Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS KOMUNIKAN DALAM KOMUNIKASI KESEHATAN

MAKALAH

Diajukan sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Komunikasi Kesehatan yang
Dipresentasikan pada Jumat, 24 Maret 2017

Oleh :

KELOMPOK III

Miftahul Husnah

Miftahul Janna

Harmila

Riskatul Ulum

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (STIKES)

BARAMULI KABUPATEN BULUKUMBA

2017
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...........................................................................................................
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 5
1.3 Tujuan ........................................................................................................................ 5

BAB III PEMBAHASAN


2.1 Komunikasi ................................................................................................................ 6
2.2 Komunikasi Kesehatan............................................................................................... 7
2.3 Audiens dan Tipe-tipe Sikap Audiens ....................................................................... 8
2.4 Metode Pemetaan Audiens ....................................................................................... 12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 21
3.2 Saran ......................................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 23


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas ini. Penulis juga
berterima kasih kepada dosen pembimbing kami.
Penulis membahas sebuah judul “Analisis Komunikan Dalam Komunikasi
Kesehatan”yang diharapkan dapat memberikan suatu pengetahuan yang berguna
bagi semua pihak. Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Komunikasi Kesehatan Program Studi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Penulis menyusun tugas ini berdasarkan sumber-sumber yang relevan, baik dari
media cetak, seperti buku, maupun media elektronik.
Adapun yang akan kami bahas dalam tugas kami ini ialah tentang pengertian
komunikasi, komunikasi kesehatan, audiens dan tipe-tipe sikap audiens dan
metode pemetaan audiens.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab
itu saran dan kritik yang membangun kami terima demi kebaikan makalah ini.
Akhir kata, penulis berharap agar tugas ini dapat dijadikan sebagai salah
satu sumber bacaan dan dapat dipergunakan sebagaiman mestinya.

Bulukumba, 03 Maret 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk

yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh

karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan

manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan

manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah

yang disebut sebagai interàksi sosial. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi

adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup

bermasyarakat.

Apa yang mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi dengan

manusia lainnya. Teori dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan, yakni

kebutuhan untük mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendek kata, sekarang ini keberhasilan

dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir

mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.

1. Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak

massa dengan menggunakan saluran-saluran media massa. Jadi komunikasi massa

tidak sama dengan media massa. Media massa hanyalah salah satu faktor yang

membentuk proses komunikasi massa tersebut, yaitu sebagai alat atau saluran.

2. Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk orang agar

tertarik pada barang yang ditawarkan. Secara garis besar iklan dibagi menjadi dua,
yang pertama iklan komersil yaitu iklan yang bertujuan untuk meningkatkan

pemasaran suatu produk dan jasa. Yang kedua iklan non komersil yaitu bagian

dari kampanye sosial dengan tujuan mengajak, menghimbau atau menyampaikan

gagasan demi kepentingan umum. Iklan non komersil lebih dikenal dengan iklan

layanan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan


masalah sebagai berikut :
a. Pengertian Komunikasi
b. Konsep Komunikasi Kesehatan
c. Audiens dan Tipe-Tipe Sikap Audiens
d. Metode Pemetaan Audiens

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui, memahami, dan menjelaskan hakikat komunikan atau

audiens dalam komunikasi kesehatan dan mengapa komunikan atau audiens

terlibat dalam komunikasi kesehatan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi

Ada beberapa pengertian mengenai komunikasi yang dikemukakan para

ahli. Dimana masing-masing pengertian tersebut kebanyakan lebih didasarkan

atas pendapat dan pengamalan serta latar belakang dari ahli yang bersangkutan.

Ada yang mengartikan komunikasi secara khusus. Dalam konteks ini, setiap

bentuk komunikasi setidaknya ada dua orang atau lebih yang saling mengirimkan

lambang yang memiliki makna tertentu. Lambang tersebut bisa bersifat verbal

dalam bentuk kata-kata atau berupa unkapan nonverbal seperti ekspresi atau

ungkapan tertentu dan gerakan tubuh.

