Anda di halaman 1dari 31

CRITICAL BOOK REVIEW

MK. PROFESI KEPENDIDIKAN

PRODI S1 P.MTK-FMIPA

SKOR NILAI:

PROFESI KEPENDIDIKAN

“Perspektif Guru Profesional”


(Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, 2015)

NAMA : WIDYA RAMADHANI


NIM : 4183111050
DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Si/
Jubaidah Hasibuan, S.Pd. M.Pd.
MATA KULIAH : PROFESI KEPENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
MARET, 2019
EXCECUTIVE SUMMARY

Critical Rook Riview dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Profesi kependidikan , dalam penyusunan makalah penulis mengunakan 3 buku yang
terdiri atas 1 buku utama yang berjudul PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif Guru
Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015 dan 2 buku
pembanding lainnya yakni dengan judul PROFESI KEPENDIDIKAN oleh Yasaratodo
Wau, dkk tahun terbit 2019 dan PROFESI PENDIDIKAN oleh David Sigalingging tahun
2011.

Sistematika penyusunan makalah pun mengikuti sistematika yang ada dalam


kontrak perkuliahan Profesi Kependidikan dengan dosen mata kuliah Pengumpulan
dalam bentuk hard copy dengan lampiran.

makalah ini juga sangat menarik dibaca di kalangan masyarakat dan para
orang tua karena seperti yang kita tahu bahwa pendidikan itu bukan hanya masalah
seorang guru atau pendidik semata melainkan peran masyarakat dan keluarga sangat
penting, karena guru hanya sebgai fasilitator untuk mengarahkan pengetahuan yang
lebih baik dan prilaku anak didik yang baik.

Mungkin makalah ini masih jauh dari kata sempurna , tapi tidak ada salahnya
untuk dicoba membaca isi dari makalah ini karena makalah ini mancakup tentang
profesi kependidikan yang didalamnya memiliki materi .

Profesi berasal dari bahasa latin "Proffesio" yang mempunyai dua pengertian
yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas
menjadi: kegiatan "apa saja" dan "siapa saja" untuk memperoleh nafkah yang
dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi
berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus
dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.

Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar
berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang.

Jadi pengertian profesi pendidikan itu sendiri adalah satu kegiatan atau
pekerjaan sesuai keahliannya yang diberikan atau diajarkan kepada peserta didik
agar bisa berperan aktif dalam hidupnya sekarang dan masa datang.

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. yang hingga saat ini masih
memberikan nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan yang luar
biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas “CRITICAL BOOK REVIEW”.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu mata kuliah saya yaitu “PROFESI
KEPENDIDIKAN”.
Tugas Critical Book Review ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua khususnya dalam hal Profesi Kependidikan.
Saya menyadari bahwa tugas Critical Book Review ini masih jauh dari kesempurnaan.
Apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, Saya mohon
maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman saya masih terbatas,
karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya yang belum seberapa. Karena itu
saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun
guna menyempurnakan tugas ini. Saya berharap semoga tugas Critical Book Review
ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi saya khususnya. Atas perhatiannya saya
mengucapkan terimakasih.

Medan, Maret 2019

Widya Ramadhani

ii
DAFTAR ISI

EXCECUTIVE SUMMARY .................................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1


A. Rasionalisasi pentingnya CBR .......................................................................................... 1
B. Tujuan penulisan CBR.......................................................................................................... 1
C. Manfaat CBR ............................................................................................................................ 1
D. Identitas Buku yang di review .......................................................................................... 2

BAB II. RINGKASAN ISI BUKU ......................................................................................................... 3


A. BAB 1: HAKIKAT PROFESI GURU ............................................................................... 3-4
B. BAB 2: BIMBINGAN DAN KONSELING ...................................................................... 5-6
C. BAB 3: ADMINISTRASI SEKOLAH ............................................................................... 7-8
D. BAB 4: SUPERVISI PENDIDIKAN ...............................................................................9-10
E. BAB 5: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH ......................................................... 11-12

BAB III. PEMBAHASAN .................................................................................................................... 13


A. Pembahasan Isi Buku .................................................................................................. 13-15
B. Kelebihan dan Kekurangan Buku Yang diriview ..................................................... 16

BAB IV. PENUTUP .............................................................................................................................. 17


