Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN.

D DENGAN

DIAGNOSA MEDIS ILEUS OBSTRUKTIF DENGAN TEKNIK

ANESTESI UMUM DI IBS RSUD CILACAP

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Keperawatan Anestesi IV

Dosen Pembimbing: Abdul Majid, S.Kep., Ns., M.Kep

Pembimbing Lapangan : Turmudi, SST., SKM

Disusun Oleh :

Yuni Apriliani Istiqamah (P07120215045)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA

PRODI D IV KEPERAWATAN

TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN. D DENGAN

DIAGNOSA MEDIS ILEUS OBSTRUKTIF DENGAN TEKNIK

ANESTESI UMUM DI IBS RSUD CILACAP

Diajukan untuk disetujui pada:

Hari : Sabtu

Tanggal : 30 Maret 2019

Tempat : IBS RSUD Cilacap

Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lapangan

Abdul Majid, S.Kep., Ns., M.Kep Turmudi, SST., SKM

NIP. 196705151989031005 NIP. 1962123119844121030


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan Asuhan Keperawatan Perianestesi Pada Tn.
D Dengan Diagnosa Medis Ileus Obstruktif Dengan Teknik Anestesi Umum di IBS
RSUD Cilacap tanpa halangan apapun.

Penulisan asuhan keperawatan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Praktik Klinik
Keperawatan Anestesi IV Prodi D IV Keperawatan semester VIII. Penulis menyadari
bahwa penulisan asuhan keperawatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.
Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Direktur RSUD Cilacap yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan


praktik di RSUD Cilacap
2. Turmudi, SST., SKM selaku pembimbing lapangan di Instalasi Bedah Sentral RSUD
Cilacap
3. Abdul Majid, S.Kep., Ns., M.Kep selaku pembimbing akademik di Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan asuhan keperawatan ini.

Dalam penulisan asuhan keperawatan ini penulis menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan
asuhan keperawatan ini. Semoga penulisan asuhan keperawatan ini bermanfaat bagi
pembaca.

Cilacap, Maret 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obstruksi ileus merupakan kegawatan dalam bedah abdominal yang sering
dijumpai. Sekitar 20% pasien datang kerumah sakit datang dengan keluhan nyeri
abdomen karena obstruksi pada saluran cerna, 80% terjadi pada usus halus.Obstruksi
ileus adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana menghambat proses
pencernaan secara normal (Sjamsuhidayat, 2006).
Penyakit ini sering terjadi pada individu yang memiliki kebiasaan
mengkonsumsi makanan yang rendah serat, dari kebiasaan tersebut akan muncul
permasalahan pada kurangnya membentuk massa feses yang menyambung pada
rangsangan peristaltic usus, kemudian saat kemampuan peristaltic usus menurun maka
akan terjadi konstipasi yang mengarah pada feses yang mengeras dan mampu
menyumbat lumen usus sehingga menyebabkan terjadinya osbtruksi (Mansjoer, 2001)
Salah satu pelayanan kesehatan yang di lakukan di rumah sakit adalah
pelayanan pembedahan. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju,
prosedur tindakan pembedahan pun mengalami kemajuan pesat. Sejumlah penyakit
merupakan indikasi untuk dilakukan pembedahan adalah laparotomi. Tindakan
operasi atau laparotomi merupakan peristiwa kompleks sebagai ancaman potensial
atau aktual kepada integritas seseorang baik bio, psiko, maupun sosial (Razid, 2010)
Angka kejadian di Indonesia menunjukan kasus laparotomi meningkat dari
162 kasus pada tahun 2005 menjadi 983 kasus pada 2006 dan 1281 kasus pada tahun
2007 (Depkes RI, 2007). Salah satu cara penanganan pada pasien dengan obstruksi
ileus adalah dengan pembedahan laparotomi, penyayatan pada dinding abdomen.
Obstruksi ileus dapat terjadi pada setiap usia. Namun penyakit ini sering dijumpai
pada orang dewasa. Laparotomi adalah suatu pembedahan yang dilakukan pada
bagian abdomen untuk mengetahui suatu gejala dari penyakit yang diderita oleh
pasien.suatu kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan tindakan laparotomi
adalah : Kanker organ abdominal, radang selaput perut, appendisitis, pankreasitis,
obstruksi ileus (Smeltzer, 2002).
Dengan masalah diatas penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan
anestesi dengan judul “Asuhan Keperawatan Perianestesi Pada Tn. D Dengan
Diagnosa Medis Ileus Obstruktif Dengan Teknik Anestesi Umum di IBS RSUD
Cilacap”

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem
pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian keperawatan dengan gangguan
sistem pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan dengan gangguan sistem
pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
c. Mahasiswa mampu membuat rencana keperawatan dengan gangguan sistem
pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
d. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan dengan gangguan sistem
pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
e. Mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan dengan gangguan
sistem pencernaan pada pasien Ileus Obstruktif
f. Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan anestesi meliputi pre, intra,
dan pasca anestesi pada pasien Ileus Obstruktif
C. Waktu
Asuhan keperawatan anestesi pada pasien Ileus Obstruktif dilaksanakan pada tanggal 26
Maret 2019
D. Tempat Praktik
Tempat praktik di instalasi bedah sentral dan ruang pulih sadar di RSUD Cilacap
E. Metode Pengambilan Data
Adapun strategi pelaksanaan yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu :
1. Wawancara
Yaitu pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab atau pembicaraan secara
langsung untuk memperoleh informasi yang akurat baik dari klien, keluarga maupun
dari tenaga kesehatan dan pihak yang terkait.

2. Observasi
Dengan melakukan pengamatan secara langsung melalui seluruh kemampuan panca
indera dengan tujuan untuk mengetahui kondisi klien sebenarnya. Memperoleh data
objektif yang dapat menegakan diagnosa keperawatan serta untuk mengamati
perkembangan klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.