Sedangkan dalam arti luas komunikasi dideskripsi sebagai setiap bentuk

tingkah laku mengandung ungkapan tertentu dan mengisyaratkan makna tertentu

dari proses kominikasi. Dengan demikian, komunikasi adalah suatu proses

penyimpanan pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau

mengubah sikap, pendapat, atau perilaku secara keseluruhan baik secara langsung

dengan lisan maupun tidak langsung melalui media.Komunikasi persuasif

bertujuan mengubah sikap, pengetahuan dan mengarahkan tindakan audiens. Efek

terhadap audiens terhadap komunikasi persuasif sekurang-kurangnya ada dalam

bentuk perhatian mereka atas kredibilitas komunikator, kelengkapan informasi,

media yang cocok, metode kelengkapan informasi. Komunikasi persuasif yang

baik harus memperhitungkan audiens.Komunikasi adalah individu, sekelompok

orang, komunitas, organisasi, publik, masyarakat, yang menjadi sasaran


komunikasi. Kesusksesan suatu komunikasi tidak terutama terletak pada

komunikator meskipun harus diakui bahwa komunikator, merupakan sumber yang

memprakarsai komunikasi. Sukses atau gagalnya peranan komunikasi yang

diperani oleh komunikator sangat bergantung terhadap penilaian yang diberikan

oleh komunikan mereka. Berdasarkan dalam proporsi ini maka dalam suatu proses

komunikasi, analisis komunikan, merupakan bagian yang sangat penting, karena

jika dapat membuat data tentang karakteristik komunikan maka dapat

merencanakan suatu komunikasi dengan baik.

2.2 Komunikasi Kesehatan

Komunikasi kesehatan yaitu proses penyampaian pesan kesehatan oleh

komunikator melalui saluran media tertentu kepada komunikan dengan tujuan

untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan

yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani),

dan sosial.Jadi, komunikasi Kesehatan adalah proses penyampaian informasi

tentang kesehatan.

Komunikasi kesehatan lebih sempit daripada komunikasi manusia pada

umumnya. Komunikasi kesehatan berkaitan erat dengan bagaimana individu

dalam masyarakat berupaya

menjaga kesehatannya, berurusan dengan berbagai isu yang berhubungan

dengan kesehatan. Dalam komunikasi kesehatan, fokusnya meliputi transaksi

hubungan kesehatan secara spesifik, termasuk berbagai faktor yang ikut

berpengaruh terhadap transaksi yang dimaksud.


Dalam tingkat komunikasi, komunikasi kesehatan merujuk pada bidang –

bidang seperti program – program kesehatan nasional dan dunia,

promosi kesehatan, dan rencana kesehatan publik.Dalam konteks kelompok kecil,

komunikasi kesehatan merujuk pada bidang – bidang seperti rapat – rapat

membahas perencanaan pengobatan, laporan staf, dan interaksi tim medis. Dalam

konteks interpersonal, komunikasi kesehatan termasuk dalam komunikasi manusia

yang secara langsung mempengaruhi profesional – profesional dan profesional

dengan klien. Komunikalevasi kesehatan dipandang sebagai bagian dari bidang –

bidang ilmu yang relevan, fokusnya lebih spesifik dalam hal pelayanan kesehatan.

2.3 Audiens dan Tipe-tipe Sikap Audiens

Audiens adalah sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, dan

pemirsa berbagai media atau komponen beserta isinya, seperti pendengar radio

atau penonton televisi. Audiens adalah pertemuan publik, berlangsung dalam

rentang waktu tertentu,dan terhimpun bersama oleh tindakan individual untuk

memilih secara sukarela sesuai dengan harapan tertentu bagi maslahat menikmati,

mengakui, mempelajari,merasa gembira, tegang, kasihan, atau lega. Audiens juga

dapat atau memang dikendalikan oleh pihak yang berwenang dan karenanya

merupakan bentuk perilaku kolektif yang dilembagakan. Pertanyaan tentang

audiens:

