Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH ILMU KEPERAWATAN DASAR II

INFEKSI NOSOKOMIAL DAN SAFE PATIENT HANDLING

Disusun Oleh :

KELOMPOK A

1. TIAN NOPITA SARI (1001) 9. MUTIARA YERIVANDA (1017)


2. VANNY ANDIROZSE (1003) 10. FIZA ISOLPIA (1019)
3. FENY ANGRAINI (1005) 11. REFFY ANYATI (1021)
4. UTHARI CHINTYA (1007) 12. WERISKA OKTRIVANY (1023)
5. YESIKA SISILIA (1009) 13. MUKHLISIN PUTRA (1025)
6. PUTRI RAMADHANI (1011) 14. LILIAN MEUTYA (1027)
7. AMELIA JAMIRUS (1013) 15. LARA CLAUDYA (1029)
8. OLGA CITRA N (1015)

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa , karena
atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat membuat dan menyelesaikan
makalah kami yang berjudul “INFEKSI NOSOKOMIAL DAN SAFE
PATIENT HANDLING”.

Pada makalah ini kami tampilkan hasil diskusi kami, kami juga mengambil
beberapa kesimpulan dari hasil diskusi yang kami lakukan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah


membantu kami dalam menyelesaikan laporan ini, diantaranya:
1. Yang terhormat Ibu Ns. Estika Ariany Maisa, M.kep selaku dosen mata kuliah
Ilmu Keperawatan Dasar II
2. Pihak-pihak lain yang ikut membantu dalam pelaksanaan maupun proses
penyelesaian makalah ini.

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan


bagi para pembaca dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam
proses pembelajaran. Namun, kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penulisan maupun pembahasan dalam makalah ini,
sehingga belum begitu sempurna. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
kekurangan- kekurangan tersebut sehingga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Padang, Maret 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Infeksi Nosocomial ........................................................................... 3


2.1.1 Pengertian Infeksi Nosokomial ............................................ 3
2.1.2 Kriteria Infeksi Nosocomial ................................................. 3
2.1.3 Penularan Infeksi Nosocomial ............................................ 4
2.1.4 Etiologi Infeksi Nosokomial ............................................... 6
2.1.5 Patogenesis Dan Patofisiologi Infeksi Nosokomial ............. 6
2.1.6 Siklus Terjadinya Infeksi Nosokomial ................................. 7
2.1.7 Pengendalian Infeksi Nosokomial ..................................... 10
2.1.8 Sumber Infeksi Nosokomial............................................... 10
2.2 Safe Patient Handling....................................................................... 11
2.2.1 Standar Patient Safety ........................................................ 12
2.2.2 Self Protection Dalam Pencegahan Infeksi Nasokomial .... 14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 25


3.2 Saran ................................................................................................ 25

DAFTAR PUSTAKA

3
4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan kesehatan diberikan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari


fasilitas yang mempunyai peralatan yang sangat sederhana, sampai yang memiliki
teknologi modern. Meskipun telah ada perkembangan dalam pelayanan di rumah
sakit, dan fasilitas kesehatan lainya, infeksi terus pula berkembang terutama pada
pasien yang dirawat di rumah sakit.

Infeksi yang terjadi di rumah sakit disebut juga “Infeksi Nosokomial”, yaitu
infeksi yang diperoleh ketika seseorang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya
tanda-tanda infeksi sebelumnya dan minimal terjadi 3 x 24 jam sesudah masuk
kuman.

Survey prevalensi yang dilakukan oleh WHO terhadap 55 rumah sakit di 14


negara mewakili 14 daerah WHO (Eropa, Mediterania timur, Asia Selatan –
Timur, dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata 8,7% pasien di rumah sakit
menderita infeksi nosokomial.

Tingkat infeksi nosokomial di Asia dilaporkan lebih dari 40% (Alvarado


2000). Sebagian besar infeksi nosokomial dapat dicegah dengan strategi-strategi
yang sudah ada:

1. Menaati praktek-praktek pencegahan infeksi yang direkomendasikan,


khususnya cuci tangan dan pemakaian sarung tangan.
2. Memperhatikan proses dekontaminasi dan pembersihan alat-alat kotor yang
diikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi.
3. Meningkatkan keamanan pada area-area yang beresiko tinggi terjadi infeksi
nosokomial.

5
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Infeksi Nosokomial ?
2. Apa saja kriteria Infeksi Nosokomial ?
3. Bagaimana penularan infeksi nosokomial ?
4. Bagaimana etiologi infeksi nosokomial ?
5. Bagaimana pathogenesis dan patofisiologi infeksi nosokomial ?
6. Bagaimana siklus terjadinya infeksi nosokomial ?
7. Bagaimana Pengendalian Infeksi Nosokomial ?
8. Bagaimana sumber infeksi nosocomial ?
9. Bagaiman safe patient handling ?
10. Bagaimana standar patient safety ?
11. Bagaimana cara perawat untuk melindungi diri dari infeksi nosokomial
dan apa saja alat-alat yang digunakan dalam self protection ?

