Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PANCA INDRA

“ PENDENGARAN, PENGECAPAN, dan PENCIUMAN “

DISUSUN OLEH :

Mayda Rezeki

DOSEN PENGAJAR :

Marwansyah, S.Kep, Ns, M.Kep

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN

2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Pertama - tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas berkah dan rahmat-Nya saya dapat membuat makalah ini
yang digunakan untuk melengkapi tugas mata kuliah Anatomi Fisiologi dan juga
tidak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada yang telah membantu saya
menyelesaikan makalah ini
Dalam makalah ini kami selaku penulis ingin memaparkan atau
menjelaskan tentang “ Anatomi Fisiologi Sistem Panca Indera “ yang sekiranya
dapat menambah wawasan bagi semua orang mengenai anatomi fisiolgi darah
pada manusia.
Kami harapan makalah ini dapat digunakan dan bermanfaat bagi semua
orang. Kami pun menerima kritik ataupun saran dari Saudara/I yang mungkin
dapat membantu saya memperbaiki makalah ini.

Banjarbaru, 19 Desember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................................ iii
BAB I .........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN .....................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................2
1.3 TUJUAN .....................................................................................................................2
BAB II ........................................................................................................................................3
ISI ...............................................................................................................................................3
2.1 STRUKTUR PENDENGARAN .................................................................................3
2.2 STRUKTUR PENGECAPAN ....................................................................................8
2.3 STRUKTUR PENCIUMAN .....................................................................................10
BAB III ....................................................................................................................................14
PENUTUP ................................................................................................................................14
3.1 KESIMPULAN .........................................................................................................14
3.2 SARAN .....................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................15

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap makhluk hidup di bumi diciptakan berdampingan dengan alam, karena
alam sangat penting untuk kelangsungan makhluk hidup. Karena itu setiap
makhluk hidup, khususnya manusia harus dapat menjaga keseimbangan alam.
Untuk dapat menjaga keseimbangan alam dan untuk dapat mengenali perubahan
lingkungan yang terjadi, Tuhan memberikan indera kepada setiap makhluk hidup.
Indera ini berfungsi untuk mengenali setiap perubahan lingkungan, baik yang
terjadi di dalam maupun di luar tubuh. Indera yang ada pada makhluk hidup,
memiliki sel-sel reseptor khusus. Sel-sel reseptor inilah yang berfungsi untuk
mengenali perubahan lingkungan yang terjadi. Berdasarkan fungsinya, sel-sel
reseptor ini dibagi menjadi dua, yaitu interoreseptor dan eksoreseptor.
Interoreseptor ini berfungsi untuk mengenali perubahan-perubahan yang
terjadi di dalam tubuh. Sel-sel interoreseptor terdapat pada sel otot, tendon,
ligamentum, sendi, dinding pembuluh darah, dinding saluran pencernaan, dan lain
sebagainya. Sel-sel ini dapat mengenali berbagai perubahan yang ada di dalam
tubuh seperti terjadi rasa nyeri di dalam tubuh, kadar oksigen menurun, kadar
glukosa, tekanan darah menurun/naik dan lain sebagainya.
Eksoreseptor adalah kebalikan dari interoreseptor, eksoreseptor berfungsi
untuk mengenali perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi di luar tubuh.
Yang termasuk eksoreseptor yaitu: (1) Indera penglihat (mata), indera ini
berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti sinar, warna dan lain
sebagainya. (2) Indera pendengar (telinga), indera ini berfungsi untuk mengenali
perubahan lingkungan seperti suara. (3) Indera peraba (kulit), indera ini berfungsi
untuk mengenali perubahan lingkungan seperti panas, dingin dan lain sebagainya.
(4) Indera pengecap (lidah), indera ini berfungsi untuk mengenal perubahan
lingkungan seperti mengecap rasa manis, pahit dan lain sebagainya. (5) Indera
pembau (hidung), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan
seperti mengenali/mencium bau. Kelima indera ini biasa kita kenal dengan
sebutan panca indera.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana struktur pendengaran ?
2. Bagaimana struktur pengecapan ?
3. Bagaimana struktur penciuman ?

