Anda di halaman 1dari 8

sehari-hari, dengan maksud untuk perangkat pembelajaran yang akan

menyusun pengetahuan mereka sendiri, digunakan dalam proses belajar Biologi.


mengembangkan kemandirian dan percaya Salah satu permasalahan mendasar adalah
diri siswa (Arends, 2012). kurangnya pemahaman guru terhadap
Problem based learning (PBL) penyusunan perangkat pembelajaran yang
merupakan model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 dan aturan
menekankan learning by doing, dari sekolah itu sendiri. Silabus diperoleh
pembelajaran didasarkan atas masalah dari internet, sedangkan RPP masih
nyata yang ditemui siswa di sekitarnya. menggunakan acuan permendikbud lama
Hal tersebut akan memotivasi siswa untuk yaitu Permendikbud nomor 59 tahun 2013,
aktif belajar dalam memecahkan masalah. padahal Permendikbud sudah diperbaharui
Penerapan model PBL guru akan membuat yaitu pada Permendikbud nomor 24 tahun
siswa mempelajari pengetahuan sekaligus 2016 tentang Kompetensi Inti dan
menerapkan pengetahuan tersebut untuk Kompetensi Dasar. Guru biologi di SMA
menyelesaikan masalah. Penerapan model Islam Malang tidak mengembangkan
pembelajaran PBL dapat meningkatkan bahan ajar berupa LKS dan modul
kemampuan berpikir kritis siswa karena sehingga acuan dalam pembelajaran hanya
siswa dituntut untuk memecahkan masalah teks book atau buku paket dari penerbit.
berdasarkan metode ilmiah siswa Perangkat pembelajaran yang digunakan
terakomodasi melalui tahapan-tahapan tersebut, kurang sesuai dengan
PBL (Pangestika dkk, 2015). karakteristik dan potensi siswa di sekolah
Kelebihan dari perangkat serta tidak mampu meningkatkan berpikir
pembelajaran untuk meningkatkan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.
kritis akan lebih bagus jika dipadukan Berdasarkan permasalahan yang
dengan model problem based learning. terjadi di SMA Islam Malang diperoleh
Menurut Nievven, dkk (1999) kelebihan judul penelitian “Pengembangan Perangkat
perangkat pembelajaran berbasis problem Pembelajaran Biologi Berbasis Problem
based learning adalah dapat membangun Based Learning untuk Meningkatkan
alasan umum dan kemampuan berpikir Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa
kritis, membantu membuat argumen secara Kelas XI di SMA”. Tujuan penelitian
kuat dan terorganisasi, membantu pengembangan ini adalah mengembangkan
mengevaluasi dari alasan yang ada, perangkat pembelajaran biologi untuk
membantu membuat keputusan yang tepat, meningkatkan berpikir kritis dan hasil
dan membantu memecahkan alasan yang belajar siswa kelas XI di SMA Islam
menjadi pertentangan. Kelebihan ini Malang dan menguji kevalidan,
tentunya akan sangat membantu siswa kepraktisan, dan keefektifan perangkat
dalam mengoraganisir argumen mereka pembelajaran biologi berbasis Problem
secara baik, mengelola alasan dan klaim Based Learning.
dari suatu kesimpulan maupun pendapat
secara tertata dan jelas. Melalui kelebihan- METODE PENELITIAN
kelebihan ini diharapkan perangkat Penelitian ini menggunakan model
pembelajaran biologi berbasis problem pengembangan ADDIE (Analysis, Design,
based learning mampu meningkatkan Development, Implementation, dan
kemampuan berpikir kritis siswa. Evaluation). Alasan pemilihan model
Berdasarkan hasil observasi di SMA penelitian dan pengembangan ini sangat
Islam Malang yang dilaksanakan pada sederhana, praktis, dan sistematik serta
tanggal 5 Desember 2017, dengan terdapat kegiatan evaluasi yang dilakukan
menggunakan hasil wawancara guru mata pada setiap tahap pengembangan.
pelajaran biologi, diketahui bahwa guru
belum sepenuhnya mengembangkan
pembelajaran yaitu silabus, RPP,
instrumen penilaian, modul, dan LKS serta
menyusun validasi instrumen penelitian.
Tahap development yang dilakukan pada
tahapan ini adalah mengembangkan
perangkat pembelajaran meliputi silabus,
RPP, instrumen penilaian, modul
pembelajaran, dan LKS setelah membuat
rancangan awal dari perangkat
pembelajaran. Melakukan validasi
Gambar 1. Tahap Pengembangan ADDIE perangkat pembelajaran oleh ahli materi,
(Sumber: Branch & Kopcha, 2014) ahli pembelajaran, dan praktisi lapangan.
Tahap implementation dilakukan dengan
Tahap analysis yang dilakukan menggunakan dua kelas yaitu kelas XI
pada tahap ini adalah analisis kebutuhan MIPA 3 sebagai kelas kontrol dan kelas XI
siswa dan analisis kurikulum. Analisis MIPA 4 sebagai kelas eksperimen.
kebutuhan siswa diperoleh dari hasil Tahapan uji coba berupa pembelajaran
wawancara dengan guru Biologi di SMA biologi materi sistem pernapasan
Islam Malang dan analisis kurikulum menggunakan perangkat pembelajaran
diperoleh berdasarkan Permendikbud untuk meningkatkan berpikir kritis siswa
Nomor 24 Tahun 2016 tentang dan hasil belajar yang dikembangkan dan
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. pelaksanaan pre test dan post test untuk
Kompetensi Dasar yang digunakan adalah mengukur peningkatan berpikir kritis dan
KD 3.8 dan KD 4.8 tentang Sistem hasil siswa. Masing-masing dari tahapan
Pernapasan pada Manusia. Tahap design tersebut dilakukan tahap evaluasi dan
yang dilakukan pada tahapan ini adalah revisi.
membuat rancangan awal perangkat

