Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/282292186

PENGELOLAAN SEMEN DAN INSEMINASI BUATAN

Article · January 2005

CITATIONS READS
0 8,784

3 authors, including:

Saili Takdir
Universitas Haluoleo
34 PUBLICATIONS   22 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Improving productivity of local village chicken in Southeast Sulawesi View project

Opportunities to use cocoa pods and forages to address feed gaps during the dry season in Southeast Sulawesi View project

All content following this page was uploaded by Saili Takdir on 29 September 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PENGELOLAAN SEMEN DAN INSEMINASI BUATAN

Takdir Saili1 dan Mozes R. Toelihere2


1
Program Studi Produksi Ternak, Faperta Unhalu, Kendari
2
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejalan dengan peningkatan kebutuhan manusia akan hewan khususnya hewan
ternak sebagai konsekuensi pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas
hidup, maka manusia mulai melibatkan diri secara aktif dalam penanganan reproduksi
hewan sehingga diperoleh produktivitas reproduksi yang maksimal.
Bioteknologi sebagai ujung tombak peningkatan produksi peternakan mempunyai
urgensi yang tinggi untuk terus dipertahankan dan ditingkatkan demi mencapai sistem
usaha yang kondusif dan berdaya saing tinggi. Upaya dalam bidang reproduksi ternak
berawal dengan diperkenalkannya teknologi Artificial Insemination (AI) atau Inseminasi
Buatan (IB) yang bertujuan untuk memanfaatkan potensi seekor hewan jantan unggul
(pejantan) secara maksimal. Dalam perkawian secara alami, seekor pejantan unggul
hanya dapat mengawini 1 sampai 5 ekor betina, namun melalui teknologi IB, dia dapat
mengawini beratus-ratus betina.

Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi ilmiah dan populer tentang
pengelolaan semen dan Inseminasi Buatan agar pemahaman kita tentang dunia reproduksi
khususnya reproduksi sapi potong akan semakin baik seiring dengan pesatnya
perkembangan bioteknologi reproduksi dewasa ini.

PENGELOLAAN SEMEN

Secara komersial sangatlah penting untuk mendapatkan sperma yang berasal dari
pejantan yang benar-benar unggul dalam jumlah yang banyak. Hal ini mendorong upaya
untuk melakukan studi yang intensif pada tingkah laku seksual, spermatogenesis, faktor-
faktor yang mempengaruhi fungsi testis dan epididimis serta cara koleksi semen. Metode
evaluasi sperma secara elektronik seperti computer-assisted sperm analysis (CASA)
termasuk penggunaan teknologi pewarnaan DNA (Tardif et al., 1998) mulai diterapkan
untuk menghasilkan evaluasi yang lebih valid terhadap potensi sperma sebagai sumber
gamet jantan.
Selanjutnya, penelitian diarahkan ke teknologi penyimpanan semen untuk
keperluan jangka pendek maupun jangka panjang. Langkah ini diawali dengan
perbanyakan volume semen dan penyimpanan baik penyimpanan jangka pendek (suhu
4-5oC) dalam bentuk cair maupun penyimpanan jangka panjang (suhu -196 oC) dalam
bentuk beku.
Kegiatan pembekuan semen meliputi pemilihan pengencer yang tepat, teknik
pendinginan, pembekuan dan thawing. Semua kegiatan tersebut diarahkan ke upaya
untuk mempertahankan motilitas dan viabilitas sperma selama penyimpanan sehingga
pada saat IB dilakukan sperma masih mempunyai kemampuan untuk membuahi sel telur
dengan baik. Bidang kriobiologi menjadi sangat berguna dengan ditemukannya bahan
krioprotektan gliserol yang sangat efektif melindungi sperma selama proses pembekuan.