1. Siapa yang menjadi sumber informasi audiens

2. Informasi apa yang mereka butuhkan

3. Media apa yang sering digunakan audiens


4. Sipakah penerima informasi

5. Dampak apa yang mereka alami

6. Hambatan apa yang mereka alami

Komunikan atau audiens terlibat dalam komunikasi

Menanggapi secara kritis bahwa perlunya keterlibatan audiens dalam

program layanan kesehatan yang dilakukan tidak sama dengan cara audiens

berkonsultasi. Keterlibatan berarti cara menemukan dalam mana orang merasa

bahwa mereka merupakan bagian terpenting dari proses pembuatan keputusan,

dan keterlibatan mereka membuat keputusan itu sangat menentukan untuk

diambil. Konsultasi berarti mempertanyakan kepada orang untuk dibantu,

bertanya kepada mereka apa yang mereka pikirkan, mereka rencanakan dari

layanan yang diberikan, apa rencana mereka, tanya terhadap mereka apa yang

mereka butuhkan, dan pa yang perlu dilakukan terhadap mereka.

Ada 5 level dimana keterlibatan publik membutuhkan operasi agar menjadi

objektif:

1. Grass roots level – bekerja langsung dedngan individu

2. Community networks – bekerja untuk mendung forum yang berbeda

3. Professional networks – bekerja untuk membangun aliansi dan kemitraan

4. Organisation development – bekerja untuk mengubah cara organisasi bekerja

5. Co-odination – membuat semua yang berbeda level senang berinteraksi dan

bekerjasama

Beberapa manfaat dari keterlibatan audiens bagi individu


1. Orang akan melihat perubahan yang terjadi sebagai hasil dari keterlibatan

mereka, dan merasa mendapatkan keuntungan atas itu.

2. Orang akan menjadi sadar apa sebab keputusan itu dibuat, dan apa sebab

prioritas itu ditetapkan.

3. Orang akan menjadi lebih aktif terlibat dalam komunitas mereka.

Bagi komunitas, akan tercipta komunikasi yang lebih baik dengan dan

antara kelompok dalam komunitas. Komunitas akan merasa lebih kuat dan

mempertemukan kebutuhan lokal dan berpengaruh terhadap keutusan. Merka akan

diberi sumber daya untuk mendapatkan dan terlihat lebih banyak orang. Serta bagi

organisasi bermanfaat organisasi akan lebih adil tentang apa yang dapat

dikerjakan dan tidak perlu dikerjakan.lebih terbuka tentang prioritas organisasi.

Dampak positif keterlibatan dari audiens adalah adanya peluang yang nyata

atas perubahan, melayani para pengguna untuk bersama-sama memfokuskan diri

dalam cara-cara yang bermakna. Dan dampak negatif dari keterlibatan adalah isu-

isu tidak jelas dan tidak dapat dipahami, apalagi dialog mengalami jalan buntu,

terlalu mengandalkan kelompok tertentu, tanggung jawab para pemrakarsa tidak

jelas. Untuk mencapai tujuan positif dan manfaat dari keterlibatan komunikn

itulah maka kita perlu melakukan studi ilmiah terhadap komunikan. Tipe-tipe

sikap audiens adalah sebagai berikut:

1. Audiens yang besahabat, merupakan tipe komunikan, tipe pendengar, pembaca,

pemirsa yang mempunyai disposisi positif terhadap informasi kesehatan yang

dikemukakan oleh komunikator. Karena disposisi mereka positif terhadap

kredibilitas komunikator, media pengalih informasi, maupun situasi komunikasi


maka mereka akan lebih mudah menerima dan memahami informasi kesehatan

dari komunikator.

2. Audiens yang bermusuhan, adalah audiens yang mempunyai tipe sikap yang

berkebalikan dari audiens yang bersahabat. Audiens yang bermusukan merupakan

tipe komunikan, pendengar, pembaca, tipe pemirsa yang mempunyai disposisi

negatif terhadp informasi kesehatan yang dikemukakan oleh komunikator. Karena

disposisi negatif terhadap kredibilitas komuniator, media pengalih informasi,

maupun situasi komunikasi maka mereka akan sangat sulit menerima dan

memahami informasi kesehatan dari komunikan.

3. Audiens yang netral, adalah audiesn yang mempunyai sikap netral, tidak

memihak kepada komunikator atau pada informasi yang disampaikanoleh

komunikator. Sikap komunikasi seperti ini mau berdiri diantarasikap positif atau

negatif namun kadang-kadang dianggap oleh orang yang berani memilih setuju

dengan tidak setuju sebagai tipe sikap yang ambigu, bahkan tidak tegas.

