Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM DIAGNOSTIK
PERALATAN DIAGNOSTIK DASAR
STETOSKOP

Dosen Pembimbing:
M. Ridha Ma’ruf, ST, M.Si

Sumber, SST, MT

Disusun oleh :

YB. Rischa Via Octantri P27838117023

Andhika Pradana A. P27838117025

2B2

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK


TAHUN AJARAN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan stetoskop di dunia kedokteran semakin meningkat seiring berjalannya
waktu. Stetoskop digunakan dokter untuk mendiagnosa kondisi pasien lewat suara detak
jantung pasien. Stetoskop digunakan untuk mendiagnosa suatu penyakit tertentu. Karena
dengan stetoskop, dokter dapat mengetahui kondisi pasien dengan cara memeriksa
tekanan darah, gangguan perut, paru-paru dan suara jantung. Stetoskop dapat menangkap
suara tertentu dari tubuh.
Sebelum stetoskop ditemukan, dokter mendekatkan telinganya pada tubuh pasien agar
dapat memeriksa kondisi pasien. Itu adalah salah satu cara dokter untuk mendengar suara
jantung pasien dan mendeteksi penyakit pasien. Seiring berjalannya waktu, stetoskop
ditemukan untuk mempermudah pekerjaan dokter untuk mendiagnosa penyakit.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Stetoskop ?
2. Apa Saja Bagian Stetoskop ?
3. Bagaimana Prinsip Kerja Stetoskop ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian stetoskop
2. Mengetahui bagian-bagian stetoskop
3. Mengetahui prinsip kerja stetoskop.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
2.1.1 Pengertian Stesoskop
Stetoskop (bahasa Yunani: stethos, dada dan skopeein, memeriksa) adalah
sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh. Dia banyak
digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun dia juga
digunakan untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan “vein”.
Mungkin tidak ada simbol kedokteran yang paling terkenal selain stetoskop.
"Alat bantu pendengaran" yang sederhana ini memungkinkan dokter mendengar
suara-suara yang berasal dari dalam tubuh, terutama jantung dan paru selain
persendian serta arteri yang tersumbat secara parsial. Mendengarkan suara-suara
ini dengan stetoskop disebut auskultasi berjarak (mediate auscultation), atau
biasanya hanya auskultasi. Banyak suara dari daerah dada dapat dimanfaatkan
untuk mendiagnosis penyakit. Sebelum tahun 1818, satu-satunya metode yang ada
untuk memeriksa dada adalah perabaan dengan tangan, perkusi, dan kadang-
kadang, auskultasi dekat dengan telinga menempel ke dada.
2.1.2 Sejarah dan Perkembangan Stetoskop
Sebelum stetoskop ditemukan, para dokter memeriksa dada kliennya dengan
cara menempelkan telinganya secara langsung ke dada klien. Cara seperti ini tentu
mengganggu klien. Selain itu, suara yang terdengar juga kurang jelas karena
hanya menggunakan salah satu telinga.
Stetoskop ditemukan di Perancis pada 1816 oleh René-Théophile-Hyacinthe
Laennec, Stetoskop awalnya tercipta dari sebuah kesulitan, Rene Theophile
Hyacinthe Laennec marasa sulit mendeteksi detak jantung pasien tanpa alat bantu.
Untuk itu, ia menggulung kertas yang kemudian ditempelkan pada tubuh pasien
untuk memperbesar suara denyut nadi. Suatiu ketika , Rene teringat pernyataan
Leonardo da Vinci. Leonardo mengatakan bahwa kayu dapat dijadikan media
untuk memperbesar suara yang lirih. Dari pernyataan itu, ia kemudian mencoba
menggunakan kayu untuk memecahkan kesulitan nya mendengar denyut nadi
pasien. Melalui berbagai percobaan, Pada tahun 1819, Rene berhasil menciptakan
stetoskop pertama yang diberi nama Baton. Bentuknya berupa pipa silinder yang
berlubang yang terbuat dari kayu dengan panjang 5,9 inchi atau 15 cm. alat ini
ditempelkan pada tubuh pasien dan bagian ujungnya didengarkanpada telinga
sang dokter. Bentuk Baton kemudian berkembang menjadi gelas berbentuk pipa
atau jam pasir dengan panjang 15-22,5 cm. Berkat kemajuan teknologi, pada abad
19 stetoskop dikembangkan dengan bahan karet dan alumunium. Kemudian,
penemuan Rene disempurnakan oleh Nicholas P Cominspada tahun 1829, Ia
menciptakan stetoskop yang memungkinkan seseorang mendengar denyut nadi
dengan kedua telinga. Inilah stetoskop yang kita kenal bentuknya saaat ini.
Penemuan Rene dan Nicholas ini bisa dikatakan sebagai penemuan yang
mengubah dunia. Sebab, stetoskop ini menjadi semacam alat wajib untuk
menganalisis penyakit pasien. Waktu itu stetoskop terdiri dari tabung kayu. Tahun
1851, Arthur Binaural Leared menciptakan stetoskop dari karet dan pada tahun
1852 George Cammann menyempurnakan desain stetoskop dan mulai diproduksi
untuk tujuan komersial.Rappaport dan Sprague merancang stetoskop baru di tahun
1940-an, yang merupakan cikal bakal standar ukuran stetoskop masa kini, terdiri
dari dua sisi, salah satunya adalah digunakan untuk sistem pernapasan, dan yang
lainnya digunakan untuk sistem kardiovaskular. Pada awal tahun 1960 Dr David
Littmann, seorang profesor Harvard Medical School, menciptakan stetoskop baru
yang lebih ringan dibandingkan model-model sebelumnya hingga akhir tahun
1970 ditemukan sistem diafragma yang meningkatkan hasil pendengaran.
2.2 Bagian-Bagian Stetoskop

