Anda di halaman 1dari 17

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan pada praktikum Kinetika Kimia ini yaitu:
1. ,Menentukan persamaan laju reaksi S2O82- dan I- berdasarkan pengaruh konsentrasi
I- serta S2O82- pada laju reaksi dan pengaruh penambahan Cu(NO3)2 pada laju
reaksi.
2. Menentukan energi pengaktifan reaksi redoks Fe3+ dengan S2O32- .
3. Menentukan mekanisme reaksi kompleks melalui reaksi Brigss-Rauscher.
4. Menentukan pengaruh katalis pada reaksi kimia.

II. TEORI DASAR


Reaksi kimia berlangsung dalam kecepatan tertentu, terdapat reaksi kimia yang
berlangsung sangat cepat sehingga sulit diukur dan ada banyak yang berlangsung lambat
sehingga dapat diukur pada suhu tertentu, baik itu senyawa organik maupun senyawa non
organik. Laju reaksi diukur sebagai berkurangnya zat pereaksi atau juga bias diartikan
sebagai penambahan zat hasil reaksi. Hal-hal yang mempengaruhi laju reaksi antara lain
adalah konsentrasi zat yang bereaksi, temperatur, luas permukaan, tekanan dan volume,
orientasi molekul dan katalis. Ketika konsentrasi zat yang bereaksi semakin banyak berarti
jumlah partikel juga semakin banyak, hal itu membuat probabilitas tumbukan akan
semakin tinggi, sehingga laju reaksi dapat semakin cepat. Untuk temperatur, semakin
tinggi temperature maka energi kinetik juga semakin tinggi sehingga gerakan partikel-
partikel semakin cepat dan akan membuat probabilitas tumbukan semakin tinggi sehingga
laju reaksi juga berlangsung semakin cepat. Luas permukaan akan menentukan laju reaksi
karena semakin luas permukaannya yang berarti akan semakin banyak partikel yang dapat
bertumbukan sehingga laju reaksi semakin tinggi juga. Untuk tekanan dalam fasa gas maka
jika tekanan tinggi akan membuat probabilitas tumbukan akan semakin besar sehingga laju
reaksi juga semakin tinggi. Katalis kita ketahui bahwa akan mempercepat reaksi dengan
cara menurunkan energy aktivasi. Dan untuk oriantasi molekul dapat dilihat dalam gambar
dibawah ini

Gambar 1. Pengaruh orientasi molekul terhadap keberlangsungan reaksi kimia


Sumber : http://academia.utp.edu.co/quimica2/2018/04/15/inicios-historicos-
de-la-cinetica-quimica/

1
Hukum laju reaksi hanya dapat ditentukan dengan eksperimen dan tidak dapat disimpulkan
hanya dari persamaan reaksi. Orde reaksi terhadap suatu perekasi sama dengan eksponen
pada hukum laju reaksi.
Misalnya untuk reaksi A + 2B → 3C + D, hukum laju reaksinya yaitu
𝑑[𝐴] 1 𝑑[𝐵] 1 𝑑[𝐶] 𝑑[𝐵]
− = − = + = + = 𝑘[𝐴]𝑚 [𝐵]𝑛
𝑑𝑡 2 𝑑𝑡 3 𝑑𝑡 𝑑𝑡
Dengan k adalah tetapan laju reaksi, m dan n sebagai orde reaksi, dan tanda minus (-) berarti
laju berkurangnya konsentrasi pereaksi dan tanda plus (+) berarti laju bertambahnya
konsentrasi hasil reaksi.
Suatu reaksi kimia dapat berlangsung apabila orientasi antar pereaksinya tepat satu
sama lain dan tercapainya energi pengaktifan reaksi. Energi pengaktifan adalah energi yang
dibutuhkan untuk mengatasi efek sterik dan untuk memulai pemutusan ikatan lama pada
pereaksi. Energi pengaktifan ini diperlukan untuk mengubah substrat pereaksi menjadi
spesi kompleks teraktifkan (keadaan transisi). Energi pengaktifan dihubungkan dengan
tetapan laju reaksi, k, dan temperatur oleh persamaan Arrhenius sebagai berikut:
k = Ae –Ea/RT
atau ungkapan logaritmanya yaitu :
−𝐸𝑎 1
ln 𝑘 = ( ) ( ) + ln 𝐴
𝑅 𝑇
Dengan R adalah tetapan gas ideal (8,314 Jmol–1K–1 ) dan T adalah temperatur dalam K.
Pada percobaan ini akan dipelajari reaksi antara S2O82- dan I- menghasilkan ion
sulfat dan ion iodide.
S2O82-(aq) + I-(aq) → 2 SO42- (aq) + I3-(aq)
Iod yang dihasilkan berbentuk ion triiodida direaksikan dengan ion tiosulfat yang
diketahui jumlahnya.