Pengenceran Semen
Bahan pengencer semen yang sering digunakan terutama terdiri dari garam-
garam natrium dan kalium. Tetapi yang paling penting adalah pemilihan pengencer
yang terdiri dari unsur-unsur yang secara fisiologis dimiliki oleh semen yang hendak
diencerkan.
Salisbury dan van Demark (1985) menyatakan bahwa semen yang baru
diejakulasikan mengandung bahan penyangga seperti klorida, sitrat, bikarbonat, fosfat
dan sulfit. Sitrat dan bikarbonat merupakan bahan penyangga utama. Terlepas dari
kemampuannya sebagai penyangga, belumlah diketahui peran sitrat dan bikarbonat
terhadap kestabilan pH optimum. Bikarbonat merupakan penyangga yang efektif
untuk menyimpan sperma sapi pada suhu 5°C. Unsur ini memacu glikolisis sperma di
dalam epididymis dan sperma yang diejakulasikan pada suhu tubuh.
Toelihere (1985a) menyatakan bahwa semen mengandung larutan penyangga
sitrat dan bikarbonat tetapi bahan-bahan penyangga ini tidak dapat mempertahankan
pH netral dalam menghadapi jumlah asam laktat yang terbentuk dari fruktosa di dalam
plasma semen sapi.
Penambahan antibiotika di dalam pengencer semen berguna menghambat

2
pertumbuhan atau membunuh bakteri atau organisme yang dapat merusak sperma,
meningkatkan daya tahan hidup sperma dan mencegah terjadinya infeksi pada
saluran kelamin betina yang diinseminasi dengan semen tersebut (Toelihere, 1985b).
Selanjutnya dikatakan bahwa penambahan 1000 unit penicillin dan 1000 mikrogram
streptomisin per mililiter pengencer tidak merusak sperma, dan efektif menghambat
pertumbuhan kuman di dalam semen yang diencerkan.
Kejutan dingin tidak hanya nampak karena efek fisiologis yang biasa
diamati, tetapi juga pembocoran substansi vital dalam semen, enzim intraselluler, dan
lipoprotein dari sel. ATP dan kalsium intraseluler serta lemak berfosfor akan
menghilang dari sel sperma (Salisbury dan van Demark, 1985).
Selanjutnya dikatakan bahwa penambahan gliserol ke dalam bahan
pengencer biasanya mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh proses pembekuan.
Untuk beberapa jaringan atau sel, kejutan dingin atau masalah yang ditimbulkan
karena kecepatan pendinginan rendah, nampaknya tidak merugikan penyimpanan
semen pada temperatur di bawah titik beku. Kesulitan ini sebagian dapat diatasi
dengan memakai zat-zat pelindung dalam pengencer dan mengatur kecepatan
pendinginan di atas dan di bawah titik beku secara baik untuk mencapai jumlah sperma
optimal yang masih tahan hidup.
Meskipun semen yang diencerkan dengan sitrat-kuning telur saja tidak
dapat dibekukan tanpa gliserol, semen dalam sitrat-gliserol tanpa kuning telur atau
susu telah dapat dibekukan dan dikembalikan motilitasnya dengan hasil yang
cukup memuaskan (Salisbury dan van Demark, 1985; Hafez,1993).
Gliserol bekerja dengan memodifikasi tipe kristal es yang terbentuk sewaktu
pembekuan,sehingga kerusakan sel secara mekanis dapat tercegah (Salisbury dan van
Demark,1985). Pada bagian lain Toelihere (1985a) mengatakan bahwa gliserol akan
memasuki sel seperti halnya fruktosa dan mungkin akan digunakan oleh sel untuk
aktivitas metabolisme. Reaksi tertentu menunjukkan bahwa gliserol dapat masuk ke
dalam sel menggantikan air bebas dan mendesak keluarnya elektrolit intraseluler
sampai titik konsentrasi tidak berbahaya lagi selama pembekuan. Selanjutnya
dikatakan bahwa gliserol biasanya ditambahkan ke dalam air mani yang diencerkan
terlebih dahulu dengan dasar volume pengencer yang yang sama yang mengandung dua