Bagian-Bagian Stetoskop
Fungsi bagian stetoskop :
1. Ear tips
Bagian ini merupakan bagian yang diletakkan atau dimasukkan ke dalam
telinga. Eartips menjadi pintu keluar suara yang didengar dari organ dalam tubuh,
termasuk dada. Eartips umumnya terbuat dari karet atau bahan silikon yang dirancang
dengan bentuk yang pas dipakai di dalam telinga sehingga suara lain yang tidak
diinginkan tidak masuk tercampur.
2. Diafragma
Diafragma atau diaphragm stetoskop adalah bagian datar di ujung kepala alat ini.
Fungsinya untuk mendengarkan nada tinggi, contohnya suara paru-paru. Beberapa
jenis alat ini ada yang memiliki diafragma tetapi tidak punya bell untuk mendeteksi
suara rendah.
3. Tubing
Tubing adalah bagian dari alat yang berfungsi untuk menjaga dan mentransfer
frekuensi suara yang ditangkap oleh diafragma stetoskop dan mengirimkannya
kembali ke eartip. Dengan begitu suara dapat didengar oleh telinga pengguna.
4. Bell
Bell biasanya terdapat dalam stetoskop berkepala ganda. Biasanya bagian ini
berada di ujung alat dan berbentuk melingkar, menempel pada bagian lain yang lebih
pipih (diafragma). Bell memiliki bentuk lingkaran yang lebih kecil. Bagian ini
berfungsi mendengarkan suara berfrekuensi rendah yang mungkin tidak mudah
dideteksi oleh bagian lain alat ini, yaitu diafragma. Bell juga membantu untuk
mendengarkan suara pada lokasi yang tidak datar, yang biasanya tidak dapat
dijangkau secara optimal dengan menggunakan diafragma.
2.3 Hasil Praktikum
2.3.1 Pengoperasian
1. Pilih tempat yang tenang untuk menggunakan stetoskop.
Gunakan stetoskop di tempat yang tenang. Carilah area tenang untuk
memastikan Anda dapat mendengarkan bunyi tubuh pasien dan tidak
terganggu dengan suara-suara atau hiruk-pikuk ruangan.
2. Atur posisi pasien.
Untuk mendengarkan bunyi jantung dan perut, posisikan pasien dalam
keadaan telentang. Untuk mendengarkan bunyi paru-paru, posisikan pasien
dalam keadaan telungkup. Bunyi jantung, paru-paru, dan perut bisa terdengar
berbeda tergantung dari posisi pasien: misalnya duduk, berdiri, berbaring ke
kiri/kanan, dan sebagainya.
3. Tentukan untuk menggunakan diafragma atau bel (sungkup).
Diafragma atau sisi datar pada gendang stetoskop lebih baik digunakan
untuk mendengarkan bunyi bernada tinggi. Bel atau sisi cekung pada gendang
stetoskop lebih baik digunakan untuk mendengarkan bunyi bernada rendah.
4. Mintalah pasien untuk mengenakan baju pasien atau melepas baju yang
dipakainya agar kulitnya tidak tertutupi.
Gunakan stetoskop langsung pada kulit untuk menghindari terdengarnya
bunyi berdesir dari kain baju. Jika pasien adalah pria yang memiliki banyak
bulu dada, tekan stetoskop dengan cukup kuat untuk menghindari
terdengarnya bunyi berdesir.
5. Letakkan diafragma di atas area jantung pasien.
Posisikan diafragma di bagian kiri atas dada di antara rusuk ke-4 dan ke-6,
sedikit di bawah puting susu. Tahan stetoskop di antara jari telunjuk dan jari
tengah, berikan sedikit tekanan agar tidak mendengar bunyi gesekan jari.
6. Dengarkan bunyi jantung selama satu menit.
Minta pasien untuk relaks dan bernapas dengan normal. Akan terdengar
bunyi normal jantung manusia yang bunyinya seperti “lub-dub”. Bunyi ini
juga disebut bunyi sistolik dan diastolik. Sistolik adalah bunyi “lub” dan
diastolik adalah bunyi “dub”.
 Bunyi “lub” atau sistolik terdengar saat katup mitral dan trikuspid jantung
menutup
 Bunyi “dub” atau diastolik terdengar saat katup aorta
dan pulmonal menutup.
7. Hitung detak jantung yang terdengar dalam semenit.
Detak jantung normal orang dewasa dalam kondisi istirahat (tidak
beraktivitas berat) adalah antara 60-100 per menitnya. Untuk atlet profesional,
detak jantung normalnya dalam kondisi istirahat dapat berkisar antara 40-60
per menit.
Ada beberapa klasifikasi nilai batasan detak jantung untuk pasien di bawah
10 tahun yang dapat dipertimbangkan. Nilai-nilai batasan tersebut di
antaranya:
 Bayi baru lahir sampai usia satu bulan : 70-190 detak per menit.
 Bayi 1-11 bulan : 80-160 per menit.
 Anak 1-2 tahun : 80-130 per menit.
