Anda di halaman 1dari 13

KONSEP HEALTH PROMOTION

DI SUSUN OLEH

KELOMPOK 6

ISMAWATI 70300117006

SRI WINDAYANTI 70300117013

ARYANI FITRIA NUR 70300117019

SRIASTIA HARIS 70300117025

ADE NOVIRA 70300117033

SITTI AISYAH A. 70300117041

KEPERAWATAN A

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI ALAUDDIN MAKASSAR

2019
A. Konsep Dasar Health Promotion
Berdasarkan Depkes RI (2006) promosi kesehatan adalah uapaya
memberdayakan perorangan, kelompok dan masyarakat agar memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan
pengetahuan, kemauan dan kemampuan serta mengembangkan iklim yang
mendukung dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat sesuai dengan faktor
budaya setempat. Yang ingin dicapai melalui pendidikan ini adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan keterampilan untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat (Keperawatan Ksehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam
Keperawatan).
Promosi kesehatan mempunyai pengertian yaitu upaya kesehatan yang
menyeluruh, yaitu preventif, promotif dan kuratif, dan mulai dikenal lebih
luas setelah komperensi internasional promosi kesehatan I (Ewles dan
Simnett, 1994).
1. Teori Health Promotion
Konsep pelayanan keperawatan dari model kuratif ke arah promotif
dan preventif mendorong lahirnya tentang Health Promotion Model oleh
Pendder. Melalui 2 teori yaitu mengenai teori nilai harapan dan teori
kognitif sosial.
a. Teori nilai harapan (expectancy value) adalah pemahaman bahwa
perilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis, ada dua hal pokok
yaitu: hasil tindakan bersifat rasional dan ekonomis dan pengambilan
tindakan untuk menyempurnakan hasil yang diinginkan.
b. Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) teori ini menekankan
pengarahan diri, pengaturan diri, dan persepsi terhadap kemajuan diri.
Teori ini mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan dasar
antara lain : pengalaman sebagai petunjuk di masa akan datang,
berpikiran ke depan, belajar dari pengalaman orang lain, pengaturan
diri dan refleksi diri.
Adapun pengkajian teori menurut Nola J. Pender perawat harus
melakukan pengkajian komprehensif agar dapat mengembangkan
rencana asuhan keperawatan. Pengkajian yang dilakukan oleh perawat
adalah :
a. Langkah pertama pengkajian tentang perilaku sebelumnya yang
mencakup kebiasaan individu, hambatan dari perilaku yang
dilakukan, manfaat dari perilaku yang dilakukan, penyakit yang
pernah diderita, sumber pelayanan kesehatan dan upaya yang
pernah dilakukan dalam meningkatkan kesehatan.
b. Langkah kedua pengkajian tentang faktor personal, faktor
psikososial dan faktor sosial budaya.
c. Langkah ketiga pengkajian tentang perilaku spesifik dalam
pengatuhan dan sikap, pengkajian ini menggali tentang pemikiran
dan sikap yang mungkin atau sudah dilakukan seperti mengkaji
mengenai manfaat/harapan dari tindakan, hambatan dalam
mewujudkan tujuan dan menilai kemajuan yang dilakukan dengan
wujud dari perilaku, pengalaman, ajakan, kondisi psikologis
(kecemasan).
d. Langkah keempat yaitu mengkaji tentang reaksi emosional
terhadap perubahan perilaku, apakah dengan menghindar,
mempertahankan atau bahkan dapat merubah perilaku. Langkah
kelima melakukan pengkajian dalam pengaruh situasional seperti
keadaan disekitar yang meliputi lingkungan rumah, sanitasi dan
komunitas. Langkah keenam pengkajian dalam hubungan
interpersonal seperti apa dukungan yang diberikan oleh lingkungan
sekitar, role model seperti panutan dan kebudayaan yang
mencakup nilai-nilai kepercayaan.
e. Langkah terakhir yaitu pengkajian fungsi keluarga yaitu fungsi
efektif dan fungsi perawatan keluarga.
2. Landasan Health Promotion Model (HPM)
a. Sikap yang berhubungan dengan aktifitas meliputi karakteristik
individu dan pengalaman individu diketahui bahwasannya manusia itu
bersifat unik dan selalu belajar dari setiap pengalaman baik pribadi
maupun orang lain. Faktor yang mempengaruhi antara lain factor
biologi seperti usia, body mass indeks, status pubertas, status
menopause, kapasitas aerobik, kekuatan, ketangkasan atau
kesimbangan, factor psikologi mengenai self esteem, motivasi diri dan
status kesehatan dan sosiokultural yang meliputi suku, etnis,
