Anda di halaman 1dari 7

1

A. Latar Belakang
Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah tingkat kesesuaian antara
penyelenggaraan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dengan Standar
Nasional Pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah
(Permendikbud no. 28 tahun 2016). Sesuai dengan isi dari Permendikbud
tersebut maka sekolah memiliki kewajiban untuk menyesuaikan mutu
pendidikan di sekolahnya masing-masing dengan Standar yang telah
ditetapkan oleh pemerintah.
Salah satu kelemahan pada SDN Giriwinaya jika mengacu kepada
Standar Nasional Pendidikan adalah masih kurangnya kualitas lulusan SDN
Giriwinaya terutama pada dimensi sikap. Salah satu ciri yang terlihat dari
kurangnya dimensi sikap tersebut adalah rendahnya disiplin siswa terutama
pada kesadaran terhadap kebersihan lingkungan sekolah.
Menurut Masrifah (2013, skripsi IAIN Surabaya) Dalam Islam
kebersihan mempunyai aspek ibadah dan aspek moral, dan karena itu sering
juga di pakai kata “bersuci” sebagai padanan kata, membersihkan/melakukan
kebersihan. Ajaran kebersihan dalam agama Islam merupakan konsekuensi
daripada iman (ketaqwaan) kepada Allah. Berupaya menjadikan dirinya suci
(bersih) supaya ia berpeluang mendekat kepada Allah SWT. Kebersihan itu
bersumber dari iman dan merupakan bagaian dari iman. Kebersihan pula
menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan aktifitas belajar siswa di
sekolah.
Kita selaku warga pendidikan dan umat beragama tentunya harus dapat
memahami bahwa lingkungan yang bersih, selain sehat bagi manusia itu sendiri
juga dapat menjadi pemicu dalam menunjang kelancaran aktifitas sehari-hari
terutama dalam proses kegiatan belajar di sekolah.
Siswa SDN Giriwinaya sudah terbiasa dari semenjak lingkungan di
sekitar rumahnya untuk membuang sampah sembarangan sehingga terbawa
hingga ke sekolah. Hal tersebut tentu membawa dampak buruk terhadap
kebersihan lingkungan sekolah dan tentunya akan mengganggu aktifitas dan
kelancaran dalam kegiatan-kegiatan di sekolah.
2

Pihak sekolah selaku institusi pendidikan harus dapat merubah kebiasaan


tersebut, karena selain sebagai tanggung jawab pendidikan, sekolah juga harus
meningkatkan mutu secara keseluruhan yang termasuk di dalamnya adalah
kualitas siswa itu sendiri.
Berdasar dari masalah tersebut di atas penulis melakukan upaya
meningkatkan sikap sadar kebersihan di SDN Giriwinaya terutama di kelas
enam yang merupakan kelas yang menjadi tanggung jawab penulis, hasil dari
upaya tersebut penulis tuangkan ke dalam Best Practice.
Hasil dari Best Practice tersebut membawa dampak positif terhadap
peningkatan sikap sadar kebersihan lingkungan siswa kelas enam SDN
Giriwinaya dan menuangkannya dalam Best practice ini.

B. Rumusan Masalah
Siswa SDN Giriwinaya telah terbiasa untuk membuang sampah
sembarangan, hal ini dapat dilihat ketika penulis mengunjungi salah satu rumah
siswa yang sedang sakit, di sekitar lingkungannya terdapat banyak sampah
yang berceceran, setelah penulis amati banyak sekali anak-anak kecil yang
setelah memakan jajanan, sampahnya dibuang dimana saja dan akhirnya
kebiasaan tersebut terbawa hingga ke sekolah.
Berdasarkan hasil temuan tersebut, penulis melaksanakan Best practice
tentang “bagaimana meningkatkan sikap sadar kebersihan lingkungan sekolah
pada siswa kelas enam SDN Giriwinaya”.

C. Cara Penyelesaian Masalah


Penulis menyadari, bahwa untuk merubah suatu kebiasaan yang sudah
mendarah daging akan sangat sulit jika dilakukan secara “instan”. Diperlukan
berbagai macam cara untuk dapat menghasilkan output yang diinginkan dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya namun hasilnya berdampak positif dan
menjadi suatu kebiasaan baik atau karakter yang tertanam dalam diri siswa
walaupun siswa sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
3

