Anda di halaman 1dari 47

DOPS

EPISTAKSIS
(Pemasangan Tampon)
Oleh:
Ayu Indah Rachmawati
Yosua Pandapot Purba

Preseptor:
Dr. Hanggoro Sapto, Sp. THT-KL
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT-KL
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2019
STATUS PASIEN
Insert the title of your subtitle Here
IDENTITAS PASIEN
Nama: Tn.D

Usia: 60 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki

Pekerjaan: PNS

Suku bangsa: Jawa


ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara Alloanamnesis dengan istri pasien pada tanggal 26 Januari 2019

Keluhan Utama:
Keluar darah dari lubang hidung
hilang timbul sejak 4 hari yang
lalu

Keluhan tambahan:
Pilek sejak 1 minggu yang
lalu
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Perdarahan keluar dari kedua


lubang hidung, namun diawali Namun beberapa hari kemudian
Pasien datang ke poliklinik THT
pada lubang hidung kanan, keluhan kembali berulang. Darah
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
kemudian disusul pada lubang terus menerus keluar dari kedua
diantar oleh istri pasien dengan
hidung kiri. Darah yang keluar lubang hidung. Pasien merasakan
keluhan keluar darah dari lubang
cukup banyak dan terus menerus ada darah yang mengalir ke
hidung (mimisan) sejak 4 hari
keluar. Pasien sudah mencoba tenggorokan. Saat perdarahan
yang lalu. Mimisan terjadi secara
untuk menekan hidung dan tidak berhenti, pasien dibawa ke
tiba-tiba.
menggunakan daun sirih hingga RS Advent lalu dipasang tampon.
perdarahan berhenti.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak seminggu yang lalu


Tidak ada riwayat demam,
pasien mengeluhkan pilek, Saat datang ke RSAM,
trauma benda tajam/tumpul
cairan yang keluar berwarna hidung pasien sudah
ataupun memasukan benda-
bening, namun saat ini pilek terpasang tampon. Istri
benda asing ke hidung.
sudah berkurang. Pasien pasien mengaku tampon
Keluar perdarahan dari gusi
memiliki riwayat darah tinggi, baru terpasang selama 12
atau bagian tubuh lain
namun tidak mengonsumsi jam.
disangkal.
obat darah tinggi.
RPD Pasien belum RPK
pernah Riwayat darah
mengalami tinggi pada ibu
keluhan seperti pasien.
ini sebelumnya.

Riwayat alergi, Riwayat alergi,


tumor, kelainan tumor, kelainan
darah disangkal. darah disangkal.
PEMERIKSAAN FISIK (Status Generalis)

Keadaan umum: Baik


Kepala
Kesadaran: CM

Tekanan Darah; 150/100 mmHg


Ekstremitas Leher

Nadi: 84x/m DBN


Suhu: 36,6

RR: 20x/m
Abdomen Thorax

BB: 23kg
STATUS LOKALIS THT
Hidung luar Kanan Kiri

Kulit Warna sama dengan sekitarnya Warna sama dengan sekitarnya

Dorsum Nasi Terletak di linea mediana nasi Terletak di linea mediana nasi

Nyeri Tekan, Krepitasi Nyeri tekan (-), krepitasi (-) Nyeri tekan (-), krepitasi (-)

Ala Nasi Selulitis (-), edema (-) Selulitis (-), edema (-)

Nyeri Tekan Frontal Tidak ditemukan Tidak ditemukan

Nyeri Tekan Maksila Tidak ditemukan Tidak ditemukan

Nares Anterior Normal, tidak sempit, simetris Normal, tidak sempit, simetris

Tumor, Fistel Tidak ditemukan Tidak ditemukan


Rhinoskopi Anterior
Tidak dilakukan pemeriksaan karena terpasang tampon pada kedua lubang hidung

Rhinoskopi Posterior
Tidak dilakukan pemeriksaan
CAVUM ORIS

CAVUM ORIS Hasil Pemeriksaan

Mukosa Hiperemis (+)

Gingiva Ulkus (-), edema (-)

Gigi Lengkap, karies (-)

Lidah Bentuk normal, Ulkus (-), Plak (-)

Palatum durum Permukaan licin

Palatum mole Permukaan licin

Uvula Posisi ditengah

Tumor Tidak ditemukan


FARING

FARING Hasil Pemeriksaan


Dinding Faring Edema (-)
Mukosa Hiperemis (+) stolsel (+)
Uvula Ditengah
Tonsil Laring
Dalam
Batas
Normal

Nervus KGB
Kranialis LEHER
Diagnosis Banding
Epistaksis
Epistaksis laten Epistaksis anterior
posterior e.c
e.c hipertensi e.c hipertensi
hipertensi

