Anda di halaman 1dari 31

PENANGGULANGAN BENCANA

MAKALAH

(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat)

Disusun Oleh :

Kelompok 6

Robby Heriana Rochim (1608815)

Selly Hardian (1608818)

Tata Santika (1608828)

Triska Oktariani (1608833)

W. Feby Permatasari (1608834)

Windi Pirdayanti (1608835)

Yanti Suryanengsih (1608837)

Kelas : III-C

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


PRODI D3 KEPERAWATAN KAMPUS SUMEDANG
Jalan Margamukti No. 93 Ds. Licin Cimalaka Sumedang Telp. (0261) 203084
Tahun 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapatmenyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.

Makalah ini membahas mengenai Cara Penanggulanagn Bencanadan disusun untuk


memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawata Gawat Darurat. Kami menyampaikan
banyak terima kasih kepadaIbu Hj. Iis Aisyah, S. Kp., MM., M.Kep. selaku Dosen
pembimbing dan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini, sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat banyak
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Akhir kata kami berharap
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Sumedang, 11 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 2
D. Manfaat Penulisan ........................................................................................................... 3
E. Sistematika Penulisan ..................................................................................................... 3
BAB II........................................................................................................................................ 4
TINJAUAN TEORITIS ............................................................................................................. 4
A. Definisi Bencana ............................................................................................................. 4
B. Macam-macam Bencana ................................................................................................. 4
C. Klasifikasi Bencana Berdasarkan Penyebab ................................................................... 7
D. Fase-fase Bencana ........................................................................................................... 7
E. Koordinasi pada saat bencana ......................................................................................... 9
F. Dampak Bencana .......................................................................................................... 12
G. Bencana Kebakaran ...................................................................................................... 12
H. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) ............................................................................. 17
I. Bencana Banjir .............................................................................................................. 21
J. Prosedur evakuasi pada saat banjir ............................................................................... 25
BAB III .................................................................................................................................... 27
PENUTUP................................................................................................................................ 27
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 27
B. Saran ............................................................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 28

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban iwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.(UU No. 24 Tahun 2007). Diantara banyaknya bencana
kami mengangkat materi mengenai bencana kebakaran dan banjir.

Kebakaran ialah nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi dan
waktu yang tidak dikehendaki yang bersifat merugikan dan pada umumnya sulit untuk
dikendalikan. Kebakaran imerupakan bencana yang sering dihadapi. Kebakaran itu
sendiri bisa digolongkan sebagai bencana alam atau bencana yang disebabkan
manusia. Di Indonesia sendiri frekuensi terjadinya kebakaran lebih banyak terjadi
dikota besar atau kota metropolitan dibandingkan dengan kota kecil.

Keberadaan Dinas Kebakaran dalam rangka melindungi aset dari hasil


pembagunan yang sudah dicapai dituntut untuk dapat memberikan rasa aman dari
bahaya kebakaran baik sebelum (pra), sedang dibangun, maupun pasca pembagunan.

Bencana tidak dapat dihindari tetapi dapat diredam apabila masyarakat


mempunyai informasi yang cukup mengenai budaya pencegahan bencana.

Salah satu peristiwa alam yang merugikan manusia dan sering terjadi di
Indonesia adalah banjir. Banjir adalah peristiwa alam yang bisa dikategorikan sebagai
sebuah bencana.
Banjir merupakan bencana yang sudah menjadi ”langganan” bagi beberapa
wilayah di Indonesia. Bahkan, di ibu kota Jakarta setiap tahun terjadi bencana ini.
Selain disebabkan oleh faktor alam, banjir juga disebabkan ulah manusia.
Pembangunan gedung, penebangan pohon, dan penyempitan sungai merupakan
contoh ulah manusia yang menjadi penyebab banjir.
Bencana alam yang terjadi tidak semata-mata diakibatkan oleh alam akan
tetapi disebabkan juga oleh tangan manusia yang tidak bertaggungjawab. Dengan
demikian, maka seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia serta pemerintah

1
harus bersama-sama mencegah agar tidak ada bencana yng terjadi lagi baik oleh alam
sendiri maupun oleh manusia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini terdiri dari :

1. Apa definisi bencana ?


2. Apa saja macam-macam bencana ?
3. Apa saja klaifikasi bencana berdasarkan penyebabnya ?
4. Apa saja fase-fase bencana ?
5. Bagaimana koordinasi pada saat bencana ?
6. Apa saja dampak dari bencana ?
7. Apa itu bencana kebakaran ?
8. Apa itu APAR ?
9. Apa itu bencana banjir ?
10. Bagaimana prosedur evakuasi pada saat banjir ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan makalah ini, mahasiswa-mahasiswi keperawatan dapat
memahami konsep, dan pelaksanaan asuhan kegawatdaruran dan terampil dalam
penegakan diagnosa, sehingga bisa melakukan tindakan keperawatan yang akurat.
2. Tujuan Khusus.
Setelah menyelesaikan makalah ini, mahasiswa-mahasiswi diharapkan dapat :
a. Mahasiswa mampu memahamidan mengetahui definisi becana
b. Mahasiswa mampu memahamidan mengetahui macam-macam bencana
c. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui klaifikasi bencana berdasarkan
penyebabnya
d. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui fase-fase dari bencana
e. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui bagaimana koordinasi pada
saat bencana
f. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui apa saja dampak bencana
g. Mahasiswa mampu mengetahui bencana kebakaran.
h. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui APAR
i. Mahasiswa mampu mengetahui bencana banjir

2
j. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui prosedur evakuasi pada saat
banjir

