Anda di halaman 1dari 19

KONSEP RAPID HEALTH ASSESSMENT (RHA)

Dosen Pembimbing :
Dwi Utari W.,SST.,M.Kes
Disusun Oleh :
Tyas Irwin Indriana P27820117061
Makkatul Hikmah P27820117062
Icha Anggi Saputri P27820117063
Nur Aini Pangastuti P27820117064
Reva Mawanda Putri P27820117065
Veni Rochmawati P27820117066
Firdayanti Nur Aini P27820117068
Chelsia Desca Miranda P27820117069
Ning Aluk Maimunah P27820117070

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA


PRODI DIII KEPERAWATAN SOETOMO
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga Makalah tentang “Konsep Rapid Health Assesment (RHA)” ini dapat
tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih
atas bimbingan selama mengajar.

Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan


pembaca serta dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman, kami yakin masih banyak kekurangan dalam
tugas ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca supaya makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Surabaya, 12 Februari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................... 1

Kata Pengantar ...................................................................................... 2

Daftar Isi ................................................................................................. 3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan .............................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 5

1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 5

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Definisi Rapid Health Assessment (RHA) ............................................ 6

2.2 Type Pengkajian Cepat Rapid Health Assessement.............................. 6

2.3 Langkah – Langkah Rapid Health Assessement .................................. 7

2.4 Pelaku Rapid Heatlh Assessment ........................................................ 11

2.5 Teknik Pengumpulan Data Dalam Rapid Health Assessment ............ 12

2.6 Kunci Kesuksan Pelaksanaan Rapid Health Assessment.................... 18

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 19
3.2 Saran .................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 20

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bencana alam seakan tidak henti- hentinya menimpa tanah air, sehingga
sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar terjadinya peristiwa gempa
bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, longsor, dan lain-
lain. Peristiwa bencana tersebut tidak mungkin dihindari, hal yang dapat kita
lakukan adalah memperkecil terjadinya korban jiwa, harta maupun
lingkungan.

Perlu, diketahui bahwa bencana yang diikuti dengan pengungsian


menimbulkan masalah kesehatan yang sebenarnya diawali oleh masalah
bidang atau sektor lain. Mencegah terjadinya masalah kesehatan tersebut
Rapid Health Assesment dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan SDM
yang ada di lokasi pengungsian. Namun kegiatan assesment ini harus
dilakukan dengan cepat melihat sesaat setelah bencana merupakan kondisi
darurat yang membutuhkan tindakan yang taktis dan strategis. Mengingat
penanggulangan masalah kesehatan harus segera diberikan baik saat terjadi
maupun pasca bencana.

Purwo Atmojo yang merupakan salah satu staf Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur menjelaskan “Jangan terlalu ambisius untuk mengumpulkan data
karena waktu yang ada sangat terbatas”, ketika memberikan pengarahan
dalam bimbingan teknis dokter dan perawat dalam penanggulangan bencana
di Surabaya. Namun ada beberapa kegiatan tanggap bencana yang tidak selalu
harus menunggu hasil RHA terutama kegiatan spesifik yang dapat
diperkirakan,

Namun pada kenyataannya, banyak lembaga yang menangani masalah


penanggulangan bencana itu terlalu lama dalam melakukan assesment yang
seharusnya dilakukan secara cepat.

4
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah ini sebagai berikut :
1. Apa type- type pengkajian cepat ?
2. Apa langkah- langkah RHA dan lingkup pelaksanaan RHA ?
3. Pelaku RHA ?
4. Apa saja tehnik Pulta dalam RHA?
5. Apa kunci kesuksesan pelaksanaan RHA ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui type- type pengkajian cepat.
2. Mengetahui langkah- langkah RHA dan lingkup pelaksanaan RHA.
3. Mengetahui pelaku RHA.
4. Mengetahui tehnik pulta dalam RHA.
5. Mengetahui kunci kesuksesan pelaksanaan RHA.

