Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengobatan tradisional merupakan suatu sistem pengobatan yang
(pengetahuan) pada pengalaman dan keterampilan turun temurun.
(Handoko,2008:xxxii)
Menurut UU RI No.23 tahun 1992 tentang kesehatan,pengobatan
tradisional diartikan sebagai salah satu upaya pengobatan dan atau
perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu
keperawatan,mencakup cara atau (metoda),obat dan pengobatannya yang
mengacu kepada pengetahuan,dan keterampilan turun menurun baik yang
asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1076/MENKES/SK/VII/2003 halaman 2 tentang Penyelenggaraan
Pengobatan Tradisional, menyatakan bahwa pengobatan tradisional adalah
pengobatan dan atau perawatan dengan cara,obat dan pengobatnya yang
mengacu kepada pengalaman,keterampilan turun menurun,dan atau
pendidikan/pelatihan,dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku
dalam masyarakat.
Menurut Jean-Francois Sobiecki,sistem pengobatan tradisional
(traditional healing system) cenderung dikembangkan dari sumber sistem
kepercayaan spiritual atau agama (spiritual or religious belief system) dan
lebih jauhnya lagi,yaitu berkembangnya dari sistem sistem kepercayaan
animisme atau kepercayaan tradisional yang lainnya.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk lebih mengetahui
tentang:
1. Definisi pengobatan tradisional
2. Sejarah pengobatan tradisional

1
3. Jenis pengobatan tradisional di Indonesia
4. Tujuan pengobatan tradisional
5. Standarisasi pengobatan tradisional
6. Peminatan pengobatan tradisional

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pengobatan Tradisional


1. Pengobatan tradisional adalah suatu upaya kesehatan dengan cara lain
dari ilmu kedokteran dan berdasarkan pengetahuan yang di turunkan
secara lisan maupun tulisan yang berasal dari Indonesia atau luar
Indonesia.
2. WHO menyatakan Pengobatan tradisional ialah ilmu dan seni
pengobatan berdasarkan himpunan dan pengetahuan dan pengalaman
praktek, baik yang dapat diterangkan secara ilmiah ataupun tidak,
dalam melakukan diagnosis, prevensi, dan pengobatan terhadap
ketidakseimbangan fisik, mental ataupun sosial.

2
3. Sesuai keputusan ”Seminar Pelayanan Pengobatan Tradisional
Departemen Kesehatan RI (1978), terdapat 2 definisi pengobatan
tradisional Indonesia (PETRIN) yaitu :
a. Ilmu atau seni pengobatan yang dilakukan oleh pengobat
Tradisional Indonesia dengan cara yang tidak bertentangan dengan
kepercayaan kepada Tuhan YME sebagai upaya penyembuhan,
pencegahan penyakit, pemulihan dan peningkatan kesehatan
jasmani, rohani dan sosial masyarakat.
b. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan
dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan
cara berpikir, kaidah-kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu
kedokteran modern, diwariskan secara turun-menurun atau
diperoleh secara pribadi dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak
lazim dipergunakan dalam ilmu kedokteran yang meliputi :
akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinshe, tabib, jamu, pijat dan
sebagainya yang banyak di jumpai dalam masyarakat.

B. Sejarah Pengobatan Tradisional


Kedokteran modern mengakui bahwa Hippocrates adalah orang
pertama yang menggunakan tanaman berkhasiat dalam praktek. Akan
tetapi sebenarnya Imhotep dari mesir jauh lebih tua dan lebih tepat untuk
menerima pengakuan ini. Pada zaman 5000 tahun yang lalu raja-raja Mesir
sudah mempunyai perhatian terhadap penggunaan tanaman obat. Raja
Akhenaton III mewariskan untuk generasi sekarang ”gambar-gambar 400
jenis tanaman obat” di dinding kuil Karnak sebagai hasil ekspedisinya ke
Syria. Di Indonesia obat tradisional mengalami pasang-surut sesuai
dengan riak gelombang kebudayaan pada zamannya.
Periodisasi perkembangan pengobatan tradisional ini dapat di bagi atas 4
era yaitu :
1. Zaman Pra-Jepang
Publikasi tertua tentang tanaman obat dari Indonesia di tulis oleh J.Bontius
tahun 1685 dengan judul De Indiae Untrisquere Nuturali et Medica.
Kemudian Rumph (1741) menerbitkan Herbarium Amboinense dan
Linnaeus Flora Zaylanica.