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari peulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Sebagai suatu wacana ilmiah dan wawasan dalam pengembangan ilmu
keperawatan yang menjelaskan tentang askep kegawatdaruratan kepada korban
bencana alam.
2. Manfaat Praktik
Makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam peningkatan pengembangan ilmu
pegetahuan dan teknologi keperawatan dalampemberian askep kegawatdaruratan
kepada korban bencana alam.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makalah ini terdiri dari tiga bab yang diantaraya adalah
sebagai berikut :
1. BAB I PENDAHULUAN
BAB I merupakan pendahuluan yang berisi uraian tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, serta sistematika penulisan. Pada
bab ini, dijelakskan kondisi prermasalahan yang ditelitidan menghubungkan
dengan wawasan yang telah diketahui. Bab pendahuluan ini akan menjadi dasar
utama dari keseluruhan perancangan.
2. BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II membahas mengenai tinjauan teoritis yang terdiri dari definisi bencana,
macam-macam bencana, klasifikasi bencana berdasarkan peyebab, fase-fase
bencana, koordinasi pada saat bencana, dampak dari bencana, bencana kebakaran,
apa itu APAR, bencana banjir, prosedur evakuasi pada saat banjir.
3. BAB III PENUTUP
BAB III merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran dari
pembahasan makalah ini.
4. DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis. (UU No.24 Tahun 2007)

B. Macam-macam Bencana
Bencana terdiri dari berbagai macam diantaranya :
1. Kebakaran
Situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti rumah/pemukiman, pabrik,
pasar, gedung dan lain-lain dilanda api yang menimbulkan korban dan/atau
kerugian.Kebakaran dibagi menjadi beberapa klasifikasi diantaraya; Kelas
Amencakup material bahan padat selain logam mudah terbakar /combustibles.
Contoh: kertas , kain, kain, material seperti plastik, dsb. Kelas B mencakup zat cair
dan gas. Contoh: bensin, oli, tar, cat, dsb. Kelas C mencakup peralatan/aparat
bertegangan listrik. Contoh: kabel, trafo, sekring, panel listrik. Kelas D mencakup
metal yang mudah terbakar. Contoh: magnesium, titanium, sodium, dsb.
2. Banjir
Adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan
karena volume air yang meningkat.
3. Gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi dipermukaan bumi yang
disebabkan oleh tumbukan antar lempengbumi, patahan aktif, akitivitas gunung api
atau runtuhanbatuan.
4. Letusan gunung api
Merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”.
Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar),
hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.
5. Tsunami
Berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti
lautan, “nami” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang
4
ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat
gempa bumi.
6. Tanah longsor
Jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni
atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun
lereng.
7. Banjir bandang
Adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang
disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.
8. Kekeringan
Ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup,
pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan
di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada
tanaman (padi, jagung, kedelai dan lainlain) yang sedang dibudidayakan.
9. Kebakaran hutan dan lahan
Adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga
mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomis
dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan
bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar.
10. Angin puting beliung
Angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak
melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh
permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5menit).
11. Gelombang pasang atau badai
Gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar
wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencanaalam. Indonesia
bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan
memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai
hujan deras.
12. Abrasi
Proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat
merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat
abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.

5
Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejalaalami, namun manusia sering disebut
sebagai penyebab utama abrasi.
13. Kecelakaan transportasi
Kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara.
14. Kecelakaan industri
Kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya
(unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis
kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya
bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja,
bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.
15. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan MenteriKesehatan RI No.
949/MENKES/SK/VII/2004.
16. Konflik Sosial atau kerusuhan sosial
Suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang
ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya
dikemas sebagai pertentanganantar suku, agama, ras (SARA).
17. Aksi Teror
Adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan
kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa
takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat
masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya
nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap
obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik
internasional.
18. Sabotase
Tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi,
penghambatan, pengacauan dan/ atau penghancuran. Dalam perang, istilah ini
digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas individu atau grup yang tidak
berhubungan dengan militer, tetapi dengan spionase. Sabotase dapat dilakukan
terhadap beberapa sruktur penting, seperti infrastruktur, struktur ekonomi, dan
lain-lain.

6
C. Klasifikasi Bencana Berdasarkan Penyebab
Berdasarkan penyebabnya bencana dapat di klasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu
sebagai berikut :
1. Bencana alam
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana non-alam
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,
epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial
Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial
antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

D. Fase-fase Bencana
Manajemen bencara (disarter management) adalah suatu kegiatan atau
rangkaian kegiatan yang menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang merupakan siklus
kegiatan yang meliputi fase-fae sebagai berikut :
1. Sebelum bencana(Pre impact)
Fase sebelum bencana (Pre impact) merupakan fase peringatan (warning phase)
atau tahap awal dari becana. Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi
cuaca. Pada fase inilah segala persiapan harus dilakukan dengan baik oleh
pemerintah, lembaga dan masyarakat. Pada fase ini terdiri dari beberapa tahapan
yaitu sebagai berikut :
a. Pencegahan
Yaitu upaya penyusunan berbagai peraturan perundang-undangan yang
bertujuan mengurangi resiko bencana. Misal peraturan tentang RUTL, IMB,
rencana tata guna tanah, rencana pembuatan peta rawan bencana, dll.
b. Mitigasi
Upaya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan bencana, misal pembuatan
tanggul, sabo dam, check dam, Break water, Rehabilitasi dan normalisasi
saluran.