3. Studi literatur
Penulis mempelajari semua buku yang membahas permasalahan yang akan dibahas
untuk memperkuat teori.

4. Studi dokumentasi
Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dan mempelajari
dokumen rekam medis klien untuk mencari data yang ada kaitannya dengan
permasalahan klien dan untuk memperkuat hasil dari wawancara dan observasi.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Ileus Obstruktif
1. Pengertian
Ileus atau obstruksi usus adalah suatu gangguan (apapun penyebabnya) aliran
normal isi usus sepanjang saluran isi usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik,
partial atau total. Intestinal obstruction terjadi ketika isi usus tidak dapat melewati
saluran gastrointestinal (Nurarif & Kusuma, 2015). Ileus adalah gangguan/hambatan
pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera
membutuhkan pertolongan atau tindakan (Indrayani, 2013).
Obstruksi usus mekanis adalah Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan
tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia
stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intususepsi,
tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura,
perlengketan, hernia dan abses (Nurarif & Kusuma, 2015).
2. Etiologi
Menurut Indrayani (2013), penyebab terjadinya ileus obstruksi pada usus halus
antara lain :
a. Hernia inkarserata
Hernia inkarserata timbul karena usus yang masuk ke dalam kantung hernia
terjepit oleh cincin hernia sehingga timbul gejala obstruksi (penyempitan)dan
strangulasi usus (sumbatan usus menyebabkan terhentinya aliran darah ke usus).
Pada anak dapat dikelola secara konservatif dengan posisi tidur Trendelenburg.
Namun, jikapercobaan reduksi gaya berat ini tidak berhasil dalam waktu 8 jam,
harus diadakanherniotomi segera.
b. Non hernia inkarserata, antara lain :
1) Adhesi atau perlekatan usus
Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya atau
proses inflamasi intraabdominal. Dapat berupa perlengketanmungkin dalam
bentuk tunggal maupun multiple, bisa setempat atau luas. Umunya berasal dari
rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau umum. Ileus karena
adhesi biasanya tidak disertai strangulasi. Obstruksi yang disebabkan oleh
adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami operasi abdomen
dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus
obstruktif di dalam masa anak-anak.
2) Invaginasi (intususepsi)
Disebut juga intususepsi, sering ditemukan pada anak dan agak jarang
pada orang muda dan dewasa. Invaginasi pada anak sering bersifat
idiopatikkarena tidak diketahui penyebabnya. Invaginasi umumnya berupa
intususepsi ileosekal yang masuk naik ke kolon ascendens dan mungkin terus
sampai keluar dari rektum. Hal ini dapat mengakibatkan nekrosis iskemik pada
bagian usus yang masuk dengankomplikasi perforasi dan peritonitis. Diagnosis
invaginasi dapat diduga atas pemeriksaan fisik, dandipastikan dengan
pemeriksaan Rontgen dengan pemberian enema barium.
3) Askariasis
Cacing askaris hidup di usus halus bagian yeyunum, biasanya
jumlahnya puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi di mana-mana
di usus halus, tetapi biasanya di ileum terminal yang merupakan tempat lumen
paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat
terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau hampir mati
akibat pemberian obat cacing. Segmen usus yang penuh dengan cacing
berisiko tinggi untuk mengalami volvulus, strangulasi, dan
perforasi.
4) Volvulus
Merupakan suatu keadaan di mana terjadi pemuntiran usus yang
abnormal dari segmen usus sepanjang aksis usus sendiri, maupun pemuntiran
terhadap aksis sehingga pasase (gangguan perjalanan makanan) terganggu.
Pada usus halus agak jarang ditemukan kasusnya. Kebanyakan volvulus
didapat di bagian ileum dan mudah mengalami strangulasi.
5) Tumor
Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika ia
menimbulkan invaginasi . Hal ini terutama disebabkan oleh kumpulan
metastasis (penyebaran kanker) di peritoneum atau di mesenterium yang
menekan usus.
6) Batu empedu yang masuk ke ileus
Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul (koneksi
abnormal antara pembuluh darah, usus, organ, atau struktur lainnya) dari
saluran empedu keduodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu
masuk ke raktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di
usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang
menyebabkan obstruksi. Penyebab obstruksi kolon yang paling sering ialah
karsinoma (anker yang dimulai di kulit atau jaringan yang melapisi atau
menutupi organ-organ tubuh), terutama pada daerah rektosigmoid dan kolon
kiri distal.
3. Manifestasi Klinis
a. Mekanik sederhana – usus halus atas
Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah,
peningkatan bising usus, nyeri tekan abdomen.
b. Mekanik sederhana – usus halus bawah
Kolik (kram) signifikan midabdomen, distensi berat, bising usus meningkat,
nyeri tekan abdomen.
c. Mekanik sederhana – kolon
Kram (abdomen tengah sampai bawah), distensi yang muncul terakhir,
kemudian terjadi muntah (fekulen), peningkatan bising usus, nyeri tekan
abdomen.
d. Obstruksi mekanik parsial
Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit Crohn. Gejalanya
kram nyeri abdomen, distensi ringan.
e. Strangulasi
Gejala berkembang dengan cepat: nyeri hebat, terus menerus dan terlokalisir,
distensi sedang, muntah persisten, biasanya bising usus menurun dan nyeri
tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap atau
berdarah atau mengandung darah samar.
4. Komplikasi
a. Peritonitis septicemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peradangan pada
selaput rongga perut (peritonium) yang disebabkan oleh terdapatnya bakteri
dalam dalah (bakteremia).
b. Syok hypovolemia terjadi abikat terjadi dehidrasi dan kekurangan volume
cairan.
c. Perforasi usus adalah suatu kondisi yang ditandai dengan terbentuknya suatu
lubang usus yang menyebabkan kebocoran isi usus ke dalam rongga perut.
Kebocoran ini dapat menyebabkan peritonitis
d. Nekrosis usus adalah adanya kematian jaringan pada usus
e. Sepsis adalah infeksi berat di dalam darah karena adanya bakteri.
f. Abses adalah kondisi medis dimana terkumpulnya nanah di daerah anus oleh
bakteri atau kelenjar yang tersumbat pada anus.
g. Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi adalah suatu keadaan
dimana tubuh sudah tidak bisa mengabsorpsi nutrisi karena pembedahan.
h. Gangguan elektrolit ; terjadi karena hipovolemik
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. HB (hemoglobin), PCV (volume sel yang ditempati sel darah merah) :
meningkat akibat dehidrasi
b. Leukosit : normal atau sedikit meningkat ureum + elektrolit, ureum meningkat,
Na+ dan Cl- rendah.
c. Rontgen toraks : diafragma meninggi akibat distensi abdomen
1) Usus halus (lengkung sentral, distribusi nonanatomis, bayangan valvula
connives melintasi seluruh lebar usus) atau obstruksi besar (distribusi
perifer/bayangan haustra tidak terlihat di seluruh lebar usus)
2) Mencari penyebab (pola khas dari volvulus, hernia, dll)
d. Enema kontras tunggal (pemeriksaan radiografi menggunakan suspensi barium
sulfat sebagai media kontras pada usus besar) : untuk melihat tempat dan
penyebab.
e. CT Scan pada usus halus : mencari tempat dan penyebab, sigmoidoskopi untuk
menunjukkan tempat obstruksi (Pasaribu, 2012).
6. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu
penyumbatan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika
disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus harus di rawat
dirumah sakit (Nurarif & Kusuma, 2015).
a. Persiapan
Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi
dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuasakan,
kemudiandilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan
keadaan umum.Setelah keadaanoptimum tercapai barulah dilakukan
laparatomi. Pada obstruksi parsial atau karsinomatosis abdomen dengan
pemantauan dan konservatif.
b. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organorganvital
berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan
adalahpembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila :
Strangulasi-Obstruksi lengkap, hernia inkarserata, tidak ada perbaikan dengan
pengobatan konservatif (dengan pemasangan NGT, infus,oksigen dan kateter).
c. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit.Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan
kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam
keadaan paralitik.
B. Konsep Laparatomi
1. Pengertian
Laparatomi adalah prosedur tindakan pembedahan dengan membuka cavum
abdomen dengan tujuan eksplorasi. Laparotomi adalah pembedahan yang
dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada
usus halus. (Mansjoer, 2010).
2. Indikasi
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang
terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau
yang menusuk. Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
1) Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga
peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
2) Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum)
yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi,
kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt).
b. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga
abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis
primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat
penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi
appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon
(paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan
penyebab peritonitis tersier.
c. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun
penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus
biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya
lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus. Obstruksi
total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini
dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.
Penyebabnya dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi
melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah
pembedahan abdomen), Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup
kedalam bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus),
Volvulus (usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri
dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan
usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usus melalui area yang
lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang ada
dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan
tekanan pada dinding usus).
d. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian
inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah
obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan
mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.
e. Tumor abdomen
f. Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
g. Abscesses (a localized area of infection)
h. Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
i. Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines)
j. Intestinal perforation
k. Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
l. Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
m. Internal bleeding
3. Komplikasi
a. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis
post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah operasi. Bahaya besar
tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah
vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki, ambulasi dini post operasi.
b. Infeksi, infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam pasca operasi. Organisme
yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilococus aurens,
organisme gram positif. Stapilococus mengakibatkan peranahan. Untuk
menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan
memperhatikan aseptik dan antiseptik.
c. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
d. Ventilasi paru tidak adekuat.
e. Gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia jantung.
f. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
g. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan.
C. Konsep Anestesi Umum
1. Pengertian
Menurut Mangku (2010) general anestesi merupakan tindakan meniadakan
nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali
(reversible). General anestesi menyebabkan mati rasa karena obat ini masuk ke
jaringan otak dengan tekanan setempat yang tinggi. Selama masa induksi
pemberian obat bius harus cukup untuk beredar di dalam darah dan tinggal di
dalam jaringan tubuh.
2. Teknik Anestesi Umum
Menurut Mangku dan Senapathi (2010) teknik anestesi umum ada 3 macam,
yaitu :
a. Teknik anestesi umum intravena
Teknik anestesi umum intravena merupakan salah satu teknik anestesi
umum yang dilakukan dengan jalan menyuntikan obat anestesi parenteral
langsung ke dalam pembuluh darah vena
b. Teknik anestesi umum inhalasi
Teknik anestesi umum inhalasi merupakan teknik anestesi yang dilakukan
dengan jalan memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi berupa gas dan
atau cairan yang mudah menguap melalui alat/mesin anestesi langsung ke
udara inspirasi.
Menurut Mangku & Senapathi (2010) ada beberapa teknik general anestesi
inhalasi antara lain :
1) Inhalasi Sungkup Muka
Secara inhalasi dengan spontan, komponen trias anestesi yang dipenuhi
adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot ringan. Dilakukan pada
operasi kecil dan sedang di daerah permukaan tubuh, berlangsung singkat
dan posisi terlentang
2) Inhalasi Sungkup Laryngeal Mask Airway (LMA)
Secara inhalasi dengan nafas spontan, komponen trias anestesti yang
dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot ringan. Dilakukan
pada operasi kecil dan sedang didaerah permukaan tubuh, berlasngung
singkat dan posisi terlentang
3) Inhalasi Pipa endotracheal (PET) nafas spontan
Secara inhalasi dengan nafas spontan, komponen trias anestesti yang
dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot ringan. Dilakukan
pada operasi di daerah kepala-leher dengan posisi terlentang, berlangsung
singkat dan tidak memerlukan relaksasi otot yang maksimal
4) Inhalasi Pipa Endotracheal (PET) nafas kendali
Inhalasi ini menggunakan obat pelumpuh otot non depolarisasi,
selanjutnya dilakukan nafas kendali. Komponen anestesi yang dipenuhi
adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot. Teknik ini digunakan pada
operasi yang berlangsung lama > 1 jam (kraniotomi, torakotomi,
laparatomi, operasi dengan posisi lateral dan pronasi)
c. Teknik anestesi umum imbang
Teknik anestesi umum imbang merupakan teknik anestesi dengan
mempergunakan kombinasi obat-obatan baik obat anestesi intravena maupun
obat anestesi inhalasi atau kombinasi teknik anestesi umum dengan analgesia
regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang
3. American Society of Anestesiologist (ASA)
Setiap pasien menurut Pramono (2017) harus dinilai status fisiknya untuk
menunjukkan apakah kondisi tubuh normal atau mempunyai kelainan yang
memerlukan perhatian khusus. Status fisik dinyatakan dalam status ASA.
Tabel 2. Status Fisik Pasien
Kelas Status Fisik Contoh

