Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA

OLEH

KELOMPOK 1

1. AMELIA (001 SYE 16)


2. APRISKA ANDANI AMALIA (003 SYE 16)
3. BAYU CANDRA SUSANTO (004 SYE 16)
4. DINIA RAHMATILLAH (006 SYE 16)
5. HAERUM (008 SYE 16)
6. HIDAYATUL AZKIA (010 SYE 16)
7. LAELY HIDAYATI (012 SYE 16)
8. NI KOMANG AYUDHYA SAMANTHA (019 SYE 16)
9. NURHAQIQI (020 SYE 16)
10. R. DANANG HARRI PRABOWO (022 SYE 16)
11. RIAN INDRASUARI (024 SYE 16)
12. RIJAL HAMBALI (025 SYE 16)
13. SOLATYAH (031 SYE 16)
14. ZUHRUL CHAIRY (032 SYE 16)

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JEJANG DIII
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat dan
hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan Makalah Sistem Perlindungan Anak di Indonesia,
yang di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

Kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang telah membaca makalah
ini, demi perbaikan dimasa yang akan datang.

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN....................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................1
1.3 Tujuan .....................................................................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................3
2.1 Perlindungan Anak ................................................................................................................3
a. Asas dan Tujuan Perlindungan Anak ........................................................................... 3
b. Penelantaran Dan Penyalahgunaan Anak ................................................................. 4
2.2 Pengertian Dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia ............................................ 5
2.3 Kedudukan Anak Di Indonesia..................................................................................... 7
2.4 Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan Berbasis Sistem ................ 8
2.5 Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di Indonesia ............ 8
2.6 Standar Pelayanan Lembaga Pengasuhan Anak ......................................................... 10
a. Layanan Perlindungan Anak (Child Protective Services/ CPS) ......................................... 10
BAB III
PENUTUP ............................................................................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................................... 12
3.2 Saran..................................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia salah satu masalah besar yang marak diperbincangkan adalah tindak
kriminal terhadap anak. Mulai dari kekerasan, pembunuhan, penganiayaan dan bentuk
tindakan kriminal lainnya yang berpengaruh negatif bagi kejiwaan anak. Seharusnya
seorang anak diberi pendidikan yang tinggi, serta didukung dengan kasih sayang keluarga
agar jiwanya tidak terganggu.hal ini terjadi karena Banyak orangtua menganggap
kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian
dari mendisiplinkan anak.
Dalam menyiapkan generasi penerus bangsa anak merupakan asset utama. Tumbuh
kembang anak sejak dini adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan negara. Namun
dalam proses tumbuh kembang anak banyak dipengaruhi oleh berbagai factor baik
biologis, psikis, sosial, ekonomi maupun kultural yang menyebabkan tidak terpenuhinya
hak – hak anak.
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi anak telah disahkan Undang - Undang
(UU) Perlindungan Anak yaitu UU No. 23 Tahun 2002 yang bertujuan untuk menjamin
terpenuhinya hak – hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh berkembang dan
berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang
berkualitas berakhlak mulia dan sejahtera.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian perlindungan Anak
2. Apa pengertian dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia?
3. Apa Kedudukan Anak Di Indonesia?
4. Apa saja Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan Berbasis
Sistem ?
5. Apa saja Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di
Indonesia?
6. Apa Standar Lembaga Pelayanan Pengasuhan Anak ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian perlindungan Anak.
2. Untuk mengetahui pengertian dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia.
3. Untuk mengetahui kedudukan Anak Di Indonesia.