7
c. Kesiapsiagaan
Yaitu kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat,
petugas di lapangan maupun operator pemerintah, disamping itu perlu dilatih
ketrampilan dan kemahiran serta kewaspadaan masyarakat
2. Bencana terjadi (Impact)
Fase impact atau merupakan klimaks pada saat terjadinya bencana. Pada saat inilah
manusia dengan sekuat tenaga berusaha untuk bertahan hidup dan yang harus
dilakukan dintaranya :
a. Peringatan dini
Kegiatan yang memberikan tanda atau isyarat terjadinya bencana pada
kesempatan pertama dan paling awal. Peringatan dini ini diperlukan bagi
penduduk yang bertempat tinggal didaerah rawan bencana agar mereka
mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri.
b. Penyelamatan dan pencarian
Kegiatan yang meliputi pemberian pertolongan dan bantuan kepada penduduk
yang mengalami bencana. Kegiatan ini meliputi mencari, menyeleksi dan
memilah penduduk yang meninggal, luka berat, luka ringan serta
menyelamatkan penduduk yang masih hidup.
c. Pengungsian
Kegiatan memindahkan penduduk yang sehat, luka ringan dan luka berat
ketempat pengungian (evakuasi) yang lebih aman dan terlindung dari resiko dan
ancaman bencana.
3. Sesudah bencana(Post impact)
Fase sesudah bencana (Post impact) merupakan suatu keadaan dimana proses
perbaikan dan penyembuhan dari suatu bencana. Pada tahap ini masyarakat mulai
untuk berusaha kembali pada fungsi normal. Secara umum pada fase post impact
para korban akan mengalami tahap respon fisiologis mulai dari penolakan (denial),
marah (angry), tawar-menawar (bergaining), depresi (depression) sampai
penerimaan (acceptance). Dalam fase post impact ini biasanya terdiri dari beberapa
tahapan yaitu :
a. Penyantunan dan pelayanan
Pemberian pertolongan kepada para pengungsi untuk tempat tinggal sementara,
makan, pakaian dan kesehatan.
b. Konsolidasi

8
Yaitu kegiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan
oleh petugas dan mesyarakat dalam tanggap darurat, antara lain dengan
melakukan pencarian dan penyelamatan ulang, penghitungan ulang korban yang
meninggal, hilang, luka berat, luka ringan dan yang mengungsi.
c. Rekonstruksi
Membangun kembali berbagai yang diakibatkan oleh bencana secara lebih baik
dari pada keadaan sebelumnya dengan telah mengantisipasi berbagai
kemungkinan terjadinya bencana di masa yang akan datang. Disini peranan K3
menjadi penting untuk mendukung siklus itu.

E. Koordinasi pada saat bencana


Koordinasi dapat diartikan mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga
peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau
simpang siur. (KBBI)
1. peralatan, logistik dari satuan kerja perangkat daerah lainnya, instansi vertikal yang ada
di daerah serta langkah-langkah lain yang diperlukan dalam rangka penanganan
darurat bencana.
2. Komandan tanggap darurat adalah kepala daerah dan/atau pejabat yang diberikan
wewenang untuk memberikan komando tanggap darurat.
3. RUPUSDALOPS PB Kabupaten/Kota menjalankan fungsi-fungsinya. Dalam
pengelolaan informasi bencana, pelaksanaan sistem peringatan dini, dan pelaksanaan
layanan kegawatdaruratan. PUSDALOPS PB Provinsi juga menjalankan fungsi
pengelolaan informasi bencana, koordinasi peringatan dini, dan koordinasi layanan
kegawatdaruratan.
4. Dalam pengelolaan informasi bencana, PUSDALOPS PB Provinsi memperoleh
input data dan informasi dari RUPUSDALOPS PB Kab/Kota, lalu hasil kompilasi
dari masing-masing kabupaten/kota kemudian dikoordinasikan kembali ke
RUPUSDALOPS PB Kabupaten/Kota.
5. Apabila status tanggap darurat berada di tingkat provinsi, maka segera setelah terbentuknya
organisasi komando tanggap darurat Bencana Provinsi, Komandan Tanggap Darurat Bencana
yang ditunjuk akan segera mengaktifkan UPT PUSDALOPS PB menjadi pos komando
tanggap darurat bencana.

9
6. Posko tanggap darurat bencana/ UPT PUSDALOPS PB ini memfasilitasi pelaksanaan operasi
tanggap darurat oleh komando tanggap darurat. Dengan demikian, posko tanggap darurat
bencana melaksanakan tugasnya di bawah pimpinan koman dan tanggap darurat bencana.

10
11
F. Dampak Bencana
Dampak bencana adalah akibat yang timbul dari kejadian bencana dapat
berupa korban jiwa, luka, pengungsian, kerusakan pada infrastruktur atau aset,
lingkungan ekosistem, harta benda, gangguan pada stabilitas sosial ekonomi. Dampak
bencana menurut Benson and Clay dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Dampak langsung (Direct impact)
Meliputi kerugian finansial dari kerusakan aset ekonomi, misalnya rusaknya
bangunan seperti tempat tinggal dan usaha.
2. Dampak tidak langsung (Indirect impact)
Berhentinya proses produksi, hilangnya sumber penerimaan dalam istilah ekonomi
disebut flow value.
3. Dampak sekunder (Secondary impact)
Terhambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya rencana pembangunan yang
telah disusun, meningkatnya angka kemiskinan dan lain-lain.

G. Bencana Kebakaran
1. Pengertian kebakaran
Kebakaran adalah bahaya yang nyata yang timbul karena pemakaian listrik.
Kebakaran menyebabkan kehilangan nyawa dan tak hanya meliputi seseorang saja,
tetapi dapat terjadi di tempat-tempat di mana banyak manusia berkumpul, seperti
pabrik, pusat perbelanjaan dsb.nya. Selain kehilangan nyawa manusia juga
mengakibatkan kerugian besar dalam hal materi. Kebakaran hutan, kebakaran
vegetasi, atau kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar,
tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya.
Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia, dan pembakaran. Musim
kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran
hutan besar.
2. Faktor penyebab kebakaran
a. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
b. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan
lupa mematikan api di perkemahan.
c. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan
gunung berapi.