 Anak 3-4 tahun : 80-120 per menit.
 Anak 5-6 tahun : 75-115 per menit.
 Anak 7-9 tahun : 70-110 per menit.
8. Dengarkan adanya bunyi jantung abnormal.
Saat menghitung jumlah detak jantung, perhatikan jika ada bunyi abnormal.
Bunyi yang tidak terdengar seperti “lub-dub” dapat dikategorikan sebagai
bunyi abnormal. Jika terdengar bunyi abnormal ini, pasien mungkin perlu
mendapatkan pemeriksaan dokter lebih lanjut.
9. Catat hasil auskultasi
Auskultasi adalah sebuah istilah kedokteran dimana seorang dokter
mendengar suara didalam tubuh pasien untuk mendapatkan informasi
fungsinya.
2.3.2 Perawatan Stetoskop
1. Setiap stetoskop telah dirancang untuk di kenakan pada sudut yang benar dan
sesuai secara anatomis dan pas digunakan di lubang telinga pengguna.
Awalnya, renggangkan dulu kedua eartip, arahkan ke telinga.
2. Kemudian masukkan ke lubang telinga.
Pastikan nyaman saat dipakai, biasanya dokter atau perawat yang memakai
kerudung agak kesulitan memasukkan eartip dari luar, karena mungkin
terhalang ciput kerudung sehingga eartip terlalu menekan telinga dan jadi
tidak nyaman. Kemudian rambut-rambut kecil juga kemungkinan bisa keluar
dan terlihat. Agar tidak mengurangi performa akustiknya, yang pasti eartip
masuk sempurna ke lubang telinga. Agar nyaman saat dipakai, bisa disiasati
dengan memasukan eartip dari dalam kerudung. Dengan posisi yang benar
pula tentunya
3. Sesuaikan eartip dengan lubang telinga kita.
Apalagi bila jenisnya yang soft. Bila terlalu besar, tekanan yang terjadi di
lubang telinga akan menghasilkan suara yang buruk. Begitu juga bila terlalu
kecil. Maka, saat membeli, harus benar-benar dicoba agar ukurannya benar
dan suara yang terdengar pun jelas.
4. Periksa, apakah ada sesuatu yang menghambat.
Bila stetoskop sering dibawa di dalam saku jas, atau tidak rutin di
bersihkan, ada kemungkinan kotoran dan serat kain bisa masuk lewat sela-sela
pipa dan menghalangi jalur suara. Perawatan dan pemeliharaan rutin dapat
mencegah hal ini terjadi
5. Periksa segel.
Stetoskop mengandalkan segel kedap udara untuk mengirimkan suara tubuh
pasien ke telinga pemeriksa. Jika pipa longgar, retak, atau lepas, maka suara
yang terdengar pun tidak akan optimal.
6. Periksa bell/diafragma.
Bell dan diafragma itu bagian paling depan, yang ditempelkan ke tubuh
pasien. Nah, jika kita mengguanakan stetoskop yang 2 sisi, lehernya kan bisa
diputar-putar, tergantung kita mau memakai bell atau diafragma. Jika mau
menggunakan diafragma, maka bell harus ditutup, agar kedap udara dan suara
bisa terdengar, begitu sebaliknya.
7. Copot eartip dan bersihkan.
Kalau sulit, bisa tanya ke petugas toko saat kita membeli stetoskop atau
saat membeli, kita harus tahu juga cara mencopot dan memasang stetoskop
dengan baik dan benar. Untuk perawatan dan pembersihan, yang harus
diperhatikan adalah melakukannya dengan rutin 1 bulan sekali, jika memang
dipakai setiap hari. Agar performa akustik tetap baik. Untuk pembersihan, alat
dan bahan yang dibutuhkan adalah pembersih untuk vinil, plastik dan karet,
pembersih logam, pelumas, tisu.
8. Usap seluruh permukaan diafragma dan bell dengan alkohol isopropyl 70%.
Hal ini bisa mengurangi jumlah bakteri hingga 94%. Lalu beri sedikit pelumas
khusus di lubang suara, putar-putar agar pelumas tersebar.
9. Untuk pipa karet, bersihkan dengan pembersih vinil, plastik, dan karet.
10. Jangan celupkan stetoskop ke cairan apapun, atau terkena proses sterilisasi,
misalnya menggunakan alcohol. Jika desinfektan diperlukan, pakailah alcohol
isopropyl 70 %.
11. Jauhkan dari panas dan dingin yang ekstrim, minyak dan pelarut lainnya.
12. Pipa stetoskop biasanya terbuat dari PVC. PVC biasanya lama-lama akan
menjadi kaku jika bersentuhan dengan kulit, karena ada minyak yang keluar
dari sana. Jika mengalungkan stetoskop pada leher, usahakan jangan
bersentuhan dengan kulit secara langsung. Kalungkan pada baju ataupun jas.
Hal ini bukan mencegah terjadinya kekakuan, namum memperlambat proses
kekakuan.
BAB III
BLOK DIAGRAM BAGIAN STETOSKOP

