Anda di halaman 1dari 3

Untuk slide anatomi

Carpal tunnel adalah suatu terowongan fibro-osseous yang dibentuk oleh tulang-tulang
karpal dan flexor retinaculum.
Komponen tulang pada carpal tunnel membentuk suatu lengkungan, yang dibentuk oleh
empat tonjolan tulang yaitu di bagian proksimal oleh tulang pisiformis dan scaphoid dan
di distal oleh hamate dan tubercle of trapezium.
Di bawah fasia palmaris, suatu ligamen membentuk batas superfisial dari carpal tunnel,
yang disebut ligamen karpal transversal (Flexor retinaculum)
Carpal tunnel cenderung menyempit semakin ke arah distal. Sembilan tendon ke jari-jari
dan nervus medianus berjalan di dalam flexor retinaculum dalam carpal tunnel.
Terdapat satu pembungkus synovial yang sama untuk seluruh tendon,

Nervus ini berasal dari dua radiks yaitu radiks lateralis dan radiks medialis. Radiks
lateralis adalah lanjutan dari fasciculus lateralis yang menerima serabut dari C6 dan C7
sedangkan radiks medialis adalah lanjutan dari fasciculus medialis yang menerima
serabut dari C8 dan T1. Radiks lateralis dan radiks medialis bergabung membentuk
nervus medianus di sebelah lateral arteri axillaris

Caput humerale berorigo pada epicondylus medialis humerus dan caput ulnare pada margo medialis di
processus coronoideus pada tulang ulna.
Nervus ini memasuki lengan bawah antara dua kaput pronator teres, dimana ia mensarafi fleksor karpi
radialis, palmaris longus dan flexor digitorum superficialis. Satu cabang motorik murni, yang disebut saraf
interoseus anterior, menginervasi flexor pollicis longus, pronator quadratus dan flexor digitorum
profundus I dan II.

Pada telapak tangan, nervus medianus terbagi menjadi divisi motorik dan sensorik. Divisi motorik berjalan
ke distal telapak tangan dan mensarafi lumbrikal I dan II. Selain itu, terdapat cabang motorik ke thenar
eminence yang menginervasi otot APB, bagian lateral dari flexor pollicis brevis dan opponens pollicis.
Serabut sensorik dari nervus medianus yang berjalan melalui carpal tunnel mensarafi ibu jari bagian
medial, jari telunjuk, jari tengah dan aspek lateral jari manis
Thenar 1. M. Abduktor policis brevis 2. M. Flexor policis brevis 3. M.opponens pollicis 4. M.adduktor pollicis

1. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy, misalnya HMSN (hereditary
motor and sensory neuropathies)
2. Trauma: dislokasi, fraktur atau hematom pada lengan bawah, pergelangan tangan dan tangan. Sprain pergelangan tangan. Trauma langsung terhadap pergelangan
tangan
3. Pekerjaan: gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang-ulang. Seorang sekretaris yang sering mengetik, pekerja kasar yang sering
mengangkat beban berat dan lain-lain
4. Infeksi: tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.
5. Metabolik: amiloidosis, gout, hipotiroid - Neuropati tekan fokal, khususnya Carpal Tunnel Syndrome juga dapat terjadi karena penebalan ligamen, dan tendon dari zat
yang disebut mukopolisakarida.
6. Endokrin: akromegali, terapi estrogen atau androgen, diabetes mellitus, hipotiroid, kehamilan.
7. Neoplasma: kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase,mieloma.
8. Penyakit kolagen vaskular: artritis reumatoid, polimialgia reumatika, skleroderma, lupus eritematosus sistemik.
9. Degeneratif: osteoartritis.
10. Iatrogenik: punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk dialisis, hematoma, komplikasi dari terapi anti ko agulan.
11. Faktor stress
12. Inflamasi: Inflamasi dari membran mukosa yang mengelilingi tendon menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome.

kompresi mekanik, gejala CTS disebabkan oleh kompresi nervus medianus dalam carpal tunnel. Kekurangan teori ini adalah bahwa teori ini dapat menjelaskan
konsekuensi dari kompresi saraf namun tidak dapat menjelaskan penyebab yang mendasari terjadinya kompresi mekanis tersebut. Penelitian sebelumnya mengaitkan
gejala CTS dengan kompresi nervus medianus spontan.

Teori insufisiensi mikroovaskular mengusulkan bahwa kurangnya aliran darah menyebabkan deplesi nutrien dan oksigen ke saraf dan menyebabkan jaringan saraf
perlahan-lahan kehilangan kemampuannya untuk mentransmisikan impuls saraf. Jaringan fibrosa dan scar pada akhirnya akan berkembang di dalam saraf. Gejala khas CTS
berupa kebas, nyeri, kesemutan , bersamaan dengan hilangnya konduksi saraf dianggap sebagai akibat iskemik pada saraf

Menurut teori vibrasi, gejala CTS dapat disebabkan oleh efek jangka panjang penggunaan alat-alat getar pada nervus medianus. Suatu studi menemukan edema
epineural di nervus medianus

Pada dasarnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan fleksor retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. Tekanan yang berulang-
ulang dan lama akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu
nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh adanya kerusakan endotel akibat anoksia. Kerusakan endotel ini menyebabkan adanya kebocoran plasma sehingga terjadi edema
epineural. Hipotesa ini mampu menjelaskan bagaimana keluhan nyeri dan kesemutan yang timbul terutama pada malam atau pagi hari akan berkurang setelah tangan
1. Pilihan Laser atau USD. US lebih efektif
2. Membedakan dequivera dan CTS (finkelstein test)
3. Inidkasi penggunaan elektrodiagnostik? Tujuan utama pemeriksaan neurofisiologis pada pasien dengan gejala dan tanda klinis CTS adalah untuk mengkonfirmasi
kompresi nervus medianus di pergelangan tangan. emeriksaan KHS sensorik dan motorik nervus medianus dan segmen saraf lainnya dan pemeriksaan EMG
jarum pada sat atau beberapa otot memungkinkan menyingkirkan diagnosis penyakit lain yang sering berhubungan dengan CTS seperti radikulopati, pleksopati
dan sebagainya.
4. Kapan digunakan kortikosteroid dan nsaid? Apa perlu dua duanya? As a result, steroid treatment for CTS, particularly local injection, is effective for temporary
relief of symptoms in many patients. However, the efficacy and duration of symptom relief with the steroid injections are still unknown. On the other hand,
another recent study indicated that local steroid injection and nonsteroidal anti-inflammatory drugs with concomitant use of wrist splints might offer patients with
CTS variable and effective treatment
5. Kenapa pasien CTS sering mengalami nyeri pada malam hari? Saat tidur, fleksi atau ekstensi pergelangan tangan yang persisten menyebabkan peningkatan
tekanan pada terowongan karpal, iskemia saraf, dan akibatnya parestesi. Pasien sering terbangun dari tidur dan perlu menggoyangkan tangannya untuk
menghilangkan rasa nyeri.