I Pasien normal (sehat), tidak ada gangguan Pasien sehat


organic, fisiologis dan kejiwaan, tidak
termasuk sangat muda dan sangat tua, sehat
dengan toleransi latihan yang baik
II Pasien memiliki kelainan sistemik ringan. Hipertensi, riwayat asma,
Tidak ada keterbatasn fungsional, memiliki diabetes mellitus
penyakit yang terkendali dengan baik dari terkontrol
satu sitem tubuh
III Pasien dengan kelainan sistemik berat, Gagal jantung kongestif
terdapat beberapa keterbatasan fungsional, terkontrol, angina stabil,
memiliki penyakit lebih dari satu sistem hipertensi tidak
tubuh, tidak ada bahaya kematian terkontrol, gagal ginjal
kronis

IV Pasien dengan kelainan sistemik berat yang Angina tidak stabil


mengancam jiwa. Pasien dengan setidaknya
penyakit berat yang tidak terkontrol
V Pasien dengan atau tanpa operasi diperkiraan Sindrom sepsis dengan
meninggal dalam 24 jam ketidakstabilan
hemodinamik

4. Obat-obat Anestesi Umum


Menurut Pramono (2017), obat-obat anestesi umum dikelompokan menjadi
hipnotik, sedative, analgesic dan pelumpuh otot (muscle relaxant).
1) Hipnotik
Sesuai namanya, golongan obat ini akan menimbulkan tidur yang
ringan tanpa pasien merasa mengantuk sehingga pasien langsung tertidur
begitu terpapar obat ini. Golongan hipnotik dapat berupa gas dan cairan.
Untuk jenis gas, misalnya: halotan, sevofluran, isofluran dan ethrane, cara
dihirup melalui sungkup muka. Setelah tercapai hypnosis atau tertidur,
sungkup muka dapat disambungan dengan LMA atau pipa endotrakea.
Pada dosis tertentu,obat hipnotik cair yang diberikan secara intravena,
misalnya: propofol, etomidat, ketalar, dan pentotal dapat juga digunakan
sebagai sedative. Semua obat hipnotik mempunyai efek
depresimiokardium dan respirasi kecuali ketalar
a) Hipnotik berupa cairan
(1) Propofol
Propofol bekerja dengan cara menghambat kerja neurotransmitter.
Biasanya pasien mengeluh nyeri saat disuntikkan obat ini, untuk
mengurangi nyeri diperlukan lidokain 2% dalam campuran sediaan
propofol
(2) Etomidat
Etomidat adalah senyawa yang secara fisis mirip propofol. Efek
samping etomidat terjadinya mioklonus pada 30-60% pasien.
(3) Ketamin
Ketamin memiliki efek memblokir reflek polisinatonik di sumsum
tulang belakang dan menghambat efek neurotransmitter di area otak
tertentu. Efek samping ketamine meningkatkan tekanan darah
arteri, takikardi, halusinasi dan delirium.
(4) Tiopental
Tiopental bersifat hipnoyik kuat. Tiopental menyebabkan pelepasan
histamine sehingga menimbulkan bronkospasm. Efek samping
thiopental jika diberikan secara cepat adalah apnea dan penurunan
tekanan darah
b) Hipnotik berupa gas
(1) Halotan
Penggunaan halotan menyebabkan depresi miokardium sehingga
menurunkan aliran darah. Halotan menyebabkan penurunan
bersihan (clearance) obat yang di metabolism di ginjal. Halotan
merupakan obat bronkodilator.
(2) Isofluran
Isofluran tidak mudah terbakar. Isofluran menyebabkan sedikit
depresi miokardium dan merupakan vasodilator kuat arteri koroner.
(3) Sevofluran
Sevofluran biasanya digunakan untuk induksi pada anak-anak,
namun juga bias digunakan untuk pasien dewasa. Sevofluran
memudahkan pasien tertidur hanya dalam satu tarikan nafas dan
membuat otot rangka lemas sehingga memudahkan untuk tindakna
intubasi.
(4) Desfluran
Desfluran mempunyai sifat dapat mendidih pada suhu kamar.
Desfluran tidak bersifat nefrotoksik maupun hepatotoksik sehingga
baik untuk pasien gagal ginjal namun desfluran mempunyai
kelemahan yaitu pasien mudah bangun.
(5) Nitrous Oxide (N2O)
Nitrous oxide merupakan gas anestesi yang tidak berwarna dan
berbau, N2O bersifat sebagai analgesik kuat. Pemberian N2O harus
dihentikan terlebih dahulu sebelum menghentikan penggunaan
oksigen, hal tersebut diperlukan untuk mencegah apnea.
2) Sedatif
Obat sedative dapat menyebabkan pasien merasa tenang, mengantuk dan
menyebabkan pasien lupa tentang kejadian selama operasi. Contoh obat
sedative adalah midazolam dan diazepam.
3) Analgetik
Obat analgetik dibagi menjadi 2 yaitu golongan NSAID (nonsteroidal
anti-inflammatory drug) dan golongan opioid.
a) Golongan NSAID
Golongan NSAID berikan pada pasien untuk mengatasi nyeri
pasca operasi. Obat yang termasukgolongan NSAID adalah
parasetamol, ketorolac dan natrium diklofenak.
b) Golongan opioid
Golongan opioid digunakan untuk menghilangkan nyeri selama
tindakan operasi. Obat golongan opioid yaitu morfin, petidin, tramadol,
fentanyl dan sufenta. Dari kelima obat tersebut, sufenta adalah obat
analgeetik yang paling kuat. Efek samping pemberian opioid adalah
depresi pernafasan.
4) Pelumpuh otot
Obat pelumpuh otot digunakan untuk membantu proses intubasi. Obat
pelumpuh otot dibagi menjadi 2 golongan yaitu nondepolarisasi dan
depolarisasi.
a) Golongan nondepolarisasi
Obat yang termasuk dalam golongan nondepolarisasi adalah
rokuronium, atrakurium, vekurium dan pavulon.
b) Golongan depolarisasi
Obat yang termasuk dalam golongan depolarisasi adalah
suksinil kolin. Suksinil kolin menyebabkan pasienmengeluh myalgia
pasca operasi dan gangguan hipermetabolisme pada otot skelet.
5. Komplikasi Anestesi Umum
Menurut Pramono (2017), anestesi umum mempunyai risiko
komplikasi. Risiko komplikasi anestesi umum biasanya minimal pada pasien
yang optimal (sehat). Risiko komplikasi yang mungkin terjadi berupa
kematian (jarang terjadi), luka pada pita suara, serangan jantung, infeksi paru,
gangguan mental (sementara), stroke, trauma pada gigi atau lidah, terbangun
saat teranestesi (jarang).
Anestesi umum selain dapat menyebabkan komplikasi setelah 24 jam,
anestesi umum juga dapat menyebabkan komplikasi selama anestesi yaitu saat
induksi anestesi dan setelah ekstubassi. Komplikasi yang bisa terjadi saat
induksi dan setelah ekstubasi salah satunya adalah komplikasi airway.
Komplikasi airway selama intra anestesi merupakan reaksi/akibat yang tidak
diinginkan yang terjadi pada saluran nafas pasien selama pasien dilakukan
tindakan anestesi.
Menurut Morgan, dkk (2010), komplikasi airway dapat terjadi saat
intubasi dan setelah ekstubasi. Komplikasi-komplikasi tersebut meliputi
hipoksia, hiperkarbia, trauma gigi dan jalan nafas, posisi ETT yang salah,
laringospasme dan bronkospasme.
6. Stadium
Guedel membagi anestesi umum dengan eter kedalam 4 stadium yaitu:
a. Stadium I (analgesi) dimuai dari saat pemberian zat anestetik sampai
hilangnya kesadaran pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah
dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan
seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar dapat dilakukan pada stadium ini.
b. Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran
dan refleksi bulu mata sampai pernapasan kembali teratur pada stadium ini
terlihat adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien
tertawa, berteriak, menangis, pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apne