1
4. Untuk mengetahui Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan
Berbasis Sistem
5. Untuk mengetahui Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di
Indonesia.
6. Untuk mengetahui Standar Lembaga Pelayanan Pengasuhan Anak.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perlindungan Anak


Di Indonesia, Perlindungan Anak diatur dalam Undang Undang Nomor 23
Tahun 2002 yaitu segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-
haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 13 (1) Undang – undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
disebutkan setiap anak selama dalam pengasuhan orangtua, wali atau pihak lain yang
bertanggung jawab atas pengasuhan.
Selanjutnya dalam Pasal 11 UU No. 23 tahun 2002 disebutkan pula bahwa setiap
anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak
sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi
pengembangan diri. Anak adalah pemimpin masa depan siapapun yang berbicara tentang
masa yang akan datang, harus berbicara tentang anak-anak.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
Keppres Nomor 87 Tahun 2002 tentang rencana Aksi Nasional Penghapusan
Eksploitasi Seksual Komersial Anak, Keppres Nomor 88 tahun 2002 tentang
rencana aksi nasional penghapusan perdagangan perempuan dan anak, dan
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana
perdagangan orang.
Sedangkan Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada
anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi
dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza),
anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik
fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan
salah dan penelantaran.
a. Asas dan Tujuan Perlindungan Anak
Penyelenggaraan perlindungan anak berazaskan Pancasila dan
berlandaskan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi: non diskriminasi;
3
kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup,
dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak. Perlindungan
anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup,
tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan
martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak
mulia, dan sejahtera. Sejalan dengan tujuan tersebut, maka hakekat
perlindungan anak Indonesia adalah perlindungan keberlanjutan, karena
merekalah yang akan mengambil alih peran dan perjuangan mewujudkan cita-
cita dan tujuan bangsa Indonesia. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan
orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan
perlindungan anak.
b. Penelantaran Dan Penyalahgunaan Anak
Penelantaran anak dapat didefinisikan sebagai kelalaian dalam pengasuhan
oleh orang yang bertanggung jawab (misalnya, orangtua atau pengasuh lainnya),
yang mengakibatkan kerugians ignifikan atau risiko bahaya yang signifikan
terhadap anak dan remaja (Dubowitz, 2000). Penelantaran lebih lanjut dapat
didefinisikan sebagai kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak
dalam perawatan fisik, pengawasan, dan perlindungan, pemeliharaan,
pendidikan, dan kesehatan.
Kekerasan fisik dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang
ditimbulkan oleh orang yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak atau
remaja itu, yang mengakibatkan cedera fisik yang signifikan atau risiko cedera
tersebut (Dubowitz, 2000). Contoh tindakan yang ditimbulkan termasuk