3
kali jumlah volume gliserol yang diperlukan pada campuran akhir.
Beberapa hasil penelitan menyatakan bahwa penambahan gliserol harus
dilakukan dengan perlahan-lahan, setetes demi setetes secara teratur dan diaduk secara
halus (Hafez, 1993). Hal ini dimaksudkan agar pengencer yang mengandung gliserol
yang ditambahkan pada semen yang telah diencerkan mempunyai temperatur yang sama
yaitu 4 sampai 5°C. Gliserol yang digunakan secara umum untuk kriopreservasi semen
jumlahnya tergantung pada bahan pengencer, metode pembekuan dan jenis ternak,
namun pada umumnya berkisar antara 5% sampai 10% (Hafez, 1993). Selanjutnya
dikatakan bahwa gliserol harus ditambahkan ke dalam bahan pengencer beberapa
jam sebelum pengenceran semen. Pencampuran semen dengan bahan pengencer
yang bergliserol harus dilakukan pada suhu 5°C.
Toelihere, dkk. (1995), mengemukakan bahwa metode pembekuan dua tahap
dilakukan dengan membagi volume setiap bahan pengencer menjadi dua bagian,
misalnya pengencer A dibagi menjadi A1 dan A2. Semen diencerkan terlebih dahulu
dengan pengencer A1 yang tak bergliserol kemudian disimpan selama 1 - 2 jam,
kemudian dicampurkan lagi dengan bagian pengencer A2 pada temperatur 3-5°C
untuk selanjutnya diequilibrasi selama 4 jam pada temperatur lemari es (0-5°C).
Sedangkan pada metode pembekuan satu tahap semen secara langsung dicampur ke
dalam pengencer yang bergliserol kemudian diequilibrasi selama 4 jam. Kecepatan
pendinginan optimal selama pembekuan bertujuan untuk mempertahankan kualitas dan
kesuburan semen beku selama penyimpanan.
Penyesuaian semen dengan pengencer yang bergliserol pada temperatur lemari
es membutuhkan waktu 0,5 jam untuk pengencer sitrat-kuning telur atau susu skim-
kuning telur (Salisbury dan van Demark, 1985), sedangkan pada penelitian lain
menyarankan bahwa daya tahan hidup sperma lebih tinggi jika periode
penyesuaian/equilibrasi berlangsung lebih lama 4 - 28 jam. Toelihere, dkk, (1995)
melakukan equilibrasi selama 3 - 4 jam pada temperatur 0 - 5°C.
Pengenceran semen dengan bahan pengencer merupakan langkah terbaik
dalam menjamin kebutuhan fisik dan kimia, selain itu harus disimpan pada suhu
dan kondisi tertentu yang dapat mempertahankan kehidupan sperma selama waktu
tertentu sebelum digunakan untuk IB (Toelihere, 1985b).

4
Semen yang berkualitas baik dapat bertahan hidup 7 - 14 hari dalam lemari
es, tetapi standar kualitas semen IB sebaiknya semen yang tersimpan kira-kira 4 hari
(Toelihere, 1985b, Nesimnasi, 1994 dan Puka, 1996).
Suatu pengencer yang baik harus mempunyai fungsi : a). menyediakan
nutrisi sebagai sumber energi, b). pelindung terhadap bahaya pendinginan yang
cepat, c). menyediakan peyangga untuk mencegah kerusakan atau bahaya akibat
perubahan pH karena terbentuknya asam laktat, d). mempertahankan tekanan osmotik
dan elektrolit, e). menghambat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme, f).
memperbanyak volume semen sehingga dapat digunakan untuk menginseminasi
jumlah akseptor yang lebih banyak dan g). melindungi sel sperma selama pembekuan
(Hafez, 1993).
Standar minimum kualitas sperma yang dapat dipakai untuk IB adalah 500
juta sel sperma dalam satu mili liter ejakulat dan minimal 50% sperma harus motil.
Setiap dosis IB harus mengandung paling sedikit 5 juta sel sperma yang hidup.
Konsentrasi sperma di bawah 5 juta sel motil per dosis inseminasi,akan
menurunkan angka fertilitas secara drastis (Toelihere, 1985b).

