Anda di halaman 1dari 17

KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR

UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM


Salma Mursyid

Abstract
Islam as a comprehensive and wholesome system of living and a wisdom foundation is
a religion that directs human beings toward a complete life, since the beginning of its
introduction (forteen centuries) Islam does not only teach a one dimensional life but also
teach a multidimensional one including theology, Worship, muamalah, moral, philosophy,
law and many others.
Islam is a complete wholly and perfect teachings that directs a Muslim both in worshipping
and in social interaction. All teachings are encapsulated in Alquran and hadits both in a
form of general and technical concept. During an interaction, a Muslim and a Non-Muslim
have restrictions that are arranged and assigned values and concepts of tolerance (al-
samahah) in Islam are resourced from Alquran and hadits. Rules on tolerance in islam is
restricted to alBaqarah (2): 256.
One frequently occured problem on the interreligion tolerance is a friction between
tolerance and aqidah norms. Some people think that it is not a problem to wish someone
Merry Chrismas or even to participate in the celebration believing that it is part of the
interreligion tolerance. As a matter of fact in Islam, the concept of tolerance is cleraly
stated that aqidah and ibadah are not to be compromised. Thus no matter of how small it
is, a friction should be avoided.
Keywords: Tolerance, (al-samahah), Islam

Islam adalah agama yang mengatur kehidupan manusia menuju kehidupan yang
paripurna. Sebab Islam merupakan suatu sistem kehidupan yang komprehensif dan
tuntas serta mengatur pondasi yang bijak hingga pada hal-hal yang terkecil. Jadi, Islam
sejak awal kedatangannya (empat belas abad) yang lalu pada hakekatnya telah membawa

35
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

ajaran yang bukan hanya membahas satu dimensi kehidupan saja, akan tetapi Islam
membawa ajaran yang multi dimensi dari kehidupan manusia yaitu dimensi teologi,
ibadah, muamalah, moral, filsafat, hukum dan sebagainya.
Islam adalah ajaran yang lengkap, menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata
cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun berinteraksi dengan
lingkungannya. Semua ajaran itu terangkum dalam al-Qur’an dan al-Hadis yang
berbentuk konsep-konsep baik yang global maupun yang bersifat teknis.
Dalam berinteraksi, antara seorang muslim maupun non muslim mempunyai batasan-
batasan tertentu yang telah diatur dan ditetapkan. Telah menjadi suatu ketetapan yang
harus diikuti dan menjadi dasar pijakan dalam kehidupan antar umat beragama. Nilai-
nilai dan konsep toleransi (al-samahah) dalam Islam bersumber dari al-Qur’an dan al-
Hadis. Kaidah toleransi dalam Islam merujuk pada Q.S. al-Baqarah/2: 256.
Masalah yang sering terjadi mengenai penerapan toleransi antar umat beragama
ialah ketika toleransi dalam bidang muamalah berhadapan/bersenggolan dengan
masalah aqidah dan ibadah. Sebagian orang beranggapan bahwa tidak ada masalah jika
mengucapkan selamat natal atau bahkan menghadiri undangan prosesi perayaan hari
raya orang non-muslim dengan anggapan bahwa dasar toleransi atau saling menghargai
antar pemeluk agama yang berbeda. Padahal dalam Islam, konsep toleransi sungguh
sangat jelas bahwa dalam segi aqidah atau ibadah tidak ada toleransi, karena aqidah
adalah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat dikompromi. Oleh karena itu, sekecil
apapun perkara yang dapat merusak dan mencederai aqidah keislaman, maka wajib
dijauhi dan dihindari.
Kata Kunci: Toleransi (al-Samahah), Islam

A. Pendahuluan agama baik muslim maupun non-muslim


untuk dapat menciptakan suasana toleransi
Toleransi dalam Islam merupakan salah
yang dapat mewujudkan suatu kehidupan
satu masalah yang menarik dan penting untuk
harmonis yaitu kerukunan antarumat
dikaji. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar
beragama, padahal pada prinsipnya adalah
dari kalangan umat Islam yang memahami
mengorbankan akidah yaitu akidah Islam.
toleransi dengan menggunakan pemahaman
Di samping paham pluralisme di atas, juga
yang salah dan tidak tepat. Misalnya, kata
tak kalah dengan paham sinkretisme yang
“toleransi” dijadikan pijakan dan landasan
membenarkan semua keyakinan/agama atau
paham pluralisme yang menyatakan bahwa
berprinsip bahwa semua agama sama baiknya.
“semua agama itu benar”. Bahkan tidak
Sinkretis sesuai artinya bersifat mencari
sedikit menjadikannya sebagai alasan untuk
penyesuaian (keseimbangan dan sebagainya)
memperbolehkan seorang muslim untuk
antara dua aliran (agama dan sebagainya).
mengikuti acara-acara ritual non-muslim.
Jadi, sinkretisme merupakan paham atau
Paham pluralisme yang disalahpahami dan
aliran baru yang merupakan perpaduan
disalah­gunakan tersebut seakan-akan meng­
dari beberapa paham (aliran) yang berbeda
arah­kan kepada masing-masing pemeluk

36
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

untuk mencari keserasian, keseimbangan dan Hal ini telah ditegaskan oleh Allah swt dalam
sebagainya.1 Suatu sikap yang sangat dilarang firman-Nya Q.S. al-Baqarah/2: 256, sebagai
dilakukan seorang muslim, seperti halnya berikut:
nikah antar agama yang dijadikan alasan
‫ن‬َ ِ ‫الرّ ْش ُد م‬ ُ ‫ن ق َ ْد تَبَي ّ َن‬ ِ ‫لا ِإ ْكرَاه َ فِي ال ّ ِدي‬
ِ ‫ُوت وَ يُؤْم ِ ْن ب ِال َل ّه‬
ِ ‫ِالطاغ‬ ّ َ ‫الْغَي فَم ْن ي َ ْكفُر ب‬
adalah toleransi padahal itu merupakan sikap
sinkretis yang dilarang oleh Islam. Dalam ْ َ ِّ
‫ام‬
َ ‫ص‬ َ ِ ‫ك ب ِال ْعُرْوَة ِ ال ْوُثْقَى لا انْف‬ َ ‫س‬ ْ ‫فَق َ ِد‬
َ ْ ‫استَم‬
kasus seperti ini, sebagai orang muslim sejati

)٢٥٦( ٌ ‫يع عَلِيم‬ ٌ ِ ‫لَهَا وَال َل ّه ُ َسم‬


harus mempunyai filter dan menempatkan
arti toleransi pada makna yang sebenarnya
sehingga tidak mencampuradukkan antara
Terjemahnya:
yang hak dan yang batil. Wajib hukumnya bagi
Tidak ada paksaan dalam (memasuki)
setiap muslim untuk mengetahui perbedaan
agama (Islam), sesungguhnya telah jelas
antara sikap toleran yang dibenarkan menurut
(per­
bedaan) antara jalan yang benar
ketentuan agama Islam (al-Qur’an dan al-
dengan jalan yang sesat. Barangsiapa
Hadis) dengan sinkretisme. Akhirnya ke­kha­
yang ingkar kepada thaghut dan ber­
wa­tiran yang muncul akan terjadi di mana
iman kepada Allah, maka sungguh dia
seorang muslim memahami arti toleransi yang
telah berpegang (teguh) pada tali yang
kebablasan atau berlawanan dengan ruh Islam
sangat kuat yang tidak akan putus,
itu sendiri.
dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Dengan demikian, sangat diperlukan suatu
Mengetahui.2
kajian khusus mengenai bagaimana sebenar­
nya konsep toleransi (al-samahah) dalam
Berdasarkan ayat di atas, maka dapat
Islam baik dilihat dari sudut pandang al-
dipahami bahwa sesungguhnya tidak ada
Qur’an mau­pun al-Hadis. Suatu kekhawatiran
paksaan dalam menganut keyakinan agama.
mungkin saja terjadi apabila konsep toleransi
Allah swt. menghendaki agar setiap orang
(al-samahah) ini disalah­pahami dan disalah­
dapat merasakan kedamaian. Kedamaian
guna­­kan pada tataran aplikasinya sehingga
tidak mungkin dapat diperoleh dari jiwa yang
yang terjadi adalah pemahaman tentang
tidak damai. Olehnya itu, suatu paksaan dapat
konsep toleransi yang kebablasan. Olehnya itu,
me­ nim­bulkan jiwa tidak damai dan tidak
prinsip kebebasan beragama perlu dikaji untuk
nyaman. Dengan kenyataan seperti inilah,
kepentingan pengetahuan tentang batasan-
maka Allah swt. secara tegas menyatakan
batasan sikap toleran dalam kehidupan
dalam firman-Nya bahwa tidak ada paksaan
ber­agama. Sikap toleran dalam kehidupan
dalam menganut akidah Islam. Allah swt. telah
beragama akan dapat terwujud manakala ada
memberikan pilihan di antara dua jalan yaitu
ke­bebasan beragama dalam masyarakat untuk
jalan yang benar dan jalan yang sesat.
memeluk agama sesuai dengan keyakinannya.
Sebab turun ayat tersebut sebagaimana
Dalam konteks inilah al-Qur’an secara tegas
dinukil oleh Ibnu Katsir yang bersumber dari
melarang untuk melakukan pemaksaan
sahabat Ibnu ‘Abbas adalah seorang laki-laki
terhadap orang lain agar memeluk Islam.
Ansar dari Bani Salim bin ‘Auf yang dikenal

1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pusat Bahasa, Edisi ke IV (Cet. II; Jakarta: PT Gramedia Pustaka 2
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang:
Utama, 2011), h. 1314. PT Karya Toha Putra, 2002), h. 53.