Ada pepatah mengatatakan bahwa “bisa itu karena terbiasa…” , maka


dari itu penulis mencoba menanamkan pola pembiasaan kepada siswa agar
dapat menerapkan kebiasaan hidup bersih dan menjaga kebersihan baik itu di
lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Untuk menanamkan
kebiasan tersebut tentu diperlukan kerjasama antara seluruh warga sekolah
terutama guru dan Kepala Sekolah selaku pemegang kebijakan di lingkungan
sekolah.
Program Kepala SDN Giriwinaya yang sudah berjalan yaitu adanya Piket
Guru dan OPSIH siswa yang sudah dilaksanakan setiap hari sebelum masuk
jam pembelajaran sangatlah bermanfaat namun, pada waktu istirahat
lingkungan yang bersih terebut kembali menjadi kotor karena siswa sudah
terbiasa untuk membuang sampah seenaknya saja dan dimana saja padahal
sekolah sudah menyediakan tempat sampah di masing-masing ruang kelas.
Untuk dapat merubah pola kebiasaan tersebut penulis mencoba untuk
mengajak kepada setiap guru kelas agar pada waktu istirahat setiap guru kelas
dapat melaksanakan kembali “opsih lokal” yaitu melaksanakan opsih dari
masing-masing petugas piket kelas agar setiap selesai istirahat dapat memungut
sampah-sampah yang berserakan di depan kelas sehingga kebersihan masing-
masing kelas dapat terjaga hingga jam sekolah selesai setiap harinya.
Setelah dilaksanakan opsih lokal selama satu minggu, ternyata masih
banyak siswa yang membuang sampah dimana saja dan mengabaikan tempat
sampah yang disediakan di masing-masing kelas, sehingga lingkungan sekolah
semakin terlihat tidak bersih dan tidak indah. Penulis memperhatikan kejadian
tersebut dan akhirnya memutuskan untuk melakukan beberapa tindakan
terutama pada kelas enam selaku kelas yang menjadi tanggung jawab penulis.
Langkah awal yang dilakukan penulis adalah mengajak siswa kelas enam
berdiskusi untuk membuat peraturan.-peraturan kebersihan kelas dan juga
pembagian petugas piket harian. Dari hasil diskusi tersebut didapatkanlah
beberapa keputusan bersama antara penulis dan siswa yaitu:
1. Penulis menyampaikan kepada siswa kelas enam bahwa tempat sampah
kelas akan penulis kembalikan ke kantor sekolah, dan untuk tempat
4

pembuangan sampah maka hanya disediakan satu tempat sampah besar


yang ada di depan lapangan upacara.
2. Siswa hanya diperbolehkan membuang sampah pada waktu-waktu diluar
jam pelajaran, seperti waktu istirahat atau sebelum masuk ke kelas.
3. Akan diadakan pemeriksaan dan penilaian kebersihan kelas yang telah
dilaksanakan oleh petugas piket harian, setiap hari di waktu pagi 15 menit
sebelum jam pelajaran dimulai, 5 menit sebelum jam masuk setelah istirahat
dan 5 menit setelah jam pembelajaran usai. Hasil dari penilaian kebersihan
kelas akan ditulis pada pojok kanan papan tulis setiap hari.
4. Penulis membagi siswa kelas enam menjadi 5 kelompok petugas piket yaitu
dari hari Senin sampai dengan hari Jum’at, untuk hari Sabtu sengaja
dikosongkan dan tidak ada petugas piket karena petugas piket di hari Sabtu
adalah petugas piket antara hari Senin sampai dengan Jum;at yang
mendapatkan nilai kebersihan terkecil. Hal ini dilakukan sebagai system
“reward and punishment” agar siswa lebih termotivasi lagi.
5. Penulis mengajak siswa untuk menanamkan sikap “LISA” (Lihat Sampah
Langsung Ambil dan buang ke tempat sampah) agar tidak banyak sampah
bertumpuk karena dibiarkan.

Berdasarkan peraturan-peraturan yang telah dibuat dan disepakati


bersama tersebut, terdapat beberapa siswa yang merasa terganggu dengan
peraturan nomor 2 dengan alasan bahwa di dalam kegiatan belajar siswa
terkadang harus menguril pensil dan jika sampahnya tidak langsung dibuang
maka akan berserakan sehingga menyebabkan meja siswa menjadi kotor dan
tidak nyaman. Penulis mencoba menggali dan memancing kreatifitas siswa
agar dapat mencari solusi dari permasalah tersebut, sehingga munculah ide dari
salah seorang siswa untuk membawa kantong kresek kecil bekas dari rumah
untuk dijadikan tempat sampah sementara di setiap bangku siswa, jadi jika
siswa hendak membuang atau menghasilkan sampah ketika dalam jam
pembelajaran tidak perlu pergi ke luar kelas. Penulis amat mengapresiasi ide
siswa tersebut dan memperbolehkan siswa untuk membawa “tempat sampah
5