1.3 TUJUAN
Makalah ini di buat dengan tujuan agar mahasiswa, tenaga atau tenaga medis
dapat memahami anatomi dan fisiologi system panca indra serta untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Anatomi Fisiologi.

2
BAB II
ISI
2.1 STRUKTUR PENDENGARAN
Telinga adalah suatu organ kompleks dengan komponen-komponen
fungsional penting, aparatus pendengaran dan mekanisme keseimbangannya,
terletak di dalam tulang temporalis tengkorak. Sebagian besar telinga tidak dapat
diperiksa secara langsung dan hanya dapat diperiksa dengan tes-tes khusus.
Telinga terdiri dari:
1. Telinga luar
2. Telinga tengah
3. Telinga dalam
1. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas:

Daun telinga (pinna atau aurikula) yakni daun kartilago yang menangkap
gelombang bunyi dan menjalarkannya ke kanal auditori eksternal (meatus/Lubang
telinga), suatu lintasan sempit panjangnya 2,5 cm yang merentang dari aurikula
sampai membaran timpani (gendang telinga). Gendang telinga atau membran
timpani adalah perbatasan telinga tengah. Membran timpani berbentuk kerucut
dan dilapisi kulit pada permukaan eksternal dan membran mukosa yang sesuai
untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis.

3
2. Telinga Tengah

Telinga tengah, terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang
temporal. Pada bagian ini terdapat saluran yang menghubungkan telinga tengah
dengan faring yaitu tuba eustachius (saluran eustachius). Saluran yang biasanya
tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan, atau mengunyah. Saluran ini
berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran
timpani. Pada telinga bagian tengah ini terdapat tulang-tulang pendengaran (osikel
auditori), yang dinamai sesuai bentuknya, terdiri dari:
 Maleus (tulang martil)
 Incus (tulang landasan/anvil)
 Stapes (tulang sanggurdi)

Tulang-tulang ini mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenestra


vestibuli, yang memisahkan telinga tengah dan telinga dalam. Otot stapedius
melekat pada stapes, yang ukurannya sesuai dengan fenestra vestibuli oval, dan
menariknya ke arah luar. Otot tensor timpani melekat pada bagain pegangan
maleus, yang berada pada membran timmpani, dan menarik fenestra vestibuli ke
arah dalam. Bunyi yang keras mengakibatkan suatu refleks yang menyebabkan
kontraksi kedua otot yang berfungsi sebagai pelindung untuk meredam bunyi.
Otot-otot ini memungkinkan suara yang terlalu keras diredam sebelum mencapai
telinga dalam. Berkat mekanisme ini, kita mendengar suara yang cukup keras
untuk mengguncang sistem pada tingkat yang telah diredam. Otot-otot ini otot tak
sadar, dan bekerja otomatis sedemikian sehingga bahkan jika kita tertidur dan lalu

4
ada suara keras di samping kita, otot-otot ini segera mengerut dan mengurangi
kekuatan getaran yang mencapai telinga dalam.
3. Telinga Dalam.

Telinga dalam (interna) berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal di
sisi medial telinga tengah. Telinga dalam terdiri dari dua bagian, yakni labirin
tulang dan labirin membrasona di dalam labirin tulang :
1. Labirin tulang adalah ruang berliku berisi perilimfe, suatu cairan yang
menyerupai cairan serebrospinalis. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang
temporal dan terbagi menjadi 3 bagian:
(1). Vestibula adalah bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan saluran
semisirkular dengan koklea.
a) Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan fenestra
cochleae, yang berhubungan dengan telinga tengah.
b) Membran yang melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perilimfe.
(2). Rongga tulang saluran semisirkular yang menonjol dari bagian posterior
vestibula.
a) Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang vertikal, di
setiap sudut kanannya.
b) Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua
saluran di atas.
(3). Koklea mengandung reseptor pendengaran.
2. Labirin membranosa adalah serangkaian tuba berongga dan kantong yang
terletak dalam labirin tulang dan mengikuti kontur labirin tersebut. Bagian ini
mengandung cairan endolimfe, cairan yang menyerupai cairan interselular.

