Anda di halaman 1dari 6

RESUME PAPER

Judul Paper : “Seismic Refraction Investigation of the Subsurface Structure at the


Southern Part of Niger State College of Education, Minna, Nigeria”
(Investigasi Stuktur Bawah Permukaan dengan Seismik Refraksi di Bagian
Selatan Wilayah Perguruan Tinggi Negeri Pendidikan Niger, Minna, Nigeria)
Judul Jurnal : Bayero Journal of Pure and Applied Sciences Volume 3 No.2
Tahun : Diterima – Mei 2010; Disetujui – Oktober 2010
Penulis : Alhassan, D. U., Dangana, L.M., Salako, K.A., Jonah, S.A. and Ofor, N.P.
(Depatermen Fisika, Universitas Teknologi Federal, Minna)

Reviewer : Kenneth Christian Nathanael (165090700111010) – Program Studi Teknik


Geofisika, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya

 LATAR BELAKANG
Seismik refraksi merupakan salah satu metode yang umum digunakan dalam teknik
geofisika untuk emnentukan ketebalan batuan dasar, kekuatan batuan dasar, kedalaman
kolom air, atau kedalaman dari batasan kecepatan seismik lainnya. Properti fisika yang
terukur dan terinterpretasi secara tepat, dapat memberikan informasi beguna mengenai
struktur dan komposisi bawah permukaan, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi dan
mendelineasi keberadaan fitur lokal dari karakteristik fisik tertentu, seperti akuifer. Akuifer
merupakan tubuh batuan atau tanah yang cukup berpori dan permeabel untuk menampung
dan mengalirkan air tanah secara signifikan. Aliran air menuju akuifer disebut dengan
recharge dan aliran air keluar akuifer disebut discharge.
Metode seismik refraksi menggunakan energi seismik yang kembali ke permukaan
setelah menjalar sepanjang jalurnya menuju bawah permukaan dan menuju refraktor yang
memisahkan lapisan yang memiliki perbedaan kecepatan seismik. Dalam investigasi
hidrogeologi, metode seismik refraksi memberikan informasi secara langsung mengenai
ketinggian kolom air, karena dengan meningkatnya ketinggian air menyebabkkan kenaikan
signifikan dari kecepatan seismik (pada litologi yang homogen). Oleh sebab itu, zona saturasi
(deposit yang belum berkonsolidasi dengan butir menengah hingga kasar) merupakan
refraktor yang sempurna, dimana batas atasnya dapat ditentukan dengan metode seismik
refraksi dengan akurasi yang baik.
Perguruan Tinggi Negeri Niger merupakan sebuah institusi akademik dengan populasi
pelajar yang besar yang bergantung hanya pada air pipa. Ketersediaan air yang tak menentu,
bahkan tidak tersedia hingga beberapa minggu. Maka penelitian ini diperlukan agar sumber
air bagi pelajar dan staff dapat terpenuhi.
 METODOLOGI
o Akuisisi Data
Daerah penelitian merupakan bagian barat laut dari lembar geologi Minna
dengan luas area survey sebesar 500.000 m2. Geologi zona penelitian merupakan
kawasan batuan metamorfik Kursheriki. Tipe batuan yang ditemukan di kawasan
penelitian merupakan granit tua yang terpapar aliran sungan yang mengakibatkan
pelapukan.

Gambar 1. Kawasan Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam survei inni adalah seismograf 3-Channel. Area
survei penelitian ini adalah sebanyak 6 line dan masing-masing line sepanjang 1 km dan
dengan interval 100 m. 11 titik tembak terekam pada tiap profil. Gelombang seismik
dihasilkan dengan menggunakan palu dengan lempengan besi. Pada tiap titik tembak,
waktu datang gelombang terekam pada setiap geofon.

Gambar 2. Desain Survei Penelitian


o Pengolahan dan Analisa Data
Informasi kecepatan seismik dikorelasikan dengan tipe batuan dan digunakan
dalam penentuan material bawah permuakaan. Akibat adanya tumpang-tindih
kecepatan dari berbagai batuan, tidak disarankan untuk mengidentifikasi tipe batuan
bedasarkan dari kecepatannya saja. Namun hal tersebut tetap dapat digunakan untuk
kawasan penelitian yang lebih sempit dimana range kecepatannya sempit, sehingga
jenis batuan tertentu dapat diidentifikasikan bedasarkan kecepatannya.
Pengolahan data seismik refraksi menggunakan waktu datang pertama. Metode
Wyrobek digunakan untuk menganalisa data. Metode ini menggunakan bantuan grafik
untuk membantu perhitungan. Plot dari waktu penjalaran (T) dengan posisi detektor
pada tiap geofon dapat digambarkan. Kemiringan dari grafik tersebut digunakan untuk
mendapatkan kecepatan rata-rata v1 dan v2 untuk lapisan pertama dan refraktor. Waktu
intercept juga dapat ditentukan dari grafik tersebut. Untuk mendapatkan kedalaman
refraktor pada tiap titik tembak, waktu intercept dibagi dengan dua untuk mendapatkan
waktu setengah intercet atau disebut dengan Delay Time (D). nilai D pada tiap titik
tembak dikalikan dengan faktor F untuk mendapatkan kedalaman.
𝑃𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢
𝐾𝑒𝑚𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐺𝑟𝑎𝑓𝑖𝑘 = … (1)
𝑃𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘
1
𝑉 = 𝐾𝑒𝑚𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐺𝑟𝑎𝑓𝑖𝑘 … (2)
Prosedur ini dilakukan pada tiap titik tembak untuk mendapatkan v1 dan v2,
kecepatan lapisan pertama dan kecepatan refraktor. Dua kecepatan ini dan dengan
waktu intercept dapat memberikan kedalam refraktor dengan persamaan:
𝑇𝑖 𝑉1 𝑉2
𝑍= … (3)
2
√(𝑉22 −𝑉12