2 S2O32(aq) + I3-(aq) → S4O62(aq) + 3I(aq)


Guna ion tiosulfat yaitu mereaksikan iod yang terbentuk sehingga mencegah reaksi
sebaliknya dan membuat agar tidak ada iod bebas dalam larutan.

III. CARA KERJA


BAGIAN 1: Penentuan Persamaan Laju Reaksi S2O82- dan I-
BAGIAN 1.1 : Pengaruh Konsentrasi I- pada Laju Reaksi
Dalam deret percobaan ini konsentrasi S2O82- dibuat konstan, sedangkan konsentrasi I-
berubah-ubah. Pertama larutan kanji diukur dengan gelas ukur sebanyak 5 mL dan
dimasukkan ke gelas kimia 250 mL. Ditambahkan larutan Na2S2O3 0,01 M sebanyak 10
mL yang diukur dengan pipet ukur. Ditambahkan lagi KI 0,4 M sebanyak 25 mL dengan

2
pipet seukuran. Campuran tersebut diaduk. Lalu 25 mL (NH4)2S2O8 0,2 M (yang diukur
menggunakan pipet ukur) dimasukkan ke dalam gelas kimia 150 mL yang kering.
Temperatur kedua larutan tersebut disamakan dan dicampurkan segera larutan (NH4)2S2O8
ke dalam campuran KI - Na2S2O3 - kanji dan dengan perlahan campuran tersebut diaduk
dengan batang pengaduk. Selang waktu saat pencampurkan kedua larutan hingga
campuran berubah warna menjadi biru dicatat dan dicatat juga temperatur campuran
tersebut. Percobaan diulangi namun dengan konsentrasi KI 0,2 M, 0,1 M, 0,05 M.

BAGIAN 1.2 : Pengaruh Konsentrasi S2O82- pada Laju Reaksi


Dalam deret percobaan ini konsentrasi I- dibuat konstan, sedangkan konsentrasi S2O82-
berubah-ubah. Pertama, diukur larutan KI 0,2 M sebanyak 25 mL, larutan Na2S2O3 0,01 M
sebanyak 5 mL dan larutan kanji 5 mL, kemudian larutan tersebut dicampurkan dan
dimasukkan ke dalam gelas kimia. Kemudian campuran tersebut dan larutan (NH4)2S2O8
disamakan temperaturnya. Selanjutnya larutan (NH4)2S2O8 0,4 M dicampurkan ke dalam
larutan KI - Na2S2O3 – kanji dan dengan perlahan campuran tersebut diaduk dengan batang
pengaduk. Selang waktu saat pencampurkan kedua larutan hingga campuran berubah
warna menjadi biru dicatat dan dicatat juga temperatur campuran tersebut. Percobaan
diulangi namun dengan konsentrasi (NH4)2S2O8 0,2 M, 0,1 M, 0,05 M.

