Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Vitamin adalah suatu senyawa organik yang terdapat di dalam makanan dalam
jumlah sedikit dan dibutuhkan jumlah yang besar untuk fungsi metabolisme yang
normal. Vitamin dapat larut di dalam air dan lemak. Vitamin yang larut dalam lemak
adalah Vitamin A, D, E, dan K dan yang larut di dalam air adalah vitamin B dan C.
(Dorland, 2006).
Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh
dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K,
dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12,
dan folat).Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat
memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif.
Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan vitamin yang berasal dari makanan yang
kita konsumsi. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin yang
tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh, asupan vitamin lain dapat
diperoleh melalui suplemen makanan.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan
manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami
suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika
kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu
karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain.
Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis. Contohnya adalah
bila kita kekurangan vitamin B1 maka kita akan mengalami beri-beri, gangguan
saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf, defisiensi vitamin B1, kulit akan
mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan bersisik. Di samping itu,
asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan
metabolisme pada tubuh antara lain dapat mengganggu fungsi ginjal.
Maka karena oleh sebab itu dibuatlah produk berupa suplemen yang di
dalamnya terdapat vitamin agar dapat mengontrol kadar vitamin dalam tubuh,
suplemen ini tersedia baik dalam bentuk cairan, kapsul atupun tablet. Dari semua
sediaan ini memilik masing-masing kelebihan, seperti cairan biasanya di gunakan
sebagai vitamin untuk kulit, dan memilik efek secara langsung. Sedangkan kapsul
berguna untuk pasien-pasien yang tidak dapat meminum tablet ataupun tidak kuat

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


1
akan bau dari obat tersebut. Kalau tablet sendiri biasanya di gunakan untuk terapi
atapun untuk menyuplasi kebutuhan vitamin dalam tubuh yang tidak cepat di
metabolisme.
Sehubungan dengan penjabaran di atas bahwa vitamin merupakan senyawa
yang ada dan dibutuhkan oleh tubuh dengan kadar tertentu maka kami pada
praktikum teknologi sediaan solid ini berencana membuat sebuah formula
suplemen / vitamin dengan zat aktif Thiamin Mononitrat ( Vitamin B1 ) dalam
bentuk sediaan tablet, yang kami harapkan dapat menjadi salah satu formula yang
bermanfaat.

1.2. Tujuan
Setelah melakukan praktikum Teknologi Sediaan Solid diharapkan praktikan
dapat :
1. Menentukan dan merancang formula yang tepat dalam pembuatan tablet
sesuai dengan karakteristik zat aktif.
2. Mengetahui dan memahami komponen-komponen tambahan (eksipien)
yang dibutuhkan pada pembuatan tablet.
3. Mengetahui dan memahami metode pilihan dalam pembuatan tablet.
4. Mengetahui dan memahami pengujian mutu (evaluasi) zat aktif, granul dan
tablet.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


2
2.1. Sediaan Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk
tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung
satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. Zat tambahan yang
digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat
pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok. (FI Ed. III)
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV Tablet adalah sediaan padat
yang mengandung bahan obat denagn atau tanpa bahan pengisi. Tablet dapat dibuat
dalam berbagai ukuran bentuk dan penandaan permukaan tergantung desain cetakan.
Kemudian di jelaskan pula oleh Ansel bahwa, tablet adalah bentuk sediaan padat
yang dibuat dengan cara kempa atau dengan mencetak dan mengandung zat obat
dengan atau tanpa pengencer yang cocok, zat penghancur, zat penyalut, zat pemberi
warna dan zat pembantu lainnya. (Ansel, 2005)
Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya
didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh
bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan
melarutnya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kohesi
yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut
baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas,
mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak
tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.
Kecuali dinyatakan lain, ukuran tablet mempunyai diameter tidak lebih dari 3
kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet. (FI ed. III)
Sediaan tablet juga memiliki kelebihan / keuntungan dan kekurangan /
kerugian dari sediaan lain seperti berikut ini:
Kelebihan atau keuntungan dari sediaan tablet, sebagai berikut:

- Takaran obat/ bahan aktif cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet.

- Dapat dibuat sesuai ukuran dosis yang diperlukan dan friabilitas kandungan
paling rendah.

- Umumnya lebih stabil dibandingkan sediaan cair.

- Memungkinkan dibuat dengan profil pelepasan diusus atau produk lepas


lambat.

- Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


3
- Tablet merupakan sediaan yang cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam
air.

- Dapat menutupi rasa yang pahit, atau kurang enak jika dibandingkan dengan
jenis sediaan serbuk dan cairan.

Kemudian untuk keurangan atau kerugian sediaan tablet, sebagai berikut:

- Beberapa zat aktif tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak.

- Zat aktif sukar terbasahi, lambat melarut, dosis tinggi sehingga sulit
diformulasi untuk memberikan dosis seperti yang diharapkan atau akan sukar
menghasilkan bioavabilitas obat cukup.

- Zat aktif yang rasanya pahit atau tidak enak, baunya tidak enak, atau obat
peka terhadaap oksigen atau kelembapan udara sehingga tidak bisa langsung
dikempa.

- Sukar diberikan pada anak-anak penderita yang sulit menelan.

2.2. Jenis-jenis Tablet


2.2.1 Berdasarkan Prinsip Pembuatan
 Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi
pada serbuk atau granul menggunakan pons atau cetakan baja.
 Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan
rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan
kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan
yang diberikan
2.2.2 Cara Pemakaian
 Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk, dan penandaan. Bentuk
tablet bermacam-macam: bulat, oval, tabung, dll, sesuai dengan desain
cetaknya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kaplet merupakan salah satu
dari bentuk tablet. Tablet selain yang berukuran umum, juga dikenal bolus
yaitu tablet besar yang digunakan untuk obat hewan, umumnya hewan besar.
2.2.3 Berdasarkan Cara Penggunaan
 Tablet vaginal
Digunakan pada vagina. Biasanya mengandung bahan aktif sebagai
antiinfeksi, antifungi, atau penggunaan hormone secara local.
 Lozenges trochisi

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


4
Digunakan dengan cara dihisap. Untuk memberikan efek local padaa
mulut dan tenggorokan. Umumnya menngandung bahan aktif yang
digunakan sebagaai antiinfeksi.
 Tablet bucal
Digunakan dengan cara dimasukkan diantara pipi dan gusi dalam
rongga mulut. Absorpsi terjadi di dalam mukosa mulut, masuk ke dalam
peredaran darah. Biasanya berisi hormone steroid.
 Tablet sublingual
Digunakan dengan cara dimasukkan di bawah lidah, darah. Biasanya
berisi hormone steroid.
 Tablet implantasi
Digunakan dengan cara implantasi dalam kulit. Bentuk pellet, bulat
atau oval pipih. Harus steril.
 Tablet effervescent
Penggunaan dengan cara dilarutkan dalam air atau didispersikan dalam
air atau didispersikandalam air sebelum pemberian.
 Tablet kunyah
Dimaksudkan untuk dikunyah, member residu dengan rasa enak dalam
rongga mulut, mudah ditelan, dan tdak meninggalkan rasa pahit atau tidak
enak. Jenis tablet ini digunakan dalam formulasi tablet untuk anak terutama
formulasi multivitamin, antasida, dan antibiotika tertentu. Jenis tablet ini juga
digunakan untuk penderita yang mengalami kesulitan menelan. Tablet bukal
dan sublingual juga dapat digunakan untuk bahan aktif yang mengalami
peruraian dalam asam lambung atau enzim pencernaan.
2.2.4 Berdasarkan Cara Pembuatan dan Tujuan Khusus
 Tablet salut gula (drage)
Merupakan tablet salut gula. Yang dibuat dengan tujuan khusus,
diantaranya menutupi rasa dan bau yang tidak enak, melindungi bahan aktif
dari pengaruh luar,meningkatkan penampilan, dsb.
 Tablet salut enteric
Merupakan tablet salut film. Jika obat dapat rusak atau inaktif karena
cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung, diperlukan bahan
penyalut enteric, yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet
telah melewati lambung.
 Tablet lepas lambat
Merupakan tablet salut film. Tablet lepas lambat dibuat sedemikian
sehingga zat aktif akan tersedia dalam jangka waktu tertentu setelah
obatdiberikan. Istilah efek diperpanjang, efek pengulangan, dan lepas lambat
telah digunakan untuk menyatakan sediaan tersebut.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