37
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

dengan nama Husain mempunyai dua anak kecuali dengan izin Allah, dan Allah
laki-laki yang beragama Nasrani. Sedangkan ia menimpakan azab kepada orang-orang
sendiri beragama Islam. Husain menanyakan yang tidak mengerti (mempergunakan
kepada Nabi saw.: “Apakah saya harus akalnya).5
memaksa keduanya?” (Untuk masuk Islam),
kemudian turunlah ayat tersebut di atas.3 Ayat di atas secara tegas mengisyaratkan
Sebab turun ayat di atas, Abu Dawud al- bahwa manusia diberikan kebebasan beriman
Sijistani dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari atau tidak beriman. Kebebasan tersebut
Ibnu Abbas, dia berkata: “Dulu ada seorang bukanlah bersumber dari kekuatan manusia
wanita yang setiap kali melahirkan, anaknya melainkan anugerah Allah, karena jika Allah
selalu mati. Lalu dia bernazar jika anaknya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu
hidup, maka dia akan menjadikan anaknya se­ (dalam ayat di atas diisyaratkan dengan
orang Yahudi. Ketika Bani Nadhir diusir dari kata rabb), menghendaki tentulah beriman
Madinah, di antara mereka terdapat anak- semua manusia yang berada di muka bumi
anak orang-orang Anshar. Maka mereka pun seluruhnya. Ini dapat dilakukan-Nya antara
ber­kata: “Kita tidak bisa membiarkan anak- lain dengan mencabut kemampuan manusia
anak kita”. Maka turunlah firman Allah: ‫لا‬ memilih dan menghiasi jiwa mereka hanya
‫“ ِإ ْكرَاه َ فِي‬tidak ada paksaan untuk (memasuki) dengan potensi positif saja, tanpa nafsu dan
agama”.4 dorongan negatif seperti halnya malaikat.
Ayat yang senada juga terdapat firman Tetapi hal itu tidak dilakukan-Nya, karena
Allah swt. dalam Q.S. Yunus/10: 99-100, yaitu tujuan utama manusia diciptakan dengan
sebagai berikut: diberi kebebasan adalah untuk menguji. Allah

‫ض‬ ِ ‫الأر‬
ْ ‫ن م َ ْن فِي‬ َ َ ‫ك لآم‬ َ ّ ‫وَلَوْ شَاء َ رَ ب‬
ُ
menganugerahkan manusia potensi akal agar

َ ّ ‫ت ت ُ ْكر ِه ُ ال َن‬ َ ْ ‫ك ُل ّهُ ْم َجمِيعًا َأف ََأن‬ ُ


mereka menggunakannya untuk memilih.6
‫ح َتّى‬
َ ‫اس‬ Dari kedua ayat di atas dapat dipahami

‫س َأ ْن‬ ٍ ‫ن لِن َ ْف‬ َ ‫)وَمَا‬٩٩( ‫كونُوا مُؤْمِنِي َن‬


َ ‫كا‬ ُ َ‫ي‬ secara jelas bahwa segala bentuk pemaksaan

‫س عَلَى‬ َ ‫ج‬ ْ ِ ّ‫ل الر‬ َ َ‫ن ال َل ّه ِ و‬


ُ َ ‫يجْع‬ ِ ‫ن ِإلا ب ِِإ ْذ‬َ ِ ‫تُؤْم‬
terhadap manusia untuk memilih suatu
agama tidak dibenarkan oleh al-Qur’an.

)١٠٠( ‫ن‬ َ ‫ا َل ّ ِذي‬


َ ‫ن لا ي َ ْعقِلُو‬ Karena pada hakekatnya yang dikehendaki
oleh Allah swt. adalah iman yang tulus tanpa
Terjemahnya: paksaan dan tanpa pamrih. Jika seandainya
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu­ paksaan itu diperbolehkan, maka Allah swt.
lah beriman semua orang yang di muka sebagai Pencipta Yang Maha Kuasa atas segala
bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu sesuatu yang akan melakukan-Nya sendiri,
(hendak) memaksa manusia agar namun Allah tidak melakukannya. Dengan
mereka menjadi orang-orang yang ber­ demikian, maka tugas para nabi adalah hanya
iman? sebatas menyeru, mengajak dan memberikan
Dan tidak seorangpun akan beriman peringatan tanpa ada hak pemaksaan terhadap
umatnya. Selanjutnya manusia dalam posisi

3
Ali al-Shabuni, Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I (t.t: t.p, t.th.), h.
232. 5
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 295.
4
Tim Baitul Kilmah, Ensiklopedia Pengetahuan Al-Qur’an dan 6
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik,
Hadis, Jilid VI (Cet. II; Jakarta: Kamil Pustaka, 2014), h. 22. Edisi Revisi (Cet. I; Jakarta: Kamil Pustaka, 2014), h. 18.

38
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

ini akan dinilai oleh Allah swt. terkait dengan perilaku manusia yang tidak menyimpang dari
sikap dan respons terhadap seruan para nabi aturan, di mana seseorang menghargai atau
yang menyampaikan risalah tersebut. menghormati setiap tindakan yang orang lain
lakukan.9
B. Pembahasan Dari beberapa pengertian di atas, baik
yang dikutip dari bahasa Indonesia, bahasa
1. Definisi Toleransi (al-Samahah)
Arab maupun bahasa Latin, maka dapat
Dalam kamus Bahasa Indonesia kata
disimpulkan bahwa toleransi mempunyai
toleransi merupakan kata benda (nomina).
makna yang sangat luas. Hal ini dapat dilihat
To·le·ran·si mempunyai beberapa pengertian,
dari asal atau akar kata yang sama dengan
yaitu: 1) sifat atau sikap toleran; 2) batas ukur
meng­ alami beberapa perubahan harakat
ٌ‫احة‬
َ َ ‫اح َسم‬
ٌ َ ‫ح َسم‬
ٌ ْ ‫ح َسم‬
َ ُ ‫ح َسم‬
َ َ ‫ َسم‬. Toleransi bisa berarti
untuk penambahan atau pengurangan yang
masih diperbolehkan; 3) penyimpangan yang
memberikan izin, membolehkan, legitimasi,
masih dapat diterima dalam pengukuran
lisensi, maaf, kelapangan dada, murah hati
kerja. Ber·to·le·ran·si merupakan kata kerja
dan kedermawanan. Olehnya itu, toleransi
(verb), jadi bertoleransi berarti bersikap
dalam beragama berarti saling menghormati
toleran. Demikian juga halnya dengan kata
dan berlapang dada terhadap pemeluk agama
me·no·le·ran·si. Kata ini juga merupakan
lain, tidak memaksa mereka untuk meng­
kata kerja (verb) yang berarti mendiamkan;
ikuti agamanya dan bahkan tidak men­cam­
membiarkan.7
puri sesuatu apapun dalam urusan agama
Dalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia,
kata toleransi berasal dari asal kata: ‫ح‬ َ َ ‫ َسم‬yang
masing-masing. Toleransi merupakan suatu
sikap atau perilaku manusia yang tidak
berarti: memberikan, memberi izin, dan mem­
bolehkan. Jika kata ‫ح‬ َ ُ ‫) َسم‬huruf mim nya berbaris
me­ nyimpang dari aturan agama, di mana
seseorang saling menghargai, menghormati,
dhammah), maka diartikan: toleran atau murah
hati. Kata ‫ح‬ ٌ ْ ‫( َسم‬huruf mim nya berbaris sukun)
dan memberikan ruang gerak yang begitu
luas bagi pemeluk agama untuk memeluk
pun diartikan sebagai toleransi, kata ini juga
memiliki banyak persamaan, = ‫جوَا ٌد‬ َ = ‫الص ْدر‬َّ ‫ب‬ ُ ‫ح‬ْ َ‫ر‬
agama­nya masing-masing tanpa adanya unsur
َ
ٌ ‫ريم‬
ْ ‫(ك‬kelapangan dada, yang dermawan, murah
paksaan dari pemeluk agama lain. Dengan
hati). Kata ‫كر َ ٌم‬ َ ‫جو ٌد‬ َ ُ ‫حابَة‬
ْ ُ = ‫ص ْدر‬ َ َ‫احةٌ ر‬
َ َ ‫ = َسم‬semuanya
demikian, masing-masing pemeluk agama
dapat menjalankan ritual agamanya dengan
diartikan sebagai toleransi, kelapangan dada,
dan kedermawanan. Adapun kata: ٌ‫احة‬ َ َ ‫اح = َسم‬ ٌ َ ‫َسم‬
rasa kedamaian dan pada tataran selanjutnya
akan menciptakan suasana kerukunan hidup
di samping artinya toleransi, kata ini juga me­
antarumat beragama yang harmonis, jauh
ngandung arti: izin, legitimasi, lisensi, maaf,
dari pertikaian dan permusuhan. Sikap saling
keadaan lapang dada dan kedermawanan.8
memberi maaf, memahami, dan menjunjung
Toleransi berasal dari kata “ tolerare ” yang
tinggi hak orang lain untuk dapat beribadah
berasal dari bahasa latin yang berarti dengan
sesuai dengan keyakinan yang dimilikinya.
sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian
Bahkan, dalam konteks pergaulan antarumat
toleransi secara luas adalah suatu sikap atau
beragama, Islam memandang bahwa sikap

7
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Ibid., h. 1478.

