Anda di halaman 1dari 108

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Primary Health Care (PHC)

Disusun Oleh :

Tingkat 3C

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

PRODI D3 KEPERAWATAN KAMPUS SUMEDANG

Jalan Margamukti Ds. Licin No. 93 Cimalaka Sumedang Telp. (0261)203084

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah pencurah kasih sayang tiada batas kepada yang
dikehendaki-Nya. Allah telah mencurahkan rahmat-Nya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Komunitas. Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pemberi
syafaat dan pembawa kabar gembira.

Kami sebaga penulis menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang
bersangkutan dalam menyelesaikan penulisan makalah ini. Makalah ini penulis ajukan
untuk memenuhi tugas yang ditetapkan oleh dosen Keperawatan PHC Universitas
Pendidikan Indonesia, Ibu Dewi Dolifah, M.Kep.,Ners. Kami telah berusaha sangat
maksimal untuk memberikan yang terbaik, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk
menerima kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan
datang.

Dalam usaha menyelesaikan penulisan makalah ini tentu telah melibatkan


banyak pihak secara langsung maupun tidak langsung dalam memberikan konstitusi
yang positif demi terwujudnya sebuah karya yang baik. Semoga semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini mendapatkan sebaik-baik pahala dari
Allah. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, penulis berharap semoga makalah ini
dapat memberikan tambahan wawasan bagi pembaca pada umumnya dan penulis
pada khususnya sehingga diharapkan dapat dijadikan pedoman dan dapat dijadikan
referensi.

Sumedang, Februari 2019

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah kebutuhan dasar yang merupakan modal utama untuk


hidup, karena setiap manusia berhak untuk hidup dan memiliki kesehatan.
Kenyataannya tidak semua orang memperoleh atau memiliki derajat kesehatan
yang optimal, karena berbagai masalah secara global diantaranya adalah
kesehatan lingkungan yang buruk, sosial ekonomi yang rendah yang
menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan gizi, pemeliharaan kesehatan
pendidikan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu pelayanan kesehatan utama
merupakan salah satu pendekatan dan alat untuk mencapai kesehatan bagi semua
pada tahun 2010 sebagai tujuan pembangunan kesehatan dalam rangka mencapai
derajad kesehatan yang optimal. ( Depkes RI, 1992 ).

Di saat ini, negara Indonesia sedang mengalami berbagai macam masalah


khususnya pada kesehatan. Tentu saja permasalahan yang sedang dihadapi tidak
lepas dari keterkaitan kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat
itu sendiri. Saat ini banyak ditemukan beberapa masalah kesehatan yang
menempati urutan teringgi, diantaranya Hipertensi, DM, DBD, TBC dan Stunting
pada balita.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka


kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai
penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8 – 28,6 %
penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Saat ini
terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak
menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan
dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya
olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.

Jumlah penderita DM di dunia dan di Indonesia diperkirakan akan


meningkat, jumlah pasien DM di Dunia dari tahun 1994 ada 110,4 juta, 1998
kurang lebih 150 juta, tahun 2000 = 175,4 juta (1 ½ kali tahun 1994), tahun 2010 =
279,3 juta (kurang lebih dua kali 1994).
Disamping peningkatan prevalensi DM, penderita memerlukan perawatan
yang kompleks dan perawatan yang lama. Kepatuhan berobat merupakan harapan
dari setiap penderita DM. berarti setiap penderita DM sanggup melaksanakan
instruksi-instruksi apa pun anjuran dokternya agar penyakit DM nya dapat dikontrol
dengan baik (Haznam, 1986). Pada umumnya penderitaan DM patuh berobat
kepada dokter selama ia masih menderita gejala/ yang subyektif dan mengganggu
hidup rutinnya sehari-hari. Begitu ia bebas dari keluhan-keluhan tersebut maka
kepatuhannya untuk berobat berkurang. Ketidak patuhan ini sebagai masalah
medis yang sangan berat, Taylor (1991). La Greca & Stone (1985) menyatakan
bahwa mentaati rekomendasi pengobatan yang dianjurkan dokter merupakan
masalah yang sangat penting. Tingkat ketidak patuhan terbukti cukup tinggi dalam
populasi medis yang kronis.

Tuberkulosis adalah suartu penyakit infeksius yang yang menyerang paru


paru yang secara khas di tandai dengan pembentukan granuloma dan
menimbulkan nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular
dari penderita ke orang lain (Santa,dkk,2009)
Tuberculosis adalah penyait yang infeksius, yang terutama menyerang
perenkim paru. Tuberculosis dapat juga dapat di tularkan kebagian tubuh lainnya
termasuk meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe.(Suzane C. Smeltzer &
Brenda G .Bare, 2002)

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang disebut Dengue Hemorragi


Fever(DHF), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 sampai sekarang,
sering menjadi penyebab kematian terutama pada anak remaja dewasa. Penyakit
ini telah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia dan dari tahun ke tahun
penderitanya cenderung meningkat. (Christian Effendy, 1995)
Di Indonesia, Demam Berdarah Dengue (DBD) pertama kali dicurigai di
Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologist baru diperoleh pada tahun
1970. kemudian DBD berturut-turut dilaporkan di Bandung dan Jogjakarta (1972).
Epidemiologi pertama di luar jawa dilaporkan pada tahun 1972 di Sumatera Barat
dan Lampung, di susul oleh Riau, Sulawesi Utara dan Bali.
Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan suatu
proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang
siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak
dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak
langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan
janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami
intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang
gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan


kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang,
dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga
meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk
mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted
(Allen and Gillespie, 2001).

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dan mampu


mendorong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan. Berbagai upaya kesehatan
telah diselenggarakan. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yaitu
melalui Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai rujukannya. Hal ini merupakan
Sistem Pelayanan Kesehatan yang dianut dan dikembangkan dalam Sistem
Kesehatan Nasional dengan melibatkan peran serta masyarakat.

Upaya untuk mengoptimalkan kesehatan masyarakat yang memerlukan


dukungan dan peran serta aktif masyarakat antara lain adalah : Pelayanan
Kesehatan dasar Puskesmas khususnya Kesehatan Ibu dan Anak, Perbaikan Gizi,
Keluarga Berencana, Pemberantasan Penyakit Menular, Penyuluhan Kesehatan,
Perawatan Kesehatan Masyarakat, Perawatan Usia Lanjut, dan sebagainya.

Oleh karena itu layanan kesehatan utama merupakan salah satu


pendekatan dan alat untuk mencapai kesehatan bagi semua pada 2010 sebagai
tujuan pembangunan kesehatan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal
yang telah dicanangkan oleh pemerintah pada pembukaan Rakernas Departemen
Kesehatan RI pada tahun 1999.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah hipertensi ini antara lain :
1. Memahami dan menjelaskan definisi keperawatan komunitas
2. Memahami dan menjelaskan Paradigma Keperawatan Komunitas.
3. Memahami dan menjelaskan Ruang lingkup Keperawatan Komunitas.
4. Memahami dan menjelaskan Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas.
5. Memahami dan menjelaskan Sasaran Keperawatan Komunitas.
6. Memahami dan menjelaskan Peran Perawat Komunitas.
7. Memahami dan menjelaskan Pembahasan Beberapa Masalah Kesehatan yang
menempati urutan tertinggi.
8. Memahami dan menjelaskan Asuhan Keperawatan Komunitas di Berbagai
Daerah Indonesia.

C. Sistematika Penulisan
Untuk memahami lebih jelas makalah ini, maka materi-materi yang tertera
dikelompokkan menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penyampaian
sebagai berikut.
Bab I : Pendahuluan, pada bab ini berisi tentang latar belakang
penulisan,tujuan
penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan Teoritis, pada bab ini berisi tentang teori-teori pendukung
dan penjelasannya, yang meliputi: konsep dasar keperawatan
komunitas dan berbagai masalah kesehatan di masyarakat serta
asuhan
keperawatan komunitas menurut teori .
BAB III : Pembahasan, pada bab ini berisi tentang contoh kasus dan
pembahasannya.
Bab IV : Penutup, pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA, pada bagian ini berisi tentang referensi.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Bagi pembaca
Sebagai ilmu pengetahuan dan mampu memahami tentang asuhan
keperawatan komunitas.
2. Bagi penulis
Memberikan wawasan dan pemahaman pada penulis dalam mempelajari
tentang asuhan keperawatan komunitas khususnya tentang berbagai fenomena
kesehatan di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga
(Sumijatun et. al, 2006). Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil,
kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat
dalam suatu wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok
masyarakat ada masyarakat petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja,
masyarakat terasing dan sebagainya (Mubarak, 2006).
Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif
dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses
keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2006).
Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang
bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka
memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui
langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
keperawatan (Wahyudi, 2010).
Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga/ kelompok
dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer, sekunder dan tersier. Oleh
karenanya pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan sosial akan
membantu masyarakat dalam mendorong semangat untuk merawat diri sendiri, hidup
mandiri dan menentukan nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang
optimal (Elisabeth, 2007).
Peran serta masyarakat diperlukan dalam hal perorangan. Komunitas sebagai
subyek dan obyek diharapkan masyarakat mampu mengenal, mengambil keputusan
dalam menjaga kesehatannya. Sebagian akhir tujuan pelayanan kesehatan utama
diharapkan masyarakat mampu secara mandiri menjaga dan meningkatkan status
kesehatan masyarakat (Mubarak, 2005).
B. Paradigma Keperawatan Komunitas
Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu
manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai
sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan
masyarakat.
1. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek
biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien,
pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi,
sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga Sebagai Klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus
menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun
secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara
keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan
dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan
mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan
keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu:
a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang
menyangkut kehidupan masyarakat.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,
memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya
sendiri.
c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita
salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga
tersebut.

3. Masyarakat Sebagai Klien


Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat
istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat
mengikat semua warga. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas
didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif.
Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas,
konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor yang
mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan
keturunan.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik
yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah,
iklim, dan perumahan. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan
penyakit kulit akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah
ada pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma.
Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang
lainnya dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas dipandang sebagai
bentuk pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat kepada individu, keluarga,
dan kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan meliputi
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative dengan menggunakan proses
keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keperawatan adalah
suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan
dalam bentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara komprehensif
yang ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit
mencakup siklus hidup manusia. Lingkungan dalam paradigma keperawatan
berfokus pada lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi
status kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologis,
sosial dan budaya dan lingkungan spiritual.

C. Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas


1. Upaya Promotif
Untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dengan jalan:
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat
b. Peningkatan gizi
c. Pemeliharaan kesehatan perorangan
d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga secara teratur
e. Rekreasi
f. Pendidikan seks
2. Upaya Preventif
Untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu,
keluaga, kelompok dan masyarakat melalui kegiatan:
a. Imunisasi masal terhadap bayi dan balita
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas,
maupun kunjungan rumah
c. Pemberian vitamin A, yodium melalui posyandu, puskesmas, ataupun di rumah
d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas, dan menyusui
3. Upaya Kuratif
Untuk merawat dan mengobati anggota-anggota keluarga, kelompok yang
menderita penyakit ataupun masalah kesehatan melalui:
a. Perawatn orang sakit di rumah (home nursing)
b. Perawatn orang sakit sebagai tindak lanjut keperawatan dari puskesmas dan
Rumah Sakit
c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah ibu bersalin dan nifas
d. Perawatan tali pusat bayi baru lahir
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya pemulihan kesehatan bagi penderita yang dirawat di rumah maupun
terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama.
a. Pelatihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik seperti penderita kusta,
patah tulang, kelainan bawaan
b. Pelatihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu, seperti TBC,
pelatihan nafas dan batuk, penderita struk melalui fisioterafi
5. Upaya Resosialitatif
Upaya untuk mengembalkan individu, keluarga, dan kelompok khusus kedalam
pergaulan masyarakat.

D. Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas


Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang
dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan
masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu,
keluarga dan kelompok didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap
kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan
masyarakat yang dapat mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat.
1. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara meyeluruh
dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
secara mandiri.
2. Tujuan Khusus
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat
b. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi
masalah keperawatan
c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlu¬kan pembinaan dan
asuhan keperawatan
d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat
e. Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut dan
asuhan keperawatan di rumah
f. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di
Puskesmas
g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju
keadaan sehat optimal
3. Fungsi
a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi
kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien
melalui asuhan keperawatan.
b. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan
kebutuhannya dibidang kesehatan
c. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,
komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat
d. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan
permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan
pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses
penyembuhan (Mubarak, 2006).

E. Sasaran Keperawatan Komunitas


Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu,
keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk di daerah
kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi,
balita dan ibu hamil. Menurut Anderson (1988) sasaran keperawatan komunitas terdiri
dari tiga tingkat yaitu:
1. Tingkat Individu
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang
mempunyai masalah kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil d1l) yang
dijumpai di poliklinik, Puskesmas dengan sasaran dan pusat perhatian pada
masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan individu.
2. Tingkat Keluarga
Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga dengan
mengukur sejauh mana terpenuhinya tugas kesehatan keluarga yaitu mengenal
masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan,
memberikan perawatan kepada anggota keluarga, menciptakan lingkungan yang
sehat dan memanfaatkan sumber daya dalam masyarakat untuk meningkatkan
kesehatan keluarga.
Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan
pada keluarga rawan yaitu:
Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga
dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh
dukun dan neo¬natusnya, balita tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa
diintervensi oleh program, penyakit endemis, penyakit kronis tidak menular atau
keluarga dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik).
Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang
memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi be-rat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun
Kurang Energi Kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti
perdarahan, infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita dengan BGM, keluarga
dengan neonates BBLR, keluarga dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan
kasus percobaan bunuh diri.
3. Tingkat Komunitas
Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien
1) Pembinaan kelompok khusus
2) Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah

F. Peran Perawat Komunitas


Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat
diantaranya adalah:
1. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah keperawatan
yang ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan
keperawatan dan mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
2. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir
dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku
seperti yang diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi
tatanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal
yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya
diberikan dukungan emosional dan intelektual.
Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses
keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan
pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan
perawat membuat tujuan khusus dan strategi pengajaran. Selama pelaksanaan
perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai
hasil yang telah didapat (Mubarak, 2005).
3. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik
dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh
masyarakat.
4. Sebagai pembela (Client Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat
komunitas. Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya melalui
pelayanan sosial yang ada dalam masyarakat. Seorang pembela klien adalah
pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa
yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi
hak-hak klien (Mubarak, 2005). Tugas perawat sebagai pembela klien adalah
bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan
informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal
lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed Concent) atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah
mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang
sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas
kesehatan (Mubarak, 2005).
5. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai
kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban
tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
6. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara
bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi,
dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat proses penyembuhan klien
Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan
dengan orang lain pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat
penting untuk merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).
7. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani
perawatan di suatu instansi kesehatan atau rumah sakit. Perencanaan ini dapat
diberikan kepada klien yang sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan.
8. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-
masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status
kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan
pengumpulan data.
9. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan,
merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan
kepada klien. Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien
menerima pelayanan dari banyak profesional (Mubarak, 2005).
10. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif
merubah atau yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau
pada sistem. Marriner torney mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang
mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk
berubah, menunjukkan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif,
mengkaji sumber daya, menunjukkan peran membantu, membina dan
mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari proses
perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak, 2005).
Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari perawatan.
Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat membantu klien untuk
merencanakan, melaksanakan dan menjaga perubahan seperti : pengetahuan,
ketrampilan, perasaan dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak,
2005).
11. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider And
Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada
masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian
atau pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari
peran perawat komunitas.

G. Pembahasan Permasalahan Kesehatan

1. Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana


tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg.
Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg
dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Suzanne C. Smeltzer, 2001)
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita
yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi
140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Secara
sederhana, seseorang dikatakan menderita Tekanan Darah Tinggi jika tekanan
Sistolik lebih besar daripada 140 mmHg atau tekanan Diastolik lebih besar dari 90
mmHg. Tekanan darah ideal adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk
Diastolik.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih
tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari
120/80 mmHg didefinisikan sebagai “normal”. Pada tekanan darah tinggi, biasanya
terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada
tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam
jangka beberapa minggu.

a. Etiologi Hipertensi
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90%
diantara mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak
dapat ditentukan penyebab medisnya.Sisanya mengalami kenaikan
tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder). Hipertensi
berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
a) Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh
hipertensi). 2.
b) Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat
dari adanya penyakit lain. Hipertensi primer kemungkinan memiliki
banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh
darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi
sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya
adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah
kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
c) Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis
(saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya
adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
d) Betabloker Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui
penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan
pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan
seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol
dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena
dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam
darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi
penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme
(penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus
hati-hati.
e) Vasodilator Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah
dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk
dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang
kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala
dan pusing.
f) Penghambat ensim konversi Angiotensin Cara kerja obat golongan ini
adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk
golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul
adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
g) Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara
menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan
obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang
mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
h) Penghambat Reseptor Angiotensin II Cara kerja obat ini adalah dengan
menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang
mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang
termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping
yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor
resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibsat penyakit ini
bisa ditekan.

b. Faktor Predisposisi Hipertensi


Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh
beberapa hal seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga
banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur), apabila
salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor
genetik mempunyai peran didalam terjadinya Hipertensi.
Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas,
stress, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam.
Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi
esensial. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui
aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat
kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat
kita tidak beraktivitas.
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan
darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan,
dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini
belum terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih
tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan
dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal
di kota.
Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari
populasi Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan
yang erat dengan terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum
dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi
penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi
volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi
dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.
c. Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis
di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin,
yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan
vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut
bias terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks
adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat
respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan
pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

d. Manifestasi Klinis Hipertensi


Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan
gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan
dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal
sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang
bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang
dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul
gejala berikut:
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Mual
- Muntah
- Sesak nafas
- Gelisah
- Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya
Kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran
dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini
disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.

e. Komplikasi Hipertensi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi
menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto
(Depkes, 2007) adalah diantaranya:
- Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak,
transient ischemic attack (TIA).
- Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard
acut (IMA).
- Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
- Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema
pupil.

f. Pemeriksaan Penunjang Hipertensi


Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen
Fakultas kedokteran USU, Abdul Madjid (2004), meliputi:
- Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai
terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan factor
resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin
analisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin,
gula darah puasa, kolesterol total, HDL, LDL.
- Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi),
IVP (dapat mengidentifikasi hipertensi, sebagai tambahan dapat
dilakukan pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam
urat, TSH dan ekordiografi.
- Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal),
glucose (DM) kalium serum (meningkat menunjukkan aldosteron yang
meningkat), kalsium serum (peningkatan dapat menyebabkan
hipertensi: kolesterol dan tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi),
pemeriksaan tiroid (menyebabkan vasokonstrisi), urinanalisa protein,
gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam urat (factor penyebab
hipertensi)
- Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan

g. Penatalaksanaan Hipertensi
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat
antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat
diharapkan menghubungi dokter.
- Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan
tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang
yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.
- Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf
simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh
obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.

- Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan
daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada
penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan
seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah : Metoprolol,
Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus
hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana
kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa
berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat
gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga
pemberian obat harus hati-hati.
- Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan
relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam
golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang
kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit
kepala dan pusing.
- Penghambat ensim konversi Angiotensin
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat
Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril.
Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing,
sakit kepala dan lemas.
- Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara
menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk
golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek
samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala
dan muntah.
- Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat
Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya
daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan
ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul
adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.

2. Diabetes Melitus

Diabetes militus adalam penyakit metabolik yang kebabanyakan herediter


dengan tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya
gejala klinik acut maupun cronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif
maupun insulin absolut dalam tubuh, dimana gangguan primer terletakpada
metabolisme karbohidrat, yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme
protein dan lemak.

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai


oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan
Suddarth, 2002). Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul
pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula
(glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo,
2002).

a. Klasifikasi

Klasifikasi Diabetes mielitus dan ganggguan toleransi glukosa menurut


WHO 1985 :

1) Clinical Classes
a. DM
- IDDM ( DM Type 1 ).
- NIDDM ( DM Type 2 ).
- Questionable DM , bila meragukan type 1 atau type 2.
- MRDM
b. Statistical Risk Classes.
- Kedua orang tuanya pernah menderita DM.
- Pernah menderita GTG kemudian normal kembali.
- Pernah melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4
kilogram.
b. Etiologi

DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat


menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya
memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang
dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :

1) Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai
kegagalan sel beta melepas insulin.
2) Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara
lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan
karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan
kehamilan.
3) Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh
autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi
antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi
insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
4) Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan
jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang
terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.

c. Patofisiologi

Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan


dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:

1) Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang


mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 –
1200 mg/dl.
2) Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang
menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai
dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
3) Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat


mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi
sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang
ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ),
akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak
dapat menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan
mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai
kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri
menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar
bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein
negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat
yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi
cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau
hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat
untuk energi.

Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis,


penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan
memudahkan terjadinya gangren
d. Tanda dan gejala

Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :

- Poliuria (banyak dan sering kencing)


- Polipagia (banyak makan)
- Polidipsi (banyak minum)

Kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :

- Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.


- Berat badan menurun
- Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada serabut-serabut
saraf
- Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul
- Infeksi saluran kencing
- Kelainan ginjal kalogi: keputihan
- Infeksi yang sukar sembuh

Pada pemeriksaan laboratorium:

- Kadar gula darah meningkat


- Peningkatan plasma proinsulin dan plasma C polipeptida
- Glukosuria

e. Pemeriksaan Diagnostik
- Test Glukosa darah
- Gula dalam urine
- Glukosa toleran test dan Plasma proinsulin

f. Pengobatan

- Diet rendah kalori


- Exercise untuk meningkatkan jumlah dan fungsi reseptor sitensulin
diberikan bila dengan oral tidak efektifs
- Khusus untuk ganggren :
- Ringan atau lokasi bukan daerah ekstremitas dilakukan nekrotomi
luas di OK
- Berat dan lokasinya pada ektremitas pertimbangan amputasi
3. TBC

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-


paru, di sebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat juga menyebar
ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Tuberkulosis
pada manusia di temukan dalam dua bentuk yaitu :
a. Tuberkulosis primer, jika terjadi pada infeksi yang pertama kali.
b. Tuberkulosis sekunder, kuman yang dorman pada tuberkulosis primer akan aktif
setelah bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis
dewasa mayoritas terjadi karena adanya penururnan imunitas, misalnya malnutrisi,
penggunaan alcohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, dan gagal ginjal.
(Somantri, 2012)
Tuberkulosis adalah suartu penyakit infeksius yang yang menyerang paru paru
yang secara khas di tandai dengan pembentukan granuloma dan menimbulkan
nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita ke
orang lain (Santa,dkk,2009)
Tuberculosis adalah penyait yang infeksius, yang terutama menyerang
perenkim paru. Tuberculosis dapat juga dapat di tularkan kebagian tubuh lainnya
termasuk meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe.(Suzane C. Smeltzer & Brenda
G .Bare, 2002)

a. Etiologi
Penyebab tuberculosis adalah mycobacterium tuberculosis. Basil ini
tidak bersepora sehingga mudah di basmi dengan pemansan sinar matahari dan
sinar ultra violet ada dua macam mikrobakteria tuberkulosa tipe human dan tipe
bovin berada pada susu sapi yang menderita mastitis tuberculosis usus. Basil
human bisa berada dalam bercak ludah (droplet) dan diudara yang berasal ddari
penderita TBC, dan orang yang terkena renan terinfeksi bila menghirupnya.(Wim
de Jong, dalam buku asuhan keperawatan NANDA,2015)

b. Tanda dan Gejala


Ada beberapa tanda dan gejala itu di antaranya :
1) Demam, 40-410C serta ada batuk batuk / batuk berdahak
2) Sesak nafas,dan nyeri dada
3) Suara khas dalam perkusi dada.
4) Peningkatan produksi sel darah putih
5) Berat badan menurundengan dominasi limfosit
6) Pada anak ,berkurangnya berat badan dalam 2 bulan berturut turut tanpa
sebab yang jelas atau gagal tumbuh. (Dalam buku keperawatan NANDA
2015,)

c. Cara penularannya
Sumber penularan adalah dahak penderita TBC yang mengandung
kuman TBC. TBC menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan
berbicara dan percikan dahaknya yang mengandung kuman TBC melayang-
layang di udara dan terhirup oleh oranglain.
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan
bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC
batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan
tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar
getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh
organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering
terkena yaitu paru-paru

d. Cara pencegahan
Tips berikut berguna untuk mencegah Penularan penyakit TBC:
1) Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin
2) Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan
(air sabun)
3) Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
4) Menghindari udara dingin
5) Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke
dalam tempat tidur
6) Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari
7) Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga
mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain
8) Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein
Selain pencegahan TBC, menyelesaikan seluruh terapi obat sangat baik
untuk melawan infeksi sehingga lebih cepat sembuh. Ini adalah langkah yang
paling penting yang dapat diambil untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari
tbc. Bila penderita menghentikan pengobatan dini atau melewatkan dosis, bakteri
tbc memiliki kesempatan untuk mengembangkan mutasi yang memungkinkan
mereka untuk bertahan hidup bahkan jika diberi obat tbc yang paling kuat
sekalipun. Strain yang resistan terhadap obat yang dihasilkan jauh lebih
mematikan dan sulit diobati.

e. Patofisiologi
Tempat masuknya kuman M. tuberclosis adalah saluran pernafasaan,
saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis
terjadi melalui udara (airborne) , yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung
kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran
pencernaan merupakan tempat utama jenis bovin. Yang penyebarannya melalui
susu yang sudah terkontaminasi.
Tuberculosis adalah penyakit yang di kendalikan oleh respn imunitas
perantara sel. Sel efektornya adalmakrofag, sedangkan limfosit (biasnya sel T)
adalah sel imunoresposufnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan
makrofag yang di aktifkan di tempat infeksi oleh limfosit ddan limfokinya. Respon
ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas lambat (lambat).
Selain itu kuman M.tuberkulosis masuk lewat udara ke dalam tubuh
melalui system pernafasan kemidian masuk ke dalam paru dan menginvasi
alveoli sehingga terjadi peradanan pada bagian alveoli dalam proses
perkembang biakan kuman TB. Basil juga di pindahkan ke bagian paru lain dan
bagian tubuh lainya melalui system limfe dan pembuluh darah. System imun
tubuh berespon dengan melakukan reksi inflamasi fagosit menelan banyak
bakteri, limfosit spesifik tuberculosis melisis basil dan jaringan normal, sehingga
mengakibatkan penumpukann eksudat dalam alveoli dan menyebakan
broncopenomonia.
Masa jaringanparu / granuloma (gumpalan basil yang msih hidup dan
y\ang sudah mati ) di kelilingi makrofag membentuk dinding protektif. Granuloma
diubah menjadi menjadi masa jaringa fibrosa , yang bagian sentralnya di sebut
tubekel ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik membentuk masa
seperti keju massa ini dapat mengalami klasifikasi membentuk skar
kolagenosa.bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif individu
dapat mengalami penyakit aktif karena infeksi ulang dan aktifasi bakteri dorman.
Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah melepaskan bahan seperti keju ke
bronki. Bakteri kemudian mnyebar di udara mengakibatkan brokopneomonia
lebih lajut. Tubekel yang memecah menyambung membentuk jaringan parut dan
paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak
f. Penatalaksanaan

Pengobatan tuberkulosis terbagi atas 2 fase yaitu fase intensif (1-3 bulan
) dan fase lanjutan 4- 7 bulan. Paduan obat yang di guakan terdiri dari paanduan
obat utama dan obat tambahan
1) Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
- Rifampisin
- INH (Isoniazid)
- Pirazinamid
- Streptomisin
- Etambutol
2) Kombinasi dosis tetap (fixsed dose combination ) kombinasi dosis tetap ini
terdiri dari:
- Empat obat tuberculosis dalam satu tablet ,yaitu rifampisin 150mg
isoniazid 75mg pirazinamid 400mg etambutol 275 mg dan
- Tiga obat anti tuberculosis dalam satu tablet ,yaitu rifampisin 150 mg
isoniazid 75mg dan virazinamid 400mg
- Kombinasi dosis tetap rekomendasi WHO 1999 untuk kombinasi
dosis tetap , penderita hanya minum obat 3-4 tablet perhari selama
fase intensif sedangkan fase lanjutan dapat mengguanakan kombinasi
dosis 2 obat anti tuberculosis seperti yang selama ini telah digunakan
sesuai dengan pengobatan.
3) Jenis obat tambahan lainya (lini 2)
- Kanamisin.
- Kuinolon
- Obat lain masih dalam penelitian ; Makroid ,amoksisilin+asam
klavulanat
- Derifat, rifampisin dam INH
Sebagian besar penderita TB dapat menyelsaikan pengobtan tanpa
efeksamping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping
oleh karnaitu, pemantauan kemungkian terjadinya efek samping
sangat penting dilakukan selama pengobatan.efek samping yang
terjadi dapat menjadi ringan atau menjadi berat , bila efek samping
dan dapa di atasi dengan obat simtomatik maka pemberian obat OAT
dapat di lanjutkan . (Dalam buku keperawatan NANDA 2015).
4. DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau dalam bahasa medisnya


disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dangue dan ditularkan oleh
nyamuk Aedes Aegypty. Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan dapat
juga ditularkan oleh Aedes albopictus, (Depkes RI, 2005)
Penyakit DBD adalah penyakit menular yang sering menimbulkan wabah dan
menyebabkan kematian pada banyak orang penyakit ini di sebabkan oleh virus dengue
dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini tersebar luas di rumah-rumah,
sekolah dan tempat-tempat umum lainnya seperti tempat ibadah, restoran, kantor, balai
desa dan lain-lain sehingga setiap keluarga dan masyarakat mengandung risiko untuk
ketularan penyakit DBD. Obat untuk penyakit DBD belum ada, dan vaksin untuk
pencegahannya juga belum ada, sehingga satu-satunya cara untuk memberantas
penyakit ini adalah dengan memberantas nyamuk aedes aegypti. (Depkes RI, 1996)

a. Penyebab DBD
Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang
merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang
diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut
adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah baru muncul
saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus
dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda.
Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi
pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih
parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh
sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang
sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang
terbentuk (Kristina dkk, 2004).
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor
pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan
Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan
menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah
menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa
inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8 - 10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat
mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.
Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya
ke keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan
sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk.
Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang
yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu,
risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia
kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari ras Kaukasia (Vorvick,
2010).

b. Patogenesis
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi
pertama mungkin memberi gejala sebagai demam dengue. Reaksi yang amat
berbeda akan tampak bila seseorang mendapat infeksi yang berulang dengan
tipe virus dengue yang berlainan.Hipotesis infeksi sekunder (the secamdary
heterologous infection/ the sequential infection hypothesis) menyatakan bahwa
demam berdarah dengue dapat terjadi bila seseorang setelah terinfeksi dengue
pertama kali mendapat infeksi berulang dengue lainnya. Re –infeksi ini akan
menyebabkan suatu reaksi amnestif antibodi yang akan terjadi dalam beberapa
hari mengakibatkan proliferasidan transformasi limsofit dengan menghasilkan titik
tinggi antibodi Ig G antidengue.Disamping itu replikasi virus dengue terjadi juga
dalam limsofit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam
jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen
–antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi
sistem komplemen pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5
menyebabkan peningkatan permeabilitis dinding pembuluh darah dan
merembesnya plasing dari ruang intravascular ke ruang ekstravascular(1,2).

c. Gejala Klinik DBD


1) Demam
Demam tinggi yang mendadak, terus –menerus berlangsung selama 2 –7
hari, naik turun (demam bifosik). Kadang –kadang suhu tubuh sangat tinggi
sampai 40C dan dapat terjadi kejan demam. Akhir fase demam merupakan
fase kritis pada demam berdarah dengue. Pada saat fase demam sudah
mulai menurun dan pasien seakan sembuh hati –hati karena fase tersebut
sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.
2) Tanda –tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada pasien demam berdarah adalah vaskulopati,
trombosipunio gangguan fungsi trombosit serta koasulasi intravasculer yang
menyeluruh. Jenis perdarahan terbanyak adalah perdarahan bawah kulit
seperti retekia, purpura,ekimosis dan perdarahan conjuctiva. Retekia
merupakan tanda perdarahan yang sering ditemukan. Muncul pada hari
pertama demam tetepai dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam.
Perdarahan lain yaitu,epitaxis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis.
3) Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit bervariasi dari
haya sekedar diraba sampai 2 –4 cm di bawah arcus costa kanan, nyeri
tekan pada daerah tepi hepar berhubungan dengan adanya perdarahan.
4) Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang
setelah demam turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut
nadi dantekanan darah, akral teraba dingin disertai dengan kongesti kulit.
Terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit terabab dingin dan lembab
terutama pada ujung jari dan kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi
gelisah, nadi cepat, lemahkecil sampai tidak teraba. Pada saat akan terjadi
syok pasien mengeluh nyeri perut.

d. Pemeriksaan Laboratorium
1) Darah
Pada demam berdarah umum dijumpai trobositopenia (<100.000) dan
hemokonsentrasi uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan
penting.Masa pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa
perdarahan biasanya memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan masa
perdarahan biasanya memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan
penurunan faktor II, V, VII, IX, dan X. Pada pemeriksaan kimia darah
hipoproteinemia, hiponatremia, dan hipokloremia.
2) Urine
Ditemukan albuminuria ringan
3) Serologia
Uji serologi memakai serum ganda.Serum yang diambil pada masa akut dan
masa konvalegen menaikkan antibodi antidengue sebanyak minimal empat
kali termasuk dalam uji ini pengikatan komplemen (PK), uji neutralisasi (NT)
dan uji dengue blot.
4) Uji serologi
Uji serologi ini memakai serum tunggal untuk mengetahui ada tidaknya atau
titer tertentu antibodi antidengue uji dengue yang mengukur antibodi
antidengue tanpa memandang kelasantibodinya uji Ig M antidengue yang
mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas Ig M(1,2,4).

4. Stunting

Balita pendek (stunting) merupakan keadaan tubuh yang pendek dan sangat
pendek hingga melampaui defisit -2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan.
Stunting dapat di diagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan menurut umur
yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan
dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai.
Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik
sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi (ACC/SCN, 2000).
Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan
sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti jelas bahwa individu yang stunting
memiliki tingkat kematian lebih tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya
peningkatan penyakit. Stunting akan mempengaruhi kinerja pekerjaan fisik dan fungsi
mental dan intelektual akan terganggu (Mann dan Truswell, 2002). Hal ini juga didukung
oleh Jackson dan Calder (2004) yang menyatakan bahwa stunting berhubungan
dengan gangguan fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko kematian. Di Indonesia,
diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting, data ini berdasarkan laporan yang
dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan Indonesia masuk ke dalam 5 besar
negara dengan jumlah anak yang mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2007). Hasil
Riskesdas 2010, secara nasional prevalensi kependekan pada anak umur 2-5 tahun di
Indonesia adalah 35,6 % yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek.
Terjadinya stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah dua
tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek Masalah gizi yang kronis pada balita
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat orang
tua/keluarga tidak tahu atau belum sadar untuk memberikan makanan yang sesuai
dengan kebutuhan gizi anaknya. Riskesdas 2010 menemukan bahwa ada 21,5% balita
usia 2-4 tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16% yang
mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini berlangsung dalam waktu
lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat dan tinggi badan.
Pada ibu hamil juga terdapat 44,4% yang mengonsumsi energi di bawah
kebutuhan minimal dan 49,5% wanita hamil yang mengonsumsi protein di bawah
kebutuhan minimal yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan janin yang
dikandungnya. Selain asupan yang kurang, seringnya anak sakit juga menjadi penyebab
terjadinya gangguan pertumbuhan. Sanitasi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang
anak melalui peningkatan kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang sering
sakit akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi pendek.
Dari hasil Riskesdas, 2010 lebih dari setengah (54,9%) masyarakat kita memiliki
akses sumber air minum tidak terlindung. Hanya 55,5% masyarakat yang terakses
dengan sanitasi, di perkotaan 71,4% dan pedesaan 38,5%. Penanganan sampah di
masyarakat 52% dibakar dan penggunaan bahan bakar arang dan kayu bakar 40,0%.
Selain itu juga ternyata Dua dari 3 perokok kita (76,7%) merokok di rumah dan dampak
dari semua ini berpotensi menyebabkan penyakit diare dan gangguan pernapasan pada
balita.

Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan suatu


proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus
kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang
peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak
langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin.
Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth
retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami
gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan
kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan
meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga
meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk
mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen
and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja seperti
yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor
tersebut saling berhubungan satu sama lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab
stunting yaitu sebagai berikut :
a. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam
makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan air)
b. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR)
c. Riwayat penyakit.
Untuk menentukan stunted pada anak dilakukan dengan cara pengukuran
(Penilaian Stunting secara Antropometri). Pengukuran tinggi badan menurut umur
dilakukan pada anak usia di atas 2 tahun. Antropometri merupakan ukuran dari tubuh,
sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa bentuk tubuh dan
komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang digunakan untuk mengetahui
ketidakseimbangan protein dan energi. Antropometri dilakukan untuk pengukuran
pertumbuhan tinggi badan dan berat badan (Gibson, 2005).
a. Standar digunakan untuk standarisasi pengukuran berdasarkan rekomendasi
NCHS dan WHO. Standarisasi pengukuran ini membandingkan pengukuran anak
dengan median, dan standar deviasi atau Z-score untuk usia dan jenis kelamin
yang sama pada anak- anak. Z-score adalah unit standar deviasi untuk
mengetahui perbedaan antara nilai individu dan nilai tengah (median) populasi
referent untuk usia/tinggi yang sama, dibagi dengan standar deviasi dari nilai
populasi rujukan. Beberapa keuntungan penggunaan Z-score antara lain untuk
mengiidentifikasi nilai yang tepat dalam distribusi perbedaan indeks dan
perbedaan usia, juga memberikan manfaat untuk menarik kesimpulan secara
statistik dari pengukuran antropometri.
b. Indikator antropometrik seperti tinggi badan menurut umur (stunted) adalah
penting dalam mengevaluasi kesehatan dan status gizi anak-anak pada wilayah
dengan banyak masalah gizi buruk. Dalam menentukan klasifikasi gizi kurang
dengan stunted sesuai dengan ”Cut off point”, dengan penilaian Z-score, dan
pengukuran pada anak balita berdasarkan tinggi badan menurut Umur (TB/U)
Standar baku WHO-NCHS berikut (Sumber WHO 2006)

Tingginya angka stunting di Indonesia, yakni dari 34 provinsi hanya ada dua
provinsi yang jumlahnya di bawah 20% (batas angka stunting dari WHO). Untuk
mengatasinya, pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting melalui
beberapa kebijakan kesehatan.

Kebijakan tersebut berupa program yang dicanangkan Kementerian Kesehatan


(Kemenkes) RI di antaranya Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
(PIS-PK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan 1000 Hari Pertama Kehidupan
(HPK). PIS-PK telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI
nomor 39 tahun 2016 tentang pedoman penyelenggaraan PIS-PK.
Program ini dilakukan dengan mendatangi langsung ke masyarakat untuk
memantau kesehatan masyarakat, termasuk pemantauan gizi masyarakat untuk
menurunkan angka stunting oleh petugas Puskesmas. PIS-PK merupakan salah satu
cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan akses
pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga.

Diharapkan gizi masyarakat akan terpantau di seluruh wilayah terutama di


daerah dan perbatasan agar penurunan angka stunting bisa tercapai. Kemudian, terkait
PMT sudah di atur dalam Permenkes RI nomor 51 tahun 2016 tentang Standar Produk
Suplementasi Gizi. Dalam Permenkes itu telah diatur Standar Makanan Tambahan untuk
Anak Balita, Anak Usia Sekolah Dasar, dan Ibu Hamil.

Pemberian makanan tambahan yang berfokus baik pada zat gizi makro maupun
zat gizi mikro bagi balita dan ibu hamil sangat diperlukan dalam rangka pencegahan Bayi
Berat Lahir Rendah (BBLR) dan balita stunting. Sedangkan pemberian makanan
tambahan pada anak usia sekolah dasar diperlukan dalam rangka meningkatkan asupan
gizi untuk menunjang kebutuhan gizi selama di sekolah dan di usianya saat remaja.
Makanan tambahan yang diberikan dapat berbentuk makanan keluarga berbasis pangan
lokal dengan resep-resep yang dianjurkan.

Makanan lokal lebih bervariasi namun metode dan lamanya memasak sangat
menentukan ketersediaan zat gizi yang terkandung di dalamnya. Suplementasi gizi dapat
juga diberikan berupa makanan tambahan pabrikan, yang lebih praktis dan lebih terjamin
komposisi zat gizinya. Selain itu, pemenuhan gizi anak sejak dini bahkan sejak dalam
kandungan atau disebut 1000 HPK perlu diperhatikan. 1000 HPK dimulai sejak dari fase
kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

Tantangan gizi yang dialami selama fase kehamilan adalah status gizi seorang
wanita sebelum hamil. Hal itu sangat menentukan awal perkembangan plasenta dan
embrio. Berat badan ibu pada saat pembuahan, baik menjadi kurus atau kegemukan
dapat mengakibatkan kehamilan beresiko dan berdampak pada kesehatan anak
dikemudian hari. Kebutuhan gizi akan meningkat pada fase kehamilan, khususnya
energi, protein, serta beberapa vitamin dan mineral sehingga ibu harus memperhatikan
kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya.

Janin memiliki sifat plastisitas (fleksibilitas) pada periode perkembangan. Janin


akan menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi pada ibunya, termasuk apa yang
dimakan oleh ibunya selama mengandung. Jika nutrisinya kurang, bayi akan mengurangi
sel-sel perkembangan tubuhnya. Oleh karena itu, pemenuhan gizi pada anak di 1000
HPK menjadi sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka
dampaknya pada perkembangan anak akan bersifat permanen. Perubahan permanen
inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang seperti stunting.

Banyak ahli berpendapat bahwa intervensi pada perbaikan gizi seperti investasi
yang bakal menuai keuntungan generasi. Investasi pada perbaikan gizi bisa membantu
mematahkan lingkaran setan kemiskinan dan meningkatkan gross domestic product
bangsa sebesar 2-3 persen setiap tahunnya. Investasi $1,- pada perbaikan gizi bisa
menghasilkan $30,- di bidang kesehatan, dan pendidikan ekonomi produktif. Program
intervensi spesifik sektor kesehatan, dapat dilakukan melalui program sebagai berikut
(Lancet 2013):

a. Ibu hamil:
- Suplementasi zat besi
- Suplementasi energi dan protein yang seimbang untuk ibu hamil kurang gizi
- Penanggulangan penyakit kecacingan
- Suplementasi kalsium
- Pengobatan malaria dan penggunaan kelambu berpestisida
b. Ibu menyusui:
- Promosi penggunaan ASI (air susu ibu)
- Perbaikan perilaku pemberian ASI dan MP ASI
c. Anak 6 – 23 bulan:
- Suplementasi zink
- Penanggulangan diare termasuk dengan zink
- Suplementasi vitamin A
- Penggunaan garam beryodium
- Pencegahan malnutrisi akut
- Penanggulangan penyakit kecacingan
- Penggunaan makanan yang difortifikasikan zat gizi
- Penggunaan kelambu berpestisida
d. Adapun untuk intervensi sensitif oleh sektor non-kesehatan, antara lain dapat
dilakukan hal-hal sebagai berikut :
- Penyediaan air minum dan sanitasi dasar yang memadai
- Ketahanan pangan dan gizi
- Keluarga berencana
- Jaminan Kesehatan Nasional
- Jaminan Kesehatan Ibu dan Anak
- Fortifikasi makanan
- Pendidikan gizi
- Kesehatan remaja

H. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori

1. Pengkajian

Asuhan Keperawatan komunitas adalah suatu kerangka kerja untuk


memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat secara sistematis dan
rasional yang didasarkan pada kebutuhan dan masalah masyarakat. Model
community as partner terdapat dua komponen utama yaitu roda pengkajian
komunitas dan proses keperawatan. Roda pengkajian komunitas terdiri dari inti
komunitas (the community core), subsistem komunitas (the community subsystems),
dan persepsi (perception). Model ini lebih berfokus pada perawatan kesehatan
masyarakat yang merupakan praktek, keilmuan, dan metodenya melibatkan
masyarakat untuk berpartisipasi penuh dalam meningkatkan kesehatannya. (Efendi,
Ferry & Makhfudi. 2013)

1) Data inti
a) Demografi
Variabel yang dapat dikaji adalah jumlah balita baik laki-laki maupun
perempuan. Data diperoleh melalui. Puskesmas atau kelurahan berupa
laporan tahunan atau rekapitulasi jumlah kunjungan pasien yang berobat.
b) Statistik vital
Data statistik vital yang dapat dikaji adalah jumlah angka kesakitan dan
angka kematian balita. Angka kesakitan dan kematian tersebut diperoleh
dari penelusuran data sekunder baik dari Puskesmas atau Kelurahan.
c) Karakteristik penduduk
Variabel karakteristik penduduk meliputi :
- Fisik : jenis keluhan yang dialami oleh warga terkait anaknya. Perawat
mengobservasi ketika ada program posyandu.
- Psikologis : efek psikologis terhadap anak maupun orang tua yaitu
berupa kesedihan karena anaknya berisiko tidak bisa bermain dengan
anak-anak sebaya lainnya dan pertumbuhan anak pun akan terhambat
atau sulit untuk berkembang.
- Sosial : sikap masyarakat terhadap adanya kasus penyakit masih acuh
dan tidak memberikan tanggapan berupa bantuan untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan, namun orang tua membawa anak ke posyandu
rutin untuk ditimbang.
- Perilaku : seperti pola makan yang kurang baik mungkin
mempengaruhi penyebab anak mengalami gizi kurang, stunting, diare
dan penyakit lainnya, terlebih banyak orang tua yang kurang mampu
dalam hal ekonomi.
(Elisabeth T. Anderson dan RN. Judith Mc. Farlane. 2012)

2) Sub sistem
a) Lingkungan fisik
Lingkungan fisik yang kurang bersih akan menambah dampak buruk
terhadap penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena penyakit,
selain faktor untuk menjamin mendapatkan makanan yang sehat akan sulit
didapat, selain itu kerentanan terhadap vektor penyakit menjadi salah satu
tingginya risiko peningkatan kejadian sakit diwilayah tersebut.
b) Sistem kesehatan
Jarak antara desa dengan puskesmas tidak terlalu jauh yaitu hanya 1 km,
desa tersebut memiliki 1 posyandu dalam 1 RW dan aktif melaksanakan
program kerja yang dilaksanakan 1 bulan sekali, namun untuk ketersedian
posbindu belum ada.
c) Ekonomi
Pekerjaan yang dominan diwilayah tersebut yaitu buruh, petani,dan lainnya
yang berpenghasilan bervariasi untuk setiap keluarga.
d) Keamanan dan transportasi
Wilayah tersebut memiliki mobil yang disediakan oleh pemberi bantuan
untuk dimaanfaatkan oleh masyarakat dalam hal memfasilitasi masyarakat
untuk mempermudah akses mendapatkan layanan kesehatan.

Variabel keamanan meliputi jenis dan tipe pelayanan keamanan yang ada,
tingkat kenyamanan dan keamanan penduduk serta jenis dan tipe gangguan
keamanan yang ada.

a) Kebijakan dan pemerintahan


Jenis kebijakan yang sedang diberlakukan, kegiatan promosi kesehatan
yang sudah dilakukan, kebijakan terhadap kemudahan mendapatkan
pelayanan kesehatan, serta adanya partisipasi masyarakat dalam
b) Komunikasi
Komunikasi meliputi jenis dan tipe komunikasi yang digunakan penduduk,
khususnya komunikasi formal dan informal yang digunakan dalam keluarga.
Jenis bahasa yang digunakan terutama dalam penyampaian informasi
kesehatan gizi, daya dukung keluarga terhadap balita yang sakit.
c) Pendidikan
Pendidikan sebagai sub sistem meliputi tingkat pengetahuan penduduk
tentang pengertian tentang penyakit balita yang dihadapi, bahaya dan
dampaknya, cara mengatasi, bagaimana cara perawatan ,serta cara
mencegahnya. Mayoritas penduduk berpendidikan rendah yaitu SD bahkan
tidak sekolah.
d) Rekreasi
Yang perlu dikaji adalah jenis dan tipe sarana rekreasi yang ada, tingkat
partisipasi atau kemanfaatan dari sarana rekreasi serta jaminan keamanan
dari sarana rekreasi yang ada.
(Elisabeth T. Anderson dan RN. Judith Mc. Farlane. 2012)
3) Persepsi
Persepsi masyarakat dan keluarga terhadap suatu penyakit balita
masih acuh, mungkin dipengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat
ataupun kurangnya pengetahuan kesehatan mengenai suatu penyakit. (Efendi,
Ferry & Makhfudi. 2013)

2. Analisa Data dan Perumusan Diagnosa


Analisa data dilakukan setelah dilakukan pengumpulan data melalui kegiatan
wawancara dan pemeriksaan fisik. Analisa data dilakukan dengan memilih data-data
yang ada sehingga dapat dirumuskan menjadi suatu diagnosa keperawatan. Analisa
data adalah kemampuan untuk mengaitkan data dan menghubungkan data dengan
kemampuan kognitif yang dimiliki, sehingga dapat diketahui kesenjangan atau masalah
yang dihadapi oleh balita. Tujuan analisa data:
a. Menetapkan kebutuhan balita
b. Menetapkan kekuatan.
c. Mengidentifikasi pola respon balita
d. Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.
Perumusan masalah berdasarkan analisa data yang dapat menemukan
masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh kelompok khusus balita.
Masalah yang sudah ditemukan tersebut perawat dapat menyusun rencana asuhan
keperawatan yang selanjutnya dapat diteruskan dengan intervensi. Masalah yang
ditemukan terkadang tidak dapat di selesaikan sekaligus sehingga diperlukan prioritas
masalah. Prioritas masalah dapat ditentukan berdasarkan hierarki Maslow yaitu:
a. Keadaan yang mengancam kehidupan
b. Keadaaan yang mengancam kesehatan
c. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
(Efendi, Ferry & Makhfudi. 2013)
Setelah data dianalisa, maka dapat terlihat data senjang yang menuju pada
suatu permasalahan. Masalah keperawatan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk
menentukan diagnosa keperawatan komunitas ( Mueke, 1987) dan (Hermawan, 2002),
dimana terdiri dari : masalah kesehatan, kareakteristik populasi dan lingkungan, dan
siagnosa yang dirumuskan dapat berupa aktual, resiko atau potensial.

3. Intervensi
Strategi intervensi keperawatan komunitas mencakup aspek primer, skunder,
dan tersier melalui pendidikan kesehatan dan kerjasama, proses kelompok serta
mendorong peran serta masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang
dihadapi, yang akhirnya dapat menimbulkan kemandirian masyarakat, maka diperlukan
pengorganisasian masyarakat yang dirancang untuk membuat sebuah perubahan.
Pendekatan pengorganisasian yang digunakan untuk merumuskan perencanaan
adalah locality development (pengembangan masyarakat) (Hermawan, 2002)
berdasarkan sumber daya yang dimiliki serta mampu mengurangi hambatan yang ada.

4. Implementasi
Fokus pelaksanaan praktek keperawatan komunitas memiliki 3 tingakatan
pencegahan (Anderson dan Mc Foriece, 1985) yaitu :

a. Primer
Pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada populasi sehat mencakup
pada kegiatan kesehatan secara umum dan perlindungan khusus terhadap
penyakit. Contoh imunisasi, penyuluhan, simulasi dan biumbingan dini dalam
keluarga dan lain-lain.
b. Skunder
Yaitu pencegahan yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat
kesehatan masyarakat dan ditemukan masalah kesehatan. Pencegahan sekunder
ini menekankan pada diagnose dini untuk menghambat proses penyakit,
contohnya, mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang anak, memotivasi
keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan seperti mata, gigi, telinga, dan
lain sebagainya.
c. Pencegahan Tersier
Yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian individu pada tingkat
berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga, contoh : membantu
keluarga yang mempunyai anak dengan kelumpuhan anggota gerak untuk latihan
secara teratur.