5
(1). Labirin mebranosa dalam regia vestibula merupakan lokasi awal dua
kantong,utrikulus dan sakulus yang dihubungkan dengan duktus endolimpe
sempit dan pendek.
(2). Duktus semisirkular yang berisi endolimfe terletak dalam saluran semisirkular
pada labirin tulang yang mengandung perilimfe.
(3). Setiap duktus semisirkular,utrikulus dan sakulus mengandung reseptor untuk
ekuilibrium statis (bagaimana cara kepala berorientasi terhadap ruang bergantung
pada gaya gravitasi) dan ekuilibrium dinamis (apakah kepala bergerak atau diam
dan kecepatan serta arah gerakan).
(4). Utrikulus terhubung dengan duktus semisirkular; sedang sakulus terhubung
dengan duktus koklear dalam koklea.

KOKLEA
A. Koklea membentuk dua setengah putaran di sekitar inti tulang sentral,
modiolus yang mengandung pembuluh darah dan serabut saraf cabang koklear
dari sraf vestibulokoklear. Sekat membagi koklea menjadi tiga saluran terpisah.
a. Duktus koklear atau skala media yang merupakan bagian labirin membranosa
yang terhubung ke sakulus adalah saluran tengah yang berisi cairan endolimfe.
b. Dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah skala media
adalah skala vestibuli dan skala timpani. Kedua skala tersebut mengandung cairan
perilimfe dan terus memanjang melalui lubang pada apeks koklea yang disebut
helikotrema.
1) Membran Reissner (membran vestibuar) memisahkan skala media dari skala
vestibuli yang berhubungan dengan fenestra vestibuli.
2) Membran basilar memisahkan skala media dari skala timpani yang
berhubungan dengan fenestra cochleae.
c. Skala media berisi organ Corti yang terletak pada membran basilar.
1) Organ Corti terdiri dari resptor, disebut sel rambut, dan sel penunjang yang
menutupi ujung bawah sel-sel rambut dan berada pada membran basilar.
2) Membran tektorial adalah struktur gelatin seperti pita yang merentang di atas
sel-sel rambut.

6
3) Ujung basal sel rambut bersentuhan dengan cabang bagian koklear saraf
vestibulokoklear. Sel rambut tidak memiliki akson dan langsung bersinanpsis
dengan ujung saraf koklear.
BAGIAN DARI TELINGA DAN FUNGSINYA
1. AURIKEL/DAUN TELINGA
untuk menangkap gelombang suara dan mengarahkannya ke dalam MAE
2. MEATUS AUDITORIUS EKSTERNAL/ LIANG TELINGA LUAR
berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan kelembaban dan temperatur yang
dapat mengganggu elastisitas membran tympani
3. MEMBRANA TYMPANI/GENDANG TELINGA
Berfungsi menerima getaran suara dan meneruskannya pada tulang pendengaran
4. TULANG TULANG PENDENGARAN
Berfungsi menurunkan amplitudo getaran yang diterima dari membran tympani
dan meneruskannya ke jendela oval
5. TUBA EUSTACHIUS
Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara di luar tubuh dengan di
dalam telinga tengah
6. OTOT STAPEDIUS
Kelumpuhan pada stapedius dapat menyebabkan osilasi lebar pada tulang
sanggurdi, menyebabkan reaksi peninggian getaran suara. Suara yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan ketulian.
7. KANALIS SEMISIRKULARIS
Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal rotasi
8. VESTIBULA
Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal posisi
9. TINGKAP OVAL
bukaan berselaput yang menghubungkan telinga tengah dengan telinga dalam
10. SEL RAMBUT
Sel yang ada di dalam telinga yang berfungsi sebagai penerus gelombang suara
dari telinga dalam kepada sel-sel syaraf pendengaran.juga berfungsi sebagai
landasan atau dasar dari koklea dan tulang-tulang pendengaran di dalam telinga.