8
Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer tidak menghargai, tidak menghormati bahkan
Arab-Indonesia (Cet. I; Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok 9
http://revelationskhairurrizal.blogspot.co.id/search/label/Ayat-
Pesantren Krapyak, 1996), h. 1083-1086. ayat tentang anjuran bertoleransi.

39
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

melecehkan penganut agama lain, termasuk untuk melahirkan dan menebarkan kebencian
penghinaan terhadap simbol-simbol agama dan permusuhan.
mereka dianggap sebagai bentuk penghinaan Kebebasan menjalankan agama baik
ter­hadap Allah swt. sebagaimana telah ter­ musyrik maupun ahlu al-kitab adalah bagian
cantum dalam firman-Nya Q.S. al-An’am/6: dari syariat Islam. Kebebasan itu tercermin
108 sebagai berikut: dalam Q.S. al-Kafirun/109: 6. Pada ayat ter­
ِ ‫ن ال َل ّه‬ ِ ‫ن م ِ ْن ُدو‬ َ ‫ وَلا ت َ ُس ُب ّوا ا َل ّ ِذي‬bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Dalam
akhir disebutkan: ‫�لكم دينكم ولي دين‬yang artinya:
َ ‫ن ي َ ْد ُعو‬
‫ل‬ِ ّ ‫ك ز ََيّ َن ّا ل ِ ُك‬ َ ِ ‫كذَل‬ َ ‫ ف َيَسبوا الل ّه َ عَ ْدوا بِغَير ِ عِلْم‬Q.S. al-Baqarah/2: 256 dapat dipahami bahwa
ٍ ْ ً َ ُُّ
‫جعُهُ ْم ف َيُن َب ّ ِئُه ُ ْم‬ِ ‫ُأ َ ّمةٍ عَمَلَهُ ْم ثُم ّ ِإلَى رَ ّب ِه ِْم مَر‬
ْ َ
sepanjang sejarah dan hal ini merupakan bukti

)١٠٨( ‫ن‬ ُ َ
َ ‫ بِمَا كانُوا ي َ ْع َملو‬memaksa penganut agama lain untuk masuk
otentik bahwa tidak pernah terjadi umat Islam

Islam.
Terjemahnya:
Kebebasan beragama yang diberikan
Dan janganlah kamu memaki sembahan-
Islam mengandung tiga makna:
sembahan yang mereka sembah selain
1. Islam memberikan kebebasan kepada
Allah, karena mereka nanti akan
umat beragama untuk memeluk agamanya
memaki Allah dengan melampaui batas
masing-masing tanpa ada ancaman dan
tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami
tekanan. Tidak ada paksaan bagi orang
jadi­kan setiap umat menganggap baik
non-muslim untuk memeluk agama Islam.11
pekerjaan mereka, kemudian kepada
2. Apabila seseorang telah menjadi muslim,
Tuhan merekalah kembali mereka, lalu
maka ia tidak sebebasnya mengganti
Dia mem­beritakan kepada mereka apa
agama­­ nya, baik agamanya itu dipeluk
yang dahulu mereka kerjakan.10
sejak lahir maupun karena konversi.
3. Islam memberi kebebasan kepada pe­
Dari uraian di atas secara jelas telah mem­
me­­luknya menjalankan ajaran agamanya
berikan gambaran yang komprehensif tentang
sepanjang tidak keluar dari garis-garis
bagaimana sikap yang harus dikedepankan
syariah dan aqidah.12
oleh masing-masing pemeluk agama yang
notabenenya berbeda dalam keyakinan dan
Suatu ketika Rasulullah saw. menerima se­
simbol-simbol keagamaan yang dianut atau
jumlah pembesar delegasi dari Kristen Najran
dipercayainya.
bertamu di Masjid Nabawi. Ketika sampai
Firman Allah swt. dalam Q.S. al-
saatnya untuk beribadah, maka Rasulullah
Hujurat/49: 13 secara jelas dikatakan bahwa
saw. memberi kesempatan kepada mereka
manusia diciptakan oleh Allah swt. bersuku-
beribadah. Bahkan, dengan senang hati Nabi
suku dan berbangsa-bangsa agar saling kenal-
saw. mengizinkan delegasi tersebut untuk
me­­ngenal di antara sesama. Perbedaan yang
beribadah di Masjid Nabawi, inilah tanda
ada me­rupakan suatu kodrat dan sunnatullah
harus selalu dijaga dan dipelihara untuk ke­ Muddathir Abdurrahim, dalam The Human Rights Tradition in
11

Islam (London: Praeger, Westport, Connecticut, 2005), h. 170-


maslahatan bersama. Perbedaan bukan berarti 171.
12
Sulieman Abdurrahman al-Hageel, Human Right in Islam and
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 190.
10 Refutation of the Misconceived Allegation Associated with These
Right (Riyadh: Dar Eshbelia, t.th), h. 82-83.

40
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

bahwa syariat Islam tidak menghalangi umat Terjemahnya:


agama lain melakukan ibadahnya, kalau perlu Dan apabila mereka mendengar perkata­
(dalam keadaan darurat) mereka diberi izin an yang tidak bermanfaat, mereka ber­
untuk beribadah dalam masjid. 13
paling daripadanya dan mereka berkata:
Dari beberapa paparan di atas dapat “Bagi kami amal-amal kami dan bagi­
dipahami bahwa Islam sangat menjunjung mu amal-amal kamu, kesejahteraan
tinggi toleransi. Namun toleransi yang di­mak­ atas dirimu, kami tidak ingin (bergaul)
sud adalah dalam bidang berinteraksi dan ber­ dengan orang-orang jahil.16
muamalah secara baik dengan non-muslim.
Toleransi tanpa merayakan perayaan mereka Konsekuensi dari konsep ini adalah
dan ikut campur serta dalam ibadah mereka. lahirnya/terwujudnya kerukunan antar umat
Agama Islam memiliki prinsip yang sangat beragama.
tegas mengenai masalah toleransi ini, antara
lain Firman Allah swt. yang termaktub dalam 2. Analisis Toleransi Terhadap Non-
Q.S. al-Kafirun/109: 6, Q.S. al-Isra’/17: 84 dan Muslim dan batasan-batasannya
Q.S. al-Qashash/28: 55. Islam adalah agama yang toleran

ِ ِ ِ ُ ِ ُ َ
)٦( ‫ �لك ْم دينُك ْم وَل َي دين‬salah satu hadisnya, yaitu sebagai berikut:
(samahah). Rasulullah saw. bersabda dalam

Terjemahnya: ِ ْ ‫ب ال ّ ِد ي‬
‫ن‬ َ ‫س َل ّ َم َأ‬
ُّ ‫ح‬ َ َ‫لي الله ُ عَلَيْه ِ و‬
َّ ‫ص‬ َ ِ‫ل ال َن ّب ِ ّي‬ ُ ‫وَق َو‬
ْ
)‫الس ْم َحة ُ (رواه البخاري‬ ّ َ ُ ‫ِإلَى الله ِ اَلْحَنِيْف ِ َي ّة‬
Untukmu agamamu, dan untukkulah,
17
agamaku.14
Artinya:
ُ ‫ل عَلَى َشاكِلَتِه ِ فَر َ ُب ّك ُ ْم أَ ع ْلَم‬
ُ َ ‫قُلْ ك ُ ّلٌ يَعْم‬ Agama yang paling dicintai di sisi Allah

)٤٨( ‫بِمَنْ هُو َ أَ هْدَى َسب ِيلا‬


adalah al-hanifiyyah dan al-samhah
(H.R. Bukhari).
Terjemahnya:
Katakanlah (Muhammad): “Setiap orang Al- Hanifiyyah maksudnya lurus dan benar,
berbuat sesuai pembawaan (keada­an­ al-samhah maksudnya penuh kasih sayang dan
nya) masing-masing”. Maka Tuhan­mu toleransi. Jadi, agama Islam pada hakekatnya
lebih mengetahui siapa yang lebih benar agama yang berorientasi pada semangat men­
jalannya.15 cari kebenaran secara toleran dan lapang.
Dalam konteks hadis lain disebutkan dengan

‫لَنَا‬ ُ ‫وَ ِإذَا َسمِعُوا ال َل ّ ْغو َ َأ ْع َر‬


‫ضوا َعنْه ُ وَق َالُوا‬
lafadz yang berbeda namun memiliki makna
yang sama. Rasulullah saw. bersabda:
‫لا‬ ‫لام عَلَي ْ ُك ْم‬
ٌ ‫س‬ َ ‫َأ ْعمَالُنَا وَ�ل َ ُك ْم َأ ْعمَا�ل ُ ُك ْم‬ ‫َسم ْ َحةٍ (رواه إمام‬ ٍ‫ْت بِحَنِيفِي ّة‬ ِ ‫وَ َأن ّ ِ ْي ُأ ْر‬
ُ ‫سل‬
َ ْ
)٥٥( ‫نَبْتَغِي الْجَا ِهلِي َن‬ )‫أحمد بن حنبل‬

13
Abdillah al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, Juz IV (Qahirah: Dar al- 16
Ibid., h. 552.
Sya’b, 1372 H), h. 4. 17
Imam Abi Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-
14
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 919. Mughirah bin Bardizbah al-Bukhary al-Ja’fiy, Shahih Bukhari, Juz I
15
Ibid., h. 396. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), h. 15.