5. Evaluasi
Merupakan penilaian terhadap program yang telah dilaksanakan dibandingkan
dengan tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi rencana beriutnya.
Evaluasi dilakukan dalam tiga tahap yaitu evaluasi struktur, efaluasi proses, dan
evaluasi hasil.
BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Asuhan Keperawatan Komunitas Hipertensi

A. PENGKAJIAN
Pengkajian Tahap 1
1. Geografi
a. Keadaan tanah: tanah kering namun tidak berdebu
b. Luas daerah: 8 Ha
c. Batas wilayah:
Utara : desa Demakan

Barat : desa Wirun

Selatan: RT 1 RW 2

Timur : desa Demakan

2. Demografi
a. Jumlah KK: 47 KK
b. Jumlah penduduk keseluruhan: 508 jiwa
c. Jumlah Lansia : 100 orang
d. Mobilitas penduduk: penduduk jarang di rumah ketika pagi dan siang hari
karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah
e. Jumlah keluarga: 47 keluarga
f. Kepadatan penduduk: padat
g. Tingkat pendidikan penduduk:
1) Perguruan tinggi: 10 orang
2) TK : 17 – 20 orang
3) SMA : 16 orang
4) SMP : 15 orang
5) SD : 20 orang
6) Lansia tidak bersekolah : 30
7) Lansia tamat SD: 50
8) Lansia tamat SMP : 10
9) Lansia tamat SMA : 5
10) Lansia tamat perguruan tinggi : 5
h. Pekerjaan:
1) PNS : 10% jumlah penduduk
2) Buruh : 10% jumlah penduduk
3) Pedagang : 70% jumlah penduduk
4) IRT : 10% jumlah penduduk
h. Pendapatan rata-rata:
1) Rp 800.000,- : 20%
2) Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
3) Rp 2.000.000,- : 30%
i. Tipe masyarakat: Masyarakat niaga
j. Agama: 100% Islam

Pengkajian Tahap 2
1. Lingkungan fisik
a. Perumahan: permanen dan rata-rata dalam kategori baik
b. Penerangan: di lingkungan penerangan pada malam hari sudah cukup, tapi
banyak rumah warga yang kurang pencahayaannya pada siang hari
c. Sirkulasi udara: lingkungan sejuk karena banyak pohon yang ditanam warga
sekitar tetapi banyak perumahan warga yang ventilasi rumahnya kurang
memadahi seperti kurangnya jumlah jendela dan dekatnya jarak antar rumah.
d. Kepadatan penduduk: Tergolong padat.
e. Edukasi
2. Status pendidikan: SMA sederajat, yang terdiri dari:
a. Perguruan tinggi: 10 orang
b. TK : 17 – 20 orang
c. SMA : 16 orang
d. SMP : 15 orang
e. SD : 20 orang
Sarana pendidikan: terdapat 1 taman kanak-kanak
3. Keamanan dan keselamatan
a. Pemadam kebakaran: tidak ada
b. Polisi: tidak ada namun terdapat siskamling secara rutin
c. Sarana transportasi: sepeda ontel, motor dan mobil pribadi
d. Keadaan jalan: jalanan sudah diaspal dan ramai akan kendaraan bermotor
Pemilihan ketua RT/ RW dengan cara voting bersama
4. Struktur Pemerintahan
a. Masyarakat swadaya yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT
b. Pamong desa: 1 orang
c. Kader desa: 5 orang
d. PKK: ada dan masih berjalan aktif tiap bulan
e. Kontak tani: tidak ada
f. Karang taruna: ada dan berjalan aktif tiap bulan
g. Kumpulan agama: ada dan aktif di masyarakat
5. Sarana dan Fasilitas Kesehatan
a. Pelayanan kesehatan: Tidak terdapat praktik bidan swasta maupun praktik
klinik swasta yang lain.
b. Tenaga kesehatan: 2 perawat dan 1 bidan
c. Tempat ibadah: terdapat masjid dan mushola
d. Sekolah: terdapat 1 taman kanak-kanak
e. Panti sosial: tidak terdapat
f. Pasar: tidak ada, namun terdapat banyak toko kelontong yang menyediakan
banyak kebutuhan dari masyarakat sekitar
g. Tempat pertemuan: terletak di rumah ketua RW dalam setiap acara yang
diadakan oleh lokasi setempat
h. Posyandu: terdapat posyandu lansia (tiap minggu ke 2)
Sering hadir: 35 % lansia
Jarang hadir : 25 % Lansia
Tidak pernah hadir : 40 %
dan posyandu balita (tiap minggu pertama) berjalan aktif setiap sebulan sekali.
i. Hygiene perumahan: sanitasi warga RW 1 dalam kategori baik
j. Sumber air bersih: air sumur galian
k. Pembuangan air limbah: dialirkan lancar ke selokan dan tidak menggenang
l. Jamban: 80% sudah mempunyai jamban di rumah masing-masing
m. Sarana MCK: semua dilakukan di kamar mandi masing masing dan hampir
tidak ada yang di sungai
n. Pembuangan sampah: dibuang dan dikumpulkan di TPS dekat makam
setempat
o. Sumber polusi: air selokan

6. Komunikasi
Terdapat infrastruktur komunikasi yang memadai dan modern seperti
internet, ponsel, koran, majalah, radio dan televisi. Masyarakat juga bisa
menggunakan alat-alat komunikasi tersebut. Untuk papan informasi untuk
menyampaikan kabar berita dari desa maupun dari yang disediakan tempat di
dekat rumah pak RW.
7. Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat RW 1 desa Bekonang dalam kategori baik dan
diatas garis kemiskinan. Warga masyarakat juga tidak ada yang menganggur di
rumah. Rata-rata pekerjaan warga setempat adalah pedagang, baik di rumah
maupun masyarakat. Rata-rata gajih:
a. Rp 800.000,- : 20%
b. Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
c. Rp 2.000.000,- : 30%
8. Rekreasi
Karang taruna dari wilayah setempat sering mengadakan wisata bersama-
sama ke suatu tempat. Kelompok khusus seperti anggota kader juga sering
mengadakan rekreasi bersama yang diharapkan dapat mengurangi stresor dan
beban pikiran.

Distribusi penyakit dengan agregat lansia dengan hipertensi

Dari rekapitulasi data bulan Maret-Mei di puskesmas mojolaban 90 lansia yang


bekunjung/periksa. Dari jumlah tersebut ada 3 penyakit dengan distribusi terbesar
yaitu:
1. Hipertensi : 50 orang atau 45 %
2. Atritis : 15 orang atau 13,5 %
3. DM: 25 orang atau 22,5 %
Dari data kesehatan di RW 1 didapatkan data bahwa :
1. Jumlah lansia keseluruhan : 100 orang
2. Jumlah lansia dengan hipertensi : 50 orang atau sekitar 50 %
3. Jumlah lansia dengan artritis: 15 orang atau sekitar 15 %
4. Jumlah lansia dengan DM : 25 orang atau sekitar 25 %

B. Analisa Data
NO. DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI

1. DS : Resiko tinggi Kurangnya


peningkatan pengetahuan
1. Dari hasil wawancara angka kejadian
dengan ketua RW 1 hipertensi pada
mengatakan bahwa rata- lansia

rata lansia yang menderita


hipertensi sekitar 50 %
DO :

1. Berdasarkan data dari


puskesmas mojolaban pada
bulan Maret sampai bulan
Mei di kelurahan bekonang
dukuh mojosari RW 1 45%
Lansia menderita hipertensi.
2. 85% kemampuan lansia
dalam mengenali secara
dini penyakit hipertensi
kurang baik.
3. 40% warga yang menderita
hipertensi tidak pernah
mendapatkan penyuluhan
tentang hipertensi

C. Diagnosis Keperawatan
1. Resiko tinggi peningkatan angka kejadian hipertensi pada lansia berhubungan dengan
Kurangnya pengetahuan
D. Intervensi
Data Diagnosa Tujuan Noc Nic

Masalah Domain 1 : Tujuan : Prevensi Primer Prevensi Primer;


Kesehatan
Promosi
Resiko Kesehatan
peningkatan Berkurangnya Domain IV Domain 3; Perilaku
hipertensi perilaku Pengetahuan
pada lansia berisiko
Kelas 2; meningkatnya kesehatan dan
perilaku. Kelas S; Edukasi klien
Hasil angket : hipertensi
Manajemen
dan  5510: Pendidikan
Kelas S; Pengetahuan
Kesehatan meningkatnya
kesehatan kesehatan (210)
efektifitas
1. 85%
 Defisiensi pemeliharaan  5520: Memfasilitasi
kemampuan kesehatan
kesehatan pembelajaran (244).
lansia dalam pada agregat Level 3: Intervensi
komunitas resiko  5604: Pengajaran
mengenali
(00215). meningkatnya  1844: kelompok (372)
secara dini hipertensi
 Perilaku Pengetahuan;  5618: Pengajaran
penyakit
kesehatan manajemen sakit akut. prosedur/tindakan (371).
hipertensi
cenderung  1803:
kurang baik.
berisiko (00188). Pengetahuan; proses
2. 40% Domain 4; Keamanan
 Ketidakefek penyakit.
warga yang Kelas U; Manajemen krisis
tifa  1805:
menderita
pemeliharaan Pengetahuan; perilaku  6240: P3K (194)
hipertensi
kesehatan sehat.  6366:Triase; telepon
tidak pernah
(00099).  1823: (399)
mendapatkan
Pengetahuan; promosi
penyuluhan
kesehatan.
tentang Domain 7; Komunitas
 1854:
hipertensi Kelas C; Promosi kesehatan
Pengetahuan; diet
3. sehat komunitas
Berdasarkan  1855:
data dari
Pengetahuan; gaya
puskesmas
hidup sehat. Level 3: Intervensi
mojolaban
pada bulan  7320: Manajemen
Maret sampai
bulan Mei di kasus (113).
kelurahan  8500: Pengembangan
bekonang kesehatan masyarakat (129).
dukuh
mojosari RW  8700:Pengembangan
1 45% Lansia program (313).
menderita  8750: Pemasaran
hipertensi. sosial di masyarakat (351).

Prevensi sekunder Prevensi sekunder;

Domain IV; Pengetahuan Domain 3: Perilaku

kesehatan dan perilaku.

Kelas O; Terapi perilaku

Kelas Q; Perilaku sehat Level 3; Intervensi

Level 3: Intervensi  4350:Manajemen perilaku


(92)
 1600:Kepatuhan
 4360:Modifikasi perilaku
perilaku
(95)
 1621:Kepatuhan
perilaku; diet sehat.
 1602:Perilaku Kelas V; Manajemen resiko
promosi kesehatan .
Level 3; Intervensi
 1603:Pencarian
 6486:Manajemen
perilaku sehat .
lingkungan; keamanan
 1606:Partisipasi
(179).
dalam pengambilan
keputusan perawatan
kesehatan . Domain 6; Sistem kesehatan
 1608:Kontrol gejala . Kelas Y; Mediasi terhadap
sistem

Kelas R; Health Beliefs kesehatan

 1704:Health beliefs;  7320:Manajemen kasus


perceived Threat (113)
 1705:Orientasi  7400:Panduan sistem
kesehatan kesehatan
(212).

Kelas FF; Manajemen


kesehatan
Kelas A; Manajemen sistem
 3100:Manajemen kesehatan
individu; sakit akut .
 7620:Pengontrolan
Kelas T; Kontrol resiko
berkala (132).
dan keamanan
 7726:Preceptor; peserta
 1908:Deteksi faktor didik (306).
resiko.  7890:Transportasi; antar
fasilitasi kesehatan.

Domain V; Kesehatan  7880:Manajemen


yang dirasakan teknologi (387).

.
Domain 6: Sistem Kesehatan
Kelas U; Kesehatan dan
Kualitas Hidup

 2008:Status Kelas D; Manajemen resiko


kenyamanan. komunitas.
 2006:Status  6520:Skrining kesehatan
kesehatan individu . (213)
 2000:Kualitas hidup
 2005:Status
kesehatan peserta
didik .

Kelas V; Status gejala

 2109:Tingkatan
ketidaknyamanan .
 1306:Nyeri; Tingkat
Respon fisik
 2102:Level nyeri.
 2103:Tingkatan
gejala .

Kelas EE; Kepuasan


terhadap perawatan

 3014:Kepuasan
klien.
 3015:Kepuasan
manajemen kasus .
 3012:Kepuasan
terhadap pengajaran
 3015:Kepuasan
manajemen kasus
 3003:Kepuasan
keberlanjutan
perawatan
 3016: Kepuasan
manajemen nyeri
 3007:Kepuasan ;
lingkungan fisik
 3011:Kepuasan klien
; kontrol gejala

Domain VI; Kesehatan


keluarga

Kelas Z; Kualitas hidup


keluarga

 2606:Status
kesehatan keluarga

Kelas X; Family well


being.

 2600: Koping
keluarga
 2602:Fungsional
keluarga .
 2606:Status
kesehatan keluarga .
 2605:artisipasi
keluarga dalam
perawatan .

Prevensi Tersier; Prevensi Tersier;

Domain VI; Kesehatan Domain 5; Keluarga


keluarga

Kelas X; Perawatan siklus


Kelas Z; Kualitas hidup kehidupan.
keluarga
 7140: Dukungan keluarga
 2605:Partisipasi tim (193).
kesehatan dalam  7120:Mobilisasi keluarga
keluarga . (190).
Domain 6: Sistem Kesehatan

Kelas B; Manajemen informasi

 7910: Konsultasi (131).


 7920:Dokumentasi (151).
 7980:Pencatatan insidensi
kasus
 8080: Test diagnostik .
 8100:Rujukan (320).
B. Asuhan Keperawatan Komunitas Diabetes Melitus

A. Pengkajian

Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun terdapat penduduk yang menderita diabetes melitus


berjumlah 300 orang, 55 % wanita yaitu sebanyak 180 orang dan 45 % laki-laki sebanyak 120
orang. Dari jumlah penduduk yang menderita diabetes melitus tersebut sebanyak 150 orang
(50 %) usia dewasa dan 30% usia lansia sebanyak 90 orang, serta 20% ibu hamil sebanyak
60 orang. Dari data tersebut diketahui Diabetes Melitus dengan tipe IDDM 25% sebanyak 75
orang, NIDDM 35% sebanyak 105 orang, dan DM dengan gangren 30% sebanyak 90 orang,
serta DM gestasional sebanyak 30 orang (10 %). Dari penduduk yang menderita DM sangat
sedikit sekali penderita DM yang rutin memeriksakan kadar gula darahnya. Asuhan
keperawatan ini menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian
status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan, dan perencanaan
keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan melibatkan kader kesehatan, tokoh
masyarakat dan pimpinan wilayah tersebut.

Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data inti dan data sub
sistem.

1. Data Inti KJomunitas Meliputi ;


a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
1) Lokasi :
 Propinsi daerah tingkat 1 : Jawa Timur
 Kabupaten/ kotamadya : Pacitan
 Kecamatan : Sumber Asri
 Kelurahan : Margorukun
 RW : 05
 RT : 03
 Luas wilayah : 5.220 m2
 Batas wilayah/wilayah
 Utara : Jalan raya melati
 Selatan : RT 06 /RW 04
 Barat : RT 07
 Timur : RT 18/ RW 03
 Keadaan tanah menurut pemanfaatannya
 Pemukiman : 4550 m2

b. Data demografi
1) Jumlah penderita hipertensi : 250 orang
2) Jumlah penderita TB Paru : 65 orang
3) Jumlah penderita asma : 20 orang
4) Jumlah penderita DM : 300 orang

a) Berdasarkan jenis kelamin


 Laki-laki : 120 orang (45 %)
 Perempuan : 180 orang (55 %)
b) Berdasarkan kelompok penderita DM
 Anak-anak :-
 Remaja :-
 Dewasa : 150 orang (50 %)
 Lansia : 90 orang (30 %)
 Ibu hamil : 60 orang (20%)

c) Berdasarkan agama
 Islam : 20 orang (80%)
 Kristen : 30 orang (10%)
 Hindu : 15 orang (5%)
 Budha : 15 orang (5%)
 Katolik :-

d) Berdasarakan suku bangsa


 Jawa : 210 orang (70%)
 Madura : 75 orang (25%)
 Sunda : 9 orang (3%)
 WNI keturunan : 6 orang (2%)

e) Jumlah penderita DM gangren : 90 orang


f) Suku bangsa
 Jawa : 210 orang (70%)
 Madura : 75 orang (25%)
 Sunda : 9 orang (3%)
 WNI keturunan : 6 orang (2%)

g) Status perkawinan

 Kawin : 195 orang (65%)


 Tidak kawin : 60 orang (20%)
 Duda : 30 orang (10%)
 Janda : 15 orang (5%)
2. Data Sub Sistem
a. Data Lingkungan Fisik
1) Sumber air dan air minum
a) Penyediaan Air bersih
 PAM : 180 orang (60%)
 Sumur : 120 orang (40%)
 Sungai :-
b) Penyediaan air minum
 PAM : 150 orang (50%)
 Sumur : 90 orang (30%)
 Sungai :-
 Lain-lain/air mineral : 60 orang (20%)
c) Pengolahan air minum
 Masak : 300 orang (100%)
 Tidak dimasak :-
d) Pengelolaan air minum
 Selalu dimasak : 300 orang (100%)
 Air mentah :-

2) Saluran pembuangan air/sampah


a) Kebiasaan membuang sampah
 Diangkut petugas : 30%
 Dibuang sembarangan : 70%
b) Pembuangan air limbah
 Got/parit : 100%
 Sungai :-
c) Keadaan pembuangan air limbah
 Baik/lancer : 25%
 Kotor : 75%
3) Jamban
a) Kepemilikan jamban
 Memiliki jamban : 80%
 Tidak memiliki jamban : 20%
b) Macam jamban yang dimiliki
 Septitank : 75%
 Disungai : 25%
c) Keadaan jamban
 Bersih : 45%
 Kotor : 55%
4) Keadaan rumah
a) Tipe rumah
 Tipe A/permanen : 210 orang (70%)
 Tipe B/semipermanen : 75 orang (25%)
 Tipe C/tidak permanen : 15 orang (5%)
b) Status rumah
 Milik rumah sendiri : 180 orang (60%)
 Kontrak : 120 orang (40%)
c) Lantai rumah
 Tanah : 30 orang (10%)
 Papan : 90 orang (30%)
 Tegel/keramik : 180 orang (60%)

d) Ventilasi
 Ada : 240 orang (80%)
 Tidak ada : 60 orang (20%)
e) Luas kamar tidur
 Memenuhi syarat : 180 orang (60%)
 Tidak memenuhi syarat : 120 orang (40%)
f) Penerangan rumah oleh matahari
 Baik : 120 orang (40%)
 Cukup : 30 orang (10%)
5) Halaman rumah
a) Kepemilikan pekarangan
 Memiliki : 240 orang (80%)
 Tidak memiliki : 60 orang (20%)
b) Pemanfaatan pekarangan
 Ya : 270 orang (90%)
 Tidak : 30 orang (10%)

