Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke atau Cerebrovascular Accident (CVA) merupakan suatu penyakit yang


menyerang sistem saraf pusat manusia. Stroke, yang menduduki peringkat tinggi
sebagai penyebab kematian di banyak negara, adalah penyakit di mana terjadi
kerusakan sel-sel saraf di otak akibat terganggunya pasokan darah ke bagian otak.
Stroke merupakan 10% penyebab kematian di seluruh dunia dan penyebab keenam
dari kecacatan, tanpa penanggulangan dan pencegahan yang tepat stroke dapat
menjadi penyebab keempat dari kecacatan pada tahun 2030.

Umumnya penderita stroke akan menjadi tidak mandiri dan bergantung pada
orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari (activities of daily
living/ADL) seperti makan dan minum, mandi, berpakaian dan sebagainya.
Kemandirian dan mobilitas seseorang yang menderita stroke menjadi berkurang
atau bahkan hilang karena serangan stroke yang dialami dapat menyebabkan
kelainan neurologis seperti berkurangnya kemampuan motorik otot, kognitif, visual
dan koordinasi secara signifikan. Penderita stroke juga akan mengalami gangguan
pada kehidupan psikososial nya. Berkurangnya kemampuan fungsional dan
terjadinya masalah psikososial tersebut mendasari terjadinya ketidakmandirian
pada penderita stroke yang mengakibatkan kualitas hidup penderita stroke dapat
berkurang.

Rehabilitasi dapat dipandang sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan


kualitas hidup penderita stroke. Pada dasarnya, rehabilitasi merupakan suatu upaya
untuk mengembalikan seseorang ke kondisinya semula atau ke kondisi yang lebih
baik daripada kondisinya sekarang. Untuk itu perlu diketahui langkah-langkah
rehabilitasi yang tepat bagi penderita stroke untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien.

1
1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan referat ini bertujuan untuk memahami serta menambah pengetahuan


tentang rehabilitasi medik pada stroke.

1.3 Manfaat Penulisan

Penulisan referat ini diharapkan dapat digunakan untuk memahami serta


menambah pengetahuan tentang rehabilitasi medik pada stroke.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak adalah organ yang terletak dalam rongga kranium (tengkorak), terdiri atas
semua bagia Sistem Saraf Pusat (SSP) diatas korda spinalis. Secara garis besar
terdiri dari cerebrum (otak besar), cerebellum (otak kecil) dan brainstem ( batang
otak) (Mardianti & Ratna, 2010).

Cerebrum merupakan bagian terbesar dari otak yang terdiri dari dua bagian,
yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Otak besar terdiri atas corteks (permukaan
otak), ganglia basalis, dan sistem limbik. Kedua hemisfer kiri dan kanan
dihubungkan oleh jaringan serabut padat yang disebut dengan corpus calossum.
Setiap hemisfer dibagi atas 4 lobus, yaitu: (Sloane, 2004; Mardianti & Ratna, 2010).

1. Lobus frontalis (daerah dahi)


Berperan sebagai pusat fungsi intelektual, memori, kontrol, tingkah laku,
dan terdapat Gyrus presentralis (area motorik primer) yang mengatur
banyak fungsi motorik.
2. Lobus oksipitialis (terletak paling belakang)
Lobus oksipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area asosiasi
penglihatan: menginterpretasi dan memproses rangsang penglihatan dari
nervus optikus dan mengasosiasikan rangsang ini dengan saraf lain.
3. Lobus Parietalis
Gyrus postcentralis terletak dibelakang sulcus centralis, merupakan area
sensorik otak tempat apresiasi sensasi raba, tekan dan perubahan suhu
ringan, dan proprioseptif.
4. Lobus temporalis
Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat verbal, visual, pendengaran
dan berperan dalam pembentukan dan perkembangan emosi.

Brainstem (batang otak) terletak diujung atas korda spinalis, berhubungan


langsung dengan korda spinalis. Batang otak terdiri atas: (Sloane, 2004)

1. Mesencephalon (otak tengah)

3
Otak tengah adalah struktur kecil di antara hemisfer serebri di bagian atas
dan pons di bagian bawah. Berfungsi untuk memproses data audio visual,
generasi dari respons motor somatik,
pemeliharaan kesadaran
2. Pons varoli ( terletak di depan cerebellum diantara otak tengah dan
medulla oblongata)
Pons adalah massa tebal jaringan saraf yang bersambungan dengan otak
tengah di atas Medula Oblongata di bawah. Mengulang informasi sensorik
dan cerebellum dan talamus. Pusat motorik viseral otonom.
3. Medulla oblongata
Bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubungkan pons
varoli dengan medula spinalis. Pusat regulasi otonom dari organ viseral
kardiovaskuler, pernapasan, dan aktivitas sistem pencernaan.
Cerebellum terdiri dari lobus centralis kecil dan lobus kanan dan kiri yang lebih
besar. Fungsi utama adalah pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus
gerakan otot untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh.

Gambar 2.1 Lobus dari cerebrum dilihat dari atas dan samping. (Sumber: Paulsen
F. & J. Waschke. 2013

4
Gambar 2.2 Permukaan medial otak, diencephalon, batang otak dan
cerebellum. (sumber: Paulsen F. & J. Waschke. 2013)

Otak memiliki kurang lebih 15 miliar neuron yang membangun substansia alba
dan substansia grisea. Otak merupakan organ yang sangat kompleks dan sensitif.
Fungsinya sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, seperti: gerakan
motorik, sensasi, berpikir, dan emosi. Sel-sel otak bekerja bersama- sama dan
berkomunikasi melalui jaras-jaras yang terbentuk dari sel-sel saraf itu sendiri atau
menggunakan neurotransmitter untuk berhubungan dengan sel lain yang jauh
letaknya (Harsono, 2007).

