Anda di halaman 1dari 5

Tes Spesifik Pada Shoulder

Tes spesifik ini berhubungan dengan anatomy dan patologi pada sendi . ada beberapa struktur yang
bisa menyingkap tipe patologi yang spesifik dan lebih membantu pada saat melakukan pemeriksaan
dan di utamakan pada bagian yang dicurigai.

Untuk shoulder ada 3 yaitu:


1. Tes yergason untuk stabilitas musculus biceps caput longum
2. Tes lengan jatuh (Drop arm tes) untuk kerobekan musculus rotator cuff
3. Tes apprehension untuk dislokasi shoulder

1). Tes Yergason


Tes ini untuk menentukan stabil atau unstabilnya tendon musculus biceps pada sulcus bicipitalis.
Caranya adalah dengan meminta pasien untuk memfleksikan elbownya, kemudian genggamlah fleksi
elbow pada satu tangan dan tangan yang lain pada wristnya. Untuk mengetes stabilisasi tendon
biceps, eksternal rotasikan arm pasien kemudian suruh dia untuk menahan gerakkan tersebut
beberapa saat kemudian tariklah ke bawah elbownya. Jika tendon musculus biceps tidak stabil pada
sulcus bicipitalis , maka akan terdengar bunyi letupan pada sulcus tersebut dan pasien terlihat
menahan nyeri . jika tendon stabil , maka tendon tersebut tetap berada ditempatnya dan pasien
terlihat biasa saja.

2). Tes Drop Arm ( Tes Lengan Jatuh)


Tes ini untuk menentukan ada tidaknya kerobekan rotator cuff. Pertama mintalah pasien untuk
abduksi arm. Kemudian suruh turunkan kesamping badan dengan perlahan . jika ada kerobekan
rotator cuff (khususnya musculus supraspinatus) lengan akan jatuh kesisi badan dari posisi badan 90
derajat abduksi. Pasien tidak akan dapat menurunkan lengannya dengan perlahan walaupun ia
mencoba berulang kali . jika pasien mampu melakukan abduksi maka berikan sedikit tepukan pada
lengan bawahnya maka lengan segera jatuh ke sisi badan.
3). Tes Aprehension untuk Dislokasi Shoulder
Dilakukan untuk mengetes dislokasi shoulder yang bersifat kronik . Dengan cara melakukan abduksi
dan mengeksternal rotasikan lengan pasien , dimana posisi ini akan mempermudah terjadinya
dislokasi shoulder. Jika shoulder dislokasi pasien terlihat berubah mimiknya dan selanjutnya pasien
akan menahan gerakan tersebut. Tes ini mirip dengan tes apprehension pada patella untuk
mengetahui dislokasi patella.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

 Dislokasi Shoulder
• Dislokasi Shoulder Ciri khasnya adalah perubahan ukuran sendi, perubahan axis lengan yg
dislokasi, & posisi tdk alamiah pd shoulder. Meskipun ada usaha dari atlit untuk mengoreksi
tetapi akan ke...

 Cidera Otot Rotator Cuff


Rotator cuff terdiri dari kelompok empat unit otot yang membungkus sendi bahu pada
bagian depan, atas dan belakang. Otot-otot ini, yang dihubungkan oleh tendon ke tulang,
menggerakkan bahu ke berbagai...

 Gejala dan Penyebab Terjadinya Cidera pada Otot Rotator Cuff


Gejala yang dihubungkan dengan kerobekan rotator cuff sering berupa ringan pada saat
pertama, kemudian menjadi parah pada tahap selanjutnya. Gejala penyertanya meliputi
nyeri di malam hari dan nyeri y...

1. Palpasi

a. m. Supraspinatus

Posisi Add-Internal rot penuh tangan belakang punggung.