HASIL PENELITIAN
Hasil produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran
yang meliputi silabus, RPP, instrumen penilaian, modul, dan LKS. Hasil perangkat
pembelajaran tersebut di nilai berdasarkan kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Berikut
penjabaran dari hasil penilaian perangkat pembelajaran.

1. Kevalidan Perangkat Pembelajaran


Kevalidan perangkat pembelajaran dinilai oleh ahli pembelajaran, ahli materi, dan
praktisi lapangan. Berikut tabel hasil penilaian perangkat pembelajaran yang telah dinilai oleh
validator.

Tabel 1. Data Hasil Validasi Produk Pengembangan


Aspek Skor (%)
No yang Ahli Praktisi Ahli Rerata Kriteria
dinilai Pembelajaran Lapangan Materi
1. Silabus 91,6 94,1 - 92,8 Sangat valid
2. RPP 96,4 94,6 - 95,5 Sangat valid
3. Instrumen 100 93.1 - 96,5 Sangat valid
Penilaian
4. Modul 100 93,6 77,2 90,2 Sangat valid
5. LKS 100 96,6 76,4 91,0 Sangat valid
Nilai kevalidan perangkat pembelajaran 93,2 Sangat valid
Dapat digunakan tanpa
Keterangan kevalidan perangkat pembelajaran
revisi
Berdasarkan hasil yang diperoleh secara keselurahan dari ketiga validator yaitu 93,2%
dengan kriteria sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Namun, dalam beberapa aspek
masih perlu dilaksanakan revisi produk terutama pada konsep materi yang telah
dikembangkan.

2. Kepraktisan Perangkat Pembelajaran


Kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari data keterlaksanaan sintaks dan
angket respon siswa. Berikut tabel hasil keterlaksanaan sintaks dan angket respon siswa.