41
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

Artinya: • Kafir musta’man, yaitu orang kafir


Dan sesungguhnya aku (Rasulullah yang dijamin keamanannya oleh kaum
saw) diutus untuk agama yang penuh muslimin;
dengan kebenaran (lurus) dan kasih Masing-masing jenis orang kafir ini
sayang (toleransi) (H.R. Imam Ahmad memiliki hukum dan sikap yang berbeda-beda.
bin Hanbal). Namun secara garis besar, jika di kelompokkan
lagi, maka terbagi menjadi dua kelompok besar
Ahmad ibn Faris dalam kitab Al-Mu’jam sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas r.a:
al-Maqâyis al-Lughah, mengartikan kata “Dahulu kaum musyrikin terhadap Nabi saw.
samâhah dengan suhulah (mempermudah).18 dan kaum mukminin, mereka terbagi menjadi
Pengertian ini dikuatkan oleh Ibn Hajar dua kelompok: musyrikin ahlul harbi, mereka
al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bâri yang memerangi kami dan kami memerangi mereka
mengartikan kata al-samhah dengan kata dan musyrikin ahlul ‘ahdi, mereka tidak me­me­
al-sahlah (mudah).19 Kedua arti al-samahah rangi kami dan kami tidak memerangi mereka”
tersebut dalam me­ maknai sebuah riwayat (HR. Bukhari).
ّ َ ُ ‫ن ِإلَى الله ِ اَلْحَنِيْف ِ َي ّة‬
yaitu, ُ ‫الس ْم َحة‬ ِ ْ ‫ب ال ّ ِد ي‬
ُّ ‫ح‬ َ
َ ‫أ‬Perbedaan Ahlu Zimmah20 dalam istilah Islam ialah
arti ini sudah barang tentu mempengaruhi orang-orang yang di luar agama Islam. Kata
pemahaman penggunaan kata-kata ini baik zimmah juga berarti perjanjian, jaminan dan
dalam  bahasa Arab maupun bahasa lainnya. keamanan. Mereka dinamakan seperti ini
Sebelum membahas batasan-batasan karena memiliki jaminan perjanjian terhadap
toleransi terhadap non-muslim, maka terlebih Allah, Rasul-Nya, dan umat Islam untuk hidup
dahulu akan dibahas mengenai pembagian/ dengan aman dan tenteram di bawah per­
klasifikasi non-muslim. Menurut para ulama lindungan Islam dalam lingkungan masyarakat
non-muslim terbagi menjadi beberapa Islam. Dengan pengertian ini, maka ahlu
kelompok yaitu: zimmah memiliki hak dan kewajiban yang
• Kafir harbi atau kafir muharib, yaitu orang sama dengan warga umat Islam.
kafir yang berada dalam peperangan dan Istilah ahlu zimmah, secara lughah,
permusuhan terhadap kaum muslimin; zimmah berarti al-‘ahdu (perjanjian), al-
• Kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup aman (keamanan), al-kafalah (jaminan). Se­
di tengah kaum muslimin di bawah peme­ ba­gai­mana sabda Nabi saw.: “Al-muslimuna
rintah muslim dan mereka mem­ bayar tatakafa’ dima-uhum wa yas’a bi zimmahtihim
jizyah setiap tahun; adnahum”. Sedangkan secara istilah berarti
• Kafir mu’ahhad, yaitu orang kafir yang suatu golongan yang mengadakan perjanjian
sedang berada dalam perjanjian dengan untuk men­dapatkan keamanan, perlindungan
kaum muslimin dalam jangka waktu ter­ ter­hadap harta, agama dan jiwa. Karenanya,
tentu; mereka disebut juga dengan istilah mu’ahid
(yang mengadakan perjanjian damai). Ahlu
18
Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab Indonesia zimmah adalah non-muslim yang menjadi
Terlengkap, Edisi ke II (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progresif, warga negara, yang hidup bersama kaum
1997), h. 657.
19
Abdul Malik Salman, Al-Tasamuh Tijah al-Aqaliyyat ka Daruratin li muslim di negeri Islam, membayar jizyah
al-Nahdah (Kairo: The International Institute of Islamic Thought, Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Juz IV (Beirut: Dar al-
20

1993), h. 2. Ma’rifah, 1973), h. 123.

42
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

dan taat kepada hukum-hukum Islam kecuali dengan haknya. Begitu juga dengan toleransi
menyangkut praktek-praktek hukum privat dalam beragama. Agama Islam melarang
yang diakui bagi mereka seperti hukum ten­ keras berbuat zalim terhadap agama selain
tang akidah, ibadah, nikah, makanan, minuman Islam dengan cara merampas hak-hak agama
dan pakaian.21 lain. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-
Secara normatif-doktrinal, Islam sangat Mumtahanah/60: 8-9 sebagai berikut:
ُ ‫ن لَم يقَاتِلُو‬ ُ ‫لا ينْه‬
‫ك ْم‬ ُ ْ َ ‫ن ا َل ّ ِذي‬ ِ ‫اك ُم ال َل ّه ُ َع‬ َ َ
menghargai dan menjunjung tinggi hak non-

‫ك ْم م ِ ْن دِيَار ُِك ْم‬ ُ ‫يخْر ُِجو‬ ُ ‫ن وَل َ ْم‬ ِ ‫فِي ال ّ ِدي‬


muslim, bahkan Rasulullah saw. melarang
penin­dasan dalam bentuk anarkis terhadap

‫ب‬ ّ ُ ِ ‫يح‬
ُ َ ‫طوا ِإلَيْه ِْم ِإ َ ّن ال َل ّه‬ ُ ‫س‬ ِ ‫َأ ْن تَبَرّو ُه ْم وَت ُ ْق‬
ُ
ahlu Zimmah, kecuali beberapa hal, di antara­

‫ن‬َ ‫ن ا َل ّ ِذي‬ ِ ‫اك ُم ال َل ّه ُ َع‬ُ ‫)إ َن ّمَا ينْه‬٨( ‫طي َن‬ ِ ‫س‬ ِ ‫ال ُْم ْق‬
nya adalah hak perlindungan, keamanan,
keselamatan, perlindungan terhadap jiwa, َ َ ِ
harta dan kehormatan, sehingga para ulama ‫ك ْم م ِ ْن دِيَار ُِك ْم‬ ُ ‫جو‬ ُ َ ‫ن وَ َأ ْخر‬ ِ ‫ك ْم فِي ال ّ ِدي‬ ُ ‫ق َاتَلُو‬
‫ِك ْم َأ ْن تَو َل ّوْ ُه ْم وَم َ ْن‬ ُ ‫ظا َهروا عَلَى ِإ ْخراج‬
ُ َ َ‫و‬
sepakat bahwa membunuh kaum ahlu zimmih
adalah termasuk dosa besar.22 َ
ّ َ ‫ك ُهم‬ ُ
)٩( ‫ن‬ َ ‫الظال ِ ُمو‬ ُ َ �َِ‫يَتَو َل ّه ُ ْم ف َأول ئ‬
Sangat urgen untuk dikaji mengenai bagai­
mana kaidah-kaidah bermuamalah dengan
orang non-muslim yang termasuk ahlul ‘ahdi, Terjemahnya:
yang tidak dalam kondisi berperang dengan Allah tidak melarang kamu untuk ber­
kaum muslimin khususnya di negeri tercinta buat baik dan berlaku adil terhadap
ini. orang-orang yang tidak memerangimu
Di antara bentuk penghormatan al-Qur’an dalam urusan agama dan tidak mengusir
(Islam) terhadap agama lain adalah disyariat­ kamu dari negerimu. Sesungguhnya
kannya masalah jizyah. Hal ini ditegaskan Allah mencintai orang-orang yang ber­
dalam Q.S. al-Taubah/9: 29 yang secara garis laku adil. Sesungguhnya Allah hanya
besar dapat dikatakan bahwa jizyah adalah melarang kamu menjadikan mereka
salah satu bentuk pengakuan dan peng­ sebagai kawanmu orang-orang yang
hormatan terhadap eksistensi agama lain yang me­ me­rangimu dalam urusan agama
hidup berdampingan dengan kaum muslim.23 dan mengusir kamu dari negerimu,
Agama Islam adalah agama yang sangat dan membantu (orang lain) untuk me­
menjunjung tinggi keadilan. Keadilan bagi ngusir­mu. Barangsiapa menjadikan
siapa saja, yaitu menempatkan sesuatu sesuai mereka sebagai kawan, maka mereka
tempatnya dan memberikan hak sesuai itulah orang-orang yang zalim. 24