dan hiperpnu, tonus otot rangka meningkat, inkontinensia urin dan alvi dan
muntah. Stadium ini harus cepat dilewati karena dapat menyebabkan
kematian.
c. Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai
pernapasan spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana yaitu:
1) Plana I : pernapasan teratur dan spontan, dada dan perut seimbang, terjadi
gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks
cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada dan
belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna
2) Plana 2 : pernapasan teratur dan spontan, perut dan volume dada tidak
menurun, frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak terfiksasi ditengah,
pupil midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang dan
refleks laring hilang sehingga dapat dikerjakan intubasi.
3) Plana 3 : pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai
paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriassis dan sentral, reflex laring dan
peritoneum tidak ada, relaksaai otot lurik hamper sempurna (tonus otot
semakin menurun).
4) Plana 4 : pernapasan tiak teratur oleh perut karena otot intercostal paralisis
total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, reflex sfingterani dan
kelenjar air mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat
menurun).
d. Stadium IV (paralisis medulla oblongata) dimulai dengan melemahnya
pernapasan perut dibanding stadium III plana 4. Pada stadium ini tekanan
darah tidak dapat diukur, denyut jantung berhenti dan akhirnya terjadi
kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan
pernapasan buatan.
7. Rumatan Anestesi
Rumatan anestesi adalah menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan
cara mengatur konsentrasi obat anestesi di dalam tubuh pasien. Jika
konsentrasi obat tinggi maka akan dihasilkan anestesi yang dalam, sebaliknya
jika konsentrasi obat rendah, maka akan didapat anestesi yang dangkal.
Anestesi yang ideal adalah anestesi yang adekuat. Untuk itu diperlukan
pemantauan secara ketat terhadap indikator-indikator kedalaman anestesi.
Rumatan intravena dengan menggunakan opioid dosis tinggi fentanil 10- 50
μg/ kgBB. Rumatan inhalasi bisanya menggunakan campuran N2O dan O2
3:1 ditambah halotan 0,5- 2 vol % atau enfluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4%
atau sevofluran 2-4% tergantung pernapasan pasien spontan, dibantu atau
dikendalikan.
8. Pemulihan Anestesi
Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai, maka anestesi diakhiri
dengan menghentikan pemberian obat anestesi. Pada anestesi inhalasi
bersamaan dengan penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan, hal ini
disebut oksigenisasi. Dengan oksigenisasi maka oksigen akan mengisi tempat
yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli yang
berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi.
Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi)
difusi kedalam darah semakin cepat, sehingga kadar oksigen di dalam darah
meningkat, menggantikan posisi obat anestesi yang berdifusi menuju ke
alveoli. Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah
menuju ke alveoli, maka kadarnya di dalam darah makin menurun.
Selanjutnya pada penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan
tanpa menggunakan pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya
penderita, sedangkan bagi penderita yang menggunakan pipa endotrakheal
maka perlu dilakukan ekstubasi (melepas pipa ET).
Ekstubasi bisa dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam
dan dapat juga dilakukan setelah penderita sadar. Ekstubasi pada keadaan
setengah sadar membahayakan penderita, karena dapat terjadi spasme jalan
napas, batuk, muntah, gangguan kardiovaskuler, naiknya tekanan intra okuli
dan naiknya tekanan intra cranial. Ekstubasi pada waktu penderita masih
teranestesi dalam mempunyai resiko tidak terjaganya jalan nafas, dalam kurun
waktu antara tidak sadar sampai sadar. Tetapi ada operasi tertentu ekstubasi
dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam. Pada penderita yang
mendapat balance anestesi maka ekstubasi dilakukan setelah napas penderita
adekuat. Untuk mempercepat pulihnya penderita dari pengaruh muscle
relaxant maka dilakukan reverse, yaitu memberikan obat antikolinesterase.
D. Teori Aldrete Score (Miller, 2010)
1. Pengertian
Aldrete score adalah penilaian pemulihan pasien saat dipindahkan dari ruang
pemulihan ke ruang rawat inao setelah memenuhi kriteria aldrete score > 9 untuk
pasien dewasa
2. Tujuan
Mendukung keputusan memulangkan pasien atau memindahkan pasien ke ruang
perawatan atau intensif
3. Prosedur
a. Catat waktu masuk ruang pulih dalam lembar pemantauan anestesi
b. Lakukan pencatatan data kesadaran, tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi
nafas, saturasi oksigen dan skor nyeri VAS tiap 15 menit dan minimal sampai
dengan 2 jam pertama
c. Lakukan penilaian aldrete score yang meliputi kesadaran, tekanan darah,
pernafasan, aktivitas dan warna kulit
d. Lakukan penilaian steward score (khusus pasien anak/bayi) yang meliputi
kesadaran, pernafasan dan pergerakan
e. Untuk pasien dewasa :
1) Bila aldrete score ≥ 9 : pasien boleh pindah ke ruangan, khusus untuk
parameter kesadaran nilainya harus 2
2) Aldrete score > 10 : pasien boleh pulang atas persetujuan dokter DPJP
3) Untuk pasien tertentu dengan komplikasi langsung dipindah ke ICU
f. Bila ditemukan penyulit (menggigil, mual, atau muntah, hipotensi, kesakitan)
selama di ruang pemulihan, lapor DPJP anestesi dan catat terapi
E. Asuhan Keperawatan Perianestesi (Wijayaningsih, 2013)
1. Pre Anestesi
a. Pengkajian Pre Anestesi dilakukan sejak pasien dinyatakan akan dilakukan
tindakan pembedahan baik elektif maupun emergensi.
Pengkajian pre anestesi meliputi :
1) Identitas pasien
2) Riwayat kesehatan pasien dan riwayat alergi
3) Pemeriksaan fisik pasien meliputi : Tanda-tanda vital pasien, pemeriksaan
sistem pernapasan (breathing), sistem kardiovaskuler (bleeding),sistem
persyarafan (brain), sistem perkemihan dan eliminasi (bowel), sistem
tulang, otot dan integument (bone).
4) Pemeriksaan penunjang berupa laboratorium, rontgen, CT scan, USG, dll.
5) Kelengkapan berkas informed consent.
b. Analisa Data
Data hasil pengkajian dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat menilai
klasifikasi ASA pasien. Data yang telah di analisa digunakan untuk
menentukan diagnosa keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi dan
evaluasi pre anestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi Pre Anestesi
1) Dx : Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan
Tujuan : Cemas berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
a) Pasien menyatakan tahu tentang proses kerja obat anestesi/pembiusan.