meninju, memukul, menendang, menggigit, mengguncangkan, melempar,
menusuk, mencekik, membakar, atau memukul dengan tangan, tongkat, tali, atau
benda lain (Goldman & Salus, 2003).
Pelecehan seksual dapat didefinisikan sebagai tindakan seksual tanpa
kesepakatan, motivasi perilaku seksual yang melibatkan anak dan remaja, atau
eksploitasi seksual terhadap anak (Berliner, 2000) oleh orang yang bertanggung
jawab atas pengasuhan anak. Pelecehan seksual anak termasuk perilaku yang
lebih luas, seperti oral, anal penetrasi penis, atau alat kelamin, digital anal atau
genital atau penetrasi lain, kontak kelamin dengan non intrusi, cumbuan payudara
anak atau pantat, penampilan senonoh, supervisi yang tidak memadai atau tidak
dari kegiatan sukarela seksual anak, dan penggunaan anak atau remaja dalam
4
prostitusi, pornografi, kejahatan internet, atau kegiatan seksual eksploitatif
lainnya (Goldman & Salus, 2003).
Penganiayaan psikologis dapat didefinisikan sebagai pola berulang dari
perilaku atau kejadian ekstrim oleh orang yang bertanggung jawab atas
pengasuhan anak yang menyampaikan kepada anak bahwa ia tidak berharga,
cacat, tidak dicintai, tidak diinginkan, terancam, atau hanya bernilai jika
menemukan orang lain yang membutuhkan, oleh orang yang bertanggung
jawab atas pengasuhan anak (Masyarakat profesional Amerika tentang
Penyalahgunaan Anak, 1995). Penganiayaan psikologis meliputi baik tindakan
pelecehan terhadap anak atau remaja dan kelalaian dalam pengasuhan. Bentuk
penganiayaan psikologis termasuk penolakan secara angkuh (misalnya, perilaku
bermusuhan menolak dan merendahkan); teror (misalnya, ancaman untuk
menyakiti anak atau seseorang yang penting untuk anak), mengeksploitasi atau
merusak (misalnya, mendorong anak atau remaja untuk berpartisipasi dalam
merusak diri sendiri atau perilaku kriminal); menyangkal respon emosional
(misalnya, mengabaikan atau gagal untuk mengekspresikan kasih sayang), dan
mengisolasi (misalnya, membatasi anak mendapatkan pengalaman sesuai dengan
tahapan perkembangan) (Brassard & Hart, 2000).
2.2 Pengertian Dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia
Indonesia menghadapi masalah serius terkait dengan hak dan kesejahteraan anak-
anak. Hampir setengah dari anak-anak Indonesia berusia antara 13 dan 18 tahun putus
sekolah; hampir tiga juta anak terlibat dalam perburuhan anak berpotensi berbahaya, dan
sekitar 2,5 juta anak Indonesia menjadi korban kekerasan setiap tahun. Lebih dari 80%
anak-anak sedang menjalani proses peradilan berakhir di belakang bar dan jumlah yang
lebih besar adalah tanpa bantuan hukum. Statistik ini menggaris bawahi kebutuhan untuk
mengintensifkan dan memperkuat upaya saat ini untuk meningkatkan perlindungan anak
di Indonesia. 2008 review dari Pemerintah Program Negara Indonesia dan UNICEF
Kerjasama menyoroti hubungan antara kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan anak
dan pengembangan ekonomi nasional yang adil dan berkelanjutan.
Negara Indonesia, saat ini sedang mengembangkan kesejahteraan anak dan keluarga
yang fokus pada sistem untuk pencegahan dan merespon semua bentuk – bentuk
kekerasan pada anak. Hal ini merupakan refleski pada pendekatan baru pada upaya
perlindungan anak secara internasional. Kendati negara Indonesia telah mengembangkan
sebuah kerangka kerja progresif untuk hak-hak anak, hanya saja dalam pelaksanaannya
kurang mampu berkembang untuk perlindungan anak. Disisi lain, belum ada mandat