21
Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyah, tahqiq Taha Abd al-Rauf Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-
Sa’ad, dalam Al-Tasamuh al-Islami (Baina Nazaiyah wa Tatbiq),
Juz IV (Kairo: al-Kuliyyah al-Azhariyah, t.th), h. 254. Sa’diy rahimahullah menafsirkan, “Allah tidak
22
Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al- melarang kalian untuk berbuat baik, me­nyam­
Mughirah ibn al-Bardizbah al-Bukhari, Shahih Bukhari, Bab Ilmu
Man Qatala Mu’ahad bi Ghairi Jaram, Juz III, dan VI (Semarang:
bung silaturrahmi, membalas kebaikan, ber­
Maktabatuh wa Matba’atu Thaha Putra, t.th), h. 1155 dan 2533; buat adil kepada orang-orang musyrik, baik
Abu Abdurrahman bin Syu’ayb al-Nasaiy, Sunan al-Nasaiy al-
dari keluarga kalian dan orang lain. Selama
Mujtaba, Bab Man Qatala Mu’ahad, Juz II (Mesir: Al-Babiy al-
Halabiy wa Awladuh, 1964), h. 896.
23
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Op. Cit., h. 24. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 803.
24

43
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

mereka tidak memerangi kalian karena agama menolak (keganasan) sebagian manusia
dan selama mereka tidak mengusir kalian dengan sebagian yang lain, tentulah telah
dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-
menjalin hubungan dengan mereka karena gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi
menjalin hubungan dengan mereka dalam dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak
keadaan seperti ini tidak ada larangan dan disebut nama Allah”. Frasa tersebut diberikan
tidak ada kerusakan.”25 pen­jelasan oleh Ibnu ‘Asyur bahwa, seandainya
Telah dijelaskan di dalam beberapa ayat tidak ada pembelaan manusia terhadap
al-Qur’an bagaimana Islam memberikan peng­ tempat-tempat ibadah kaum muslimin,
hormatan terhadap agama lain. Di antara ayat niscaya kaum musyrikin akan melampaui
tersebut termaktub dalam firman Allah swt. batas sehingga melakukan agresi pula ter­
Q.S. al-Hajj/22: 40 sebagai berikut: hadap wilayah-wilayah tetangga mereka

‫ق ِإلا‬ٍّ ‫ح‬َ ِ ‫دِيَارِ ِه ْم بِغَيْر‬ ‫م ِ ْن‬ ‫ن ُأ ْخر ُِجوا‬ َ ‫ا َل ّ ِذي‬


yang boleh jadi penduduknya menganut

َ ّ ‫وَلَوْلا دَف ْ ُع ال َل ّه ِ ال َن‬


‫اس‬ ‫َأ ْن يَقُولُوا رَ ُب ّنَا‬
ُ ‫ال َل ّه‬
agama selain agama Islam. Agama selain
Islam tersebut juga bertentangan dengan ke­

‫صوَام ِ ُع وَ بِي َ ٌع‬ َ ‫ت‬ ْ َ ‫ض لَه ُ ِدّم‬ ٍ ‫ب َ ْع َض ُه ْم بِب َ ْع‬ per­caya­


an kaum musyrikin, sehingga akan

ِ ‫م ال َل ّه‬ َ ٌ َ ‫صلَو‬
ُ ْ‫ج ُد ي ُ ْذكر ُ فِيهَا اس‬ ِ ‫سا‬
َ َ ‫ات وَم‬ َ َ‫و‬
diroboh­ kan pula biara-biara, gereja-gereja,
dan sinagog-sinagog, serta masjid-masjid.

َ ‫ره ُ ِإ َ ّن ال َل ّه‬
ُ ‫ر َ ّن ال َل ّه ُ م َ ْن يَن ْ ُص‬ َ ‫كثِيرًا وَلَيَن ْ ُص‬ َ Upaya kaum musyrikin tersebut semata-mata

)٤٠( ٌ ‫ِي َع ِزيز‬ ٌ ّ ‫لَقَو‬


ingin menghapuskan ajaran tauhid dan ajaran-
ajaran yang bertentangan dengan ideologi
Terjemahnya: kemusyrikan.27
(yaitu) orang-orang yang telah diusir Pendapat ini jelas sekali memosisikan
dari kampung halamannya tanpa alasan bahwa agama-agama selain Islam juga harus
yang benar, hanya karena mereka mendapatkan penghormatan yang sama dari
berkata: “Tuhan kami ialah Allah”. Se­an­ komunitas kaum muslim. Tempat-tempat
dai­nya Allah tidak menolak (ke­ganasan) ibadah mereka, simbol-simbol agama yang
sebagian manusia dengan sebagian mereka sakralkan juga harus mendapatkan
yang lain, tentulah telah diroboh­ kan peng­hormatan. Ayat tersebut dengan jelas
biara-biara Nasrani, gereja-gereja, menegaskan bahwa toleransi beragama akan
rumah-rumah ibadah orang Yahudi ter­
wujud dalam kehidupan bermasyarakat
dan masjid-masjid, yang di dalamnya manakala ada sikap saling menghormati
banyak di­sebut nama Allah. Allah pasti khususnya terhadap keyakinan agama masing-
akan menolong orang yang menolong masing. Dari sinilah al-Qur’an melarang keras
(agama)-Nya. Sungguh Allah benar- umat Islam untuk melakukan penghinaan ter­
benar Maha kuat lagi Maha perkasa.26 hadap keyakinan dan simbol-simbol kesucian
agama lain. Hal ini termaktub dalam firman
Ungkapan yang jelas berkaitan dengan Allah swt. Q.S. al-An’am/6: 108.
tema ini adalah, “Sekiranya Allah tidak Pengakuan dan penghormatan terhadap
25
Taisir Karimir Rahman (Cet. I; Beirut: Da Ibnu Hazm, 1424 H), h. eksistensi agama lain sekali lagi perlu
819.
26
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 469. 27
Ibnu ‘Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir (t.t: t.p, t.th), XII/52.

44
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

digarisbawahi bukan berarti mengakui ke­ Bakar meminta bantuan. Fakta sejarah ini
benaran ajaran agama tersebut. Dalam sejarah pun menunjukkan bahwa untuk keperluan
di­dapati tokoh seperti Kaisar Hiraqlius dari strategis, Rasulullah saw. tidak merasa can­
Byzantium dan al-Muqauqis penguasa kopti ggung meminta atau memperoleh bantuan dari
dari Mesir mengakui eksistensi kerasulan Nabi umat agama lain, sepanjang orang profesional
Muhammad saw. Namun pengakuan tersebut di bidangnya, jujur dan mau bekerjasama
tidak secara otomatis menjadikan mereka untuk perdamaian kemanusiaan.
memeluk Islam.28 Semangat Islam adalah untuk membangun
Prototipe hubungan antar umat bergama persatuan dan kesatuan antar sesama manusia.
yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hal ini dapat terwujud jika ada semangat per­
mengambil bentuk lebih konkret lagi pada saudaraan yang dilakukan baik antar sesama
zaman keemasan sejarah Islam, yang pernah muslim maupun antar non-muslim. Dasar
diraih di Bagdad di bawah dinasti Abbasiyah. pijakan persaudaraan antar sesama muslim
Zaman keemasan yang berlangsung sampai dapat dilihat dalam Q.S. al-Hujurat/49: 10,
pada tahun 1258 M itu, ditandai dengan sedangkan persaudaraan dengan non-muslim
keterbukaan umat Islam bergaul dengan umat ter­dapat dalam firman Allah swt Q.S. al-
agama lain. Peradaban zaman keemasan itu Hujurat/49: 13. Jalinan persaudaraan dan
benar-benar dirancang secara cerdas, diawali toleransi antar umat beragama sama sekali
dengan penerjemahan buku-buku filsafat dan tidak dilarang oleh Islam, selama masih
sains yang berasal dari Yunani, Persia, India dalam tataran kemanusiaan dan kedua belah
dan Cina. Khalifah Al-Ma’mun mendirikan pihak dapat saling menghormati hak-haknya
Lembaga Penerjemahan yang dikepalai masing-masing. Hal ini telah termaktub dalam
oleh Hunain Ibn Ishaq seorang Kristen yang firman Allah swt Q.S. al-Mumtahanah/60: 8.
profesional di bidang bahasa. Hunain pernah Di samping itu pula al-Qur’an telah
menyatakan bahwa: “Bagiku ada dua hal, yaitu memberikan pesan agar masing-masing agama
agama dan profesi. Agama saya mengharuskan mendakwahkan agamanya dengan cara-cara
berbuat baik walaupun kepada musuh, yang baik (Q.S. al-Nahl/16: 125). Dalam urusan
apatahlagi terhadap teman-teman kami. Dan dunia, baik umat muslim maupun non-muslim
profesi saya adalah untuk kepentingan umat diberikan peluang yang seluas-luasnya untuk
manusia”.29 saling bekerjasama untuk mencapai keadilan,
Al-Bukhari meriwayatkan dalam suatu persamaan dan kesejahteraan manusia.
hadis di mana Rasulullah saw. mempergunakan Sebaliknya, untuk urusan akhirat, petunjuk/
seorang pemandu jalan profesional dari suku hidayah adalah hak mutlak Allah swt.
Bani al-Dayl ‫ي‬ ِ ّ ِ ‫ن ا ْلقُر َيْش‬
ِ ْ ‫( وَ ُهو َ عَلَي ال ّ ِدي‬penganut Olehnya itu di dalam Islam tidak dibenarkan
keyakinan jahiliyah Quraisy).30 Peristiwa ini memaksakan suatu kehendak kepada orang
terjadi ketika memandu jalan Rasulullah saw. lain untuk menganut Islam. Perintah dalam al-
berhijrah ke Madinah, beliau bersama Abu Qur’an pun sangat jelas, ia menganjurkan agar
mencari titik temu dan titik singgung antar
28
Ali Mustafa Yaqub, Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Qur’an pemeluk agama. Al-Qur’an menganjurkan agar
dan Hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 46.
29
Lihat: Philip K Hitti, History of the Arabs (London: The Macmillan di dalam interaksi sosial bila tidak ditemukan
Press Ltd, 1973), h. 313. persamaan, maka hendaknya masing-masing
30
Al-Bukhari, Juz III, Op. Cit., h. 1419.