Tabel 2. Keterlaksanaan Sintaks

Pertemuan Nilai Kriteria


Keterlaksanaan
I 87,5 Praktis
II 89,6 Praktis
III 93,8 Sangat Praktis
IV 95,7 Sangat Praktis

Rata-rata nilai keterlaksanaan sintaks PBL yaitu 91,7%. Hal ini menunjukan bahwa
perangkat pembelajaran memiliki kriteria sangat praktis untuk digunakan.

Tabel 3. Hasil Respon Siswa terhadap Perangkat Pembelajaran

No Jenis Perangkat Nilai Kriteria


Pembelajaran
1. LKS 90,7 Sangat Praktis
2. Modul 90,2 Sangat Praktis
Rata-rata 90,4 Sangat Praktis

Rata-rata hasil respon siswa terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan


yaitu 90,4%. Hal ini menunjukan bahwa perangkat pembelajaran memiliki kriteria sangat
praktis untuk digunakan.

3. Keefektifan Perangkat Pembelajaran


Keefektifanperangkat pembelajaran diperoleh dari hasil pretest dan postest
peningkatan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dari kelas XI MIPA 3 sebagai kelas kontrol
dan kelas XI MIPA 4 sebagai kelas eksperimen. Berikut gambar grafik dan tabel keefektifan
perangkat pembelajaran.

80,0%

60,0%
pretest
40,0% 80,38%
59,90% postest
20,0% 37,75% 38,48%

0,0%
kontrol eksperimen

Gambar 1. Rerata Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis


Berdasarkan gambar grafik peningkatan berpikir kritis siswa diketahui bahwa kelas
kontrol mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis sebanyak 22,15% dan kelas
eksperimen mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis sebesar 41,9%.

Tabel 4. Hasil Belajar Siswa dengan Mann Whitney Test

Mann
Jenis Test Rerata Whitney Z- Probabilitas
Test
Pretes Kelas Eksperimen 38.482 -1.392 0.164
Pretest Kelas Kontrol 37.753
Postest Kelas Eksperimen 80.381 - 7.208 0.000
Postest Kelas Kontrol 38.486

Statistik uji Z pretest kelas eksperimen dengan pretest kelas kontrol yang dihasilkan
sebesar -1.392 dengan probabilitas sebesar 0.164. Hal ini berarti probabilitas > level of
significance (=5%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan pretest kelompok eksperimen dengan pretest kelompok kontrol. Ditinjau dari rata-
rata pretest kelompok eksperimen bernilai lebih tinggi dari rata-rata pretest kelompok kontrol.
Uji Z postest kelas eksperimen dengan postest kelas kontrol yang dihasilkan sebesar -
7.208 dengan probabilitas sebesar 0.000. Hal ini berarti probabilitas < level of significance
(=5%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
postest kelas eksperimen dengan postest kelas kontrol. Ditinjau dari rata-rata postest postest
kelas eksperimen bernilai lebih tinggi dari rata-rata postest kelas kontrol.

