Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

“IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN GLIKOSIDA SAPONIN, TRITERPENOID, DAN


STEROID”

(Ekstrak Sapindus rarak DC)

Disusun Oleh :

Nama : Annisa Kusumawardani

NIM : 201410410311215

Kelas : Farmasi A

Kelompok : I(Satu)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2017
I. TUJUAN

Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan glikosida saponin,


triterpenoid dan steroid dalam tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia yang
bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam
tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi
pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperan
penting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (Kristianti
dkk., 2008).
Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit
sekunder. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai macam metabolit sekunder yang
berperan dalam aktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasikan
dengan pereaksi-pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari
metabolit sekunder (Harbone, 1987).
Penapisan kimia adalah pemeriksaan kandungan kimia secara kualitatif untuk mengetahui
golongan senyawa yang terkandung dalam suatu tumbuhan. Pemeriksaan dilakukan pada
senyawa metabolit sekunde yang memiliki khasiat bagi kesehatan seperti alkaloid, flavonoid,
terpenoid, tannin, dan saponin (Harborne, 1987).
Pendekatan fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan atau
bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah dan biji), terutama kandungan metabolit
sekunder yang bioaktif yaitu alkaloida, antrakuinon, flavonoida, glikosida jantung, saponin
(steroid dan hiterpenoid), tannin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid), iridoid, dan
sebagainya. Dengan tujuan pendekatan skrining fitokimia adalah untuk mensurvei tumbuhan
untuk mendaoatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan
(Robinson, 1995).
Identifikasi senyawa golongan saponin (steroid dan terpenoid) (Harbone, 1987)
Saponin adalah suatu glukosida yang larut dalam air dan mempunyai karakteristik dapat
membentuk busa apabila dikocok, serta mempunyai kemampuan menghemolisis sel darah
merah. Saponin mempunyai toksisitas yang tinggi. Verdasarkan strukturnya saponin dapat
dibedakan atas dua macam yaitu saponin yang mempunya rangka steroid dan saponin yang
mempunyai rangka triterpenoid. Berdasarkan pada strukturnya saponin memberikan reaksi
warna yang karakteristik dengan pereaksi Libermann-Buchard (LB).
A. Klasifikasi Sapindus rarak DC
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Sapindus
Spesies: Sapindus rarak Dc
Nama Umum
Indonesia: lerak

Lerak (Sapindus rarak) dikenal dengan kegunaaan bijinya sebagai detergen tradisional (untuk
pencucian batik). Secara kualitatif diuji dan didapatkan senyawa triterpenoid, alkaloid,
steroid, antrakinon, tanin, fenool, flavonoid, dan minyak atsiri pada daging buah (Sunaryadi,
1999)
Senyawa aktif yang telah diketahui dari buah lerak adalah senyawa-senyawa golongan
saponin yang tinggi dan sesquiterpen (Wina et al, 2005)

B. Identifikasi Senyawa
Saponin
Uji sederhana pada saponin adalah dengan mengocok sari alkohol tumbuhan
dalam tabung reaksi. Bila terdapat busa yang cukup banyak maka dapat
dinyatakan positif mengandung senyawa saponin.
Sapogenin
Jaringan kering pada tumbuhan dihidrolisis dengan HCl 1N selama 2-6 jam,
kemudian dinetralkan, bagian padat diekstraksi dengan petroleum. Ekstrak
dikeringkan kemudian residu dilarutkan dalam kloroform kemudian diuapkan
dan diaplikasikan pada KLT dengan pelarut aseton : heksan (4:1) atau
kloroform : karbontetraklorida : aseton (2:2:1). Sapogenin terdeteksi berwarna
pink-ungu setelah disemprot antimoni klorida dalam HCl pekat dan
dipanaskan pada suhu 110o C selama 10 menit.
Triterpenoid
Jaringan kering pada tumbuhan dibebaskan lemaknya dengan eter, kemudian
di ekstraksi dengan metanol panas dipekatkan.
Analisa hidrolisis dengan asam dilakukan pada silika gel dengan pelarut n-
heksan : etil asetat (1:1) atau dengan kloroform : metanol (10:1) deteksi
antimony klorida pada kloroform.
α-amiryn dan β-amiryn dapat dipisahkan bila kromatografi dengan n-butanol
2M : NH4OH (1:1). Asam betulinat, oleanolat, ursolat membutuhkan pelarut
khusus untuk menganalisanya.
C. Pemisahan KLT
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemiahan komponen menggunakan
fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert. KLT merupakan salah stu jenis
kromatografi analitik. KLT sering digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak
keuntungan menggunakan KLT, diantaranya adalah sederhana dan murah. KLT termasuk
dalam kategori kromatografi planar, selain kromatografi kertas. Dalam KLT tedapat factor
resistensi (Rf) yang dirumuskan sebagai berikut :

Nilai Rf sangat karakteristik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu. Hal tersebut
dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa
yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah, begitu juga
sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang polar akan
tertahan kuat pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf KLT yang
bagus berkisar antara 0,2-0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah mengurangi
kepolaran eluen. Sebaliknya jika Rf terlalu rendah, maka kepolaran eluen harus ditambah.(
(Materia Medika Indonesia IV, 1980).