5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Rapid Health Assessment (RHA)


Rapid Health Assessment (penilaian kesehatan secara cepat) dilakukan
untuk mengatur besarnya suatu masalah yang berkaitan dengan kesehatan
akibat bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang kemungkinan dapat
terjadi terhadap kesehatan, sebarapa besar kerusakan terhadap sarana
permukiman yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan merupakan
dasar bagi upaya kesehatan yang tepat dalam penanggulangan selanjutnya.
RHA adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi dengan tujuan untuk
menilai kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang diperlukan
segera sebagai respon dalam suatu kejadian (WHO). Ketika bencana RHA
(Rapid Health Assessment) dilakukan hari H hingga H+3.

2.2 Type Pengkajian Cepat Rapid Health Assessment


Cara pengumpulan data/informasi :
1. Mengkaji data/ informasi yang ada
a. Pelayanan kesehatan dan program kesehatan yang sedang berjalan
sebelum keadaan kedaruratan
b. Endemisitas penyakit
c. SDM kesehatan yang bisa bekerja saat ini
d. Sarana pelayanan kesehatan yang masih berfungsi
e. Pengungsian (jumlah, lokasi, dll)
2. Observasi lapangan di aderah bencana dan sekitarnya
a. Luasnya daerah bencana
b. Lokasi perpindahan penduduk/pengungsi
c. Faktor risiko lingkungan
3. Wawancara
a. Pejabat daerah
b. Petugas kesehatan termasuk di rumah sakit
c. Perorangan (toma, toga, guru, dll)

6
4. Survey cepat (bila perlu)
Untuk menjaring informasi yang tidak dapat diperoleh dari sumber-sumber
yang ada :
a. Distribusi umur, sex
b. Jumlah orang kelompok rentan
c. Angka kematian saat ini
d. Angka-angka kasus penyakit menular potensial wabah
e. Status gizi
f. Cakupan vaksinasi
g. Akses ke pelayanan kesehatan, makanan, air bersih, tempat
pengungsian, dll.

2.3 Langkah-Langkah Rapid Health Assessment (RHA)


2.3.1 Langkah-Langkah Rapid Health Assessment (RHA)
a. Apa bencana yang sedang terjadi
b. Siapa / Organisasi Pelaksana
1) Petugas puskesmas
2) Dinas kesehatan kabupaten dan dibantu dinas kesehatan
provinsi dan depkes
3) Terdapat tim yang melakukan RHA :
4) Petugas medis
5) Epidemiologist
6) Sanitasi (kesehatan lingkungan)
Dan diharapkan tim RHA :
1) Memiliki kemampuan analisis yang baik dalam bidangnya
2) Dapat bekerjasama dan dapat diterima
3) Memiliki kapasistas untuk mengambil keputusan
c. Dimana / Informasi Yang Mana
1) Area geografi yang terkena bencana.
2) Status sarana transportasi, komunikasi, listrik.
3) Ketersediaan air bersih, pangan, fasilitas sanitasi dan
kondisi tempat pengungsian.

7
4) Perkiraan jumlah korban (meninggal, luka ).
5) Kondisi SDM kesehatan yang ada.
6) Perkiraan jumlah pengungsi
7) Endemisitas penyakit menular setempat.
8) Kondisi penyakit potensial KLB dan kecenderungannya.
9) Kondisi lingkungan (sebagai ‘risk factors’)
10) Jenis bantuan awal yang diperlukan segera.
11) Kondisi rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya,
d. Kapan RHA dilakukan
1) Dalam situasi yg memerlukan pertimbangan keamanan,
waktu pelaksanaan penilaian dapat dipersingkat
2) Bencana banjir, pengungsian, pengungsian penduduk dalam
jumlah besar, selambat-lambatnya 2 hari setelah kejadian.
3) Kedaruratan mendadak ( gempa bumi, keracunan makanan,
kecelakaan kimiawi, dan lain-lain) perlu dilakukan secepat
mungkin atau beberapa jam setelah kejadian
e. Bagaimana Langkah Penting dalam Mengumpulan Data dan
Informasi
a. Sesuaikan dengan tujuan assessment
b. Review information yang lalu dan yang ada
c. Interview tokoh-tokoh kunci
d. Ke lapangan, observasi, interview & dengar
e. Rumuskan berbagai informasi dan
f. Analisis segera dan buat rekomendasi
g. Laporkan segera ke pimpinan

