Anda di halaman 1dari 11

PERENCANAAN KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH PADA

UNDERPASS DENGAN MENGGUNAKAN SECANTPILE DI JALAN


BRIGJEND. KATAMSO – A.H. NASUTION MEDAN ( STUDY KASUS
PEMBANGUNAN UNDERPASS BRIGJEND. KATAMSO – AH.
NASUTION MEDAN SUMATERA UTARA)
Abram Bonar Jusin Sianipar1, Roesyanto2
1 Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No. 1 Kampus
USU Medan Email: abramsianipar@gmail.com
2 Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jalan
Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
ABSTRAK
Dewasa ini peningkatan kendaraan semakin tinggi, namun ketersediaan akan ruas
jalan semakin terbatas, sehingga diperlukan pertimbangan untuk solusi akan masalah ini.
Hal ini terutama terjadi di pusat aktifitas di kota-kota besar dimana pembangunan dan
aktifitas terus berlangsung tanpa henti sehingga menimbulkan kemacetan, seperti kota
Medan. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan underpass
sebagai solusi meleraikan kemacetan terutama di simpang jalan Bridgjen. Katamso – A.H.
Nasution.
Pada penelitian ini akan membahas tentang dinding penahan tanah pada underpass
dengan tipe secant bored piles. Dengan menganalisa dinding tersebut dengan
menggunakan tie back anchor maupun tidak. Dimana akan membandingkan dari
deformasi, safety factor, bending moment.
Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa hasil dari perhitungan dengan tie back
anchor dan tidak menggunakan memiliki angka deformasi yang masih diperhitungkan
aman tetapi untuk angka safety factor hanya yang menggunakan tie back anchor yang
memenuhi angka keamanan (SF > 1,5) dan menghasilkan bending momen yang lebih kecil
dibandingkan yang tidak menggunakan tie back anchor.
Kata Kunci: dinding penahan, deformasi tiang, safety factor, tie back anchor, underpass,
bending momen.
ABSTRACT
Nowadays, vehicle upgrades are getting higher, but the availability of roads is
limited, so consideration is needed for the solution to this problem. This is especially the
case in the centers of activities in major cities where the development and activities
continue unceasingly, causing congestion, such as the city of Medan. One solution to
overcome these problems is required underpass as a solution to divest congestion,
especially at Bridgjen intersection. Katamso - A.H. Nasution.
In this research will discuss about retaining wall on underpass with secant bored
piles type. By analyzing the wall using tie back anchor or not. Where will compare from
deformation, safety factor, bending moment.
From the results of this study obtained that the results of the calculation with the
tie back anchor and do not use have deformation figures are still considered safe but for the
number of safety factor only using tie back anchor that meet the safety factor (SF> 1.5) and
generate bending moments smaller than those that do not use the tie back anchor.
Keywords: retaining wall, pile deformation, safety factor, tie back anchor, underpass,
bending moment.