Darah merupakan sarana transportasi oksigen, nutrisi, dan bahan-bahan lain


yang sangat diperlukan untuk mempertahankan fungsi penting jaringan otak dan
mengangkat sisa metabolit. Kehilangan kesadaran terjadi bila aliran darah ke otak
berhenti 10 detik atau kurang. Kerusakan jaringan otak yang permanen terjadi bila
aliran darah ke otak berhenti dalam waktu 5-7 menit (Harsono, 2007).

Suplai darah diotak didapat dari dua pasang arteri yaitu arteri vertebralis dan
arteri karotis interna yang bercabang dan bersatu membentuk sirkulus wilisi. Dua
arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi

5
perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri
basilaris. Arteri basilaris nantinya akan bercabang dan membentuk arteri cerebri
posterior. Arteri karotis interna bercabang menjadi arteri serebri media dan arteri
serebri anterior. Seluruh rangkaian pembuluh darah ini dihubungkan oleh arteri
comunicans membentuk sirkulus wilisi (Sloane, 2004; Paulsen F. & J. Waschke.
2013).

Gambar 2.3 Arteri otak, sirkulis wilisi (Sumber: Paulsen F. & J. Waschke. 2013)

Arteri cerebri anterior memperdarahi lobus frontalis dan parietalis. Arteri


cerebri media memperdarahi sebagian lobus frontalis, parietalis, temporalis, dan
occipitalis. Arteri serebri posterior memvaskularisasi lobus occipitalis dan sebagian
lobus parietalis. Arteri ini untuk area visual otak. Arteri basilaris memiliki cabang-
cabang arteri untuk vaskularisasi cerebellum, pons dan medulla oblongata.

2.2 Definisi dan Klasifikasi Stroke

Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan


atau terhentinya suplai darah ke otak yang menimbulkan gejala fokal maupun
global >24 jam (Sacco dkk., 2013). Stroke adalah suatu gangguan yang timbul
karena terjadi gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya
kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan
atau kematian (Price & Wilson, 2005).

Kerusakan atau kematian sel saraf di otak pada akhirnya dapat menyebabkan
hilangnya fungsi bagian tubuh yang dikendalikan oleh saraf tersebut. Stroke dapat

6
berakibat kematian dan merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.
Seseorang yang mengalami serangan stroke dan dapat terselamatkan dari kematian,
terkadang mengalami cacat atau kelumpuhan di sebagian anggota tubuhnya, dan
kehilangan sebagian kemampuan bicara dan ingatannya (Sacco dkk., 2013).

Berdasarkan patologi anatomi, klasifikasi stroke dibagi menjadi dua yaitu


stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi
akibat tersumbatnya pembuluh darah sehingga menyebabkan aliran darah ke otak
terhenti sebagian atau seluruhnya. Stroke jenis ini merupakan kasus yang paling
sering terjadi. Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi 3 jenis
yaitu trombotik yang disebabkan oleh terbentuknya thrombus. Thrombus akan
menyebabkan penggumpalan darah sehingga aliran darah tidak lancar atau terhenti.
Kedua adalah stroke embolik yang sebabkan oleh tertutupnya pembuluh arteri oleh
pembekuan darah. Ketiga adalah hipoperfusion sistemik yaitu berkurangnya aliran
darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung (Bastian,
2011).

Berdasarkan perjalanan klinisnya, stroke iskemik dibedakan lagi menjadi:

(1) Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan serangan stroke sementara


yang berlangsung kurang dari 24 jam.

(2) Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) merupakan gejala


neurologis yang akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21 hari.

(3) Progressing stroke atau stroke in evolution merupakan kelainan atau defisit
neurologis yang berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai menjadi
berat.

(4) Complete stroke atau stroke komplit merupakan kelainan neurologis yang
sudah menetap dan tidak berkembang lagi (Junaidi, 2006)

7
Stroke hemoragik merupakan stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah otak. Stroke hemoragik sebagian besar terjadi pada penderita hipertensi.
Stroke hemoragik berdasarkan lokasi terjadinya perdarahan terbagi menjadi dua
yaitu hemoragik intraselebral dan hemoragik subaraknoid. Stroke yang disebabkan
oleh perdarahan di dalam jaringan otak disebut stroke hemoragik intraselebral.
Stroke hemoragik subaraknoid disebabkan oleh perdarahan pada ruang subaraknoid
yaitu ruang sempit antara permukaan otak dengan lapisan jaringan yang menutupi
otak (Bastian, 2011).

Gambar 2.3 Stroke hemoragik dan stroke iskemik. (Sumber


http://heart.arizona.edu/heart-health/preventing-stroke/lowering-risks-stroke)

2.3 Epidemiologi Stroke

Stroke merupakan penyebab terbanyak ketiga dari kematian dan penyebab


utama disabilitas diseluruh dunia. Diestimasikan 5,7 juta kematian akibat stroke
akan meningkat menjadi 7,8 juta pada tahun 2030. Dalam data Riset Kesehatan
Dasar Indonesia, prevalensi stroke di Indonesia tahun 2013 sebesar 12,6 per 1.000
penduduk.Angka itu naik dibandingkan Riskesdas 2007 sebesar 8,3 persen
(RISKESDAS, 2013).