Cara menggunakan KLT :


1. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk satu spot menggunakan plat selebar 1 cm.
berarti jika menguji 3 sampel (3 spot) berarti menggunakan plat selebar 3 cm.
2. Buat garis dasar (base line) dibagian bawah, sekitar 0,5 cm dari ujung bawah plat, dan
garis akhir di bagian atas.
3. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah disiapkan sejajar, tepat
di atas base line. Jika sampel padat, larutkan pada pelarut tertentu. Keringkan totolan.
4. Dengan pipet yang berbeda, masukkan masing-masing eluen ke dalam chamber dan
campurkan.
5. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Base line jangan sampai tercelup oleh
eluen. Tutuplah chamber.
6. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di sana pemisahan akan
terlihat
7. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset keringkan dan ukur jarak
spot. Jika spot tidah kelihatan, amati pada lampu UV. Jika masih tak terlihat, semprot
dengan pewarna tertentu seperti kalium kromat, asam sulfat pekat dalam alcohol 96%
atau ninhidrin. Berikut ini adalah gambarnya :
D. Pemisahan Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom adalah salah satu metode yang digunakan intuk pemurnian senyawa
dari campuran dengan memakai kolom. Kromatografi kolom termasuk kromatografi
preparative.
Fasa gerak atau eluen adalah campuran cairan murni. Eluen dipilih sedemikian rupa
sehingga fakror retensi senyawa berkisar antara 0,2-0,3 supaya meminimalisasi penggunaan
waktu dan jumlah eluen melewati kolom. Jenis eluen yang digunakan pada kromatografi
kolom dipilih supaya senyawa yang berbeda dapat dipisahkan secara efektif. Eluen yang
digunakan dapat dicoba terlebih dahulu menggunakan kromatografi lapis tipis. Setelah dirasa
cocok, eluen yang sama digunakan untuk mengelusi komponen dalam kolom.
Fasa diam yang digunakan dalam kromatografi kolom adalah suatu adsorben padat.
Biasanya berupa silica gel atau alumina. Dahulu juga sering digunakan bubuk selulosa. Fasa
diam berbentuk serbuk microporous untuk meningkatkan luas permukaan.Metode yang
digunakan adalah metode kering dan metode basah.
Metode basah
Pada metode basah, bubur (slurry) disiapkan dengan mencampurkan eluen pada serbuk
fasa diam dan dimasukkan secara hari-hati pada kolom. Dalam langkah ini harus benar-benar
hati-hati supaya tidak ada gelembung udara. Larutan senyawa organic dipipet dibagian atas
fasa diam kemudian eluen dituangkan pelan-pelan melewati kolom.

Cara kerja kromatografi


Komponen tunggal ditahan pada fasa diam berupa adsorben karena telah terikat ketika
eluen dialirkan, maka senyawa akan melakukan migrasi, terbawa oleh eluen sesuai dengan
kesesuaian kepolaran. Masing-masing senyawa dalam komponen mempunyai kecepatan yang
berbeda-beda dalam melewati kolom. Selama proses berlangsung, akan didapatkan beberapa
fraksi. Masing-masing fraksi kemungkinan mengandung senyawa berbeda. Untuk
mengujinya, fraksi hasil kromatografi kolom dapat diamati menggunakan KLT. Fraksi
dengan Rf yang mirip, kemungkinan mengandung senyawa yang sama. Fraksi dapat diamati
lebih lanjut menggunakan spektroskopi. Seluruh proses kromatografi kolom dapat dilihat
pada gambar :

Kromatografi lapis tipi merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang
ingin dideteksi dengan memisahkan komponen – komponen sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran, metode pemisahan fisika kimia dengan fase gerak dan fase diam yang diletakkan
pada penyangga berupa plat atau lapis yang cocok zat yang memiliki kepolaran yang sama
dengan fasa diam akan cenderung tertahan dan nilai Rfnya paling kecil pada identifikasi
noda/penampakan noda, jika nada sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan
harga Rfnya. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuholeh komponen dibagi dengan
jarak tempuh eluen untuk setiap senyawa.
Faktor yang mempengaruhi harga Rf :
1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
2. Sifat dan penyerap, derajat aktivitasnya
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap
4. Pelarut fase gerak
5. Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan
6. Teknik percobaan
7. Jumlah campuran yang digunakan
8. Suhu
9. Kesetimbangan.
(MateriaMedikaIndonesiaIV,1980).