1
1. PENDAHULUAN Dinding penahan tanah
merupakan komponen struktur bangunan penting
Kota Medan adalah salah satu kota dengan utama untuk jalan raya dan bangunan lingkungan
penduduk yang padat di Indonesia. Kepadatan lainnya yang berhubungan tanah berkontur atau
penduduk di kota ini menjadikan peningkatan tanah yang memiliki elevasi berbeda. Secara
jumlah kendaraan yang tinggi, tetapi tidak singkat dinding penahan merupakan dinding yang
sebanding dengan volume jalan yang tersedia. dibangun untuk menahan massa tanah di atas
Terlebih lagi padatnya kendaraan yang melintas struktur atau bangunan yang dibuat. Bangunan
pada jalan Provinsi untuk mengantarkan berbagai dinding penahan umumnya terbuat dari bahan
macam logistik ke berbagai tempat ke setiap kayu, pasangan batu, beton hingga baja. Bahkan
wilayah di Sumatera Utara ini. Dikarenakan kini sering dipakai produk bahan sintetis mirip
banyaknya kendaraan yang melintas dan kain tebal sebagai dinding penahan tanah. Produk
perjumpaan jalan atau simpang, membuat jalan bahan ini sering disebut sebagai geotextile atau
Provinsi ini terkendala pada kemacetan. geosyntetic.
Terkhusus pada jalan Brigjend. Katamso – AH Untuk dapat memperkirakan dan
Nasution ini. Maka daripada itu adanya menghitung kestabilan dinding penahan,
perencanaan pembangunan underpass pada jalan diperlukan menghitung tekanan ke arah samping
Bridjen. Katamso – AH Nasution. (lateral). Karena massa tanah berupa butiran,
Underpass adalah jalan melintang di bawah jalan maka saat menerima tegangan normal (σ) baik
lain atau persilangan tidak sebidang dengan akibat beban yang diterima tanah maupun akibat
membuat terowongan di bawah muka tanah yang berat kolom tanah di atas kedalaman atau duga
fungsinya untuk mengurai kemacetan pada jalan. tanah yang kita tinjau, akan menyebabkan
Walaupun sama di bawah tanah, underpass tekangan tanah ke arah tegak lurus atau ke arah
sendiri berbeda dengan Tunnel. Tunnel adalah samping. Tegangan inilah yang disebut sebagai
jenis jalan yang dibuat sedemikian rupa yang tegangan tanah lateral (lateral earth pressure).
biasanya jalur jalan tersebut menembus suatu Tengangan tanah akibat kolom tanah tersebut
bukit atau diantara dua lembah yang berhimpitan. merupakan besaran tegangan efektif (σ eff) yang
Pada pekerjaan konstruksinya pun sudah berbeda, sebanding dengan γ H. Pengetahuan tentang
jikalau pada pembuatan Tunnel biasanya tegangan lateral ini diperlukan untuk pendekatan
dilakukan pengeboran atau penggalian secara perancangan kestabilan.
vertikal lalu dipasangkan penyangga-penyangga 2.2. Tekanan Tanah Lateral
untuk menahan keruntuhan tanah sesudah
pengeboran. Sedangkan pada Underpass Konstruksi dinding penahan tanah yang
dilakukan penggalian tanah terlebih dahulu, digunakan dalam perencanaan underpass
setelah itu barulah dipasang atau dibangun digunakan untuk menahan tanah dengan lereng
konstruksi retaining wall pada sisi bagian yang vertikal. Untuk merencanakan desain dinding
digali. Dimaksudkan agak tanah tersebut tidak penahan tanah supaya dapat mengakomodir
bergeser sehingga terjadi kelongsoran pada galian beban yang bekerja, maka perlu diketahui gaya
sisinya. horizontal yang bekerja antara konstruksi dinding
penahan tanah dengan massa tanah yang
Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan yang ditahannya.Gaya horizontal tersebut disebabkan
matang untuk membangun konstruksi retaining oleh tekanan tanah arah lateral.
wall pada Underpass jalan Bridjen Katamso
sehingga tidak terjadi longsor dan tetap stabil Berdasarkan pergerakan relatif dinding
walaupun beban lalu lintas melintas di atasnya penahan tanah terhadap massa tanah yang
dan jika di bangun konstruksi underpass tersebut. ditahan, maka tekanan tanah lateral dibagi
menjadi 3, yaitu:
2. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tekanan tanah dalam keadaan diam (at
2.1. Pendahuluan rest), terjadi jika dinding tidak bergerak.