Palpasi ventrocaudal acromion, arah lateromedial.
Lokasi tendoperiosteal; tendon.
b. Tendon m. Biceps Caput Longum
Posisi netral sedikit external rotasi. Palpasi sulcus bicipitalis sambil gerak external-internal rotasi.
c. Bursa Subdeltoidea
Posisi extension. Palpasi ventrocaudal acromion diatas tuberculum majus humeri.
2. Yargason’s Test
Tes ini dilakukan untuk menentukan apakah tendon otot bicep dapat mempertahankan kedudukannya
didalam sulkus intertuberkularis atau tidak.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara memfleksikan elbow sampai 90 o dan supinasi lengan
bawah (lengan yang diperiksa) dan stabilisasi padad thorax yang berlawanan dengan pronasi lengan
bawah (lengan yang tidak diperiksa). Selanjutnya pasien melakukan gerakan lateral rotasi lengan
melawan tahanan. Hasil positif jika ada tenderness didalam sulcus bicepitalis atau tendon keluar
dari sulcus, ini merupakan indikasi tendinitis bicipitalis.

2. Speed Test
Pemeriksa memberikan tahanan pada shoulder pasien yang berada dalam posisi fleksi, secara
bersamaan pasien melakukan gerakan pronasi lengan bawah dan ekstensi elbow. Tes ini positif apabila
ada peningkatan tenderness didalam sulcus bicipitalis dan ini merupakan indikasi tendinitis bicepitalis.

3. Drop-Arm Test atau Tes Moseley


Tes ini dilakukan untuk mengungkapkan ada tidaknya kerusakan pada otot-otot serta tendon yang
menyusun rotator cuff dari bahu. Pemeriksa mengabduksikan shoulder pasien sampai 900 dan
meminta pasien menurunkan lengannya secara perlahan-lahan pada sisi tersebut sebisa mungkin. Tes
ini positif jika pasien tidak dapat menurunkan lengannya secara perlahan-lahan atau timul nyeri hebat
pada saat mencoba melakukan gerakan tersebut, hasil test positif indikasi cidera pada rotator cuff
complex.

4. Supraspinatus Test
Abduksi shoulder pasien sampai 900 dalam posisi netral dan pemeriksa memberikan tahanan dalam
posisi tersebut . medial rotasi shoulder sampai 300, dimana thumb pasien menghadap kelantai,
Tahanan terhadap abduksi diberikan oleh pemeriksa sambil melihat apakah ada kelemahan atau nyeri
yang menggambarkan hasil test positif, jika hasil test positif indikasi kerobekan atau cidera otot
tendon supraspinatus.

5. Apprehension Test Anterior (Untuk Subluksasi/Diskolasi Anterior Shoulder)


Pemeriksa melakukan gerakan abduksikan dan lateral rotasi shoulder pasien secara perlahan,
pemeriksa melakukan dorongan caput humeri ke depan, jika tes positif indikasi dapat terlihat atau
merasakan kecemasan pada wajah pasien dan pasien akan mencoba mempertahankan gerakan
selanjutnya.

7. Apprehension Test (Untuk Subluksasi/Diskolasi Posterior Shoulder)


Pemeriksa melakukan gerakan fleksikan kedepan shoulder pasien disertai medial rotasi, lalu
pemeriksa menekan kearah posterior elbow pasien. Hasil positif jika indikasi akan terlihat atau
nampak pada wajah pasien dan pasien akan mempertahankan gerakan selanjutnya. Test ini indikasi
dislokasi posterior.

8. Allen Maneuver
Pemeriksa memfleksikan nelbow pasien sampai 900 , sementara shoulder ekstensi horizontal dan
lateral rotasi, disertai rotasi kepala pasien kesisi yang berlawanan, pemeriksa mempalpasi denyut a.
radialis yang biasanya hilang pada saat kepala rotasi kesisi yang berlawanan dari lengfan yang di
test , jika tes positif indikasi adanya TOCS, jangan lupa tanyakan apakah pasien merasakan sesuatu
yang aneh.

9. Adson Maneuver
Kepala pasien rotasi kesisi shoulder yang diperiksa lalu ekstensi kepala, sementara shoulder pasien
posisi lateral rotasi dan ekstensi pemeriksa melokalisir denyut a. radilis dan pasien diminta untuk
menarik nafas yang dalam, jika denyutannya hilang indikasi test positif (TOCS test).