b. Fasilitas Umum dan Kesehatan


1) Fasilitas umum
a) Sarana Kegiatan Kelompok
 Karang taruna : 1 kelompok
 Pengajian : 2 kelompok
 Ceramah agama : 1 kelompok
 PKK : 1 kali per bulan
b) Tempat perkumpulan umum
 Balai desa : ada (1 buah)
 Dukuh : ada (1 buah)
 RW : ada (1 buah)
 RT : ada (1 buah)
 Masjid/Mushola : ada (2 buah)
2) Fasilitas Kesehatan
a) Pemanfaatan fasilitas kesehatan
 Puskesmas : 150 orang (50%)
 Rumah Sakit : 50 orang (16,6%)
 Para Dokter Swasta : 25 orang (8,3%)
 Praktek Kesehatan Lain : 75 orang (25%)
b) Kebiasaan check up kesehatan
 Rutin tiap bulan : 90 orang (30%)
 Jarang : 210 orang (70%)
c. Ekonomi
1) Karekteristik Pekerjaan
 PNS/ABRI : 60 orang (20%)
 Pegawai swasta : 60 orang (20%)
 Wiraswasta : 30 orang (10%)
 Buruh tani/pabrik :150 orang (50%)
2) Penghasilan Rata-Rata Perbulan
 < dari UMR : 150 orang (50%)
 UMR – 1.000.000,00 : 90 orang (30%)
 > dari UMR : 60 orang (20%)
3) Pengeluaran Rata-Rata Perbulan
 < dari UMR : 165 orang (55%)
 UMR – 1.000.000,00 : 105 orang (35%)
 > dari UMR : 30 orang (10%)
4) Kepemilikan usaha
 Toko : 30 orang (10%)
 Warung makanan : 15 orang (5%)
 UKM : 9 orang (3%)
 Tidak punya : 246 orang (82%)
d. Keamanan dan Transportasi
1) Keamanan
a) Diet makan
 Kebiasaan makan makanan manis : 70% ( 210 org )
 Kebiasaan makan makanan berlemak : 20% ( 60 org )
 Lain-lain : 10% ( 30 org )
b) Kepatuhan terhadap diet
 Patuh : 25% ( 75 org )
 Kadang-kadang : 30% ( 90 org )
 Tidak patuh : 45% ( 135 org )
c) Kebiasaan berolah raga
 Sering : 15% ( 45 org )
 Kadang-kadang : 40% ( 120 org )
 Tidak pernah : 45% ( 135 org )
d) Kebiasaan sehari-hari
2) Memakai alas kaki
 Setiap saat : 60% ( 180 org )
 Saat di luar rumah : 30% ( 90 org )
 Jarang memakai : 10% ( 30 org )
3) Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur
 Sering : 10% ( 30 org )
 Kadang-kadang : 15% ( 40 org )
 Tidak pernah : 75% ( 225 org )
4) Transportasi
a) Fasilitas transportasi : Jalan Raya, Angkutan Umum,
Ambulans
b) Alat transportasi yang dimiliki
 Sepeda : 90 orang (30%)
 Motor : 120 orang (40%)
 Mobil : 6 orang (2%)
 Lain-lain/ becak : 84 orang (28%)
c) Penggunaan Sarana Transportasi Oleh Masyarakat
 Angkutan umum : 165 orang (55%)
 Kendaraan pribadi : 135 orang (45%)

e. Politik dan pemerintahan


1) Struktur organisasi : ada
 Terdapat kepala desa dan perangkatnya
 Ada organisasi karang taruna
2) Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna, panti, posyandu)
3) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan : ada yaitu
puskesmas
4) Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM : belum ada
5) Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan : belum ada
f. Sistem Komunikasi
1) Fasilitas komunikasi yang ada
 Radio : 225 orang (75 %)
 TV : 165 orang (55 %)
 Telepon/handphone : 120 orang (40 %)
 Majalah/koran : 135 orang (45%)
2) Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM
 Poster tentang diet DM : ada
 Pamflet tentang penanganan DM : ada
 Leaflet tentang penanganan DM : ada
3) Kegiatan yang menunjang kegiatan DM
 Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas kesehatan
dari Puskesmas : ada tapi jarang

g. Pendidikan
1) Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal
 SD : 135 orang (45%)
 SLTP : 90 orang (30%)
 SLTA : 60 orang (20%)
 Perguruan tinggi : 15 orang (5%)

h. Rekreasi
 Tempat wisata yang biasanya dikunjungi taman kota dan alun- alun.
 Ada program setahun sekali diadakan program wisata bersama kader
kesehatan RT 05 RW 03 Kelurahan Margo Rukun.

3. ANALISA DATA
No PENGELOMPOKKAN DATA ETIOLOGI MASALAH
1. Ds : Pengetahuan yang Ketidakpatuhan masyarakat
kurang dalam melaksanakan program
Dari hasil wawancara di dapat tingkat
diet berhubungan dengan
pendidikan ada 50% warga yang tidak patuh
menjalankan diit kurangnya Informasi Di RT 3
Do : RW 5 kelurahan Margo Rukun

- data menyebutkan bahwa tingkat


pendidikan SD sebanyak 135 orang (45%)

- penyuluhan kader dari masyarakat dan


petugas kesehatan dari puskesmas jarang
ada

- kebiasaan masyarakat makan makanan


yang manis sebanyak 210 orang (70%)

2. Ds: Faktor penghasilan Ketidakpatuhan


yang rendah masyarakat/penderita DM
Dari hasil wawancara didapat ketidak
melaksanakan check up
patuhan masyarakat untuk melaksanakan
kesehatan Di RT 3 RW 5
check up kesehatan sebanyak 219 orang
(70%) kelurahan Margo Ruk

Do:

- sebanyak 210 orang jarang check up/bulan

- lulusan SD sebanyak 135 orang

- lulusan SLTP sebanyak 90 orang

- penghasilan < UMR sebanyak 150 orang

- penghasilan UMR-1.000.000 sebanyak 90


orang

- penghasilan > UMR 60 orang

Ds:

Dari hasil wawancara didapat jumlah


3. penderita DM 300 orang Kurangnya Resiko peningkatan penderita
pengetahuan penderita ganggren Di RT 3 RW 5
Do:
DM tenytang kelurahan Margo Rukun

-jumlah penderita DM dengan ganggren pencegahan terjadinya


sebanyak 30% (90 orang) luka ganggren

- distribusi penderita DM berdasarkan


tingkat pendidikan formal

SD :45% (135 orang)


SLTP :30% (90 orang)

SLTA :20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)

-sebanyak 210 orang (70%) penderita DM


tidak check up secara rutin

- kebiasaan sehari hari penderita DM yang


setiap saat memakai alas kaki sebanyak 45
orang (15%),saat dilauar rumah 75 orang
(25%) dan jarang memakai 180 orang
(60%)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ketidakpatuhan masyarakat dalam melaksanakan program diet berhubungan
dengan kurangnya Informasi Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun
ditandai dengan :
Ds :
Dari hasil wawancara di dapat tingkat pendidikan ada 50% warga yang tidak patuh
menjalankan diet
Do :
- data menyebutkan bahwa tingkat pendidikan SD sebanyak 135 orang (45%)
- penyuluhan kader dari masyarakat dan petugas kesehatan dari puskesmas jarang ada
- kebiasaan masyarakat makan makanan yang manis sebanyak 210 orang (70%)
b. Ketidakpatuhan masyarakat/penderita DM melaksanakan check up kesehatan di RT
5 RW 3 kelurahan Margo Rukun berhubungan dengan faktor penghasilan yang rendah
ditandai dengan:
Ds:
Dari hasil wawancara didapat ketidak patuhan masyarakat untuk melaksanakan check up
kesehatan sebanyak 219 orang (70%)
Do:
- sebanyak 210 orang jarang check up/bulan
- lulusan SD sebanyak 135 orang
- lulusan SLTP sebanyak 90 orang
- penghasilan < UMR sebanyak 150 orang
- penghasilan UMR-1.000.000 sebanyak 90 orang
- penghasilan > UMR 60 orang
c. Resiko peningkatan penderita ganggren di RT 5 RW 3 kelurahan Margo Rukun
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan penderita DM tentang pencegahan
terjadinya luka ganggren di tandai dengan:
Ds:
Dari hasil wawancara didapat jumlah penderita DM 300 orang

Do:
- Jumlah penderita DM dengan ganggren sebanyak 30% (90 orang)
- Distribusi penderita DM berdasarkan tingkat pendidikan formal
 SD : 45% (135 orang)
 SLTP : 30% (90 orang)
 SLTA : 20% (60 orang)
 Perguruan Tinggi :5%(15 orang)
- Sebanyak 210 orang (70%) penderita DM tidak check up secara rutin
- Kebiasaan sehari hari penderita DM yang setiap saat memakai alas kaki sebanyak
45 orang (15%),saat dilauar rumah 75 orang (25%) dan jarang memakai 180 orang (60%)

PRIORITAS MASALAH

Perubahan Penelesaian
Pentingnya
positif untuk untuk
Diagnosa keperawatan penyelesaian Skor
penyelesaian peningkatan
masalah
di komunitas kwalitas hidup
Ketidakpatuhan masyarakat 3 3 3 9
dalam melaksanakan program
diet berhubungan dengan
kurangnya Informasi Di RT 3 RW
5 kelurahan Margo Rukun
1.
1. Ketidakpatuhan 3 2 1 6
masyarakat/penderita DM
melaksanakan check up
kesehatan di RT 5 RW 3
kelurahan Margo Rukun
berhubungan dengan faktor
penghasilan yang rendah

1. Resiko peningkatan 3 2 2 7
penderita ganggren di RT 5 RW 3
kelurahan Margo Rukun
berhubungan dengan Kurangnya
pengetahuan penderita DM
tentang pencegahan terjadinya
luka ganggren
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Ketidakpatuhan masyarakat dalam melaksanakan program diet berhubungan dengan
kurangnya Informasi Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun
a. Bina hubungan saling percaya dengan masyarakat
Rasional : Melakukan bina hubungan saling percaya dengan Masyarakat akan
Mempercepat proses penyembuhan penyakitnya.
b. Melakukan pendidikan kesehatan tentang diet penderita DM
Rasional : masyarakat penderita DM mampu melakukakan Diet dengan baik
c. Berikan penyuluhan tentang pentingnya pengobatan bagi penderita DM
Rasional : masyarakat mampu mengetahui cara diet untuk penyakit DM
2. Ketidakpatuhan masyarakat/penderita DM melaksanakan check up kesehatan di RT 5 RW
3 kelurahan Margo Rukun berhubungan dengan faktor penghasilan yang rendah
a. Berikan penyuluhan tentang pentingnya memeriksa gula darah bagi penderita DM
Rasional : Dengan dilakukannya pemeriksaan penyakit DM, masyarakat mampu
mengetahui kondisi penyakitnya.
b. Lakukan Pemeriksaan gula darah gratis pada penderita DM
Rasional : pemeriksaan DM mampu mengontrol kadar gula darahnya.
c. Berikan penyuluhan tentang faktor risiko tentang ketidakpatuhan penderita DM
tentang pemeriksaan gula darah
Rasional : masyarakat mampu mengetahui faktor risiko tentang ketidakpatuhan
pemeriksaan gula darah.
3. Resiko peningkatan penderita ganggren di RT 5 RW 3 kelurahan Margo Rukun
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan penderita DM tentang pencegahan
terjadinya luka ganggren
a. Berikan pendidikan kesehatan pada penderita DM tentang cara menanggalkan luka
gangren, dan menyebabkan penggantian luka gangren.
Rasional : masyarakat mampu mengetahui cara perawatan luka gangren.
b. Ajarkan untuk penderita DM untuk merawat lukanya.
Rasional : masyarakat penderita DM mampu merawat lukanya.
C. Asuhan Keperawatan Komunitas TBC

Asuhan keperawatan yang dilakukan di wilayah Bilalang 2 kelurahan bilalang, Kecamatan


kotamobagu utar menggunakan pendekatan proses keperawatan community as partner yang
meliputi pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pemberian asuhan keperawatan melibatakan kader
kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan wilayah tersebut.

A. PENGKAJIAN
Data inti komunitas meliputi :
1. Data Geografi
a. Lokasi
Propinsi daerah tingkat 1 : Sulawesi Utara
Kabupaten / kotamadya : Kota kotamobagu
Kecamatan : Kotamobagu Utara
Kelurahan : Bilalang II
b. Luas Wilayah : ±3000m2
c. Batas daerah/wilayah
Utara : Pontodon
Selatan : Bilalang 4
Barat : Bilalang 3
Timur : Pontodon
d. Keadaan tanah menurut pemanfaatannya
Semua tanah digunakan untuk pemukiman

2. Data Demografi
Jumlah Penduduk : 529 jiwa
a. Berdasarkan jenis kelamin
No Jenis Kelamin Bilalang 2 %
1 Laki-laki 258 49
2 Perempuan 271 51
Total 529 100

Berdasarkan tabel diatas distribusi jenis kelamin, menunjukan bahwa sebagian besar
penduduk berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 271 orang (51%), dan laki-laki 258
0rang ( 49%). Hal ini dikarenakan banyak laki-laki yang bekerja diluar daerah.
b. Berdasarkan kelompok usia
No Umur/ tahun Bilalang 2 %
1 Bayi / balita (0-5) 19 4
2 Anak – anak 60 11
3 Remaja 69 13
4 Dewasa 343 65
5 Lansia 38 7
Total 529 100
Berdasarkan tabel distribusi umur, menunjukkan bahwa kelompok umur tertinggi
yaitu dewasa berjumlah 343 orang (65%) , sedangkan kelompok umur yang terendah
adalah kelompok umur 0-5 tahun berjumlah 19 orang (4%).

3. Ethnicity
Distribusi keluarga berdasarkan ethnicity atau suku
No Suku Bilalang 2 %
1 Mongondow 450 85
2 Jawa 50 9
3 Bugis 29 6
Total 529 100
Berdasarkan hasil wawancara masyarakat Bilalang 2 menunjukkan bahwa suku
mongondow 450 orang (85%), Jawa 50 orang (9%), Bugis 29 orang (6%).

4. Berdasarkan agama
Distribusi penduduk berdasarkan agama
No Agama Bilalang 2 %
1 Islam 465 88
2 Kristen 35 7
3 Katolik 29 5
4 Hindu 0 0
5 Budha 0 0
Total 529 100

Berdasarkan hasil wawancara penduduk berdasarkan agama, menunjukkan bahwa


yang beragama islam yaitu 465 orang (88%) sedangkan yang beragama katolik 29
orang (5%), Kristen 35 0rang (7%) , hindu, budha tidak ada.

5. Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Persen
%
1 Tidak tamat SD 80 15
2 SD 180 34
3 SMP 100 19
4 SMA 115 22
5 Tidak tamat D1,D2,D3 10 1,8
6 Tamat S1 24 4,5
7 >S1 1 0,1
8 Belum sekolah 19 3,5
Total 529 100
Berdasarkan table distribusi tingkat pendidikan terakhir diketahui bahwa tingkat
pendidikan terakhir tertinggi yaitu SD sebanyak 180 orang (32%), sedangkan yang
terendah yaitu >S1 sebanyak 1 orang (0,1%). DS= dari hasil wawancara ternyata warga
masyarakat belum pernah mendapatkan informasi tentang penyakit TB paru baik dari
tenaga kesehatan maupun melalui leaflet. Pada daerah tersebut belum pernah diadakan
penyuluhan kesehatan tentang penyakit TB Paru.

6. Data Status Kesehatan


a. Kesehatan ibu dan anak
Jumlah ibu hamil : 3 orang
1) Pemeriksaan kehamilan
Teratur : 3 orang (100%)
Tidak teratur : - orang (0%)
2) Kelengkapan imunisasi TT
Lengkap : 18 orang ( 94,74%)
Belum lengkap : 1 orang (5,26 %)
Jumlah balita : 19 orang
3) Pemeriksaan balita ke posyandu/puskesmas
Teratur : 16 orang (84,2 %)
Tidak teratur : 3 orang (15,8 %)
4) Kelengkapan imunisasi sesuai usia balita
Lengkap : 16 orang (84,2%)
Belum lengkap : 3 orang (15,8 %)
DS : Hasil wawancara dengan orang tua balita menyatakan imunisasi anaknya
belum lengkap (pada usia yang seharusnya sudah lengkap) dan tidak
teratur karena takut dengan efek imunisasi yaitu demam dan merasa rumit
untuk mengurus semuanya
5) Status gizi balita berdasar KMS
Garis hijau : 10orang (52,6 %)
Garis kuning : 9 orang (47,3 %)
Garis merah : - orang (0%)
DS : Dari hasil wawancara dengan orang tua balita , mengatakan tidak ada
balita yang pernah berada di garis merah pada status gizinya
b. Keluarga berencana
1) Jumlah PUS : 69 orang
2) Keikutsertaan PUS pada program KB
Ikut program KB : 48 orang (69,5%)
Belum ikut program KB : 21 orang (30,4%)
3) Jenis kontrasepsi yang diikuti
IUD : 1 orang (1,4%)
PIL : 7 orang (10,1%)
Kondom : 6 orang (8,7%)
Suntik : 34 orang (49,3%)
Tdak KB : 21 orang (30,4%)

DS : Dari hasil wawancara dengan warga, mayoritas dari PUS tidak ikut KB
karena takut dengn efek/dampak dari kontrasepsi itu sendiri. Alasan lain
karena ingin memiliki anak lagi, serta malas melakukn KB karena merasa
rumit
DO : Dari jumlah PUS tersebut 67 % kurang mengerti tentang KB dan 33 %
cukup mengerti tentang KB
c. Kesehatan remaja
1) Jumlah penduduk remaja : 69 orang (13 %)
2) Jenis kegiatan penduduk remaja mengisi waktu luang
Kumpul-kumpul : 34 orang ( 49,3 %)
Kursus : 2 orang ( 2,9 %)
Olahraga : 15 orang ( 21,7%)
Remaja masjid/gereja : 8 orang (11,6 %)
Lain-lain { di rumah } : 10 orang ( 14,5 %)
d. Kesehatan lansia
1) Jumlah penduduk lansia : 38 orang (2,07 %)
2) Keadaan kesehatan lansia
Ada masalah : 17orang (44,7%)
HT,Gout Atritis,Jantung,
RPD : Strok,Paru-Paru
Tidak ada masalah : 21orang (55,26%)
e. Distribusi penyakit di masyarakat
1) TB Paru : 23 orang (43,5%)
2) ISPA : 5 orang (11,3%)
3) Hipertensi : 21 orang (47,7%)
4) DM : 8 orang (18,18%)
5) Asma : 2 orang (4,5%)
6) Vertigo : 1 orang (2,27%)
7) Gastritis : 2 orang (4,5%)
8) Otot Dan Tulang : 11 orang (25%)
9) Hipotensi : 1 Orang (2,27%)
10) Faringitis : 1 Orang (2,27%)
11) Batu Ginjal : 2 orang (4,5%)

DS : Masyarakat yang menderita TB Paru tidak memeriksakan / mengontrol


kesehatannya ke puskesmas. Dan bahkan mereka tidak rutin mengambil
obat TB ke Puskesmas sehingga sebagian warga banyak yang mengalami
putus obat dan kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas atau juga
karena bosan/ lupa tidak minum obat TB akibat kesibukan kerja. Mayoritas
masyarakat tidak tahu tentang perawatan TB Paru sehingga mereka
kadang-kadang meludah/ berdahak di sembarang tempat (kadang di got, di
jalan umum), Tidak ada pengkhususan alat tenun dan alat makan antara
penderita dengan orang yang sehat.