2
Massa tanah berada dalam kondisi elastic perencanaan dinding penahan tanah. Keberadaan
equilibrium. air tanah mempengaruhi besarnya tegangan
2. Tekanan tanah aktif, terjadi jika dinding tersebut, hal tersebut menyebabkan perubahan
bergerak menjauh dari tanah yang ditahan. tegangan semula.
Massa tanah telah berada dalam kondisi
plastic equilibrium.
3. Tekanan tanah pasif, terjadi jika dinding
bergerak menuju tanah yang ditahan. Pada
kondisi ini, massa tanah juga telah berada
dalam kondisi plastic equilibrium.
2.3. Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah merupakan
struktur penahan tanah yang digunakan untuk
menahan lereng atau galian tegak. Fungsi utama
dinding penahan tanah adalah menjaga stabilitas 2.3.2. Metode Pelaksanaan Secant Pile
tanah maupun struktur agar tidak mengalami pada Underpass
keruntuhan akibat gaya yang terjadi. Dinding Berikut langkah-langkah metode pelaksanaan
penahan tanah selain digunakan untuk menahan pembangunan dinding secant pile pada
lereng, juga digunakan untuk menahan kestabilan underpass:
tanah pada galian, basement, waterfront
construction, underpass, konstruksi sementara 1. Pekerjaan Tanah
serta penggunaan lainnya. Pada pekerjaan tanah terdiri atas 3 kegiatan
 Contiguous Bored Pile Walls yaitu galian tanah untuk capping beam,
pengeboran tanah untuk secant pile dan
Dinding penahan tanah ini terdiri dari urugan tanah kembali. Pada pekerjaan galian
tiang-tiang pancang yang dipasang berdamping caping beam berfungsi sebagai acuan letak
satu sama lain. Terdapat celah antara tiang pengeboran untuk secant pile, tempat tulangan
pancang tersebut yang memperbolehkan dan pengecoran beton. Pekerjaan galian tanah
rembesan air pada kondisi tanah granular. untuk capping beam ini dimulai dari bagian
 Secant Bored Pile Walls tengah dari rencana letak underpass karena
pekerjaan secant pile yang akan dikerjakan
Dinding penahan tanah ini secara umum terlebih dahulu adalah pada sisi tengah
mirip contiguous bored pile, namun diantara bentang underpass. Hal ini dimaksudkan agar
tiang-tiang pancang yang berdampingan tersebut slab beton sebagai jembatan dan terowongan
dilakukan pengeboran yang mengiris bagian underpass dapat segera diselesaikan sehingga
samping tiang pancang utama dan selanjut dapat digunakan untuk pengaturan lalu lintas
dipasang casing untuk pengecoran secant pile. sementara di kawasan tersebut. Capping beam
Adanya pemasangan secant pile membuat celah merupakan konstruksi beton penutup tiang
antara tiang-tiang pancang tertutupi dan dengan ukuran lebar 30 m dan tebal 0,75 m.
rembesan tidak bisa masuk karena terhalang Pengeboran tanah untuk secant pile dapat
dinding menerus tiang pancang tersebut. dilakukan jika pekerjaan galian tanah capping
2.3.1. Dinding Penahan Tanah yang beam telah diselesaikan. Pengeboran ini
Digunakan dimulai pada sisi tengah bentang, yaitu pada
kedalaman tiang bor sebesar 20 meter
Dinding penahan tanah yang digunakan dilanjutkan tiang bor yang lain dengan variasi
sebagai perkuatan galian underpass dalam studi kedalaman 11, 12, 14, 16 dan 18 m.
kasus ini adalah secant bored pile. Jenis dinding Pengeboran dilakukan dengan menggunakan
penahan tanah ini umumnya digunakan untuk Drill Tool & Acc. Sebagai akhir dari
deep excavation. Analisis tegangan untuk tiap pekerjaan tanah adalah pekerjaan urugan
kedalaman sangat penting dilakukan dalam tanah kembali dilakukan jika pelaksanaan