12
d. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau
membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
e. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat
menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.
3. Tanda-tanda kebakaran
a. Muncul bau benda terbakar masuk ke ruang kabin terkadang disertai asap.
b. Segera menepikan kendaraan di posisi yang aman dan kosong, matikan mesin.
c. Sebelum keluar dari mobil, tarik tuas pembuka kap mesin. Kemudian ambil
barang-barang penting seperti ponsel, STNK (ada yang biasa meletakkannya di
balik penghalau matahari di atas kaca depan), dan terpenting—kalau tersedia
tabung pemadam.
d. Arahkan pemadam api lewat celah kap mesin (jika sudah menyemburkan api).
Jangan sekali-sekali mencoba membuka kap mesin lebar-lebar karena masuknya
udara segar akan membuat api membesar seketika.
e. Jika api membesar, jangan coba memadamkannya sendiri. Cari bantuan, telepon
polisi atau pemadam kebakaran.
f. Jangan berada dekat mobil, mengingat ledakan yang mungkin terjadi.
g. Memadamkan api dengan air tak ada gunanya.
4. Daerah rawan kebakaran
a. Daerah pemukiman padat penduduk dengan tingkat kerapatan antar bangunan
yang tinggi. Dearah seperti ini dapat dijumpai di pemukiman-pemukiman
kumuh seperti di Jakarta. Bahan bangunan yang masih semi permanen dan
instalasi listrik yang tidak teratur semakin memperbesar potensi terjadinya
kebakaran besar. Selain itu sulitnya mencari sumber air dan jauh dari hydrant
menyebabkan sulitnya pemadaman apabila terjadi kebakaran.
b. Di daerah hutan dan lahan gambut khususnya di Kalimantan dan Sumatera.
Hutan-hutan tropis basah yang belum terganggu (masih asli) umumnya tahan
terhadap kebakaran hutan dan kemungkinan akan mengalami kebakaran hanya
jika terjadi musim kemarau berkepanjangan. Namun maraknya pembalakan
hutan akhir-akhir ini yang menyebabkan degradasi pada hutan mebuat hutan
jauh lebih rentan terhadap kebakaran. Ditambah lagi dengan adanya lahan-lahan
gambut yang sangat mudah terbakar mengakibatkan api dengan sangat mdah
menjalar.

13
c. Daerah pertokoan atau pasar biasanya antara satu dengan lainnya hanya
dipisahkan oleh sekat sehingga sangat rapat dan apabila terjadi kebakaran sangat
mudah menjalar. Misalnya saja di daerah pertokoan seperti Tanah Abang,
Malioboro, dsb.
d. Daerah dengan banyak bangunan vertical atau gedung-gedung bertingkat juga
sangat rentan terjadi kebakaran. Pada gedung bertingkat api dapat menjalar
dengan cepat ke bengunan-bangunan di atasnya ditambah lagi dengan
banyaknya instalasi listrik yang dipakai terutama di perkantoran.
e. Daerah pertambangan dengan hasil tambang berupa bahan yang mudah terbakar
seperti batubara, minyak bumi, dsb. Di tempat seperti ini apabila ada percikan
api sedikit saja akan sangat mudah memicu kebakaran.
5. Dampak kebakaran
a. Dampak Terhadap Bidang Sosial, Budaya dan Ekonomi
1) Hilangnya mata pencaharian masyarakat
Sejumlah masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari daerah
yang terbakar tidak mampu lagi melakukan aktivitasnya. Asap yang
ditimbulkan dari kebakaran mengganggu aktivitas mereka yang secara
otomatis juga ikut mempengaruhi turunnya penghasilan.
2) Terganggunya aktivitas sehari-hari
Adanya asap kebakaran secara otomatis mengganggu aktivitas yang
dilakukan manusia sehari- hari. Misalnya pada pagi hari sebagian orang tidak
dapat melaksanakan aktivitasnya karena sulitnya sinar matahari menembus
udara yang penuh dengan asap.
3) Peningkatan jumlah Hama
Sejumlah spesies dikatakan sebagai hama bila keberadaan dan aktivitasnya
mengganggu proses produksi manusia. Kebakaran yang terjadi akan
memaksa hewan- hewan yang ada di hutan keluar dari hutan dan mencari
habitat baru seperti komunitas manusia dengan merusak proses produksi
manusia yang dilaluinya.
4) Terganggunya kesehatan
Peningkatan jumlah asap secara signifikan menjadi penyebab utama
munculnya penyakit ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan. Gejalanya
ditandai dengan sesak di dada dan mata agak berair.

14
5) Produktivitas menurun
Munculnya asap juga menghalangi produktivitas manusia. Walaupun kita
bisa keluar dengan menggunakan masker tetapi sinar matahari dipagi hari
tidak mampu menembus ketebalan asap yang ada. Secara otomatis waktu
kerja pun berkurang.
b. Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan
1) Hilangnya sejumlah spesies
Kebakaran bukan hanya meluluh lantakkan berjenis-jenis pohon namun juga
menghancurkan berbagai jenis habitat satwa lainnya. Umumnya satwa yang
ikut musnah ini akibat terperangkap oleh asap dan sulitnya jalan keluar
karena api telah mengepung dari segala penjuru.
2) Ancaman erosi
Kebakaran yang terjadi di lereng- lereng pegunungan ataupun di dataran
tinggi akan memusnahkan sejumlah tanaman yang juga berfungsi menahan
laju tanah pada lapisan atas untuk tidak terjadi erosi. Pada saat hujan turun
dan ketika run off terjadi, ketiadaan akar tanah akibat terbakar menyebabkan
tanah ikut terbawa oleh hujan ke bawah yang pada akhirnya potensial sekali
menimbulkan bukan hanya erosi tetapi juga longsor.
3) Perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan
Hutan sebelum terbakar secara otomatis memiliki banyak fungsi. Sebagai
catchment area, penyaring karbondioksida maupun sebagai mata rantai dari
suatu ekosistem yang lebih besar yang menjaga keseimbangan planet bumi.
Ketika hutan tersebut terbakar fungsi catchment area tersebut juga hilang.
Dalam suatu ekosistem besar, panas matahari tidak dapat terserap dengan
baik karena hilangnya fungsi serapan dari hutan yang telah terbakar tersebut.
4) Penurunan kualitas air
Kebakaran hutan memang tidak secara signifikan menyebabkan perubahan
kualitas air. Kualitas air yang berubah ini lebih diakibatkan faktor erosi yang
muncul di bagian hulu. Ketika air hujan tidak lagi memiliki penghalang
dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh butir tanah yang ada
di atasnya untuk masuk kedalam sungai yang ada akibatnya sungai menjadi
sedikit keruh.