akulturasi, pendidikan dan status sosioekonomi.
b. Kognitif behavior spesifik dan sikap, pada tahap ini dibagi 6 kategori
yaitu mengenai penilaian terhadap manfaat tindakan secara langsung
dapat memotivasi perilaku ke arah positif. Hambatan tindakan adalah
sikap yang langsung menghalangi kegiatan melalui pengurangan
komitmen terhadap rencana kegiatan. Kemajuan diri yaitu kemampuan
seseorang dalam mengorganisasi dan melakukan tindakan yang tidak
menyangkut skill yang dimiliki. Sikap yang berhubungan dengan
aktivitas seperti tindakan yang diambil, emosi yang timbul pada
kegiatan serta lingkungan di mana kegiatan itu berlangsung. Pengaruh
interpersonal mengenai perilaku, kepercayaan atau sikap kepada orang
lain. Sumber utama interpersonal dari keluarga kelompok dan pemberi
pengaruh pelayanan kesehatan. Pengaruh interpersonal terdiri dari
norma, social support dan model (belajar dari pengalaman orang lain).
Pengaruh situasional yaitu situasi yang dapat mempengaruhi perilaku
dengan mengubah lingkungan.
c. Perilaku yang diharapkan, tahapan ketiga ini dikategorikan dalam 3
tahapan yaitu mengenai komitmen terhadap rencana tindakan dengan
komitmen untuk melaksanakan tindakan sesuai waktu dan tempat
dengan orang-orang tertentu atau sendiri tanpa persaingan, pengaturan
strategi tertentu untuk mendapatkan tujuan dan rencana kegiatan yang
dikembangkan oleh perawat dan klien untuk mencapai tujuan.
Kebutuhan yang mendesak merupakan perilaku alternative sehingga
tindakan yang mungkin dilakukan segera sebelum kejadian terjadi
suatu rencana perilaku promosi kesehatan. Hasil perilaku yaitu efek
pencapaian tujuan secara langsung ditujukan pada pencapaian hasil
kesehatan positif untuk klien. Perilaku promosi kesehatan terutama
sekali terintegrasi dalam gaya hidup sehat yang menyerap pada semua
aspek kehidupan seharusnya mengakibatkan peningkatan kesehatan,
fungsional dan kualitas hidup yang lebih baik pada semua tingkat
perkembangan.
3. Sasaran Health Promotion
a. Sasaran primer
Sasaran primer dalam melaksanakan promosi kesehtan adalah pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebaga komponen dari
masyarakat. Adapun tujuan yang dihrapkan dari promosi kesehatan
pada sasaran tersebut adalah tercapainya perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS). Terciptanya perilaku sehat bukan hal mudah, kan tetapi
memerlukan dukunganberupa sistem nilai dan norma-norma sosial
serta norma-norma hukum yang berasal dari pemuka msyarakat, baik
pemuka informal maupun formal.
b. Sasaran sekunder
Sasaran sekunder terdiri atas pemuka masyarakat, baik pemuka
informl (pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain), organisasi
kemasyarakatan dan media massa. Partisipasi mereka diharapkan
dapat meningkatkan PHBS psien, individu sehat dan keluarga karena
mereka memiliki peran sebagai panutan dalam mempraktikan PHBS,
ikut berperan dalam menyebarluaskan informasi terkait PHBS,
menciptakan suasanan kondusif serta sebagai kelompok yang
memberikan penenakan guna mempercepat perubahan perilaku sehat
terbentuk.
c. Sasaran tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan berupa perundang-
undangan di bidang kesehatan dan bidng-bidang lain yang berkaitan
serta mereka yang dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber
daya. Adapun langkah yang diharapkan dapat dialkukan sebagai
wujud peran serta mereka dalam meningkatkan perilaku sehat
masyarakata, adalah :
1) Melakukan kebijakan/peraturan perundang-undangan yang tidak
merugikan kesehatan masyarakat serta memberikan dukunagn
untuk terciptanya kesehatan masyarakat berupa PHBS.
2) Berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya baik berupa dana,
sarana dan lain-lain yang berperan dalam mempercepat terciptanya
PHBS dikalangan pasien, individu sehat dan keluarga serta
masyarakat pada umumnya.
B. Domain Health Promotion
1. Tujuan ruang lingkup program dan kegiatan promosi kesehatan
Ruang lingkup atau bidang garapan promosi kesehatan baik sebagai ilmu
(teori) maupun sebagai seni (aplikasi) mencakup berbagai bidang atau
cabang keilmuan lain. Ilmu-ilmu yang dicakup promosi kesehatan
dikelompokkan menjadi 2 bidang, yaitu (Notoatmodjo, 2005):