3
capping beam telah memenuhi persyaratan. Angka Keamanan
Material tanah pilihan dihamparkan setebal Kondisi
Temporer Permanen
10-15 cm lalu dipadatkan dengan
menggunakan tamper. Pekerjaan ini dilakukan Umum 1,30 1,50
berulang-ulang hingga mencapai ketinggian
yang disyaratkan. Bottom
heave pada 1,30 1,50
2. Pekerjaan secant pile level pondasi
Secant pile adalah bore pile yang dibuat saling Botom heave
berpotongan sehingga terdapat interlock antar diatas level 1,50 -
bore pile. Untuk menambah tahanan terhadap pondasi
tarik, maka diberi tulangan pada bore pile
secara berselang-seling. Pekerjaan secant pile Piping 1,50 2,00
dilakukan setelah pelaksanaan galian tanah 2.3.4 Deformasi Lateral
untuk capping beam. Jenis pekerjaan secant
pile terdiri atas pekerjaan secondary pile dan Deformasi lateral dinding penahan tanah
primary pile. Pekerjaan Secondary Pile adalah berkaitan erat dengan besarnya deformasi izin
bore pile yang dibuat tanpa adanya tulangan. yang diperbolehkan saat dikenai gaya lateral tepat
Setelah pengeboran tanah yang dilakukan, saat dinding akan mengalami keruntuhan.
dilanjutkan dengan proses dewatering. Berdasarkan lokasi studi kasus, diketahui bahwa
Setelah pelaksanaan dewatering selesai, secara umum tanah yang berada di sekitar lokasi
langsung dilaksanakan pembetonan rencana merupakan umumnya adalah dense
secondary pile dengan bantuan pipa tremi. sands. Tabel 2.7 menunjukan deformasi lateral
Pekerjaan Primary Pile adalah bore pile yang izin untuk tanah dense sands pada kondisi
dibuat dengan diberi tulangan. Sedangkan tekanan tanah aktif adalah 0.020 H.
urutan pelaksanaannya adalah: pengeboran, Tabel 2.2. Hubungan ketinggian dengan
dewatering, pemasangan tulangan dan pegeseran horizontal pada kondisi pasif
pengecoran primary pile.
(Coduto,2001)
3. Pekerjaan capping beam
Gerak Horizontal
Pekerjaan ini terdiri atas 3 jenis yaitu Tipe Tanah yang Diperlukan
bekisting, pembesian dan pengecoran. pada Kondisi Aktif
pekerjaan bekisting dapat dilakukan jika tiang
beton sudah memenuhi persyaratan. Material Dense Sand 0.020 H
beton menggunakan ready mix yang dibuat di Loose Sand 0.060 H
batching plant. Proses pengecorannya diawali
dengan membawa beton segar menggunakan Stiff Clay 0.020 H
truck mixer dan penuangan menggunakan alat Soft Clay 0.040 H
bantu berupa talang.
H= Wall Weight
2.3.3. Angka Keamanan Stabilitas Umum
2.4. Tieback Anchor
Penggunaan secant bored pile walls pada galian
underpass ini bersifat permanen dan angka Tieback Anchor, dapat digunakan untuk
keamanan stabilitas umum yang digunakan semua jenis dinding penahan tanah. Tujuan
adalah 1.5 (konsensus TPKB DKI-Jakarta, 1999; penggunaan tieback anchor diantaranya untuk
Djayaputra, 1999) mengurangi bending moment, menambah
kekuatan lereng, dan meminimalkan deformasi
Tabel 2.1. Angka keamanan minimum untuk yang terjadi. Prinsip kerja tieback anchor adalah
lereng galian terbuka tanpa gempa (Djayaputra, mentransfer gaya tarik akibat pergerakan tanah
1999) dengan mengandalkan gaya gesek antara tieback
anchor dengan tanah di sekitarnya.