5
secara jelas bagi sebuah lembaga untuk mengelola pelayanan pencegahan dan merespon
masalah-masalah anak terkait dengan kewenangan dan akuntabilitas untuk melindungi
secara legal dan efektif.
Pendekatan dalam penyediaan layanan perlindungan anak berbasis sistem mulai
dikembangkan berbeda dengan pendekatan tradisional yang dijalankan saat ini. Dimana,
dalam pendekatan tradisional dilakukan berdasarkan respon yang berbasis kesejahteraan,
lebih dipimpin oleh NGOs, berorientasi pada kedaruratan, berbasis pada issu (seperti
perdagangan anak; peradilan anak), bekerja berdasarkan jaringan dan bukan sistem; dan
hanya terfokus pada kelompok anak yang termarjinalkan dan rentan, serta layanan
perlindungan anak lebih mengedepankan pada respon atau gejala saja.
Upaya untuk mengadopsi pendekatan ”membangun sistem” ini merupakan upaya
untuk mengkerangkakan kembali sebuah pendekatan pada anak yang membutuhkan atau
beresiko, memikirkan kembali bagaimana membangun strategi untuk perlindungan anak,
mendifinisikan apa itu persekutuan/kemitraan, bagaimana peran, tanggung jawab, serta
memprogramkan kembali intervensi dari masing masing stakeholder diperlindungan anak.
Orangtua, keluarga dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan
memelihara hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum.
Demikian pula dalam rangka penyelenggaraaan perlindungan anak, negara dan
pemerintah juga bertanggungjawab untuk menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi
anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal.
Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam
kandungan sampai anak berumur 18 tahun.
Komponen yang saling terkait antara lain adalah kerangka hukum dan kebijakan yang
kuat untuk PA, tersedianya anggaran yang memadai, koordinasi multi sektoral, sistem
layanan pencegahan yang ramah anak dan responsif, tenaga kerja PA yang profesional,
pengawasan dan regulasi, serta data dan informasi yang kuat tentang isu isu PA.
Dalam sistem perlindungan anak meliputi:
b. Pencegahan terhadap kekerasan, penelantaran, perlakukan salah dan eksploitasi
yang direspon secara efektif ketika hal tersebut muncul serta menyediakan
layanan yang dibutuhkan, rehabilitasi dan kompensasi terhadap para korban
c. Memperoleh pengetahuan tentang akar penyebab kegagalan pada perlindungan
anak dan sejauh mana mengetahui tentang kekerasan, penelantaran, eksploitasi
dan perlakukan salah terhadap anak disemua kondisi.
d. Mengembangkan kebijakan dan regulasi, yang mempengaruhi untuk tindakan
pencegahan dan penanganan, dan bagiamana memastikan perkembangannya.
6
e. Mendorong partisipasi anak baik laki dan perempuan, orang tua, wali dan
masyarakat, international dan nasional NGO serta masyarakat sipil.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mencantumkan anak dalam
konstitusinya. Hal ini merupakan tongak sejarah perjuangan untuk memajukan
penyelenggaraan perlindungan anak.
2.3 Kedudukan Anak Di Indonesia
Berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Anak mengatakan bahwa,
anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam/sebagai akibat perkawinan yang sah.
Masuk kepada substansi tentang nilai anak, ada beberapa substansi mengenai nilai anak di
Indonesia, antara lain:
a. Nilai anak dalam hubungannya dengan kebudayaan;
Sangat menentukan dan terkait dengan apakah anak itu semata-mata sebagai pewaris,