b) Pasien menyatakan siap dilakukan pembiusan
c) Pasien mengkomunikasikan perasaan negatif secara tepat
d) Pasien taampak tenang dan kooperatif
e) Tanda-tanda vital normal.
Rencana tindakan :
a) Kaji tingkat kecemasan
b) Orientasikan dengan tim anestesi/kamar operasi.
c) Jelaskan jenis prosedur tindakan anestesi yang akan dilakukan.
d) Beri dorongan pasien untuk mengungkapkan perasaan.
e) Dampingi pasien untuk mengurangi rasa cemas.
f) Ajarkan tehnik relaksasi napas dalam.
g) Kolaborasi untuk memberikan obat penenang.
Evaluasi :
a) Pasien mengatakan paham akan tindakan pembiusan atau anestesi.
b) Pasien mengatakan siap dilakukan prosedur anestesi dan operasi.
c) Pasien lebih tenang.
d) Ekspresi wajah cerah.
e) Pasien kooperatif ditandai tanda-tanda vital dalam batas normal.
2. Intra Anestesi
a. Pengkajian Intra Anestesi dilakukan sejak pasien. Pengkajian Intra anestesi
meliputi :
1) Persiapan pasien, alat anestesi dan obat-obat anestesi.
2) Pelaksanaan anestesi
3) Monitoring respon dan hemodinamik pasien yang kontinu setiap 5 menit
sampai 10 menit.
b. Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnose keperawatan,
tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intraanestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi intra anestesi
1) Dx : Pola napas tidak efektif b/d disfungsi neuromuscular dampak sekunder
dari obat pelumpuh otot pernapasan dan obat general anestesi.
Tujuan : Pola napas pasien menadi efektif/normal.
Kriteria hasil :
a) Frekuensi napas normal.
b) Irama napas sesuai yang diharapkan.
c) Ekspansi dada simetris.
d) Jalan napas pasien lancar tidak didapatkan adanya sumbatan.
e) Tidak menggunakan obat tambahan.
f) Tidak terjadi sianosis, saturai O2 96-100%.
Rencana tindakan:
a) Bersihkan secret pada jalan napas.
b) Jaga patensi jalan napas.
c) Pasang dan beri suplai oksigen yang adekuat.
d) Monitor perfusi jaringan perifer.
e) Monitor ritme, irama dan usaha respirasi.
f) Monitor pola napas dan tanda-tanda hipoventiasi.
Evaluasi :
a) Pola napas efektif dan tidak ada tanda-tanda sianosis.
b) Napas spontan, irama dan ritme teratur.
2) Dx : Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran
Tujuan : Tidak akan terjadi aspirasi
Kriteria hasil :
a) Pasien mampu menelan.
b) Bunyi paru bersih.
c) Tonus otot yang adekuat.
Rencana tindakan:
a) Atur posisi pasien.
b) Pantau tanda-tanda aspirasi.
c) Pantau tingkat kesadaran : reflek batuk, reflek muntah, kemampuan
menelan.
d) Pantau bersihan jalan napas dan status paru.
e) Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
a) Tidak ada muntah.
b) Mampu menelan.
c) Napas normal tidak ada suara paru tambahan.
3) Dx : Resiko kecelakaan cedera b/d efek anestesi umum.
Tujuan : Pasien aman selama dan setelah pembedahan.
Kriteria hasil :
a) Selama operasi pasien tidak bangun/tenang.
b) Pasien sadar setelah anestesi selesai.
c) Kemampuan untuk melakukan gerakan yang bertujuan.
d) Kemampuan untuk bergerak atau berkomunikasi.
e) Pasien aman tidak jatuh
Rencana tindakan:
a) Atur posisi pasien, tingkatkan keamanan bila perlu gunakan tali pengikat.
b) Jaga posisi pasien imobile.
c) Atur meja operasi atau tubuh pasien untuk meningkatkan fungsi fisiologis
dan psikologis.
d) Cegah resiko injuri jatuh.
e) Pasang pengaman tempat tidur ketika melakukan transportasi pasien.
f) Pantau penggunaan obat anestesi dan efek yang timbul.
Evaluasi :
a) Pasien aman selama dan setelah pembiusan.
b) Pasien nyaman selama pembiusan, tanda-tanda vital stabil.
c) Pasien aman tidak jatuh.
d) Skor aldert pasien ≥ 9 untuk bisa dipindahkan ke ruang rawat.
3. Post Anestesi
a. Pengkajian Post Anestesi dilakukan sejak pasien selesai dilakukan tindakan
pembedahan dan pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Pengkajian Post
anestesi meliputi :
1) Keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital.
2) Status respirasi dan bersihan jalan napas.
3) Penilaian pasien dengan skala Aldert (untuk anestesi general) dan skala
Bromage (untuk anestesi regional)
4) Instruksi post operasi.
b. Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnose keperawatan,
tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intra anestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan dan Evaluasi Post Anestesi
1) Dx : Bersihan jalan napas tidak efektif b/d mukus banyak, sekresi tertahan
efek dari general anestesi.
Tujuan : bersihan jalan napas pasien efektif.
Kriteria hasil :
a) Pola napas normal : frekuensi dan kedalaman, irama.
b) Suara napas bersih.
c) Tidak sianosis.
Rencana tindakan:
a) Atur posisi pasien.
b) Pantau tanda-tanda ketidak efektifan dan pola napas.
c) Ajarkan dan anjurkan batuk efektif.
d) Pantau respirasi dan status oksigenasi.
e) Buka jalan napas dan bersihkan sekresi.
f) Beri oksigenasi dan ajarkan napas dalam.
g) Auskultasi suara napas dan pantau status oksigenasi dan
hemodinamik.
Evaluasi :
a) Jalan napas efektif
b) Napas pasien spontan dan teratur.
c) Tidak ada tanda-tanda sianosis.
d) Status hemodinamik pasien stabil.
2) Dx : Gangguan rasa nyaman mual muntah b/d pengaruh sekunder obat
anestesi.
Tujuan : Mual muntah berkurang.
Kriteria hasil :
a) Pasien menyatakan mual berkurang.
b) Pasien tidak muntah.
c) Pasien menyatakan bebas dari mual dan pusing.
d) Hemodinamik stabil dan akral kulit hangat.
Rencana tindakan:
a) Atur posisi pasien dan tingkatkan keseimbangan cairan.
b) Pantau tanda vital dan gejala mual muntah.
c) Pantau turgor kulit.
d) Pantau masukan dan keluaran cairan.
e) Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
a) Perasaan pasien lega, tidak pusing dan terbebas dari rasa mual.
b) Akral kulit hangat tidak pucat/sianosis.
c) Nadi teratur dan kuat
d) Status hemodinamik stabil.
3) Dx: Nyeri akut b/d agen cidera fisik (operasi)
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
a) Pasien menyatakan nyeri berkurang atau hilang.
b) Pasien mampu istirahat.
c) Ekspresi wajah tenang dan nyaman.
Rencana tindakan:
a) Kaji drajat, lokasi, durasi, frekuensi dan karakteristik nyeri.
b) Gunakan tehnik komunikasi terapeutik.
c) Ajarkan tehnik relaksasi.
d) Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
a) Rasa nyeri berkurang atau hilang.
b) Hemodinamik normal.
c) Pasien bisa istirahat dan ekspresi wajah tenang.
4) Dx : Hipotermi b/d berada atau terpapar di lingkungan dingin.
Tujuan : Pasien menunjukan termoregulasi.
Kriteria hasil :
a) Kulit hangat dan suhu tubuh dalam batas normal.
b) Perubahan warna kulit tidak ada.
c) Pasien tidak menggigil kedinginan.
Rencana tindakan:
a) Mempertahankan suhu tubuh selama pembiusan atau operasi sesuai yang
diharapkan.
b) Pantau tanda-tanda vital.
c) Beri penghangat.
Evaluasi :
a) Suhu tubuh normal.
b) Tanda-tanda vital stabil.
c) Pasien tidak menggigil.
d) Warna kulit tidak ada perubahan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI

A. Pengkajian

Hari/tanggal : Selasa , 26 Maret 2019


Jam : 13.00 WIB
Tempat : IBS RSUD Cilacap
Metode : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumen
Sumber data : Klien, tim kesehatan, status kesehatan klien
Oleh : Yuni Apriliani Istiqamah
Diagnosa medis : Ileus Obstruktif
Rencana tindakan : Laparatomi Eksplorasi
Identitas Pasien
Nama : Tn. D
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Bantarsari, Cilacap
Pendidikan : SMA
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 160 cm
No. Rekam Medis : 1062XX
TAHAP PRE ANESTESI

1. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Klien mengatakan perut terasa nyeri sekali, kembung, dan 3 hari tidak bisa BAB
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien dibawa ke IGD RSUD Cilacap karena nyeri perut dan direncanakan operasi.
Di IGD klien dipasang infus, kateter, dan NGT.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan belum pernah mengalami sakit seperti yang dialami sekarang
dan belum pernah sakit sampai harus dirawat di rumah sakit.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga lain yang mengalami penyakit
serupa dengannya. Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit
menular dan keturunan seperti TBC, asma, diabetes mellitus, dll.
1. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis (E4, V5, M6)
c. AMPLE
Alergi : Tidak ada
Medication : Tidak mengkonsumsi obat rutin
Post illness :-
Last meal : pukul 04.00 WIB
Environment :-
d. Tanda Vital :
TD : 130/80 mmHg;
N : 84 x/mnt;
RR : 20 x/mnt
S : 36oC
e. Pemeriksaan Fisik
 Kepala
bentuk kepala mechochepal, kulit kepala nampak bersih, tidak ada lesi,
tidak ada nyeri tekan
 Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor 3/3, klien
tidak memakai lensa kontak
 Telinga
Bentuk simestris, tidak ada gangguan fungsi pendengaran tidak ada nyeri
tekan
 Hidung
Simetris, terdapat sekret, terpasang selang NGT nomor 18 di lubang
hidung kiri
 Mulut : mulut klien kering, tidak ada gigi palsu, gigi kotor, mukosa bibir
kering, tidak terdapat stomatitis, skore mallampati grade 1
 Leher : tidak ada pembesaran tiroid, tidak ada pembengkakan vena
jugularis, tidak ada nyeri tekan
 Kulit : kering , tidak ada lesi, tidak ada bekas luka, turgor kulit elastis
 Dada
1) Paru-paru
Inspeksi : tidak ada retraksi dada, pergerakan dada kanan dan
kiri sama, tidak ada lesi
Palpasi : ekspansi dada maksimal, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : suara dull pada ICS ke 1-3 dada sebelah kiri , serta
ICS 1- 4 pada dada kanan. Suara sonor pada ICS ke
4-6 dada kiri dan ICS 5-6 dada kanan
Auskultasi : suara nafas vesikuler
2) Jantung
- Inspeksi : simetris, tidak tampak kardiomegali, ictus cordis tidak
tampak pada ICS ke-5 medial linea midclavicularis sinistra
- Palpasi : tidak ada pergeseran ictus cordis, ictus cordis teraba
sama kanan dan kiri
- Perkusi : tidak ada pelebaran batas jantung, suara redup
- Auskultasi : suara jantung S1, S2, regular tidak ada suara
tambahan
 Abdomen
Inspeksi : terdapat distensi abdomen
Auskultasi : bising usus 4x/menit, terdengar lemah
Perkusi : kuadran 1 timpani, kuadran 2 timpani, kuadran redup,
kuadran 4 redup
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan
 Genitalia : pasien tidak terpasang kateter, jenis kelamin laki-laki
 Ekstremitas
1) Atas
Inspeksi : terpasang infus RL di tangan kanan, tidak ada edema,
tidak ada kelainan jari
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
2) Bawah
Inspeksi : tidak ada edema, tidak terdapat bekas luka.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
2. Pemeriksaan psikologis
Pasien mengatakan sedikit cemas, pasien belum pernah menjalani pembedahan
sebelumnya.
3. Kebutuhan Cairan
a. Monitoring cairan
Kebutuhan cairan pasien selama operasi yang harus terpenuhi
1) Rumus maintenance (M): 2cc/kgBB
2cc x 50 kg = 100 ml
2) Rumus pengganti puasa (PP):
Lama puasa (jam) x maintenance
8 jam x 50 cc = 400 ml
3) Rumus stress operasi (SO):
Jenis operasi (b/s/k) x BB
8 x 50 ml = 400 ml
b. Prinsip pemberian cairan durante operasi (Jam I-IV)
1) Jam I : M + ½ PP + SO = 100 ml + 200 ml + 400 ml = 700 ml
2) Jam II dan III : M + ¼ PP + SO = 100 ml + 100 ml + 400 ml= 600 ml
3) Jam IV : M + SO = 100 ml + 400 ml = 500 ml
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
KIMIA KLINIK (22 Maret 2019)
Fungsi Ginjal
Ureum 46 mg/dL 15 – 50
Kreatinin 1.16 mg/dL 0.8 – 1.5
Karbohidrat
GDS 124 mg/dL < 140
Elektrolit
Natrium (Na) 135 mEq/L 135 – 145
Kalium (K) 4.6 mEq/L 3.6 – 5.5
Klorida (Cl) 106 mEq/L 98 – 107
Darah Lengkap (22 Maret 2019)
Hemoglobin 16.1 g/dL L : 13.5 – 17.5
Leukosit 8.000 /uL 4400-11300
Hematokrit 46.5 % L : 40 – 52
Eritrosit 5.22 juta/µL L : 4.5 – 6.5
Trombosit 338.000 /uL 150.000-450.000
HEMOSTASIS
Masa Perdarahan/BT 2 menit 1-7
Masa 9 menit 9 - 17
Pembekuan/CT
HEPATITIS MARKER
HBsAg Non reaktif Non reaktif
Anti HCV Non Reaktif Non Reaktif
Anti HIV Non Reaktif Non reaktif
FUNGSI HATI
AST (SGOT) 28 U/L 370C 14 – 36
ALT (SGPT) 15 U/L 370C 9 - 52
b. Hasil Pemeriksaan USG Abdomen
Tanggal : 22 Maret 2019 pukul 11.45 WIB
Klinis :
Foto abdomen 3 posisi (semi-errect, supine dan LLD), tanpa
persiapan
dan kondisi cukup
- Pre-peritoneal fat line bilateral tegas
- Renal Outline tertutup bayangan usus, psoas line tegas
- Distribusi udara usus tak merata, tampak distensi minimal Sistema
usus halus, tak tampak udara di distal
- Tak tampak adanya udara bebas extraluminer yang menempati posisi
tertinggi pada posisi LLD
- Sistema tulang yang tervisualisasi intact
Kesan :
- Less air cavum abdomen curiga adanya sub-ileus (small bowel
obstruction)
- Tak tampak tanda peritonitis maupun pneumo peritonium secara
radiologis pada foto abdomen posisi saat ini
5. Kesimpulan : Status Fisik ASA III
6. Rencana Anestesi
General anestesi dengan ETT
a. Persiapan pasien
1) Mengecek kelengkapan status pasien
2) Mengklarifikasi pasien puasa dari jam berapa
3) Memposisikan pasien
4) Mengecek TTV
5) Mengklarifikasi riwayat asma, DM, HT dan alergi
b. Pesiapan mesin
1) Mengecek sumber gas apakah sudah terpasang dan tidak ada kebocoran
2) Mengecek isi volatil agent
3) Mengecek kondisi absorben
4) Mengecek apakah ada kebocoan mesin
c. Persiapan alat :
1) S (Scope) : Laryngoscope dan stesoscope
2) T (Tube) : ETT No 7
3) A (Aiway) : OPA
4) T (Tape) : Plester ± 20 cm 2 lembar
5) I (Introducer) : Mandrin dan stilet
6) C (Conector)
7) S (Suction) : Kanul dan selang suction
d. Persiapan obat
1) Induksi : Propofol 100 mg
2) Analgetik : Fentanyl 50 mcg
3) Pelumpuh otot : Recuronium 35 mg
4) Pre medikasi : Ondansetron 40 mg
5) Emegency :
a) Epinefrin 25 mg
b) Dexametasone 4 mg
c) Atropin 1 mg
d) Ephidrine 50 mg
TAHAP INTRA ANESTESI

1. Jenis Pembedahan : Laparatomi Eksplorasi


2. Jenis Anestesi : General Anestesi
3. Teknik Intubasi : ETT – oral
4. Ukuran ETT : 7,0
5. Mulai Anestesi : Pukul 13.25 WIB
6. Mulai Operasi : Pukul 13.30 WIB
7. Posisi : supinasi
8. Premedikasi : Fentanyl 60 mcg/IV, Midazolam 30 mg/IV
9. Induksi : Propofol 100 mg/IV
10. Pelumpuh otot : Atracurium 30 mg
11. Antiemetik : Ondansetron 4 mg
12. Analgetik : Tramadol 50 mg
13. Cairan Durante Operasi : RL 1000 ml, Gelafusal 500 ml
14. Urin output : 100 cc
15. Perdarahan 300 cc
16. Pemantauan tanda-tanda vital

TD N SPO2 RR
Jam
(mmHg) (x/menit) (%) (x/menit)