Diagnosis Kerja
Epistaksis laten e.c hipertensis
TATALAKSANA
Medikamentosa

Cefixime tab 2 x 200 mg

Ibuprofen tab 2 x 200 mg

Asam tranexamat (kalnex) tab 3 x 500 mg

Amlodipine tab 1 x 5 mg
TATALAKSANA
Non-Medikamentosa

Tidak melepas tampon yang telah dipasang hingga 2-3


hari pemasangan

Kepala usahakan tegak, tidak boleh terlalu lama


menundukkan kepala

Tidak mengusap-usap hidung terlalu keras

Mengontrol tekanan darah

Kontrol ulang 2-3 hari lagi untuk melepas tampon


hidung dan mengevaluasi perdaharan
PROGNOSIS

Quo Ad Vitam : ad bonam

Quo Ad Functionam : ad bonam

Quo Ad Sanationam : dubia


TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Cavum nasi
•  anastomose a.
Pleksus sfenopalatina & a. etmoid
Kiesselbach anterior, a. labialis
superior & a. palatina
(Little’s mayor yg terletak di
area) superiorficial di bagian
depan septum

•  anastomose a.
sfenopalatina & a.
Pleksus faringeal posterior yg
terletak di bawah
Woodruff posterior ujung akhir
konka inferior
EPISTAKSIS
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal
dari lubang hidung, rongga hidung atau
nasofaring. Epistaksis sering kali merupakan
gejala atau manifestasi penyakit lain.

Ringan (sering) -> dapat berhenti sendiri tanpa


bantuan medis

Berat (jarang) -> merupakan masalah


kedaruratan yang dapat berakibat fatal bila tidak
segera ditangani
ETIOLOGI
Faktor lokal

Faktor sistemik

Idiopatik
FAKTOR LOKAL

Trauma Infeksi Lokal Tumor

Atmospheric
change
FAKTOR SISTEMIK

Penyakit
Gangguan Hati Kelainan Darah Kardiovaskuler Infeksi Akut
dan lainnya

Gangguan Obat-obatan Mediastinal


Hormonal compression
KLASIFIKASI EPISTAKSIS

Jenis
Lokasi Penyebab
Perdarahan

Local
Anterior Masif
Cause

General
Posterior Laten
cause
Penegakan Diagnosis
Anamnesis
• Perdarahan keluar dari depan atau belakang hidung
• Beratnya perdarahan, frekuensi, lamanya perdarahan,
• Penyebab perdarahan
• Riwayat perdarahan hidung sebelumnya,
• Riwayat trauma hidung yang belum lama,
• Riwayat penggunaan alkohol,
• Riwayat penyakit lain seperti hipertensi, kelainan perdarahan,
dan
• Riwayat pengobatan (aspirin)
Pemeriksaan Fisik
• Pengukuran tanda-tanda vital
• Dgn spekulum hidung dibuka & alat pengisap bersihkan semua
kotoran dalam hidung
• Observasi
• Masukkan kapas yang dibasahi larutan pantokain 2% atau lidokain
2% + larutan adrenalin 1/5000-1/10000 ke dalam hidung
• Sesudah 10-15 menit kapas dalam hidung dikeluarkan dan dilakukan
evaluasi (asal perdarahan)
1. Rinoskopi anterior

2. Rinoskopi Posterior
Pemeriksaan
Penunjang

Rontgen sinus dan Endoskopi Skrining terhadap


CT-Scan atau MRI hidung koagulopati

Rontgen sinus dan Tes-tes yang tepat


CT-Scan atau MRI Untuk melihat atau termasuk waktu
penting mengenali menyingkirkan protrombin serum, waktu
neoplasma atau kemungkinan tromboplastin parsial,
infeksi. penyakit lainnya jumlah platelet dan waktu
perdarahan.
Penatalaksanaan
Prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu:

Memperbaiki
Menghentikan keadaan
perdarahan umum

Mencegah
Mencegah
berulangnya
komplikasi
epistaksis
ALAT DAN BAHAN

Spekulum Pinset Tampon Tampon


Lampu kepala
hidung bayonet vaselin rol Bellocq

Lidocain Adrenalin
Kateter Foley Forsep ring Suction spray 1/5.000 –
2 – 4% 1/10.000

Spuit 10 cc
Plester dan
Handschoen dan larutan Jelly lubrikan
gunting
salin
PROSEDUR PEMASANGAN TAMPON
1. Senyum, sapa, salam
2. Informed consent
3. Mengatur posisi pasien, yaitu posisi duduk tegak. Apabila keadaannya lemah, posisikan
dengan setengah duduk. Apabila pasien anak, duduk dipangku, badan dan tangan dipeluk,
kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak.
4. Menyiapkan alat.
5. Cuci tangan WHO
6. Memakai handschoen.
7. Membersihkan hidung dari darah dan bekuan darah dengan menggunakan suction, lalu
mencari sumber pendarahan.
8. Memasang tampon sementara, yaitu kapas yang telah dibasahi dengan adrenalin 1/5.000 –
1/10.000 dan lidocain 2% dimasukkan ke dalam rongga hidung.
9. Tampon dibiarkan selama 10 – 15 menit. Setelah terjadi vasokonstriksi biasanya dapat di
lihat apakah perdarahan berasal dari bagian anterior atau posterior hidung
10. Atau, pasien diminta untuk duduk tegak, lalu memencet hidung bagian bawah selama 10 –
15 menit lalu diminta bernafas melalui mulut lalu mencondongkan badannya ke depan.
11. Pemeriksa melihat apakah ada darah yang mengalir melalui orofaring.
METODE TROTTER