4. Audiens yang apatis, adalah audiens yang bersikap masa bodoh terhadap

komunikator maupun terhadap informasi yang dia terima. Sikap masa bodoh atau

malas tahu isi sebenarnya didorong oleh tingkat keterlibatan audiens terhadap

informasi yang mereka terima. Artinya tidak ada keuntungan atau kerugian

apapun yang mereka terima lantaran memberikan disposisi positif maupun

negatif.

5. Audiens dengan sikap campuran, adalah audiens dengan sikap bersahabat

anmun bermusuhan, dapat memberiakan disposisi positif terhadap komunikator.


Bersahabt bamun netral, dapat memberikan disposisi positif namun bersikap masa

bodoh.

2.4 Metode Pemetaan Audiens

Terdapat beberapa metode pemetaan audiens, antara lain

1. Sosiologis

Disebut juga sebagai analisis demografis. Pemetaan sosiologis dilakukan melalui

pendekatan objektif berdasarkan data statistik sosial dari audiens. Pemetaan ini

sering disebut dengan kategori demografis yang secara sederhana mau menjawab

who the audience is. Ada beberapa faktor yang dapat dipetakan, yakni:

a. Umur

Audiens dapat dipecahkan dalam beberapa kelompok umur, misalnya kelompok

umur anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Kategori ini menolong kita untuk

tampil sebagai komunikator yang dapat menyesuaikan diri termasuk

menyesuaikan pesan dan memilih media yang cocok dengan mereka.

b. Gender

Audiens dikelompokkan kedalam jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Pembagian tersebut membantu dalam mempersiapkan pesan yang sesuai dengan

kebiasaan menerima informasi dari perempuan atau laki-laki.

c. Tingkat pendidikan

Audiens dikelompokkan kedalam tingkat atau jenjang pendidikan. Berasumsi

bahwa pengetahuan atau keluasan wawasan seseorang sangat ditentukan oleh

tingkat pendidikan. Kalau orang sekolah makin tinggi maka kita anggap mereka
lebih mengerti atau sekurang-kurangnya mudah diberi pengertian mengenai suatu

informasi.

d. Tingkat pengetahuan

Audiens dikelompokkan kedalam tingkat pengetahuan tentang informasi yang

akan disampaikan. Perlu perincian informasi mengenai sebab musabab,

pencegahan dan pengobatan terhdap penyakit diare kepada sekelompok pendengar

yang berpengetahuan luas tentang tema itu, misalnya perawat, bidan atau dokter.

e. Jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan diasumsikan turut menetukan disposisi mereka terhadap informasi

yang mereka terima. Orang-orang dengan jenis pekerjaan yang sibuk kungkin

tidak tertarik menerima informasi secara rinci, namun orang yang mempunyai

jenis pekerjaan dangan waktu luang cukup banyak akan lebih suka menerima

informasi.

f. Tingkat pendapatan

Besaran pendapatan audiens turut menentukan disposisi mereka terhadp

informasi. Kalau informasi yang dikemukakan tersebut telah tercetak dalam buku,

mereka lebih memilih membeki daripada mendengar.

g. Agama

Agama ikut menentukan penerimaan audiens terhadp pesan. Faktor yang

berkaitan dengan kepercayaan atau dogma agama sangat menentukan tingkat

peneriamaan informasi.

2. Psikologis
Audiens dapat dipetakan berdasarkan hukum-hukum psikologis baik secara

individual, kelompok, komunitas, maupun masyarakat dalam cara berpikir dan

pendekatan psikologi (sosial).

a. Konsep diri

Audiens secara psikologis dalam konsep diri. Bagi mereka yang siasumsikan

memiliki konsep diriyang selalu tinggi mungkin lebih cocok diberi informasi yang

kemudian dapat dikembangkan sendiri.

b. Kebutuhan audiens

Apakah audiens membutuhkan pemenuhan kebutuhan inklusi, afeksi atau kontrol.

Jika audiens ingin dilibatkan dalam peran sebagaimana yang diinformasikan,

beriakn informasi untuk mereka untuk bekerjasama. Namun, jika komunikan yang

lebih mengutamakan perhatian dan kasih sayang, maka informasi yang diberikan

haruslah yang berbau kasih sayang karena mereka ingin dihormati.