5
2.3. Komponen Sediaan Tablet
Seperti yang sudah dijelaskan di pengertian bahwa tablet merupakan sediaan
yang memilik satu zat aktif atau lebih dan dapat pula di tambah zat tambahan untuk
mencapai komposisi tablet yang di inginkan, berikut merupakan komponen-
komponen yang sering terdapat di dalam tablet:
 Bahan aktif
Adalah bahan yang diharapkan memberikan efek terapetik atau efek
lain yang diharapkan. Bahan aktif yang digunakan peroral/lewat mulut dibagi
menjadi 2 kategori, yaitu:
- Bahan aktif tidak larut , dimaksudkan untuk memberikan efek lokal
pada saluran pencernaan.
- Bahan aktif larut, dimaksudkan untuk memberikan efek sistemik
dengan cara terdisolusi/ terlarut dalam usus dan selanjutnya
terdiabsorpsi.
 Bahan pembantu
Adalah bahan yang ditambahkan agar bahan aktif dapat dibuat menjadi
bentuk tablet dan memenuhi karakteristik yang diharapkan. Eksipien adalah
zat yang bersifat inert secara farmakologi yang digunakan sebagai zat
pembantu dalam formulasi tablet untuk memperbaiki sifat zat aktif,
membentuk tablet dan mempermudah teknologi teknologi pembuatan tablet.
Eksipien harus memiliki kriteria sebagai berikut :
a. Tidak toksik (memenuhi persyaratan peraturan di setiap negara)
b. Tersedia secara komersial dengan mutu yang dapat diterima oleh semua
Negara
c. Tempat produk tersebut dikembangkan
d. Harga relatif murah
e. Tidak kontraindikasi dalam suatu golongan populasi, inert secara
fisiologis
f. Stabil secara fisika dan kimia baik tersendiri maupun dalam kombinasi
dengan zat aktif
g. Bebas dari kandungan bakteri pathogen.
h. Kompatibel dengan zat warna dan bahan lainnya dan tidak membawa
pengaruh yang buruk terhadap ketersediaan hayati dari zat aktif dalam
sediaan.
1) Zat pengisi (diluent)
Pengisi adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikan bobot dan
ukuran tablet jika dosis zat aktif tidak cukup untuk membuat masa tablet,
memperbaiki daya kohesi sehingga tablet dapat dikempa dengan baik, serta
mengatasi masalah kelembapan yang mempengaruhi kestabilan zat aktif.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


6
Jumlah bahan pengisi yang dibutuhkan bervariasi,berkisar 5 – 80% dari
bobot tablet (tergantung jumlah zat aktif dan bobot tablet yang dinginkan).
Bila bahan aktif berdosis kecil, sifat tablet (campuran massa yang akan
ditablet) secara keseluruhan ditentukan oleh sifat bahan pengisi.
Massa yang dibutuhkan dalam tablet adalah 0,1 – 0,8 gram, sehingga
memungkinkan untuk dicetak. Pada obat yang berdosis cukup tinggi bahan
pengisi tidak diperlukan. Bahan pengisi juga ditambahkan untuk
memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk
memicu aliran. Yang umum digunakan adalah pati dan laktosa.
Bila bahan aktif dalam jumlah yang cukup, penambahan pengisi
dimaksudkan agar bahan aktif tidak banyak terbuang selama proses
pencampuran dan pengempaan atau untuk memperoleh sifat aliran dan
kompresibilitas granul yang baik.

Tabel 2.1 Macam – macam bahan pengisi tablet

Bahan Pengisi Tidak Larut Air Bahan Pengisi Larut Air


Kalsium Sulfat Laktosa

Kalsium Fosfat Sukrosa


Kalsium Karbonat Dextrose
Amilum Mannitol
Modifikasi Amilum Sorbitol
Microkristal Selulosa
Bahan pengisi yang dapat digunakan untuk kempa langsung disebut filler –
binders. Filler-binders adalah bahan pengisi yang sekaligus memiliki
kemampuan menigkatkan daya alir dan kompaktibilitas massa tablet.
Filler–binders digunakan dalam kempa langsung.
2) Zat pengikat (binder)
Pengikat atau perekat berfungsi memberi daya adhesi pada massa
serbuk pada granulasi dan kempa langsung serta untuk menambah daya
kohesi untuk berikatan membentuk granul, sehingga bila dikempa akan
menghasilkan tablet yang kompak. Bahan pengikat juga dapat mencegah
penghamburan serbuk apabila dikempa. Bahan pengikat dapat ditambahkan
dalam bentuk kering dan dalam bentuk larutan (lebih efektif).

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


7
Beberapa senyawa yang dapat digunakan sebagai pengikat atau
perekat antara lain : polimer alam, contoh amilum, gom, sorbitol, tragakan,
glukosa, gelatin dan natrium alginat, polimer sintetik contohnya derivat
selulosa, seperti metal selulosa, karboksil metal selulosa (CMC), etil
selulosa, polivinil pirolidon (PVP). Salah satu bahan pengikat yang sering
digunakan yaitu jenis pati dengan konsentrasi 5 – 20%. Pada granulasi
basah, bahan pengikat biasanya ditambahkan dalam bentuk larutan (dibuat
solution, muchilago, atau suspensi) namun dapat juga ditambahkan dalam
bentuk kering, setelah dicampur dengan massa yang akan digranul baru
ditambahkan pelarut.
Bahan pengikat dikenal dua macam yaitu pengikat kering (binder)
dan pengikat basah (adhesive). Pengikat kering ditambahkan kedalam
massa granul yang kering dalam keadaan kering, sedangkan pengikat basah
ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi.

Bahan Konsentrasi dalam Formula (%)


Acacia 2-5
Derivat Selulosa 1-5
Glukosa 2-25
Sukorosa 2-25
Sorbitol 2-10
Natrium Alginat 2-5
Tabel 2.2 Macam – macam bahan pengikat kering

Bahan Pemakaian Normal Konsentrasi dalam


Larutan (%) Formula (%)
Derivat Selulosa 5-10 1-5
Gelatin 10-20 1-5
Gelatin-Acacia 10-20 2-5
Pasta Amylum 5-10 1-5
Tragacanth 3-10 1-4
Natrium Alginat 3-5 2-5
Tabel 2.3 Macam – macam bahan pengikat basah

3) Zat penghancur (desintegrator)


Fungsinya untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika
kontak dengan cairan pencernaan. Bahan ini dapat menarik air kedalam
tablet, mengembang dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian bagian.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


8
Bahan ini sangat menentukan kelarutan obat selanjutnya sehingga dapat
tercapai bioavailabilitas yang diharapkan.
Bahan penghacur dapat ditambahkan kedalam granulat ataupun
selama proses lubrikasi sebelum dikempa.
Bahan penghancur meliputi tepung jagung dan kentang, turunan
amilum seperti amilum glikolat, senyawa selulosa, dan bahan bahan lain
yang memperbesar atau mengembang dengan adanya lembab dan
mempunyai efek memecahkan dan menghancurkan tablet setelah masuk
kedalam saluran pencernaan. Amilum digunakan untuk konsentrasi 5%
umumnya cocok untuk membantu penghancuran. Berdasarkan kerjanya
bahan penghancur dibagi atas:
a. Bahan penghancur yang daya mengembangnya besar dalam air.
Contoh: Ac-Di-Sol dan Polysplasdone
b. Bahan penghancur yang dapat membentuk pori untuk penetrasi air.
Contoh: Amylum, Asam Alginat, CMC Na
c. Bahan penghancur lain. Misalnya penghancur yang bersifat effervesens, bekerja
berdasarkan reaksi terbentuknya gas apabila dimasukkan kedalam air.
Tabel 2.4 Macam – macam bahan penghancur

4) Bahan pelincir (lubricant)