BAGIAN 1.3: Pengaruh Penambahan Cu(NO3)2 pada Laju Reaksi 1


Dalam deret percobaan ini konsentrasi S2O82- dibuat konstan, sedangkan konsentrasi I-
berubah-ubah dan penambahan dan masing-masing larutan ditambahkan satu tetes
Cu(NO3)2 . Pertama larutan kanji diukur dengan gelas ukur sebanyak 5 mL dan dimasukkan
ke gelas kimia 250 mL. Ditambahkan larutan Na2S2O3 0,01 M sebanyak 10 mL yang diukur
dengan pipet ukur. Ditambahkan lagi KI 0,4 M sebanyak 25 mL dengan pipet seukuran,
lalu ditambahkan satu tetes Cu(NO3)2 . Campuran tersebut diaduk. Lalu 25 mL (NH4)2S2O8
0,2 M (yang diukur menggunakan pipet ukur) dimasukkan ke dalam gelas kimia 150 mL
yang kering. Temperatur kedua larutan tersebut disamakan dan dicampurkan segera larutan
(NH4)2S2O8 ke dalam campuran KI - Na2S2O3 – kanji - Cu(NO3)2 dan dengan perlahan
campuran tersebut diaduk dengan batang pengaduk. Selang waktu saat pencampurkan
kedua larutan hingga campuran berubah warna menjadi biru dicatat dan dicatat juga
temperatur campuran tersebut. Percobaan diulangi namun dengan konsentrasi KI 0,2 M,
0,1 M, 0,05 M.

BAGIAN 1.4: Pengaruh Penambahan Cu(NO3)2 pada Laju Reaksi 2


Dalam deret percobaan ini konsentrasi I- dibuat konstan, sedangkan konsentrasi S2O82-
berubah-ubah dan masing-masing larutan ditambahkan satu tetes Cu(NO3)2. Pertama,
diukur larutan KI 0,2 M sebanyak 25 mL, larutan Na2S2O3 0,01 M sebanyak 5 mL dan
larutan kanji 5 mL, kemudian larutan tersebut dicampurkan dan dimasukkan ke dalam gelas
kimia dan ditambahkan satu tetes Cu(NO3)2. Kemudian campuran tersebut dan larutan

3
(NH4)2S2O8 disamakan temperaturnya. Selanjutnya larutan (NH4)2S2O8 0,4 M dicampurkan
ke dalam larutan KI - Na2S2O3 – kanji - Cu(NO3)2 dan dengan perlahan campuran tersebut
diaduk dengan batang pengaduk. Selang waktu saat pencampurkan kedua larutan hingga
campuran berubah warna menjadi biru dicatat dan dicatat juga temperatur campuran
tersebut. Percobaan diulangi namun dengan konsentrasi (NH4)2S2O8 0,2 M, 0,1 M, 0,05 M.

BAGIAN 2: Penentuan Energi Pengaktifan Reaksi Redoks Fe3+ dengan S2O32


Disiapkan 3 buah gelas kimia 250 mL, gelas kimia 1 diisi dengan air dingin dengan suhu
kurang lebih 25°C, gelas kimia 2 diisi dengan air pada suhu 45C dan gelas kimia 3 diisi
dengan air bersuhu kira-kira 65C. Kemudian masing-masing 2 mL larutan 0,05 M Fe3+
dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi. Tabung reaksi 1 diletakkan dalam gelas kimia 1,
tabung 2 diletakkan dalam gelas kimia 2, tabung 3 diletakkan di gelas kimia 3. Dibiarkan
beberapa saat agar suhu didalam tabung reaksi sama dengan suhu air didalam gelas kimia.
Tiga buah tabung reaksi yang lain disiapkan dan masing-masing diisi dengan 2 mL larutan
S2O32- 0,1 M dan masing-masing tabung reaksi diberi label A,B, dan C. Lalu isi dari tabung
reaksi A dituangkan ke dalam tabung reaksi 1 dan pada saat yang bersamaan, stopwatch
dinyalakan ketika campuran mulai bercampur dan campuran menjadi berwarna gelap.
Stopwatch dihentikan ketika campuran berwarna bening seluruhnya dan waktu perubahan
tersebut dicatat. Langkah tersebut diulangi untuk tabung reaksi B dan juga C.