3. Antropologis

Salah satu metode yang mudah untuk melihat kategori nilai budaya adalah dengan

mempelajari kearifan lokal. Kearifan lokal adalah engetahuan kultural yang

dimiliki oleh komunitas, pengetahuan yang dimiliki oleh mereka itu adalah unik,

baik sebagai nilai ataupun sebagai norma dan kebiasaan mereka.

Karakteristik dari kearifan lokal, misalnya:

a. Umumnya ada dalam setiap komunitas

b. Ada dalam kebudayaan tertentu

c. Menjadi dasar pengambilan keputusan

d. Menjadi dasar dan strategi berjuang di masa depan


e. Dokumentasi yang tersitematis

f. Berkaitan dengan kehidupan atau kebiasaan untuk hidup, misalnya atur

kerjasama, pelihara air, atur kerja kebun, dan lain-lain.

g. Dapat diadaptasikan dalam aktifitas yang lain

h. Dituturkan secara lisan atau perilakunya non verbal.

Kearifan lokal dijadikan pengambilan keputusan dalam hal:

a. Pertanian

b. Pemeliharaan kesehatan

c. Penyimpanan makanan

d. Pendidikan

e. Managemen sumberdaya

f. Pedoman aktivis terhadap relasi dengan orang lain.

Manfaat kearifan lokal:

a. Membimbing strategi pemecahan masalah dalam komunitas

b. Lebis dimiliki oleh orang komunitas daripada individual

c. Sebagai pengetahuan yang dipraktekkan dalam relasi dan ritual

Sebab kearifan lokal itu penting:

a. Dapat dijadikan pedomana dalam memecahkan masalah, khususnya bagi orang

miskin

b. Mewakili konstrubusi yang penting dalam perubahan global

c. Dapat mencegah resiko besar dari luar

d. Relevan denga proses pembangunan


4. Analisis berdasarkan konteks percakapan

Analisis terhadap audiens dapat dilakukan dengan melihat apa yang atau tema

yang kadang-kadang dipercakapkan.

a. Ukuran audiens

Makin bayak orang, ternyata lebih sulit dipengaruhi karena mekin banyak fakror

psikologis sosial yang patut diperhitungkan.

b. Lingkungan fisik

Lingkungan fisik juga ikut menentukan tingkat ketrpengaruhan. Lingkungan fisik

yang suhunya panas membuat orang lebih cepat letih sehingga hanya bertemu

dalam satu pertemuan yang waktunya lebih singkat.

c. Kesempatan yang sesuai

Mempengaruhi orang atau audiens dilakuakan berdasarkan waktu bercakap-cakap.

Keharus memperhitungkan kalau berbicara dengan audiens dalam kesempatan

seperti sosial, agama, hubungan kerja.

d. Waktu bicara yang sesuai

Dimana waktu yang temat untuk bicara? Apakah dipagi hari dimana orang masih

sibuk mengurus keluarga, atau di sore hari ketika orang harus beristrahat, dan

lain-lain.

5. Berdasarkan terpaan pesan

Membagi audiens berdasarkan tingkat dinamika mereka kalau berhadapan dengan

pesan-pesan yang dikirimkan. Ada 5 gambaran umum yang beroperasi dikalangan

penerima atau audiens, yakni:


1. Selective exposure

Manusia hidup dalam kelompok dan komunitas. Diduga secara psikologi sosial

orang yang mempunyai relasi sosial yang sejenis mempunyai presepsi yang sama

atau memilih terpaan media yang sama, yakni:

a. Selective attention, oraang dengan pengalaman sosial yang sama akan

cendenrung memperhatikan topik dan isu yang sama.

b. Selective perception, diakuai pasti ada variasi perbedaan minat, kepercayaan,

pengetahuan, sikap, kebutuhan dari individu, kategori sosial dan relasi sosial.