15
5) Terganggunya ekosistem terumbu karang
Terganggunya ekosistem terumbu karang lebih disebabkan faktor asap.
Tebalnya asap menyebabkan matahari sulit untuk menembus dalamnya
lautan. Pada akhirnya hal ini akan membuat terumbu karang dan beberapa
spesies lainnya menjadi sedikit terhalang untuk melakukan fotosintesa.
6) Menurunnya devisa Negara
Turunnya produktivitas secara otomatis mempengaruhi perekonomian mikro
yang pada akhirnya turut mempengaruhi pendapatan negara.
7) Sedimentasi di aliran sungai
Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami pengendapan di bagian
hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya sungai bersangkutan
akibat erosis yang terus menerus.
c. Dampak Terhadap Hubungan Antar Negara
Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sayangnya tidak mengenal batas
administratif. Asap tersebut justru terbawa angin ke negara tetangga sehingga
sebagian negara tetangga ikut menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran
di negara Indonesia. Akibatnya adalah hubungan antara negara menjadi
terganggu dengan munculnya protes keras dari Malaysia dan Singapura kepada
Indonesia agar kita bisa secepatnya melokalisir kebakaran hutan agar asap yang
ditimbulkannya tidak semakin tebal.
d. Dampak terhadap Perhubungan dan Pariwisata
Tebalnya asap juga mengganggu transportasi udara. Sering sekali terdengar
sebuah pesawat tidak bisa turun di satu tempat karena tebalnya asap yang
melingkungi tempat tersebut. Sudah tentu hal ini akan mengganggu bisnis
pariwisata karena keengganan orang untuk berada di temat tersebut.
6. Pencegahan bahaya kebakaran
a. Asap sebagai akibat kebakaran paling fatal di area rumah sakit. Saat ini,
banyak area di rumah sakit yang melarang merokok, namun demikian apabila
merokok dimungkinkan di area tertentu, peraturan larangan merokok harus
ditegakkan.
1) Batasi merokok di semua area yang ditunjuk atau setelah merokok mereka
yang merokok secara langsung dipantau oleh para profesional perawatan
kesehatan.

16
2) Tempelkan aturan dilarang merokok secara mencolok di tempat-tempat
strategis dan terapkan aturan ini pada semua orang, pasien, petugas,
pengunjung dan ibu-ibu yang melahirkan.
3) Sediakan wadah putung rokok yang besar di tempat merokok yang
ditunjuk, dan kosongkan sesering mungkin serta jangan membuang
sampah apapun pada wadah putung rokok ini.
4) Jangan biarkan pasien merokok di tempat tidur. Jangan pernah mentolerir
merokok di mana oksigen disimpan atau digunakan. Dalam kamar pasien
banyak menggunakan tangki oksigen. Ini termasuk unit perawatan intensif,
kamar terapi pernapasan, laboratorium, kamar operasi, ruang pemulihan,
dan ruang gawat darurat. Pasang area ini dengan tanda DILARANG
MEROKOK.
b. Peralatan yang rusak dan tidak layak digunakan juga merupakan penyebab
kebakaran di area perawatan kesehatan.
c. Bersihkan serat dan lemak dari peralatan memasak dan peralatan cuci
pakaian, tudung ventilator (ventilator hood), filter, dan saluran.
d. Hindari penggunaan sambungan (ekstensi) kabel. Jika Anda harus
menggunakannya, jangan dibebani dengan beban lebih.
e. Pemasangan sambungan kabel dilarang melalui pintu atau di mana kabel ini
dapat terinjak. Dilarang memasang sambungan kabel lebih dari satu
sambungan dari satu outlet.
f. Bagian pemeliharaan dan perbaikan memeriksa dan memelihara semua
peralatan pada jadwal rutin. Berhati-hatilah menggunakan peralatan yang
dibawa pasien dari rumah dan ikuti kebijakan mengenai penggunaannya.

H. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


Alat pemadam api ringan (APAR) adalah alat pemadam kebakaran portable
karena bentuknya yang kecil dan praktis sehingga mudah dipindahkan dan dibawa ke
mana-mana. Fungsi APAR atau alat pemadam kebakaran portable itu sendiri adalah
mengatasi suatu titik api atau kebakaran yang masih dapat terkontrol.APAR atau alat
pemadam kebakaran terdiri dari beberapa jenis media seperti:
1. Dry chemical powder/ serbuk kimia kering
Alat pemadam kebakaran dry chemical powder / serbuk kimia kering, dapat
mencegah kelas kebakaran A B C yang artinya mampu mengatasi kebakaran

17
yang lebih besar dengan penyebab kebakaran apapun, baik itu karena benda
padat, cairan kimia ataupun korsleting listrik. Bahan dry chemical powder
memiliki kelemahan, yaitu meninggalkan sisa atau residu yang dapat merusak
alat elektronik
2. Carbon dioxide/ CO2
Alat Pemadam kebakaran carbon dioxide /CO2, dapat mencegah kelas B dan C
yang artinya mampu mengatasi kebakaran yang lebih besar apabila kebakaran itu
disebabkan oleh hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Carbon dioxice
CO2 tidak meninggalkan sisa atau residu sehingga tidak akan merusak alat
elektronik.
3. Cairan busa
Cairan Busa, dapat mencegah kelas kebakaran A dan B yang artinya mampu
mengatasi kebakaran lebih besar apabila kebakaran itu disebabkan oleh kompor
gas meledak (LPG, LNG) dan cairan kimia lain seperti bensin, solar, dan alkohol.
Selain itu, APAR berisi foam AFFF juga sesuai untuk memadamkan kebakaran
benda padat seperti kayu, kertas, dan kain. Perlu diingat bahwa APAR berisi
foam AFFF tidak boleh digunakan untuk memadamkan kebakaran akibat
korsleting listrik karena foam AFFF bersifat menghantarkan listrik.
4. Hallon free
Pengganti Hallon, dapat mencegah kelas kebakaran A B C yang artinya sama
seperti alat pemadam kebakaran dry chemical powder mampu mengatasi segala
jenis kebakaran / kelas kebakaran lebih besar apabila kebakaran itu disebabkan
oleh apapun. Keunggulan alat pemadam kebakaran hallon free yaitu tidak
meninggalkan sisa atau residu pada saat digunakan / bersih pada saat digunakan,
tidak menghantarkan listrik serta tidak merusak peralatan elektronik. Cara
penggunaan APAR / alat pemadam kebakaran adalah :

a. Tarik pin pengaman yang berbentuk seperti kunci pada bagian APAR.
b. Peganglah tabung dan arahkan selang pada titik api.
c. Tekan tuas pegangan/katup, yang biasa terletak di atas tabung, untuk
mengeluarkan isi tabung.
d. Semprotlah pada titik (sumber) api dari sisi ke sisi dengan gerakan seperti
menyapu. Ingat, semprot ke sumber api bukan ke lidah api.