45
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

mengakui keberadaan pihak lain dan tidak Al-Qur’an menuntun kepada umat Islam
perlu saling menyalahkan. Hal ini dapat dilihat dalam berinteraksi sosial khususnya dengan
dalam firman Allah swt Q.S. Saba’/34: 24-26 non-muslim untuk menyatakan bahwa,
sebagai berikut: “Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada

‫ض‬ ِ ‫الأر‬
ْ َ‫ات و‬ ِ َ‫الس َماو‬ َّ ‫ن‬ َ ِ ‫ق ُْل م َ ْن يَرْزُق ُُك ْم م‬
di atas kebenaran atau kesesatan yang nyata”.

‫اك ْم لَعَلَى ُه ًدى َأ ْو فِي‬ ُ ّ‫ل الل ّه ُ وإ َنّا َأو ِإ ي‬


َِ َ ِ ُ‫ق‬
Mungkin kami yang benar mungkin juga
َ ْ kalian, dan mungkin kami yang salah dan

‫ن َع َم ّا‬َ ‫)ق ُْل لا ت ُ ْس َألُو‬٢٤( ‫ل مُب ِي ٍن‬ ٍ ‫ضلا‬ َ


mungkin juga kalian.33

‫)ق ُْل‬٢٥( ‫ن‬ َ ‫ل َع َم ّا ت َ ْع َملُو‬ ُ ‫َأ ْجر ْمنَا وَلا ن ُ ْس َأ‬


Pandangan tersebut juga didukung oleh
َ penggunaan redaksi dalam ayat di atas

َ ‫ق وَ ُهو‬ ِ ّ َ ‫ح بَيْنَنَا ب ِالْح‬ ُ َ ‫ي َجْم َ ُع بَيْنَنَا رَ ُب ّنَا ثُ َم ّ ي َ ْفت‬


yang menyatakan bahwa, “Kamu tidak akan

)٢٦( ُ ‫اح ال ْعَلِيم‬ ُ ّ ‫الْف َ َت‬


ditanyai tentang dosa yang telah kami perbuat
(ajramna)”. Kata dosa tersebut diungkap
Terjemahnya: dalam bentuk kata kerja masa lampau yang
Katakanlah (Muhammad), “Siapakan mengandung makna telah terjadinya apa yang
yang memberi rezeki kepadamu dari dinamai dosa tersebut. Sedangkan ketika
langit dan dari bumi?” Katakanlah, melukiskan perbuatan yang dilakukan oleh
“Allah,” dan sesungguhnya kami atau mitra bicara dalam hal ini adalah non-muslim,
kamu (orang-orang musyrik), pasti maka perbuatan mereka tidak dilukiskan
berada dalam kebenaran atau dalam ke­ dengan dosa melainkan dengan, “Tentang apa
se­satan yang nyata. Katakanlah, “Kamu yang (sedang atau akan) kamu perbuat (‘amma
tidak akan dimintai tanggungjawab atas ta’malun)”. Untuk itulah dalam ayat terakhir
apa yang kami kerjakan dan kami juga di atas menegaskan bahwa masing-masing
tidak akan dimintai tanggungjawab atas akan mempertanggungjawabkan pilihan­
apa yang kamu kerjakan”. Katakanlah, nya. Biarlah Allah nanti yang akan menjadi
“Tuhan kita akan mengumpulkan kita Hakim yang adil di akhirat.34 Dengan alasan
semua, kemudian Dia memberi ke­ ini pulalah al-Qur’an melarang kaum muslim
putusan antara kita dengan benar. Dan untuk mencerca tuhan-tuhan atau sembahan-
Dia Yang Maha Pemberi keputusan, sembahan non-muslim.
Maha Mengetahui”.31 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
toleransi yang ingin dibangun oleh Islam
Gaya bahasa yang digunakan dalam ayat adalah sikap saling menghormati antar
di atas oleh sementara ulama disebut dengan pemeluk agama yang berlainan dan hidup
istilah uslub al-insaf yaitu si pembicara berdampingan dalam masyarakat yang
tidak secara tegas mempersalahkan mitra majemuk tanpa mencampuradukan hal-
bicara­nya, bahkan boleh jadi mengesankan hal yang berkaitan dengan i’tiqadiyah atau
kebenaran mereka.32 Ayat di atas tidak akidah. Hal ini disebabkan karena persoalan
menyata­ kan kemutlakan kebenaran ajaran akidah merupakan sesuatu yang paling
Islam dan kemutlakan kesalahan agama lain. mendasar pada setiap agama dari masing-
masing pemeluk agama, sehingga bukan
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 610-611.
31 33
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Op. Cit., h.26
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, XI, h. 380.
32 34
Ibid.

46
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

menjadi wilayah untuk bertoleransi dalam arti Artinya:


saling melebur dan menyatu. Dengan kata lain, (Kenapa engkau memberikannya) kepada
bahwa “tidak ada toleransi dalam masalah Yahudi? Semoga Allah memperbaiki
akidah”. kondisimu.
Toleransi hanya berlaku pada tataran/
wilayah muamalah atau interaksi dalam hubu­ ‘Abdullah bin ’Amru lalu berkata:

ِ ْ ‫حيْوَة َ ب‬
‫ن‬ َ ‫ح َ ّدثَنِي َأبِي ث َنَا‬ َ ِ ‫ح َ ّدث َنَا َعب ْ ُد الله‬ َ
ngan sosial antar sesama manusia. Misal­nya,

‫ن زِيَادِ ا ْلاَل ْهَانِي‬ ِ ْ ‫ش َُر ْيح ٍ ث َنَا بَقِي ّة َ ث َنَا مُحَم ّ ُد ب‬


Islam menganjurkan berbuat baik terhadap
tetangga meskipun non-muslim, tidak boleh
َ َ
‫ل‬َ ‫سو‬ ُ ‫ت َأبا َ ُأمَامَة َ يَقُو‬
ُ ‫ل َسم ِ ْع‬ ُ ‫ل َسم ِ ْع‬ َ ‫ق َا‬
ْ ُ َ‫ت ر‬ ْ
berbuat zalim terhadap keluarga dan kerabat

ِ‫س َل ّ َم يُوْ ِصي ب ِالْجَار‬ َ َ‫ص َل ّى الله ُ عَلَيْه ِ و‬ َ ِ ‫الله‬


meskipun non-muslim, Islam melarang
keras membunuh non-muslim kecuali jika
‫سي ُ ّو ّرِثُه ُ (رواه أحمد بن‬ َ ُ ‫ت َأ َن ّه‬ َ ‫ح َتّى‬
ُ ْ ‫ظنَن‬ َ
mereka memerangi kaum muslimin dan Islam

)‫حنبل‬
menganjurkan berbuat adil dalam hukum dan
35
peradilan terhadap non-muslim.
Dengan demikian, uraian mengenai Artinya:
bentuk/model toleransi yang dibenarkan Saya telah Abu Umamah berkata, saya
oleh Rasulullah saw. perlu dibahas dengan telah mendengar Rasulullah saw. ber­
memberikan beberapa bukti atau contoh wasiat terhadap tetangga sampai kami
kasus dan pada akhirnya dapat diambil suatu mengira kalau beliau akan menetap­kan
ke­simpulan bahwa Islam adalah agama yang hak waris kepadanya. (H.R. Ahmad bin
menjunjung tinggi toleransi terhadap agama Hanbal)
lainnya dan tentunya bukan model toleransi
yang kebablasan. Dianjurkan untuk bermuamalah atau
Berikut ini teladan dari salafus shalih berinteraksi dengan baik dan tidak boleh
dalam berbuat baik terhadap tetangganya yang berbuat zalim terhadap keluarga dan kerabat
Yahudi. Seorang tabi’in dan beliau adalah ahli meskipun non-muslim. Misalnya pada ayat
tafsir, imam Mujahid, ia berkata, “Saya pernah yang menjelaskan ketika orang tua kita bukan
berada di sisi Abdullah bin ‘Amru sedangkan Islam, maka tetap harus berbuat baik dan
pembantunya sedang memotong kambing. Dia berbakti kepada mereka dalam hal muamalah.
lalu berkata: Allah swt.berfirman dalam Q.S. Luqman/31:
َ ‫يا َ غ ُلا َُم! ِإذَا ف َر َ ْغ‬
‫ت ف َاب ْ َد ْأ بِجَارِنَا ال ْيَهُوْدِي‬ 15 sebagai berikut:

Artinya: ‫س‬ َ ْ ‫ك بِي مَا لَي‬ َ ‫ر‬


ِ ْ ‫اك عَلى َأ ْن تُش‬ َ ‫جا َه َد‬ َ ‫وَ ِإ ْن‬
Wahai pembantu! Jika anda telah selesai ‫احبْه ُ َما فِي‬ ِ ‫ص‬ َ َ‫ط ْعه ُ َما و‬ِ ُ ‫ك بِه ِ عِلْم ف َلا ت‬
ٌ َ َ‫ل‬
َ َ ‫ل م َ ْن َأن‬
‫اب ِإل َ َ ّي‬ َ ‫سب ِي‬ َ ‫ال ُ ّدنْيَا م َ ْعرُوف ًا وَا َتّب ِْع‬
(menyembelihnya), maka bagilah
dengan memulai dari tetangga Yahudi
ُ ‫جع ُ ُكم ف َُأنَب ّ ِئ ُُكم بِمَا‬
َ ‫كنْتُم ْ ت َ ْع َملُو‬ َ ُ
‫ن‬ ْ ْ ِ ‫ث َم ّ ِإل َ ّي م َ ْر‬
kita terlebih dahulu.