penerus nama keluarga, tenaga kerja murah, membantu ekonomi keluarga, jaminan
di hari tua, atau dikehendaki untuk dikasihi orang tuanya sehingga dapat berkembang
menjadi pribadi yang mandiri.
b. Arti atau nilai anak bagi orang tua;
Menurut majalah dharma Wanita 1993 No. 92 halaman 65 menyebutkan bahwa anak
adalah rahmat Allah, amanah Allah, barang gadaian, penguji iman, media beramal,
bekal di akhirat, unsur kebahagiaan, tempat bergantung di hari tua, penyambung cita-
cita, makhluk yang harus dididik.
c. Arti lain tentang anak;
Nilai jenis kelamin, bahwa anak itu terdiri dari dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan
perempuan dimana anak laki-laki cenderung mempunyai nilai yang lebih
menguntungkan daripada anak perempuan.
b. Anak mempunyai nilai positif dan negatif
Suatu contoh nilai positif anak: melanjutkan garis keturunan, pengikat suami istri,
membina kebahagiaan. Suatu contoh nilai negatif anak: kenakalan anak, biaya
menyekolahkan anak dan lain sebagainya.
Kedudukan Anak Menurut KUHPer data
a. Pengertian Anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah
b. Ketentuan Pasal 250 KUHPerdata : Tiap-tiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan
sepanjang perkawinan yang sah memperoleh suami ibu dari anak tersebut sebagai
anaknya.
c. Ada kemungkinan anak tersebut bukan dibenihkan oleh suami ibu dari anak tersebut.
d. Dengan demikian suami ibu tersebut dapat menyangkal keabsahan status anak.
7
2.4 Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan Berbasis Sistem
Pada pendekatan berbasis sistem lebih mengedepankan porsi terbesar pada layanan
primer (kampanye kesadaran, pendidikan, media, dll). Dimana, hal ini lebih banyak
dilakukan diranah masyarakat hingga menyentuh wilayah keluarga dan anak secara
langsung. Anak dan keluargalah menjadi sasaran utama dalam layanan berbasis sistem ini.
Dalam menyediakan layanan primer, KPAD/KPAD sudah memposisikan diri sebagai
institusi yang dekat dengan masyarakat khususnya di Desa/Kelurahan. KPAD/KPAK
merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk melakukan upaya upaya
pencegahan dengan membangun kesadaran masyarakat dengan tujuan terjadinya
perubahan sikap dan perilaku tentang dampak yang tidak diinginkan dari kekerasan
terhadap anak.
Selain itu, KPAD juga mengupayakan adanya kebijakan dan kertersediaan anggaran di
tingkat desa, membangun peran serta aktif dari anak, masyarakat dan pemerintah secara
bersama sama, serta membangun sistem rujukan ke tingkat kecamatan dan kabupaten.
KPAD/KPAK pun bekerja pada layanan sekunder, seperti melakukan mediasi dan
konsultasi bagi masalah masalah anak yang terjadi dlingkungan mereka tinggal.
Kepercayaan penuh masyarakat kepada KPAD, membuat KPAD harus bertindak demi
kepentingan terbaik anak. Membangun jejaring untuk proses penanganan anak lebih lanjut
kesistem rujukan baik di Tk Kecamatan/ kabupaten. Sebagian KPAD/KPAK yang
terbentuk saat ini sudah menjadi bagian dalam struktur layanan perlindungan anak di
Kecamatan/Kabupaten, yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam
layanan perlindungan anak dari Desa/Kelurahan – Kecamatan dan Kabupaten.Menilik
peran dan fungsi KPAD dengan lebih mengedepankan pada pencegahan, sangatlah
bersinergi pada pendekatan perlindungan anak masa kini dan merupakan bentuk nyata dari
sebuah pendekatan yang berbasis sistem yang langsung menyentuh ranah anak dan
keluarga.