18
Prosedur evakuasi
Prosedur evakuasi pada saat kebakaran
1. Tetap tenang.
Semakin kita tenang, semakin kita
bisa berpikir dan tanggap apa yang
harus dilakukan
2. Padamkan api bila terlatih
Bila melihat api, segera beritahu orang terdekat di sekitar anda. Dan apabila anda
terlatih menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), maka raihlah APAR
terdekat dan padamkan api tersebut. Mintalah orang lain yang terdekat dengan
anda untuk menghubungi petugas sekuriti atau petugas tanggap darurat ketika anda
memadamkan api. Bila tidak terlatih, segera beritahu orang terdekat di sekitar anda
dan menjauhlah dari sumber api. Orang terdekat (yang terlatih), petugas sekuriti
ataupun petugas tanggap darurat akan memadamkan api tersebut.
3. Berkumpul
Berkumpulah di area lobi lift dan tetaplah tenang
4. Tidak menggunakan lift.
Meskipun berkumpul di area lobi lift, kita dilarang menggunakan lift. Saat keadaan
darurat, hanya digunakan untuk mengevakuasi mereka yang mengalami gangguan
kesehatan, ditemani oleh petugas evakuasi gedung dan lantai. Penggunaan lift
berada di bawah pengawasan penuh tim tanggap darurat dari Gedung.
5. Ikuti petunjuk petugas tanggap darurat

19
Petugas tanggap darurat lantai yang membimbing umumnya memakai rompi
warna merah, hijau, atau band-aid berwarna di lengannya. Sangat mudah untuk
dikenali dan dimintai bantuan. Petugas tidak akan mengijinkan kita untuk
meninggalkan barisan di lobi lift sampai instruksi itu diberikan. Saat itu, petugas
dan komandannya menunggu instruksi dari gedung , apakah dilakukan evakuasi
atau tetap di tempat.
6. Evakuasi lewat tangga darurat
Pola barisan mengikuti besar ruangan tangga darurat, ada yang berbaris 2-2, ada
yang cukup satu barisan. Ikuti saja instruksi Komandan tanggap darurat (floor
warden). Pekerja/tamu perempuan di barisan paling depan, diikuti oleh pekerja
laki-laki. Di barisan paling depan, ada petugas pemadam api (fire warden/fire
suppressor) dan petugas kesehatan (first aider). Di barisan paling belakang, juga
ada kedua petugas tersebut dan komandan petugas. Selama berbaris tetap tenang.
7. Berjalan tertib, tidak berlari
Ketika menuruni tangga darurat, berjalanlah menuruni tangga darurat dengan
tertib, cepat, tapi tidak berlari. Perilaku yang tergesa-gesa, berteriak-teriak, dan
menyusul orang di depan dapat membuat panik orang lain. Yang dapat terjadi
adalah tercipta kerumunan masal bergerak sangat cepat, yang saling berebut
menuruni tangga darurat, saling mendorong, lalu ada yang terjatuh, lemas, dan
terinjak-injak. Tetaplah di dalam barisan dan ikuti petugas tanggap darurat.
8. Berjalan menuju muster point (tempat berkumpul)
Ikuti saja orang yang berjalan di depan dan petugas tanggap darurat. Tetaplah
dalam barisan.
9. Laporkan diri kita pada saat penghitungan orang (head count)
Petugas akan mengabsen nama-nama orang yang turun bersamanya. Gunanya
adalah untuk memastikan tidak ada orang-orang yang tertinggal di gedung.
10. Tetap di muster point
Di muster point, petugas tanggap darurat menunggu instruksi dari petugas
Gedung apakah gedung sudah aman atau masih berbahaya untuk dimasuki.
Apabila dinyatakan telah aman, petugas akan mempersilahkan untuk kembali ke
gedung.

20
I. Bencana Banjir
1. Definisi Banjir
Banjir ialah bencana alam yang sering terjadi di banyak kota dalam skala yang
berbeda dimana air dengan jumlah yang berlebih berada di daratan yang biasanya
kering. Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian banjir
adalah berair banyak dan juga deras, kadang-kadang meluap. Hal itu dapat terjadi
sebab jumlah air yang berada di danau, sungai, ataupun daerah aliran air lainnya
yang melebihi kapasitas normal akibat adanya akumulasi air hujan atau
pemampatan sehingga menjadi meluber.
Menurut Masde AL Diwanta (2010), banjir merupakan peristiwa alam biasa
berupa meluapnya air sari sungai atau saluran air kemudian melimpah dan
menggenangi daerah sekitarnya, berupa sawah, desa, kampung atau perkotaan.
Arus dan genangan banjir mempunyai potensi besar untuk menimbulkan jatuhnya
korban jiwa maupun rusak dan hilangnya harta benda. Bajir juga akan
menimbulkan endapan karena aliran banjir membawa berbagai material (termasuk
pasir dan tanah) yang dibawa dari hilir atau aliran yang dilalui salah satunya berupa
lumpur kemudian membentuk dataran banjir.
2. Jenis-jenis banjir
a. Banjir bandang
Banjir bandang merupakan banjir yang sangat berbahaya sering kali
menimbulkan korban jiwa saat banjir bandang. Banjir bandang ini mengangkut
air dan juga lumpur. Banjir ini kategori banjir yang sangat berbahaya karena
bisa mengangkut apa saja. Banjir ini cukup memberikan dampak kerusakan
cukup parah. Banjir bandang biasanya terjadi akibat gundulnya hutan dan rentan
terjadi di daerah pegunungan. Saat banjir bandang biasanya banjir ini akan
membawa pohon-pohon dan bebatuan berukuran besar sehingga bisa merusak
pemukiman warga dan dapat menimbulkan korban jiwa.
b. Banjir air
Banjir air adalah jenis banjir yang sangat umum terjadi, biasanya banjir ini
terjadi akibat meluapnya air sungai, danau atau selokan. Karena intensitas
banyak sehingga air tidak tertampung dan meluap. Itulah banjir air. Banjir air
sangat sering terjadi saat hujan deras dalam kurun waktu yang lama, sehingga
air tidak tertampung dan meluap.
c. Banjir Rob (banjir laut air pasang)