1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian Infeksi Nosokomial
2. Mengetahui kriteria Infeksi Nosokomial
3. Mengetahui penularan infeksi nosokomial
4. Mengetahui etiologi infeksi nosokomial
5. Mengetahui pathogenesis dan patofisiologi infeksi nosocomial
6. Mengetahui siklus terjadinya infeksi nosokomial
7. Mengetahui pengendalian infeksi nosokomial
8. Mengetahui sumber infeksi nosocomial
9. Mengetahui safe patient handling
10. Mengetahui standar patient safety
11. Mengetahui cara perawat untuk melindungi diri dari infeksi nosokomial
dan apa saja alat-alat yang digunakan dalam self protection

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Infeksi Nosokomial


2.1.1 Pengertian Infenksi Nosokomial

Infeksi adalah peristiwa masuk dan penggandaan mikroorganisme di


dalam tubuh pejamu yang mampu menyebabkan sakit (Perry & Potter, 2005;
Linda Tietjen, 2004).

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat seseorang dalam waktu


3x24 jam sejak mereka masuk rumah sakit (Depkes RI, 2003). Infeksi
nosokomial diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas
perawatan kesehatan. Rumah sakit merupakan satu tempat yang paling
mungkin mendapat infeksi karena mengandung populasi mikroorganisme
yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik
(Perry & Potter, 2005).

2.1.2 Kriteria Infeksi Nosokomial

Kriteria infeksi nosokomial (Depkes RI, 2003), antara lain:

1. Waktu mulai dirawat tidak didapat tanda-tanda klinik infeksi


dan tidak sedang dalam masa inkubasi infeksi tersebut.
2. Infeksi terjadi sekurang-kurangnya 3x24 jam (72 jam) sejak
pasien mulai dirawat.
3. Infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan yang lebih
lama dari waktu inkubasi infeksi tersebut.
4. Infeksi terjadi pada neonatus yang diperoleh dari ibunya pada
saat persalinan atau selama dirawat di rumah sakit.
5. Bila dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan
terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di

7
rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu, serta belum
pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.

Infeksi rumah sakit sering terjadi pada pasien berisiko tinggi yaitu
pasien dengan karakteristik usia tua, berbaring lama, menggunakan obat
imunosupresan dan/atau steroid, imunitas turun misal pada pasien yang
menderita luka bakar atau pasien yang mendapatkan tindakan invasif,
pemasangan infus yang lama, atau pemasangan kateter urin yang lama dan
infeksi nosokomial pada luka operasi (Depkes RI, 2001). Infeksi nosokomial
dapat mengenai setiap organ tubuh, tetapi yang paling banyak adalah infeksi
nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, dan infeksi
aliran darah primer atau phlebitis (Depkes RI, 2003).

2.1.3 Penularan Infeksi Nosokomial

Cara penularan infeksi nosokomial antara lain :

1. Penularan secara kontak

Penularan ini dapat terjadi baik secara kontak langsung, kontak tidak
langsung dan droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi
berhubungan langsung dengan penjamu, misalnya person to person pada
penularan infeksi hepatitis A virus secara fekal oral. Kontak tidak langsung
terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda
mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh
sumber infeksi, misalnya kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme
(Uliyah dkk, 2006; Yohanes, 2010).

2. Penularan melalui common vehicle

Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh


kuman dan dapat menyebabkan penyakit pada lebih dari satu pejamu.
Adapun jenis-jenis common vehicle adalah darah/produk darah, cairan intra

8
vena, obat-obatan, cairan antiseptik, dan sebagainya (Uliyah dkk, 2006;
Yohanes, 2010).

3. Penularan melalui udara dan inhalasi

Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang


sangat kecil sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh
dan melalui saluran pernafasan. Misalnya mikroorganisme yang terdapat
dalam sel-sel kulit yang terlepas akan membentuk debu yang dapat menyebar
jauh (Staphylococcus) dan Tuberkulosis (Uliyah dkk, 2006 ; Yohanes,
2010).

4. Penularan dengan perantara vektor

Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut


penularan secara eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis
dari mikroorganime yang menempel pada tubuh vektor, misalnya shigella
dan salmonella oleh lalat. Penularan secara internal bila mikroorganisme
masuk kedalam tubuh vektor dan dapat terjadi perubahan biologik, misalnya
parasit malaria dalam nyamuk atau tidak mengalami perubahan biologik,
misalnya Yersenia pestis pada ginjal (flea) (Uliyah dkk, 2006; Yohanes,
2010).