13.30 130/80 84 100 20

13.30 120/80 96 98 20

14.00 125/92 87 99 20

14.30 130/80 98 100 20

15.00 127/81 89 100 20

15.15 122/90 84 100 20

14.30 115/84 80 100 20

17. Selesai operasi : 15.15 WIB


18. Selesai anestesi : 15.20 WIB
TAHAP POST ANESTESI

1. Pasien masuk ruang RR pukul 15.15 WIB


2. Kesadaran composmentis
3. Pemantauan hemodinamik di ruang RR
TD N SPO2 RR S
Jam
mmHg (x/mnt) (%) (x/mnt) (OC)

15.15 123/80 90 100 20 36

15.30 120/80 90 100 20 36,2

15.35 115/90 89 100 20 36

15.40 117/85 86 100 20 36,6

4. Mual (-), muntah (-), pusing (-), Nyeri (-)


5. Jalan nafas per nasal, terpasang nasal kanul 2 lpm, SpO2 100%
6. Posisi pasien pasca anestesi: supinasi, head up 30
7. Penilaian Aldrete Score

No Kriteria Skor 5’ 10’ 15’ 20’

1 Aktivitas motorik :

Mampu menggerakkan empat 2 √


ekstremitas

Mampu menggerakkan dua


1 √ √
ekstremitas

Tidak mampu menggerakkan


ekstremitas 0 √

2 Respirasi :

Mampu napas dalam, batuk dan 2 √ √


tangis kuat
1 √ √
Sesak atau pernapasan terbatas
0
Henti napas

3 Tekanan darah :

Berubah sampai 20% dari prabedah 2 √ √ √ √

Berubah 20%-50% dari prabedah

Berbubah > 50% dari prabedah 1

4 Kesadaran :

Sadar baik dan orientasi baik 2

Sadar setelah dipanggil 1 √ √ √ √

Tak ada tanggapan terhadap 0


rangsangan

5 Warna kulit :

Kemerahan 2 √ √ √ √

Pucat agak suram 1

Sianosis 0

JUMLAH 6 7 10 11

8. Pasien dipindahkan ke ruangan pada pukul 15.40 WIB


B. Analisa Data
Hari, tanggal : Selasa, 26 Maret 2019
Pukul : 13.30 WIB
NO DATA MASALAH ETIOLOGI

Pre Anestesi

1 DS: Ansietas Kurang


- Pasien mengatakan sedikit pengetahuan
cemas masalah
- Pasien belum pernah pembiusan
menjalani ni pembedahan
sebelumnya
DO:
- Pasien terlihat sedikit gelisah
- TD : 130/80 mmHg Nadi : 84
x/menit RR: 20 x/menit
Intra Anestesi

2 DS: - Ketidakefektifan Pengaruh


DO: pola nafas sekunder : obat -
- Pasien terpasang ETT ukuran obatan anestesi
7,0
- Ada periode apneu sesaat
setelah diberikan induksi
dengan propofol 100 mg dan
atracurium 30 mg
3 DS: - Risiko Vasodilatasi
DO: ketidakseimbang pembuluh darah
- Pasien dilakukan an cairan dan dampak agen
pembedahan laparatomi elektrolit anestesi
- Pasien mengalami perdarahan
pada area pembedahan ±300
ml
- Induksi anestesi dengan
Propofol 100 mg
- Pemeliharaan anestesi dengan
O2, N2O, dan sevofluran
Pasca Anestesi

4 DS: - Bersihan jalan Mukus banyak,


nafas tidak efektif efek general
DO:
anestesi
- Pasien belum sadar
- Terdapat lendir pada mulut
pasien
- Pasien pasca dilakukan
laparatomi
- Suara nafas gurgling
- Pasien terpasang ETT
5 DS: - Risiko jatuh Efek general
anestesi
DO:

- Pasien pasca operasi dengan


general anestesi
- Pasien belum sadar
- Aldrete skor : 6 (15.15 WIB)
C. Diagnosa Keperawatan
Pre Anestesi
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan masalah pembiusan ditandai
dengan: pasien mengatakan sedikit cemas, pasien belum pernah menjalani
pembedahan sebelumnya, pasien terlihat sedikit gelisah, TD : 130/80 mmHg, Nadi
: 84 x/menit, RR: 20 x/menit
Intra Anestesi
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pengaruh sekunder: obatobatan
anestesi ditandai dengan: Pasien terpasang ETT ukuran 7,0, ada periode apneu
sesaat setelah diberikan induksi dengan propofol 100 mg dan atracurium 30 mg
3. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan vasodilatasi
pembuluh darah dampak agen anestesi ditandai dengan: Pasien dilakukan
pembedahan laparatomi, pasien mengalami perdarahan pada area pembedahan
±300 ml, induksi anestesi dengan Propofol 100 mg, pemeliharaan anestesi dengan
O2, N2O, dan sevofluran.
Pasca Anestesi
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mukus banyak, efek
general anestesi ditandai dengan: Pasien belum sadar, terdapat lendir pada mulut
pasien, pasien pasca dilakukan laparatomi, suara nafas gurgling, pasien terpasang
ETT
5. Risiko jatuh berhubungan dengan efek general anestesi ditandai dengan: Pasien
pasca operasi dengan general anestesi, pasien belum sadar, aldrete skor : 4 (14.50
WIB)
D. Intervensi Keperawatan
Hari, tanggal : Selasa, 26 Maret 2019
Pukul : 13.40 WIB
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

Pre Anestesi

Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Bina hubungan saling 1. Hubungan saling
dengan kurang keperawatan selama percaya percaya mampu
pengetahuan masalah pasien di ruangan pre 2. Jelaskan tentang menciptakan suasana
pembiusan operasi, diharapkan tindakan dan efek yang kooperatif
kecemasan klien anestesi yang akan 2. Klien lebih siap
berkurang. dilakukan menghadapi tindakan
3. Instruksikan pada apa yang akan
Kriteria hasil :
pasien untuk dilakukan sehingga
1. Klien tidak tampak
menggunakan tehnik klien mampu
tegang
relaksasi menerimanya
2. Klien mampu
4. Dorong pasien untuk 3. Teknik relaksasi
mengungkapkan
mengungkapkan seperti pengalihan
penyebab kecemasan
perasaan dan persepsi perhatian mengurangi
3. Klien mengetahui
kecemasan klien
tentang
Yuni 4. Pasien menyampaikan
penatalaksanaan
tindakan pembiusan apa yang dirasakan
untuk mengurangi
Yuni beban psikologis

Yuni
Intra Anestesi

Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan tindakan 1. Bersihakan jalan nafas 1. Menjaga jalan nafas
nafas berhubungan dengan selama durante operatif dengan melakukan dan pola nafas pasien
pengaruh sekunder: diharapkan suction pada oral dan kembali efektif
obatobatan anestesi ketidakefektifan pola nafas hidung 2. Dilakukan dengan
teratasi dengan kriteria : 2. Jaga jalan nafas pemasangan ETT
3. Beri suplai oksigen nasal
1. Nafas spontan
sesuai tidal volume 3. Pemberian suplai
2. Dada mengembang
4. Pantau tanda tanda oksigen dapat
dengan baik
vital dan saturasi O2 membuat pola nafas
3. RR 16 – 20 x/menit
5. Pantau pola nafas efektif
4. BP syst. 100 – 160
6. Bantu nafas dengan 4. Untuk mengetahui
mmhg. BP dyast. 60 –
memberikan bagging apakah ada tanda tanda
90 mmhg.
dengan kontrol sesuai pola nafas telah efektif
5. HR 60 -100 bpm. Nadi
tidal volum kembali
besar, teratur dan kuat
Yuni 5. Untuk mengetahui
angkat. apakah ada tanda tanda
pola nafas telah efektif
Yuni kembali
6. Bagging sesuuai
respirasi dan tidal
volum dapat membuat
nafas spontan kembali

Yuni

Risiko ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji kebutuhan cairan 1. Pemenuhan cairan
cairan dan elektrolit keperawatan selama pasien pasien sesuai dengan
berhubungan dengan pasien berada di ruang 2. Kolaborasi pemberian kebutuhan
vasodilatasi pembuluh operasi, diharapkan cairan dan elektrolit, 2. Terapi cairan untuk
darah dampak agen keseimbangan cairan dan vaso konstriktor mencegah terjadinya
anestesi pasien tercukupi. Kriteria 3. Monitor hemodinamik syok hipovolemi
hasil: 4. Monitor input dan 3. Penurunan tekanan
output cairan darah dan peningkatan
1. Akral kulit hangat
denyut jantung
2. Hemodinamik normal
Yuni mengindikasikan
3. Masukan dan keluaran
pasien kekurangan
cairan imbang
volume cairan
Yuni 4. Menentukan balance
cairan pasien