21
Banjir rob biasanya terjadi akibat air laut yang pasang. Biasanya banjir ini akan
menerjang kawasan pemukiman di wilayah pesisir pantai. Air laut yang pasang,
akan menahan laju air sungai yang sudah banyak sehingga akan menjebol
tanggul dan meluap mengenai daratan.
d. Banjir cileunang
Banjir cileunang hampir mirip dengan banjir air, namun banjir cileunang ini
terjadi akibat derasnya hujan sehingga debit air pun menjadi banyak dan tidak
terbendung. Jika intensitas huja deras biasanya air akan meluap dan itu di sebut
banjir cileunang.
3. Faktor terjadinya banjir
a. Faktor alam
Pada dasarnya faktor utama terjadinya banjir adalah curah hujan yang
tinggi. Curah hujan adalah jumlah air yang jauh di permukaan tanah datar
selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas
permukaan horizontal, intensitas curah hujan ditentukan oleh perubahan pada
pola iklim. Namun, pola iklim sudah tidak berjalan normal lagi. Banyak
peristiwa-peristiwa alam yang tercipta karena siklus alam ataupun karena ulah-
ulah manusia yang mempengaruhi pola iklim. Peristiwa tersebut antara lain
pemanasan global. Peristiwa inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan
curah hujan diatas normal. Curah hujan yang berinteraksi sangat tinggi dalam
jangka waktu yang tidak terlalui lama. Hal ini menyebabkan jaringan drainase
kelebihan volume air dari batas tampungnya. Dan membuat beberapa sungai
meluap. Air tersebut menggenangi daratan dan mulai menghancurkan
permukaan-permukaan jalan. Ini adalah awal dari peristiwa terjadinya banjir.
Jumlah curah hujan merata sebesar 2000-3600 mm di indonesia sepanjang
tahunnya. Jika terkonsentrasi 2-3 bulan secara terus menerus maka energi
kinetiknya akan menimbulkan penghancuran tanah yang selanjutnya
terakrangkut atau hanyut ke sungai. Jika daya angkut lebih kecil dari total tanah
yang dihancurkan maka akan terjadi pengendapan (Hardjowigeno, 1992).
Pengendapan-pengendapan tersebut menjadi salah satu hal yang menyebabkan
sungai menjadi dangkal sehingga mengurangi kapasitas penampungan air hujan.
b. Faktor campur tangan manusia

22
Selain peristiwa alam, campur tangan manusia juga menjadi salah satu faktor
yang besar menyebabkan banjir. Baik pemerintah maupun masyarakat semua
bertanggung jawab untuk hal ini. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Tata letak kota yang mengabaikan keseimbangan alam.
2) Aktivitas tata guna lahan dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah
konservasi tanah dan air. Kegiatan tersebut merusak hutan dan pemadatan
tanah sehingga mempengaruhi kemampuan tanah dalam melolosakan air
yang mempercepat proses terjadinya banjir.
3) Kurangnya lahan resapan air.
4) Lahan yang semula digunakan untuk daerah respon air, sekarang dibangun
rumah tinggal/ pertokoan/ perkantoran/ pabrik yang kurang menyediakan
saluran air. Semakin banyak permukiman yang dibangun berarti semakin
banyak daerah resapan yag hilang, maka semakin besar pula potensi
mengalami banjir.
5) Kegagalan mengelola atau mengatur sistem-sistem drainase. Sebenarnya
kegagalan bukan terjadi pada saat mengatur sistem-sistem tersebut,
melainkan kesalahan pada saat perancangan. Banyak sistem-sistem darinase
dibuat tidak sesuai dengan kontur yang ada sehingga aliran air tidak
berfungsi sesuai yang direncanakan.
6) Pembangunan rumah di bantaran sungai. Pembangunan rmah-rumah tersebut
membuat penyempitan batan sungai. Pembangunan ini tidak melihat dampak
yang ditimbulkan akan sangat merugikan mulai dari lingkungan sampai ke
perekonomian.
7) Kurangnya kesadaran masyarakat. Perilaku dan kebiasaan masyarakat sulit
sekali diubah. Masyarakat sudah terbiasa membuang sampah dan limbah
rumah tangga ke aliran sungai sehingga sampah tersebut menyebabkan
sungai menjadi dangkal dan sampah tersebut menyumbat dan menghambat
aliran air.
8) Penebangan pohon di huatan. Penebangan pohon di hutan menyebabkan
kurangnya kekuatan tanah dalam menahan air dan merusak neraca hidrologi.
4. Dampak yang ditimbulkan adanya banjir
Sedangkan dampak atau akibat banjir antara lain sebagai berikut:
a. Merugikan secara umum