Menurut National Stroke Association sekitar 10% penderita stroke akan


sembuh total tanpa kecacatan, 25% sembuh dengan sedikit kecacatan, 40%
mengalami kecacatan sedang hingga berat sehingga memerlukan perawatan
dirumah dengan jangka panjang, 15% meninggal setelah serangan stroke dan

8
sekitar 14% mengalami serangan kedua pada tahun yang sama (National Stroke
Association, 2013)

2.4 Etiologi dan Faktor Resiko

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan stroke yaitu: (Junaidi, 2006)

a. Trombosis

Trombosis merupakan proses pembentukan trombus dimulai dengan kerusakan


dinding endotel pembuluh darah paling sering karena aterosklerosis. Aterosklerosis
menyebabkan penumpukan lemak dan membentuk plak di dinding pembuluh darah
yang akan menyebabkan obstruksi pembuluh darah otak atau pembuluh organ
distal. Pada trombus vaskular distal, bekuan dapat terlepas dan dibawa melalui
sistem arteri otak sebagai suatu embolus

b. Emboli

Embolus yang terlepas akan ikut dalam sirkulasi dan terjadi sumbatan pada
arteri serebral yang menyebabkan stroke embolik, lebih sering terjadi pada atrial
fibrilasi kronik

c. Hemoragik

Sebagian besar hemoragik intraserebral disebabkan oleh rupture karena


arteriosklerosis dan pembuluh darah hipertensif. Hemoragik intraserebral lebih
sering terjadi pada usia >50 tahun karena hipertensi.

d. Penyebab lain

Stroke dapat disebabkan oleh hiperkoagulasi dan gangguan pembekuan yang


menyebabkan trombosis dan stroke iskemik. Penyebab tersering adalah penyakit
degenerative arterial baik arteriosklerosis pada pembuluh darah besar maupun
penyakit pembuluh darah kecil. Penyebab lain yang jarang terjadi diantaranya
adalah penekanan pembuluh darah serebral karena tumor, bekuan darah yang besar,
edema jaringan otak dan abses otak.

Menurut Junaidi (2006) membagi faktor resiko stroke menjadi 2 golongan,


yaitu :

9
a) Faktor resiko yang dapat dikontrol

1. Tekanan darah tinggi (Hipertensi)

Hipertensi dapat menyebabkan stroke iskemik maupun stroke hemoragik,


tetapi kejadian stroke hemoragik akibat hipertensi lebih banyak yaitu sekitar 80%.

2. Kencing manis (Diabetes mellitus)

Diabetes mellitus dapat menyebabkan stroke iskemik karena terbentuknya plak


aterosklerotik pada dinding pembuluh darah yang disebabkan gangguan
metabolism glukosa sistemik. Peningkatan resiko stroke pada pasien diabetes
diduga karena hiperinsulinemia.

3. Alkohol

Konsumsi alkohol mempunyai efek ganda atas resiko stroke.

4. Merokok

Kebiasaan merokok memiliki kemungkinan untuk menderita stroke lebih


besar, karena dengan merokok dapat menyebabkan vasokonstriksi (menyempitnya
pembuluh darah). Resiko meningkatnya stroke sesuai dengan beratnya kebiasaan
merokok.

5. Stress

Ada beberapa bentuk stress yang dapat menyebabkan seseorang terkena


serangan stroke yaitu :

a. Stress psikis seperti mental atau emosional

b. Stress fisik dapat berupa aktivitas fisik yang berlebihan. Jika tidak dikontrol
dengan baik akan menimbulkan respon tubuh secara berlebihan dalam
menghasilkan hormon-hormon yang membuat tubuh waspada seperti kortisol,
katekolamin, epinefrin, dan adrenalin adrenalin yang berdampak buruk bagi tubuh.

6. Kegemukan (Obesitas)

Obesitas dapat memicu proses aterosklerosis yang dihubungkan dengan


hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes mellitus.

10
b) Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol

1. Umur

Jika seseorang semakin tua maka kejadian stroke semakin tinggi. Setelah
individu berumur 45 tahun maka resiko stroke iskemik meningkat dua kali lipat
pada tiap dekade.

2. Ras / bangsa

Di Negara Indonesia, suku batak dan padang lebih sering menderita stroke
daripada suku jawa.

3. Jenis kelamin

Angka kejadian penyakit stroke lebih banyak dialami wanita daripada laki-laki.
Hal itu disebabkan wanita memiliki kecacatan stroke yang lebih berat dibandingkan
lawan jenisnya (Falcone & Chong, 2007).

4. Riwayat keluarga

Keluarga (orangtua dan saudara) yang pernah mengalami stroke pada usia
muda, maka keluarga lainnya memiliki resiko tinggi untuk mendapatkan serangan
stroke.

2.5 Patofisiologi Stroke

Gangguan aliran darah serebral dapat terjadi di dalam arteri karotis interna,
system vertebrobasilar, dan di semua cabang-cabang yang membentuk sirkulus
Willisi. Penurunan aliran darah serebral menyebabkan iskemia jaringan dan
penghentian total aliran darah 15-20 detik yang menyebakan kehilangan kesadaran.
Apabila aliran darah ke otak terputus selama 15 sampai 20 menit, maka perdarahan
kolateral menjadi tidak adekuat sehingga menyebabkan infark atau kematian
jaringan (Price & Wilson, 2005).