4
2.4.1. Spasi Tieback Anchor 1. Menentukan latar belakang masalah
Jarak vertical dari permukaan tanah sampai 2. Melakukan studi literature dari beberapa
bagian tengah anchor bonded minimal berjarak sumber
4.5m. 3. Melakukan pengumpulan data
4. Melakukan pengolahan data
2.4.2. Beban Desain
5. Menganalisa hasil perhitungan
Penentuan beban desain ditentukan dari 6. Menyimpulkan hasil analisa yang telah
korelasi nilai N-SPT seperti dalam tabel 2.9. dilakukan
Beban desain digunakan untuk menentukan
panjang bonded anchor. 4. ANALISA DAN PERHITUNGAN
Tabel 2.3. Korelasi N-SPT dengan penentuan
beban desain (Bachus, 1999) 4.1. Parameter secant bored pile
Tipe Tanag Kerapatan Perkiraan Desain parameter dinding penahan tanah
Relatif/ Beban ini menggunakan secant bored piles berdiameter
Konsistensi Ultimate 800 mm.
(Jarak SPT) Transfer  Luas tiang
(kN/m)
=
Pasir dan Longgar (4-10) 145
= 0,5024
Kerikil
Padat sedang 220  Kekakuan aksial
(11-30)
290 =
Padat (31-50) = 13969520,87
Pasir Longgar (4-10) 100  Kekakuan lentur
Padat sedang 145 =
(11-30) = 558780,8348 /
190
 Diameter ekivalen
Padat (31-50)
=√
2.4.3. Gaya Prategang
= 0,693
Gaya prategang ditentukan dari Tabel  Berat dinding
2.10 =( − )
Tabel 2.4. Pendekatan untuk menentukan gaya = 10,10394 / /
prategang pada anchor (Xanthakos, 1991) 4.2. Parameter Tieback Anchor
Referensi Metode
 Spasi tie back anchor
Kapp Percetage of allowable tie- Spasi vertikal tie back anchor minimal
rod load (20%-60%) adalah 4,5m. Pada studi kasus ini lokasi
Mansur and At-rest pressure tanah keras berada mulai dari kedalaman
Alizadeh 14,45m. Berdasarkan kondisi tersebut
maka spasi vertikal adalah 18,95m.
Rizzo, et.al Active to at rest Untuk perencanaan spasi horizontal
Shannon and 50% anchor yield load umumnya digunakan jarak 1,2-3m,
Strazer dalam kasus ini kita menggunakan spasi
Clough, et.al Terzaghi-Peck rule (0.4 γH) horizontal berjarak 1,5m
 Diameter borehole
3. METODE PENULISAN Tipe anchor yang digunakan adalah
Diagram alir dalam proses pelaksanakan straight shaft gravity grouted dengan
penulisan ini: metode regoutable. Tipe ini digunakan

5
menyesuaikan kondisi tanah yang 4.3. Analisis Galian Underpass Tanpa Tie
dipasanga tie back anchor. Diameter Back Anchor
yang digunakan umumnya 0,075-0,20 m,
Desain galian ini menggunakan secant pile walls
untuk kasus ini digunakan tie back
sebagai dinding penahan tanah yang telah
anchor berdiameter 0,20m.
direncanakan.
 Inlinasi anchor
Inklinasi anchor umumnya digunakan Kedalaman secant bored pile walls
berkisar 15˚-30˚, untuk kasus ini : 11m pada STA 0+202 s/d STA
digunakan inklinasi 28˚. 0+216,4 dan STA 0+791,2 s/d 811,6
 Beban desain Dengan SF :2,161
Beban desain berdasarkan kasus ini Deformasi dinding : 5,081 cm
adalah 190 kN/m Bending Moment : -71,08 kNm/m
 Gaya Prategang (Max)
Pendekatan yang digunakan berdasarkan
referensi Clough et. al. Metode Terzaghi-
Peck
= 0,4
Untuk kedalaman dinding 14 m:
= 114,352 /
Untuk kedalaman dinding 16 m:
= 130,688 /
Untuk kedalaman dinding 18 m:
= 147,024 /
Untuk kedalaman dinding 20 m: Gambar 4.1. Deformasi yang terjadi pada
= 163,360 / kedalaman dinding 11m
 Panjang unbonded
=
Beban desain (T) adalah 190 kN/m, nilai
ultimate bond stress (τf) adalah 0,08 -
0,38. Dari rentang nilai tersebut dapat
ditentukan bataas nilai terendah dan
tertinggi panjang bounded melalui
perhitungan sebagai berikut:
Untuk F=3 dan τf= 0,38
×
= , × , × , × = 2,389
Untuk F=5 dan τf=0,08
×
= = 18,909
, × , × , ×
Panjang bounded memiliki rentang nilai Gambar 4.2. Displacements dan Bending
2,389 m – 18,909 m. Kondisi di lapangan Moment pada kedalaman 11m
menyesuaikan besarnya bounded dengan Kedalaman secant bored pile walls
lokasi lapisan tanah keras, dalam studi : 12m pada STA 0+769,6 s/d
kasus ini nilai panjang bounded adalah STA 0+791,2
9,983 m. Dengan SF : 2,192
 Panjang total tie back anchor Deformasi dinding : 5,123 cm
Panjang total = panjang bonded + Bending Moment : -76,23 kNm/m
panjang unbonded (Max)
Panjang total tie back anchor = 9,983 +
18,5 = 28,483 m