5. Penularan melalui makanan dan minuman

Penyebaran mikroba patogen dapat melalui makanan atau minuman


yang disajikan untuk penderita. Mikroba patogen dapat ikut menyertainya
sehingga menimbulkan gejala baik ringan maupun berat (Uliyah dkk, 2006).

9
2.1.4 Etiologi

Mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial (WHO, 2002):

a) Conventional pathogens
Menyebabkan penyakit pada orang sehat, karena tidak adanya kekebalan
terhadap kuman tersebut : Staphylococcus aureus, streptococcus,
salmonella, shigella, virus influenza, virus hepatitis.
b) Conditional pathogens
Penyebab penyakit pada orang dengan penurunan daya tahan tubuh
terhadap kuman langsung masuk dalam jaringan tubuh yang tidak steril:
pseudomonas, proteus, klebsiella, serratia, dan enterobacter.
c) Opportunistic pathogen
Menyebabkan penyakit menyeluruh pada penderita dengan daya tahan
tubuh sangat menurun: mycobacteria, nocardia, pneumocytis.

2.1.5 Patogenesis dan Patofisiologi

Infeksi oleh populasi kuman rumah sakit terhadap seseorang pasien


yang memang sudah lemah fisiknya tidaklah terhindarkan. Lingkungan
rumah sakit harus diusahakan agar sebersih mungkin dan sesteril mungkin.
Hal tersebut tidak selalu bisa sepenuhnya terlaksana, karenanya tak mungkin
infeksi nosokomial ini bisa diberantas secara total (Yohanes,2010).

Setiap langkah yang tampaknya mungkin, harus dikerjakan untuk


menekan risiko terjadinya infeksi nosokomial. Yang paling penting adalah
kembali kepada kaidah sepsis dan antisepsis dan perbaikan sikap / perilaku
personil rumah sakit (dokter, perawat) (Yohanes,2010).

Pada pasien dengan daya tahan yang kurang oleh karena penyakit
kronik, usia tua, dan penggunaan imunosupresan, mikroorganisme yang
awalnya non-patogen dan hidup simbiosis berdampingan secara damai
dengan penjamu, akibat daya tahan yang turun, dapat menimbulkan infeksi

10
oportunistik. Maka infeksi nosokomial bisa merupakan suatu infeksi
oportunistik (Yohanes, 2010).

2.1.6 Siklus Terjadinya Infeksi Nosokomial

Mikroorganinisme dapat hidup di manapun dalam lingkungan kita.


Pada manusia dapat ditemukan pada kulit, saluran pernafasan bagian atas,
usus, dan organ genital. Disamping itu mikroorganisme juga dapat hidup
pada hewan, tumbuhan, tanah, air, dan udara. Beberapa mikroorganisme
lebih patogen dari yang lain, atau lebih mungkin menyebabkan penyakit.
Ketika daya tahan manusia menurun, misalnya pada pasien dengan
HIV/AIDS (Depkes, 2007).

Semua manusia rentan terhadap infeksi bakteri dan sebagian besar


jenis virus. Jumlah (dosis) mikroorganisme yang diperlukan untuk
menyebabkan infeksi pada pejamu/host yang rentan bervariasi sesuai dengan
lokasi. Risiko infeksi cukup rendah ketika mikroorganisme kontak dengan
kulit yang utuh dan setiap hari manusia menyentuh benda di mana terdapat
sejumlah mikroorganisme di permukaannya. Risiko infeksi akan meningkat
bila area kontak adalah membran mukosa atau kulit yang tidak utuh. Risiko
infeksi menjadi sangat meningkat ketika mikroorganisme berkontak dengan
area tubuh yang biasanya tidak steril, sehingga masuknya sejumlah kecil
mikroorganisme saja dapat menyebabkan infeksi (Depkes, 2007).

Agar bakteri, virus dan penyebab infeksi lain dapat bertahan hidup dan
menyebar, sejumlah faktor atau kondisi tertentu harus tersedia. Faktor-faktor
penting dalam penularan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit
dari orang ke orang dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

11
Gambar Siklus infeksi nosokomial (Depkes RI, 2007)
A. Reservoir Agen

Reservoir adalah tempat mikroorganisme patogen mampu bertahan


hidup tetapi dapat atau tidak dapat berkembang biak. Pseudomonas bertahan
hidup dan berkembang biak dalam reservoir nebuliser yang digunakan dalam
perawatan pasien dengan gangguan pernafasan. Resevoir yang paling umum
adalah tubuh manusia. Berbagai mikroorganisme hidup pada kulit dan
rongga tubuh, cairan, dan keluaran. Adanya mikroorganisme tidak selalu
menyebabkan seseorang menjadi sakit. Carrier (penular) adalah manusia
atau binatang yang tidak menunjukan gejala penyakit tetapi ada
mikroorganisme patogen dalam tubuh mereka yang dapat ditularkan ke
orang lain. Misalnya, seseorang dapat menjadi carrier virus hepatitis B tanpa
ada tanda dan gejala infeksi. Binatang, makanan, air, insekta, dan benda mati
dapat juga menjadi reservoir bagi mikroorganisme infeksius. Untuk

12
berkembang biak dengan cepat, organisme memerlukan lingkungan yang
sesuai, termasuk makanan, oksigen, air, suhu yang tepat, pH, dan cahaya
(Perry & Potter, 2005).