A. Kesimpulan ........................................................................................................................... 17
B. Rekomendasi ......................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 18

LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi pentingnya CBR

Critical book review adalah tugas menulis yang mengharuskan kita untuk
meringkas dan mengevaluasi tulisan. Adapun dalam penuntasan tugas Critical Book
Review ini mahasiswa dituntut dalam meringkas, menganalisa dan membandingkan
serta memberikan kritik berupa kelebihan dan kelemahan pada suatu buku
berdasarkan fakta yang ada dalam buku tersebut, sehingga dengan begitu mahasiswa
akan menjadi terbiasa dalam berpikir logis dan kritis serta tanggap terhadap hal-hal
yang baru yang terdapat dalam suatu buku.

Penugasan Critical Book Review ini juga merupakan bentuk pembiasaan agar
mahasiswa terampil dalam menciptakan ide-ide kreatif dan berfikir secara analitis
sehingga pada saat pembuatan tugas-tugas yang sama mahasiswa pun menjadi
terbiasa serta semakin mahir dalam penyempurnaan tugas tersebut. Pembuatan
tugas Critical Book Review ini juga melatih, menambah, serta menguatkan
pemahaman mahasiswa betapa pentingnya mengkritikalisasi suatu karya
berdasarkan data yang faktual sehingga dengan begitu tercipta lah mahasiswa-
mahasiswa yang berkarakter logis serta analisis.

B. Tujuan penulisan CBR


1. Memenuhi tugas mata kuliah profesi kependidikan
2. Menambah wawasan dan pengetahuan kita dalam mengkritisi suatu buku
3. Meningkatkan kreativitas serta ide-ide dalam mengkritisi suatu buku
4. Menguatkan pemahaman kita betapa pentingnya mengkritikalisasi buku

C. Manfaat CBR
1. Memperoleh hasil dari tugas mata kuliah profesi kependidikan
2. Memperoleh wawasan serta pengetahuan dalam mengkritisi suatu buku
3. Menumbuhkan pola pikir kreatif dalam membandingkan buku yang satu
dengan yang lain.

1
4. Melatih dan membiasakan kita untuk semakin mahir dalam mengkritisi suatu
karya/buku.

D. Identitas buku

1. Judul : PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif Guru Profesional”


2. Edisi : pertama (I)
3. Pengarang : Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D.
Dr. Hj. Aslamiah Ahmad, M.Pd., Ph.D
Sulistiyana, S.Pd., M.Pd.
4. Penerbit : PT RajaGrafindo Persada
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tahun terbit : 2015
7. ISBN : 978-979-769-914-7

2
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. BAB 1: HAKIKAT PROFESI GURU

guru dalam pemahaman umum adalah mereka yang mengajarkan ilmu


pengetahuan di sekolah. Sering pula kita dengan istilah guru dikaitkan dengan istilah
seseorang yang dapat digugu (GU) dan ditiru (RU). Istilah digugu dan ditiru ini
mengindikasikan guru adalah seorang yang memiliki kesempurnaan dalam aspek
moral.
suatu jabatan/pekerjaan dapat disebut sebagai suatu profesi apabila
memenuhi 4 (empat) kriteria yaitu:
a. Dipersiapkan melalui pendidikan khusus untuk menguasai bidang ilmu yang
mendasari pendekatan, strategi, teknik dan prosedur kerja.
b. Adanya layanan unik dan pengakuan masyarakat.
c. Memiliki kode etik profesi
d. Memiliki organisasi profesi
Profesi guru bukan sekadar pekerjaan khusus, tetapi pekerjaan yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Expertise (keahlian)
2. Responsibility (tanggung jawab)
3. Corporation (kesejawatan)
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik,mengajar dan melatih. Mendidik
berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti
meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan
melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterammpilan pada siswa.
McNergney dan Carol A. Carrier (1981) menyatakan ada dua tugas dan
perilaku guru yang merupakan refleksi profesional dalam tugas, yaitu mempunyai
komitmen yang tinggi terhadap siswa (commitment to the student) dan mempunyai
komitmen yang tinggi terhadap profesi itu sendiri (commitment to the profession).
Glickman (1987) mengungkapkan dua indikator yang dapat menggambarkan
refleksi sikap dan perilaku profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas profesi