Yuni
Pasca Anestesi

Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan asuhan 1. Observasi 1. Bersihan jalan nafas
efektif berhubungan keperawatan selama hemodinamik yang tidak efektif
dengan mukus banyak, pasien di RR diharapkan 2. Atur posisi miring menyebabkan
efek general anestesi bersihan jalan nafas efektif 3. Ajarkan cara gangguan pola dan
dengan kriteria : melakukan batuk frekuensi pernafasan
efektif 2. Posisi iring mencegah
1. Tidak ada suara nafas
4. Kaji adanya suara aspirasi lendir ke
tambahan
nafas tambahan dalam paru-paru
2. Pasien bernafas
5. Suction bila terdapat 3. Batuk efektif
spontan
secret membantu
3. Suara nafas vesikuler
mengeluarkan lender
4. RR 14 x/menit
Yuni 4. Suara nafas gurgling
mengindikasikan
Yuni
adanya obstruksi
cairan pada airway,
stridor karena
obstruksi oleh lidah,
wheezing karena
penyempitan.
5. Suction dilakukan
untuk mengeluarkan
lender/cairan

Yuni
Risiko jatuh berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Posisikan pasien 1. Posisi yang nyaman
dengan efek general keperawatan selama dengan nyaman mencegah pasien
anestesi pasien dirawat di ruang 2. Pasang restrain di sisi bergerak-gerak
pemulihan, diharapkan kanan kiri klien untuk 2. Restrain
resiko jatuh tidak terjadi. menjaga keamanan meminimalkan pasien
Kriteria hasil : klien. terjatuh dari brankar.
3. Berikan informasi pada 3. Klien mampu
1. Rasa nyaman
klien bahwa dirinya meminimalkan
pasien terpenuhi
masih berada dibawah pergerakan yang bisa
2. Pasien terhindar
pengaruh anestesi mencederainya
dari cidera
Yuni Yuni
Yuni
E. Implementasi dan Evaluasi
Diagnosa Implementasi Evaluasi

Pre Anestesi

Ansietas berhubungan dengan Selasa, 26 Maret 2019 Selasa, 26 Maret 2019


kurang pengetahuan masalah 1. Memberi informasi tentang DS :
pembiusan tindakan dan efek anestesi yang 1. Klien mengatakan merasa lebih
akan dilakukan tenang setelah diberikan
2. Meminta pasien untuk informasi
mengungkapkan perasaan dan 2. Klien mengatakan akan selalu
persepsi berdoa demi kelancaran operasi
3. Menganjurkan untuk hari ini
menggunakan tehnik relaksasi 3. Klien mengatakan berusaha
pengalihan perhatian mengalihkan perhatian untuk
mengurangi rasa cemasnya
DO :

1. Klien nampak lebih tenang


2. Klien nampak rileks
A : Ansietas teratasi
P: Dampingi klien menuju ruang
operasi
Intra Anestesi

Ketidakefektifan pola nafas Selasa, 26 Maret 2019 Selasa, 26 Maret 2019


berhubungan dengan pengaruh 1. Menjaga jalan nafas DS : -
sekunder: obat-obatan anestesi 2. Memberi suplai oksigen sesuai DO :
tidal volume 1. Pasien terpasang ETT ukuran
3. Memantau tanda tanda vital dan 7,0
saturasi O2 2. Suara nafas vesikuler
4. Memantau pola nafas 3. Suara nafas bilateral
5. Membantu nafas dengan 4. TD : 110/75 mmHg - Nadi : 90
memberikan bagging dengan x/menit - SpO2 : 100%
kontrol sesuai tidal volum 5. Tidal volume 400 cc
A : Ketidakefektifan pola nafas teratasi
P:

1. Jaga jalan nafas


2. Pantau tanda tanda vital dan
saturasi O2
3. Pantau pola nafas
4. Bantu nafas dengan
memberikan bagging dengan
kontrol sesuai tidal volume
Risiko ketidakseimbangan Selasa, 26 Maret 2019 Selasa, 26 Maret 2019
cairan dan elektrolit 1. Mengkaji kebutuhan cairan DS : -
berhubungan dengan pasien DO :
vasodilatasi pembuluh darah 2. Mengelola pemberian cairan 1. Kebutuhan volume cairan
dampak agen anestesi dan elektrolit seimbang
3. Memonitor hemodinamik 2. Aliran tetesan infus lancar
4. Memonitor input dan output 3. Cairan masuk : 1500 ml -
cairan Cairan keluar : 100 ml
4. TD : 120/85 mmHg - Nadi : 84
x/menit
A : Ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit tidak terjadi

P:

1. Kelola pemberian cairan dan


elektrolit
2. Monitor hemodinamik
3. Monitor input dan output cairan
Risiko jatuh berhubungan Selasa, 26 Maret 2019 Selasa, 26 Maret 2019
dengan efek general anestesi DS: -
1. Memposisikan klien di brankar
DO:
2. Memasang restrain di sisi kanan
1. Pasien masih dibawah pengaruh
dan kiri
general anestesi
3. Memberikan informasi pada
2. Pasien terpasang ETT
klien bahwa dirinya masih
3. Kesadaran koma
berada dibawah pengaruh
4. Pasien berbaring ditempat tidur
anestesi
5. Restrain sudah terpasang
6. Aldrete skor 11
7. Pasien selesai operasi
dipindahkan ke RR
A : Risiko jatuh teratasi sebagian

P : Lanjutkan pemantauan pasien


sampai pengaruh anestesi hilang
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan merupakan serangkaian tindakan atau proses
keperawatan anestesi yang diberikan kepada seorang pasien pada sebuah pelayanan
kesehatan dengan cara mengikuti aturan dan kaidah keperawatan dan berdasarkan
pada masalah kesehatan pasien. Asuhan keperawatan peri anestesi meliputi pra
anestesi, intra anestesi dan post anestesi. peran dari seorang perawat anestesi dalam
asuhan keperawatan anestesi adalah sebagai pelaksana atau pemberi asuhan
keperawatan. Setiap tahap dalam proses anestesi seorang perawat selalu melakukan
pengkajian kepada pasien pasien, hal ini membuktikan bahwa proses asuhan
keperawatan merupakan proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah.
Penatalaksanaan “Asuhan Keperawatan Perianestesi Pada Tn. D Dengan
Diagnosa Medis Ileus Obstruktif Dengan Teknik Anestesi Umum di IBS RSUD
Cilacap” didapatkan 5 diagnosa keperawatan anestesi yaitu :
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan masalah pembiusan, 3 tujuan
tercapai
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pengaruh sekunder : obat-
obatan anestesi, 5 tujuan tercapai
3. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan vasodilatasi
pembuluh darah dampak agen anestesi, 3 tujuan tercapai
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mukus banyak, efek
general anestesi, 4 tujuan tercapai
5. Risiko jatuh berhubungan dengan efek general anestesi, 2 tujuan tercapai
B. Saran
Seorang perawat anestesi harus mahir dalam melakukan pengkajian, merumuskan
diagnosa, menetapkan intervesi, melaksanakan implementasi dan mengevaluasi
respon pasien pasien pada tahap pre anestesi, intra anestesi hingga post anestesi
DAFTAR PUSTAKA

Mangku, G. dan Senapathi, T. GA. 2017. Buku Ajar Ilmu Anestesi Dan Reanimasi. Jakarta:
Indeks

Miller, R. 2010. Miller’s Anesthesia 7th. Amerika : Churcill Livingstone Elsevier.

Mansjoer, Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta :Media Aesculapius.

Morgan. 2002. Anesthesia for patients with neuromuscular disease, clinical anesthesiologi.
USA: Churcill Living Stone.
Nurarif, Amin Huda. Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnose Medis Dan Nanda NIC – NOC Edisi Revisi Jilid 2. Media Action :
Yogyakarta.
Pasaribu, N. (2012). Karakteristik Penderita Ileus Obstruktif Yang Dirawat Inap Di RSUD
Dr. Pirngadi Medan Tahun 2007-2010. Universitas Sumatera Utara : Sumatera Utara
Pramono, Ardi. 2017. Buku Kuliah Anestesi. Jakarta: EGC.

Wijayaningsih, Kartika Sari. 2013. Standar Asuhan Keperawatan. Jakarta : Trans Info
Medika.

Widodo, 2014. Asuhan Keperawatan Pada Nn. N Dengan Gangguan Pencernaan : Obstruksi
Ileus Dengan Post Laparotomi di Ruang Cempaka III RSUD Pandan Arang Boyolali.
eprints.ums.ac.id. (Diakses pada tanggal 29 Maret 2019 pukul 17.37 WIB)

Anda mungkin juga menyukai