ada atau tidaknya sistem pembuluh,
tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah
mempunyai berkas pembuluh (Campbell et al., 2008).
Tumbuhan paku (Pteridophyta atau Filicophyta) adalah satu divisi tumbuhan
yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji
untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora
sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi. Tumbuhan paku
tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering
(gurun) (Kimball, 2004).
Lumut merupakan tumbuhan yang termasuk dalam divisio Bryophyta.
Tumbuhan ini belum menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan
organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan
ini juga belum memiliki pembuluh sejati (Fahn, 2002).
Lumut merupakan tumbuhan yang berukuran lebih kecil dari 1 mm hingga
beberapa cm tingginya. Pertumbuhannya mendatar (flat) di atas tanah, batuan atau
menempel di pohon. Sebagian besar lumut mempunyai batang dan daun. Kelompok
tumbuhan ini memiliki klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis untuk
memperoleh makanannya sendiri. Semua lumut memperbanyak diri dengan spora,
fragmentasi, dan struktur khusus yang disebut gemmae (kuncup). Di dalam siklus
hidupnya kelompok tumbuhan ini mempunyai dua generasi yaitu generasi gametofit
dan generasi sporofit. Generasi gametofit meliputi rhizoid, batang dan daun. Pada
bagian ujung batang biasanya akan dihasilkan archegonium (alat perkembangan betina)
dan antheredium (alat perkembangbiakan jantan). Apabila telah terjadi pembuahan
maka terbentuklah zygote yang akan membelah dan kemudian berkembang membentuk
seta, kapsul (peristome, annulus, operculum) dan calyptra yang sering disebut sebagai
generasi sporofit. Pada semua tumbuhan yang tergolong dalam Bryophyta terdapat
kesamaan bentuk dan susunan gametangiumnya (baik mikrogametangium =
anteredium, maupun makrogametangium = arkegonium). Kebanyakan Bryophyta
terlihat tanpa kutikula yang dalam tumbuhan berpembuluh erat dengan hubungannya
dengan adanya stomata yaitu lubang khusus yang berfungsi dalam pertukaran gas
(Tjitrosoepomo, 2001).
E. Hasil Pengamatan