Namun diduga bahwa ada kesamaan antaraindividu, antarindividu dalam kategori

sosial dan relasi sosial dalam mempresepsi isi pesan sebuah media.

c. Selective recall, sama seperti dua prinsip diatas maka diasumsikan bahwa

berdasarkan prinsip seleksi oleh individu, individu dalam kelompok atau sosial

dan relasi sosial, maka diasumsikan ada individu, individu dalam kelompok atau

kategori sosial dan relasi sosial tertentu akan mengingat sebuah pesan dalam

waktu yang lama atau melupakannya dengan cepat.

d. Selective action, berdasarkan prinsip seleksi individu, kelompok sosial dan

relasi sosial, maka diasumsikan ada individu, individu dalam kelompok atau

kategori sosial dan relasi sosial tertentu akan membuat tindakan yang sama.

2. Magnitude of change

Meskipun perubahan arah sukar dipastikan, seseorang pembicara seharnya dapat

menentukan arah perubahan dari audiens. Dia harus dapat membuat rasionalisasi

atas apa yang mau dia ungkapkan. Kalau tidak ingin kena bumerang, harus

menjadi lawan dari posisi audiens.


a. Hostile audience

Persuasi itu sukar. Tidak punya batasan tertentu mengenai kebutuhan dari tujuan.

Jadi, pilihan harus kredible terhadap topik itu. Memakai alasan rasional, teoritis

untuk mengubah mereka.

b. Friendly audience

Omongan harus dapat memperkuat kesadaran yang sudah ada dan dipindahkan

mereka kedalam tindakan.

c. Neutral or apathetic audience

Topik harus relevan dengan hidup mereka.

3. The inoculation effect

Teori ini merupakan teori persuasi. Seorang komunikator dapat mempengaruhi

audiens dengan meningkatkan resistensi mereka atas informasi yang mereka

peroleh (disposisi positif) jika proses untuk mensuplai informasi itu dengan

memanipulasi informasi sedemikian rupa sehingga mudah diterima oleh

komunikan, yaitu dengan memberikan:

a. Informasi yang penuh tantangan (challenge)

b. Informasi yang penuh dengan ketakutan (fear appeals)

c. Informasi yang menarik (attractive) sehingga mudah mempengaruhi audiens

d. Informasi yang mampu mendapatkan ketegangan (stress) sehingga mempersuasi

audiens

e. Informasi yang menampilkan daya tarik emosional (emotional appeals).

4. Audience participation
Sekurang-kurangnya ada tiga bentuk keterlibatan atau partisipasi audiens

sebagaimana yang dihasilkan oleh pengaruh informasi yang diberikan. Yakni,

partisipasi dalam bentuk pemberian uang atau barang demi melancarkan suatu

kegiatan, partisipasi dalam memberikan tenaga secara fisik hadir dalam suatu

aktivitas, dan terakhir, partisipasi dalam bentuk pikiran dan pendapat.

5. Motivation

Motivasi adalah pemberian dorongan kepada seseorang atau sekelompok orang

agar mereka menerikan partisipasinya dalam aktivitas tertentu. Namun patut

diingat bahwa motivasi harus disesuaikan dengan motif atau need dari audiens,

dan need itu harus disesuaikan dengan daya tarik motif.

Teori Maslow beransumsi bahwa setiap orang akan merasa puas kalau

kebutuhan dasarnya sudah dia peroleh, baru ia akan mengarahkan perilakunya

untuk meperoleh kepuasan dari kebutuhan lain yang lebih tinggi. Melalui teori

piramida kebutuhan manusia, Maslow berasumsi bahwa motivasi manusia itu

tumbuh dari kebutuhan manusia, dan kebutuhan itu mempunyai tingkatan mulai

kebutuhan paling dasar sampai kebutuhan yang paling tinggi.setiap orang akan

berusaha memenuhi kebutuhan tersebut mulai dari tingkat dasar maslow

menyebutkan kebutuhan manusia itu sebagai basic needs yang tersusun sebagai

berikut.

Tahap-1 kebutuhan fisiolgis. Pada level pertama menunjukan bahwa

secara umum manusia ingin mempertahankan kehidupannya, dan untuk

mempertahankan kehidupan itu manusia berusaha agar kebutuhan fisiolgis

(makan, minum, pakaian, rumah, udara, reproduksi/seks) harus dapat dipenuhi.