BAGIAN 3: Reaksi Briggs – Rauscher: Mekanisme Reaksi Kompleks


Sebanyak 50 mL tiap larutan A, B, dan C dicampurkan didalam gelas kimia dan diaduk.
Perubahan warna yang terjadi dalam reaksi tersebut diamati. Larutan A terdiri dari larutan
H2O2 4M (410 mL 30% H2O2 diencerkan sampai dengan 1 L dengan aqua dm). Larutan B
terdiri dari 0,20 M dalam KIO3 dan 0,077 M dalam H2SO4 (43 gram KIO3 dilarutkan dalam
800 mL aqua dm. Ditambahkan sebanyak 4,3 mL H2SO4 pekat. Campuran reaksi
dipanaskan dan diaduk sampai kalium iodat larut. Larutan diencerkan sampai dengan 1 L
dengan aqua dm). Larutan C terdiri dari larutan kanji, 0,15 M dalam asam malonat dan
0,02 M dalam MnSO4 (16 gram asam malonat dan 3,4 gram mangan(II)sulfat monohidrat
dilarutkan dalam 500 mL aqua dm. 0,30 gram kanji dicampurkan dengan 5 mL aqua dm
dan campuran diaduk sampai berbentuk bubur. Bubur dituangkan ke dalam 50 mL aqua
dm mendidih dan dilanjutkan pemanasan sambil diaduk sampai kanji larut. Larutan kanji
ini dituangkan ke dalam larutan asam malonat dan mangan(II)sulfat. Campuran ini
diencerkan sampai dengan1 L menggunakan aqua dm)

BAGIAN 4. Pengaruh Katalis pada Reaksi Kimia


Pertama, 20 mL larutan H2O2 30% dituangkan ke dalam gelas ukur 100 mL. Sekitar 10 mL
deterjen cair atau larutan deterjen ditambahkan ke dalam gelas ukur berisi larutan dan
diaduk agar campuran reaksi tercampur dengan baik. Gelas ukur sedikit dimiringkan dan

4
diteteskan zat pewarna makanan kemudian ditambahkan larutan KI jenuh ke dalam gelas
ukur tersebut.

IV. DATA PENGAMATAN

BAGIAN 1 : Penentuan Persamaan Laju Reaksi S2O82- dan I-


BAGIAN 1.1 : Pengaruh Konsentrasi I- pada Laju Reaksi

Percobaan Konsentrasi Pereaksi Suhu (°C) Selang


KI (M) (NH4)2S2O8 (M) Awal Akhir Waktu
1 0,40 0,20 26 26 30 detik
2 0,20 0,20 26 26 1 menit 5
detik
3 0,10 0,20 26 26 2 menit 25
detik
4 0,05 0,20 26 26 3 menit 44
detik

BAGIAN 1.2 : Pengaruh Konsentrasi S2O82- pada Laju Reaksi


Percobaan Konsentrasi Pereaksi Suhu (°C) Selang
KI (M) (NH4)2S2O8 (M) Awal Akhir Waktu
1 0,20 0,40 26 26 23 detik
2 0,20 0,20 26 26 1 menit 3
detik
3 0,20 0,10 26 26 2 menit 32
detik
4 0,20 0,05 26 26 4 menit 24
detik

BAGIAN 1.3: Pengaruh Penambahan Cu(NO3)2 pada Laju Reaksi 1


Percobaan Konsentrasi Pereaksi Suhu (°C) Selang
KI (M) (NH4)2S2O8 (M) Awal Akhir Waktu
1 0,40 0,20 26 26 0,1 detik
2 0,20 0,20 26 26 0,5 detik
3 0,10 0,20 26 26 0,6 detik
4 0,05 0,20 26 26 1 detik

5
BAGIAN 1.4: Pengaruh Penambahan Cu(NO3)2 pada Laju Reaksi 2

Percobaan Konsentrasi Pereaksi Awal Selang


KI (M) (NH4)2S2O8 (M) Awal Akhir Waktu
1 0,20 0,40 26 26 21 detik
2 0,20 0,20 26 26 51 detik
3 0,20 0,10 26 26 1 menit 5
detik
4 0,20 0,05 26 26 3 menit 46
detik

BAGIAN 2 : Penentuan Energi Pengaktifan Reaksi Redoks Fe3+ dengan S2O32

No Suhu Larutan (C) Selang Waktu


1 25 32 detik
2 56 10 detik
3 66 7 detik

BAGIAN 3 : Reaksi Briggs-Rauscher


Pada percobaan bagian 3 terjadi perubahan warna campuran, yaitu warna bening,
kuning, dan biru yang terjadi secara bergantian dan terus berubah.