No Bahan Hasil Pengamatan Gambar Pengamatan Keterangan

1. Alga
Spyrogira

2. Protalium
adiantum

3. Lumut
daun
4. Gametofit
marchantia

F. PEMBAHASAN
Hasil pembuatan preparat alga sesuai pada data pengamatan dalam tabel. Pada
tabel tersebut menggunakan satu macam alga untuk pembuatan preparat. Alga yang
digunakan dalam preparat dipilih jenis alga berfilamen dan semuanya berasal dari kelas
Chlorophyta. Yakni spirogyra. Pengawetan preparat dilakukan dengan menambahkan
gliserin jelly pada preparat. Aspek yang dilihat pada pembuatan preparat alga disini
adalah ketahanan warna dari klorofil setelah dijadikan preparat. Preparat alga yang
bagus menghasilkan warna klorofil yang hijau segar. Warna klorofil dari preparat hasil
pembuatan preparat alga kali ini memiliki warna yang cukup bagus pada semua alga
yaitu Spirogyra. Bentuk kloroplas dari alga terlihat jelas berbentuk bulatan warna hijau.
Spirogyra memiliki bentuk kloroplas bulat membentuk untaian seperti jala berbentuk
spiral. Bentuk klorofil pada Cladophora bulatan hijau kecil tak beraturan, sedangkan
bentuk kloroplas pada alga 3 juga bulat hijau tidak beraturan di dalam sel.
Spirogyra ditemukan di kolam air tawar yang jernih dalam massa yang sangat
besar, biasanya hidup melayang di permukaan air (planktofit). Talus pada Spirogyra
merupakan filamen tidak bercabang(Fahn, 2001).
Koloni Spirogyra berbentuk benang. Panjang sel sampai beberapa kali lebarnya.
Dinding lateral sel terdiri dari tiga lapis. Lapisan terluar dari pektose, dan dua lapisan
dalam dari selulose. Pada beberapa spesies, lapisan pektose tipis, tapi kebanyakan tebal,
yaitu antara 10-15 mikron. Dinding transversal tersusun dari 3 lapis: yang tengah
merupakan lamela dari pektose, dan dua lapisan di kiri dan kanan lamela tersusun dari
selulose. Setiap sel Spirogyra mengandung sebutir kloroplas yang umumnya berukuran
besar dan terikat dalam sitoplasma tepat di dalam dinding sel. Plastid ini memiliki
bentuk menyerupai pita, berpilin dari pangkal sampai ke ujung sel (spiral) (Fahn, 2002).
Pirenoidnya dikelilingi oleh butiran pati dan terikat dalam plastid pada selang
waktu yang beraturan dan merupakan ciri-ciri menyolok pada selnya.sitoplasma
mengelilingi vakuola besar di pusat. Nukleus dilingkungi suatu selubung sitoplasma,
terdapat di tengah-tengah sel dan dihubung-hubungkan oleh untaian sitoplasma meluas
sampai vakuola dan lapisan sitoplasma di tepi. Perkembangbiakan aseksual dengan
fragmentasi membentuk aplanospora, akinet dan partenospora. Perkembangbiakan
seksual secara konjugasi lateral dan konjugasi skalar.Spirogyra merupakan fitoplankton
yang berfungsi sebagai makanan ikan. Daerah yang kaya plankton merupakan daerah
perairan yang kaya ikan. Spirogyra merupakan produser primer, yaitu sebagai penyedia
bahan organic dan oksigen bagi hewan-hewan air, seperti ikan, udang, dan serangga
air. Keberadaan produser mengundang kehadiran konsumen, predator, dan organisme
lain yang membentuk ekosistem perairan (Setjo 2004).
Pembuatan preparat lumut sesuai pada data pengamatan dalam tabel. Pada tabel
tersebut menggunakan dua macam lumut untuk pembuatan preparat. Lumut yang
digunakan yakni Lumut dan dan lumut hati. Pengawetan preparat dilakukan dengan
menambahkan gliserin jelly pada preparat. Aspek yang dilihat pada pembuatan preparat
alga disini adalah ketahanan warna dari klorofil setelah dijadikan preparat. Dalam
preparat lumut ini lebih difokuskan pada gametofitnya, dari preparat yang telah dibuat
bisa terlihat dengan jelas gametofit lumut hati dan lumut daun.
Kelompok tumbuhan Bryophyta memiliki klorofil sehingga dapat melakukan
fotosintesis untuk memperoleh makanannya sendiri. Semua lumut memperbanyak diri
dengan spora, fragmentasi, dan struktur khusus yang disebut gemma (kuncup). Di
dalam siklus hidupnya kelompok tumbuhan ini mempunyai dua generasi yaitu generasi
gametofit dan generasi sporofit. Generasi gametofit meliputi rhizoid, batang dan daun.
Pada bagian ujung batang biasanya akan dihasilkan archegonium (alat perkembangan
betina) dan antheredium (alat perkembangbiakan jantan). Apabila telah terjadi
pembuahan maka terbentuklah zygote yang akan membelah dan kemudian berkembang
membentuk seta, kapsul (peristome, annulus, operculum) dan calyptra yang sering
disebut sebagai generasi sporofit (Campbell, 2008).
Pembuatan preparat tumbuhan paku sesuai pada data pengamatan dalam tabel.
Pada tabel tersebut menggunakan satu macam tumbuhan untuk pembuatan preparat.
Tumbuhan paku yang digunakan yakni Adiantum atau biasa disebut dengansuplir.
Pengawetan preparat dilakukan dengan menambahkan gliserin jelly pada preparat.
Aspek yang dilihat pada pembuatan preparat tumbuhan paku disini adalah mengetahui
bentuk protaliumnya. Protalium yakni masa metagenesis pada tumbuhan paku dimana
menghasilkan dua sel gamet, yaitu anteridium (sel kelamin jantan) dna arkegonium (sel
kelamin betina).