Tahap-2 kebutuhan rasa aman. Jika kebutuhan fisidlogis tahap

pertama diatas sudah dipenuhi manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat

berikutnya yaitu rasa aman dan kehidupan yang stabil. Yang dimaksudkan dengan

security need adalah kebutuhan rasa aman, manusia ingin dan merasa bebas dari

gangguna fisik maupun emosi orang lain.

Tahap-3 kebutuhan sosial. Pada tingkat ketiga manuisa membuthkan

kasih sayang. Manusia merasa kalau dia merupakan milik masyarakat atau

lingkungan sosial, manusia juga ingin agar dirinya diterima dan dijadikan sebagai

sahabat oleh lingkungan maupun organisasi.

Tahap-4 kebutuhan harga diri. Pada tahap ke empat manusia

membutuhkan penghargaan dari orang lain terhadap dirinya. Memberikan

penghargaan terhadap orang lain dapat dilakukan dengan pengakuan atas status

yang dia miliki.

Tahap-5 kebutuhan aktualisasi diri. Pada puncak piramida ada

kebutuhan aktualisasi diri dimana setiap orang ingin agar masyarakat atau

organisasi melibatkan dia secara penuh, termassuk memberikan kepercayaan

kepada mereka untuk melaksanakan tugas dan fungsi tertentu.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Komunikasi adalah individu, sekelompok orang, komunitas, organisasi, publik,

dan masyarakat yang menjadi sasaran komunikasi. Kesuksesan suatu

komunikasitidak terutaa terletah pada komunikator- meskipun diakui bahwa

komunikator merupakan sumber yang memprakarsai komunikasi namun sukses

atau gagalnyaperanan komunikasi yang diperanani oleh komunikator sangat

tergantung dari penilain yang diberikan oleh komunikan oleh audiens kepada

mereka.

2. Ada banyak pertanyaan yang harus dijawab menyangkut karakteristik audiens

a. Siapa yang menjadi sumber informasi audiens

b. Informasi apa yang mereka butuhkan

c. Media apa yang sering digunakan audiens

d. Sipakah penerima informasi

e. Dampak apa yang mereka alami

f. Hambatan apa yang mereka alami

3. Analisis peranan komunikasi persusif berkaitan denga jawaban atas pertanyaan

mengapa audiens perlu dilibatkan dalam analisis komunikasi kesehatan. Level

keterlibatan audiens itu bisa:

4. Ada beberapa manfaat dari keterlibatan audiens, yakni:

1. Grass roots level – bekerja langsung dedngan individu


2. Community networks – bekerja untuk mendung forum yang berbeda

3. Professional networks – bekerja untuk membangun aliansi dan kemitraan

4. Organisation development – bekerja untuk mengubah cara organisasi bekerja

5. Co-odination – membuat semua yang berbeda level senang berinteraksi dan

bekerjasama

6. Dampak positif dari keterlibatan audiens adalah adanya peluang yang nyata atas

perubahan, melayani para pengguna untuk bersama-sama memfokuskan diri

dalam cara-cara yang bermakna. Dan dampak negatif dari keterlibatan adalah isu-

isu tidak jelas dan tidak dapat dipahami, apalagi dialog mengalami jalan buntu,

terlalu mengandalkan kelompok tertentu, tanggung jawab para pemrakarsa tidak

jelas. Untuk mencapai tujuan positif dan manfaat dari keterlibatan komunikan

itulah maka kita perlu melakukan studi ilmiah terhadap komunikan.

3.2 Saran

1. Dalam suatu proses komunikasi, analisis komunikan, merupakan bagian yang


sangat penting, karena jika kita dapat membuat peta komunikan maka kita dapat
merencanakan suatu komunikasi dengan baik.
2. Kita harus bersikap kritis terhadap komunikan atau audiens dalam suatu
komunikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Alo, Lilliweri.2008.Dasar – Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta:


PustakaPelajar.

Arikunto, Dr. Suharsimi.1988.Organisasi dan Administrasi Pendidikan


Teknologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Arni, Dr. Muhammad.2002. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Anonymous. 2008. Transparansi Komunikasi


Kesehatan.http://sbektiistiyanto.iles.wordpress. com/2008/02/transparansi-
komkes.ppt

Jufri, Andry.2013.Makalah Komunikasi Kesehatan.


http://andryjufri.blogspot.com/2013/01 /makalah-komunikasikesehatan.html