2.3.2 Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA)


Ketika bencana RHA dilakukan hari H hingga H+3, Pelaksanaan
RHA ( Rapid Health Assesment ) atau yang disebut penilaian kesehatan
secara cepat, dilakukan untuk mengatur besanya suatu masalah dengan
kesehatan akibat bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang
kemungkinandapat terjadi terhadap kesehata, serta seberapa besar

8
kerusakan terhadap sarana pemukinan yang berpotensi menimbulkan
masalah kesehatan dan merupakan dasar bagi upaya kesehatan yang tepat
dalam penganggulangan selanjtnya. Assesment terhadap kondisi darurat
merupakan suatu prosesyang berkelanjutan, artinya seiring dengan
perkembangan kondisi darurat diperlukan suatu penilaian yang lebih rinci.
Tujuan dari dilakukannya assesment awal secara cepat adalah:
1. Untuk mendapatkan informasi yang memadai tentang perubahan
keadaan darurat
2. Menjadi dasar bagi perencanaan program
3. Mengidentifikasi dan membangun dukungan berbasis self-help serta
aktivitas-aktivitas berbasis masyarakat
4. Mengidentifikasi kesenjangan, guna:
a. Menggambarkan secara tepat dan jelas jenis bencana, keadaan,
dampak, dan kemungkinan terjadinya perubahan keadaan darurat
b. Mengukur dampak kesehatan yang telah terjadi dan akan terjadi
c. Menilai kapasitas sumber daya yang ada dalam pengelolaan
tanggap darurat dan kebutuhan yang perlu direspon direspon
secepatnya.
d. Merekomendasikan tindakan yang menjadi prioritas bagi aksi
tanggap darurat
5. Pasca bencana: berdasarkan dari RHA untuk menentukan langkah
selanjutnya
a. Pengendalian penyait menular
b. Pelayanan kesehatan dasar
c. Memperbaiki kesehatan lingkungan.
Pelaksanaan RHA saat Bencana :
1. Melapor kepada gubernur dan menginformasikan kepada PKK Depkes
tentang terjadinya bencana atau adanya pengungsi
2. Mengaktifkan Pusdalops penanggulangan bencana tingkat provinsi
3. Berkoordinasi dengan Depkes dalam hal ini PPK
4. Berkoordinasi dengan rumah sakit provinsiuntuk mempersiapkan
menerima rujukan dari lokasi bencana

9
5. Berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan di luar provinsi
6. Berkoordinasi dengan kepala dinas kesehatan kabupaten/kotauntuk
melakukan RHA
7. Memobilisasi tenaga kesehatan untuk tugas perbantuan ke daerah
bencana
8. Berkoordinasi dengan sektor terkait untuk penganggulangan bencana
9. Menuju lokasi terjadinya bencanaatau tempat penampungan pengungsi

Direktur Rumah Sakit Provinsi Melakukan Kegiatan :


1. Mengadakan koordinasi dengan rumah sakit kabupaten/kota untuk
mengoptimalkan sistem rujukan
2. Menyiapkan instansi gawat darurat dan instansi rawat inapuntuk
menerima penderita rujukan
3. Mengajukan kebutuhan obat dan peralatan lain yang diperlukan
4. Mengirimkan tenaga dan peralatan ke lokasi bencana bila diperlukan