3
William Marsden (1754-1820) seorang Inggris menjelaskan dalam catatan
perjalanannya tentang kebiasaan penduduk Sumatera Bagian Selatan ini
diterbitkan di London tahun 1783. dalam kongres kedua VIG (Ikatan
Dokter Indonesia) di Solo Goelarso Astrodikesoemo (1940) telah
memberikan himbauan agar para dokter Bumiputera mulai menyelidiki
obat tradisional. Dalam kesempatan ini diselenggarakan pula pameran
”Jamu Asli Indonesia” beserta bahan-bahannya oleh perkumpulan ”Taman
Ibu” Yogyakarta. Kongres memutuskan antara lain merasa perlu obat-obat
rakyat dan cara pemakaiannya secepat mungkin dipelajari dengan
seksama.
2. Zaman Jepang
Tahun 1942-1945 perhatian dan anjuran menggunakan obat rakyat cukup
tinggi. Dalam periode 1942-1944 pemerintahan Dai Nippon memberikan
perhatian dan anjuran penggunaan dan pengembangan pengobatan
tradisional, khususnya tanaman obat. Tanggal 5 juni 1944 didirikan suatu
panitia bernama ”Yakusho Katyo I-Inkai” atau ”Panitia Jamu Asli
Indonesia” di pimpin oleh Prof. Dr Sato, kepala jawatan kesehatan
pemerintah. Ketika itu ketua Perhimpunan Dokter Indonesia (Djawa Izi
Hookoo kai) adala Dr A.Rasjid dan diberi tugas untuk memberi petunjuk
dan menjaga kelancaran usaha kerja sama dengan para penghasil jamu.
Badan ini kemudian di kenal sebagai ”Badan Penghimpoen Ramoean
Djamoe”.
3. Zaman Kemerdekaan
Bung karno sebagai Presiden RI memberikan perhatian yang cukup besar
untuk pengembangan obat tradisional. Tahun 1956 ketika mengucapkan
pidato Dies UGM penulis menyaksikan sendiri beliau memperkenalkan
sinshe RRC yang khusus didatangkan untuk mengobati penyakit ginjalnya.
”Wergroep voor medicinale Planten” didirikan tahun 1950 di Bogor
dengan anggota ahli-ahli kimia, farmasi dan farmakologi. mereka
menyelidiki Pyretrum yang mengandung Pyretrium, Brugmansia candida,
Anamirta cocculus (akar tuba) yang mengandung Picrotoxin, Areca
catechu (pinang) yang mengandung Arecoline dan juga digunakan sebagai
obat cacing. Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan membentuk
”Komisi Farmakoterapi” tahun 1950 dan tahun berikutnya ”Komisi

4
Interdepartemental pharmacoterapie” untuk mendapatkan obat yang
berguna bagi rakyat. Kementrian Pertanian membentuk pula ”Balai
Tanaman Obat-obat”. Penyelidikan tanaman yang berkhasiat dikerjakan
dalam bidang botani dan teknik kultur.
4. Zaman Kebangkitan
Tahun 1960 Prof A.J.Darman dikukuhkan sebagai guru besar farmakologi
orang Indonesia pertama. Tahun 1963 Kementrian Kesehatan membentuk
Badan Perancana Penggunaan Obat Asli. Di Jakarta tahun 1977 Herman
soesilo selaku pejabat tinggi kesehatan mengadakan uji-coba Jamu masuk
Puskesmas. Pada tahun 1980 Ditjen POM memperknalkan ide ”Apotik
Hihau” yang kemudian di ganti menjadi proyek ”Taman Obat Keluarga”
atau ”Toga”. Dalam tahun yang sama Akupuntur kedokteran” di coba pada
beberapa puskesmas terutama di sekitar Jakarta.

C. Jenis Pengobatan Tradisional di Indonesia


Ada 4 jenis pengobatan tradisional, yaitu:
1. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat :
a. Pengobatan tradisional dengan ramuan asli Indonesia.
b. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat Cina.
c. Pengobatan tradisional dengan ramuan India.
2. Pengobatan tradisional spiritual/kebatinan :
a. Pengobatan tradisional atas dasar kepercayaan.
b. Pengobatan tradisional atas dasar agama.
c. Pengobatan dengan dasar getaran magnetis.
3. Pengobatan tradisional dengan memakai peralatan :
a. Akupuntur, pengobatan atas dasar ilmu pengobatan tradisional
Cina yang menggunakan penusukan jarum dan penghangatan moxa
(Daun Arthemesia vulgaris yang dikeringkan).
b. Pengobatan tradisional urut pijat.
c. Pengobatan tradisional patah tulang.
d. Pengobatan tradisional dengan peralatan (tajam/keras).
e. Pengobatan tradisional dengan peralatan benda tumpul.
4. Pengobatan tradisional yang telah mendapat pengarahan dan
pengaturan pemerintah :
a. Dukun beranak.
b. Tukang gigi tradisional.