3
keguruannya. Kedua indikator tersebut adalah : 1) Teacher commitment dan 2)
Teacher’s ability to think abstractly.
Seorang guru dapat dikatakan memiliki komitmen yang baik dalam profesinya
sebagai guru apabila dia mampu menunjukkan perilaku dan sikap berikut ini dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari, yaitu:
a. Disiplin dalam penggunaan waktu mengajar, waktu datang dan pulang.
b. Disiplin, energik dan antusias dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembannya
kepadanya (tidak tampak loyo atau terpaksa).
c. Disiplin dalam meningkatkan pertumbuhan profesinya (professional growth),
dalam arti guru selalu dan akan terus berusaha meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya dalam melaksanakan tugas.
d. Perhatian yang tinggi terhadap siswa yang ditunjukkan dalam bentuk
berkomunikasi secara intensif dengan siswa, membantu siswa dalam belajar,
mendorong dan menggalakkan keterlibatan siswa dalam belajar.

Sertifikasi guru adalah upaya untuk mengevaluasi kinerja guru dalam rangka
menuju guru yang profesional, karena itu bentuk penghargaan yang diberikan kepada
pemegang kompetensi profesional adalah reward dalam bentuk tunjangan 1 kali gaji
pokok.
Kode etik guru bersumber dari nilai-nilai agama dan Pancasila, nilai-nilai
kompetensi pedagogik, nilai kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan
kompetensi profesional. Di samping itu, kode etik juga bersumber dari nilainilai jati
diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan kesehatan
jasmaniah, emosional, intelektual, sosial dan spiritual.
Di Indonesia telah dikenal berbagai organisasi profesi yang telah kuat dan
mapan sebagai organisasi profesi. Beberapa organisas profesi tersebut seperti
organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Advokat Indonesia (IAI), Ikatan
Pembimbing Indonesia (IPBI) dan lain- lain. Di Indonesia ada dua organisai profesi
yang terkait dengan profesi keguruan/kependidikan yang sudah lama hadir adalah
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia
(ISPO).

4
B. BAB 2: BIMBINGAN DAN KONSELING

secara harfiah istilah “guidance” (bimbingan) dari akar kata “guide” yang
berarti (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to
manage), (4) menyetir (to steer), (5) menunjukkan jalan (showing the way), (6)
memimpin (leading), (7) memberikan petunjuk (giving instruction), (8) mengatur
(regulating), (9) dan memberi nasihat (giving advice) (winkel, 1991). Sedangkan
istilah kedua yaitu counseling dalam bahasa Indonesia disebut konseling mempunyai
makna membantu seseorang untuk menemukan jalan terbaik dalam mengatasi
permasalahan yang dihadapinya.
Secara singkat bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai sebuah
pelayanan dan pemberian bantuan kepada peserta didik baik individu/ kelompok
agar tumbuh kemandirian dan perkembangan hubungan pribadi, sosial, belajar,
karier dapat secara optimal.
Tujuan Pendidikan pada akhirnya adalah pembentukan manusia yang utuh
dan mandiri, maka proses pendidikan harus dapat membantu siswa mencapai
kematangan emosional dan sosial, sebagai individu dan anggota masyarakat selain
mengembangkan kemampuan inteleknya. Bimbingan dan konseling menangani
masalah-masalah atau hal-hal di luar bidang garapan pengajaran, tetapi secara tidak
langsung menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah itu.
Kegiatan ini dilakukan melalui layanan secara khusus terhadap semua siswa agar
dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya secara penuh
(Mortensen & Schemuller, 1969).
Peran bimbingan dan konseling di dalam meningkatkan mutu pendidikan
terletak pada bagaimana bimbingan dan konseling itu membangun manusia yang
seutuhnya dari berbagai aspek yang ada di dalam diri peserta didik.
Bimbingan konseling bertugas untuk membantu siswa dalam hal
perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis), mengenal diri sendiri
dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang
maupun kelak, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun
rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu, serta mengatasi masalah
pribadi yang mengganggu belajar di sekolah atau hubungan dengan orang lain, atau
yang mengaburkan cita-cita hidup (Kartono, 2007).