Tingkat Kabupaten/Kota, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setelah


menerima berita tentang terjadinya bencana dari kecamatan melakukan
kegiatan:
1. Berkoordinasi dengan anggota satlak PB dalam penanggulangan
bencana
2. Mengaktifkan pusdalops penanggulangan bencana tingkat
kabupaten/kota
3. Berkoordinasi dengan RS kabupaten/kota
4. Menyiapkan dan mengirim tenaga kesehatan
5. Menghubungi pusksmas di sekitarlokasi bencana untuk mengirimkan
dokter, perawat dan peralatan medis
6. Melakukan penilain kesehaatan cepat terpadu
7. Melakukan penanggulangan gizi darurat
8. Memberikan imunisasi campak di tempat pengungsian
9. Melakukan survailens epidemiologi terhadap penyakit potensial wabah
10. Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayh kabupaten/kota

10
Direktur Rumah Sakit Kabupaten/ Kota Melakukan Kegiatan :
1. Menhubungi lokasi bencana untuk mempersiapkan instansi gawat
darurat dan ruang perawatan
2. Menyiapkan instansi gawat darurat dan instansi rawat inap untuk
menerima rujukan
3. Menghubungi RS provinsi tentang kemungkinan adanya penderita
yang akan dirujuk
4. Menyiapkan dan mengirimkan tenaga dan peraltan kesehatan ke lokasi
bencana
Kepala Puskesmas di lokasi bencana melakukan :
1. Beserta staf menuju lokasi bencana dengan membawa peralatan yang
diperlukan
2. Melaporkan kepada kadinkes kabupaten/kota
3. Melakukan initial RHA
4. Menyerahkan tanggung jawab pada kadinkesapabila telah tiba dilokasi
5. Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah kecamatan
selanjutnya yang bertanggung jawab adalah kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota.

2.4 Pelaku Rapid Health Assessment (RHA)


2.4.1 Pelaksana RHA
Tenaga kesehatan di kota/kab  Tenaga kesehatan di provinsi  Tenaga
kesehatan di pusat
2.4.2 Tim RHA adalah
1. Petugas Medis
2. Epideminologi
3. Kesehatan Lingkungan
4. Sosial
Diharapkan tim memiliki kemampuan analisis yang baik dalam bidangnya,
dapat bekerjasama dan diterima, memiliki kemampuan untuk mengambil
keputusan

11
2.5 Tehnik Pengumpulan Data Dalam Rapid Health Assessment (RHA)
a. Angket (Kuesionare)
Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden untuk
menggali data sesuai dengan permasalahan penelitian. Menurut Masri
Singarimbum, pada penelitian survai, penggunaan angket merupakan hal yang
paling pokok untuk pengumpulan data di lapangan. Hasil kuesioner inilah yang
akan diangkakan (kuantifikasi), disusun tabel-tabel dan dianalisa secara statistik
untuk menarik kesimpulan penelitian.
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah (a) untuk memperoleh
informasi yang relevan dengan masalah dan tujuan penelitian, dan (b) untuk
memperoleh informasi dengan reliabel dan validitas yang tinggi. Hal yang perlu
diperhatikan oleh peneliti dalam menyusun kuesioner, pertanyaan-pertanyaan
yang disusun harus sesuai dengan hipotesa dan tujuan penelitian. Menurut
Suharsimi Arikunto, sebelum kuesioner disusun memperhatikan prosedur sebagai
berikut:
1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
2) Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
3) Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-sub variabel yang lebih spesifik
dan tunggal.
4) Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus unit analisisnya.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kuesioner, antara lain:
1) Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam kuesioner juga harus sesuai
dengan variebel-veriabel penelitian, yang biasanya sudah didefinisikan
dalam definisi operasional, yang mengandung indikator-indikator
penelitian sesuai dengan permasalahan penelitian.
2) Tiap pertanyaan dalam kuesiner adalah bagian dari penjabaran definisi
operasional, sehingga dapat dianalisa dengan tepat untuk menjawab
permasalahan penelitian.
Dalam kusioner, pertanyaan-pertanyaan yang diajaukan biasanya pertanyaan
mengenai hal-hal sebagai berikut:
1) Pertanyaan tentang fakta. Misalnya umur, pendidikan, status dan agama