Bahan Konsentrasi dalam Granulasi (%)
Starch USP 5-20
Asam Alginat 5-10
Gom 5-10
Kaolin 5-15
Veegum 5-15
Bentonite 5-15
Campuran Asam Sitrat 5-15
dan Garam Karbonat
(Na)
Fungsi utama dari lubrikan adalah mengurangi gesekan antar granul
dan permukaan tablet dengan dinding die selama pengempaan atau
pengeluaran tablet.
Lubrikan bekerja dengan dua mekanisme, pertama lubrikan cair.
Lubrikan dengan cairan ini dimaksudkan untuk memberikan lapisan pada
dua permukaan, contohnya minyak mineral. Hanya saja lubrikan ini sering
memberikan bercak pada tablet, sehingga jarang dipakai. Kedua, ikatan
bagian polar dari partikel dengan rantai karbon pada permukaan logam
dinding die, contohnya Magnesium Stearat. Lubrikan ini lebih baik

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


9
daripada lubrikan cairan, karena daya tarik lubrikan kedua lebih besar
daripada lubrikan cairan.
 Lubrikan murni
Lubrikan murni adalah zat yang digunakan untuk mengurangi
gesekan antar granul dengan dinding cetakan selama pengempaan
pengeluaran tablet. Lubrikan dapat bekerja dengan dua mekanisme, yaitu
fluid lubrication dan boundary lubrication. Fluid lubrication bekerja
dengan memisahkan kedua permukaan granul dan dinding. Sedangkan
boundary lubrication bekerja karena adanya penempelan dari bagian
molekular yang mempunyai rantai karbon panjang. Berdasarkan
kelarutannya dalam air, lubrikan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Lubrikan larut air, umumnya hanya digunakan jika tablet harus
sangat larut air (misalnya tablet effervesens atau tablet dengan
disintegran unik) dan tergantung dari karakter disolusi yang
diinginkan. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan
sebagai lubrikan larut air antara lain: natrium benzoat, natrium
asetat, natrium klorida, natrium oleat, natrium lauril sulfat,
magnesium lauril sulfat, asam borat, Karbowax 4000, Karbowax
6000, polietilenglikol.

Bahan Pemakaian (%)


Boric Acid 1
Sodium Chloride 5
DL Leucine 1-5
Carbowax 4000 1-5
Carbowax 6000 1-5
Sodium Oleate 5
Sodium Benzoat 5 Tabel 2.5
Macam – macam lubrikan larut air

b. Lubrikan tidak larut air, biasanya lebih efektif dari lubrikan larut
dalam air dan juga dalam konsentrasi yang rendah. Penambahan
lubrikan tidak larut air biasanya ditambahkan pada masa kering
yang telah homogen, ketika siap akan dikempa. Beberapa contoh
senyawa yang dapat digolongkan sebagai lubrikan tidak larut air
antara lain : magnesium stearat, kalsium stearat, natrium stearat,
asam stearat, talk.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


10
Bahan Penggunaan (%)
Stearat (Mg, Na, Ca) 0,25-2
Tabel 2.6 Asam Stearat 0,25-2
Macam – Sterotex 0,25-2
Talkum 1-5
macam Waxes 1-5
lubrikan tidak Stearowet 1-5
larut air
Pertimbangan pemilihan lubrikan tergantung pada cara pemakaian, tipe
tablet, sifat disintegrasi dan disolusi yang diinginkan, sifat fisika-kimia
serbuk atau granul dan biaya.
Sebagai bahan pelincir yang sangat menonjol adalah talk
karena dapat sekaligus memenuhi ketiga fungsi yaitu sebagai pelincir,
anti lengket dan pelicin. Pada umumnya talk ditambahkan sebanyak 2%
ke dalam granulat siap pakai.
5) Bahan anti lengket (antiadherent)
Anti adheren adalah zat yang digunakan untuk mencegah
menempelnya massa tablet pada punch dan untuk mengurangi penempelan
pada dinding cetakan. Bahan ini sangat diperlukan untuk zat-zat yang
mudah menempel, seperti vitamin E. Talk, magnesium stearat dan amilum
jagung merupakan material yang memiliki sifat antiadheren yang sangat
baik.

Bahan Penggunaan (%)


Talk 1-3
Comstrach 3-10
Cab-O-Sil 1-3
Syloid 0,5-5
DL Leucine 3-10
Logam Stearat <1
Tabel 2.7 Macam – macam bahan anti adheren
6) Glydant
Glidan yang bagus adalah glidan yang dapat memperbaiki aliran
granul dari hopper (penggilingan berbentuk kerucut) menuju kedalam die.
Glidan dapat mengurangi gelembung udara dan kerapatan. Glidan berfungsi
mengurangi kecenderungan pemisahan antar partikel granul.

Bahan Penggunaan (%)


Talk 5
Comstrach 5-10
Cab-O-Sil 1-3

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


11
Syloid 0,5-3
Aerosil 1-3
Tabel 2.8 Macam – macam bahan glidan
7) Pembasah (surfactant)
Beberapa zat berkhasiat memiliki sifat hidrofob, yaitu sifat yang
susah untuk dibasahi. Zat berkhasiat yang demikian akan menimbulkan
masalah dalam waktu hancurnya, oleh karena itu diperlukan suatu zat
pembasah. Zat pembasah membantu mempercepat penetrasi cairan ke
dalam tablet sehingga dapat terjadi kontak antara bahan cairan dengan zat
penghancur yang lebih cepat.
8) Penyerap cairan (adsorben)
Adsorben adalah zat yang digunakan untuk menyerap sejumlah besar
cairan seperti minyak, ekstrak cair, dan lelehan eutektik yang dapat
terinkoporasi dalam tablet tanpa perubahan zat tersebut menjadi basah.
Bahan penyerap digunakan dalam jumlah yang sesuai dengan berapa
banyak kandungan cairan dalam bahan yang kan diubah atau dikurangi
kadar uapnya. Beberapa contoh zat yang dapat digolongkan menjadi
adsorben antara lain: siloid, aerosol, tanah liat, kaolin, magnesium silikat,
magnesium karbonat, magnesium oksida, amilum.
9) Adjuvan
Adjuvan adalah zat tambahan dalam formula sediaan obat yang
ditambahkan dalam jumlah kecil untuk maksud pemberian warna, penawar
bau, dan rasa.

 Colour dan pigment


Bahan pewarna tidak mempunyai aktifitas terapeutik, dan tidak dapat
meningkatkan bioavailabilitas atau stabilitas produk, tetapi pewarna
ditambahkan ke dalam sediaan tablet berfungsi untuk memudahkan
membedakan produk yang sama satu dengan yang lainnya, menutupi
warna obat yang kurang baik, identifikasi produk, dan untuk membuat
suatu produk lebih menarik. akan tetapi penggunaan pewarna yang tidak
tepat akan mempengaruhi mutu produk. Pewarna yang digunakan haruslah
pewarna yang diperbolehkan oleh undang-undang untuk digunakan
sebagai pewarna untuk sediaan obat. bahan pewarna ada yang larut dalam
air dan ada yang tidak larut dalam air.
Pewarna ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi dalam
granulasi basah, tergantung apakah pewarna tersebut larut atau tidak.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


12
Penggunaan pewarna yang larut kemungkinan dapat terjadi migrasi zat
warna selama proses pengeringan yang dapat mengakibatkan tidak
meratanya warna. Penggunaan pewarna ynag tidak larut dapat mengurangi
resiko interaksi yang kemungkinan terjadi dengan zat aktif dan bahan
tambahan lain. Terhadap tablet yang telah diberi pewarna, sangat penting
untuk dilakukan pengukuran keseragaman warna pengkilapan, serta
perubahan warna karena pengaruh cahaya pada permukaan tablet.

Pewarna Nama Umum


Red 3 Erytrosine

Red 40 Allura red AC

Yellow 5 Tartrazine

Yellow 6 Sunset Yellow


Tabel 2.9 Macam –
macam Blue 1 Brilliant Blue bahan pewarna
sintetik

 Sweeteners dan flavour


Penambahan pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablet-
tablet kunyah, hisap, buccal, sublingual, effervesen dan tablet lain yang
dimaksudkan untuk hancur atau larut di mulut.