7
2.2 STRUKTUR PENGECAPAN
Sistem pengecap atau sistem gustatory terdapat di lidah. Pada lidah, terdapat
reseptor perasa yang dapat membedakan rasa yang disebut taste buds. Reseptor
pada lidah akan digantikan oleh reseptor yang baru setiap 10 hari sekali. Lidah
mempunyai lapisan mukosa yang menutupi bagian atas lidah, dan permukaannya
tidak rata karena ada tonjolan-tonjolan yang disebut dengan papilla, pada papilla
ini terdapat reseptor untuk membedakan rasa makanan.Apabila pada bagian lidah
tersebut tidak terdapat papilla lidah menjadi tidak sensitif terhadap rasa.

Berdasarkan bentuknya papila dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:

1. Papila filiformis
adalah Papila yang berbentuk seperti benang halus,papila ini banyak terdapat
pada bagian depan lidah.
2. Papila fungiformis
adalah Papila yang berbentuk tonjolan seperti kepala jamur, papila ini terdapat
pada bagian depan lidah dan bagian sisi lidah.
3. Papila sirkumvalata
adalah Papila yang bentuknya seperti huruf v terbalik dan terdapat pada
pangkal lidah.

Di dalam setiap papila terdapat banyak tunas pengecap atau kuncup


pengecap. Setiap tunas pengecap terdiri dari dua jenis sel yaitu sel penyokong
yang berfungsi untuk menopang dan sel pengecap yang berfungsi sebagai reseptor
dan memiliki tonjolan seperti rambut yang keluar dari tunas pengecap.

8
Setiap tunas pengecap akan merespon secara maksimal terhadap salah satu rasa.
Tunas pengecap dapat membedakan empat macam rasa, yaitu rasa manis, rasa
pahit, rasa asam, dan rasa asin. Tunas pengecap rasa manis lebih banyak terdapat
di ujung lidah, tunas pengecap rasa pahit terletak di pangkal lidah, tunas pengecap
rasa asam terletak di tepi belakang kiri dan kanan lidah, serta tunas pengecap rasa
asin terletak di tepi depan kiri dan kanan lidah. Sejumlah tunas pengecap juga
terdapat pada tenggorok dan langit-langit rongga mulut.

Fungsi lidah selain sebagai indera pengecap, yaitu untuk mengatur letak
makanan ketika dikunyah, membantu mendorong makanan ke kerongkongan
(pada waktu menelan) dan sebagai alat bantu dalam berbicara. Selain itu, indera
lain yang turut berperan pada persepsi pengecap adalah indera pembau.
Kemampuan mengecap seseorang tergantung pada:
1. Faktor Individual, misalnya pada seseorang yang sedang sakit, maka kepekaan
mengecapnya akan berkurang.
2. Nilai Ambang, misalnya seseorang yang sudah terbiasa makan makanan yang
asam, akan lebih tinggi daripada orang yang tidak biasa makan asam. Nilai
ambang ini tergantung darikebiasaan seseorang.
3. Konsentrasi, misalnya pada seseorang yang makan satu mangkok garam, lama
kelamaantidak akan merasakan asin lagi seperti pertama kali memakannya.
Ketidakmampuan seseorang untuk mengenali bau disebut sebagai anosmia,
sedangkanketidakmampuan seseorang untuk mengenali rasa disebut ageusia.
Adapun cara memelihara indera pengecap agar tetap berfungsi adalah sebagai
berikut:
1. Jangan dibiasakan makan dan minum yang masih panas, karena akan
berpengaruh terhadapindera pengecap.
2. Menggosok gigi secara teratur untuk mengatasi terjadinya infeksi pada gigi.