BAGIAN 4 : Pengaruh Katalis pada Reaksi Kimia


Pada percobaan ini, setelah ditambahkan larutan jenuh KI, campuran
menghasilkan busa dengan cepat dan banyak.

V. PERHITUNGAN
5.1 Penentuan Persamaan Laju Reaksi

Diketahui reaksi yang berlangsung


S2O82-(aq) + I-(aq) → 2 SO42- (aq) + I3-(aq)

2 S2O32(aq) + I3-(aq) → S4O62(aq) + 3I(aq)


Berdasarkan reaksi diatas
𝑛 𝐼3− 1
=
𝑛 𝑆2 𝑂32− 2

2 . n I3- = n S2O32-
2 S2O82- = n S2O32-

6
2 S2O82- = 0,01 L x 0,01 M
n S2O82- = 5 x 10-5 mol
5 x 10−5 mol
[S2O82-] = = 7,69 x 10-4 M
0,065 𝐿

5.1.1 Menghitung Konsentrasi KI Setelah Pencampuran Bagian 1.1

[KI]1 = 0,4 M [KI]1 = 0,2 M [KI]1 = 0,1 M [KI]1 = 0,05 M


V1 = 25 mL V1 = 25 mL V1 = 25 mL V1 = 25 mL
V2 = 65 mL V2 = 65 mL V2 = 65 mL V2 = 65 mL

[KI]1 .V1 = [KI]2 . V2 [KI]1 .V1 = [KI]2 . V2 [KI]1 .V1 = [KI]2 . V2 [KI]1 .V1 = [KI]2 . V2
0,4 . 25 = [KI]2 . 65 0,2 . 25 = [KI]2 . 65 0,1 . 25 = [KI]2 . 65 0,05 . 25 = [KI]2 . 65
[KI]2 = 0,154 M [KI]2 = 0,077 M [KI]2 = 0,038 M [KI]2 = 0,01925 M

5.1.2 Menghitung Konsentrasi (NH4)2S2O8 Setelah Pencampuran Bagian 1.1


[(NH4)2S2O8]1 = 0,2 M
V1 = 25 mL dan V2 = 65 mL
[(NH4)2S2O8]1 . V1 = [(NH4)2S2O8]2 . V2
0,2 x 25 = [(NH4)2S2O8]2 . 65
[(NH4)2S2O8]2 = 0,077 M

5.1.3 Menghitung Laju Reaksi Bagian 1.1


Δ [𝑆2 𝑂82−]
Laju reaksi dihitung dengan
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢

1. 2. 3. 4.
0,077 𝑀 0,077 𝑀 0,077 𝑀 0,077 𝑀
30 𝑠 65 𝑠 145 𝑠 224 𝑠

= 2,56 𝑥 10−3 = 1,18 𝑥 10−3 = 5,31 𝑥 10−4 = 3,43 𝑥 10−4

5.1.4 Menghitung Konsentrasi KI Setelah Pencampuran Bagian 1.2


[KI]1 = 0,2 M
V1 = 25 mL dan V2 = 65 mL

7
[KI]1 . V1 = [KI]2 . V2
0,2 x 25 = [KI]2 . 65
[KI]2 = 0,077 M
5.1.5 Menghitung Konsentrasi (NH4)2S2O8 Setelah Pencampuran Bagian 1.2
M1 = 0,4 M M1 = 0,2 M M1 = 0,1 M M1 = 0,05 M
V1 = 25 mL V1 = 25 mL V1 = 25 mL V1 = 25 mL
V2 = 65 mL V2 = 65 mL V2 = 65 mL V2 = 65 mL