Pemanis Alami Pemanis Sintetis atau Buatan


Mannitol Sakarin
Lactosa Siklamat
Sukrosa Aspartame
Dektrosa
Tabel 2.10 Macam – macam bahan pemanis sintetik

2.4. Metode Pembuatan Tablet


Tablet dibuat terutama dengan cara kompresi. Sejumah tertentu dari tablet
dibuat dengan mencetak, secara singkat dapat dikatakan bahwa tablet yang dibuat
secara kompresi menggunakan mesin yang menekan bahan bentuk serbuk atau

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


13
granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch atau ukuran dan die, alat
kompresi tabet merupakan alat berat dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan
sar dari jenis tabet yang akan dibuat serta produksi rata-rata yang diinginkan. Tablet
yang dicetak dibuat dengna tangan atau dengan alat mesin tangan, dengan cara
menekan bahan tablet kedalam cetakan, kemudian bahan tablet yang telah terbentuk
dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering.
Dalam pembuatan tablet zat berkhasiat, zat-zat lain, kecuali zat pelicin dibuat
granul (butiran kasar). Karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan dengan baik,
maka dibuat granul agar mudah mengalir (free flowing) mengisi tablet agar tablet
tidak retak (capping).
Pada umumnya tablet kempa dibuat dengan mengempa massa kempa yang
mengalir dari corong ke sisi pengisi lalu ke lubang kempa menjadi massa kompak
dan padat. Tablet dibuat sesuai bentuk dan ukuran punch dan lubang kempa lalu
dikempa menghasikan massa kompak dengan bentuk tertentu. Unit tablet dalam satu
batch harus mempunyai keseragaman bobot, keseragaman kandungan, serta kadar
zat aktif yang harus memenuhi syarat. Ketentuan lain yang juga penting dari massa
tablet yaitu massa tablet harus homogen dan massa kempa harus mengalir lancar ke
lubang kempa.
Massa kempa adalah massa tablet yang terdiri dari dari campuran fase dalam
dan fase luar yang telah diproses dan siap dikempa menjadi tablet. Fase dalam
adalah massa utama tablet yang terdiri dari campuran zat aktif dan eksipien yang
diproses menjadi granul secara basah atau kering atau tergantung pembuatan, dapat
pula merupakan campuran serbuk zat aktif dan eksipien. Fase luar adalah campuran
beberapa eksipien saja, yaitu penghancur luar, glidan, dan lubrikan yang ditambakan
ke fase dalam untuk memudahkan pengempaan tablet dan untuk menunjang mutu
tablet yang memenui syarat.
Massa kempa yang baik memiliki sifat-sifat :

1. Memiliki aliran yang baik agar dapat dengan lancar mengalir dari corong ke
lubang kempa sehingga keseragaman bobot memenuhi syarat
2. Memiliki sifat granulometri (ukuran serba sama) agar pengisian lubang kempa
selalu dalam bobot dan volume yang tepat, cepat dan partikel setelah dikempa
menghasilkan tablet yang kompak
3. Memiliki kompresibilitas yang baik
4. Memiiki kompaksibilitas yang baik

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


14
5. Memiiki zat aktif yang homogen dan serba sama

Granulasi adalah proses pembuatan ikatan partikel-partikel kecil membentuk


padatan yang lebih besar atau agregat permanen melalui penggumpalan massa,
sehingga dapat dibuat granul yang lebih homogen dari segi kadar, ukuran, serta
bentuk partikel. Adapun fungsi granulasi adalah untuk memperbaiki sifat aliran dan
kompresibilitas dari massa cetak tablet, memadatkan bahan-bahan, menyediakan
campuran seragam yang tidak memisah, mengendalikan kecepatan pelepasan zat
aktif, serta mengurangi debu.

Untuk beberapa zat aktif tertentu, proses granulasi dapat dilewati zat aktif
memenuhi syarat untuk langsung dikempa. Metode ini disebut kempa langsung.
Metode ini mengurangi lamanya proses pembuatan tablet melalui proses garanulasi,
tapi sering beberapa kendala yang disebabkan sifat zat aktif itu sendiri atau eksipien.
Cara membuat granul ada 2 macam :

 Granulasi basah
Zat berkhasiat, zat pengisi dan penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi
dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna. Setelah itu
diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam lemari pengering dengan suhu 40-
500̊ C. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang
diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dalam
mesin tablet.

KELEBIHAN KEKURANGAN

Dapat meningkatkan kohesifitas dan Membutuhkan tempat yang luas, biaya yang
kompresibilitas serbuk dengan penambahan tinggi, alat dan waktu yang banyak
bahan pengikat
Dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar Memungkinkan terjadinya kehilangan bahan
yang sulit mengalir dan sulit dikompresi selama pemindahan ke proses lainnya

Distribusi dan keseragaman kandungan baik Tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang
zat aktif yang mudah larut dan dosis kecil tidak tahan panas dan lembab.

Zat warna dapat lebih homogen karena


terlebih dahulu dilarutkan dalam cairan

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


15
pengikat
Serbuk dapat ditangani tanpa menghasilkan
kontaminasi udara (debu dari serbuk)

 Granulasi kering
Zat berkhasiat, zat pengisi, zat penghancur, bila perlu, zat pengikat dan pelicin
dicampur dengan cara kempa cetak menjadi tablet yang besar (slugging), setelah
itu tablet yang terjadi dipecah menjadi granul lalu diayak, akhirnya dikempa cetak
menjadi tablet yang dikehendaki dengan mesin tablet. Metode ini dapat dilakukan
dengan menggunakan :

1. Mesin slug
Masa serbuk ditekan pada tekanan tinggi sehingga menjadi tablet besar yang
tidak berbentuk, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul
dengan ukuran partikel yang diinginkan.

2. Mesin rol
Massa serbuk diletakkan diantara mesin rol yang dijalankan secara hidrolik
untuk menghasilkan massa rata yang tipis, lalu diayak atau digiling hingga
diperoleh granul dengan ukuran yang diinginkan.

KELEBIHAN KEKURANGAN
Memerlukan tahap proses yang lebih sedikit Perlu mesin khusus untuk membuat slug
dibandingkan metode granulasi
Basah waktu hancur lebih cepat karena tidak Tidak dapat mendistribusikan warna dengan
diperlukannya larutan pengikat homongen
Tidak memerlukan pengeringan seingga Tidak dapat digunakan untk zat aktif yang
tidak terlalu lama pengerjaannya tidak larut
Dapat digunakan untuk zat dosis besar yang Keseragaman kandungan lebih sulit dicapai
peka terhadap panas dan lembab

2.5. Persyaratan Tablet


Tujuan adanya persyaratan tablet :

a. Memastikan bahwa semua bahan yang digunakan telah memenuhi syarat, sesuai
dengan ketentuan yang terdapat pada Farmakope Indonesia atau kriteria atau
syarat lain yang ditetapkan oleh Perusahaan.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


16
b. Memastikan bahwa semua proses yang telah dikerjakan telah sesuai secara
konsisten dan valid dengan prosedur yang telah dirancang dan dituliskan
sebelumnya didalam master Formula, Prosedur Tetap (Protap) atau Standard
Operating Procedure.
c. Memastikan bahwa semua hasil yang diperoleh pada setiap tahap kegiatan telah
sesuai dengan kriteria atau syarat yang telah ditetapkan oleh Farmakope atau
perusahaan atau perancangnya.

Dasar untuk evalusi agar memenuhi syarat adalah:

a. Kriteria atau syarat yang ada dalam Farmakope. Contoh, tablet harus memenuhi
syarat: sediaan padat, kompak, bentuk tertentu, mengandung bahan aktif yang
seragam, bahan aktif dapat dilepaskan dari sediaan, dsb.
b. Ketentuan tentang sediaan, khususnya tablet yang ada dalam Farmakope.
Contoh: Ukuran, Kadar Bahan Aktif, Keseragaman Bobot, Keseragaman
Kandungan, Waktu Hancur, dsb.
c. Ketentuan tentang sediaan, khususnya tablet yang ada di masung-masuing
industri. Disamping memenuhi syarat Farmakope, biasanya industri juga
menambahkan persyaratan lain, seperti: warna, aroma, rasa dan tanda atau logo
yang ada pada tablet.