DO : Warga yang memiliki pengetahuan tentang TB paru sebanyak 23%


Warga yang tidak memilki cukup pengetahuan TB paru sebanyak 57%

Data Subsystem meliputi


1. Lingkungan Fisik
a. Sumber air dan air minum
1) Penyediaan air bersih
PAM : 136 KK(99,3%)
Sumur : 1 KK(0,7%)
2) Penyediaan air minum
PAM : 75 KK(54,7%)
Aqua : 62 KK(45,3%)
3) Pemanfaatan air minum
PAM :75KK (54,7%)
Air minum steril :62 KK (45,3%)
4) Pengelolaan air minum
Selalu dimasak : 118 KK (86,1%)
Kadang dimasak dimasak :14 KK (10,2%)
Tidak pernah dimasak : 5 KK (3,6%)
b. Saluran pembuangan air/ sampah
1) Kebiasaan membuang sampah
Diangkut petugas : 137 KK (100%)
2) Pembuangan air limbah
Got :137 KK (100%)
3) Keadaan pembuangan air limbah
Meluber kemana – mana : 1 KK (0,73%)
Lancar : 136 KK (99,27%)

c. Kandang ternak
1) Kepemilikan kandang ternak
Ya : 7 KK (5,1%)
Tidak : 130 KK (94,9%)
2) Letak kandang ternak
Diluar rumah : 7 KK (100%)
d. Jamban
1) Kepemilikan jamban
Memiliki jamban : 137 KK (100%)
2) Macam jamban yang dimiliki
Septi tank :129 KK (94,2%)
Sumur cemplung :8 KK(5,9%)
e. Keadaan jamban
Bersih : 132 KK (96,4%)
Kotor : 5 KK (3,6%)
DS : Sebagian warga membersihkan jambannya tiap seminggu sekali
f. Bila tidak mempunyai jamban berak di
WC umum : -KK (%)
Jamban tetangga : -KK (%)
Sungai : -KK (%)
Sawah : -KK (%)
g. Keadaan rumah
1) Type rumah
Type A (tembok) : 134 KK (97,8%)
Type B ( ½ tembok) : 3 KK (2,2%)
h. Status rumah
MIlik Rumah sendiri : 135 KK (98,5%)
Kontrak : 2 KK (1,5%)
i. Lantai Rumah
Tegel / semen : 137 KK (100%)
j. Ventilasi
Ada : 90 KK (65,69%)
Tidak ada : 47 KK (34,31%)
DS : Hasil wawancara menunjukan bahwa sebanyak 60 % dari warga yang
memiliki ventilasi, tidak pernah membuka jendela nya
k. Luas kamar tidur
Memenuhi syarat : 115 KK (83,9%)
Tidak memenuhi syarat : 22 KK (16,1%)
l. Penerangan rumah oleh matahari
Baik : 70 KK (51,1%)
Cukup : 23 KK (16,79%)
Kurang : 44 KK (32,10%)
DO : Hasil survey menunjukan bahwa sekitar 32% rumah warga kurang
pencahayaan sehingga tampak gelap dn ruangan di dalam rumah tampak
gelap
m. Halaman rumah
a) Kepemilikan pekarangan
Memiliki : 18 KK(13,1%)
Tidak memiliki : 119 KK(86,9%)
b) Pemanfaatan pekarangan
Ya : 18 KK(100%)
c) Jenis pemanfaatan pekarangan rumah
Tanaman : 18 KK(100%)
d) Keadaan pekarangan
Bersih :18 KK (100%)

2. Fasilitas Umum Dan Kesehatan


a. Fasilitas umum
1) Sarana Pendidikan Formal
a) Jumlah : 1 Buah
b) Jumlah SD/sederajat : 1 Buah
c) Jumlah SLTP/sederajat : 1 Buah
d) Jumlah SMU/sederajat : - Buah
e) Jumlah PT/sederajat :- Buah
b. Fasilitas kegiatan kelompok
1) Karang taruna : 1 Kelompok
2) Pengajian : 1 Kelompok
3) Ceramah Agama : 2 X/Bulan
4) PKK : 2 X / Bulan
c. Sarana ibadah
1) Jumlah masjid : 2 Buah
2) Mushola : 1 Buah
3) Gereja : 1 Buah
4) Pura/vihara : - Buah
d. Sarana olahraga
1) Lapangan sepak bola : 1 Buah
2) Lapangan bola voli : - Buah
3) Lapangan bulu tangkis : - Buah
4) Lain-lain : - Buah

e. Fasilitas kesehatan
Jenis fasilitas kesehatan
1) Puskesmas pembantu :1 buah
Jarak dari desa : 1 Km
Puskesmas : - Buah
Jarak dari desa : - Km
Rumah sakit : - buah
Jarak dari desa : - Km
Praktek Dokter Swasta : - Buah
Praktek Bidan : 1 Buah
Praktek Kesehtan Lain : - Buah
Tukang gigi : - Buah
2) Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Puskesmas pembantu :1 Buah
Puskesmas :Buah
Rumah Sakit :Buah
Praktek Dokterwasta :Buah
Praktek Bidan :Buah
Praktek Kesehtan Lain :Buah
Tukang Gigi :Buah
3. Sosial ekonomi
a. Karakteristik pekerjaan
1) Jenis pekerjaan
a) PNS / ABRI : 9 jiwa (4,1%)
b) Pegawai swasta : 28 jiwa (12,8%)
c) Wiraswasta : 17 jiwa (7,8%)
d) Buruh tani/ pabrik : 162 jiwa (74,3%)
e) Pensiun : 2 jiwa (0,9%)
2) Status pekerjaan penduduk > 18 tahun < 65 tahun
a) Penduduk bekerja : 218 jiwa (52,9%)
b) Penduduk tidak bekerja : 194 jiwa (47,08%)
3) Pusat kegiatan ekonomi
a) pasar tradisional : -buah
b) Pasar swalayan : - buah
c) Pasar kelontong : - buah
4) Penghasilan rata – rata perbulan
a) < dari 450.000/bulan : 7 KK(4,8%)
b) Rp450.000-Rp 600.000 : 28 KK(19,0%)
c) Rp 600.000-Rp 800.000 : 60 KK(40,8%)
d) >Rp 800.000/bulan : 52 KK(35,4%)
5) Pengeluaran rata – rata perbulan
a) Rp150.000-Rp 300.000 : 6 KK(4,5%)
b) 300.000-500.000 : 23 KK(17,3%)
c) >Rp 500.000/bulan : 104 KK(78,2%)
b. Kepemilikian industry
Ada
c. Jenis industri kecil
Makanan
4. Keamanan dan transportrasi
a. Keamanan
1) Sarana keamanan
a) Poskamling : 1 Buah
b) Pemadam Kebakaran : Buah
c) Instansi Polisi : Buah
b. Transportasi
1) Fasilitas Tranportasi
a) Jalan raya : 500 m
b) Jalan tol :-m
c) Jalan setapak : 300 m
2) Alat transportasi yang dimiliki
a) Tidak Punya : 13jiwa (9%)
b) Sepeda Pancal : 31 Jiwa (21,7%)
c) Mobil : 10 Jiwa (6,9%)
d) Sepeda Motor : 85 Jiwa (59,4 % )
e) Becak : 4 Jiwa (2,8%)
3) Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat
a) Angkutan / kendaraan umum : 13 jiwa (9,5%)
b) Kendaraan pribadi : 124 jiwa (90,5%)
5. Politik dan Pemerintahan
a. Stuktur organisasi pemerintahan
Ada
b. Kelompok pelayanan kepada masyarakat ( PKK, karang taruna, panti, LKMD,
posyandu)
Ada
c. Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
Ada
d. Peran serta partai politik dalam pelayanan kesehatan
Tidak ada
6. Komunikasi
a. Fasilitas komunikasi yang ada di masyarakat
1) Radio : 54 jiwa (39,4%)
2) TV : 129 jiwa (94,2%)
3) Telepon :137 jiwa (100%)
4) Majalah / Koran : 31 jiwa (22,6%)
b. Teknik penyampaian komunikasi kepada masyarakat
Papan pengumuman (100%)
7. Rekreasi
a. Tempat Wisata Alam :- Buah
b. Kolam Renang :- Buah
c. Taman Kota :- Buah
d. Bioskop :- Buah

B. ANALISA DATA
No Data Etiologi Problem
1. DS:
1. Dari hasil wawancara dengan warga Kurang pengetahuan Resiko penularan
bahwa Mayoritas masyarakat tidak tentang perawatan penyakit TB paru di
tahu tentang perawatan TB Paru penyakit TB paru Bilalang 2
sehingga mereka kadang-kadang Kelurahan Bilalang
meludah/ berdahak di sembarang kecamatan
tempat (kadang di got, di jalan kotamobagu utara
umum)
2. Tidak ada pengkhususan alat tenun
dan alat makan antara penderita
dengan orang yang sehat.

DO:
1. Warga yang memilki pengetahuan
tentang TB paru sebanyak 23%
2. Warga yang tidak memilki cukup
pengetahuan TB paru
sebanyak 57%
3. Penerangan rumah oleh matahari
yang kurang sebanyak 44 KK
(23,10 %)

Hasil survey menunjukan bahwa sekitar


32% rumah warga kurang pencahayaan
sehingga tampak gelap dn ruangan di
dalam rumah tampak gelap
2. DS:
1. Dari hasil wawancara dengan Kurang pengetahuan Resiko terjadi
warga bahwa masyarakat yang tentang penyakit TB paru peningkatan
menderita TB Paru tidak prevalensi penyakit
memeriksakan / mengontrol TB Paru di Bilalang
kesehatannya ke puskesmas 2 Kelurahan
2. Dari hasil wawancara dengan bilalang kecamatan
warga bahwa mayoritas masyarakat Kotamobagu utara
tidak rutin mengambil obat TB ke
Puskesmas
3. Dari hasil wawancara dengan
warga bahwa sebagian masyarakat
banyak yang mengalami putus obat
dan kambuh akibat pengobatan
yang tidak tuntas atau juga karena
bosan/ lupa tidak minum obat TB
akibat kesibukan kerja.
4. Hasil wawancara menunjukan
bahwa sebanyak 60 % dari
warga yang memiliki ventilasi, tidak
pernah membuka jendela nya

DO:
1. Jumlah penderita TB Paru TB Paru
sebanyak 23 orang (43,5%)
2. Warga yang belum memiliki
ventilasi sebanyak 47 KK (34,31 %)
3. Penerangan rumah oleh matahari
yang kurang sebanyak 44 KK
(23,10 %)

Hasil survey menunjukan bahwa sekitar


32% rumah warga kurang pencahayaan
sehingga tampak gelap dan ruangan di
dalam rumah tampak gelap
3. DS:
1. Dari hasil wawancara ternyata warga Kurangnya peranan fasilitas Kurang
masyarakat belum pernah pelayanan kesehatan pengetahuan
mendapatkan informasi tentang tentang perawatan
penyakit TB paru baik dari tenaga TB paru di Bilalang 2
kesehatan maupun melalui leaflet. Kelurahan Bilalang
2. Dari hasil wawancara ternyata Pada kecamatan
daerah tersebut belum pernah kotamobagu utara
diadakan penyuluhan kesehatan
tentang penyakit TB Paru.

DO:
1. fasilitas pelayanan kesehatan di
daerah tersebut hanya terdapat 1
buah puskesmas pembantu
2. Pendidikan warga yang lulusan SD
sebanyak 180 KK (47,2 %)
3. Pendidikan warga yang lulusan SD
sebanyak 101 KK (26,5 %)
4. Warga yang tidak bersekolah
sebanyak 24 KK (6,3%)
5. Warga yang memilki pengetahuan
tentang TB paru sebanyak 23%
6. Warga yang tidak memilki cukup
pengetahuan TB paru
sebanyak 57%

C. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko penularan penyakit TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan kotamobagu
utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang perawatan penyakit TB paru
2. Resiko terjadi peningkatan prevalensi penyakit TB Paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang penyakit
TB paru
3. Kurang pengetahuan tentang perawatan TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan
kotamobagu utara berhubungan dengan Kurangnya peranan fasilitas pelayanan kesehatan
D. Penapisan Masalah
Kemungkinan
Perhatian Tingkat
Poin untuk dikelola
Masalah Kesehatan masyarakat bahaya Skor
prevalensi

Resiko penularan 4 3 4 3 14
penyakit TB paru
Bilalang 2 Kelurahan
Bilalang kecamatan
kotamobagu utara
Resiko terjadi 4 4 4 3 15
peningkatan prevalensi
penyakit TB Paru di
Bilalang 2 Kelurahan
Bilalang kecamatan
kotamobagu utara
Kurang pengetahuan 1 3 3 3 10
tentang perawatan TB
paru di Bilalang 2
Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu
utara

DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO KRITERIA
1 2 3

1. Sesuai dengan peran perawat komunitas 5 5 5


2. Jumlah yang beresiko 4 5 4
3. Besarnya resiko 5 5 4

4. Kemungkinan untuk penkes 5 5 5


5. Minat masyarakat 2 4 4

6. Kemungkinan untuk diatasi 4 3 4


7. Sesuai dengan program pemerintah 5 5 5
8. Sumber daya tempat 4 4 3
9. Sumber daya waktu 3 4 3

10. Sumber daya dana 4 4 2

11. Sumber daya peralatan 3 4 2


12. Sumber daya orang 2 3 2

Jumlah skor 46 49 43

Keterangan:
1 : Sangat rendah
2 : Rendah
3 : Cukup
4 : Tinggi
5: Sangat Tinggi

E. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Utama


1. Resiko terjadi peningkatan prevalensi penyakit TB Paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang penyakit
TB paru
2. Resiko penularan penyakit TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan kotamobagu
utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang perawatan penyakit TB paru
3. Kurang pengetahuan tentang perawatan TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan
kotamobagu utara berhubungan dengan Kurangnya peranan fasilitas pelayanan kesehatan

F. Perencanaan
No Tujuan jangka pendek Tujuan jangka panjang Intervensi
1 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Identifikasi factor
keperawatan selama 2 keperawatan masyarakat internal dan
minggu diharakan tidak terjadi dapat: eksternal yang
peningkatan prevalensi 1. Semua penduduk yang dapat
penyakit TB menderita TB Paru meningkatkan atau
memeriksakan kesehatannya menurunkan
ke puskesmas motivasi untuk
2. Masyarakat rutin mengambil memeriksakan diri
obat TB di puskesmas ke puskesmas
3. Masyarakat yang menderita 2. Identifikasi
TB Paru tidak mengalami penyebab
putus obat dan Rutin minum masyarakat tidak
obat engambil obat di
4. Masyarakat membuka puskesmas
jendela kamarnya 3. Identifikasi
5. Warga yang belum memiliki penyebab
ventilasi dapat membuat masyarakat putus
ventilasi obat
6. Pencahayaan yang cukup 4. Beri penyuluhan
tentang tentang
penyakit TB Paru
dan akibat bila
tidak
mengkonsumsi
obat dengan benar
serta penyebab
putus obat

2 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Berikan penyuluhan


keperawatan selama 2 keperawatan masyarakat tentang perawatan
minggu diharakan tidak terjadi dapat: penyakit TB pru
penyakit TB paru 1. Masyarakat tahu tentang 2. Jelaskan kepada
perawatan TB Paru masyarakat untuk
2. Masyarakat dapat mengkususkan alat
mengkhususan alat tenun tenun dan makan
dan alat makan antara antara penderita TB
penderita dengan orang yang dan orang sehat
sehat. 3. Jelaskan kepada
4. Warga yang memilki masyarakat
pengetahuan tentang TB pentingnya
paru penerangan rumah
5. Warga memilki cukup oleh matahari
pengetahuan TB paru 4. Anjurkan
6. Penerangan rumah oleh masyarakat untuk
matahari cukup meiliki pencahayaan
7. Pencahayaan dalam rumah dalam rumah yang
tampak terang terang

3 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Identifikasi


keperawatan selama 2 minggu keperawatan masyarakat pengetahuan
diharapkan pengetahuan dapat: masyarakat
masyarkat meningkat tentang 1. Pengetahuan masyarakat tentang TB Paru
TB Paru serta peranan fasilitas tentang TB Paru meningkat 2. Lakukan
pelayanan kesehatan (80%) penyuluhan
meningkat 2. Masyarakat mengetahui kesehatan tentang
tentang TB paru, penyebab, TB
cara pencegahan dan paru(pengertian,
penularan penyebab, cara
3. Adanya penyuluhan dari pencegahan dan
tenaga kesehatan tentang TB penularan)
Paru 3. Anjurkan untuk
4. Fasilitas pelayanan meningkatkan
kesehatan di daerah tersebut fasilitas pelayanan
meningkat kesehatan
D. Asuhan Keperawatan Komunitas Demam Berdarah Dangue

A. PENGKAJIAN
1. Winshield Survey
Lokasi pengamatan : RT 06 RW 04 Dusun Bantulan, Kecamatan Sidoarum,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta
a. Tipe perkampungan / pedesaan
- Perumahan yang ada di RT 06 sudah permanen
- Warga disana 80% memiliki usaha pasir semen sisanya memiliki warung makan,
toko kelontong, toko buah dsb.
- 85% warga memiliki usaha di rumah.
b. Lingkungan tempat tinggal
- Ada jarak antara rumah 1 dengan yang lainnya.
- Bangunan rumah rumah sudah permanen.
- Tidak terdapat apartemen di RT 06.
c. Umur area perumahan
- Tidak terdapat bangunan baru di RT 06.
- Bangunan di RT 06 sudah lama tetapi terpelihara dengan baik.
- Tidak ada bangunan rusak yang terbengkalai.
d. Karakteristik social-kultural
- Penduduk di RT 06 terdiri dari balita sampai lansia.
- Mayoritas penduduk berusia paruh baya.
- Di RT 06 mayoritas warga berasal dari suku jawa.
- Semua warga terlihat sibuk bekerja.
- Tidak terlihat adanya tanda kurang punya harapan.
e. Lingkungan
1) Tampak umum
o Halaman dan pekarangan terlihat bersih, jalanan di RT 06 berlubang
sehingga terdapat genangan air.
o Terdapat persawahan dan beberapa tanaman hias di depan rumah warga.
2) Bahaya lingkungan
o Teramati adanya polusi udara akibat banyaknya kendaraan yang melintas di
RT tersebut.
o Tidak terlihat adanya sampah yang menumpuk.
o Tidak terdapat area bermain.
o Ada penerangan di kanan-kiri jalan.
o Tidak terlihat adanya alat pemadam kebakaran.
o Lalu lintas ramai karena dekat dengan jalan raya.
o Polisi berjaga di traffic light saat pagi hari.
3) Stressor lingkungan
o Terlihat adanya keramaian. Terdapat kemacetan di area traffic light.
o Tidak ada tanda-tanda yang menyebabkan banyak angka criminal.
o Tidak terlihat adanya penyalahgunaan NAPZA.
o Tidak terlihat adanya tanda-tanda kemiskinan. Warga terlihat memiliki
ekonomi menengah ke atas.
f. Sumber-sumber ( yang ada dan tidak ada )
- Ada pasar buah di RT 06.
- Terdapat transportasi umum seperti bis kota.
- Tidak terdapat tempat rekreasi.
- Terdapat tempat ibadah.
- Terdapat pelayanan keamanan berupa pos polisi di dekat traffic light
- Tidak terdapat apotek.
- Pernah terjadi kebakaran di RT 06
- Tidak terdapat kantor pos.
- Terdapat ATM.
- Tidak teramati adanya mobil pengambil sampah.
- Tidak terlihat adanya mading.
g. Pelayanan kesehatan
1) Fasilitas kesehatan
Tidak terdapat rumah sakit ataupun klinik. Terdapat praktek dokter di RT 06.
2) Sumber pelayanan kesehatan
Tidak terdapat puskesmas di RT 06.
Tidak terdapat nursing center di RT 06.
Terdapat praktik dokter swasta.