Evaluasi Semen sebelum Pengenceran


Penilaian semen sebelum pengenceran bertujuan untuk mengetahui layak
tidaknya semen diencerkan dan untuk menentukan jumlah pengencer yang digunakan.
Toelihere (1985b) menegaskan bahwa pemeriksaan dan penilaian semen akan
memberikan hasil yang memuaskan jika dilakukan sesingkat mungkin setelah
penampungan. Pujiaty (1994) berhasil menentukan waktu optimal evaluasi semen
post ejakulasi yaitu 10 menit pada sapi Brangus
Pemeriksaan pada semen segar ini meliputi evaluasi makroskopis dan
mikroskopis. Evaluasi makroskopis meliputi; volume, warna, pH, konsistensi dan bau
semen. Sedangkan evaluasi mikroskopis meliputi; motilitas (individu dan massa),
konsentrasi, abnormalitas sperma, keutuhan membran dan tudung akrosom serta
penentuan hidup-mati sperma dengan menggunaan pewarnaan eosin.
Untuk menghindari penurunan kualitas semen akibat pemeriksaan yang terlalu
lama, maka pemeriksaan semen untuk pengenceran cukup dengan mengamati volume
semen, konsistensi, motilitas dan konsentrasi semen walaupun akan lebih sempurna

5
jika semua parameter evaluasi semen dilakukan.
Kelayakan tersebut terutama ditunjukan oleh motilitas, konsentrasi dan
prosentase hidup sperma masing-masing sebesar 85 - 95%; 1000 - 1200 x 106 dan 85 -
95% pada sapi Brangus, sedangkan pada sapi Bali sebesar 75 - 80%; 850 - 11000 x
106 dan 80 - 85%. Dari segi kuantitas volume semen sapi Brangus lebih banyak dari
sapi Bali. Hal ini disebabkan oleh ukuran diameter testis yang lebih besar, pendapat yang
sama juga dikemukakan oleh Burhanuddin, dkk. (1994) yang meneliti hubungan
volume dan kualitas semen sapi Bali pada ukuran testis yang berbeda.

Evaluasi Semen setelah Pengenceran

Pemeriksaan semen sesudah pengenceran bertujuan untuk mengetahui


motilitas sperma setelah pengenceran, apakah layak untuk disimpan atau dibekukan.
Apabila untuk penyimpanan maka pemeriksaan tersebut bermanfaat untuk mengetahui
prosentase penurunan kualitas sejak pengenceran dilakukan hingga selesai
penyimpanan semen cair pada suhu 0 -5 °C. Penurunan prosentase sperma yang hidup
dan motil terjadi karena bertambahnya umur sperma selama penyimpanan, kerusakan
akibat cold shock dan berkurangnya energi yang tersedia dalam pengencer (Hafez,
1993).
Hasil pengamatan terhadap motilitas dan daya tahan hidup sperma dalam
pengencer Tris dan sitrat-kuning telur lebih lama jika dibandingkan dengan ketiga
bahan pengencer lainnya (susu skim, laktosa dan bikarbonat-kuning telur).

INSEMINASI BUATAN

Inseminasi Buatan sebagai salah satu teknologi di bidang reproduksi ternak


tidaklah hanya mencakup prosedur pendeposisian semen ke dalam saluran kelamin
betina akan tetapi mencakup serangkaian kegiatan yang meliputi : organisasi, kualitas
sumber daya manusia, sarana dan prasarana, seleksi dan penyediaan pejantan unggul,
produksi dan distribusi semen, pembinaan dan penyuluhan, deteksi dan
sinkronisasi berahi dan pelaporan, inseminasi dan pencatatan, dan evaluasi hasil serta
pemasaran hasil IB
Seleksi dan penyediaan pejantan unggul, produksi dan distribusi semen
merupakan faktor terpenting karena manfaat utama kegiatan IB adalah pemanfaatan

6
penjantan unggul secara maksimal. Hal ini hanya mungkin dicapai melalui upaya
peningkatan produksi dan distribusi semen pejantan unggul yang terseleksi.
Semen cair dapat dipilih sebagai alternatif pemecahan masalah IB yang
mengahadapi kendala keterbatasan sarana dan prasarana semen beku, terutama
terbatasnya ketersediaan kontainer dan N2 cair. Keterbatasan-keterbatasan yang
dihadapi dalam penggunaan semen beku kadang menjadi penyebab lambannya
penyebaran IB. Untuk itu produksi semen cair dan pemanfaatannya akan mampu
membantu mengatasi masalah tersebut.