23
Banjir yang terjadi selalu menimbulkan kerugian bagi mereka yang terkena
banjir baik secara langsung maupun tidak langsung yang dikenal sebagai
dampak banjir. Dampak banjir akan dialami langsung oleh mereka yang rumah
atau lingkungannya terkena air banjir. Jika banjir berlangsung lama akan sangat
merugikan karena aktivitas akan banyak terganggu. Segala aktivitas tidak
nyaman dan lingkungan menjadi kotor yang berdampak kurangnya sarana air
bersih dan berbagai penyakit mudah sekali menjangkiti warga yang terserang
banjir.
b. Rusaknya sarana dan prasarana
Air yang menggenang memasuki partikel pada dinding bangunan, apabila
dinding tidak mampu menahan kandungan air maka dinding akan mengalami
retak dan akhirnya jebol.
c. Hilangnya harta benda
Banjir dalam aliran skala besar mampu menyeret apapun yang dilaluinya
termasuk harta benda. Seperti kursi, kasur, meja, pakaian, dan lain sebagainya.
d. Menimbulkan korban jiwa
Hal ini disebabkan karena arus air terlalu deras sehingga banyak penduduk yang
hanyut terbawa arus.
e. Menimbulkan bibit penyakit
Penyakit yang dapat ditimbulkan misalnya gatal-gatal. Air banjir banyak
membawa kuman sehingga penyebaran penyakit sangat besar.
f. Rusaknya areal pertanian
Banjir mampu menenggelamkan areal sawah. Tentu saja hal ini sangat
merugikan para petani dan kondisi perekonomian negara menjadi terganggu.
5. Cara penanggulanganan banjir
Untuk menanggulangi terjadinya banjir, maka dibutuhkan cara penanggulangan
sebagai berikut:
a. Pengoptimalan sungai ataupun selokan
Sungai ataupun selokan sebaiknya dipelihara dan dipergunakan sebagaimana
mestinya. Sungai ataupun selokan tidak untuk tempat pembuangan sampah.
Kebersihan air dan deras arusnya harus di pantau setiap saat sekedar untuk
mengamati jika sewaktu-waktu terjadi banjir.
b. Larangan pembuatan rumah penduduk di sepanjang sungai

24
Tanah di pinggiran sungai tidak seharusnya digunakan sebagai areal pemukiman
penduduk. Selain menyebabkan banjir, juga tatanan pola masyarakat menjadi
tidak teratur.
c. Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi
Pohon yang telah ditebang seharusnya ada penggantinya. Menebang pohon yang
telah berkayu kemudian tanam kembali tunas pohon yang baru. Ini bertujuan
untuk regenerasi hutan agar tidak gundul.
d. Mempergunakan alat pendeteksi banjir sederhana
Untuk memantau tanda-tanda terjadinya banjir, dibutuhkan suatu alat pendeteksi
banjir. Alat pendeteksi ini dibuat secara sederhana agar masyarakat mampu
untuk membuatnya.

J. Prosedur evakuasi pada saat banjir


1. Tetap tenang.
Semakin kita tenang, semakin kita bisa berpikir dan tanggap apa yang harus
dilakukan
2. Membunyikan tanda peringatan
Petugas membunyikan tanda peringatan dini untuk evakuasi, seluruh peserta latih
melakukan evakuasi mandiri menuju tempat berhimpun sementara. Pertama-tama
yang dilakukan apabila terdapat sirine atau tanda bahwa bencana banjir datang,
pergilah ke tempat yang aman untuk menyelamatkan diri.
3. Matikan listrik
Hubungi PLN untuk mematikan listrik di wilayah terdampak. Hal ini harus
perhatikan karena arus listrik sangat berbahaya apabila tidak dimatikan, karena
apabila tidak dimatikan dan arus listrik terkena air dan kita mengenai air tersebut
maka otomatis kita akan tersengat istrik.
4. Amankan dokumen dan barang berharga
Jika air terus naik, letakkan barang-barang berharga ke tempat tinggi dan aman.
Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan barang-barang penting, seperti surat-surat
berharga, sebaiknya diletakan dibagian yang lebih tinggi.
5. Hubungi pihak berwenang
Jika air terus meninggi, hubungi instansi atau pihak berwenang. Hal ini dilakukan
agar pihak berwenang dapat membantu.
6. Perhatikan jalur evakuasi yang tersedia

25
Jika banjir melanda, perhatikan jalur evakuasi untuk menyelamatkan diri, jangan
sampai pergi untuk menyelamatkan diri ke jalur yang salah.
7. Berkumpul di titik kumpul
Segeralah menuju ke titik kumpul yang sudah ditentukan

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban iwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.(UU No. 24 Tahun 2007).
Bencana terdiri dari berbagai macam diantaranya : Kebakaran, banjir, tanah
longsor, gempa dan sebagaiya. Klasifikasi bencana berdasarkan penyebabnya
dibedakan menjadi tiga macam yaitu bencana alam, non alam dan sosial. Dalam
bencana terdapat fase-fase bencana yang terdiri dari pre impact, impact dan post
impact. Dampak dari bencana yang ditimbulkan bisa berupa dampak langsung, tidak
langsung dan dampak sekunder

B. Saran
1. Tenaga keperawatan
Diharapkan agar tenaga keperawatan lebih memahami dan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan yang lebih luas tentang Peran Mahasiswa Keperawatan
dalam Tanggap Bencana sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
maksimal sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2. Mahasiswa
Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah referensi dan pengetahuan tentang
Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Tanggap Bencana sehingga mahasiswa
dapat memehami tentang konsep kolaborasi antar tenaga kesehatan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Paimin, Sukresno dkk. 2009. TEKNIK MITIGASI Banjir dan Longsor. Balikpapan :

Tropenbos International Indonesia Programme

Ramdani Mustika E. 2015. KOORDINASI OLEH BPBD DALAM PENANGGULANGAN

BENCANA BANJIR DI KABUPATEN BANDUNG. Jurnal Ilmu Administrasi.

Volume XII. No. 3.

Budi Setio. 2012. Komunikasi Bencana: Aspek Sistem (Koordinasi, Informasi dan

Kerjasama). Jurnal Komunikasi. Volume 1. No. 4

Suhedro Oka. 2013. Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat.

Christian, Jayanti & Widjasena. ANALISIS SISTEM TANGGAP DARURAT BENCANA

BANJIR DI RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS.Jurnal Kesehatan

Masyarakat. Volume 3, No. 3, http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

Buku Saku Bencana BNPB. pdf

28