12
2) Pertanyaan tentang pendapat dan sikap, yang menyangkut masalah
perasaan dan sikap respondsen tentang sesuatu
3) Pertanyaan tentang informasi. Pertanyaan yang menyangkut apa yang
diketahui oleh responden
4) Pertanyaan tentang persepsi diri. Responden menilai perilakunya diri
dalam hubungannya dengan orang lain.

Ditinjau dari segi cara pemakain kuesioner, ada beberapa cara yang bisa dilakukan
oleh peneliti, antara lain:
1) Kuesioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden
2) Kuesioner diisi sendiri oleh responden
3) Wawancara melalui telepon
4) Kuesioner dikirim melalui pos.
Bagaimana merumuskan/menyusun angket?, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, antara lain:
1) Pakailah bahasa yang sederhana yang dapat dipahami oleh responden.
2) Pakailah kalimat yang pendek yang mudah difahami
3) Jangan terlampau cepat menganggap bahwa responden telah memiliki
pengetahuan atau pengalaman tentang masalah penelitian.
4) Lindungi harga diri responden.
5) Bila ingin menanyakan suatu perasaan atau tanggapan yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan, tanyakan terlebih dahulu hal-hal
yang menyenangkan.
6) Pertimbangkan pertanyaan bersifat langsung atau tidak langsung.
7) Tentukan pertanyaan terbuka atau tertutup.
8) Masukkan hanya satu buah pikiran dalam tiap pertanyaan.
9) Rumusan pertanyaan jangan sampai memalukan responden. (lihat,
Nasution, 2006:135-137)
Contoh Angket:
1) Angket Terbuka, yaitu angket dimana responden diberi kebebasan untuk
menjawab. Contoh: Metode apa yang digunakan oleh Bapak/ibu dalam
pengajaran PAI dikelas?

13
a......................
b......................
c......................
d......................
2) Angket Tertutup, apabila jawaban pertanyaan sudah disediakan oleh
peneliti. Contoh: Apakah Bapak/Ibu senantiasa memeriksa hasil pekerjaan
anak dikelas?
a. Selalu
b. Sering
c. Jarang sekali
3) Angket semi terbuka, yaitu jawaban pertanyaan sudah diberikan oleh
peneliti, tetapi diberi kesempatan untuk menjawab sesuai kemauan
responden. Contoh: Apa metode yang Bapak?Ibu gunakan dalam
pengajaran PAI
a. Diskusi
b. Ceramah
c. ............
Berdasar dari terbentuknya
a. Pilihan ganda. Contoh, seperti pada angket tertutup
b. Isian. Contoh seperti pada angket terbuka
c. Chek list.

b. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan
atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Ditinjau dari sasaran atau
obyek yang akan dievaluasi, ada beberapa macam tes dan alat ukur.

1) Tes kepribadian ataupersonality test yaitu tes yang digunakan untuk


mengungkap kepribadian seseorang, seperti self – concept, kreativitas,
disiplin, kemampuan khusus, dan sebagainya.

14
2) Tes bakat atau abtitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur
atau mengetahui bakat seseorang.
3) Tes intelegensi atau intellegence test, yaitu tes yang digunakan untuk
mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang
dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur
intelegensinya.
4) Tes sikap atauattitude test, yang sering disebut dengan istilahkala sikap,
yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap
berbagai sikap seseorang.
5) Tes minat ataumeasures test yaitu tes yang digunakan untuk menggali
minat seseorang terhadap sesuatu.
6) Tes prestasi atau achievement test yaitu tes yang digunakan untuk
mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.