2. Pengkajian Inti Komunitas


a. Riwayat
 Riwayat wilayah RT 6, RW 4 dusun Bantulan desa Sidoarum dahulu merupakan
area persawahan
 Tidak pernah terjadi pemekaran wilayah.
 Usia penduduk yang paling tua di wilayah tersebut 90 tahun.
b. Demografi
 Di RT ini terdapat 173 penduduk, diantaranya 60% (91 orang) penduduknya
berjenis kelamin perempuan dan 40% (82 orang) berjenis kelamin laki-laki
 Tingkat pendidikan rata-rata penduduk di RT 06 adalah SLTA.
 Pekerjaan warga RT 6 80% adalah pengusaha pasir semen. Sedangkan sisanya
menjadi peternak, buruh, pekerja swasta dan pedagang.
 Tingkat penghasilannya bervariasi mulai dari 3-5 juta perbulan
 Status ekonomi menengah ke atas.
c. Statistik Vital
 Masalah kesehatan yang terjadi di RT 06 adalah demam berdarah,
cikungunya,diabetes melitus, hipertensi, stroke dan gatal-gatal.
 Selain kasus penyakit demam berdarah dan sebagainya yang telah disebutkan di
atas terjadi juga seperti gatal-gatal di tangan yang biasa dialami oleh para
pekerja pengerajin pasir semen karena alergi akibat kurangnya menjaga
kebersihan setelah kontak dengan pasir dan semen.
 Dalam 2 tahun terakhir di RT 06 terjadi kasus demam berdarah namun sejauh ini
tidak sampai menyebabkan kematian.
d. Nilai dan Kepercayaan
 Mayoritas warga berasal dari suku Jawa dan beragama Islam. Ada beberapa
orang pendatang yang berasal dari suku dan agama lain seperti Hindu, Budha,
Katolik dan Protestan.
 Terdapat masjid di RT tersebut.
 Masyarakat jika sakit selain berobat ke rumah sakit juga berobat ke dokter
praktek ataupun klinik kesehatan, terkadang mereka juga membeli obat cina di
toko obat.
3. Pengkajian Sub Sistem
a. Lingkungan Fisik
 Inspeksi
- Di RT 06 tidak terdapat peta rawan masalah
- Tidak terdapat pasar
- Tidak terdapat tempat rekreasi
- Data winshield survey terlampir
 Tanda Vital
- Kondisi iklim tropis dan saat ini musim hujan
- Kondisi lingkungan bersih. Lokasi berdekatan dengan sawah dan terdapat
banyak genangan air .
 System Review
 Di RT 06 tidak ada kegiatan kerja bakti rutin pada warganya namun
kerjabakti akan diadakan saat lingkungan terlihat kotor atau ada keluhan dari
masyarakat.
 Ada kegiatan pengajian rutin dan PKK yang di adakan setiap hari rabu.
b. Pelayanan Kesehatan dan Sosial
 Pelayanan yang di akses oleh warga RT 06 adalah praktik bidan, puskesmas dan
praktik dokter.
 Jika sakit rata-rata penduduk RT 06 datang langsung ke dokter praktik karena
mereka tidak puas dengan pelayanan di puskesmas.
 Harga untuk memperoleh pelayanan kesehatan relative murah atau terjangkau
untuk warga.
 Waktu pelayanan praktik dokterpagi : pukul 05.30 sampai 07.30 dan sore : 17.00
sampai 20.00. Tetapi waktu pelayan menjadi fleksibel jika pasien banyak atau
ada kasus darurat yang membutuhkan pertolongan segera.
 Pemberi layanan kesehatan adalah praktik dokter dan bidan
 Pengguna layanan kesehatan yang paling banyak adalah balita dan lansia
 Aksesibilitas dan penerima fasilitas kesehatan adekuat
 Askes ke puskesmas kurang lebih 2 km dari RT 06.
 Kegiatan posyandu diadakan setiap satu bulan sekali oleh swadaya masyarakat.
c. Ekonomi
 Pekerjaan penduduk 80% pengrajin pasir dan semen, sisanya peternak, buruh,
dan pekerja swasta. Pendapatan keluarga rata-rata Rp 3.000.000.
 Pengeluaran penduduk relative, masing-masing keluarga mempunyai
pengeluaran yang berbeda-beda
 Masyarakat di RT06 mampu menyediakan makanan yang bergizi baik dari segi
pengetahuan dan maupun keuangan.
 Ada sebagian masyarakat yang mempunyai tabungan kesehatan berupa
asuransi kesehatan, dan BPJS
 Pendapatan masyarakat RT06 lebih besar dari pada pengeluaran
d. Keamanan
 Lingkungan aman
 Terdapat pelayanan polisi lalu lintas di lampu merah atau di pinggir jalan raya
 Pernah satu kali terjadi kebakaran
 Air di RT 6 berasal dari air tanah dan kondisi air jernih.
 Transportasi yang digunakan oleh warga adalah sepeda, sepeda motor, mobil,
dan angkutan umum.
 Kondisi jalan raya bagus, namun jalan masuk ke RT 6 agak rusak
e. Politik dan pemerintahan
 Kegiatan yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan status
kesehatan masyarakat adalah dengan penyuluhan kesehatan
 Penyuluhan dilakukan oleh petugas kesehatan dari puskesmas tetapi penyuluhan
dilakukan hanya jika terjadi kasus.dimana puskesmas kurang tanggap terhadap
masalah kesehatan yang terjadi.
 Penyuluhan yang diberikan menyesuaikan dengan kasus
 Setelah dilakukan penyuluhan tidak terjadi perubahan apapun terhadap
masyarakat dan pola hidup masyarakatnya.
f. Komunikasi
 Alat komunikasi yang dimiliki keluarga seperti televisi, koran, telepon dan ponsel.
 Tidak ada alat komunikasi umum yang tersedia di RT 06.
 Media komunikasi di masyarakat dengan arisan, PKK dan pengajian.
 Tidak ada konsultasi oleh tenaga medis dengan masyarakat RT 06.
a. Pendidikan
 Ada 2% warga yang buta huruf. Warga yang buta huruf kebanyakan lansia.
 Mayoritas berpendidikan sampai SLTA.
 Tidak terdapat fasilitas pendidikan di RT 06.
 Tidak terdapat perpustakaan ataupun mading disana.
g. Rekreasi
 Warga RT 06 memiliki kebiasaan untuk makan bersama di luar. Hal ini terbukti
dengan banyaknya warung makan yang laris di daerah ini.
 Tidak terdapat tempat hibran apapun di RT 06 sehingga warga harus pergi jauh
untuk mendapatkan hiburan.
B. ANALISIS DATA KOMUNITAS
Data Etiologi Masalah
DO : Menurut hasil observasi di ligkungan RT 06 didapatkan data  Ada media perkembangbiakan nyamuk  Resiko peningkatan kasus DBD di
bahwa :
 Kelembaban lingkungan tinggi lingkungan masyarakat RT 06 b.d
 Perumahan dekat dengan persawahan, Banyak terdapat
genangan air di sekitar rumah  Lingkungan kurang sehat adanya media perkembangbiakan

 Penyuluhan dilakukan oleh petugas kesehatan dari  PHBS rendah nyamuk, kelembaban lingkungan

puskesmas tetapi penyuluhan dilakukan hanya jika terjadi  Ketidakpuasan terhadap pelayanan tinggi dan lingkungan kurang sehat.

puskesmas  Kurangnya pengetahuan masyarakat


kasus.dimana puskesmas kurang tanggap terhadap masalah
kesehatan yang terjadi.  Petugas kesehatan kurang tanggap terhadap pemanfaatan fasilitas
terhadap masalah kesehatan yang terjadi. pelayanan kesehatan b.d
 Setelah dilakukan penyuluhan tidak terjadi perubahan
 Penyuluhan dilakukan hanya jika terjadi ketidakpuasan masyarakat terhadap
apapun terhadap masyarakat dan pola hidup masyarakatnya.
kasus. pelayanan puskesmas.
 Penyuluhan tidak berhasil b.d
DS: Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada warga RT 06
bahwa : penyuluhan dilakukan hanya jika
 Saat musim penghujan sekitar rumah warga basah dan terjadi kasus dan petugas kesehatan
lembab. kurang tanggap terhadap masalah
 20% (15 orang) warga terkena DBD setiap tahunnya. kesehatan yang terjadi.
 Wabah DBD selalu datang saat musim hujan maupun
pergantian musim
 Biasanya tidak ada kegiatan kerja bakti rutin oleh warga RT
06
 Kegiatan kerjabakti biasanya dilakukan jika ada laporan
warga yang terkena DBD
 Jika sakit rata-rata penduduk RT 06 datang langsung ke
dokter praktik karena mereka tidak puas dengan pelayanan
di puskesmas.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS UTAMA
1. Resiko peningkatan kasus DBD di lingkungan masyarakat RT 06 b.d adanya media perkembangbiakan nyamuk, kelembaban lingkungan
tinggi dan lingkungan kurang sehat.
2. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan b.d ketidakpuasan masyarakat terhadap
pelayanan puskesmas.
3. Penyuluhan tidak berhasil b.d penyuluhan dilakukan hanya jika terjadi kasus dan petugas kesehatan kurang tanggap terhadap masalah
kesehatan yang terjadi.

D. SKORING MASALAH KESEHATAN


Kemungkinan untuk
Masalah Kesehatan Perhatian Masyarakat Poin Prevalensi Tingkat Bahaya Skor
dikelola
Resiko peningkatan kasus DBD di
lingkungan masyarakat RT 06 b.d
adanya media perkembangbiakan
nyamuk, kelembaban lingkungan 4 4 4 3 15
tinggi dan lingkungan kurang
sehat.

Kurangnya pengetahuan
masyarakat terhadap pemanfaatan
fasilitas pelayanan kesehatan b.d 4 3 4 3 14
ketidakpuasan masyarakat
terhadap pelayanan puskesmas.

Penyuluhan tidak berhasil b.d


penyuluhan dilakukan hanya jika
terjadi kasus dan petugas 1 3 3 3 10
kesehatan kurang tanggap
terhadap masalah kesehatan yang
terjadi.
E. FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Dx. Kep Tujuan Tujuan Strategi Rencana


Komunitas Umum Khusus Intervensi Kegiatan
Tingginya angka kejadian DBD di Setelah dilakukan  Setelah dilakukan  Pemberdayaan masyarakat  Gotong royong
wilayah RT 06 RW 04 Desa tindakan keperawatan tindakan keperawatan dan tentang pencegahan dan
Bantulan, berhubungan dengan komunitas dalam 2 komunitas dalam 2 cara mengatasi DBD.
prevalensi kejadian DBD tinggi, bulan, angka DBD di bulan
ada media perkembangbiakan RT 06 RW 04 Desa  Tidak ada media
nyamuk, kelembaban lingkungan Bantulan, Kecamatan perkembangbiakan
tinggi, dan lingkungan kurang Sidoarum menurun nyamuk
sehat dimanifestasikan oleh 20%  Prevalensi DBD
warga terkena DBD / tahun, menurun  Pendidikan kesehatan kepada
wabah DBD selalu datang saat masyarakat.
musim hujan maupun pergantian
musim, lingkungan perumahan  Pendidikan kesehatan
dekat dengan persawahan, tentang
banyak terdapat genangan air di - Pengertian DBD
sekitar rumah, lingkungan sekitar - Penyebab DBD
rumah warga basah dan lembab - Cara penularan DBD
saat musim penghujan. - Tanda dan gejala DBD
- Pencegahan DBD
E. Asuhan Keperawatan Komunitas Stunting

A. Pengkajian
Asuhan keperawatan yang dilakukan di wilayah desa Mulyorejo, Kota Surabaya,dengan
proses pendekatan dan sumber informasi dari tokoh masyarakat dan kader posyandu mulyorejo.
Proses keperawatan community as partner..

Data inti :
1. Data Geografi
a. Lokasi
Kabupaten / kotamadya : Kota Surabaya
Kecamatan : Mulyorejo
Kelurahan : Mulyorejo
b. Luas Wilayah : ±3,01km2
c. Batas daerah/wilayah
Utara : Kalijudan
Selatan : Darmahusada
Barat : Pacar Keling
Timur : Sutorejo
d. Keadaan tanah digunakan untuk pemukiman keseluruhannya.

2. Data Demografi
Jumlah Balita : 55 balita
a. Berdasarkan usia balita
No Usia Balita Mulyorejo %
1 0 – 12 bulan 18 9,9
2 13 – 36 bulan 17 9,35
3 37 – 60 bulan 20 11
Total 55 100

Berdasarkan tabel diatas distribusi usia balita, menunjukan bahwa sebagian besar
balita berusia 37 – 60 bulan dengan jumlah 20 balita (11%).

b. Ethnicity
Distribusi keluarga berdasarkan ethnicity atau suku.
No Suku Mulyorejo %
1 Jawa 200 74,56
2 Luar Jawa 12 25,44
Total 212 100
Berdasarkan hasil wawancara masyarakat Mulyorejo menunjukkan bahwa suku jawa 200
orang (74,56%) dan luar jawa 12 orang (25,44%).

c. Berdasarkan agama
Distribusi penduduk berdasarkan agama
No Agama Mulyorejo %
1 Islam 208 91,5
2 Kristen 4 8,48
3 Katolik 0 0
4 Hindu 0 0
5 Budha 0 0
Total 212 100

Berdasarkan hasil wawancara penduduk berdasarkan agama, menunjukkan bahwa


yang beragama islam yaitu 208 orang (91,5%) sedangkan yang beragama kristen 4
0rang (8,48%) , katolik, hindu, budha tidak ada.

d. Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi %

1 Tidak tamat SD 0 0
2 SD 64 30
3 SMP 84 40
4 SMA 64 30
5 Tidak tamat D1,D2,D3 0 0
6 Tamat S1 0 0
7 >S1 0 0
Total 212 100
Berdasarkan tabel distribusi tingkat pendidikan terakhir diketahui bahwa tingkat
pendidikan terakhir tertinggi yaitu SD sebanyak 64 orang (30%), sedangkan yang
terendah yaitu >S1.
DS :
Dari hasil wawancara ternyata warga masyarakat belum pernah mendapatkan
informasi tentang kesehatan, dari tenaga kesehatan maupun melalui leaflet. Pada
daerah tersebut belum pernah diadakan penyuluhan kesehatan.

e. Data Status Kesehatan


b. Kesehatan ibu dan anak
Jumlah ibu hamil :-
1) Pemeriksaan kehamilan
Teratur :-
Tidak teratur :-
2) Kelengkapan imunisasi TT
Lengkap : 18 orang (94,74%)
Belum lengkap : 1 orang (5,26 %)
Jumlah balita : 55 orang
3) Pemeriksaan balita ke posyandu/puskesmas
Teratur : 3 orang (15,8 %)
Tidak teratur : 16 orang (84,2 %)
4) Kelengkapan imunisasi sesuai usia balita
Lengkap : 3 orang (15,8 %)
Belum lengkap : 16 orang (84,2 %)
DS :
Hasil wawancara dengan orang tua balita menyatakan imunisasi
anaknya belum lengkap (pada usia yang seharusnya sudah
lengkap) dan tidak teratur karena takut dengan efek imunisasi yaitu
demam dan ada sebagian keluarga yang mengungkapkan bahwa
imunisasi adalah hal yang dilarang oleh agama.

5) Status gizi balita berdasar KMS


Garis hijau : 35 orang (19,25%)
Garis kuning : 15 orang (82,5%)
Garis merah : 5 orang (2,75%)
DS :
Dari hasil wawancara dengan orang tua balita, mengatakan 15balita
dari 30 balita dikecamatan mulyorejo menderita kurang gizi. Serta 5
orang berada di garis merah.
n. Keluarga berencana
1) Jumlah PUS : 60 orang
2) Keikutsertaan PUS pada program KB
Ikut program KB : 50 orang (30%)
Belum ikut program KB : 10 orang (6%)
DS :
Dari hasil wawancara dengan warga, 10 orang dari 60 orang PUS
belum mengikuti program KB karena takut dengan efek/dampak
dari kontrasepsi itu sendiri. Alasan lain karena ingin memiliki anak
lagi, dan dilaraang oleh agama.
DO :
Dari jumlah PUS tersebut % kurang mengerti tentang KB dan % cukup
mengerti tentang KB
o. Distribusi penyakit pada balita
1) Stunting : 23 orang (12,65%)
2) Diare : 12 orang (6,6%)
3) Bronchitis : 1 orang (0,55%)

DS :
Sebagian ibu yang memiliki balita yang menderita stunting kurang
mengetahui tentang gizi yang seimbang dan selama kehamilan
tidak mengontrol kehamilannya secara teratur ke puskesmas. Dan
bahkan mereka tidak mengetahui pentingnya pemenuhan nutrisi
yang baik pada ibu hamil, terutama konsumsi karbohidrat dan
protein yang baik, sehingga sebagian balita yang mengalami
stunting. Belum ada penyuluh kesehatan untuk mengatasi
permasalahan ini.
DO :
Ibu yang memiliki pengetahuan tentang stunting sebanyak 20% saja.