M1 .V1 = M2 . V2 M1 .V1 = M2 . V2 M1 .V1 = M2 . V2 M1 .V1 = M2 . V2


0,4 . 25 = M2 . 65 0,2 . 25 = M2 . 65 0,1 . 25 = M2 . 65 0,05 . 25 = M2 . 65
M2 = 0,154 M M2 = 0,077 M M2 = 0,038 M M2 = 0,01925 M

5.1.6 Menghitung Laju Reaksi Bagian 1.2


Δ [𝑆2 𝑂82−]
Laju reaksi dihitung dengan
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢

1. 2. 3. 4.
0,154 𝑀 0,077 𝑀 0,038 𝑀 0,01925 𝑀
23 𝑠 63 𝑠 152 𝑠 264 𝑠

= 6,69 𝑥 10−3 = 1,2 𝑥 10−3 = 2,5 𝑥 10−4 = 7,29 𝑥 10−5

5.1.7 Menghitung Orde Reaksi KI dengan Data Bagian 1.1

r = k [KI]m [(NH4)2S2O8]n


𝑟1 𝑘[𝐾𝐼]1𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]1 𝑛
=
𝑟2 𝑘[𝐾𝐼]2𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]2 𝑛

2,56 𝑥 10−3 (0,154)𝑚 (0,077)𝑛


=
1,18 𝑥 10−3 (0,077)𝑚 (0,077)𝑛

2,17 = 2m

m12 = 1,12


𝑟2 𝑘[𝐾𝐼]2𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]2 𝑛
=
𝑟3 𝑘[𝐾𝐼]3𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]3 𝑛

8
1,18 𝑥 10−3 (0,077)𝑚 (0,077)𝑛
=
5,31 𝑥 10−4 (0,038)𝑚 (0,077)𝑛

2,2 = 2m

m23 = 1,14


𝑟3 𝑘[𝐾𝐼]3𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]3 𝑛
=
𝑟4 𝑘[𝐾𝐼]4𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]4 𝑛

5,31 𝑥 10−4 (0,038)𝑚 (0,077)𝑛


=
3,43 𝑥 10−4 (0,01925)𝑚 (0,077)𝑛

1,54 = 2m

m23 = 0,63
𝑚12+𝑚23+𝑚34
Maka orde reaksi terhadap KI , 𝑚 = = 𝟎, 𝟗𝟔
3

5.1.8 Menghitung Orde Reaksi (NH4)2S2O8 dengan Data Bagian 1.2

r = k [KI]m [(NH4)2S2O8]n


𝑟1 𝑘[𝐾𝐼]1𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]1 𝑛
=
𝑟2 𝑘[𝐾𝐼]2𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]2 𝑛

6,69 𝑥 10−3 (0,077)𝑚 (0,154)𝑛


=
1,2 𝑥 10−3 (0,077)𝑚 (0,077)𝑛

5,575 = 2n

n12 = 2,48


𝑟2 𝑘[𝐾𝐼]2𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]2 𝑛
=
𝑟3 𝑘[𝐾𝐼]3𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]3 𝑛

1,2 𝑥 10−3 (0,077)𝑚 (0,077)𝑛


=
2,5 𝑥 10−4 (0,077)𝑚 (0,038)𝑛

4,8 = 2n

n23 = 2,27

9

𝑟3 𝑘[𝐾𝐼]3𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]3 𝑛
=
𝑟4 𝑘[𝐾𝐼]4𝑚 [(𝑁𝐻4 )2 𝑆2 𝑂8 ]4 𝑛