Lalu ada salah seorang yang berkata: )١٥(

ْ ‫آليَهُوْدِي َأ‬
َ ‫صل َ َح‬
‫ك الله ُ ؟‬
35
Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Juz V
(t.t: Dar al-Fikr, t.th), h. 267.

47
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

Terjemahnya: Dalam hadis lain disebutkan, Nabi saw


Dan jika keduanya memaksamu untuk bersabda:

‫س َل ّ َم‬
َ َ‫ص َل ّي الله ُ عَلَيْه ِ و‬
َ ِ‫اب ال َن ّب ِ ّي‬ ْ ‫ل م ِ ْن َأ‬
ِ َ ‫صح‬ ٍ ‫ج‬ ُ َ‫َع ْن ر‬
mempersekutukan Aku dengan sesuatu

َ َ ‫س َل ّم قا‬ ّ َ ِ ‫ل الله‬ َ ‫سو‬


yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu menaati ‫ل م َ ْن‬ ِ
َ َ َ‫ص َلي الله ُ عَلَيْه و‬ ْ ُ َ‫َأ َ ّن ر‬
َ ‫ل ال ّ ِذ َ ّمة ِ ل َ ْم‬
ِ ‫يج ِ ْد رِ ْيح َ الْجَن ّة‬ ِ ‫جل ًا م ِ ْن َأ ْه‬ ُ َ‫ل ر‬َ َ ‫ق َت‬
kedua­nya, dan pergaulilah keduanya

‫سبْعِي ْ َن عَامًا (رواه‬ َ ِ ‫سيْرَة‬ ِ َ ‫ج ُد م ِ ْن م‬


َ ْ‫ِيحَهَا لَيُو‬
ْ ‫وَ ِإ َ ّن ر‬
di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku,
kemudian hanya kepada-Kulah tempat 38
)‫ألنسا ءى‬
kembalimu, maka akan Aku beri­ta­hu­
kan kepadamu apa yang telah kamu Artinya:
kerjakan.36 Dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi
saw. sesungguhnya Rasulullah saw. ber­
Islam melarang keras membunuh non- sabda: Barangsiapa membunuh seorang
muslim kecuali jika mereka memerangi kaum kafir dzimmi, maka dia tidak akan men­
muslimin. Dalam Islam orang kafir yang boleh cium bau surga, padahal se­sung­­guhnya
dibunuh adalah orang kafir harbi yaitu kafir bau surga itu tercium dari perjalanan
yang memerangi kaum muslimin. Selain itu, tujuh puluh tahun. (H.R. Al-Nasaiy)
orang kafir yang mendapat suaka atau ada
perjanjian dengan kaum muslimin seperti kafir Islam memberikan tuntunan untuk ber­
dzimmi, kafir musta’man dan kafir mu’ahad, laku adil dalam hukum dan peradilan terhadap
maka dilarang keras untuk dibunuh. Jika non-muslim. Contohnya ketika Umar bin
melanggar maka ancamannya sangat keras. Khattab radhiallahu’anhu membebaskan dan

ِ ‫ل الله‬ ُ ‫سو‬
ُْ َ‫ل ر‬ َ ‫ل ق َا‬ َ ‫ن عَمْر ٍو ق َا‬ ِ ْ ‫َع ْن َعب ْ ِد الله ِ ب‬
menaklukkan Yerussalem Palestina. Beliau

‫ل ق َتِيلًا م ِ ْن‬ َ َ ‫س َل ّ َم م َ ْن ق َت‬َ َ‫ص َل ّي الله ُ عَلَيْه ِ و‬


menjamin warganya agar tetap bebas memeluk
َ agama dan membawa salib mereka. Umar

َ ‫ل ال ّ ِذ َ ّمة ِ ل َ ْم‬
ْ ‫يج ِ ْد رِ ْيح َ الْجَن ّة ِ وَ ِإ َ ّن ر‬
‫ِيحَهَا‬ ِ ‫َأ ْه‬
tidak memaksakan mereka memluk Islam

‫سيْرَة ِ َأ ْر بَعِي ْ َن عَامًا (رواه ألنسا‬ ِ َ ‫ج ُد م ِ ْن م‬ َ ْ‫ لَيُو‬asalkan mereka tetap membayar pajak kepada
dan menghalangi mereka untuk beribadah,

37
)‫ءى‬
pemerintah Muslim. Berbeda ketika bangsa
dan agama lain mengusai, maka mereka
Artinya: melakukan pembantaian. Umar bin Khattab
Dari Abdullah bin ‘Amr berkata: juga memberikan kebebasan dan memberikan
Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa hak-hak hukum dan perlindungan kepada
mem­bunuh seorang kafir dzimmi, maka penduduk Yerussalem walaupun mereka non-
dia tidak akan mencium bau surga, pada­ muslim.
hal sesungguhnya bau surga itu tercium Beberapa contoh kasus toleransi di atas
dari perjalanan empat puluh tahun. (H.R. yang perlu dipahami secara baik oleh semua
Al-Nasaiy) penganut agama baik orang muslim mau­
pun non-muslim, sehingga kemudian akan
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., h. 582.
36

Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthy, Sunan Nasaiy, Juz VIII (Beirut:


37

Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th), h. 25. Ibid.


38

48
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

jelas bentuk toleransi yang dibenarkan dan seperti al-Walid bin al-Mughirah, Aswad bin
selanjutnya masing-masing penganut agama ‘Abdul Muthalib, Umayyah bin Khalaf, datang
tidak akan mencampuradukkan hal-hal yang kepada Rasul saw. menawarkan kompromi
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ber­mua­ menyangkut pelaksanaan tuntunan agama.
malah atau berinteraksi dengan baik dalam Usul mereka adalah agar Nabi saw bersama
hubungan sosial kemasyarakatan terhadap umatnya mengikuti kepercayaan mereka, dan
non-muslim diperbolehkan, hanya saja jika mereka pun akan mengikuti ajaran Islam.
sudah menyangkut masalah ibadah dan “kami menyembah Tuhanmu -hai Muhammad-
akidah, maka masing-masing penganut agama setahun dan kamu juga menyembah tuhan
harus mengamalkan ajaran agamanya sesuai kami setahun. Kalau agamamu benar, kami
dengan keyakinan yang dimilikinya. Tidak men­ dapatkan keuntungan karena kami
dibenarkan oleh Islam adanya pemaksaan juga menyembah Tuhanmu dan jika agama
dalam hal ibadah dan akidah. kami benar, kamu juga tentu memperoleh
Dalam kaitan inilah al-Qur’an (Islam) keuntungan”. Mendengar usul tersebut Nabi
menghimbau untuk tidak mencampuradukkan saw. men­­jawab tegas, “Aku berlindung kepada
akidah masing-masing. Hal ini secara tegas Allah dari segolongan orang-orang yang mem­
telah termaktub dalam firman Allah swt. Q.S. per­sekutukan Allah”. Kemudian turunlah
al-Kafirun/109: 1-6 sebagai berikut: surah di atas yang mengukuhkan sikap Nabi

‫)لا َأ ْعب ُ ُد مَا‬١( ‫ن‬ َ ‫ق ُْل يَا َأ ُ ّيهَا ال َْكافِرُو‬ saw tersebut.40

‫ن مَا َأ ْعب ُ ُد‬ َ ‫)وَلا َأنْتُم ْ عَاب ِ ُدو‬٢( ‫ن‬ َ ‫ت َ ْعب ُ ُدو‬
Dalam sumber yang lain disebutkan
bahwa suatu ketika, beberapa orang Quraisy
َ َ
ْ ‫)وَلا أنْتُم‬٤( ْ ‫)وَلا أنَا عَاب ِ ٌد مَا َعب َ ْدتُم‬٣(
yaitu Al-Wali bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail,

‫ن‬ ِ ‫)�ل َ ُك ْم دِين ُ ُك ْم وَل ِ َي دِي‬٥( ‫ن مَا َأ ْعب ُ ُد‬ َ ‫عَاب ِ ُدو‬
Al-Aswad Ibnul Muthollib dan Umayyah bin
Khalaf menemui Nabi saw. mereka me­na­war­
)٦( kantoleransi yang kebablasan kepada beliau,
mereka berkata:

‫ وتعبد ما‬، ‫ هلم فلنعبد ما تعبد‬، ‫يا محمد‬


Terjemahnya:
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku
tidak akan menyembah apa yang kamu ، ‫ ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله‬، ‫نعبد‬
‫فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا‬
sembah. Dan kamu bukan penyembah

‫ وأخذنا بحظنا منه‬، ‫ كنا قد شاركناك فيه‬،


Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak
pernah menjadi penyembah apa yang

‫ وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك‬.


kamu sembah. Dan kamu tidak pernah

‫ وأخذت‬، ‫ كنت قد شركتنا في أمرنا‬،


(pula) menjadi penyembah Tuhan yang
aku sembah. Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku.”39
‫بحظك منه‬
Sebab turun surah ini oleh sementara ulama Artinya:
adalah berkaitan dengan peristiwa di mana Wahai Muhammad, bagaimana jika kami
beberapa tokoh kaum musyrikin di Mekah, beribadah kepada Tuhanmu dan kalian

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op.Cit., h. 919.