Persyaratan umum tablet adalah sebagai berikut :

 Memenuhi keseragaman ukuran


 Memenuhi keseragaman bobot
 Memenuhi waktu hancur
 Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat
 Memenuhi waktu larut (dissolution test)

Parameter dan syarat yang dievalusai dapat dilihat pada tabel berikut:

No Definisi Parameter Syarat Satuan Faktor


1 Sediaan Padat Fisik Padat - -
2 Bentuk Tertentu Ukuran dan Ketentuan FI Mm Ukuran Die dan
Diameter III Tekanan Punch
3 Kompak Kekerasan Cukup Keras kg/cm2 Bahan Pengikat
1% Adhesiveness
%
Fribilitas Bahan Pengikat
Tekanan Punch

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


17
4 Bahan Aktif Kadar Bahan Ketentuan FI Sifat Granul
Aktif IV Tekanan Punch
Keseragaman Mixing/Homogenitas
Bobot
Keragaman %
Bobot
Keseragaman-
kandungan
5 Melepaskan Waktu Hancur Ketentuan FI menit Bahan Pengikat
Bahan Aktif Laju Disolusi IV %/menit Bahan Penghancur
Kelarutan
6 Stabil Paramater diatas Tidak berubah
dalam waktu
yang
ditentukan

Upaya mencapai spesifikasi atau tablet yang memenuhi syarat:

a. Bentuk tablet
Untuk memperoleh tablet yang sesuai dengan bentuk yang diinginkan, maka
diperlukan desain cetakan sesuai dengan bentuk, tebal, garis tengah ataupun
ukuran lain yang dikehendaki. Tebal tablet diatur dengan cara menetapkan
besarnya tekanan mesin pengempa yang digunakan dan pengaturan tinggi die
yang akan diisi dengan granul.

b. Keseragaman kandungan atau kadar bahan aktif


Proses pembuatan massa yang akan dikempa (granul) dilakukan dengan
mixing yang baik sehingga homogenitas dapat dicapai dengan optimal.
c. Keseragaman bobot
Bobot yang seragam dari tablet dicapai dengan membuat granul sedemikian
rupa sehingga dapat mengalir dengan baik. Aliran yang baik akan menyebabkan
pengisian cetakan menjadi seragam. Mencapai aliran yang baik, umumnya
dilakukan dengan cara mengatur agar ukuran partikel terdisribusi secara normal
dan gesekan antar partikel, antara partikel dengan alat dapat dikurangi dengan
penambahan pelincir (lubrikan) yang akan dikempa. Partikel berbentuk speris
umumnya mempunyai ikatan lebih lemah dibandingkan dengan partikel
berbentuk rhombic.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


18
d. Waktu hancur yang tepat
Untuk memperoleh tablet yang cepat hancur bila diminum atau dimasukkan
ke dalam gelas berisi air, dibutuhkan suatu energi ataupun gaya yang dapat
melawan ikatan antar partikel atau granul. Kekuatan tersebut dapat diperoleh
dari kemampuan cairan yang dapat masuk melalui pori tablet dan kemudian daya
untuk memecah ikatan antar granul didalam tablet dan ikatan partikel di dalam
granul.
e. Tablet yang kompak
Partikel tablet yang telah berikatan harusnya selalu dapat dipertahankan,
namun kadang-kadang masih ditemui adanya bagian kecil dari permukaan tablet
yang terlepas, terkelupas, ataupun gripis. Oleh sebab itu, untuk menghindari hal
demikian, maka disamping diperlukan ikatan antar partikel atau granul yang kuat
karena tekanan yang diberikan, juga diperlukan pemakaian bahan pengikat yang
optimal dan dengan bantuan cairan yang dapat meningkatkan daya kohesi antar
partikel atau granul.
f. Tablet yang hancur pada waktu yang diinginkan
Tablet yang diminum atau dimasukkan kedalam gelas yang berisi air untuk
diminum harus dapat hancur pada waktu yang diinginkan. Jika bahan aktif
didalam tablet diharapkan dilepaskan dari tablet dan bermanfaat atau berkhasiat
melalui lambung, maka tabletnya harus hancur di lambung dalam waktu yang
cepat. Sedangkan jika bahan aktif didalam tablet diharapkan dilepaskan dari
tablet dan tabletnya bermanfaat atau berkhasiat melalui usus halus, maka tidak
boleh hancur didalam lambung , namun tabletnya tidak harus hancur dengan
cepat didalam usus halus dengan waktu yang sangat cepat.
Oleh karena itu untuk mencapai hal yang demikian, maka diperlukan bahan
penghancur yang dapat menghilangkan kerja bahan pengikat dan sekaligus
membantu masuknya air ke dalam tablet, sehingga pada akhirnya tablet akan
pecah menjadi granul, dan granul pecah menjadi partikel.
g. Disolusi yang baik
Disolusi adalah kemapuan bahan aktif melarut atau memasuki media pada
saat diminum, misalnya cairan lambung, atau cairan tubuh lainnya. Sedangkan
kecepatan atau laju disolusi merupakan ukuran kecepatan banyaknya bahan aktif
yang terlarut dalam satuan waktu tertentu. Faktor yang dapat dipengaruhi untuk
mencapai agar laju disolusi berjalan dengan cepat adalah kecepatan waktu

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


19
hancur dan juga membantu meningkatkan kelarutan dari bahan aktif melalui
proses solubilisasi. Solubilisasi adalah upaya penambahan bahan tertentu atau
pengubahan karakter bahan aktif, serbuk atau granul sedimikian rupa sehingga
kecepatan melarut dan jumlah bahan terlarut meningkat.

BAB III

METODE

3.1. Preformulasi / Monografi Zat Aktif


 Nama bahan : Thiamin Mononitrat (BM 327,36)
 Pemerian : hablur atau serbuk hablur, putih, bau khas lemah.
 Kelarutan : agak sukar larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95 %) P
dan dalam kloroform P.
 Susut pengeringan: tidak lebih dari 1%, pengeringan dilakukan dengan
memanaskan pada suhu 105o C selama 2 jam, menggunakan 500mg yang
ditimbang seksama.
 Stabilitas : titik lebur 246 – 254o C, stabil pada kondisi asam dan sedikit
kurang stabil pada larutan alkali. Tidak stabil saat terkena sinar ultraviolet.
3.2. Preformulasi / Monografi Eksipien
 Gom Acasia BM : 92.09

Struktur Kimia

Rumus Molekul -
Pemerian Serpihan tipis, sobekan spheroidal, granul, sebuk, atau spray
dried powder; putih atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa
lunak
Kelarutan  Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang kental

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


20
dan tembus cahaya
 Praktis tidak larut dalam etanol ( 95 % )

Air 1:2,7

Gliserin 1:20

Propilenglikol 1:20

Aplikasi/Kegunaan Pengikat tablet (binder)


dalam formulasi Pengisi tablet 1-5%

Stabilitas Larutan akasia mudah terkontaminasi oleh bakteri atau


mengalami degradasi enzimatis, tapi dapat dicegah dengan
penambahan pengawet (asam benzoat 0,1% b/v, natrium
benzoat 0,1% b/v, atau kombinasi metil paraben 0,17% b/v
dan propil paraben 0,03% b/v) atau dengan pemanasan untuk
menginaktivasi enzim. Harus disimpan dalam wadah kedap
udara pada tempat kering dan sejuk.
Higroskopis Higroskopis

Kandungan Lembab

Inkompabilitas Inkompatibel dengan aminodopirin, aponorfin, kresol, etanol


95%, garam ferri, morfin, fenol, fisostigmin, tanin, timol,
vanili. Beberapa garam dapat mengurangi viskositas larutan
akasia, sedangkan garam trivalen dapat menyebabkan
koagulasi. Larutan akasia memiliki muatan negative dan akan
membentuk koaservar dengan gelatin dan bahan lain. Dalam
proses pembuatan amulsi, larutan akasia inkompatibel dengan
sabun.