D. Tujuan Pengobatan Tradisional


1. Tujuan Umum
Meningkatnya pendayagunaan pengobatan tradisional baik secara
tersendiri atau terpadu pada sistem pelayanan kesehatan paripurna,

5
dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dengan demikian pengobatan tradisional adalah merupakan salah satu
alternatif yang relatif lebih disenangi masyarakat. Oleh karenanya
kalangan kesehatan berupaya mengenal dan jika dapat mengikut
sertakan pengobatan tradisional tersebut.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya mutu pelayanan pengobatan tradisional, sehingga
masyarakat terhindar dari dampak negatif karena pengobatan
tradisional.
b. Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah
kesehatan dengan upaya pengobatan tradisional.
c. Terbinanya berbagai tenaga pengobatan tradisional dalam
pelayanan kesehatan.
d. Terintegrasinya upaya pengobatan tradisional dalam program
pelayanan kesehatan paripurna, mulai dari tingkat rumah tangga,
puskesmas sampai pada tingkat rujukannya.

E. Standarisasi Pengobatan Tradisional


Untuk dapat dimanfaatkannya pengobatan tradisional dalam
pelayanan kesehatan banyak yang harus diperhatikan. Salah satu
diantaranya yang dinilai mempunyai peranan yang sangat penting adalah
upaya standarisasi. Diharapkan, dengan adanya standarisasi ini bukan saja
mutu pengobatan tradisional akan dapat ditingkatkan, tapi yang penting
lagi munculnya berbagai efek samping yang secara medis tidak dapat
dipertanggung jawabkan, akan dapat dihindari.
Pengertian standarisasi adalah keadaan ideal atau tingkat
pencapaian tertinggi dan sempurna, yang dipakai sebagai batas penerimaan
minimal ( Clinical Practice Guideline, 1990 ). Standart menunjukkan pada
tingkat ideal tercapai tersebut tidaklah disusun terlalu kaku, tetapi masih
dala batas-batas yang dibenarkan disebut dengan nama toleransi.
Syarat suatu standar yang baik dipandang cukup penting adalah :
1. Bersifat jelas
Artinya dapat diukur dengan baik, termasuk ukuran terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi.

6
2. Masuk akal
Suatu standart yang tidak masuk akal, bukan saja akan sulit
dimanfaatkan tetapi juga akan menimbulkan frustasi para profesional.
3. Mudah dimengerti
Suatu standart yang tidak mudah dimengerti juga akan menyulitkan
tenaga pelaksana sehingga sulit terpenuhi.
4. Dapat dipercaya
Tidak ada gunanya menentukan standart yang sulit karena tidak akan
mampu tercapai. Karena itu sering disebutkan, dalam menentukan
standart, salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah harus sesuai
dengan kondisi organisasi yang dimiliki.
5. Absah
Artinya ada hubungan yang kuat dan dapat didemintrasikan antara
standart dengan sesuatu ( misalnya mutu pelayanan ) yang diwakilinya.
6. Meyakinkan
Artinya mewakili persyaratan yang ditetapkan. Apabila terlalu rendah
akan menyebabkan persyaratan menjadi tidak berarti.
7. Mantap, Spesifik dan Eksplisit
Artinya tidak terpengaruh oleh perubahan oleh waktu, bersifat khas
dan gamblang.
Dari ukuran tentang standart dan pengobatan tradisional sebagaimana
dikemukakan diatas, mudah dipahami bahwa upaya standarisasi
pengobatan tradisional di Indonesia, tidaklah semudah yang diperkirakan.
Sebagai akibat ditemukannya konsep pengobatan tradisional yang sangat
supranatural yang satu sama lain tampak sangat berbeda, menyebabkan
standarisasi akan sulit dilakukan.

F. Peminatan Pengobatan Tradisional


Peminatan pengobatan tradisional sendiri sangat dipengaruhi oleh faktor :
1. Faktor Sosial
Alasan masyarakat memilih pengobatan tradisional adalah selama

mengalami pengobatan tradisional keluarganya dapat menjenguk dan

menunggui setiap saat. Hal tersebut sesuai dengan kodrat manusia

sebagai mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi langsung dengan

keluarganya atau kerabatnya dalam keadaan sakit. Namun ada juga

7
informasi yang mengemukakan bahwa mereka berpendapat lebih

senang dirawat atau diobati di rumah sakit daripada dirawat atau

diobati di tempat-tempat pengobatan tradisional. Mereka dibawa

kepengobatan tradisional bukan atas kemauan mereka sendiri tetapi

atas desakan biaya pengobatan. Biasanya mereka belum pernah ke

rumah sakit sehingga tidak bisa dibandingkan pengobatan tradisional

dengan pengobatan di rumah sakit. Disini nampak adanya faktor

pasrah akibat dari keterbatasan pengalaman-pengalaman dalam

interaksi sosial.
2. Faktor Ekonomi
Mereka menyatakan biayanya lebih murah daripada rumah sakit,