B. Portal keluar (Port of exit)

Setelah mikrooganisme menemukan tempat untuk tumbuh dan


berkembang biak, mereka harus menemukan jalan ke luar jika mereka masuk
ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit. Pintu keluar masuk
mikroorganisme dapat berupa saluran pencernaan, pernafasan, kulit,
kelamin, dan plasenta (Perry & Potter, 2005).

C. Cara penularan (Mode of transmision)

Cara penularan bisa langsung maupun tidak langsung. Secara langsung


misalnya; darah/cairan tubuh, dan hubungan kelamin, dan secara tidak
langsung melalui manusia, binatang, benda-benda mati, dan udara (Perry &
Potter, 2005).

D. Portal masuk (Port of entry)

Sebelum infeksi, mikroorganisme harus memasuki tubuh. Kulit adalah


bagian rentang terhadap infeksi dan adanya luka pada kulit merupakan
tempat masuk mikroorganisme. Mikroorganisme dapat masuk melalui rute
yang sama untuk keluarnya mikroorganisme (Perry & Potter, 2005).

E. Kepekaan dari host (host susceptibility)

Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen


infeksius. Kerentanan tergantung pada derajat ketahanan individu terhadap
mikroorganisme patogen. Semakin virulen suatu mikroorganisme semakin
besar kemungkinan kerentanan seseorang. Resistensi seseorang terhadap
agen infeksius ditingkatkan dengan vaksin (Perry & Potter, 2005).

13
2.1.7 Pengendalian Infeksi Nosokomial

Pengendalian infeksi nosokomial bertujuan untuk menekan dan


memindahkan perkembangan infeksi pada penderita yang sedang dirawat di
rumah sakit ataupun mengurangi angka infeksi yang terjadi di rumah sakit.
Sebagian infeksi nosokomial ini dapat dicegah dengan strategi yang telah
tersedia secara relatif murah, yaitu:

a) Menaati praktik pencegahan infeksi yang dianjurkan, terutama


kebersihan dan kesehatan tangan serta pemakaian sarung tangan
b) Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermanfaat
untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda lain yang
kotor, diikuti dengan sterilisasi atau desinfektan tingkat tinggi
c) Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area berisiko tinggi
lainnya sebagaiman kecelakaan perlukaan yang sangat serius dan
paparan pada agen penyebab infeksi sering terjadi (Linda Tietjen,
2004; Darmadi, 2008).

2.1.8 Sumber Infeksi Nosokomial

Sumber infeksi nosocomial dapat dibagi menjadi 4 bagian antara lain :

a. Petugas rumah sakit (prilaku)


 Kurang memahami cara penularan penyakit
 Kurang memperhatikan kebersihan
 Kurang atau tidak memperrhatikan teknik aseptic dan
antiseptic
 Menderita penyakit tertentu
 Tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
pekerjaan
b. Alat yang dipakai
 Kotor

14
 Rusak
 Penyimpanan kurang baik
 Dipakai berulang kali
 Kadaluarsa
c. Pasien
 Kondisi yang sangat lemah
 Kebersihan kurang
 Menderita penyakit kronis
 Menderita penyakit menular
d. Lingkungan
 Tidak ada sinar matahari/ penerangan yang masuk
 Ventilasi udara kurang baik
 Tuangan lembab
 Banyak serangga

2.2 Safe Patient Handling

Keselamatan (safety) sangat penting dalam memberikan asuhan


keperawatan baik dirumah sakit, puskesmas dan lain – lain. Keselamatan
pasien merupakan prioritas utama. Keamanan dan keselamatan pasien
merupakan hal yang mendasar yang perlu diperhatikan oleh tenaga medis
saat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Depkes, 2008).

Setiap pelayanan yang diberikan kepada pasien hendaklah memberikan


dampak positif dan tidak merugikan pasien.oleh karena itu perlu adanya
standar dalam pelayanan supaya dapat melindungi hak pasien dan menerima
pelayanan yang baik sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan keperawatan
dalam memberi asuhan keperawatan kepada pasien.