 Amylum BM : 230

Struktur Kimia

Amilosa
Amilopektin

Rumus Molekul ( C6H10O6 )n

Pemerian Serbuk halus , berwarna putih, tidak berbau dan rasa lemah

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


21
Kelarutan  Praktis tidak larut dalam air dingin
 Praktis tidak larut dalam etanol ( 95 % ) P.
 Amilum larut dalam air panas pada suhu tinggi atau suhu
gelatinisasi
 Pati parsial larut dalam dimetilsulfoksida dan
dimetilformamida.
Aplikasi/Kegunaan Penghancur tablet (Desintegrant) 5%
dalam formulasi Desintegran tablet
Pengikat tablet 5-10% (kempa), (granulasi basah) 2-10%

Stabilitas Amilum dalam keadaan kering dan tidak dipanaskan stabil jika
terlindung dari kelembaban tinggi.

Higroskopis Higroskopis

Kandungan Lembab 11-14%

Inkompabilitas Pati inkompatibilitas dengan zat pengoksidasi kuat.

 Sunset Yellow BM : 452,37

Struktur Kimia

Rumus Molekul C16H10N2Na2O7S2

Pemerian Hampir tidak berbau, rasa tawar seperti lendir, serbuk kuning
kemerahan, didalam larutan memberikan warna orange terang

Kelarutan  Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang kental


dan tembus cahaya
 Praktis tidak larut dalam etanol ( 95 % ) P
 Mudah larut di gliserin dan air
 Agak sukar larut dalam aseton dan propilen glikol, sukar
larut dalam etanol 75%
Aplikasi/Kegunaan Pewarna 0,5%
dalam formulasi

Stabilitas Stabil terhadap oksidasi tapi tidak tahan terhadap cahaya

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


22
Higroskopis -

Kandungan Lembab < 1%

Inkompabilitas Tidak kompatibel dengan asam kuat dan oksidator kuat.

 Lactosa BM : 360,31

Struktur Kimia

Rumus Molekul C12H22O11. H2O

Pemerian Berupa serbuk atau massa hablur, keras, putih atau putih
krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis, higroskopik

Kelarutan  Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air
mendidih
 Sangat sukar larut dalam etanol
 Tidak larut dalam kloroform dan dalam eter
Aplikasi/Kegunaan Pengisi
dalam formulasi

Stabilitas Jamur tumbuh saat kelembapan tinggi. Laktosa berubah


menjadi kecoklatanpada penyimpana, adanya reaksi yang
dipercepat dengan pemanasan, kondisi basah. Kemurnian dari
laktosa yang berbeda dapat berubah-ubah dan penting untuk
dilakukan evaluasi warna, terutama jika tablet sedang
diformulasi. Stabilitas warna dari berbagai jenis laktosa juga
berbeda.
Higroskopis -

Kandungan Lembab

Inkompabilitas Reaksi kondensasi (Maillard-type) seperti terjadi antara


laktosa dan senyawa amina primer menjadi produk yang
berwarna coklat atau kuning. Interaksi Maillard juga terjadi
antara laktosa dan amina sekunder. Laktosa juga inkompatibel
dengan asam amino, amfetamin, dan lisinopril.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


23
 Mg stearat BM : 591,27

Struktur Kimia

Rumus Molekul C36H70MgO4

Pemerian Berupa serbuk halus, putih dan voluminous, bau lemah khas,
mudah melekat di kulit, bebas dari butiran

Kelarutan  Praktis tidak larut dalam air


 Praktis tidak larut dalam etanol ( 95 % ) P.
 Praktis tidak larut dalam eter P
Aplikasi/Kegunaan Lubrikan
dalam formulasi

Stabilitas Merupakan bahan yang stabil dan sebaiknya disimpan dalam


wadah tertutup baik di tempat yang kering dan dingin

Higroskopis -

Kandungan Lembab

Inkompabilitas Inkompatibel dengan asam kuat, basa kuat dan garam besi.
Hindari pencampuran dengan bahan pengoksidasi kuat. Mg-
stearat tidak dapat digunakan dalam sediaan yang
mengandung aspirin, beberapa vitamin dan sebagian besar
garam alkaloid

 Talcum BM : 370,259

Struktur Kimia

Rumus Molekul Mg6(Si2O5)4(OH)4

Pemerian Berupa serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu.
Berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran
debu
Kelarutan  Praktis tidak larut dalam larutan asam dan alkalis, pelarut
organic dan air.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


24
Aplikasi/Kegunaan Glidan dan Antiadheren
dalam formulasi

Stabilitas Merupakan bahan yang stabil dan dapat disterilkan dengan


pemanasan pada suhu 160° C selama tidak kurang dari 1 jam.
Dapat juga disterilkan dengan penyinaran menggunakan
ethylene oxide atau gamma irradiation. Disimpan dalam
wadah tertutup baik di tempat yang dingin dan kering
Higroskopis Talk tidak mengabsorpsi sejumlah air pada suhu 25oC

Kandungan Lembab Kelembaban relatif naik hingga 90%

Inkompabilitas Tidak tercampurkan dengan campuran ammonium quartener

3.3. Rasionalisasi Formula


Tahap ini dilakukan melalui :

1. Pengumpulan informasi tentang kriteria, persyaratan dan karakter yang diinginkan


dari sediaan tablet yang akan dibuat. Informasi ini dapat diperoleh dari buku
resmi/standar. Farmakope memuat batasan dan persyaratan umum sediaan serta
standar sediaan untuk bahan aktif tertentu serta cara pengujian persyaratan. Buku
referensi memuat karakter sediaan yang baik, cara pengujian dan sebagainya.
2. Pengumpulan informasi dan literatur terkait mengenai bahan aktif dan bahan
penolong yang ada. Informasi ini dapat diperoleh dari :
 Monografi bahan aktif yang terdapat di dalam farmakope, merck index, atau
buku referensi lain.
 Monografi bahan aktif dan sediaan yang terdapat di dalam buku Martindale.
 Monografi bahan penolong yang terdapat di dalam Hand Book of Exipient.
 Sertifikat analisis yang dikeluarkan oleh produsen bahan baku maupun
lembaga pemerintah atau swasta yang independent.
3. Mengidentifikasi parameter atau factor yang terkait dengan aspek fisika, kimia,
biologi/farmakologi dan bahan aktif yang ada, dihubungkan dengan keperluan atau
persyaratan yang harus dipenuhi untuk membuat serbuk granul yang baik untuk
pembuatan tablet ataupun untuk menghasilkan tablet yang baik dan memenuhi
syarat.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


25
4. Mengidentifikasi permasalahan yang ada sebagai celah (gap) antara karakter atau
tujuan yang harus dicapai dengan data/informasi yang tersedia dari
parameter/persyaratan yang ada, ada alternatif pemecahan masalah yang ada atau
alternatif langkah yang harus dilakukan untuk menghasilkan tablet bermutu.
5. Menyusun rekomendasi atau langkah yang harus dilakukan agar dapat diperoleh
tablet yang baik melalui proses pembuatan yang ekonomis dan efektif.
Rekomendasi pada umumnya terdiri dari 3 kelompok, yaitu :
 Komponen apa saja yang harus ada didalam tablet , sehingga diperoleh
susunan formula yang baik dan benar.
 Bagaimana cara melaksanakan pembuatan tablet atau metode pembuatan tablet
apa yang akan dipakai.
 Bagaimana cara menegakkan, mengendalikan ataupun mengawasi mutu bahan
awal, bahan dalam proses, proses pembuatan dan sediaan jadi.
Disamping 3 hal diatas, juga sebaiknya direkomendasikan aspek atau informasi apa
yang harus dicantumkan di dalam penandaan ataupun lembar
informasi/leaflet/brosur.