Perkembangan Teknologi Inseminasi Buatan

Studi awal tentang teknologi inseminasi buatan (IB) pada ternak dilakukan oleh
seorang Rusia bernama Ivanoff pada tahun 1899 (Ivanoff, 1922; Milovanov, 1964) dan
diikuti oleh Ishikawa dari Jepang pada tahun 1912 setelah belajar dari Ivanoff (Nishikawa,
1962). Di negara barat sendiri diawali oleh penemuan Amantea pada tahun 1914
mengenai vagina buatan yang sangat membantu dalam proses koleksi semen (Perry,
1968). Menjelang tahun 1936, Srensen mendirikan koperasi IB sapi yang pertama di
Denmark. Selanjutnya teknologi ini merambah ke luar benua Eropa terutama ke Amerika.
Sejak kunjungan Henderson yang berkebangsaan Denmark di New Jersey, penelitian dan
pengembangan IB pada ternak perah semakin pesat dilakukan dan pada tahun 1939
koperasi IB pertama di benua Amerika didirikan di New York (Herman 1981).
Di balik gencarnya promosi penggunaan IB, tidak sedikit kelompok yang
menentang penggunaan teknologi ini dengan mengusung berbagai macam poster ternak
hasil IB yang tidak normal dan cenderung meremehkan penggunaan teknologi ini.
Namun semua ini sirna dengan munculnya berbagai macam bukti yang memperlihatkan
bahwa ternak hasil IB adalah normal secara fisik. Selain itu, juga dibuktikan bahwa
penggunaan IB dapat menurunkan angka abnormalitas anak sapi yang dilahirkan. Hal ini
dicapai dengan melakukan seleksi ketat pada sapi-sapi calon pejantan dimana calon
pejantan yang diketahui mempunyai kelainan genetik akan disingkirkan sedini mungkin
(Foote, 1999).
Keinginan untuk mengembangkan teknologi IB secara besar-besaran telah
mengilhami beberapa pemikiran untuk mengembangkan penelitian dalam bidang fisiologi
sperma dan preservasi sperma. Penemuan teknologi preservasi sperma (semen sapi)

7
dengan cara pembekuan (Polge dan Rowson, 1952) merupakan batu loncatan bagi
perkembangan teknologi kriobiologi modern.

Inseminasi Buatan di Indonesia


Teknologi IB pertama kali diterapkan di Indonesia pada sapi tahun 1972 dan
kerbau tahun 1981 (Toelihere, 1985b). Hingga saat ini teknologi IB sudah merambah ke
seluruh pelosok tanah air bahkan di beberapa daerah, seperti Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara, telah diproduksi semen
segar dan beku dalam jumlah yang terbatas untuk tujuan IB sehingga tidak bergantung
lagi pada suplai semen beku dari Balai Inseminasi Buatan Singosari (Jawa Timur) atau
Balai Inseminasi Buatan Lembang (Jawa Barat).
Menurut Toelihere (1985b) angka kebuntingan ternak hasil IB di Indonesia
berkisar 40-70%. Angka ini semakin meningkat seiring bertambahnya keterampilan para
inseminator dan bertambahnya tingkat perhatian petani terhadap kondisi reproduksi
ternaknya (pengamatan berahi). Sedangkan laporan statistik Dirjen Peternakan tentang
realisasi program IB di Indonesia dapat di lihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Realisasi dan Kelahiran Ternak Sapi Hasil Inseminasi Buatan

Realisasi (ekor) Kelahiran (ekor)


Tahun
potong perah potong Perah
1999 1.086.465 169.187 506.394 54.113
2000 564.229 61.475 221.494 (20,38%) 17.344 (10,25%)

Data pada Tabel 1 dengan jelas memperlihatkan bahwa realisasi program IB


terbanyak adalah pada sapi potong dengan jumlah kelahiran masing-masing 506.394 ekor
(1999) dan 221.494 ekor (2000), sedangkan sapi perah hanya 54.113 ekor (1999) dan
17.344 (2000). Walaupun data tersebut tidak memberikan perincian realisasi program IB
untuk setiap propinsi, namun dapat diperkirakan bahwa realisasi program IB telah meluas
ke seluruh wilayah tanah air. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa konsentrasi ternak
perah di tanah air adalah di pulau Jawa.
Teknologi IB juga telah dilakukan pada beberapa jenis ternak lainnya seperti
kuda, domba dan ayam serta hewan piara anjing dan kucing. Demikian pula pada hewan
liar harimau, anoa dan badak walaupun tingkat keberhasilannya masih sangat rendah.