PEMBAHASAN modul serta keterlaksanaan sintaks


Kevalidan perangkat pembelajaran problem based learning. Respon siswa
yang dikembangkan dapat diukur dari hasil terhadap perangkat pembelajaran yang
validasi oleh ahli pembelajaran, praktisi dikembangkan sebesar 90,4% dengan
lapangan, dan ahli matei yang dapat dilihat kriteria sangat praktis. Hasil
pada tabel 4.2-4.11. Hasil yang diperoleh keterlaksanaan perangkat pembelajaran
dari penilaian validator terhadap perangkat dapat diperoleh sebesar 91,7% dengan
pembelajaran yang telah dikembangkan kriteria sangat praktis karena pada saat uji
yaitu silabus sebesar 92,8%, RPP sebesar keterlaksanaan, kegiatan pembelajaran
95,5%, instrumen penilaian sebesar 96,5%, sesuai dengan perangkat pembelajaran
modul pembelajaran sebesar 90,2%, dan yang sudah disusun. Perangkat
LKS sebesar 91,0%. Rata-rata yang pembelajaran yang dikembangkan disusun
diperoleh dari masing-masing perangkat menggunakan model pembelajaran
pembelajaran tersebut ialah 93,2% dengan problem based learning. Kegiatan
kriteria sangat valid dan dapat digunakan pembelajaran problem based learning
tanpa revisi. Hasil tersebut menjelaskan menurut Arends (2012) terdiri dari 5 tahap
bahwa perangkat pembelajaran tidak perlu yaitu 1) orientasi siswa kepada masalah, 2)
direvisi, namun dalam beberapa aspek mengorganisasikan siswa untuk belajar, 3)
seperti materi yang dikembangkan dalam membimbing penyelidikan individual
modul harus direvisi terlebih dahulu maupun kelompok, 4) mengembangkan
sebelum dilaksanakan uji coba. dan menyajikan hasil karya, 5)
Kepraktisan perangkat menganalisis dan mengevaluasi proses
pembelajaran yang dikembangkan dapat pemecahan masalah.
diukur dari hasil respon siswa terhadap Keefektifan perangkat
produk yang dikembangkan yaitu LKS dan pembelajaran diperoleh dari hasil pretest
dan postest pada kelas eksperimen dan (Arends, 2012). Pengalamam belajar
kelas kontrol. Hasil peningkatan hasil merupakan bagian penting dari proses
belajar siswa menggunakan uji statistik pembelajaran menggunakan PBL. Siswa
nonparametrik Mann Whitney Test karena diarahkan untuk membangun konsep dari
salah satu uji prsyarat tidak terpenuhi. pengalamannya sendiri. Hal ini dapat
Hasil peningkatan hasil belajar diketahui memotivasi dan memberikan siswa
bahwa pada pretest kelas eksperimen kesempatan untuk mendapatkan
dengan pretest kelas kontrol tidak ada pembelajaran yang lebih dalam.
perbedaan, hal ini ditandai dengan nilai (Zubaidah, 2017).
probabilitas > level of significance (=5%) Kelebihan perangkat pembelajaran
sedangkan peningkatan hasil belajar yang dikembangkan antara lain: 1)
postest kelas eksperimen dengan postest perangkat pembelajaran telah divalidasi
kelas kontrol terdapat perbedaan yang dan memiliki kriteria sangat valid, 2)
signifikan, hal ini ditandai dengan nilai perangkat pembelajaran telah diujicobakan
probabilitas < level of significance pada dua kelas yaitu kelas kontrol dan
(=5%). Peningkatan berpikir kritis siswa kelas eksperimen, 3) berdasarkan hasil uji
diketahui bahwa kelas kontrol mengalami kepraktisan, perangkat pembelajaran
peningkatan kemampuan berpikir kritis memiiki kriteria sangat praktis, 4)
sebanyak 22,15% dan kelas eksperimen berdasarkan hasil uji keefektifan,
mengalami peningkatan kemampuan perangkat pembelajaran dapat
berpikir kritis sebesar 41,9%. meningkatkan berpikir kritis dan hasil
Peningkatan persentase berpikir belajar siswa.
kritis siswa kelas eksperimen lebih tinggi Kekurangan dari perangkat
dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini pembelajaran yang dikembangkan antara
disebabkan karena kelas eksperimen lain: 1) perangkat pembelajaran yang
menggunakan model pembelajaran PBL. dikembangkan hanya satu materi yaitu
Problem based learning (PBL) merupakan sistem pernapasan pada manusia, 2)