Masalah yang dapat timbul dalam pembuatan tablet :

Masalah Bentuk Penyebab Cara Mengatasi (Alternatif)


Sifat alir tidak baik Lembab, ukuran Tambah lubrikan, ganti
(sudut henti yang distribusi tidak lubrikan, kurangi atau tambah
baik 25-45) cocok, adhesi/kohesi ukuran granul, bersihkan
tinggi dinding hopper
Binding Goresan garis pada Kurang lubrikan Tambah lubrikan, ganti
sisi tablet lubrikan, kurangi ukuran
granul, bersihkan die, cetak
dalam temperature rendah
Sticking dan Selaput menempel Lembab, kurang Keringkan, perbaiki lubrikan
Picking lubrikan
Capping Pecah permukaan Udara terkurang Perbaiki lubrikan, tambah
porositas tinggi, “fines”, granulasi ulang,
pengikat kurang tambah pengikat (binder)
Laminating Retak pada sisi Udara terkurang Perbaiki lubrikan, tambah
porositas tinggi, “fines”, granulasi ulang,
pengikat kurang tambah pengikat (binder)

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


26
Chipping dan Pecah sisi dan semua Tablet terlalu kuat Ganti punch, atur tekanan,
Cracking bagian tablet atau lemah granulasi ulang, tambahkan
pengikat (binder)
Porositas tinggi, Ganti punch, atur tekanan,
pengikat kurang granulasi ulang, tambahkan
pengikat (binder)
Berat tablet tidak Bobot besar, kecil Aliran tidak baik, Perbaiki sifat alir, atur tinggi
sesuai atau tidak seragam tinggi die tidak sama die
Kadar bahan aktif Bobot tidak seragam, Perbaiki penyebab bobot tidak
tidak seragam homogenitas kurang sesuai, lakukan pencampuran
(mixing) ulang
Tablet rapuh Mudah pecah Udara terkurung, Perbaiki lubrikan, tambah
porositas tinggi, “fines”, granulasi ulang,
pengikat kurang, tambahkan pengikat, sesuaikan
tekanan punch terlalu tekanan punch
kuat/lemah
Tablet keras Tekanan kuat, Atur tekanan punch sesuaikan
pengikat kuat jenis atau kadar pengikat
Tablet lama hancur Pengikat kuat, Sesuaikan jenis/kadar pengikat
penghancur kurang dan atau sesuaikan jenis kadar
penghancur
Tablet lama melarut Bahan aktif sukar Tambahkan bahan penambah
melarut, pengikat dan larut, sesuaikan jenis/kadar
penghancur kurang pengikat dan atau sesuaikan
jenis kadar penghancur

Rangkuman hasil pengkajian praformulasi

NO Masalah Rekomendasi Keputusan Alasan


1 Metode yang · Granulasi basah Granulasi Zat aktif tahan terhadap
digunakan GGranulasi kering basah larutan
GKempa langsung Zat aktif tahan terhadap
pemanasan

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


27
2 Zat Pengikat Derivat Selulosa Gom Karena metode yang
Gom digunakan adalah granulasi
Pasta Amilum basah, maka zat
pengikatnya zat pengikat
basah
Tidak memiliki
inkompabilitas dengan zat
aktif

3 Zat Penghancur · Starch USP Starch USP amylum merupakan zat


Gom penghancur yang umum
Kaolin digunakan dan mudah
didapatkan.
4 Zat Pelicin · Stearat (Mg, Ca, Mg Stearat Selain sebagai zat pelican,
Na) magnesium stearate
Talcum bersifat hidrofobik
sehingga dapat
meningkatkan disolusi obat
dan sangat cocok untuk zat
aktif yang memiliki
kelarutan baik.
5 Zat Pengisi · Lactose USP · Lactose Mudah didapat
Amylum maydis USP Inert
Amylum Solani Murah

3.4. Formulasi

3.5. Perhitungan Bahan

R/ Vitamin B1 100mg

Gom acasia 5%

Amylum maydis 9%

Sunset yellow 1%

Mg stearat 1%

Talcum 5%

Lactosa ad. 700mg


Praktikum Teknologi Sediaan Solid
28
Dibuat 250 tablet dalam 1 batch @700mg (700mg x 250 = 175.000mg)
1. Fase Dalam (92% x 175.000mg = 161.000mg)
 Vitamin B1 = 100mg x 250 = 25.000mg / 25 gram
 Gom Acasia = 5% x 175.000mg = 8.750mg / 8,75 gram
 Amylum = 9% x 175.000mg = 15.750mg / 15,75 gram
 Sunset yellow = 1% x 175.000mg = 1.750mg / 1,75 gram
 Lactosa = 161.000mg – (25.000 + 8.750 + 15.750 + 1.750)mg
= 109.750mg / 109,75 gram

2. Fase Luar (8% dari granul yang didapat)


Granul yang diperoleh sebanyak 149.500mg (hasil teoritis = 161.000mg)
149.500 mg
 Mg stearat 1% = x 1=1.625 mg
92
149.500 mg
 Amylum 2% = x 2=3.250 mg
92
149.500 mg
 Talcum 5% = x 5=8.125 mg
92

3. Perhitungan Jumlah Tablet


Bobot granulnyata
Jumlah tablet = x Besar Batch
Bobot granulteoritis
149.500 mg
= x 250=232 tablet
161.000 mg

3.6. Cara Kerja (pembuatan granul dan tablet)


Metode granulasi basah :
1. Zat akti (vit. B1) dan semua bahan excipient fase dalam ditimbang sesuai dengan
jumlah yang dibutuhkan.
2. Zat aktif dan excipient masing-masing dihlauskan (tersendiri) terlebih dahulu.
3. Pencampuran zat aktif, bahan pengisi, bahan penghancur dalam mesin
pencampur.
4. Buat dan siapkan larutan pengikat.
5. Larutan pengikat dicampurkan ke dalam fase dalam (secukupnya) hingga
didapatkan massa lembab yang tidak terlalu basah dan terlalu kering.
6. Massa lembab dibentuk menjadi granul dengan ayakan berukuran 12 mesh
secara manual.
7. Granul lembab kemudian dikeringkan di dalam oven 50 – 60 derajat celcius
hingga menjadi granul kering dengan kandungan lembab 2-5%.
8. Granul kering kemudian dilakukan uji distribusi ukuran partikel dengan sieving
analyzer. (apabila granul yang diperoleh kurang baik, maka ulangi proses 5-7
pada sisa serbuk fines.
9. Granul kering ditimbang untuk menentukan fase luar yang akan ditambahkan
(penghancur luar, lubrikan, glidan dan antiadheren).
10. Campur granul kering dengan fase luar, lalu evaluasi mutu.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


29
11. Granul yang memenuhi syarat kemudian dikempa dengan ukuran cetakan tablet
yang sesuai.
12. Tablet yang diperoleh dievaluasi.

3.7. Evaluasi (bahan aktif, granul dan tablet)


1. Evaluasi Mutu Vitamin B1 (bahan aktif)
 Pengamatan bulk density
 Pengamatan tap density
 Rasio Housner
 Kompresibilitas
 Sudut istirahat dan laju alir
 Kadar lembab dan susut pengeringan
 Distribusi ukuran partikel
Catatan : Instruksi kerja secara terperinci terlampir

2. Evaluasi Mutu Granul


 Distribusi ukuran partikel
 Bulk density
 Tap density
 Rasio housner
 Kompresibilitas
 Sudut istirahat dan laju alir
 Kadar lembab dan susut pengeringan
Catatan : Instruksi kerja secara terperinci terlampir

3. Evaluasi Mutu Tablet


 Pemeriksaan organoleptis tablet
 Pemeriksaan keseragaman ukuran
 Pengujian keseragaman bobot
 Pengujian kekerasan tablet
 Pengujian keregasan tablet
 Pengujian waktu hancur
Catatan : Instruksi kerja secara terperinci terlampir

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


30
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil dan Pembahasan Evaluasi Bahan Aktif

Pada zat aktif dilakukan uji berdasarkan uji mutu serbuk yang sudah tertera
pada metodologi. Didapatkan hasil :

 Bulk Denstity : 0,602 g/ml


 Tap Density : 0,820 g/ml
 Rasio Husner : 1,363
 Kompresibilitas : 26,585 %
 Sudut istirahat : 40,69o
 Kadar susut pengeringan : 0,02 %
 Kadar lembab : 0,08 %
 Distribusi Ukuran Partikel (% fines) : 99,04 %

distribusi ukuran partikel zat aktif


120%

100% 99%

80%

60%

40%

20%

0%0% 0% 0% 0% 1%
12 14 16 18 20 bawa h

Untuk Rasio Husner, didapatkan nilai sebesar 1,363 (syarat : < 1 – 1,18) yang
berarti tidak memenuhi syarat. Kompresibilitas tablet sebesar 26,585%, sesuai
dengan Farmakope, 5-15% berarti hasil tidak memenuhi sarat (buruk). Pada uji
kadar kelembapan didapatkan hasil 0,08% (syarat 2 – 5%), bahan terlalu kering dan
tidak memenuhi syarat. Pada uji sudut istirahat (sifat alir) didapatkan hasil 40,69o,
sesuai dengan Farmakope < 25o – 40o, hasil sukar mengalir. Pada uji distribusi
ukuran partikel didapatkan hasil 99,04% (syarat 15 – 30%), yang berarti bahan
terlalu halus.