Penghentian total aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya kesadaran


dalam waktu 15-20 detik dan kerusakan otak yang ireversibel terjadi setelah tujuh
hingga sepuluh menit. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di
area otak yang terbatas yang disebut sebagai stroke. Mekanisme dasar kerusakan

11
ini adalah selalu defisiensi energy yang disebabkan oleh iskemik dan perdarahan.
Dengan menghambat Na+/K+ - ATPase, defisiensi energy menyebabkan
penimbunan Na+ dan Ca2+ di dalam sel serta meningkatkan konsentrasi K+
ekstrasel sehingga menimbulkan depolarisasi. Depolarisasi menyebabkan
penimbunan Cl- di dalam sel, pembengkakan sel, dan kematian sel. Depolarisasi
juga meningkatkan pelepasan gutamat, yang mempercepat kematian sel melalui
masuknya Na+ dan Ca2+. Kematian sel menyebabkan inflamasi yang juga merusak
sel di tepi area iskemik (Silbernagl & Lang, 2007).

2.6 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis stroke ditentukan oleh tempat perfusi yang terganggu, yakni
daerah yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut. Berikut ini adalah tanda dan
gejala stroke berdasarkan arteri yang terkena:

a. Arteri Serebri Media

Oklusi pada arteri serebri media yang sering terjadi menyebabkan kelemahan
otot dan spastisitas kontralateral, serta defisit sensorik (hemianestesia) akibat
kerusakan girus lateral prasentralis dan postsentralis. Akibat selanjutnya adalah
deviasi okular akibat kerusakan area motorik penglihatan, hemianopsia (radiasi
optikus), gangguan bicara motorik dan sensorik (area bicara Broca dan Wernicke
dari hemisfer dominan), gangguan persepsi spasial, apraksia, dan hemineglect
(lobus parietalis) (Silbernagl & Lang, 2007).

b. Arteri Serebri Anterior

Oklusi arteri serebri anterior menyebabkan hemiparesis dan defisit sensorik


kontralateral (akibat kehilangan girus prasentralis dan postsentralis bagian medial),
kesulitan bicara (akibat kerusakan area motorik tambahan) serta apraksia pada
lengan kiri jika korpus kalosum anterior dan hubungan dari hemisfer dominan ke
korteks motorik kanan terganggu. Penyumbatan bilateral pada arteri serebri anterior
menyebabkan apatis karena kerusakan dari sistem limbik (Silbernagl & Lang,
2007).

c. Arteri Serebri Posterior

12
Penyumbatan arteri serebri posterior menyebabkan gangguan visual,
prosopagnosia. Selain itu akan terjadi kehilangan memori (lobus temporalis bagian
bawah) (Silbernagl & Lang, 2007)

d. Arteri Basilaris

Oklusi total arteri basilaris menyebabkan tetraparese, paralisis otot-otot mata


serta koma. Oklusi pada cabang arteri basilaris dapat menyebabkan infark pada
serebelum, mesensefalon, pons, dan medula oblongata (Silbernagl & Lang, 2007).

e. Gejala akibat gangguan fungsi luhur

Gangguan fungsi luhur pada penderita stroke adalah dapat kehilangan


kesadarannya. Selain itu terdapat kelainan-kelainan yang menandakan adanya
defisit fungsi luhur seperti: Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa.
Aphasia dibagi dua yaitu, Aphasia motorik adalah ketidakmampuan untuk
berbicara, mengeluarkan isi pikiran melalui perkataannya sendiri, sementara
kemampuannya untuk mengerti bicara orang lain tetap baik. Aphasia sensorik
adalah ketidakmampuan untuk mengerti pembicaraan orang lain, namun masih
mampu mengeluarkan perkataan dengan lancar, walau sebagian diantaranya tidak
memiliki arti, tergantung dari luasnya kerusakan otak. Penderita juga mungkin
mengalami kehilangan kemampuan membuat rencana, keputusan, gangguan
orientasi, anosognosia, neglect dan sebagainya

2.7. Diagnosis

Diagnosis didasarkan atas hasil: (Harsono. 2007)

a. Penemuan Klinis

1. Anamnesis

Anamnesis, terutama mengenai gejala awal, waktu awitan, aktivitas penderita


saat serangan, gejala seperti nyeri kepala, mual, muntah, rasa berputar, kejang,
cegukan, gangguan visual, penurunan kesadaran, serta faktor risiko stroke

2. Pemeriksaan Fisik

13
Penilaian respirasi, sirkulasi, oksimetri, dan suhu tubuh. Pemeriksaan
neurologis terutama pemeriksaan saraf kranialis, rangsang selaput otak, sistem
motorik, sikap dan cara jalan, refleks, koordinasi, sensorik dan fungsi kognitif.

Penyebab stroke infark atau pendarahan dapat ditentukan melalui anamnesa


dan pemeriksaan fisik. Ketika tanda dan gejala klinis ditemukan lalu dilakukan
metode scoring. Terdapat banyak metode scoring yang bisa digunakan sedangkan
yang sering dipakai salah satunya adalah skor Stroke Hemoragik dan Non-
Hemoragik Djonaedi (Umbas, 2015)

Total skor >20 Stroke Hemoragik


Total skor <20 Stroke Infark

14
b. Pemeriksaan tambahan/Laboratorium

1. Pemeriksaan Neuro-Radiologik

Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), sangat membantu diagnosis


dan membedakannya dengan perdarahan terutama pada fase akut. Angiografi
serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang
pembuluh darah yang terganggu, atau bila scan tak jelas. Pemeriksaan MRI juga
dapat membantu diagnosis dan cukup spesifik membedakan stroke infark maupun
pendarahan sampai pendarahan yang kecil sekalipun.