2,5 𝑥 10−4 (0,077)𝑚 (0,038)𝑛


=
7,29 𝑥 10−5 (0,077)𝑚 (0,01925)𝑛

3,43 = 2n

n34 = 1,78
m12+m23+m34
Maka orde reaksi terhadap (NH4)2S2O8 , m = = 2,17
3

5.1.9 Menghitung k (tetapan laju reaksi) Percobaan dari Data Bagian 1.1 dan 1.2

𝐫
𝐤=
[𝐊𝐈]𝟎,𝟗𝟔 [(𝐍𝐇𝟒 )𝟐 𝐒𝟐 𝐎𝟖 ]𝟐,𝟏𝟕
Bagian 1.1 Bagian 1.2

𝟐,𝟓𝟔 𝐱 𝟏𝟎−𝟑 𝟔,𝟔𝟗 𝐱 𝟏𝟎−𝟑


𝐤𝟏 = = 4,022 𝐤𝟏 = = 4,544
[𝟎,𝟏𝟓𝟒]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟐,𝟏𝟕 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟏𝟓𝟒]𝟐,𝟏𝟕

𝟏,𝟏𝟖 𝐱 𝟏𝟎−𝟑 𝟏,𝟐 𝐱 𝟏𝟎−𝟑


𝐤𝟐 = = 3,607 𝐤𝟐 = = 3,668
[𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟐,𝟏𝟕 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟐,𝟏𝟕

𝟓,𝟑𝟐 𝐱 𝟏𝟎−𝟒 𝟐,𝟓 𝐱 𝟏𝟎−𝟒


𝐤𝟑 = = 3,203 𝐤𝟑 = = 3,538
[𝟎,𝟎𝟑𝟖]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟐,𝟏𝟕 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟑𝟖]𝟐,𝟏𝟕

𝟑,𝟒𝟑 𝐱 𝟏𝟎−𝟒 𝟕,𝟐𝟗 𝐱 𝟏𝟎−𝟓


𝐤𝟒 = = 3,967 𝐤𝟒 = = 4,513
[𝟎,𝟎𝟏𝟗𝟐𝟓]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟐,𝟏𝟕 [𝟎,𝟎𝟕𝟕]𝟎,𝟗𝟔 [𝟎,𝟎𝟏𝟗𝟐𝟓]𝟐,𝟏𝟕

k1 rata-rata = 3,67 K2 rata-rata = 4,065

Jadi tetapan laju reaksi yaitu 3,8675


Tabel Perhitungan Bagian 1.1
Percobaan Konsentrasi Campuran (M) Waktu (s) Laju Reaksi k Percobaan
KI (NH4)2S2O8 (M / s)
1 0,154 30 2,56 x 10-3 4,022
2 0,077 0,077 65 1,18 x 10-3 3,607
3 0,038 145 5,31 x 10-4 3,203
4 0,01925 224 3,43 x 10-4 3,967

10
Tabel Perhitungan Bagian 1.2
Percobaan Konsentrasi Campuran (M) Waktu (s) Laju Reaksi k Percobaan
KI (NH4)2S2O8 (M / s)
1 0,154 23 6,69 x 10-3 4,544
2 0,077 63 1,2 x 10-3 3,668
3 0,077 0,038 152 2,5 x 10-4 3,538
4 0,01925 264 7,29 x 10-5 4,513

Jadi persamaan laju reaksinya yaitu r = 3,8675 [KI]0,96 [(NH4)2S2O8]2,17

5.1.10 Menentukan Persamaan Laju Reaksi dengan Penambahan Katalis


Dengan perhitungan yang sama pada bagian1.1 dan 1.2, maka didapatkan hasil untuk bagian 1.3
dan 1.4
Didapat bahwa orde reaksi untuk KI yaitu 1,11 dan orde reaksi untuk (NH4)2S2O8 yaitu 2,14
Didapat bahwa k1 rata-rata = 1195,265 dan k2 rata-rata = 7,749

Jadi tetapan laju reaksi yaitu 601,507


Tabel Perhitungan Bagian 1.3

Percobaan Konsentrasi Campuran (M) Waktu (s) Laju Reaksi k Percobaan


KI (NH4)2S2O8 (M / s)
1 0,154 0,1 0,77 1483,38
2 0,077 0,077 0,5 0,154 640,362
3 0,038 0,6 0,128 1165,62
4 0,01925 1 0,077 1491,7