4.2. Hasil dan Pembahasan Evaluasi Granul


Pada uji granul yang dilakukan pada granul campuran semua bahan, di
dapatkan hasil yang baik. Granul kompak, dengan hasil

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


31
 Bulk Density : 0,5 g/ml
 Tap Density : 0,53 g/ml
 Rasio Husner : 1,06
 Kompresibilitas : 5,67 %
 Kadar susut pengeringan : 2,06 %
 Kadar lembab : 2,10 %
 Sifat alir (sudut henti) : 32,2o
 Distribusi ukuran partikel : 54%

Distribusi ukuran partikel (granul)


60%
54%
50%

40%

30%

20%
14%
12% 10%
10%
8%

0%0%
12 14 16 18 20 bawah

Untuk Rasio Husner, didapatkan nilai sebesar 1,06 sesuai dengan persyaratan
yang tertera pada USP pada rentang 1,00 – 1,11 yang berarti memenuhi syarat dan
sangat mudah mengalir. Kompresibilitas tablet sebesar 5,67%, sesuai pada USP
<10% yang berarti memenuhi syarat (sangat mudah mengalir). Pada uji susut
pengeringan didapatkan hasil 2,06 dan kadar lembab 2,10% (syarat : 2-5%)
memenuhi syarat. Pada uji sifat alir didapatkan hasil 32,2o, sesuai dengan USP 30 –
40o, yang berarti mengalir. Sememntara pada uji distribusi ukuran partikel
didapatkan hasil 54% fines (syarat 15 – 30%), yang berarti tidak memenuhi
persyaratan.

4.3. Hasil dan Pembahasan Evaluasi Tablet Vitamin B1


Pada proses pengujian mutu tablet dilakukan beberapa pengujian, yaitu
Keseragaman Bobot, Uji Ukuran Tablet, Uji Keregasan, Uji Kekerasan, dan Uji
Waktu Hancur. Dari uji yang dilakukan, didapatkan hasil :
 Keseragaman bobot : 2,68%
 Uji Ukuran Tablet : diameter = 12,125 mm ; tebal = 5,603 mm
 Uji Keregasan : 0,14%
 Uji Kekerasan : tidak dilakukan pengujian (alat rusak)
 Uji Waktu Hancur : 7,4 menit

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


32
Dari uji kekerasan tablet tidak didapatkan nilai, syarat tablet yang baik adalah
7-11kg (bobot tablet 700mg). Pada uji keseragaman bobot, tablet ini tidak seragam
karena beda tiap tablet rata-rata dari 20 tablet yaitu 2,68%, serta didapat
penyimpangan lebih dari 2 tablet (ada 3 tablet) yang lebih dari 5%, hal ini
disebabkan karena pada saat pencetakan alat sempat mengalami kerusakan. Pada uji
keregasan tablet didapatkan hasil 00,14%, tablet ini cukup kuat syarat tablet yang
baik adalah memiliki batas kerapuhan 0,8 %.

Diameter tablet sebesar 12,125 mm, syarat tablet yang baik memiliki diameter
tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet dan tidak lebih dari 3 kali tebal tablet, tebal tablet
vitamin B1 yang diperoleh sebesar 5,603 mm dengan kata lain pada hasil uji ukuran
tablet memenuhi persyaratan. Pada uji waktu hancur, tablet vitamin B1 memenuhi
syarat karena pada saat di uji tablet hancur semua pada menit ke-7,4. (syarat hancur
menurut FI III tidak lebih dari 15 menit).

Sementara pada pengamatan organoleptis didapat hasil tablet yang tidak


berbau, tidak berasa, berwarna kuning pucat serta terdapat kerusakan tablet yaitu 3
tablet mengalami cracking dan 23 tablet molting hal ini dimungkinkan akibat
kurangnya homogenitas pada saat pencampuran atau adanya zat asing pada mesin
pencetakan sehingga menyebabkan molting.

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Setelah dilakukan praktikum Teknologi Sediaan Solid pembuatan tablet
dengan zat aktif vitamin B1 yang dimulai dengan pengkajian bahan aktif dari hasil
evaluasi yang diperoleh hingga dapat disimpulkan suatu formula yang telah kami
susun yaitu sebagai berikut :

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


33
1. Pada pengkajian praformulasi, kita dapat mengetahui karakteristik dan sifat
dengan jelas dari bahan aktif yaitu vitamin B1, terdiri dari pemerian,
kelarutan, penyimpanan dan kegunaannya.
2. Metode yang digunakan untuk pembuatan tablet adalah granulasi basah,
karena Vitamin B1 tahan terhadap larutan dan pemanasan (terutama
thiamin mononitrat).
3. Komponen tablet berdasarkan formulasi yang dibuat adalah :
Bahan aktif : Thiamin Mononitrat (100mg)
a. Pengikat : Gom acasia (5%)
b. Penghancur : Amylum maydis (9%)
c. Pewarna : Sunset yellow (1%)
d. Glidan : Magnesium Stearat (1%)
e. Lubrikan : Talcum (5%)
f. Pengisi : Laktosa (qs.)
4. Dari formulasi yang kami susun, diperoleh tablet dengan mutu sebagai
berikut:
a. Diameter tablet sebesar 12,125 mm, memenuhi syarat karena diameter
tablet yang baik tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal dan tidak lebih dari 3
kali tebal tablet, sedangkan tebal tablet 5,603 mm.
b. Keseragaman bobot tidak memnuhi persyaratan, karena memiliki lebih
dari 2 tablet yang penyimpangannya lebih dari 5%.
c. Keregasan tablet memenuhi syarat, karena batas kerapuhan sebesar 0,8
% sedangkan hasil yang didapat adalah 0,14 %.
d. Uji waktu hancur, didapatkan hasil yang memenuhi syarat yaitu 7,4
menit, (FI III tidak lebih dari 15 menit).

5.2. Saran
Demikianlah laporan yang dapat kami sajikan. Apabila terdapat kesalahan dari
kami baik dari segi penulisan maupun penyampaian, kami selaku penyusun laporan
mohon maaf yang sebesar-besarnya.
1. Diharapkan dalam proses pembuatan tablet, hal-hal yang harus diperhatikan
adalah kebersihan laboratorium dan meja kerja, serta kesiapan alat-alat yang
digunakan untuk praktikum tersebut.
2. Sebaiknya dalam praktikum, mahasiswa/i mengutamakan ketelitian agar
mengurangi kesalahan dalam pembuatan tablet yang akan dibuat.
3. Diharapkan alat praktikum memadai dan bahan yang digunakan sudah
sesuai, sehingga dapat menunjang praktium teknologi sediaan solid dalam
pembuatan tablet.
4. Diharapkan kedepannya praktikan dapat memilih dengan tepat metode yang
dilakukan sesuai dengan sifat bahan aktif, serta pemilihan zat tambahan agar

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


34
hasil tabletnya memiliki sifat yang baik pada saat evaluasi tablet. Tablet yang
kompak, tidak rapuh, dan bagus secara fisik serta sesuai secara kimia.

Praktikum Teknologi Sediaan Solid


35