9
3. Kurangi merokok bagi perokok berat agar tidak terjadi bercak-bercak putih
pada inderapengecap. Sebaiknya bagi perokok berhentilah merokok mulai dari
sekarang jika anda.

2.3 STRUKTUR PENCIUMAN


Rasa penciuman diransang oleh gas yang terhirup ataupun oleh unsur-unsur
halus.
Jika kita bernafas lewat hidung dan kita mencium bau suatu udara, udara yang kita
hisap melewati bagian atas dari rongga hidung melalui konka nasalis.
Di dalam konka nasalis terdapat tiga pasang karang hidung :

 Konka nasalis superior


 Konka nasalis media
 Konka nasalis inferior
Bagian-bagian hidung
Hidung manusia di bagi menjadi dua bagian rongga yang sama besar yang di
sebut dengan nostril. Dinding pemisah di sebut dengan septum, septum terbuat
dari tulang yang sangat tipis. Rongga hidung di lapisi dengan rambut dan
membran yang mensekresi lendir lengket.
1. Rongga hidung (nasal cavity) berfungsi untuk mengalirkan udara dari luar ke
tenggorokan menuju paru paru. Rongga hidung ini di hubungkan dengan
bagian belakang tenggorokan. Rongga hidung di pisahkan oleh langit-langit
mulut kita yang di sebut dengan palate. Di rongga hidung bagian atas
terdapat sel-sel reseptor atau ujung- ujung saraf pembau. Ujung-ujung saraf
pembau ini timbul bersama dengan rambut-rambut halus pada selaput lendir
yang berada di dalam rongga hidung bagian atas. dapat membau dengan baik.

10
2. Mucous membrane, berfungsi menghangatkan udara dan melembabkannya.
Bagian ini membuat mucus (lendir atau ingus) yang berguna untuk
menangkap debu, bakteri, dan partikel-partikel kecil lainnya yang dapat
merusak paru-paru.
Struktur indera pencium terdiri dari :

1. Sel-sel penyokong yang berupa sel-sel epitel.


2. Sel-sel pembau(sel olfaktori) yang berupa sel saraf sebagai reseptor
Sel-sel olfaktori sangat peka terhadap rangsangan gas kimia (kemoreseptor).
Sel-sel olfaktori memiliki tonjolan ujung dendrit berupa rambut yang terletak
pada selaput lendir hidung, sedangkan ujung yang lain berupa tonjolan akson
membentuk berkas yang disebut saraf otak I (nervus olfaktori). Saraf ini akan
menembus tulang tapis dan masuk ke dalam otak manusia.
Sistem Olfactory
Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki
banyak reseptor pembau namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-
prinsip komposisi (component principle), organ pembau hanya memiliki tujuh
reseptor namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma yang berbeda. Alat
pembau biasa juga disebut dengan organon olfaktus, yang dapat menerima
stimulus benda-benda kimia sehingga reseptornya disebut pula
chemoreceptor. Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu pada
concha superior dan membran ini hanya menerima rangsang benda-benda yang
dapat menguap dan berwujud gas.
Bagian-bagiannya adalah :
a. Concha superior
b. Concha medialis
c. Concha inferior
d. Septum nasi (sekat hidung)
Reseptor organon olfactory terdapat di bagian atas hidung, menepel pada lapisan
jaringan yang diselaputi lendir dan disebut olfactory mucosa. Selaput lendir
tersebut berfungsi untuk
melembabkan udara. Pada bagian tersebut juga terdapat bulu-bulu hidung yang
berfungsi untuk