a. Ilmu perilaku, yaitu ilmu-ilmu yang menjadi dasar dalam membentuk
perilaku manusia, terutama psikologi, antropologi, dan sosiologi.
b. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk intervensi perilaku (pembentukan
dan perubahan perilaku), antara lain pendidikan komunikasi,
manajemen, kepemimpinan dan sebagainya.
2. Kerangka Evaluasi Promosi Kesehatan
Melalui konsultasi dan kolaborasi dengan para praktisi promosi
kesehatan, CREATE akan mengembangkan kerangka evaluasi untuk
membantu sektor kesehatan untuk mengevaluasi kegiatan promosi
kesehatannya. Proyek ini akan mencakup kegiatan penguatan kapasitas
untuk mendukung sektor ini menggunakan kerangka kerja, untuk
mengevaluasi kegiatannya dan untuk berbagi pembelajaran dengan orang
lain.
C. Komunikasi dalam Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan yakni suatu pendekatan yang menekankan pada
usaha mengubah perilaku kesehatan agar mereka mempunyai kepekaan
terhadap masalah kesehatan tertentu yang sudah didefinisikan dalam satuan
waktu tertentu (Elayneclift & Vicki Freimuth).
1. Tujuan komunikasi kesehatan
a. Meneruskan informasi kesehatan dari suatu sumber kepada pihak lain
b. Memberikan informasi akurat untuk memungkinkan pengambilan
keputusan.
c. Informasi untuk memperkenalkan perilaku hidup sehat.
d. Memperkenalkan pemeliharaan kesehatan diri sendiri
2. Manfaatmempelajarikomunikasikesehatan
a. Merancang dan menyebarluaskan informasi kesehatan kepada
individu, keluarga/komunitas, organisasi, maupun masyarakat umum
sehingga semua kelompok dapat membuat keputusan yang tepat dalam
pemeliharaan kesehatan.
b. Hasil komunikasi kesehatan yang efektif , dapat membantu kita untuk
meningkatkan kesadaran tentang resiko dan solusi terhadap masalah
kesehatan yang dihadapi masyarakat.
c. Komunikasi kesehatan dapat digunakan untuk pembaharuan kesehatan
masyarakat yang menguntungkan untuk peningkatan kualitas
kesehatan masyarakat.
3. Komunikasi kesehatan memiliki beberapa peran penting yang
diungkapkan oleh centers of disease control and prevention sebagai
berikut:
a. Memengaruhi persepsi, kepercayaan, sikap dan normal social
b. Meningkatkan permintaan untuk layanan kesehatan
c. Memperkuat pengetahuan, sikap dan perilaku, kesadaran akan
masalah kesehatan dan solusi kesehatan
4. Bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam program-progaram
kesehatan masyarakat
a. Komunikasi antar pribadi : komunikasi langsung, tetap muka antara
satu orang dengan orang lain baik perorangan mauun kelompok.
Komunikasi antarpribdi dapat efektif apabila memenuhi 3 hal yaitu
empati, respek dan jujur. Metode komunikasi antar pribadi yang paling
baik adalah konseling (counseling),karena didalam cara ini antara
komunikator atau konselor dengan komunikan atau klien terjadi
dialog. Proses konseling ini dapat di ingat secara mudah dengan
akronim berikut;
G Greet client warmly (menyambut klien dengan hangat)
A Ask client about them selve(menanyakan tentang keadaan mereka)
T Tell clients about their problems (menayakan masalah-masalah yang
mereka hadapi)
H Helh clients solve their problem (membantu pemecahan masalah
yang mereka hadapi)
E Explain how to prevent to have the same problem(menjelaskan
bagaimana mencegah terjadinya masalah yang sama.
R Return to follow up (melakukan tindak lanjut terhadap konseling
b. Komunikasi massa adalah penggunaa media massa untuk
meyampaikan pesan-pesan atau informasi kepada khalayak atau
masyarkat. Kolmunikasi dalam kesehatan masyarakat berarti
menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat melalui
berbagai media massa(TV, Radio, Media cetak, dan sebagainya),
dengan tujuan agar masyarakat berperilaku hidup sehat.
D. Konsep Health Promotion in Nursing
Health promotion dalam keperawatan dilakukan berdasarkan pada
konsep keperawatan dari pengkajian hingga evaluasi.
1. Pengkajian
Tahap pengkajian dilakukan untuk memperoleh informasi dari individu,
keluarga atau kelompok tentang kondisi kesehatan dan berbagai hal yang
dapat mempengaruhi proses pelaksanaan pendidikan kesehatan dengan
menggunakan metode langsung dan wawancara serta mempelajari data
yang telah ada (medical record).
a. Tujuan pengkajian adalah diperolehnya informasi dari individu,