2. Pemeriksaan lain-lain

Pemeriksaan untuk menemukan faktor resiko, seperti: pemeriksaan darah rutin


(Hb, hematokrit, leukosit, eritrosit), hitung jenis dan bila perlu gambaran darah.
Komponen kimia darah, gas, elektrolit, Doppler, Elektrokardiografi (EKG).

2.8 Masalah-masalah yang Timbul Akibat Stroke pada Individu

Junaidi (2006) menyatakan bahwa stroke mengakibatkan individu mengalami


keterbatasan dalam hidupnya. Gangguan fisik tersebut adalah :

a. Adanya serangan defisit neurologis atau kelumpuhan fokal, seperti


hemiparese yaitu kelumpuhan pada sebelah badan yang kanan atau kiri saja.

b. Mati rasa sebelah badan, sering terasa kesemutan dan terkadang seperti
terasa terbakar.

c. Mulut mencong, sehingga individu mengalami kesulitan untuk berbicara


kata-kata yang diucapkan kurang dapat dipahami.

d. Sulit untuk makan dan menengguk minuman. Fungsi menelan yang


dikendalikan oleh saraf yang berasal dari kedua hemisfer otak mengalami
penurunan.

e. Mengalami kekakuan ataupun kesulitan ketika berjalan yang diakibatkan


oleh kelumpuhan.

f. Pendengaran yang kurang baik

15
g. Gerakan tidak terkoordinasi, kehilangan keseimbangan, sempoyongan, atau
kehilangan koordinasi sebelah badan.

h. Gangguan kesadaran seperti pingsan bahkan sampai koma

i. Masalah psikososial bagi penderita stroke akibat penyakitnya dapat


menjadikan penderita stroke menjadi depresi, kemarahan menutup diri dan
sebagainya.

Selain itu masalah fisik yang dihadapi oleh penderita stroke sangat berdampak
pada aktivitas sehari-hari yang akan sangat mempengaruhi kehidupan penderita.
Untuk melihat tingkat keparahan kelumpuhan atau kecacatan stroke, Modified
Rankin Scale sebagai skala kecacatan yang dapat digunakan (Sacco, 2013).

a. Kecacatan derajat 0

Tidak ada gangguan fungsi

b. Kecacatan derajat 1

Hampir tidak ada gangguan fungsi pada aktivitas sehari-hari atau ganguan
minimal. Pasien mampu melakukan tugas dan kewajiban sehari-hari

c. Kecacatan derajat 2

Pasien tidak mampu melakukan beberapa aktivitas seperti sebelumnya, tetapi


tetap dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

d. Kecacatan derajat 3

Pasien memerlukan bantuan orang lain, tetapi masih mampu berjalan sendiri
tanpa bantuan orang lain, walaupun mungkin membutuhkan tongkat.

e. Kecacatan derajat 4

Pasien tidak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain, perlu bantuan orang lain
untuk menyelesaikan sebagian aktivitas diri seperti mandi, pergi ke toilet, dan lain-
lain.

f. Kecacatan derajat 5

16
Pasien terpaksa terbaring di tempat tidur dan kegiatan buang air kecil dan besar
tidak sadar (inkontinensia), memerlukan perawatan dan perhatian.

g. Meninggal

2.9 Penatalaksanaan

Secara umum, penatalaksanaan stroke bertujuan untuk memperbaiki keadaan


umum, mencegah kematian dan komplikasi. Menurut Konsensus Nasional
Pengelolaan Stroke di Indonesia, penatalaksanaan awal stroke adalah sebagai
berikut: (Misbach & Harmani, 2011)

• Bebaskan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat

• Kandung kemih yang penuh dikosongkan

• Penanganan tekanan darah secara khusus

• Koreksi hipoglikemi atau hiperglikemi

• Suhu tubuh dipertahankan normal

• Nutrisi per oral/pipa nasogastrik

• Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Lalu dilanjutkan dengan pengobatan secara khusus disesuaikan dengan jenis


stroke yang dialami, yaitu sebagai berikut: (Misbach & Harmani, 2011)

1. Stroke Iskemik / non hemoragik

a. Pengobatan pada penyebabnya

Strategi pengobatan disini dapat difokuskan pada :

- Prevalensi terjadinya trombosis (antikoagulasi, trombolitik, antiagregasi


platelet)

- Memperbaiki aliran darah ke otak (vasopressor)

- Proteksi neuronal/sitoproteksi (golongan membran stabilizer)

b. Pengobatan pada faktor risiko

17
- Anti hipertensi ( klonodin, captopril dan lain-lain )

- Anti diabetik ( insulin )

- Terapi untuk kelainan jantung ( aspirin, warparin dan lain-lain )

- Terapi untuk tekanan intrakranial yang meningkat ( manitol )

2. Stroke Hemoragik

a. Pengobatan Konservatif

- Menjamin jalan nafas bebas hambatan

- Pemberian oksigen

- Pemberian cairan, elektrolit dan nutrien

- Pasang kateter untuk monitoring produksi urin

- Pemberian pelunak feses

- Pemberian antiperdarahan (asam traneksamat)

- Bila terjadi edema cerebri diberikan manitol

b. Pengobatan bedah saraf (operatif)

Tujuan operasi

- Pengeluaran bekuan darah

- Penyaluran cairan serebro spinal

- Pembedahan mikro pada pembuluh darah

2.10 Penatalaksanaan Rehabilitasi

Rehabilitasi stroke merupakan sebuah program yang terkoordinasi yang


memberikan perawatan restoratif untuk memaksimalkan pemulihan dan
meminimalisasi impairment, disability, dan handicap yang disebabkan oleh stroke
(Widiyanto, 2009). Disability atau ketidakmampuan didefinisikan sebagai
keterbatasan atau hilangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas yang umum
dilakukan orang normal akibat impairment yang dideritanya (Wirawan, 2009).