10. Halstead Maneuver


Pemeriksa menemukan denyut a. radialis dan menarik kearah bawah lengan yang di test, sementara
leher pasien hyperekstensi dan rotasi kepala kesisi yang berlawanan, tidak ada atau hilangnya
denyutan indikasi test positif untuk TOCS.

12. Tes Cyriax


Cyriax menggambarkan pasif elevasi scapula selama beberapa menit perlu dipertahankan. Timbulnya
rasa kesemutan didalam jari tangan menunjukan adanay TOCS.

13. Tes Roos


Posisi pasien duduk dengan bahu retraksi dan depresi sejauh mungkin dalam posisi bahu 90˚ serta
elbow 90˚, selanjutnya pasien diminta untuk menutup dan membuka jarinya kuat-kuat dan secara
bergantian, posisi menyebabkan kompresi didalam berbagai pintu sementara itu perlu adanaya
penyediaan darah ekstra karena kerja otot tersebut. Orang sehat biasanya mampu melakukan
gerakan ini dengan mudah selama tiga menit, sedangkan pasien dengan TOCS sudah merasakan
timbul keluhan dalam waktu satu menit. Yang paling mencolok pasien merasakan kelelahan yang
berlebihan didalam lengan dan tangannya dan tidak mampu mempertahankan gerakabn menutup dan
membuka jari.
Test ini lebih dapat dipercaya dibanding tes-tes yang lainnya menurut pengalaman yang memberikan
nama tes ini.

14. Apley Strech Test


Untuk pemeriksaan pasien diminta menggaruk-garuk daerah disekitar angulus medialis scapula
dengan tangan sisi contralateral melewati belakang kepala pada pola gerakan tersebut otot-otot
abductor dan eksternal rotasi bahu bekerja pada tendonitis supraspinatus, bursitis akromialis dan
kapsulitis adhesive bahu apley scratch tidak dapat dilakukan oleh pasien karena timbul nyeri
disekitar persendian bahu.

15. Joint Play Movement (JPM)


a. Joint Glenohumeral Joint MLPP: posisi bonnet, traction kearah lateral serong cranioventral.
b. Glenohumeral Joint Abduction, Posisi abduksi glenohumeral: Traction  stretching inferior capsule.
Dorsal translation  stretching serabut oblique pembatas abd. Firm end feel.

c. Glenohumeral Joint Internal Rotation. Traction: stretching posterior capsule.Translation:


stretching serabut oblique capsule pembatas internal rotation.Firm end feel?
d. Glenohumeral Joint External Rotation.Traction: stretching anterior capsule. Translation: stretching
serabut oblique capsule pembatas external rotation. Firm end feel?
e. Glenohumeral Joint Horizontal Abduction . Traction: stretching anterocaudal capsule.Translation:
stretching serabut oblique capsule pembatas horizontal abduction. Firm end feel.

f. Glenohumeral Joint Horizontal Adduction.Traction: stretching posterocaudal capsule.Translation:


stretching serabut oblique capsule pembatas horizontal adduction. Firm end feel?

g. Acromion Clavicular Joint


Lateral traction: MLPP: Stretching seluruh capsule ringan Permbatasan retraction: Stretching
seluruh capsule.
Translation: Stretching serabut oblique capsule tertentu

h. Sternoclavicular Joint
Lateral traction
MLPP: Stretching seluruh capsule ringan. Permbatasan retraction: Stretching seluruh capsule
Translation: Stretching serabut oblique capsule tertentu. Elevasi caudal translation,
rectraction  dorsal translation.
i. Scapulothoracal
Untuk test perlekatan scapulothoracal. Dorsal traction, Lateral translation, Cranial translation,
Caudal translation.
j. Intervertebral Joint : Shoulder Flexi penuh, gerak rotasi ipsilateral upper thoracal intervertebral.
k. Costa I : Dorongan costa I ke caudal untuk winging test.