5
Pelayanan bimbingan dan konseling memiliki beberapa fungsi, yaitu (1) fungsi
pencegahan (preventif), (2) pemahaman, (3) pengentasan, (4) pemeliharaan,(5)
penyaluran, (6) penyesuaian, (7) pengembangan dan (8) perbaikan (kuratif), serta
(9) advokasi.
Adapun rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling mencakup prinsip
sasaran layanan, prinsip permasalahan individu, prinsip program pelayanan dan yang
terakhir prinsip tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Apabila keempat prinsip tersebut
dilaksanakan secara utuh maka layanan bimbingan dan konseling akan tercapai
sesuai keinginan konselor dan klien.
Secara teoretik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum
terdapat enam aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan
konseling, yaitu landasan filosofis, religius, psikologis, sosial-budaya, pedagogis, dan
ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi.
Menurut Winkel (1992): “kode etik jabatan ialah pola ketentuan/aturan/ cara
yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi”.
Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik
bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan
dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan
konseling.
2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil
yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau
wewenangnya. Karena itu, pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang
serta tanggung jawabnya.
Kepribadian utama yang harus dimiliki oleh seorang konselor (guru
pembimbing) adalah terpercaya, sehingga menjadi agen yang membawa pengaruh
positif pada pertumbuhan dan perkembangan helper (individu). Kepribadian
terpercaya akan teraktualisasikan dalam sikap: mampu menjaga rahasia, terbuka,
jujur, tulus, autentik dalam bertindak, memandang dan menerima individu apa
adanya, perhatian, percaya diri, dan hangat.

6
C. BAB 3: ADMINISTRASI SEKOLAH
Administrasi menurut asal katanya berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari
AD+MINISTRARE yang berarti melayani, membantu dan memenuhi. Dari perkataan
itu terbentuk kata benda ADMINISTRATIO dan kata sifat ADMINISTRATIVUS yang
kemudian dikenal dalam bahasa lnggris ADMINISTRATION. Perkataan ini selanjutnya
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Administrasi.
Pengertian administrasi tidak lebih dari kegiatan atau pekerjaan tulis menulis,
catat mencatat, mengirim dan menyimpan data keterangan (agenda) yang dilakukan
oleh sejumlah personel.
administrasi pendidikan adalah keseluruhan proses pengelolaan dan
pengendalian usaha kerja sama sejumlah orang pada lembaga pendidikan yaitu
kepala sekolah, guru, murid, karyawan bahkan orangtua murid dengan
mendayagunakan berbagai sumber dan metode serta alat tertentu untuk mencapai
tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Administrasi pendidikan yang baik akan memberikan dampak yang sangat
besar bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas kinerja lembaganya. Hal
ini berarti administrasi/manajemen yang baik akan dapat membawa pada
peningkatan mutu hasil lulusan bagi lembaga pendidikan seperti sekolah.
fungsi manajemen yang dikemukakan oleh para ahli, menurut cara pandang
dan latar belakang filosofis mereka masing-masing.
1. Fayol : Planning, organizing, commanding, coordinating and controlling.
2. GulHck : Planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting and
budgeting
3. Newman: Planning, organizing, assembling resource, directing and controlling.
4. Sears : Planning, organizing, allocating, coordinating and evaluating.
5. Assa : Planning, allocating, stimulating, coordinating, and evaluating.
6. Gregg: Decision making, planning, organizing, communication, influencing,
coordinating and evaluating.
7. Campbell: Decision making, programming, coordinating, and appraising.
fungsi yang memang mutlak ada dalam setiap kegiatan proses manajemen
yaitu planning, organizing, directing, coordinating, controlling dan communicating.
Planning (perencanaan) adalah proses pemikiran tentang bagaimana kegiatan yang