sementara” tersebut, dan bahkan tidak dibatasi dari kantong kresek saja tetapi
siswa juga diberi kebebasan untuk berkreasi menciptakan tempat
penampungan sampah sementara tersebut yang tentunya ukuran dan bahannya
harus sesuai dengan fungsi utamanya sebagai pembuangan sampah sementara.
Setelah peraturan-peraturan tersebut diterapkan dan dilaksanakan selama
satu minggu terlihat perubahan terhadap kebiasaan siswa dalam membuang
sampah, bahkan siswa yang masih membuang sampah sembarangan mendapat
teguran dan diingatkan untuk membuang pada tempatnya oleh temannya
sendiri, ruang kelas dan lingkungan di sekitar sekolah pun menjadi lenih terjaga
kebersihannya baik di pagi hari, waktu istirahat bahkan hingga waktu pulang
sekolah. Terlihat setiap harinya para siswa berlomba-lomba untuk dapat
menjadi yang terbersih agar mendapat nilai terbaik dalam penilaian kebersihan
kelas dan siswa terlihat sangat menikmatinya.
Penulis menyadari bahwa pelaksanaan kegiatan ini jika tidak
dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan maka hasilnya
hanya akan sementara saja. Untuk menjaga motivasi siswa maka penulis
meminta ijin kepada Kepala Sekolah agar diberi waktu untuk mengumumkan
hasil dari petugas kebersihan terbaik dari kelas enam setiap selesai upacara hari
senin sehingga siswa akan merasa termotivasi dan merasa mendapatkan
“reward” walaupun hanya berupa pujian saja. Reward yang diberikan tersebut
secara tidak langsung juga memotivasi siswa dan guru dari kelas lainnya.
Setelah satu bulan pelaksanaan peraturan tersebut dilaksanakan siswa
terlihat sudah terbiasa untuk menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekitar
sekolah terutama di depan kelas enam. Penulis mengharapkan agar pola
kebiasaan siswa ini menjadi kebiasaan baik yang tertanam dalam diri siswa
masing-masing dan siswa dapat merasakan bahwa lingkungan yang bersih
membawa kenyamanan dalam setiap kegiatan dalam kehidupan sehari-hari
sehingga siswa merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang kotor dan mau
untuk selalu menjaga kebersihan.
6

D. Simpulan
Merubah kebiasaan siswa yang sudah menjadi “bawaan” baik dari
lingkungan keluarga maupun masyarakat tempat tinggal siswa memang tidak
mudah. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki kewajiban untuk
mendidik siswa tidak hanya dalam aspek pengetahuan tetapi juga aspek sikap,
harus dapat menanamkan pola perubahan yang berdampak positif dan
berkesinambungan. Terkadang untuk dapat merubah kebiasaan tersebut
diperlukan suatu “paksaan” yang tentunya bersifat edukatif dan tidak
mencederai harga diri serta perasaan siswa.
Pelaksanaan penanaman sikap sadar kebersihan di kelas enam SDN
Giriwinaya dengan menggunakan cara-cara yang penulis lakukan terbukti
dapat menghasilkan siswa yang sadar akan kebersihan lingkungan, namun
tentu keberhasilan ini harus terus dijaga agar tidak hanya terlaksana selama
waktu yang singkat saja tetapi akan tertanam sebagai karakter siswa SDN
Giriwinaya yang cinta akan kebersihan sebagai salah satu aspek kompetensi
lulusan sikap siswa.
Untuk mencapai keberhasilan tersebut tentunya diperlukan kerjasama
antar warga sekolah terutama Kepala Sekolah selaku pemegang kebijakan dan
guru selaku pelaksana kebijakan di sekolah. Kerjasama antar warga sekolah
yang baik dapat menghasilkan eksekusi pelaksanaan program kegiatan yang
baik pula. Keberhasilan pelaksanaan penanaman sikap sadar kebersihan di
kelas enam SDN Giriwinaya bukan hanya merupakan keberhasilan penulis
semata, namun ini adalah hasil kerjasama Kepala Sekolah, guru dan warga
sekolah lainnya.
7

Daftar Pustaka

Kemendikbud (2016), Permendikbud no 28 tahun 2016 tentang system penjaminan


mutu sekolah dasar dan menengah. Jakarta: Kemendikbud.

Masrifah, Siti. (2014), PERANAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN SEKOLAH DALAM


MENDUKUNG AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI MADRASAH IBTIDAIYAH
AL IHSAN BANJARWUNGU KECAMATAN TARIK SIDOARJO. Surabaya:
IAIN Surabaya.