6
Gambar 4.3. Deformasi yang terjadi pada
kedalaman dinding 12m
Gambar 4.6. Displacements dan Bending
Moment pada kedalaman 14m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 16m pada STA 0+238 s/d
STA 0+259,6 dan STA 0+726,4 s/d
0+748
Dengan SF : 1,621
Deformasi dinding : 9,365 cm
Bending Moment : -471,34
kNm/m (Max)

Gambar 4.4. Displacements dan Bending


Moment pada kedalaman 12m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 14m pada STA 0+216,4 s/d
STA 0+238 dan STA 0+748 s/d STA
0+769,6
Dengan SF : 1,841
Deformasi dinding : 6,170 cm
Bending Moment : -250,80 Gambar 4.6. Deformasi yang terjadi pada
kNm/m (Max) kedalaman dinding 16m

Gambar 4.5. Deformasi yang terjadi pada


kedalaman dinding 14m

7
Gambar 4.7. Displacements dan Bending
Moment pada kedalaman 16m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 18m pada STA 0+259,6 s/d
STA 0+281,2 dan STA 0+704,8 s/d
0+726,4
Dengan SF : 1,374
Deformasi dinding : 15,25 cm
Bending Moment : -740,10
kNm/m (Max) Gambar 4.10. Deformasi yang terjadi pada
kedalaman dinding 20m

Gambar 4.8. Deformasi yang terjadi pada


kedalaman dinding 18m

Gambar 4.11. Displacements dan Bending


Moment pada kedalaman 20m
4.4. Analisis Galian Menggunakan Tie Back
Anchor
Desain galian ini menggunakan secant
pile walls sebagai dinding penahan tanah dan
support yang berupa tie back anchor.
Dikarenakan letak kedalaman tie back
anchor yang direncanakan pada kedalaman 12 m,
maka analisis dinding penahan tanah yang
Gambar 4.9. Displacements dan Bending menggunakan tie back anchor dimulai dari
Moment pada kedalaman 18m kedalaman secant pile walls 14 m sampai dengan
20 m.
 Kedalaman secant bored pile walls
: 20m pada STA 0+281,2 s/d  Kedalaman secant bored pile walls
STA 0+704,8 : 14m pada 0+216,4 s/d STA
Dengan SF : 1,591 0+238 dan STA 0+748 s/d STA 0+769,6
Deformasi dinding : 21,24 cm Dengan SF :2,1404
Bending Moment : -974,11s Deformasi dinding : 3,85 cm
kNm/m (Max) Bending Moment : 165,45 kNm/m
(Max)

8
Gambar 4.12. Deformasi yang terjadi pada
kedalaman dinding 14m

Gambar 4.15. Displacements dan Bending


Moment pada kedalaman 16m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 18m pada STA 0+259,6 s/d
STA 0+281,2 dan STA 0+704,8 s/d
0+726,4
Dengan SF : 2,419
Deformasi dinding : 4,52 cm
Bending Moment : 263,27 kNm/m
(Max)

Gambar 4.13 Displacements dan Bending


Moment pada kedalaman 14m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 16m pada 0+216,4 s/d STA
0+238 dan STA 0+748 s/d STA 0+769,6
Dengan SF : 2,445
Deformasi dinding : 3,47 cm Gambar 4.16. Deformasi yang terjadi pada
Bending Moment : 213,15 kNm/m kedalaman dinding 18m
(Max)

Gambar 4.14. Deformasi yang terjadi pada


kedalaman dinding 16m

Gambar 4.17. Displacements dan Bending


Moment pada kedalaman 18m
 Kedalaman secant bored pile walls
: 20m pada STA 0+281,2 s/d
STA 0+704,8