7
akan dilakukan dimasa yang akan datang dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan
yang ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Organizing (Pengorganisasian) diartikan sebagai pengaturan penyelesaian
kegiatan berdasarkan aturan yang berlaku. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai
kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh
kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama. Directing (Pengarahan) dapat
diartikan sebagai proses kegiatan memberi petunjuk secara operasional kepada
semua anggota staf yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai, tugas dan
tanggung jawab masing-masing, waktu yang tersedia untuk melakukan kegiatan
(target waktu) serta memberikan gambaran umum tentang pelaksanaan kegiatan
secara keseluruhan.
Coordinating (Pengoordinasian) dapat diartikan sebagai kegiatan membawa
orang-orang, mempersatukan sumbangan masing-masing orang atau unit,
mempersatukan metode, bahan dan sumber lain ke arah hubungan kerja yang
harmonis, saling melengkapi dan saling menunjang sehingga semua pekerjaan yang
sedang dilakukan semua terarah kepada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
secara efektif dan efisien.
Controlling (Pengawasan) berarti kegiatan memonitor, mengobservasi dan
melihat untuk membandingkan apakah kegiatan yang sedang dilakukan sesuai
dengan apa yang seharusnya dilakukan. Dengan arti lain pengawasan juga berarti
mengukur tingkat efektivitas kerja personel dan tingkat efisiensi penggunaan metode
dan alat dalam usaha mencapai tujuan.
Communicating (pengomunikasian) sering diartikan sebagai proses
penyempurnaan informasi, ide, gagasan, pendapat dan saran-saran bahkan kritik
secara timbal balik dalam rangka melancarkan proses kerja sama untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan.
Beberapa aspek yang tergolong dalam kegiatan pengelolaan dalam
administrasi pendidikan, khususnya dalam bidang garapan administrasi sekolah yang
mencakup: Pengelolaan pengajaran, pengelolaan kepegawaian, pengelolaan
kesiswaan, pengelolaan keuangan, pengelolaan alat pengajaran, pengelolaan
perlengkapan dan pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat

8
D. BAB 4: SUPERVISI PENDIDIKAN
Sebagai seorang yang bertugas mengajar dan sekaligus mendidik, akan
melakukan berbagai macam kegiatan secara bersamaan demi tercapainya tujuan
yang telah dirumuskan dalam setiap pembelajaran di kelas. Untuk itu guru harus
memainkan peranan atau fungsi sebagai:
1. Pembimbing
2. Pembaharu model (inovator)
3. Konselor
4. Pelatih
5. Dan lain-lain fungsi yang tidak ringan
perlunya pembinaan guru pada saat dia sudah bertugas sebagai guru secara
nyata di lapangan pendidikan (sekolah-sekolah) yaitu sebagai berikut: guru (lebih-
lebih bagi mereka yang baru bertugas) masih memiliki kemampuan yang terbatas
untuk mengendalikan dan menganalisis tingkah laku siswanya dalam proses belajar
mengajar. Proses belajar mengajar adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga
guru sulit memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya pada saat dia
sedang melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Karena itu adanya bantuan
dari kepala sekolah/supervisor atau pengawas sekolah sangat membantu mereka
untuk dapat mengobservasi, merefleksi dan menganalisis tingkah laku mengajarnya
tersebut.
Istilah supervisi yang berasal dari bahasa Inggris terdiri dari dua kata, yaitu:
super yang artinya di atas dan vision mempunyai arti melihat, maka secara
keseluruhan supervisi diartikan sebagai ‘’melihat dari atas’’. Dengan pengertian itulah
maka supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala
sekolah -- sebagai pejabat yang berkedudukan di atas -- atau lebih tinggi dari guru-
untuk melihat atau mengawasi pekerjaan guru.
Berpijak pada batasan pengertian tersebut maka sedikitnya ada tiga fungsi
supervisi, yaitu: (1) sebagai kegiatan meningkatkan mutu pembelajaran (2) sebagai
pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur-unsur yang terkait dengan
pembelajaran, dan (3) sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.
Pendekatan supervisi sering dikelompokkan menjadi dua pendekatan, yaitu:
pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan tidak langsung (indirect

9
contact). Pendekatan supervisi pada dasarnya adalah pendekatan dalam proses
pembinaan guru yang berkaitan dengan bagaimana seorang Pembina berinteraksi
dengan orang-orang yang dibina agar proses pembinaan dapat mencapai hasil yang
optimal.
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat
langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, dalam pendekatan ini pengaruh
perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah
cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku
supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu
mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru.
Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara
pendekatan direktif dan non direktif menjadi suatu pendekatan baru. Pada
pendekatan ini, baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk
menetapkan struktur proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan
tentang masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran.
Dalam kaitan ini ada beberapa ahli mengelompokkan karakter guru dalam tiga
bagian, yang menggambarkan sejauhmana efektivitas guru dalam melaksanakan
pembelajaran. Kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1. Guru yang tidak efektf dalam melaksanakan pembelajaran menurut
pertimbangan/penilaian supervisor, tapi menurut guru itu sendiri dia efektif.
2. Guru yang menurut pertimbangan supervisor tidak efektif, tetapi menurutkepala
sekolah dan teman sejawatnya (kolega sesama guru) guru yang bersangkutan
dikatakan sebagai guru yang efektif.
3. Kategori ketiga adalah guru yang tidak efektif menurut penilaian supervisor,
kepala sekolah dan koleganya. Bahkan guru itu sendiri juga merasa bahwa
dirinya kurang efektif dalam mengajar.
Menurut Glickman (1981) supervisor dalam proses supervise pengajaran pada
dasarnya digolongkan ke dalam 10 perilaku yaitu: listening, clarifying, encouraging,
presenting, problem solving, negotiating, demonstrating, standardization, dan
reinforcing.