Menurut uandang – undang kesehatan pasal 43 no 36 tahun 2009 yang


dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam

15
rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien secara aman
termasuk didalamnya pengkajian mengenai resiko, identifikasi, menajemen
resiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk
belajar dan menindaklanjuti insiden.

Isu atau elemen penyebab kesalahan yang paling umum dalam pateient
safety antara lain :

a. Adverse drug event (ADE)/ medication errors (ME) atau


ketidakcocokan obat/ Kesalahan pengobatan
b. Restraint Use atau Kendali penggunaan
c. Nosocomial infections atau infeksi nosokomial
d. Kecelakaan operasi
e. Keamanan produk darah/ administrasi
f. Tekanan ulkus
g. Program imunisasi
h. Terjatuh

2.2.1 Standar pasient safety


Setiap perawat menerapkan prinsip keselamatan pasien antara lain :
a) Ketetapan identifikasi pasien
Kesalahan karena keliru pasien sebenarnya disemua aspek
diagnosis dan pengobatan. Keadaan dapat mengarahkan terjadinya
error atau kesalahan dalam mengidentifikasi pasien dalam keadaan
terbius, mengalami disorientasi, atau dalam keadaan tidak sadar.
Perawat harus mengidentifikasi seluruh pasien yang di rawat di RS
dengan benar :
 Memastikan identitas pasien sebagai individu yang akan
menerima pelayanan atau pengobatan
 Memastikan kesesuaian pelayanan atau pengobatan
terhadap individu tersebut

16
 Proses identifikasi dilakukan untuk mengidentifikasi
pasien pada saat :
 Pemberian obat, darah atau produk darah
 Pengambilan darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis; atau
 Tindakan lain (pembedahan, non pembedahan,
pemeriksaan klinis dan penunjang)
 Identifikasi pasien mencakup 3 detail wajib yaitu Nama
pasien, Tanggal lahir / umur, Nomor rekam medis pasien.

b) Peningkatan Komunikasi Efektif


Komunikasi yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap dan
jelas dan dipahami oleh penerima pesan akan mengurangi
kesalahan dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien.
Komunikasi dapat secara elektronik, lisan atau tertulis.
Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah
perintah diberikan secara lisan dan melalui telepon.

c) Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai


Obat yang harus diwaspadai adalah obat yang sering
menyebabkan terjadi kesalahan / kesalahan serius (sentinel event)
serta obat yang beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan.

d) Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi


Seorang perawat harus mengetahui lokasi pasien,
mengetahui dengan benar dan baik procedure menurut SOP dan
tepat dalam mengeidentifikasi pasien yang akan dioperasi.

17
e) Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan
kesehatan termasuk infeksi saluran kemih – terkait kateter, infeksi
aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (seringkali
dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pokok dari eliminasi infeksi adalah cuci tangan (hand hygiene)
yang tepat.
 Kebersihan tangan merupakan proses membersihkan
tangan dengan menggunakan sabun dan air yang menghalir
(hand wash) atau dengan menggunakan antiseptik berbasis
alkohol (hand rub)
 Semua orang yang berada di RS wajib menjaga dan
melaksanakan kebersihan tangan
 Rumah Sakit memfasilitasi sarana prasarana kebersihan
tangan yang dibutuhkan.
f) Pengurangan Resiko Pasien Jatuh
Perawat wajib melakukan pengkajian resiko jatuh untuk
setiap pasien yang dirawat, guna meminimalkan resiko jatuh
dengan metode “Morse Fall” untuk pasien dewasa dan metode
“Humpty Dumpty” untuk pasien anak.

2.2.2 Self Protection dalam Pengendalian/Pencegahan Infeksi.

Alat pelindung diri atau self protection adalah Peralatan yang


dirancang untuk melindungi pekerja dari kecelakaan atau penyakit yang
serius di tempat kerja, akibat kontak dengan potensi bahaya kimia,
radiologik, fisik, elektronik mekanik atau potensi bahaya lainnya di tempat
kerja.

Tujuan Penggunaan Alat Pelindung Diri adalah Untuk melindungi


kulitdan membrane mukosa (mata, bibir, mulut, hidung) petugas kesehatan

18
dari risiko pajanan darah dan semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit
yang tidak utuh dan selaput lendir pasien

Indikasi Pemakaian Alat Pelindung Diri adalah Alat pelindung didi


dipakai tergantung pada jenis tindakan yang akan dilakukan. Contohnya :
apabila perawat akan memasang/mengangkat implznt, maka perawat cukup
memakai sarung tangan steril atau sarung tangan DDT saja. Namun apabila
akan melakukan pertolongan persalinan, maka perawat harus memakai
semua alat pelinding diri untuk mengurangi kemungkinan terpajan darah dan
cairan tubuh lainnya.