c. Wawancara
Wawancara merupakan proses komunikasi yang sangat menentukan dalam
proses penelitian. Dengan wawancara datayang diperoleh akan lebih mendalam,
karena mampu menggali pemikiran atau pendapat secara detail. Oleh karena itu
dalam pelaksanaan wawancara diperlukan ketrampilan dari seorang peneliti dalam
berkomunikasi dengan responden. Seorang peneliti harus memiliki ketrampilan
dalam mewawancarai, motivasi yang tinggi, dan rasa aman, artinya tidak ragu dan
takut dalam menyampaikan wawancara. Seorang peneliti juga harus bersikap
netral, sehingga responden tidak merasa ada tekanan psikis dalam memberikan
jawaban kepada peneliti. Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara,
yaitu:
1) Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang
hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam hal ini perlu
adanya kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan pedoman
wawancara model ini sangat tergantung pada pewawancara.
2) Pedoman pewawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang
disusun secara terperinci sehingga menyerupai chek-list. Pewawancara
hanya tinggal memberi tanda v (check).

15
Dalam pelaksanaan penelitian dilapangan, wawancara biasanya
wawancara dilaksanakan dalam bentuk ”semi structured”. Dimana interviwer
menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu
diperdalam dalam menggali keterangan lebih lanjut. Dengan model wawancara
seperti ini, maka semua variabel yang ingin digali dalam penelitian akan dapat
diperoleh secara lengkap dan mendalam
Dalam pelaksanaan wawancara, sering kita temukan dilapangan adanya
perbedaan persepsi pandangan tentang hal-hal tertentu yang berkaitan dengan
masalah penelitian, antara peneliti dengan orang yang diwawancarai. Berdasar hal
tersebut, yang perlu diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif naturalistik, ada
dua istilah yaitu informasi emic dan etic. Informasi emic adalah informasi yang
berkaitan dengan bagaimana pandangan responden terhadap dunia luar berdasar
perspektifnya sendiri, sedangkan yang berdasar perspektif peneliti disebut
informasi etic.

d. Dokumen
Data dalam penelitian kualitatif kebanyakan diperoleh dari sumber
manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Sumber lain
yang bukan dari manusia (non-human resources), diantaranya dokumen, foto dan
bahan statistik. Dokumen terdiri bisa berupa buku harian, notula rapat, laporan
berkala, jadwal kegiatan, peraturan pemerintah, anggaran dasar, rapor siswa,
surat-surat resmi dan lain sebagainya.
Selain bentuk-bentuk dokumen tersebut diatas, bentuk lainnya adalah foto
dan bahan statistik. Dengan menggunakan foto akan dapat mengungkap suatu
situasi pada detik tertentu sehingga dapat memberikan informasi deskriptif yang
berlaku saat itu. Foto dibuat dengan maksud tertentu, misalnya untuk melukiskan
kegembiraan atau kesedihan, kemeriahan, semangat dan situasi psikologis lainya.
Foto juga dapat menggambarkan situasi sosial seperti kemiskinan daerah kumuh,
adat istiadat, penderitaan dan berbagai fenomena sosial lainya.
Selain foto, bahan statistik juga dapat dimanfaatkan sebagai dokumen
yang mampu memberikan informasi kuantitatif, seperti jumlah guru, murid,
tenaga administrasi dalam suatu lembaga atau organisasi. Data ini sangat

