Anda di halaman 1dari 4

PSIKOTERAPI SUPORTIF

Psikoterapi suportif adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk
menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk
mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Untuk mengembalikan
keadaan jiwa yang tidak stabil atau mengalami gangguan, yang harus dilakukan adalah menekan
atau mengontrol gejala-gejala yang terjadi dan untuk menstabilkan pasien ke dalam suasana yang
aman dan terlindungi untuk melawan ataupun menghadapi tekanan yang mungkin berat yang
datang dari luar maupun dalam dirinya.

Psikoterapi suportif merupakan pendekatan yang memiliki tujuan untuk memulihkan dan
memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini
memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan
bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu, dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi
atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.

Terdapat 8 jenis-jenis psikoterapi suportif yaitu sebagai berikut:

1. Ventilasi atau katarsis ialah membiarkan pasien mengeluarkan isi hati sesukanya.
Sesudahnya biasanya ia merasa lega dan kecemasannya (tentang penyakitnya) berkurang,
karena ia lalu dapat melihat masalahnya dalam proporsi yang sebenarnya. Hal ini dibantu
oleh dokter dengan sikap yang penuh pengertian (empati) dan dengan anjuran. Jangan
terlalu banyak memotong bicaranya (menginterupsi). Yang dibicarakan ialah
kekhawatiran, impuls-impuls, kecemasan, masalah keluarga, perasaan salah atau berdosa.
2. Persuasi ialah penerangan yang masuk akal tentang timbulnya gejala-gejala serta baik-
baiknya atau fungsinya gejala-gejala itu. Kritik diri sendiri oleh pasien penting untuk
dilakukan. Dengan demikian maka impuls-impuls yang tertentu dibangkitkan, diubah
atau diperkuat dan impuls-impuls yang lain dihilangkan atau dikurangi, serta pasien
dibebaskan dari impuls-impuls yang sangat menganggu. Pasien pelan-pelan menjadi
yakin bahwa gejala-gejalanya akan hilang.
3. Sugesti ialah secara halus dan tidak langsung menanamkan pikiran pada pasien atau
membangkitkan kepercayaan padanya bahwa gejala-gejala akan hilang. Dokter sendiri
harus mempunyai sikap yang meyakinkan dan otoritas profesional serta menunjukkan
empati. Pasien percaya pada dokter sehingga kritiknya berkurang dan emosinya
terpengaruh serta perhatiannya menjadi sempit. Ia mengharap-harapkan sesuatu dan ia
mulai percaya. Bila tidak terdapat gangguan kepribadian yang mendalam, maka sugesti
akan efektif, umpamanya pada reaksi konversi yang baru dan dengan konflik yang
dangkal atau pada neurosa cemas sesudah kecelakaan.
4. Penjaminan kembali atau reassurance dilakukan melalui komentar yang halus atau
sambil lalu dan pertanyaan yang hati-hati, bahwa pasien mampu berfungsi secara adekuat
(cukup, memadai). Dapat juga diberi secara tegas berdasarkan kenyataan atau dengan
menekankan pada apa yang telah dicapai oleh pasien.
5. Bimbingan ialah memberi nasehat-nasehat yang praktis dan khusus (spesifik) yang
berhubungan dengan masalah kesehatan (jiwa) pasien agar ia lebih sanggup
mengatasinya, umpamanya tentang cara mengadakan hubungan antar manusia, cara
berkomunikasi, bekerja dan belajar, dan sebagainya.
6. Penyuluhan atau konseling (counseling) ialah suatu bentuk wawancara untuk membantu
pasien mengerti dirinya sendiri lebih baik, agar ia dapat mengatasi suatu masalah
lingkungan atau dapat menyesuaikan diri. Konseling biasanya dilakukan sekitar masalah
pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan pribadi.
7. Kerja kasus sosial (social casework) secara tradisional didefinisikan sebagai suatu proses
bantuan oleh seorang yang terlatih (pekerja sosial atau social worker) kepada seorang
pasien yang memerlukan satu atau lebih pelayanan sosial khusus. Fokusnya ialah pada
masalah luar atau keadaan sosial dan tidak (seperti pada psikoterapi) pada gangguan
dalam individu itu sendiri. Tidak diadakan usaha untuk mengubah pola dasar
kepribadian, tujuannya ialah hanya hendak menangani masalah situasi pada tingkat
realistik (nyata).
8. Terapi kerja dapat berupa sekedar memberi kesibukan kepada pasien, ataupun berupa
latihan kerja tertentu agar ia terapil dalam hal itu dan berguna baginya untuk mencari
nafkah kelak.
Psikoterapi suportif dapat mengarah pada peningkatan adaptasi, fungsi interpersonal,
kestabilan emosi, ketahanan dalam mengatasi masalah, dan meningkatkan hargadiri. Bentuk
terapi seringkali paling berguna dalam mendukung pasien melalui masa krisis, tetapi juga bisa
efektif dalam mencapai keuntungan dalam jangka panjang berkaitan dengan situasi kronis.
Adapun teknik-teknik dalam psikoterapi suportif mencakup Sembilan teknik. Masing-masing
teknik digunakan sesuai dengan kondisi atau masalah yang sedang dialami oleh klien. Beberapa
psikoterapi suportif yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
1. Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara
memberikan fakta dan interpretasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial
dan bidang-bidang kesehatan.
2. Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional
klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak
menguntungkan.
3. Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami
depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang
pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu
senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,
terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial.
4. Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh
psikis tanpa daya kritik.
5. Reassurance (meyakinkan kembali), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi.
Klien yang merasa dicengkam oleh rasa ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan
dihibur. Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan
kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar.
6. Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan punishment untuk menstimulasi
perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberitugas untuk
melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau
mengurangi innerdrive klien sampai di bawah titik kritis.
7. Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu
kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan
ataupun dengan menggunakan common sense’nyas endiri, sebab pada umumnya orang
yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi.
8. Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain.
Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya
pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan
(katarsis).
9. Terapi kelompok yang berfungsi sebagai pemberi inspirasi dari klien-klien lainnya yang
memiliki problem sejenis.