Langkah – langkah dan alat yang digunakan dalam pelindung diri (self
protection) yaitu sebagai berikut :

A. Mencuci tangan
Tujuan mencuci tangan antara lain sebagai berikut :
a) Menghilangkan atau meminimalkan mikroorganisme di
tangan
b) Menghalau organisme yang diperoleh karena :
 Kontak dengan pasien terinfeksi
 Kontak dengan lingkungan serta menghilangkan bahan
organik dari tangan
c) Mencegah perpindahan mikroorganisme dari lingkungan ke
pasien, dan dari pasien ke petugas kesehatan

Cuci tangan dapat dikelompokkan kedalam cuci tangan rutin, cuci


tangan prosedural maupun mencuci tangan bedah. Cuci tangan perlu
dilakukan oleh :

 Setiap orang yang konta langsung sengan pasien seperti : dokter,


perawat, bidan, dan petugas kesehatan lain (fisioterapist, radiologist,
teknisi).

19
 Setiap orang yang ada kontak dengan pasien, meskipun tidak
langsung seperti : ahli gizi, petugas laboratorium, dan petugas
farmasi.
 Setiap petugas yang berkontribusi dengan prosedur yang dilakukan
terhadap pasien.
 Setiap orang yang bekerja dirumah sakit.
 Pasien dan pengunjung pasien

Petugas kesehatan terutama perawat yang menangani dan


menangani pasien dan menolong persalinan wajib menjaga kebersihan diri
pribadi. Oleh karena itu, perawat dan petugas kesehatan lain perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Dianjurkan untuk tidak mengenakan atau tidak memakai perhiasan


dan jam tangan. Alasannya yaitu :
 Penelitian menunjukkan bahwa bagian bawah kulit di bawah
perhiasan dapat menjadi tempat kontaminasi kuman yang
berat dan sulit untuk dibersihkan atau didekontaminasi.
 Memakai perhiasan juga dapat menimbulkan kesulitan pada
saat memakai sarung tangan.
b. Menjaga kuku dan kulit tangan, antara lain :
 Selalu menjaga agar kuku tetap pendek dan bersih
 Dianjurkan untuk tidak memakai cat kuku, maupun kuku
palsu
 Disarankan menggunakan lotion untuk meminimalkan iritasi
atau dermatitis kontak
c. Dalam penggunaan sabun :
 Apabila memakai sabun batang, dianjurkan untuk memakai
sabun yang kecil dan tempatnya berlubang pada bagian bawah
 Dianjurkan untuk memakai sabun cair

20
 Apabila menggunakan sabun cair : tidak dperkenankan
menambah sabun cair atau antiseptik sebelum isi kontainer
benar habis.
 Sebelum mengisi kontainer/ dispenser sabun cair, bersihkan
dispenser sampai bersih dan kering dahulu
 Pilihlah sabun atiseptik yang kurang bersifat iritatif
d. Tidak diperkenankan mencuci sarung tangan pada saat menggunakan
diantara pasien.
e. Tidak diperkenankan memakai handuk pakai ulang
f. Dalam pengeringan setelah mencuci tangan :
 Mengeringkan tangan setelah cuci tangan adalah hal yang
sangat penting
 Pengeringan tangan ini dapat dilakukan dengan menggunakan
kain, kertas. Atau menggunakan aliran udara panas.
 Sebaiknya keringkan tangan dengan handuk sekali pakai
 Handuk kertas harus tetap dalam kondisi bersih dan tidak
terkontaminasi
 Jika tidak tersedia handuk kertas sekali pakai, gunakan
handuk tangan sekali pakai.

B. Sarung Tangan/handscone

Tujuan penggunaan sarung tangan yaitu Melindungi tangan dari


kontak dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang
tidak utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.

Jenis-Jenis Sarung Tangan yaitu antara lain

 Sarung Tangan Bersih


 Sarung tangan yang disposable
 Sarung tangan yang didisinfeksi tingkat tinggi

21
 Digunakan sebelum tindakan rutin pada kulit dan selaput lendir,
misalnya tindakan pemeriksaan dalam, tindakan merawat luka terbuka.
 Sarung tangan steril
 Sarung tangan yang telah disterilkan
 Sarung tangan kemasan steril
 Digunakan pada tindakan bedah
 Sarung tangan rumah tangga
 Sarung terbuat dari bahan latex atau vinil tebal
 Dapat digunakan lagi setelah dicuci dan dibilas
 Digunakan untuk membersihkan alat kesehatan, membersihkan
permukaan meja

Indikasi pemakaian sarung tangan yaitu Harus dipakai pada saat


melakukan tindakan yang kontak atau diperkirakan akan terjadi kontak
dengan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh, selaput
lendir Pasien, dan benda yang terkontaminasi.

Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian sarung tangan yaitu
 Jauhkan sarung tangan dari wajah
 Cuci tangan sebelum memakai dan sesudah melepaskan sarung tangan
 Gunakan sarung tangan berbeda untuk setiap pasien
 Hindari jamahan pada benda-benda lain
 Uji kebocoran saat proses pencucian
 Teknik memakai dan melepaskan sarung tangan harus dipahami

Prosedur dalam pemasangan sarung tangan antara lain :


 Lepaskan semua acesoris/perhiasan
 Cuci tangan
 Pakai sarung tangan pada kedua tangan
 Ganti sarung tangan bila tampak rusak/bocor

22
 Segera lepas sarung tangan jika telah selesai tindakan
 Buang sarung tangan ke tempat pembuangan sampah sesuai prosedur
 Cuci tangan

C. Pelindung wajah

Tujuan dari pelindung wajah sebagai berikut:

 Melindungi selaput lendir hidung,mulut,dan mata petugas kesehatan


dari paparan darah atupun cairan tubuh pasien.
 Melindungi petugas dari infeksi yang ditularkan lewat darah/cairan
tubuh lain,serta infeksi yang ditularkan lewat udara.

Jenis Alat Yang Digunakan sebagi berikut :

 Masker
 Kaca mata
 Visor

Standar dan Syarat Pelindung Wajah yaitu Pelindung wajah harus


cukup besar untuk menutupi hidung,wajah bagian bawah,rahang,dan rambut
wajah,juga untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lain yang
terkontaminasi ke hidung atau mulut petugas kesehatan.

Alat Pelindung Wajah Harus mencakup sebagai berikut :

o Terbuat dari bahan yang tahan air agar efektif untuk pencegahan tersebut
o Harus dipergunakan selama prosedur tindakan yang diperkirakan bisa
membuat percikan darah atupun cairan tubuh pasien
o Alat pelindung harus sesuai dan cocok
o Tembus pandang
o Tidah mudah berembun
o Tidah mudah berbentuk bentuk

23
o Memperhatikan perlindungan maksimal,lapangan pandang dan
kenyamanan kerja

Indikasi Penggunaan Pelindung wajah sebagi berikut :

1. Masker tanpa kacamata


 Digunakan pada saat tertentu,mis merawat pasien
turbokolosis terbuka tanpa luka dibagian kulit atau
perdarahan
 Digunakan pada jarak 1 meter dari pasien
2. Masker kacamata,pelindung wajah dipakai bersamaan
 bila digunakan bersamaan, maka pasangan masker,
kacamata dan pelindung wajah terlebih dahulu sebelum
memakai baju pelindung,sarung tangan dan sebelum
melakukan cuci tangan bedah
 digunakan apabila bidan/petugas kesehatan lain akan
melaksanakan tindakan beresiko tinggi terpajan lama oleh
darah atau cairan tubuih lain.
D. Penutup kepala /topi

Tujuan dari pemakaian penutup kepala yaitu Mencegah jatuhnya


mikroorganisme yang ada di rambut da kulit kepala petugas terhadap alat-
alat daerah steril dan juga sebaliknya untuk melindungi kepala/rambut
petugas dari percikan bahan-bahan dari pasien.

Indikasi dalam pemakaian penutup kepala adalah :

 Digunakan pada pembedahan


 Menolong persalinan
 Harus menggunkana penutup kepala bagian petugas dan pasien di ruang
ICU

24
E. Gown/ Baju pelindung

Tujuan dalam pemakaian gown atau baju pelindung adalah


melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau
cairan tubuh lainnya yang dapat mencermati baju.

Jenis Baju Pelindung Di pandang dari Fungsi adalah :

o Seragam kerja
o Baju bedah
o Jasl laboratorium
o Celemek
o Apron

Jenis Baju Pelindung Dari Berbagai Aspek adalah :

o Gaun pelindung tidak kedap air


o Gaun pelindung kedap air
o Gaun steril
o Gaun non steril

F. Sepatu pelindung

Tujuan dari memakai sepatu pelindung adalah melindungi kaki


petugas dari tumpahan/percikan darah atau cairan ybuh lainnya dan
mencegah dari kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhan alat
kesehatan.