16
membantu sekali bagi peneliti dalam menganalisa data, dengan dokumen-
dokumen kuantitatif ini analisa data akan lebih mendalam sesuai dengan
kebutuhan penelitian.
e. Observasi
Agar observasi yang dilakukan oleh peneliti memperoleh hasil yang
maksimal, maka perlu dilengkapi format atau blangko pengamatan sebagai
instrumen. Dalam pelaksanaan observasi, peneliti bukan hanya sekedar mencatat,
tetapi juga harus mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke
dalam suatu skala bertingkat.
Seorang peneliti harus melatih dirinya untuk melakukan pengamatan.
Banyak yang dapat kita amati di dunia sekitar kita dimanapun kita berada. Hasil
pengamatan dari masing-masing individu akan berbeda, disinilah diperlukan sikap
kepekaan calon peneliti tentang realitas diamati. Boleh jadi menurut orang lain
realitas yang kita amati, tidak memiliki nilai dalam kegiatan penelitian, akan
tetapi munurut kita hal tersebut adalah masalah yang perlu diteliti.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi partisipasi dan
non-partisipan. Observasi partisipasi dilakukan apabila peneliti ikut terlibat secara
langsung, sehingga menjadi bagian dari kelompok yang diteliti. Sedangkan
observasi non partisipan adalah observasi yang dilakukan dimana peneliti tidak
menyatu dengan yang diteliti, peneliti hanya sekedar sebagai pengamat. Menurut
Nasution, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi,
antara lain:
1) Harus diketahu dimana observasi dapat dilakukan, apakah hanya ditempat-
tempat pada waktu tertentu atau terjadi diberbagai lokasi?
2) Harus ditentukan siapa-siapa sajakah yang dapat diobservasi, sehingga
benar-benar representatif?
3) Harus diketahui dengan jelas data apa yang harus dikumpulkan sehingga
relevan dengan tujuan penelitian.
4) Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data, terutama berkaitan
dengan izin pelaksanaan penelitian.
5) Harus diketahui tentang cara-cara bagaimana mencatat hasil observasi.
6) Membuat Instrumen Pengumpulan Data

17
Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan instrumen,
antara lain:
a. Mengindentifikasikan variabel-variabel yang diteliti
b. Menjabarkan variabel-variabel dalam beberapa dimensi
c. Mencari indikator-indikator setiap dimensi
d. Mendeskripsikan kisi-kisi instrument
e. Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrument
f. Petunjuk pengisian
Hal lain yang perlu diperhatikan agar instrumen yang disusun tepat sesuai sasaran
yang ingin dicapai adalah:
a. Menetapkan sebuah konstruk, yaitu membuat batasan mengenai variabel
yang diteliti.
b. Menetapkan dimensi-dimensi, yaitu merumuskan unsur-unsur atau bagian-
bagian yang ada pada sebuah kontrak.
c. Menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan, yaitu menjabarkan
sebuah dimensi-dimensi ke dalam beberapa pertanyaan, untuk
menerangkan konstruk variabel yang hendak diteliti.

2.6 Kunci Kesuksesan Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA)


1. Perencanaan yang jelas dalam menejeman bencana sehingga pelayanan
kesehatan meningkat
2. Kesiapan perawat dalam pengisian format dan pencatatan RHA
3. Dalam tim merasakan adanya kerja sama tim yang kuat
4. Penkajian sehingga dalam mengumpulkan data dan informasi akan jelas
5. Koordinasi rujukan antar wilayah yang cepat
6. Tim melakukan tugas dengan enjoy dan tidak terbebani
7. Tenaga dengan kompetensi memadai mengenai RHA

18
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Rapid Health Assessment (penilaian kesehatan secara cepat) dilakukan


untuk mengatur besarnya suatu masalah yang berkaitan dengan kesehatan
akibat bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang kemungkinan dapat
terjadi terhadap kesehatan, sebarapa besar kerusakan terhadap sarana
permukiman yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan
merupakan dasar bagi upaya kesehatan yang tepat dalam penanggulangan
selanjutnya. Assessment terhadap kondisi darurat merupakan suatu proses
yang berkelanjutan. Artinya seiring dengan perkembangan kondisi darurat
diperlukan suatu penilaian yang lebih rinci.

3.2 Saran

Demikianlah makalah yang telah kami susun mengenai Konsep Rapid


Health Assesment (RHA). Demi kesempurnaan makalah ini kami harapkan
kritikan serta saran yang membangun. Saran dari penulis kami harapkan agar
pembaca dapat memaknai makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita
semua.

19