Data Subsistem :
1. Lingkungan Fisik
a. Sumber air dan air minum
1) Penyediaan air bersih
PAM : 100 KK
Sumur :6 KK
2) Penyediaan air minum
PAM : 100 KK
Aqua :6 KK
3) Pengelolaan air minum
Selalu dimasak : 90 KK
Kadang dimasak dimasak : 10 KK
Tidak pernah dimasak : 6 KK
b. Saluran pembuangan air/ sampah
1) Kebiasaan membuang sampah
Diangkut petugas : 90 KK (100%)
2) Pembuangan air limbah
Got :16 KK (100%)
c. Kandang ternak
1) Kepemilikan kandang ternak
Ya :-
Tidak : 106 KK (100%)
d. Jamban
1) Kepemilikan jamban
Memiliki jamban : 106 KK (100%)
2) Macam jamban yang dimiliki
Septi tank : 96 KK (94,2%)
Sumur cemplung : 10 KK (5,9%)
e. Keadaan jamban
Bersih : 100 KK (96,4%)
Kotor :6 KK (3,6%)
DS : Sebagian warga membersihkan jambannya tiap satu minggu sekali.
p. Keadaan rumah
1) Type rumah
Type A (tembok) : 106 KK (100%)
Type B ( ½ tembok) :0 KK
q. Lantai Rumah
Tegel / semen : 106 KK (100%)
r. Ventilasi
Ada : 106 KK (100%)
Tidak ada :0 KK
s. Penerangan rumah oleh matahari
Baik : 100 KK
Cukup :6 KK
t. Halaman rumah
a) Kepemilikan pekarangan
Memiliki : 10 KK (13,1%)
Tidak memiliki : 96 KK (86,9%)
b) Keadaan pekarangan
Bersih : 10 KK (100%)

8. Fasilitas Umum Dan Kesehatan


a. Fasilitas umum
1) Sarana Pendidikan Formal
a) Jumlah : 1 Buah
b) Jumlah SD/sederajat : 1 Buah
c) Jumlah SLTP/sederajat : - Buah
d) Jumlah SMU/sederajat : - Buah
e) Jumlah PT/sederajat : - Buah
b. Sarana ibadah
1) Jumlah masjid : 1 Buah
2) Mushola : 3 Buah
3) Gereja : - Buah
4) Pura/vihara : - Buah
c. Sarana olahraga
1) Lapangan sepak bola : - Buah
2) Lapangan bola voli : - Buah
3) Lapangan bulu tangkis : - Buah
4) Lain-lain : - Buah
d. Fasilitas kesehatan
Jenis fasilitas kesehatan
1) Fasilitas Kesehatan
Puskesmas : 1 Buah
Posyandu : 1 Buah
Rumah sakit : - Buah
Praktek Dokter Swasta : - Buah
Praktek Bidan : - Buah
Praktek Kesehtan Lain : - Buah
Tukang gigi : - Buah
2) Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Puskesmas : 1Buah
Rumah Sakit : - Buah
Praktek Dokterwasta : - Buah
Praktek Bidan : - Buah
Praktek Kesehtan Lain : - Buah
Tukang Gigi : - Buah
9. Sosial ekonomi
a. Karakteristik pekerjaan
1) Jenis pekerjaan
a) Pedagang : 28 jiwa (12,8%)
b) Bangunan : 17 jiwa (7,8%)
c) Pensiun :2 jiwa (0,9%)
2) Pusat kegiatan ekonomi
a) Pasar tradisional : - buah
b) Pasar swalayan : - buah
c) Pasar kelontong : - buah
3) Penghasilan rata – rata perbulan
a) < dari 450.000/bulan :6 KK
b) Rp 600.000-Rp 800.000 : 10 KK
c) >Rp 800.000/bulan : 90 KK
10. Keamanan dan transportrasi
a. Keamanan
1) Sarana keamanan
a) Poskamling : - Buah
b) Pemadam Kebakaran : - Buah
c) Instansi Polisi : - Buah
b. Alat transportasi yang dimiliki
a) Tidak Punya : 10 KK
b) Mobil : 40 KK
c) Sepeda Motor : 56 KK
11. Politik dan Pemerintahan
a. Stuktur organisasi pemerintahan
Ada
b. Kelompok pelayanan kepada masyarakat ( PKK, posyandu)
Ada
c. Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
Ada

B. Analisa Data
No Data Etiologi Problem
1. DS: 1. Rendahnya tingkat pendidikan Gangguan
1. Ibu yang memiliki balita stunting 2. Kurang pengetahuan tentang pemenuhan
kurang mengetahui tentang gizi kesehatan kebutuhan nutrisi
yang seimbang. 3. Pemeriksaan kehamilan tidak kurang dari
2. Ibu yang memiliki balita stunting teratur kebutuhan pada
tidak mengerti tentang pemenuhan 4. Pemenuhan karbohidrat dan balita di Mulyorejo,
karbohidrat dan protein yang cukup protein tidak terpenuhi Kota Surabaya.
selama kehamilan. 5. Gangguan pemenuhan
3. Selama kehamilan ibu tidak teratur kebutuhan nutrisi kurang dari
dalam memeriksa kandungannya. kebutuhan.

DO:DO :
1. Ibu yang memilki pengetahuan
tentang stunting sebanyak 20%
2. Hasil wawancara menunjukan
bahwa di daerah tersebut belum
ada yang menjelaskan tentang
stunting secara jelas.
3. Hasil survey menunjukan bahwa
tidak semua balita di imunisasi
secara lengkap.
4. Hasil survey menunjukan
rendahnya pendidikan di daerah
Mulyorejo dimana lulusan terbanyak
yaitu SMP (40 %).
2. DS: 1. Lingkungan yang kurang Gangguan
1. Dari hasil wawancara dengan warga terjaga keseimbangan
bahwa terdapat sungai yang 2. Keaadaan sungai yang cairan dan elektrolit
terkadang banjir saat musim dangkal pada balita di
penghujan. 3. Perilaku kurang bersih dan Mulyorejo ,Kota
2. Dari hasil wawancara dengan warga sehat Surabaya.
bahwa terdapat keluarga yang tidak 4. Asupan makanan balita
memasak air sebelum diminun kurang diperhatikan
(Aqua).
3. Dari hasil wawancara terkadang
balita diberi makan yang
sembarangan.
DO:
1. Jumlah penderita Diare sebanyak
12 orang (%).
2. Hasil survey menunjukan sungai
dekat dengan rumah warga
kedalamannya dangkal.
3. Hasil survey menunjukan bahwa
ibu kurang memperhatikan
kebersihan makanan yang
dikonsumsi anaknya.

Diagnosa Keperawatan :

1) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan pada balita di desa
Mukyorejo daerah Kota Surabaya berhubungan dengan ibu kurang pengetahuan tentang
kesehatan.
2) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada balita di Mulyorejo, Kota Surabaya
berhubungan dengan keadaan lingkungan yang kurang terjaga.
PERENCANAAN KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan Pentingnya Perubahan (+) Penyelesaian untuk Total score


komunitas penyelesaian untuk peningkatan
masalah penyelesaian di kualitas hidup
1. rendah komunitas 0: tidak ada
2. sedang 0: tidak ada 1 : rendah
3. tinggi 1 : rendah 2 : sedang
2 : sedang 3 : tinggi
3 : tinggi

Gangguan pemenuhan 3 3 2 8
kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan
pada balita di desa
Mulyorejo berhubungan
dengan ibu kurang
pengetahuan tentang
kesehatan.
Gangguan 3 2 2 7
keseimbangan cairan
dan elektrolit pada
balita di Mulyorejo,
Kota Surabaya
berhubungan dengan
keadaan lingkungan
yang kurang terjaga.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO KRITERIA
1 2

1. Sesuai dengan peran perawat komunitas 5 5

2. Jumlah yang beresiko 5 4

3. Besarnya resiko 5 4

4. Kemungkinan untuk penkes 5 4

5. Minat masyarakat 4 3

6. Kemungkinan untuk diatasi 4 3

7. Sesuai dengan program pemerintah 5 4

8. Sumber daya tempat 4 4

9. Sumber daya waktu 4 3

10. Sumber daya dana 3 3

11. Sumber daya peralatan 3 3

12. Sumber daya orang 3 3

Jumlah skor 50 43

Keterangan:
1 : Sangat rendah
2 : Rendah
3 : Cukup
4 : Tinggi
5: Sangat Tinggi
C. Diagnosa Keperawatan

1) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan pada balita di desa
Mukyorejo daerah Kota Surabaya berhubungan dengan ibu kurang pengetahuan tentang
kesehatan.
2) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada balita di Mulyorejo, Kota Surabaya
berhubungan dengan keadaan lingkungan yang kurang terjaga.
D. Intervensi
Diagnosa Keperawatan Tujuan Rencana Tindakan Sasaran Metode Media Waktu Tempat
Gangguan pemenuhan Tujuan Umum: 1. Lakukan pendekatan Kader – kader Lobi Proposal Senin (1 Di Kantor
kesehatan
kebutuhan nutrisi kurang Di harapkan pada kader – kader Januari Posyandu desa
Posyandu
dari kebutuhan pada balita kebutuhan kesehatan Mulyorejo 2019) jam Mulyorejo
di desa Mulyorejo daerah nutrisi 9.00
Kota Surabaya b.d Ibu terpenuhi pada
Ibu – ibu yang
kurang pengetahuan balita di desa 2. Kaji tingkat pendidikan Survey dan Senin (1 Di rumah
memiliki
tentang kesehatan. Mulyorejo balita. tanya jawab - Januari kelompok balita
daerah Kota 2019) jam yang mengalami
Surabaya 9.30 stunting

Tujuan
Khusus: 3. Kaji tingkat pengetahuan Ibu – ibu yang Ceramah dan - Senin (1 Di rumah
dan kesadaran tentang memiliki balita
Ibu – ibu tanya jawab Januari kelompok balita
pentingnya gizi seimbang
mengetahui 2019) jam yang mengalami
tentang menu 9.45 stunting
seimbang 4. Komunikasikan tentang Ibu – ibu yang Ceramah Laptop Kamis (1 Di Posyandu desa
menu seimbang serta memiliki balita
pada balita. tanya jawab Power Point Januari Mulyorejo
pengurangan susu
formula LCD 2019) jam
Leaflet 10.00
5. Pembagian salah satu Ibu – ibu yang Pembagian Nasi / lauk Kamis (4 Di Posyandu desa
menu seimbang memiliki balita
langsung Buah – Januari Mulyorejo
buahan 2019) jam
Susu bubuk 11.00 s/d
11.30
6. Anjurkan ibu – ibu untuk Ibu – ibu yang Ceramah Kartu jadwal Kamis (4 Di Posyandu desa
mengawasi jajanan yang memiliki balita
tanya jawab Pelayanan Januari Mulyorejo
sering di konsumsi
kesehatan 2019) jam
11.30
Lobi Minggu ( 7 Di rumah masing –
Keluarga / ibu
7. Rujukan ibu tentang
kelompok Ceramah Januari masing kelompok
penanggulangan diare
balita yang
Tanya jawab 2019) balita yang
mengalami
gizi buruk Jam 12.30 mengalami
stunting

Gangguan keseimbangan Tujuan Umum: 1. Lakukan pendekatan Kader – kader Lobi Proposal Senin (16 Di Kantor
kesehatan
cairan dan elektrolit pada Di harapkan pada kader – kader Januari Posyandu
Posyandu
balita di Mulyorejo ,Kota tidak terjadi kesehatan 2019) jam
Surabaya berhubungan diare pada 9.00
dengan keadaan balita di desa 2. Komunikasikan tentang Ibu – ibu yang Ceramah Laptop Kamis (18 Di Posyandu
memiliki balita
lingkungan yang kurang Mulyorejo penangggulangan, tanya jawab Power Point Januari
terjaga. daerah Kota pencegahan diare. LCD 2019) jam
Surabaya Leaflet 10.00
3. Demostrasikan Praktik secara Gelas Kamis (18 Di Posyandu
Ibu – ibu yang
Tujuan pemberian oralit memiliki balita langsung Air matang Januari
Khusus: Oralit 2019) jam
Masyarakat Sendok 11.00 s/d
mengetahui 11.30
Ibu – ibu yang
tentang 4. Anjurkan ibu – ibu untuk Ceramah Kartu jadwal Kamis (18 Di Posyandu
memiliki balita
pentingnya memeriksakan balita tanya jawab Pelayanan Januari
PHBS. kesehatan 2019) jam
11.30 s/d
11.40
5. Evaluasi keluarga Keluarga / ibu Ceramah Lobi Minggu ( 21 Di rumah masing –
kelompok
/Rujukan ibu tentang Tanya jawab Januari masing kelompok
balita yang
penanggulangan diare diare 2019) balita yang terkena
diare

Semua warga
6. Lakukan pendekatan Lobi Proposal Senin (22 Rumah tokoh
di lingkungan
tokoh masyarakat di posyandu Januari masyarakat
Mulyorejo 2019) jam
10.00

Semua warga
Masyarakat 7. Komunikasikan tentang Siaran masjid Lobi Senin (22 Rumah tokoh
di lingkungan
dapat kerja bakti posyandu Tulisan Januari masyarakat
mengaplikasik 2019) jam
an kegiatan 11.00
Semua warga
sanitasi yang 8. Kerja bakti pembersihan Praktek Alat Selasa (24 Lingkungan dekat
di lingkungan
baik di selokan, sisa sampah, posyandu secara kebersihan Januari lingkungan
Lingkungan jalan langsung 2019) jam posyandus
Posyandu 15.00
Semua warga
9. Evaluasi kerja bakti Ceramah Rumah tokoh
di lingkungan
posyandu Dokumentasi Lobi Kamis (25 masyarakat
Januari
2019)
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Komunitas (Community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan nilai (


valuase), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi
yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga, misalnya didalam kesehatan dikenal
kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok
masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok
masyarakat ada masyarakat petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat
terasing dan sebagainya, (Alimul, 2009).

Keperawatan komunitas adalah suatu dalam keperawatan yang merupakan perpaduan


antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat
yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat dengan menekankan
kepada peningkatan peran serta masyarakat dalam melakukan upaya promotif dan preventif
dengan tidak melupakan tindakan kuratif dan rehabilitatif sehingga di harapkan masyarakat
mampu mengenal mengambil keputusan dalam memelihara kesehatannya ( Mubarak,2009 ).

Tahapan proses keperawatan komunitas yaitu 1) pengkajian yang terdiri dari wawancara,
observasi, kuisioner, 2) menentukan prioritas masalah 3) pelaksanaan MMD.

Negara Indonesia sedang mengalami berbagai macam masalah khususnya pada kesehatan.
Tentu saja permasalahan yang sedang dihadapi tidak lepas dari keterkaitan kesehatan lingkungan
dan perilaku hidup bersih dan sehat itu sendiri. Saat ini banyak ditemukan beberapa masalah
kesehatan yang menempati urutan teringgi, diantaranya Hipertensi, DM, DBD, TBC dan Stunting
pada balita.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan yang diperoleh maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi Masyarakat

Masyarakat diharapkan mempunyai motivasi menjaga pola hidup sehat dalam kehidupan
sehari-hari. Masyarakat juga diharapkan berpartisipasi dalam meningkatkan taraf kesehatan
termasuk menjaga lingkungan.
2. Bagi Pemerintah

Perlu kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat desa werdi untuk mencegah
terjadinya masalah kesehatan di masyarakat.

4. Bagi Mahasiswa

Mahasiswa dapat menerapkan konsep keperawatan komunitas untuk meningkatkan


kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal
bagi masyarakat yang ada di Indonesia, Khususnya daerah Jawa Barat.

5. Bagi Institusi Pendidikan

Laporan makalah asuhan keperawatan ini dapat dijadikan referensi dalam penerapanya pada
proses pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, T. E., & McFarlane, J. (2006). Keperawatan Komunitas Teoti dan Praktek. Jakarta: EGC

Arjatmo Tjokronegoro. (2002). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai


Penerbit FKUI

Bruner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC.

Carpenito, Lynda Juall. (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih.
Jakarta : EGC

Doenges, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan


Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa. (1999). Jakarta :
EGC.

Efendi, Ferry & Makhfudi. 2013. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik
Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.

Ekasari, M. F., Tamher, S., Hartini, T., Rosidawati, Syaifuddin, Suryati, E. S., et al. (2008).
Keperawatan Komunitas Upaya Memandirikan Masyarakat Untuk Hidup Sehat. jakarta Timur:
Trans Info Media.

Elisabeth T. Anderson dan RN. Judith Mc. Farlane. 2012. Community as a Partner, 6th Ed
+Introduction to Community Based Nursing, 5th Ed: Theory and Practic in Nursing. Lippincot
Williams and Wilkins, 2012

Hidayat, A. Aziz Alimul.2008.Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.Jakarta:Salemba


Medika

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga,
Jakarta : FKUI, 1996.

Mobarak, W. I., Santoso, B. A., Rozikin, K., & Patonah, S. (2006). Ilmu Keperawatan Komunitas 2
Teori dan Aplikasi dalam Praktik Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas,
Gerontik dan Keluarga. Jakarta: CV. SAGUNG SETO.

Mubarok,Wahit Iqbal,dkk. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika

Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika
Nur Arif, A. &. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA.
Jogjakarta: Mediaction.

R, Fallen. Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas. (2010). Yogyakarta: Nuha Medika

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih.
Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta :EGC


Soeripto. 2008. Hiegiene Industri. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Somantri, I. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan .
Jakarta: Salemba Medika.

Supartini,Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC

Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga : aplikasi dalam praktik. Jakarta : EGC

UNIMED-NonDegree-22832-babII_fero_2.pdf-Adobe Reader. Diakses pada 16 Februari 2019, jam


13.00 WIB

http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17124/4/Chapter%20II.pdf diakses tgl 14-10-17 jam


09.20
www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1keperawatan/206312017/bab2.pdf diakses tgl 14-10-17 jam 15.00