keluarga, atau kelompok tentang kondisi kesehatan, dan berbagai hal

yang dapat memengaruhi proses pelaksanaan pendidikan kesehatan.

Informasi tersebut diperlukan karena akan memengaruhi pemulihan

materi, metode, dan media pendidikankesehatan

b. Metode : Pengamatan langsung dan wawancara serta mempelajari

data yang telah ada (medical record atau kartu rawat jalan)

c. Aspek yang dikaji:

1) Riwayat keperawatan. Informasi yang diperluakn melalui

pengkajian riwayat keperawatan merupakan hal-hal yang dapat

memengaruhi kebutuhan belajar, meliputi:

a) Usia, misalnya cara penyampaian informasi pada lansia secara

lambat dan berulang

b) Pemahaman dan presepsi klien tentang masalah kesehatan,

misalnya tuberculosis bukan merupakan penyakit keturunan

c) Keyakinan dan praktik tentang kesehatan, misalnya lebih

memilih dukun daripada dokter

2) Faktor budaya. Misalnya, kebiasaan makan makanan berlemak

tinggi pada suku tertentu


3) Faktor ekonomi. Pemberian contoh dalam penyusunan menu

makanan disesuaikan dengan keadaan ekonomi klien

4) Gaya belajar. Misalnya, beberapa klien hanya dapat menerima

informasi dengan baik jika menggunakan alat bantu atau

demonstrasi

5) Faktor pendukung pada klien. Contohnya, adanya keterlibatan

keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) pada keluarga

dengan klien tuberculosis dalam kepatuhan pengobatan

6) Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisikdapat juga digunakan untuk

mengkaji kebutuhan belajar klien antara lain:

a) Status mental, contohnya klien yang sedang tegang atau

bersedih akan sulit menerima informasi yang akan diberikan

b) Tingkat energy dan status gizi, contohnya pada keadaan

kurang asupan makanan (malnutrisi), klien akan sulit

menerima informasi

c) Kapasitas fisik klien untuk belajar dan untuk melakukan

aktivitas sehari-hari

d) Kemampuan penglihatan, pendengaran, dan koordinasi otot

2. Diagnosa Keperawatan
a. Tujuan: dirumuskannya masalah yang di hadapi klien terkait dengan
pendidikan yang di berikan
b. Metode : analisis data (informasi) berdasarkan hasil pengkajian
c. Rumusan diagnosis keperawatan: berkaitan dengan kebutuhan belajar
klien secara umum, dapat dikelompokkan dalam kategori diagnosis
yang didasarkan pada respons klien dan etiologi
3. Intervensi Keperawatan
a. Tujuan perencanaan: menetapkan apa yang ingin dicapai dalam

mengatasi masalah

b. Aspek dalam perencanaan meliputi tujuan, sasaran, metode dan

media, materi, tempat, dan langkah-langkah

c. Tahapan dalam menyusun rencana pengajaran adalah sebagai berikut:

1) Menetapkan prioritas pengajaran. Kebutuhan belajar klien

disusun berurutan menurut prioritas kebutuhan belajar.

2) Menyusun kriteria yang diharapkan. Perawat perlu menyusun

kriteria yang diharapkan dapat terjadi dalam proses belajar

meliputi keadaan (kondisi) yang dapat diamati dan diukur,

aktivitas klien yang dapat diamati dan diukur, kondisi bagaimana

aktivitas tersebut dilakukan klien, dan kriteria waktu yang

spesifik dalam kegiatan belajar.

3) Memilih materi. Perawat perlu memilih sumber-sumber informasi

materi sesuai dengan kebutuhan, informasi terbaru, sesuai dengan

latar belakang klien meliputi usia, budaya, dan kemampuan

menyerap informasi, serta konsistensi informasi yang diberikan

perawat dalam mengajar

4) Menentukan strategi mengajar. Metode mengajar yang digunakan

perawatan harus sesuai dengan kondisi klien dan materinya yang

akan disampaikan oleh pengajar


4. Implementasi Keperawatan
Tujuan dari implementasi itu sendiri ialah melaksanakan pendidikan
kesehatan sesuai dengan rencana yang ditetapkan adapun hal-hal yang
perlu diperhatikan adalah :
a. Perawat tidak perlu terpaku pada rencana yang telah disusun
b. Rencana dapat direvisi segera bila dalam pelaknasaan ada perubahan
dalam kondisi klien atau factor eksternal klien
c. Yang perlu diperhatiak dalam mengajar adalah kesesuaian dan waktu
yang tepat sehingga memungkinkan klien untuk belajar pada setiap
pertemuan
d. Linkungan dapat menghambat atau membantu dalam proses belajar
e. Alat bantu dapat membantu memfokuskan perhatian klien dalam
belajar.
f. Belajar akan lebih efektif bila klien menemukan materi yang mereka
butuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Ilmi, Ani Aulia. 2017. Buku Daras Keperawatan Komunitas. Gowa, Sulawesi
Selatan:Pusaka Almaida.

Fitriani, Sinta. 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta:Graha Ilmu

Efendi, Ferry & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Kmunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika

Yusriani & Muhammad Khidri Alwi. 2018. Buku Ajar Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat. Ponorogo:Forum Ilmiah Kesehatan