Pasien Diafragma/Bell Stem Tubing Ear Tips

Pertama pasien harus dalam keadaan terlentang. Pilih terlebih dahulu, ingin menggunakan
diafragma atau bell. Diafragma digunakan untuk mendengar suara berfrekuensi tinggi.
Sedangkan, bell digunakan untuk mendengar suara berfrekuensi rendah. Cara memilih
diafragma atau bell dengan cara memutar stem. Jika ingin menggunakan diafragma, maka
putar stem hingga lubang bell tertutup. Jika ingin menggunakan bell maka putar stem
sehingga lubang bell terbuka. Lalu suara yang masuk ke diafragma/bell akan diteruskan
melalui tubing. Lalu suara akan terdengar pada telinga pengguna melalu eartips
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Stetoskop adalah sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh. Dia
banyak digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun dia juga
digunakan untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan “vein”. Saat
praktikum, kami melakukan cara pengoperasian stetoskop, pemeliharaan stetoskop dan
menulis blok diagram stetoskop dengan tujuan agar mengetahui bagaimana cara suara
dalam tubuh dapat didengar oleh telinga.
4.2 Saran
Mungkin dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
mengharapkan, kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Agar dalam penulisan makalah kedepannya bisa lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Joseph Novita, 2018. “Mengenal Jenis, Bagian Dan Fungsi Stetoskop”
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/fungsi-dan-jenis-stetoskop/
Diakses Pada : 6 April 2019
[2] Corsilles Michael. “Cara Menggunakan Stetoskop”
https://id.wikihow.com/Menggunakan-Stetoskop
Diakses Pada : 6 April 2019
[3] Wikipedia. “Stetoskop”
https://id.wikipedia.org/wiki/Stetoskop
Diakses Pada : 6 April 2019
[4] Smarandana, 2011. “Stetoskop”
http://smarandhana.blogspot.com/2011/07/stetoskop.html
Diakses Pada : 6 April 2019
[5] Unknown, 2015. “Peralatan Diagnostik Dasar Stetoskop”
http://andyrezkysulfajri.blogspot.com/2015/01/makalah-stetoskop.html
Diakses Pada : 6 April 2019
[6] Unknown, 2015. “Pengertian Stetoskop”
http://djokosoeprijanto.blogspot.com/2015/04/pengertian-stetoskop.html
Diakses Pada : 6 April 2019