2.5 Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di Indonesia


Kesejahteraan dan perlindungan anak di Indonesia telah diatur oleh berbagai
kebijakan dan program, antara lain mulai dari Undang Undang Dasar 1945, dimana
anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara. Undang Undang Republik
Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak telah mengatur tentang
hak anak yaitu “anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan
berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun dalam asuhan khusus
8
untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar”, dan tanggung jawab orangtua yaitu
bahwa “orangtua bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak”.
Pada tahun 1990 Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA)
melalui Keppres 36/1990 pada tanggal 25 Agustus 1990 dimana substansi inti dari
KHA adalah adanya hak asasi yang dimiliki anak dan ada tanggung jawab Negara-
Pemerintah-Masyarakat-dan Orangtua untuk kepentingan terbaik bagi anak agar
meningkatnya efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak secara optimal.
Kemudian KHA dikuatkan dengan terbitnya Undang Undang Nomor 23 Tahun
2002 Tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang Hak dan Kewajiban
Anak, serta kewajiban dan tanggug jawab negara, pemerintah, masyarakat,
keluarga, dan orang tua.
Di samping itu juga diatur tentang kuasa asuh, perwalian, pengasuhan dan
pengangkatan anak, serta penyelenggaraan perlindungan. Permasalahan anak telah
direspon oleh berbagai Kementerian/ Lembaga terkait, antara lain Kementerian
Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kesehatan, Pendidikan,
Agama, Dalam Negeri, Tenaga Kerja, Hukum dan HAM, Kepolisian, Pengadilan
Negeri, Lembaga donor dan lembaga kesejahteraan social di tingkat nasional maupun
wilayah. Di lingkup Kementerian Sosial (selanjutnya disebut Kemensos) untuk
mempercepat penanganan masalah sosial anak, pada tahun 2009 Direktorat
Kesejahteraan Sosial Anak mulai mengembangkan Program Kesejahteraan Sosial
Anak (PKSA) melalui kegiatan uji coba penanganan anak jalanan di lima wilayah
yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Yogyakarta.
PKSA dikuatkan lagi dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 Tentang
Program Pembangunan yang Berkeadilan, yang menetapkan PKSA sebagai program
prioritas nasional yang meliputi PKSA Balita, PKSA Terlantar, PKS-Anak Jalanan,
PKS-Anak yang Berhadapan dengan Hukum, PKS-Anak Dengan Kecacatan, dan
PKS-Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus.
Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden, telah ditetapkan Keputusan
Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 Tentang Panduan Umum Program
Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA), dan untuk operasionalisasi PKSA telah
diterbitkan Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)
melalui Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor: 29/RS-KSA/2011
Tentang Pedoman Operasional PKSA. Mulai tahun 2010, layanan PKSA telah
diperluas jangkauan target sasaran maupun wilayahnya.
PKSA dikembangkan dengan perspektif jangka panjang sekaligus untuk
9
menegaskan komitmen Kementerian Sosial untuk merespon tantangan dan upaya
mewujudkan kesejahteraan sosial anak yang berbasis hak. Perwujudan dari
kesungguhan Kementerian Sosial mendorong perubahan paradigma dalam
pengasuhan, peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan tanggung jawab
orangtua/ keluarga, dan perlindungan anak yang bertumpu pada keluarga dan
masyarakat, serta mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak yang dapat
merespon keberagaman kebutuhan melalui tabungan.
PKSA merupakan respon sistemik dalam perlindungan anak, termasuk
memberikan penekanan pada upaya pencegahan melalui lima komponen program
yaitu: 1) pemenuhan kebutuhan dasar, 2) aksesibilitas terhadap pelayanan sosial
dasar, 3) pengembangan potensi dan kreativitas anak, 4) penguatan tanggung jawab
orangtua, dan 5) penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak. Secara konseptual
PKSA lebih komprehensif dan berkelanjutan dibandingkan program pelayanan sosial
anak pada tahun-tahun sebelumnya karena sudah berdasarkan pendekatan kepada
anak, orangtua atau keluarga (family base care), dan kepada masyarakat yaitu
lembaga kesejahteraan sosial yang khusus menangani anak (LKSA).
Sebelumnya, pengasuhan anak dan masalah-masalah perlindungan anak hanya
difokuskan pada anak. Keluarga dan masyarakat belum banyak disentuh. Misalnya
penanganan anak terlantar, anak jalanan, anak berhadapan dengan hukum lebih
banyak diserahkan ke lembaga atau panti sosial dimana di dalam penanganannya
orangtua atau keluarga pengganti kurang dilibatkan. Anak lebih banyak dicabut dari
lingkungan keluarga. Isu ini dipertegas dengan banyaknya jumlah panti asuhan.