18
Menurut Wirawan (2009), terdapat 6 prinsip dasar pada rehabilitasi stroke
sebagai berikut:

1. Gerak merupakan terapi utama.

2. Latihan yang digunakan pada terapi gerak sebaik merupakan gerak


fungsional.

3. Pasien diarahkan untuk melakukan gerak dengan keadaan senormal


mungkin.

4. Latihan gerak fungsional dapat dilakukan setelah stabilitas tubuh sudah


tercapai.

5. Terapi gerak diberikan kepada pasien yang siap secara fisik maupun mental.

6. Hasil terapi akan optimal jika ditunjang dengan kemampuan fungsi kognitif,
persepsi, dan modalitas sensoris yang baik

2.10.1 Assessment dan Evaluasi

Sebelum dilakukannya rencana terapi rehabilitasi perlu dilakukan asesmen dan


evaluasi penderita stroke dari sudut pandang rehabilitasi medik. Evaluasi
rehabilitasi medik yang dilakukan oleh tim berbeda dengan evaluasi medik umum
bagi penderita. Tujuan evaluasi rehabilitasi medik adalah untuk tercapainya sasaran
fungsional yang realistik dan untuk menyusun suatu program rehabilitasi yang
sesuai dgn sasaran tersebut. Pemeriksaan ini meliputi 4 bidang evaluasi, yaitu
sebagai berikut (Darodjah, 2007; Angliadi dkk, 2006).

1. Evaluasi neuromuskuloskeletal:

Evaluasi ini mencakup evaluasi neurologik secara umum dan secara khusus
harus diperiksa kemampuan terhadap fungsi cerebral (memori, koordinasi, bicara)
dan cerebellar, sensasi dan penglihatan (terutama visus dan lapangan penglihatan).
Evaluasi sistem motorik meliputi pemeriksaan luas gerak sendi (ROM), tonus otot
dan kekuatan otot (Manual Muscle Test/MMT).

2. Evaluasi medik umum

19
Sebagian besar penderita stroke telah berusia lanjut dan mungkin mempunyai
problem medik sebelumnya. Evaluasi tentang sistem kardiovaskular, respirasi serta
sistem urogenital sangatlah penting. Sebagian penderita stroke disertai dengan
penyakit jantung simptomatik. Juga harus diperhatikan adanya hipertensi dan
diabetes mellitus, kontrol yang baik adalah sangat perlu.

3. Evaluasi fungsional

Kemampuan fungsional yang dievaluasi meliputi aktivitas kegiatan hidup


sehari-hari (ADL): makan, mencuci, berpakaian, kebersihan diri, transfer dan
ambulasi. Untuk setiap jenis aktivitas tersebut, ditentukan derajat kemandirian atas
ketergantungan penderita, juga kebutuhan alat bantu. Penilaian ini dapat dilakukan
dengan menggunakan Barthel’s Index.

4. Status emosional dan psikologis


Stroke dapat menyebabkan penderitanya mengalami rasa cemas, marah
bahkan depresi karena kehilangan kontrol pada anggota tubuh. Ketidak mandirian
juga menjadikan penderita mungkin merasa menjadi beban bagi keluarga.

2.10.2 Tujuan Rehabilitasi pada Stroke

Terdapat dua fase rehabilitasi medik pada stroke, yaitu fase awal dan lanjutan.
Rehabilitasi penderita stroke paling baik dikerjakan dirumah sakit pada fase akut
dan di pusat rehabilitasi pada fase lanjut. Tujuan program rehabilitasi adalah:

a. Mencegah komplikasi imobilisasi lama seperti kontraktur dan ulkus


dekubitus

b. Mengajari dan melatih kembali kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari


seperti makan, minum, berpakaian, cebok dan mandi

c. Melatih ambulasi

d. Membantu penderita kembali berinteraksi dengan lingkungannya

Lamanya program yang direncanakan tergantung dari faktor-faktor yang


mempengaruhi. Pada fase awal pengobatan dan perawatan ditujukan untuk
menyelamatkan jiwa dan mencegah komplikasi, segera setelah keadaan umum

20
memungkinkan, rehabilitasi pada stroke infark biasanya dimulai pada hari ke 2-3.
Untuk stroke akibat perdarahaan biasanya setelah hari ke-14, sedangkan fase
lanjutan bertujuan untuk untuk mencapai kemandirian fungsional dalam mobilisasi
dan aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living-ADL) (Darodjah, 2007).

2.10.3 Fase Awal

Pada fase awal mungkin kesadaran penderita masih menurun dan masih banyak
pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan. Pengobatan dan perawatan pada fase ini
ditujukan untuk menyelamatkan jiwa dan mencegah komplikasi. Segera setelah
keadaan umum memungkinkan rehabilitasi dimulai. (Hariandja, 2013)

Tenaga medis dapat mulai pengobatan dan perawatan dengan melakukan


anamnesis keluarga penderita, mencari keterangan tentang pekerjaan, kegemaran,
sosial ekonomi dan lingkungan hidup serta keadaan rumah penderita. Selain itu,
seseorang fisioterapis mengatur posisi penderita sejak dini dengan tujuan mencegah
dekubitus, kontraktur sendi, nyeri bahu, pneumonia ortostatik, bermanfaat untuk
melawan dominasi synergictic pattern dan memudahkan nursing care. Posisi ini
terdiri dari : (Angliadi dkk, 2006).

a. Posisi baring terlentang

Ekstremitas atas diletakkan di atas bantal sehingga bahu sedikit abduksi dan ke
depan, siku dalam ekstensi lengan dalam rotasi keluar, pergelangan tangan dan
tangan dalam ekstensi. Ekstremitas bawah, sendi paha agak ekstensi dengan
meletakkan bantal kecil di bawah paha dan sendi paha, lutut dalam fleksi, tungkai
atas dalam internal rotasi ringan (Sinaki & Dorcher, 1993).