menurut mereka cara pembayarannya juga tidak memberatkan karena

pasien tidak tertarik uang muka. Selain itu bagi yang tidak mampu

membayar sekaligus dapat dicicil setelah mereka pulang. Jika ditinjau

dari klasifikasi pasien yang datang ketempat pengobatan tradisional ini

sebagian besar pekerjaannya adalah buruh kasar, sopir, tukang parkir,

sehingga wajar faktor ekonomi menentukan dalam memilih tempat

pengobatan.
3. Faktor Budaya
Salah satu alasan mengapa para penderita memilih tempat pengobatan

tradisional karena pengobatan di tempat ini memiliki seorang ahli yang

mempunyai kekuatan supranatural yang mampu mempercepat

kesembuhan penyakit. Disamping itu hal ini sesuai dengan apa yang

dikemukakan oleh foster dan Anderson bahwa sistem medis adalah

bagian integral dari kebudayaan.


Salah satu faktor lain yang menyebabkan pengobatan tradisional ini

masih diminati masyarakat adalah kategori penyembuhan yaitu siapa

8
yang berhak atau yang tepat dalam menyembuhkan, misalnya untuk

penyakit C hanya D yang berhak, penyakit A hanya B yang tepat

menyembuhkan. Dalam persepsi masyarakat juga menganggap

penyakit yang tidak parah tidak perlu dibawa ke rumah sakit, karena

penyakit yang diderita dianggap tidak mengancam jiwanya, tidak

menggangu nafsu makan serta masih mampu melakukan kegiatan

sehari-hari walaupun agak tergaggu. Hal tersebut nampak sesuai

dengan yang dikemukakan oleh Spreadly, bahwa kebudayaan sebagai

pengetahuan, nilai-nilai yang digunakan untuk menginterpretasikan

pengalaman serta membangkitkan perilaku sosial.


4. Faktor Kemudahan
Pasien dapat segera ditangani tanpa harus menunggu hasil rontgen dan

hasil laboratorium lainnya.


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah kami mengumpulkan data dari buku yang berhubungan dengan
Pengobatan Tradisional dan Alternatif di Indonesia dan pengaruhnya bagi
pelayanan Kesehatan kami dapat menyimpulkan bahwa :
periode perkembangan pengobatan tradisional ini dapat di bagi atas 4 era
yaitu :
1. Zaman Pra Jepang.
2. Zaman Jepang.
3. Zaman Kemerdekaan.
4. Zaman Kebangkitan.
Pengobatan tradisioanal adalah suatu upaya kesehatan dengan cara lain dari
ilmu kedokteran dan berdasarkan pengetahuan yang diturunkan secara lisan
maupun tulisan yang berasal dari Indonesia atau luar Indonesia.
Tujuan pengobatan tradisional terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Tujuan Utama
a. Meningkatkan pendayagunaan pengobatan tradisional pada sistem
pelayanan kesehatan paripurna sebagai mencapai derajat kesehatan
yang optimal.

9
b. Kalangan kesehatan berupaya mengenal dan dapat mengikutsertakan
pengobatan tradisional.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya mutu pelayanan pengobatan tradisional.
b. Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah
kesehatan.
c. Terbinanya berbagai tenaga pengobatan tradisional.
d. Terintegrasinya upaya pengobatan tradisional.
Peminatan pengobatan tradisional sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain: faktor sosial, ekonomi, budaya dan pemudahan.
B. SARAN
Untuk dapat mencapai kebutuhan yang lebih tinggi tentunya seseorang
harus sehat, namun seseorang itu juga tidak terlepas akan diserang penyakit.
Untuk mencari pengobatan saat ini sangat memerlukan biaya dalam sebagai
alternatif banyak anggota masyarakat kembali ke pengobatan tradisional yang
dapat dipercaya.
Di harapkan juga kita sebagai anggota masyarakat tetap melestarikan
budaya asli Indonesia yaitu dengan mengonsumsi obat-obatan tradisional atau
dengan menggunakan pengobatan tradisional.

10
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar. (1992). Antropologi Kesehatan Indonesia. Jakarta: EGC.

Sugeng, Dwi. (2007). Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PT. Media Abadi.

Foster & Anderson. (1986). Antropologi Kesehatan. Jakarta : UI Press.

11