 HASIL PENELITIAN
o Interpretasi Profil Survei
Kecepatan dari lapisan pertama berkisar dari 1010 m/s hingga 1866 m/s
dengan rata-rata 1306 m/s. Kecepatan lapisan kedua berkisar dari 2447 m/s hingga
6944 m/s dengan rata-rata 3957 m/s. Kedalaman refraktor berkisar dari 2.81 m
hingga 5.79 m dengan rata-rata 4.16 m.

Gambar 3. Grafik Waktu-Jarak (T-D)


o Interpretasi Peta Kontur
 Peta Kontur Kecepatan Lapisan Pertama dan Lapisan Kedua
Hasil observasi lapangan pada lapisan pertama (top soil) merupakan
campuran dari material clay, pasir kering, alluvium, dan gravel. Lapisan
kecepatan pertama menunjukan variasi lateral kecepatan seismik akibat
berbedaan material. Terdapat peningkatan signifikan nilai kecepatan pada
bagian tengah-utara daerah penelitian. Kecepatan tinggi juga didapatkan pada
bagian tenggara, yang mana bertepatan dengan adanya aliran sungai (alluvium).
Deposit alluvium antara lain batupasir, pasir gravel, dan clay tersaturasi atau
terkompasi. Kecepatan rendah didapatkan pada bagian barat daya dan timur
laut daerah penelitian, ysng memiliki karakteristik batuan tak terkonsolidasi,
berupa batuan lapuk dan pasir kering.
Pada lapisan kedua didapatkan sifat batuan berupa berlempung, batuan
lateritik dan zona sedimen mengandung besi dengan karakterisitik kecepatan
tinggi di bagian utara. Sedangkan kecepatan rendah tersebar di bagian barat,
tengah dan timur daerah penelitian.

 Peta Kontur Kedalaman Refraktor


Peta kontur menunjukan variasi ketebalan lapisan lapuk pada daerah
penlitian. Terdapat indikasi adanya heterogenitas batuan dasar. Kedalaman
yang tinggi ditemukan pada bagian barat laut dan tenggara, sedangkan
kedalaman yang rendah pada bagian barat hingga barat daya daerah penelitian.

 Interpretasi Geologi Daerah Penelitian


Hanya terdapat 2 lapisan geologis yang diamati. Lapisan pertama hanya
terdiri dari batuan dasar lapuk, sedangkan lapisan kedua terdiri dari batuan
dasar yang terkonsolidasi (batu granit)

Gambar 5. Peta kontur (a) lapisan pertama; (b) lapisan kedua; (c) kedalaman refraktor
Gambar 6. Penampang Vertikal Profil (a), (b), dan (c)

 KESIMPULAN
Interpretasi data lapangan menunjukan 2 lapisan geologis, yang mana lapisan
pertama merupakan lapisan overburden dengan kisaran kecepatan dari 704 m/s hingga
1980 m/s dan lapisan kedua dengan kecepatan 2191 m/s hingga 7893 m/s. Kisaran yang
lebar dari kecepatan akibat dari heterogenitas top soil akibat efek panjang erosi dan
pelapukan batuan.
Respon seismik pada lapisan lapuk pada bagian barat-timur memiliki karakteristik
clay, gravel, dan schist (sekis). Sedangkan pada bagian batuan dasar memiliki karakterisik
batuan granit. Kecepatan tinggi dan refraktor dangkal mengindikasikan lapisan yang
paling sedikit tererosi dan baik digunakan untuk konstruksi.

 REKOMENDASI
Hasil investigasi dapat menjadi rekomendasi bagi bantuan dalam perencanaan
teknik sipil dan pembangunan wilayah, dan untuk menata sumber air pada pencarian air
tanah. Investigasi lanjutan dengan metode resistivitas dikawasan ini sangat
direkomendasikan.

 DAFTAR PUSTAKA
Dobrin M.B. (1976). Introduction to geophysical Prospecting, Mc Graw-Hill Book C.O,
New York.
Keller G.R, Sinno Y.A, and Sbar M.L (1981). Seismic refraction in West and central
Arizona, journal of Geophysical Research, New York, U.S.A, Vol. 86, No. 36,
PP5023
Kearey P, Brooks M, and Hill I (2002). An Introduction to Geophysical Exploration. Third
edition, Blackwell, UK
Telford, W.M, Geldart, L.P, Sherriff, R.E, and Kays D.A (1976).Applied Geophysics.
Cambridge University Press New York
Udensi, E. E, Ojo, S. B and Ajakaiye, D. E (1986). A three Dimensional Interpretation of
the Bouguer Anomalies over the Minna Batholith in Central Nigeria.
Precambriam Res.32:1-15.
www.mqtinfo.org.(2008) Marquette County Community Information System, 2nd
January, 2010
www.nga.com (2001) Northwest Geophysical Associates, Inc, 20th April, 2009