21
b. Posisi miring pada bagian yang sehat

c. Posisi miring pada bagian yang sakit

Perhatikan posisi ekstremitas atas. Bahu yang sakit jangan sampai tertindih ke
belakang, tetapi dalam posisi ke depan.

d. Posisi bridging atau jika memungkinkan posisi duduk

Penderita diubah posisinya setiap 2 jam untuk mencegah terjadinya ulkus


dekubitus, kemudian diberikan latihan luas gerak sendi (ROM).

Pada ekstremitas yang sakit, dilakukan latihan luas gerak sendi (ROM) gerakan
penuh secara pasif. Perhatian khusus ditujukan tehadap sendi bahu, tangan dan

22
pergelangan kaki. Latihan ini membantu mencegah kekakuan sendi, yang dapat
menghambat fungsi pada saat pemulihan neurologik terjadi. Begitu penderita sadar
penanganan masalah emosional dimulai. Setelah tahu ada gangguan fungsi gerak
pada dirinya penderita biasanya menjadi sangat kecewa, emosi labil, ketakutan, dan
frustasi dapat terjadi (Angliadi dkk, 2006).

2.10.2 Fase Lanjut

Tujuannya adalah untuk mencapai kemandirian fungsional dalam mobilisasi


dan aktifitas kegiatan sehari-hari (AKS). Fase ini dimulai pada waktu penderita
secara medik telah stabil karena pada fase ini pasien diminta lebih aktif. Program
pada fase ini meliputi: (Sinaki & Dorcher, 1993; Stein & Brandstater, 2010).

a. Fisioterapi

1) Stimulasi elektrikal dengan alat untuk otot-otot dengan kekuatan otot


(kekuatan 2 kebawah).

2) Diberikan terapi panas superficial (infra red) untuk melemaskan otot.

3) Latihan gerak sendi dapat secara pasif atau aktif tergantung dari
kekuatan otot.

4) Latihan untuk meningkatkan kekuatan otot.

5) Latihan stimulasi, fasilitasi, reedukasi otot

6) Latihan mobilisasi (Angliadi dkk, 2006).

23
Latihan stimulasi dan fasilitasi gerakan motorik: A Duduk dan menggerakkan
lengan yang sehat ke arah yang sakit; B. Miring ke sisi sakit; C. Miring ke sisi sehat;
D. Berputar bersangga pada siku; E. Terlentang, hip diputar; F. Berputar pada sisi
yang sehat; G. Berputar ke sisi sakit

b. Terapi Okupasi (aktifitas kehidupan sehari-hari/AKS)

Tujuan terapi ini adalah penderita stroke dapat mencapai kemandirian dalam AKS,
meskipun pemulihan fungsi neurologis pada ekstremitas yang terkena belum tentu
baik. Dengan alat bantu yang disesuaikan, AKS dengan menggunakan satu tangan
secara mandiri dapat dikerjakan. Kemandirian dapat dipermudah dengan
pemakaian alat-alat bantu yang disesuaikan.

c. Terapi Bicara

Penderita stroke sering mengalami gangguan bicara dan komunikasi. Ini dapat
ditangani oleh speech therapist dengan cara:

1) Latihan pernapasan (pre speech training) berupa latihan napas,


menelan, meniup, latihan gerak bibir, lidah dan tenggorokan.

2) Latihan di depan cermin untuk latihan gerakan lidah, bibir dan


mengucapkan kata-kata.

3) Latihan pada penderita disartria lebih ditekankan ke artikulasi


mengucapkan kata-kata.

4) Pelaksana terapi adalah tim medik dan keluarga.

24
d. Ortotik Prostetik

Pada penderita stroke dapat digunakan alat bantu atau alat ganti dalam membantu
transfer dan ambulasi penderita. Alat-alat yang sering digunakan antara lain: arm
sling, hand sling, walker, wheel chair, knee back slap, short leg brace, ankle foot
orthotic (AFO), knee ankle foot orthotic (KAFO).

e. Psikologi

Semua penderita dengan gangguan fungsional yang akut akan melampaui


berbagai masalah psikologis, yaitu: fase shock, fase penolakan, fase penyesuaian
dan fase penerimaan. Sebagian penderita mengalami fase-fase tersebut secara cepat,
sedangkan sebagian lagi mengalami secara lambat, berhenti pada salah satu fase,
bahkan kembali ke fase yang telah lewat. Penderita harus berada pada fase
psikologis yang sesuai untuk dapat menerima rehabilitasi.

f. Psikososial dan Vokasional

Psikososial dan vokasional sangat perlu dievaluasi karena rehabilitasi medik


tergantung tidak hanya pada fungsi secara fisik, tetapi juga tergantung faktor
psikologik seperti motivasi penderita. Vokasional dan aktivitas rekreasi, hubungan
dengan keluarga, sumber daya ekonomi dan sumber daya lingkungan juga harus
dievaluasi. Evaluasi psikososial dapat dilakukan dengan menyuruh penderita
mengerjakan suatu hal yang sederhana yg dapat dipakai untuk penilaian tentang
kemampuan mengeluarkan pendapat, kemampuan daya ingat, daya pikir dan
orientasi.