G. Diskusi Alga
1. Pada praktikum ini tidak menggunakan balsam canada namun, menggunakan etelan
sebagai pengganti balsam canada yang memiliki fungsi yang sama. Pada preparat
sediaan alga ini tersedia tempat yang cukup untuk etelan . Jika di kaitkan dengan
keawetan atau kepermanenan preparat , etelan ini berfungsi sebagai perekat yang
metekatkan antara kaca benda dengan kaca penutup, agar tidak ada miselium jamur
atau benda mikro lain yang mengkontaminasi preparat sehingga preparat terjaga
keawetannya.
2. Gerak air habitat alga tempat pengambilan spesimen adalah tenang, karena spesimen
ini diambil di kantin Fmipa.
3. Sinar matahari yang diterima alga yang di jadikan spesimen adalah langsung karena
lokasi kolam yang terpapar sianar matahari dan intensitas sinar sepanjang hari
mengenai alga.
4. Warna alga yang diambil dari lingkungan tersebut rata-rata berwarna hijau dan hijau
kekuningan.
5. Ciri-ciri alga yang didapatkan secara umum,
Alga hijau (Chlorophyta) Alga hijau adalah kelompok alga berdasarkan zat warna atau
pigmentasinya. Dalam taksonomi, Chlorophyta semula semua alga yang tampak berwarna
hijau dimasukkan sebagai salah satu kelas dalam filum/divisio Thallophyta, yaitu
Chlorophyceae. Pengelompokan ini sekarang dianggap tidak valid karena ia tidak
monofiletik, setelah diketahui bahwa tumbuhan merupakan perkembangan lanjutan dari
anggota masa lalunya. Sebagai konsekuensi, alga hijau sekarang terdiri dari dua filum:
Chlorophyta dan Charophyta, yang masing-masing monofiletik. Anggota alga hijau ada
yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak, berwujud berkas, lembaran, atau
membentuk koloni. Spesies alga hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat,
tetapi ada pula yang menetap.
Chlorophyta atau alga hijau terdiri dari ± 7.000 jenis yang hidup di perairan maupun di
darat. Sejumlah alga hijau hidup di air laut, namun sebagian besar hidup di air tawar. Alga
hijau ada yang hidup soliter dan ada yang berkoloni. Bentuk sel Alga hijau bermacam-
macam. Alga hijau uniseluler dapat bergerak bebas karena memiliki flagela. Beberapa jenis
alga hijau yang berkoloni mempunyai alat pelekat pada substrat yang membantu melekat
kuat pada bebatuan/substrat lain di dasar perairan. Chlorophyta disebut juga alga hijau.
Disebut alga hijau karena pigmen dominan yang dikandungnya berwarna hijau. Pigmen
berwarna hijau tersebut adalah klorofil.
Klorofil dalam alga hijau terkumpul dalam suatu organel sel yang disebut kloroplas.
Pada anggota phylum Chlorophyta, bentuk dari kloroplasnya bermacam-macam. Banyak
spesies Chlorophyta uniseluler hidup sebagai plankton, mendiami tanah basah dan salju,
atau bersimbiosis dengan organisme lain. Salah satu simbiosis mutualisme yang terkenal
adalah simbiosis antara Chlorophyta dan Fungi (jamur), yang terkenal sebagai Lichenes
(lumut kerak). Chlorophyta paling sederhana adalah organisme satu sel dengan dua flagela,
yaitu Chlamydomonas. Chlamydomonas dan Chlorophyta yang serupa dengannya
merupakan bentuk awal dari alga hijau. Chlamydomonas hidup secara autotrof dengan
kloroplas tunggal. Chlamydomonas juga mempunyai vakuola kontraktil dan pirenoid.
Kelebihan gula hasil fotosintesis disimpan sebagai pati di sekitar pirenoid.
Sel-sel alga hijau bersifat eukariotik (materi inti dibungkus oleh membran inti). Pigmen
klorofil terdapat dalam jumlah terbanyak sehingga alga ini berwarna hijau, pigmen lain yang
dimiliki adalah karotena dan xantofil. Komposisi ini juga dimiliki oleh sel-sel tumbuhan
modern. Klorofil dalam pigmen lain terdapat dalam kloroplas yang bentuknya bermacam-
macam antara lain mangkuk, gelang, pita spiral, jala dan bintang. Di dalam kloroplas
terdapat butiran padat yang disebut pirenoid yang berfungsi untuk pembentukan tepung.
Alga hijau merupakan golongan terbesar di antara alga dan kebanyakan hidup di air tawar.
Sebagian lagi hidup di darat, di tempat yang lembab, di atas batang pohon, dan di laut.
Beberapa genus dari alga hijau mempunyai alat gerak berupa flagel dan bintik mata (stigma)
6. Pada tahap pemberian gliserin jelly harus dilakukan dengan cepat karena gliserin tersebut
cepat mengeras. Saat gliserin sudah mulai membeku harus di panaskan, karena apabila
glyserin sudah mengeras saat di tutup dengan kaca benda hasil preparat akan buram.