Indikasi dalam penggunaan sepatu pelindung :

a. Sepatu khusus yang digunakan oleh petugasyang bekerja diruangan


tertentu,mis ruang bedah dll
b. Sepatu hanya dipakai di ruang tersebut dan tidak boleh dipaakai
diruangan lain

25
Bahan dan Syarat Sepatu Pelindung adalah :

a. Sepatu karet/plastik yang menutup seluruh ujung dan telapak kaki


b. Tidak dianjurkanmenggunakan sandal

Langkah - langkah penggunaan Alat pelindung diri :

1. Pemakaian di ruangan biasa (seperti rawat inap, rawat jalan) :


 gaun/apron
 masker atau respirator
 goggles (kaca mata) atau face shield (perlindung wajah)
 sarung tangan
2. Pada ruangan untuk isolasi ketat :
 sepatu boot
 masker respirator
 topi
 gaun/apron
 sarung tangan ke I
 google/faceshiekl
 sarung tangan ke II
 masker bedah
3. Panduan CDC untuk pemulihan dan penggunaan alat pelindung diri
dilingkungan pelayanan kesehatan:
 sebelum dan setelah cuci tangan dengan bahan cuci tangan
yang mengandung chlorhexidine Gluconate
 baju pelindung
 masker or respirator
 Google (kacamata) atau face shield (pelindung wajah)
 sarung tangan

26
4. Cara - cara menggunakan gaun/ baju pelindung (1) :
 pilih gaun sesuai dengan jenis dan ukuran
 buka bagian belakang gaun/apron
 ikatlah bagian leher dan pinggang
 bila gaun terlalu kecil, gunakan 2 gaun:
 Gaun 1 diikat di bagian depan
 Gaun 2 diikat bagian belakang
5. Beberapa hal penting tentang APD (Alat pelindung diri )
 sarung tangan digunakan sebelum kontak dengan pasien
 gunakan secara hati-hati, hindari penyebaran/kontaminasi agen
infeksi
 buka dan buanglah secara hati-hati di pintu keluar atau
secepatnyapada saat keluar kamar pasien, lepas respirator
diluar kamar pasien
 lakukan hand hygiene secepatnya
6. Cara menggunakan pakaian pelindung dikamar operasi (2) :
 kenakan baju operasi sebagai lapisan pertama pakaian
pelindung
 kenakan sepatu bot
 kenakan masker
 kenakan penutup kepala
 kenakan celemek plastic
 kenakan sepasang sarung tangan pertama
 kenakan gaun luar
 kenakan alat pelindung mata
 kenakan sarung tangan kedua
7. Tindakan menggunakan baju pelindung steril (3):
Prinsip :
 cara pelindung dapat dipakai sendiri oleh pemakai atau
dipakaikan oleh orang lain

27
 satu gaun pelindung dipakai untuk menangani satu pasien
 cara memakai gaun pelindung/ bedah mengikuti proses tanpa
singgung, yaitu dengan mengusahakan agar bagian luar gaun
tidak bersinggungan langsung dengan kulit tubuh pemakai
 hanya bagian luar gaun saja yang boleh terkontaminasi, karena
tujuan pemakaian gaun untuk melindungi pemakai dari infeksi
 hanya bagian depan atas gaun bedah ( di atas pinggang) saja
yang dianggap steril dan boleh bersinggungan dengan lapangan
 celemek kedar air di pakai di sebelah
Persiapan :
 baju pelindung steril
 sarung tangan steril
 handuk /lap steril
 cuci tangan steril
Tindakan :
 keringkan tangan dan lengan satu persatu secara bergantian,
dimulai dari tangan, kemudian lengan bawah memakai handuk
steril
 jaga agar tangan tidak menyentuh gaun pelindung. Taruh lap/
handuk steril yang telah digunakan pada suatu wadah/ember
 ambil gaun pelindung dengan memegang bagian dalam, yaitu
pada bagian pundak
 biarkan gaun pelindung terbuka, masukkan tangan-tangan ke
dalam lubang
 upayakan posisi lengan terletak setinggi dada, menjauh dari
tubuh
 gerakkan lengan dan tangan ke dalam gaun pelindung
 tutup/ikat bagian belakang gaun dengan bantuan petugas lain
yang tidak steril

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat seseorang


dalam waktu 3x24 jam sejak mereka masuk rumah sakit (Depkes RI,
2003). Infeksi nosokomial diakibatkan oleh pemberian layanan
kesehatan dalam fasilitas perawatan kesehatan. Rumah sakit
merupakan satu tempat yang paling mungkin mendapat infeksi
karena mengandung populasi mikroorganisme yang tinggi dengan
jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik (Perry &
Potter, 2005).

3.2 Saran
Bagi seorang perawat harus mengikuti SOP dan aturan yang
telah dibuat baik Menkes RI maupun organisasi PPNI sehingga dapat
mencegah atau mengurangi terjadinya infeksi.

29
DAFTAR PUSTAKA

Maryunani,Anik. 2011. keterampilan dalam Praktik Klinik Kebidanan. Jakarta :


Trans Info Media
Potter , P.A & Peery, A.G 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan; Konsep,
proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. Alih Bhasa : Yusmin
Asih, dkk. Jakarta : EGC.
Rahma,futia. 2010. Infeksi nosocomial. Unila.

30