8
PENUTUP

Penanganan semen sapi mulai dari pemilihan pejantan unggul sampai produksi
dan penyimpanan semen merupakan hal yang sangat penting diperhatikan untuk
menunjang program Inseminasi Buatan. Teknologi Inseminasi Buatan merupakan salah
satu teknologi yang paling layak diterapkan baik pada sapi perah maupun sapi potong.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2001. Statistik Peternakan. Dirjen. Peternakan, Departemen Pertanian
Republik Indonesia.
Burhanuddin, H.L.L. Belli, IGN Jelantik dan U.S. Rosnah, 1994. Volume dan Kualitas
Semen Sapi Bali pada Ukuran Scrotum yang Berbeda. Laporan Penelitian Fapet
Undana, Kupang.
Foote, R.H. 1999. Development of reproductive biotechnologies in domestic animals from
artificial insemination to cloning: A Perspective. Cloning, 1 (3):133-142.
Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th Edition. Lea and Febiger,
Philadelphia.
Herman, H.A. 1981. Improving Cattle by the Milllions. NAAB and the Development and
Worldwide Application of Artificial Insemination. University of Missouri Press,
Columbia.
Ivanoff, E.I. 1922. On the use of artificial insemination for zootechnical purposes in
Russia. J. Agr. Sci., 12:244-256.
Milovanov, V.K. 1964. Artificial Insemination of Livestock in the USSR. Trans. By A.
Birron and Z.S. Cole. S. Monson, Jerusalem and Technical services, US.
Department of Commerce, Washinton, D.C.
Nesimnasi, N. 1994. Pengaruh Lama Penyimpanan Semen terhadap Kualitas dan
Kesuburan Semen Cair Sapi Brangus. Skripsi Fapet Undana, Kupang.
Nishikawa, Y. 1962. Fifty Years of Artificial Insemination of Farm Animals in Japan. English
Bulletin 2. Kyoto University, Kyoto, Japan.
Perry, E.J. ed. 1968. The Artificial Insemination of Farm Animals. 4th edition. Rutgers
University Press, New Brunswick, N.J.
Polge, E. and L.E.A. Rowson. 1952. Fertilizing capacity of bull spermatozoa after freezing at
-79oC. Nature, 169:626-628.
Pujiaty, S. 1994. Pengaruh Lama Post-Ejakulat terhadap kualitas Semen Cair setelah
Pengenceran. Skripsi Fapet Undana, Kupang.
Puka, V. 1996.Pengaruh Beberapa Pengencer terhadap Kualitas Semen Cair Sapi
Brangus. Skripsi Fapet Undana, Kupang.
Salisbury, G.W. dan N.L. van Demark, 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi
Buatan pada Sapi. Diterjemahkan oleh Djanuar. Gajah Mada University Press,
Jogyakarta.
Tardif, A.L., P.B. Farrell, V. Trouern-Trend, M.E. Simkin, and R.H. Foote. 1998. Use
of Hoechst 33342 stain to evaluate life fresh and frozen bull sperm by computer-
assisted analysis. J. Androl. 19:201-206.
Toelihere, M.R. 1985a. Fisiologi Reproduksi pada Temak. Angkasa, Bandung.
Toelihere, MR. 1985b. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung.

9
Toelihere, M.R., T.L.Yusuf, Burhanuddin, H.L.L. Belli, P. Kune, K. Tahitoe dan M.
Krova, 1995. Produksi Semen dan Embrio serta Penerapan Teknologi Inseminasi
Buatan dan Transfer Embrio pada sapi Bali di Timor. Laporan Penelitian Fapet Undana,
Kupang.

10

View publication stats