10
E. BAB 5: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Manajemen berbasis sekolah pada dasarnya adalah suatu model


penyelenggaraan pendidikan yang memberikan otonomi luas kepada sekolah untuk
mengembangkan program pengembangan sekolah (School Development)
berdasarkan kebutuhan nyata sekolah, serta memberdayakan sekolah secara lebih
optimal sesuai dengan potensi sekolah masing-masing, sehingga diharapkan sekolah
akan lebih cepat dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya masing-
masing.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan strategi untuk mencapai
sekolah yang efektif, karena itu MBS bukanlah tujuan akhir tetapi merupakan sarana
dan strategi untuk mencapai tujuan. MBS adalah suatu konsep di mana kekuasaan
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan diletakkan pada tempat
yang paling dekat dengan terjadinya proses pembelajaran, dalam hal ini berarti
sekolah.
Secara khusus penerapan Manajemen Berbasis Sekolah ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam
mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya
manusia maupun sumber daya lainnya.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama semua
warga sekolah.
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua murid, masyarakat,
pemerintah dan unsur lainnya tentang mutu pelayanan di sekolah serta mutu
sekolah itu sendiri.
4. Meningkatkan suasana kompetisi yang sehat dan positif antar sekolah tentang
penyelenggaraan sekolah yang bermutu dan mutu sekolah yang dapat dicapai
oleh masing-masing sekolah.
Ada beberapa prinsip manajemen berbasis sekolah yang perlu mendapatkan
perhatian seorang kepala sekolah atau lembaga yang terkait dengan pembinaan
sekolah, agar implementasi MBS dapat lebih optimal. Prinsip-prinsip tersebut adalah
keterbukaan, kebersamaan, berkelanjutan, menyeluruh, pertanggung jawaban,

11
demokratis, kemandirian sekolah, berorientasi pada mutu, pencapaian standar
minimal, dan pendidikan untuk semua.
Keberhasilan manajemen berbasis sekolah dalam meningkatkan mutu
lulusannya, pada dasarnya masih ditentukan oleh berbagai faktor baik faktor
struktural maupun non struktural. Faktor struktural mencakup: komitmen politik
pemerintah daerah dan peran pemerintah daerah dan kota (Dinas Pendidikan) dalam
penataan dan pembinaan kelembagaan, peraturan pemerintah daerah tentang
pendidikan, kemampuan pemerintah daerah dalam mengakomodasi aspirasi
masyarakat daerah akan pendidikan, kurikulum dan keuangan sekolah (anggaran
belanja yang tersedia untuk pendidikan). Sedangkan faktor non strukural mencakup:
tersedianya anggaran sekolah, sarana dan pra sarana sekolah, kelembagaan sekolah,
manajemen sekolah dan manajemen kepala sekolah, SDM sekolah yang tersedia
(termasuk kualitas SDM yang ada), partisipasi orangtua siswa dan masyarakat
lingkungan sekolah, pelaksanaan proses pembelajaran serta kultur masyarakat
lingkungan sekolah.
Keberhasilan Implementasi manajemen berbasis sekolah, pada dasarnya dapat
dilihat dari sejauhmana sekolah mampu tumbuh dan berkembang dari sekolah oleh
sekolah dan untuk sekolah bersama-sama masyarakatnya yang diindikasikan oleh
adanya prestasi sekolah baik prestasi akademik maupun prestasi non-akademik.