39 40
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Op. Cit., h. 25.

49
JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -- Volume 2, Nomor 1, Desember 2016

(muslim) juga beribadah kepada Tuhan agama dapat melaksanakan agamanya sesuai
kami. Kita bertoleransi dalam segala dengan apa yang dianggap baik dan benar,
per­ma­­salahan agama kita. Apabila ada tanpa memutlakkan pendapat kepada orang
sebagaian dari ajaran agamamu yang lain dan tanpa mengabaikan keyakinan
lebih baik (menurut kami) dari tuntunan masing-masing.
agama kami, maka kami akan amal­
kan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari
ajaran kami yang lebih baik dari tun­tun­ C. Penutup
an agamamu, engkau juga harus meng­ Bertolak dari kajian al-Qur’an dan al-
amalkannya.41 hadis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Islam adalah agama yang penuh rahmat untuk
Usul kaum musyrik tersebut ditolak seluruh umat manusia. Islam merupakan
secara tegas oleh Rasulullah saw. karena tidak agama yang mengajarkan segala sesuatu
mungkin dan tidak logis pula terjadi penyatuan sampai pada hal-hal yang sangat terperinci
agama-agama. Setiap agama berbeda dengan baik sikap manusia dalam kehidupan sosial
agama yang lain dalam ajaran pokoknya maupun dalam kehidupan beragama.
maupun dalam perinciannya. Karena itu, tidak Toleransi yang ingin dibangun oleh Islam
mungkin perbedaan-perbedaan itu digabung­ adalah toleransi yang mengedepankan sikap
kan dalam jiwa seseorang yang tulus terhadap saling menghormati antar sesama pemeluk
agama dan keyakinannya. Masing-masing agama agar dapat mengamalkan ajaran agama­
penganut agama harus yakin sepenuhnya nya masing-masing sesuai dengan keyakinan
dengan ajaran agama atau kepercayaannya. yang dimilikinya tanpa adanya pihak yang
Selama mereka telah yakin, mustahil mereka memberikan tekanan atau pun pemaksaan
akan membenarkan ajaran yang tidak sejalan kehendak kepada penganut agama lain untuk
dengan ajaran agama atau kepercayaannya. memeluk agama tertentu.
Fakta di atas memberikan gambaran dan Agama Islam memiliki prinsip yang
pemahaman bahwa kerukunan hidup antar sangat tegas dalam hal toleransi, antara lain
umat atau pemeluk agama yang berbeda Firman Allah swt. yang termaktub dalam
dalam masyarakat yang majemuk/plural Q.S. al-Kafirun/109: 6, Q.S. al-Isra’/17: 84
harus benar-benar diperjuangkan tanpa harus dan Q.S. al-Qashash/28: 55. Islam sangat
mengorbankan akidah. Kalimat yang secara men­ junjung tinggi sikap toleransi. Namun
tegas menunjukkan hal ini terdapat pada ayat toleransi yang dimaksudkan adalah dalam hal
yang terakhir (ayat keenam) ‫ن‬ ِ ‫ �ل َ ُك ْم دِين ُ ُك ْم وَل ِ َي دِي‬ber­interaksi dan bermuamalah secara baik
yang berarti bagimu agamamu dan bagiku dengan non-muslim. Sebaliknya, jika toleransi
agamaku. Masing-masing pemeluk agama tersebut sudah bersinggungan/berkaitan
diberikan hak seluas-luasnya untuk meyakini, dengan masalah akidah, maka prinsip yang
melaksanakan dan mengamalkan ajaran agama dipakai adalah “bagimu agamamu dan bagiku
yang telah diyakininya. Ayat ini menegaskan agama­ ku”. Wilayah muamalah dan wilayah
tentang pengakuan akan eksistensi secara akidah mustahil untuk disatukan atau
timbal balik, sehingga masing-masing pemeluk dicampuradukkan antara satu dengan yang
Tafsir Al-Qurthubi 20: 225 (Cet . II; Darul Kutub al-Mishriyyah, lainnya. Singkat kata bahwa antara keduanya
41

1386 H)

50
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM .... -- Salma Mursyid

memiliki batas-batas tertentu sesuai dengan al-Islami (Baina Nazaiyah wa Tatbiq). Juz
porsinya masing-masing. IV. Kairo: al-Kuliyyah al-Azhariyah, t.th.
Ibnu ‘Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir. t.t: t.p, t.th.
DAFTAR PUSTAKA XII/52.
K Hitti, Philip. History of the Arabs. London:
Al-Qur’an al-Karim
The Macmillan Press Ltd, 1973.
Abdurrahim, Muddathir. dalam The Human
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir
Rights Tradition in Islam. London: Praeger,
Al-Qur’an Tematik. Edisi Revisi Cet. I;
Westport, Connecticut, 2005.
Jakarta: Kamil Pustaka, 2014.
Abdurrahman al-Hageel, Sulieman. Human
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-
Right in Islam and Refutation of the
Munawwir Arab Indonesia Terlengkap.
Misconceived Allegation Associated
Edisi ke II. Cet. XIV. Surabaya: Pustaka
with These Right . Riyadh: Dar Eshbelia,
Progresif, 1997Abdul Malik Salman, Al-
t.thAbdillah al-Qurthubiy, Tafsir al-
Tasamuh Tijah al-Aqaliyyat ka Daruratin
Qurthubiy, Juz IV. Qahirah: Dar al-Sya’b,
li al-Nahdah. Kairo: The International
1372 H.
Institute of Islamic Thought, 1993.
Ahmad bin Hanbal, Imam. Musnad Imam
Al-Nasaiy, Abu Abdurrahman bin Syu’ayb.
Ahmad bin Hanbal. Juz V. t.t: Dar al-Fikr,
Sunan al-Nasaiy al-Mujtaba. Bab Man
t.th.
Qatala Mu’ahad, Juz II. Mesir: Al-Babiy al-
Ali , Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor. Kamus
Halabiy wa Awladuh, 1964.
Kontemporer Arab-Indonesia. Cet. I;
Shihab, Quraish . Tafsir al-Misbah. XI.
Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok
Al-Suyuthy , Al-Hafidz Jalaluddin. Sunan
Pesantren Krapyak, 1996.
Nasaiy. Juz VIII. Beirut: Dar al-Kutub al-
Al-Bukhari , Abu Abdullah Muhammad ibn
Ilmiyah, t.th.
Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn al-
Al-Shabuni, Ali. Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir.
Bardizbah, Shahih Bukhari, Bab Ilmu Man
Jilid I. t.t: t.p, t.th.
Qatala Mu’ahad bi Ghairi Jaram, Juz III, dan
Al-Syafi’i. Muhammad bin Idris. Al-Umm. Juz
VI Semarang: Maktabatuh wa Matba’atu
IV. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973.
Thaha Putra, t.th.
Taisir Karimir Rahman. Cet. I; Beirut: Da Ibnu
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Hazm, 1424 H.
Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.
Tafsir Al-Qurthubi 20: 225 .Cet . II. Darul Kutub
Edisi keempat Cet. II; Jakarta: PT Gramedia
al-Mishriyyah, 1386 H.
Pustaka Utama, 2011.
Tim Baitul Kilmah, Ensiklopedia Pengetahuan
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan
Al-Qur’an dan Hadis. Jilid VI. Cet. II; Jakarta:
Terjemahnya. Semarang: PT Karya Toha
Kamil Pustaka, 2014.
Putra, 2002.
Yaqub, Ali Mustafa. Kerukunan Umat dalam
Al-Ja’fiy, Imam Abi Abdullah Muhammad bin
Perspektif al-Qur’an dan Hadis. Jakarta:
Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin
Pustaka Firdaus, 2000.
Bardizbah al-Bukhary. Shahih Bukhari. Juz
http://revelationskhairurrizal.blogspot.co.id/
I. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th.
search/label/Ayat-ayat tentang anjuran
Ibnu Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyah, tahqiq
bertoleransi.
Taha Abd al-Rauf Sa’ad, dalam Al-Tasamuh

51