Tentukan sumber perdarahan


• Pasang tampon anterior dengan adrenalin 1/5000-1/10.000 dan lidocain/panto
cain 2%
• Tampon ini dibiarkan selama 3-5 menit, evaluasi lokasi perdarahan
TAMPON ANTERIOR
Cara mempersiapkan tampon rol

1. Vaselin salep dipanaskan di dalam kom hingga


mencair
2. Celupkan tampon rol ke dalam vaselin yang sudah
mencair, lalu dibolak-balikan agar vaselin melekat
secara merata
3. Tampon rol diangkat dibiarkan dingin sehingga
vaselin pada tampon rol akan membeku kembali
PEMASANGAN TAMPON ANTERIOR

1. Buka nares anterior menggunakan spekulum hidung.


2. Ujung tampon vaselin rol dijepit menggunakan pinset bayonet, lalu dimasuk-
kan sepanjang dasar nares anterior. Pinset bayonet yang menjepit tidak
boleh melebihi panjang tampon rol agar pinset tidak melukai cavum nasi.
3. Lepaskan pinset bayonet dari tampon rol dan spekulum hidung dari nares
anterior.
4. Gunakan spekulum hidung untuk mendorong dan menahan tampon rol
pertama ke arah atas, lalu masukkan kembali tampon rol selanjutnya ke
sepanjang dasar nares anterior.
5. Pemasangan diteruskan hingga seluruh cavum nares anterior terisi penuh.
6. Tampon dipertahankan selama 2 x 24 jam. Bila perdarahan masih belum
berhenti, dipasang tampon baru.
Tampon anterior
TAMPON POSTERIOR
Tampon Bellocq

• Tampon ini dibuat dari kassa padat dibentuk


kubus atau bulat dengan diameter 3 cm.
• Pada tampon ini terikat 3 utas benang, 2 buah
di satu sisi dan sebuah di sisi berlawanan.
PEMASANGAN TAMPON POSTERIOR

1. Kateter diolesi jelly lubrikan.


2. Masukkan kateter karet dari lubang hidung sampai tampak di orofaring, lalu di
tarik keluar melalui mulut menggunakan forsep ring.
3. Ujung kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujung
tampon Bellocq, kemudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang ke-
luar dari nares anterior. Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluar-
kan melalui lubang hidung sebelahnya.
4. Benang yang keluar kemudian ditarik, dan tampon perlu didorong dengan ba
ntuan jari telunjuk untuk dapat melewati palatum mole masuk ke nasofaring.
5. Kedua benang yang keluar dari hidung diikat pada sebuah gulungan kassa di
depan nares anterior.
6. Benang lain yang keluar dari mulut diikatkan secara longgar pada pipi pasien
Tampon posterior
Tampon Antero-Posterior

Bila perdarahan berat pada kedua sisi,


misalnya pada kasus angiofibroma, di-
gunakan bantuan 2 kateter masing-ma-
sing melalui cavum nasi kanan dan kiri,
dan tampon posterior terpasang di
tengah-tengah nasofaring.
Bila masih ada perdarahan,dapat ditam
bah tampon anterior ke dalam
cavum nasi.
PEMASANGAN TAMPON BALON KATETER FOLEY
1. Olesi kateter Foley no. 12 – 16 F dengan jelly lubrikan atau
salep antibiotik.
2. Kateter Foley dimasukkan ke dalam hidung, di sepanjang da
sar hidung sampai balon terlihat di nasofaring.
3. Balon diisi dengan 10 – 20 cc larutan salin dan kateter Foley
ditarik ke arah anterior sehingga balon menutup rongga
hidung posterior.
4. Selanjutnya dipasang tampon anterior dan kateter difiksasi
dengan mengunakan kain kasa yang dilekatkan pada
cuping hidung
Medikamentosa

Selama pemasangan
Pertimbangan untuk
tampon (3-4 hari),
pemberian antibiotik
kenyamanan pasien
broad spektrum
akan terganggu

Untuk mencegah
terjadinya komplikasi
Pemberian sedatif
akibat kuman patogen
dan analgesik
selama pemasangan
tampon.
Komplikasi akibat epistaksis
• Syok
• Anemia
• Iskemi cerebri, insufisiensi koroner dan infark miocard
• Peningkatan PCO2 dan penurunan PO2 pada pasien
dengan riwayat paru atau jantung dapat menimbulkan
IMA dan gangguan pembuluh darah otak.
Komplikasi akibat pemasangan tampon
• Tampon anterior
• sinusitis
• air mata yang berdarah (bloody tears)
• septikemia.
• Tampon posterior
• otitis media
• haemotympanum
• laserasi palatum mole dan sudut bibir
THANK YOU
Any Question?