9
Dengan SF : 2,396 tieback anchor adalah tekanan tanah
Deformasi dinding : 5,26 cm aktif.
Bending Moment : 307,17
Tabel 5.1. Rekapitulasi Angka Keamanan,
kNm/m (Max)
Deformasi, Bending Moment
Kedala Tanpa tie back anchor Menggunakan tie back
m anchor
a
n SF Deform B. SF Deform B.
Dinding as M as M
(m) i o i o
(cm) m (cm) m
e e
nt nt
(kNm/m (kNm/m
Gambar 4.18. Deformasi yang terjadi pada ) )

kedalaman dinding 20m 11 2,1 5,08 -71,08 - - -


6
1
12 2,1 5,12 -76,23 - - -
9
2
14 1,8 6,17 -250,80 2,4 3,85 165,45
4 0
1 4
16 1,6 9,37 -471,34 2,4 3,47 213,15
2 4
1 5
18 1,3 15,25 -740,10 2,4 4,52 263,27
7 1
4 9
20 1,5 21,24 -974,11 2,3 5,26 307,17
9 9
1 6
 Penggalian dinding menggunakan tie
Gambar 4.19. Displacements dan Bending back anchor memenuhi syarat untuk
Moment pada kedalaman 20m semua kedalam dinding sampai dengan
20 m, serta deformasi yang terjadi
5. KESIMPULAN
memenuhi syarat keamanan dibawah dari
 Analisis yang dilakukan memandingkan 0,02H.
perencanaan menggunakan tie back  Berdasarkan studi kasus, analisis
anchor dan tidak menggunakan tie back penggunaan secant bored pile walls
anchor, memiliki besaran deformasi, memenuhi batas aman jika
bending moment, dan safety factor menggunakan tie back anchor (SF =>
menghasilkan output yang berbeda 1,5).
cukup signifikan. 6. DAFTAR PUSTAKA
 Perbandingan antara menggunakan tie back
anchor dan tidak menggunakan tie back 1. Bowles, J. E. 1991, Analisa dan
anchor menunjukkan dengan menggunakan Desain Pondasi Edisi keempat Jilid
tie back anchor mendapatkan angka safety
factor yang lebih besar dan angka deformasi I, Jakarta Erlangga.
dan bending moment yang lebih kecil.
2. Coduto, D.P. 2001, Foundation
 Penggunaan tieback anchor membuat
gaya yang terjadi pada dinding penahan Design: Principles and Practice.
tanah menjadi tekanan tanah pasif
dibandingkan tanpa menggunakan

10
3. Das, B.M. 2007. Principle of Rekayasa Pondasi II. Jakarta. Pusat
Foundation Engineering. Global Pengembangan Bahan Ajar UMB.
Engineer Christopher M. Shortt 11. Simatupang, P.T., 2008. Modul 2:
4. Djayaputra. 1999, Konsensus TPKB Turap Berjangkar, Rekayasa
DKI- Jakarta. Pondasi II. Jakarta. Pusat
5. Fauzi, U.J. 2008. Studi Stabilitas
Pengembangan Bahan Ajar UMB.
Perkuatan Tebing Sungai Kayan
12. Smith, G.N.. 1998, Elements of Soil
Kalimantan Timur. Institut Mechanics.
Teknologi Bandung, Fakultas Teknik
13. Suwarno. 2012. Jurnal Perencanaan
Sipil dan Lingkungan Program Studi Konstruksi Dinding Penahan Tanah
Teknik Sipil. Pada Underpass Jemursari
Surabaya. Surabaya. Institut
6. H.S.Sardjono. 1987, Pondasi Tiang Teknologi Sepuluh Nopember
Pancang Jilid I, Surabaya : Sinar Surabaya Sub Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik Sipil dan
Wijaya. Perencanaan.
7. Lambe & Whtitman. 1969, Soil 14. Wisesa, A. P. & Adiyansyah, B.
Mechanics. 2008. Analisis Pemakaian Secant
8. Robert, W.D. 2006, Foundation Bored Pile Walls Pada Galian
Engineering Hand Book.
9. Sabatini, P.J.; Pass, D.G.; Bachus, Basement dengan Menggunakan

R.C. 1999, Geeotechnical Program Finite Element 2D.

Engineering Circular no.40: Ground Bandung. Institut Teknologi

Anchors and Anchored System. Bandung.

10. Simatupang, P.T., 2008. Modul 1: 15. Xanthakos, P. 1991, Ground


Anchors and Anchored Structure.
Jenis Turap dan Turap Kantilever,

11