2.11 Prognosis

Secara umum impairment yang disebabkan oleh stroke adalah hemiplegi atau
hemiparese yaitu sebesar 73-88% pada stroke akut. Perbaikan fungsi motorik pada
pasien stroke berhubungan dengan beratnya defisit neurologis saat serangan, luas
lesi, riwayat stroke sebelumnya dan beratnya faktor resiko. Kesembuhan saraf juga
dapat terjadi sekitar 6-12 bulan setelah terkena jejas. Biasanya perbaikan saraf
sudah mulai terlihat pada bulan ke tiga. Namun hanya sekitar 10% penderita stroke
yang sembuh tanpa kecacatan sama sekali.

25
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan


atau terhentinya suplai darah ke otak yang menimbulkan gejala stroke >24 jam.
Kerusakan atau kematian sel saraf di otak pada akhirnya dapat menyebabkan
hilangnya fungsi bagian tubuh yang dikendalikan oleh saraf tersebut. Stroke dapat
berakibat kematian dan merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.
Berdasarkan patologi anatomi, stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke iskemik dan
stroke hemoragik. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat
tersumbatnya pembuluh darah sehingga menyebabkan aliran darah ke otak terhenti
sebagian atau seluruhnya. Stroke hemoragik merupakan stroke yang disebabkan
oleh pecahnya pembuluh darah otak.

Stroke mengakibatkan individu mengalami keterbatasan dalam hidupnya.


Selain itu masalah fisik yang dihadapi oleh penderita stroke sangat berdampak pada
aktivitas sehari-hari yang akan sangat mempengaruhi kehidupan penderita.

Rehabilitasi stroke merupakan sebuah program yang terkoordinasi yang


memberikan perawatan restoratif untuk memaksimalkan pemulihan dan
meminimalisasi impairment, disability, dan handicap yang disebabkan oleh stroke.
Rehabilitasi pada stroke dibedakan menjadi dua fase yaitu fase awal dan fase
lanjutan dengan perbedaan masing-masing terapi yang diberikan pada tiap fase.

3.2 Saran

Pemberian latihan pada tenaga kesehatan untuk dapat melakukan proses


rehabilitasi medik di pelayanan primer untuk penyakit stroke.

26
Daftar Pustaka

Angliadi LS, dkk. Rehabilitasi Stroke. Dalam: Penuntun Ilmu KedokteranFisik dan
Rehabilitasi. Manado: Bagian Ilmu Kedokteran Fisik danRehabilitasi Fakultas
Kedokteran Sam Ratulangi. Manado. 2006; 5-21

Bastian, Y. D., 2011. Rehabilitasi Stroke. RS. Mitra Keluarga, Depok. [Online].
Diakses dari: http://www.mitrakeluarga.com/depok/rehabilitasi-stroke/#

Batticaca, F. B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Darodjah SH. 2007. Rehabilitasi pada Pasien Stroke. Departemen Rehabilitasi


Medik RS Dr. Kariadi Fakultas Kedokteran Universitas
DiponegoroSemarang.; 1-48.9.

Falcone G; Chong JY 2007. Gender Differences in Stroke Among Older Adults.


Geriatrics and Aging. 2007;10(08):497-500.

Harsono. 2007. Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press. Edisi ke
7. Yogyakarta

Hariandja JR. 2013. Identifikasi Kebutuhan Akan Sistem Rehabilitasi Berbasis


Teknologi Terjangkau Untuk Penderita Stroke Di Indonesia. Universitas
Katolik Parahyangan.

Junaidi, Iskandar, 2006; Stroke A-Z, PT Buana Ilmu Popular, Jakarta.

Mardianti, Ratna. 2010. Buku Kuliah Susunan Saraf Otak Manusia. Sagung Seto.
Jakarta

Misbach, J dan Harmani K. Mengenali Jenis-jenis Stroke . 2011. Diunduh


dari:http://medicastore.com/stroke/Mengenali_Jenis_Stroke.php

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Sistem Syaraf. Salemba
Medika. Jakarta

National Stroke Foundation. 2010. Clinical Guidelines for Stroke Management


Melbourne: Australia.

27
Paulsen F. & J. Waschke. 2013. Sobotta Atlas Anatomi Manusia : Anatomi Umum
dan Muskuloskeletal. Penerjemah : Brahm U. Penerbit. Jakarta : EGC.

Price & Wilson. 2005. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Vol.2. Jakarta
: EGC.

Sacco RL, dkk. 2013. An updated definition of stroke for the 21st century: a
statement for healthcare professionals from the American Heart
Association/American Stroke Association. Stroke 44:2064-2089

Silbernagl, S. 2006. In: Silbernagl, S., Lang, F. editor. Teks dan Atlas Berwarna
Patofisiologi. Jakarta : EGC

Sinaki M dan Dorsger PT.1993. Rehabilitation After Stroke. Basic Clinical


Rehabilitation Medicion edisi 2. St Lois: Mosby.

Sloane, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran
(EGC). Jakarta.

Stein J dan Brandstater ME. 2010. Delisa’s Physical Medicine and Rehabilitation
edisi 5. Philadelpia: William & Wilkins Lippincot

Umbas DG. 2015. Aplikasi Sistem Skor Stroke Dave dan Djoenaidi (SSSDD) untuk
Membedakan Stroke Hemoragik dan Stroke Iskemik

Wirawan, R., 2009. Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer. Volume
59. Majalah Kedokteran Indonesia. Jakarta. Diakses dari:
indonesia.digitaljournals.org/

28