11
menyaring debu dan kotoran.
Reseptor olfaktori hanya mampu berfungsi selama 35 hari. Bila mati, baik karena
sebab
yang alami, maupun karena kerusakan fisik, maka reseptor tersebut akan
digantikan oleh
reseptor-reseptor baru yang axonnya akan berkembang ke lapisan olfactory bulbs
yang akan dituju, dan bila telah sampai pada lapisan yang dimaksud, mereka akan
memulihkan koneksi sinapsis yang terputus. Kemampuan membau makhluk hidup
tergantung pada :
a. Susunan rongga hidung.
Bentuk concha dan septum nasi tempat reseptor pembau pada masing-masing
orang tidak sama. Contohnya pada orang yang berhidung mancung akan lebih luas
daripada yang berhidung pesek.
b. Variasi fisiologis
Contohnya pada wanita, saat sebelum menstruasi atau pada saat hamil muda akan
menjadi sangat peka.
c. Spesies
Pada spesies tertentu yang kemampuan survivalnya tergantung pada pembauan,
akan memiliki indera pembau yang lebih peka contohnya anjing.
d. Besarnya konsentrasi dari substansi yang berbau misalnya skatol (bau busuk
yang terdapat pada kotoran atau faeces) memiliki konsentrasi yang kuat karena
memiliki kemampuan menguap yang tinggi. Bila konsentrasinya kuat
makabaunya busuk, sebaliknya bila konsentrasinya rendah akan menimbulkan bau
yang berbeda(contohnya pada bunga yang mengandung skatol dalam konsentrasi
rendah maka baunyaakan harum).

12
Fisiologi pernafasan bagian atas yaitu:
1. Rongga Hidung.
Rongga hidung terdiri atas :
(1) Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi.
(2) Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar karena
strukturnya yangberlapis.
(3) Sel silia yang berperan untuk melemparkan benda asing ke luar dalam usaha
untuk membersihkan jalan napas.
Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga
hidungkanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
2. Faring
Fungsi utama faring adalah sebagai saluran alat pencernaaan yang membawa
makanan dari rongga mulut hingga ke esophagus.Hubungan faring dengan rongga
hidung dan laring ini membuat faring menjadi cukup penting dalam produksi
suara, serta memungkinkan manusia untuk bernafas menggunakan mulut.
3. Laring
Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.Laring
jugamelindungi jalan napas bawah dari benda asing dan memudahkan batuk.
Laring seringdisebut sebagai kotak suara dan terdiri atas:
a. Epiglotis : daun katup kartilago yang dapat menutup saat proses menelan.
b. Glotis : memungkinkan terjadinya vokalisasi
c. Kartilago Thyroid

13
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa telinga mempunyai
reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan tubuh.
Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga
tengah, dan telinga dalam. Ada berbagai kelainan pada telinga, seperti: tuli,
congek, otitis eksterna, perikondritis, eksim, cidera, tumor, kanker, dan lain
sebagainya.
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia.
Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung
kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Lidah berfungsi
sebagai pengecap rasa dan sebagai pembantu dalam tindakan berbicara. Kelainan
yang ada pada lidah yaitu: oral candidosis, atropic glossitis, geografic tongue,
fissured tongue, glossopyrosis, dan lain sebagainya.
Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam
hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Kelainan-kelainan yang ada pada
hidung yaitu: angiofibroma juvenil, papiloma juvenil, rhinitis allergica, sinusitis,
salesma dan influensa, anosmia, dan lain sebagainya.
3.2 SARAN
Dari pemaparan diatas, kami memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan
maupun ilmu alam lainnya penting sekali memahai anatomi sistem panca indra
secara tepat agar terhindar dari kesalahan dalam tindakan baik itu dirumah sakit
maupun di alam yang berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh akibat kurangnya
aktifitas positif untuk memberikan kesehatan terhadap anatomi system panca
indra.

14
DAFTAR PUSTAKA
http://anfis-mariapoppy.blogspot.co.id/2014/12/anatomi-fisiologi-sistem-panca-
indera.html

http://nurseviliansyah.blogspot.co.id/2015/02/anatomi-fisiologi-sistem-panca-
indra.html#.Wjj9e1Nx3IU

http://ciidevitaaffandi.blogspot.co.id/p/sistem-panca-indera.html

http://dyapandamon.blogspot.co.id/p/1.html

15

Beri Nilai