12
BAB III

PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN ISI BUKU


a. Pembahasan bab 1 tentang hakikat profesi guru
Pada buku yang diriview, yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif
Guru Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015, hakikat
profesi guru berupa tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan
melatih. Sedangkan pada buku pembanding yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN oleh
Yasaratodo Wau, dkk tahun terbit 2019, hakikat profesi guru berupa guru sebagai
jabatan dan/atau pekerjaan adalah jenis pekerjaan yang menuntut setiap orang ingin
mengerjakannya memiliki keahlian, kecakapan, ketrampilan, di bidang kependidikan
dan pembelajaran untuk memberikan pelayanan yang professional kepada peserta
belajar. Dan pada buku PROFESI PENDIDIKAN oleh David Sigalingging, hakikat
profesi guru berupa Tenaga kependidikan secara umum adalah orang-orang yang
peduli dengan masalah-masalah kependidikan dan memiliki tugas serta wewenang
tertentu di bidang kependidikan.
Berdasarkan ketiga pendapat dari ketiga buku di atas, dapat disimpulkan
bahwa hakikat profesi guru berupa tenaga kependidikan atau guru merupakan jenis
pekerjaan yang memberikan pelayanan professional kepada peserta belajar yang
meliputi mendidik, mengajar serta melatih.

b. Pembahasan bab 2 tentang bimbingan dan konseling

Pada buku yang diriview, yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif


Guru Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015,
bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai sebuah pelayanan dan pemberian
bantuan kepada peserta didik baik individu/ kelompok agar tumbuh kemandirian
dan perkembangan hubungan pribadi, sosial, belajar, karier dapat secara optimal.
Sedangkan pada buku pembanding yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN oleh
Yasaratodo Wau, dkk tahun terbit 2019, bimbingan dan konseling merupakan proses
pertemuan langsung antar konselor dengan konseli yang bermasalah, dimana
pembimbing membantu konseling dalam mengusahakan perubahan sikap dan

13
tingkah laku. Sedangkan pada buku PROFESI PENDIDIKAN oleh David Sigalingging,
bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang terintegrasi dalam
keseluruhan proses belajar mengajar. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan
kepada individu/ kelompok agar mereka dapat mandiri. Sedangkan konseling sebagai
salah satu usaha memperoleh konsep diri pada individu siswa.
Berdasarkan ketiga pendapat dari ketiga buku di atas, dapat disimpulkan
bahwa bimbingan dan konseling merupakan suatu bantuan atau pelayanan dalam
proses belajar mengajar agar individu siswa dapat mandiri.

c. Pembahasan bab 3 tentang administrasi sekolah


Pada buku yang diriview, yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif
Guru Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015,
administrasi pendidikan adalah keseluruhan proses pengelolaan dan pengendalian
usaha kerja sama sejumlah orang pada lembaga pendidikan yaitu kepala sekolah,
guru, murid, karyawan bahkan orangtua murid dengan mendayagunakan berbagai
sumber dan metode serta alat tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan secara
efektif dan efisien. Sedangkan pada buku pembanding yaitu buku PROFESI
KEPENDIDIKAN oleh Yasaratodo Wau, dkk tahun terbit 2019, tidak dijelaskan
tentang materi administrasi pendidikan. Dan pada buku PROFESI PENDIDIKAN oleh
David Sigalingging, administrasi pendidikan merupakan sub sistem dari sistem
pendidikan di sekolah yang bertujuan menunjang pencapaian tujuan pendidikan
secara efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua pendapat dari ketiga buku di atas, dapat disimpulkan
bahwa administrasi sekolah atau administrasi pendidikan merupakan proses
pengelolaan dan pengendalian usaha kerja sama sejumlah orang pada lembaga
pendidikan yang bertujuan menunjang pencapaian tujuan pendidikan secara efektif
dan efisien

d. Pembahasan bab 4 tentang Supervisi Pendidikan


Pada buku yang diriview, yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif
Guru Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015,
supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala

14
sekolah -- sebagai pejabat yang berkedudukan di atas -- atau lebih tinggi dari guru-
untuk melihat atau mengawasi pekerjaan guru. Sedangkan pada buku pembanding
yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN oleh Yasaratodo Wau, dkk tahun terbit 2019,
supervisi adalah adanya kebutuhan akan landasan pembinaan situasi pembelajaran
dengan cara membimbing guru dalam memilih metode mengajar yang tepat, dan
pentingnya mempersiapkan guru yang mampu melaksanakan tugasnya dengan
kreativitas yang tinggi yang didasari oleh otonom sebagai guru, sehingga
pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung. Dan pada buku PROFESI PENDIDIKAN
oleh David Sigalingging, tidak dijelaskan tentang materi supervisi pendiidkan.
Berdasarkan kedua pendapat dari ketiga buku di atas, dapat disimpulkan
bahwa supervisi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengawas untuk melihat
atau mengawasi pekerjaan guru dengan cara membimbing guru dalam memilih
metode mengajar yang tepat, dan pentingnya mempersiapkan guru yang mampu
melaksanakan tugasnya, sehingga pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung.

e. Pembahasan bab 5 tentang Manajamen Berbasis Sekolah


Pada buku yang diriview, yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif
Guru Profesional” oleh Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D., dkk, tahun 2015,
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan strategi untuk mencapai sekolah
yang efektif, karena itu MBS bukanlah tujuan akhir tetapi merupakan sarana dan
strategi untuk mencapai tujuan. Sedangkan pada buku pembanding yaitu buku
PROFESI KEPENDIDIKAN oleh Yasaratodo Wau, dkk tahun terbit 2019, Sedangkan
pada buku pembanding yaitu buku PROFESI KEPENDIDIKAN oleh Yasaratodo Wau,
dkk tahun terbit 2019, manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses
pemanfaatan sumber daya yang tersedia di bidang pendidikan secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan pada buku PROFESI PENDIDIKAN
oleh David Sigalingging, tidak dijelaskan materi tentang manajemen berbasis sekolah
ataupun manajemen pendidikan.
Berdasarkan kedua pendapat dari ketiga buku di atas, dapat disimpulkan
bahwa manajemen berbasis sekolah atau bisa dikatakan manajemen pendidikan
merupakan strategi untuk mencapai sekolah yang efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan pendidikan.

15
B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU YANG DIRIVIEW

KELEBIHAN:

1. Dilihat dari aspek tampilan buku (face value), buku yang direview ini adalah buku
yang menarik untuk dibaca karena memiliki desain cover yang lumayan bagus
serta sampul bagian belakang memiliki synopsis materi yang ada pada buku.
2. Dari aspek layout dan tata letak , serta tata tulis, termasuk penggunaan font: dari
segi layout dan tata letak buku ini memiliki struktur dan elemen penempatan
huruf yang sangat lengkap serta menggunakan huruf yang sesuai sehingga
memudahkan pembaca untuk membaca buku tersebut dengan jelas.
3. Dari aspek isi buku: buku ini mudah dimengerti oleh pembaca. Isinya cukup
lengkap.
4. Dari aspek tata bahasa: buku ini mudah dimengerti dan tidak banyak
menggunakan bahasa atau kosakata yang sulit dipahami.

KELEMAHAN:
Kekurangan buku ini ialah materi didalam buku ini terlalu banyak pandangan
ahli sehingga point pentingnya tidak terlalu jelas. Buku ini juga tidak memiliki
ringkasan tiap bab sehingga tidak memudahkan pembaca untuk mengetahui apa
point penting yang terdapat pada bab tersebut.

16
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesimpulan yang saya dapat dari tugas Critical Book Review ini adalah bahwa
dari 3 buku yang saya review/bandingkan mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Serta antara tiga buku tersebut memiliki hubungan satu dengan yang lainnya pada
materi yang disajikan / materi yang dibahas .

B. REKOMENDASI
Saya mengetahui bahwa dalam penyelesaian tugas CBR ini masih jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki, oleh karena
itu saya sangat mengharapkan rekomendasi, saran atau kritik yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan tugas ini agar dalam pembuatan tugas yang
sama kedepannya jauh lebih baik.

17
DAFTAR PUSTAKA

Suriansyah, Ahmad., dkk. 2015. PROFESI KEPENDIDIKAN “Perspektif Guru


Profesional”. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Wau, Yasaratodo., dkk. 2019. PROFESI KEPENDIDIKAN. Medan: UNIMED PRESS

Sigalingging, David. 2011. PROFESI PENDIDIKAN. Padang: Universitas Negeri Padang

18
LAMPIRAN

19
20
21
22
23
24
25
26
27