2.6 Standar Pelayanan Lembaga Pengasuhan Anak


a. Layanan Perlindungan Anak (Child Protective Services/ CPS)
Program layanan perlindungan anak ( CPS) merupakan program inti di
semua lembaga kesejahteraan anak yang mengupayakan keselamatan anak
bekerjasama dengan lembaga masyarakat. Lebih luas, CPS “mengacu pada
perangkat hukum yang sangat khusus, mekanisme pendanaan, respon lembaga
bersama pemerintah untuk melaporkan penyalahgunaan dan penelantaran
anak” (Waldfogel, 1999). Dasar program CPS berasal dari hukum yang
dibentuk di setiap negara yang mendefinisikan kekerasan dan penelantaran
anak serta menentukan bagaimana lembaga CPS harus menanggapi laporan
penganiayaan anak. Pekerja sosial di lembaga-lembaga CPS memiliki tanggung
jawab untuk mengatasi efek dari penganiayaan, menerapkan respon layanan
10
yang akan menjaga anak-anak dan remaja aman dari penyalahgunaan dan
penelantaran, serta bekerjasama dengan keluarga untuk mencegah kemungkinan
terjadinya penganiayaan di masa yang akan datang (Depanfilis & Salus 2003,
Departemen Kesehatan dan Layanan Manusia US, 1988).
Dalam mendukung kesejahteraan anak dan remaja para penulis (Altman;
Cohen, Hornsby, and Priester; Kemp, Allen- Eckard, Ackroyd, Becker, and
Burke; and Chahine and Higgins) dalam tulisannya Systemic Issues in Child
Welfare, fokus pada beberapa faktor kunci dalam bekerja dengan keluarga yaitu
melibatkan anak dan remaja, keluarga dan masyarakat dalam proses asesmen
melalui konfrensi tim. Filosofi layanan perlindungan anak menurut De Panfilis
dan Salus 2003, Lembaga Layanan Perlindungan Anak bekerja berdasarkan
keyakinan filosofis bahwa setiap anak memiliki hak untuk pengasuhan dan
pengawasan yang memadai dan bebas dari penyalahgunaan, penelantaran, dan
eksploitasi. Hukum melindungi anak-anak dan remaja, menganggap bahwa itu
adalah tanggung jawab orangtua untuk memperhatikan kebutuhan fisik,
mental, emosional, dan kesehatan anak-anak mereka terpenuhi secara
memadai.
Asumsi lainnya adalah bahwa Layanan Perlindungan Anak harus campur
tangan ketika orangtua meminta bantuan atau gagal, atau lalai dalam
memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka dan menjaga mereka agar aman
dari penyalahgunaan atau penelantaran, seperti yang didefinisikan oleh undang-
undang negara sipil (Gerald P. Mallon and Peg Mc Cartt Hess, 2005).

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Indonesia menghadapi masalah serius terkait dengan hak dan kesejahteraan anak-
anak. Hampir setengah dari anak-anak Indonesia berusia antara 13 dan 18 tahun putus
sekolah; hampir tiga juta anak terlibat dalam perburuhan anak berpotensi berbahaya, dan
sekitar 2,5 juta anak Indonesia menjadi korban kekerasan setiap tahun. Lebih dari 80%
anak-anak sedang menjalani proses peradilan berakhir di belakang bar dan jumlah yang
lebih besar adalah tanpa bantuan hukum. Statistik ini menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengintensifkan dan memperkuat upaya saat ini untuk meningkatkan perlindungan anak
di Indonesia. 2008 review dari Pemerintah Program Negara Indonesia dan UNICEF
Kerjasama menyoroti hubungan antara kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan anak
dan pengembangan ekonomi nasional yang adil dan berkelanjutan.
3.2 Saran
Setelah menulis makalah ini, penulis menyarankan agar sistem perlindungan anak di
Indonesia harus ditingkatkan lagi, mengingat banyaknya resiko yang akan terjadi pada
anak-anak di Indonesia karena kesalahan penggunaan Sistem perlindungan anak di
Indonesia ini.

12
DAFTAR PUSTAKA

Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia.


Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi Mengenai Hak-
UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI bekerjasama dengan Pusat Kajian


Perlindungan Anak Universitas Indonesia dan Bank Dunia. (2011). Membangun
Sistem Perlindungan Anak di Indonesia, Sebuah Kajian Pelaksanaan PKSA
Kementerian Sosial RI dan Kontribusinya terhadap Sistem Perlindungan Anak.

Hikmat, Hari. (2006). Pedoman Analisis Kebijakan Kesejahteraan Sosial, Pada Tgl 05
Maret 2008 Disampaikan dalam Kegiatan Finalisasi Pedoman Analsis Kebijakan
Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

Kementerian Sosial RI, Badan Pusat Statistik. (2012). Profil PMKS, Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial, INDONESIA 2011. Pusat Data dan Informasi
Kementerian Sosial RI.

13