model pembelajaran yang menekankan memerlukan waktu yang banyak dalam
learning by doing, pembelajaran menyusun perangkat pembelajaran.
didasarkan atas masalah nyata yang Hambatan atau kendala yang
ditemui siswa di sekitarnya. Hal tersebut dialami dalam penelitian perangkat
akan memotivasi siswa untuk aktif belajar pembelajaran yang telah dilakukan adalah
dalam memecahkan masalah. Penerapan suasana dalam kelas kurang kondusif dan
model PBL guru akan membuat siswa ramai karena guru yang mengajar bukan
mempelajari pengetahuan sekaligus guru asli dari SMA Islam Malang
menerapkan pengetahuan tersebut untuk melainkan guru model dari Universitas
menyelesaikan masalah. Penerapan model Negeri Malang, pada pertemuan pertama
pembelajaran PBL dapat meningkatkan LCD proyektor tidak dapat digunakan
kemampuan berpikir kritis siswa karena sehingga melihat video menggunakan
siswa dituntut untuk memecahkan masalah masing-masing laptop siswa.
berdasarkan metode ilmiah siswa
terakomodasi melalui tahapan-tahapan KESIMPULAN
PBL (Pangestika dkk, 2015). 1. Hasil produk pengembangan perangkat
Model pembelajaran PBL pembelajaran yaitu silabus, RPP,
menghadapkan siswa pada masalah nyata instrumen penilaian, modul, dan LKS.
sehingga siswa mampu menyusun 2. Penilaian perangkat pembelajaran yaitu
pengetahuannya sendiri, menumbuhkan kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.
ketrampilan tingkat tinggi dan berpikir Kevalidan perangkat pembelajaran
kritis, memandirikan siswa, dan sebesar 93,2% dengan kriteria sangat
meningkatkan kepercayaan diri siswa valid dan dapat digunakan tanpa revisi.
Kepraktisan perangkat pembelajaran Branch, R. M., & Kopcha, T. J. 2014.
diperoleh dari data keterlaksanaan Instructional Design Models. New
sintaks dan angket respon siswa. York: Springer.
Keterlaksanaan sintaks diperoleh nilai Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
sebesar 91,7% dengan kriteria sangat Kurikulum Tingkat Satuan
praktis dan respon siswa sebesar 91,4% Pendidikan. Jakarta: Dikmenum
dengan kriteria sangat valid. Nieveen, N., Akker, D.V., Branch, M.R.,
Keefektifan perangkat pembelajaran Gustafon, K., and Plompt, T. 1999.
diperoleh dari hasil pretest dan postest Design Approaches and Tools in
peningkatan berpikir kritis dan hasil Education and Training. London:
belajar siswa dari kelas XI MIPA 3 Kluwer Academic Publishers
sebagai kelas kontrol dan kelas XI Pangestika, D.W., Harlita, Suciati. 2015.
MIPA 4 sebagai kelas eksperimen. Perbandingan Keterampilan Proses
Berdasarkan hasil yang telah Sains Antara Penerapan Problem
dipaparkan, perangkat pembelajaran Based Learning Dipadu Informal
sudah sanagt efektif. Debate dan Pembelajaran
Konvensional Pada Siswa Kelas X
SARAN SMA Muhammadiyah 1
Beberapa saran yang berkaitan Karanganyar Tahun Pelajaran
dengan perangkat pembelajaran yang 2013/2014. Jurnal Pendidikan
dikembangkan adalah sebagai berikut. Biologi, 7 (1): 120-130
1. Pengembangan perangkat dapat Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016
dilakukan pada materi lain selain sistem tentang Kompetensi Inti dan
pernapasan manusia. Kompetensi Dasar pada Kurikulum
2. Pengembangan produk hendaknya 2013. Jakarta: Depdikbud.
diterapkan pada kegiatan pembelajaran Zubaidah, S. 2017. Pembelajaran
diseluruh kelas X, XI, dan XII Kontekstual Pemecahan Masalah
3. Produk yang dihasilkan hanya untuk Mengembangkan Kemampuan
menggunakan model PBL dalam proses Berpikir . (online) :
pembelajarannya, sehingga dalam https://www.researchgate.net/publi
pengembangan lebih lanjut hendaknya cation/318013668 diakses pada 18
menggunakan model pembelajaran lain Oktober 2017.
yang lebih variatif.

DAFTAR RUJUKAN

Arends, R.I. 2012. Learning to Teach,


Ninth Edition. Newyork: Mc-Graw
Hill Companies