H. Diskusi Lumut dan Paku


1. Jelaskan sel-sel penyusun gemma?
Jawab: Sel penyusunnya terdiri dari dinding sel dan selulosa.
2. Bagaimana bangun gemma?
Jawab: Berebentuk seperti mangkuk kecil.
3. Dimana posisi sel-sel meristematic pada gemma yang akan berkembang
menjadi talus baru?
Jawab: posisi sel meristemnya yaitu yang berada di dalamnya, berupa seperti
lumut-lumut kecil.
4. Bagaimana tipe percabangan talus gametofit Marchantia?
Jawab: tipe percabangannya mennggarpu, membentuk suatu badan seperti
bintang.
5. Apakah rizoid tampak pada pengamatan permukaan dorsal gametofit
Marchantia?
Jawab: Tidak, karena rizoid terletak di bawah dan bisa dilihat permukaan
ventral.
6. Mana yang dominan antar generasi gametofit dan sporofit pada Marchantia?
Jawab: Pada Marchantia fase gametofitnya lebih dominan dibandingkan fase
sporofitnya.
7. Mana yang dominan antara generasi gametofit dan sporofit pada tumbuhan
paku?
Jawab: Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi
hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Oleh karena itu, generasi
sporofit tumbuhan paku disebut generasi dominan.
8. Apa akibat yang timbul jika ruang tepi kaca penutup pada preparat kurang untuk
penyisipan baksam kanada?
Jawab: Akibat yang timbul adalah rusaknya preparat karena antara kaca benda
dank aca penutup kurang menyatu.

I. Tugas mahasiswa alga


1. Bagaimana habitat alga yang saudara ambil spesimennya?
Jawab: spesimen yang diambil berasal dari genangan air di salah satu pot tanaman. Air di
kolam tersebut bening dan tidak tercemar adanya logam berat.
2. Apa nama alga yang saudara peroleh dalam pembuatan preparat? Jawab: alga yang
diperoleh yaitu Spirogyra
3. Tergolong suku apakah alga yang saudara temukan?
Jawab: Spirogyra termasuk suku Zygnematales.
4. Adakah pirenoid pada kloroplas alga yang saudara temukan? Jawab: ada
5. Bagaimana perkembangbiakan alga yang saudara temukan?
Jawab: perkembangbiakannya secara seksual dan aseksual, tetapi pada preparat hanya
ditemukan alga dengan perkembangbiakan vegetatif saja yaitu petunasan (budding)
6. Bagaimana cara mengawetkan warna hijau klorofil pada preparat saudara? Jawab:
cara pengawetan dengan pemberian glyserin pada preparat awetan dan juga
pemanasan saat proses pembuatan jangan terlalu panas.

I. Tugas mahasiswa lumut dan paku


1. Bagaimana habitat gametofit lumut dan protalium tumbuhan paku?
Jawab: Habitatnya menempel pada bebatuan lembab dan tempat-tempat lembab lain seperti
samping sungai, tetapi tumbuhan ini juga bisa hidup pada batang kayu tanaman yang
lembab.
2. Apa Kegunaan preparat utuh gemma, gametofit lumut dan protalium tumbuhan
paku?
Jawab: Kegunaan preparat utuh gemma, gametofit lumut dan protalium tumbuhan
secara lebih jelas.
3. Apakah gametofit lumut dan paku mempunyai akar sejati?
Jawab: Pada lumut dan paku masih belum mempunyai akar sejati.
4. Dimana posisi alat perkembangbiakan generatif pada gametofit lumut dan paku?
Jawab: Terletak pada daerah bagian daun tumbuhan tersebut.
5. Apa fungsi gemma pada gametofit tumbuhan lumut?
Jawab: Untuk berkembang biak secara vegetatif
6. Mengapa perlu disisipi balsam kanada ditepi kaca penutup?
Jawab: Fungsi balsam kanada adalah sebagai lem, jadi diberi balsam kanada agar
preparat tersebut bersifat permanen dan tidak rusak.

L. Kesimpulan

• Menggunakan alga yang berfilamen yaitu spirogyra. dalam preparat tersebut terlihat dengan
jelas filament-filamennya.
• Pada tumbuhan paku menggunakan adiantum, dalam preparat tersebut bisa terlihat dengan
jelan jelas protalium paku tersebut.
• Pada lumut ini menggunakan lumut daun dan lumut hati (Marchantia), pada keduanya
ditemukan fase gametofinya dan dapat dilihat secara jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Setjo, S.,dkk. 2004. Common Textbook : Anatomi Tumbuhan. Malang: JICA
Campbell, N. A., J. B. Reece., L. G. Mitchell. 2008. Biologi Edisi Delapan Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Tjitrosoepomo, G. 2001. Taksonomi Tumbuhan (Taksonomi Khusus). Jakarta: Penerbit
Bhratara Karya Aksara.
Fahn, A. 2002. Anatomi tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Kimball, J. W. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.