E. Tinjauan Eluen
Fase gerak merupakan medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Fase
gerak bergerak dalam fase diam karena adanya gaya kapiler. Pelarut yang digunakan sebagai
fase gerak hanyalah pelarut bertingkat mutu analitik dan bila diperlukan sistem pelarut
multikomponen ini harus berupa suatu campuran yang sesederhana mungkin yang terdiri atas
maksimum 3 komponen. Angka banding campuran dinyatakan dalam bagian volume total
100 (Nyiredy 2002). Pelarut pengembang dikelompokkan ke beberapa golongan oleh
Snyder’s berdasarkan kekuatan pelarutnya. Menurut Stahl (1985) eluen atau fase gerak yang
digunakan dalam KLT dikelompokkan ke dalam 2kelompok, yaitu untuk pemisahan senyawa
hidrofil dan lipofil. Eluen untuk pemisahan senyawa hidrofil meliputi air, metanol, asam
asetat, etanol, isopropanol, aseton, n-propanol, tert-butanol, fenol, dan n-butano l sedangkan
untuk pemisahan senyawa lipofil meliputi etil asetat, eter, kloroform, benzena, toluena,
sikloheksana, dan petroleum eter.

a. N-HEKSANA
N-heksana adalah senyawa dengan rumus kimia C6H14 yang merupakan
hidrokarbon yang banyak digunakan sebagai pelarut organik yang memiliki
sifat mudah menguap. "n" pada n-heksana mengandung arti normal yang
artinya rantai hidrokarbonnya lurus atau linier yang dituliskan CH3-CH2-
CH2-CH2-CH2-CH3. n-heksana

Sifat-sifat n-heksana antara lain

 Bobot molekul : 86,18 gr mol−1


 Wujud : Cairan tidak berwarna
 Massa jenis : 0,6548 gr/mL
 Titik leleh : −95 °C, 178 K, -139 °F
 Titik didih : 69 °C, 342 K, 156 °F
 Kelarutan dalam air : 13 mg/L pada 20°C
 Viskositas: 0,294 cP
 Titik nyala: −23,3 °C

b. ETIL ASETAT

Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3. Senyawa ini
merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna,
memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil
dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut.

Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap), tidak
beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan hidrogen yang lemah,
dan bukan suatu donor ikatan hidrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu
hidrogen yang terikat pada atomelektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat
dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar.
Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun, senyawa ini tidak stabil dalam
air yang mengandung basa atau asam.

F. TinjauanPolaritas
III. CARA KERJA
a. Uji Buih

+
Positif mengandung
saponin jika buih
Ekstrak 0,2 g di + air suling 10 ml stabil dalam 30 menit
masukkan di dan kocok kuat-kuat dengan tinggi 3 cm di
tabung reaksi selama 30 detik atas permukaan
cairan

b. Reaksi Warna
1. Preparasi sampel

0,5 g Ekstrak Larutan di bagi 3


dilarutkan dalam masing-masing 5 ml
15 ml etanol (IIA, IIB, IIC)

2. Uji Liebermann-Burchard
Kocok perlahan dan
amati perubahan warna

Larutan IIA sebagai


blanko, larutan IIB + 3
tetes asam asetat
anhidrat + 5 tetes H2SO4
pekat

-Warna hijau biru = saponin steroid

-Warna merah ungu = saponin triterpenoid

-Warna kuning muda = saponin triterpenoid/


steroid jenuh
3. Uji Salkowski

Jika ada cincin


warna merah
menandakan
Larutan IIA digunakan sebagai adanya steroid
blanko, larutan IIC + 1-2 ml tak jenuh
H2SO4 pekat melalui dinding
tabung

c. Kromatografi Lapis Tipis


1. Identifikasi sapogenin steroid/ triterpenoid

Ekstrak 0,5 + 5 ml HCL 2N


g
Didihkan dan tutup dengan
corong berisi kapas basah
selama 50 menit untuk
menghidrolisis saponin.

Jika ada warna merah


ungu(ungu) ada
sapogenin

Setelah dingin + ammonia


sampai basa, kemudian
ekstraksi dengan 4-5 ml n-
heksan sebanyak 2x, lalu
uapkan sampai tinggal 0,5
ml, totol pada plat KLT.
2. Identifikasi terpenoid/steroid bebas secara KLT
+ n-heksan 0,5 – 1 ml
Diaduk ad
ekstrak larut

Adanya
terpenoid/steroid
jika warna erubah
merah ungu/ungu

Totolkan pada fasa


diam
IV. HASIL
V. PEMBAHASAN
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
VII. DAFTAR PUSTAKA

Kristianti, A. N, N. S. dkk. 2008. “Buku Ajar Fitokimia”. Jurusan Kimia Laboratorium Kimia
Organik FMIPA Universitas Airlangga.: Surabaya.

Robinson. 1995. “Kandungan Organic Tumbuhan Tinggi “. ITB Press : Bandung.

Harborne, J.B., 1987. “Phitochemical Method Metode fitokimia terjemahan oleh Kosasih
Padmawinata & Iwang Soediro”. ITB Press : Bandung

Depkes RI. (1980). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Cetakan Pertama. Jakarta:Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman.
http://www.plantamor.com