Tabel Perhitungan Bagian 1.4

Percobaan Konsentrasi Campuran (M) Waktu (s) Laju Reaksi k Percobaan


KI (NH4)2S2O8 (M / s)
1 0,154 21 7,3 x 10-3 6,887
2 0,077 0,077 51 1,5 x 10-3 6,237
3 0,038 65 5,84 x 10-4 11
4 0,01925 226 8,51 x 10-5 6,874

Jadi persamaan laju reaksi dengan penambahan katalis yaitu


r = 601,507 [KI]1,11 [(NH4)2S2O8]2,14

11
5.2 Penentuan Energi Pengaktifan
Larutan A = Fe3+
Larutan B = S2O32-
5.2.1 Menghitung Konsentrasi Awal Fe3+ dan S2O32-
2 mL x 0,05 M 2mL x 0,1 M
[Fe3+]awal = [S2O32-]awal =
4 mL 4 mL
A0 = 0,025 M B0 = 0,05 M

5.2.2 Mencari Reaksi Pembatas

2 Fe3+(aq) + 2 S2O32- → 2 Fe2+(aq) + S4O62-(aq)


m 0,025 M 0,05
r 0,025 M 0,025 0,025 0,025
s - 0,025 0,025 0,025

5.2.3 Menghitung Nilai K Masing-Masing Suhu


x = 0,025

 Untuk T = 25C

𝟏, 𝟎𝟎𝟗𝟏𝟏𝟒𝟏𝟑𝟑 𝒙 𝟏𝟎−𝟖
𝒌= = 𝟑, 𝟒𝟒𝟎𝟑𝟒𝟖𝟏𝟔𝟕 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟎
𝟑𝟐
 Untuk T = 56C
𝟏, 𝟎𝟎𝟗𝟏𝟏𝟒𝟏𝟑𝟑 𝒙 𝟏𝟎−𝟖
𝒌= = 𝟏, 𝟎𝟎𝟗𝟏𝟏𝟒𝟏𝟑𝟑 𝒙 𝟏𝟎−𝟗
𝟏𝟎

 Untuk T = 66C
𝟏, 𝟎𝟎𝟗𝟏𝟏𝟒𝟏𝟑𝟑 𝒙 𝟏𝟎−𝟖
𝒌= = 𝟏, 𝟓𝟕𝟐𝟕𝟑𝟎𝟓𝟗 𝒙 𝟏𝟎−𝟗
𝟕

𝟏 𝟏 𝟏
= 𝟑, 𝟑𝟓𝟓𝟕𝟎𝒙𝟏𝟎−𝟑 = 𝟑, 𝟎𝟑𝟗𝟓𝟏𝟑𝟔𝟕𝟖𝒙𝟏𝟎−𝟑 = 𝟐, 𝟗𝟒𝟗𝟖𝟓𝟐𝟓𝟎𝟕𝒙𝟏𝟎−𝟑
𝑻𝟏 𝑻𝟐 𝑻𝟑

12
5.2.4 Membuat kurva 1/T terhadap ln k

k = Ae-Ea/RT

−Ea 1
ln k = + ln A , dengan ln k = sumbu y, -Ea/R = b, 1/T = sumbu x, dan ln A = a
R T

ln k1 = ln (3,440348167 𝑥 10−10 ) = -21,79027


ln k2 = ln (1,009114133 𝑥 10−9 ) = - 20,71419
ln k3 = ln (1,57273059 𝑥 10−9 ) = -20,27045

Regreasi didapatkan bahwa


A= -9,539188479
B= -3655,120669
3655,120669 x R = EA
EA = 299,71989 J

Grafik ln K terhadap 1/T


-19.50000
0,00335570 0,0039513678 0,002949852507
-20.00000
-20.27045
-20.50000
-20.71419
-21.00000

-21.50000
-21.79027
-22.00000

Series 1

VI. PEMBAHASAN
Peda percobaan bagian 1.1 dan 1.2 bertujuan untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi I- dan S2O82- yang dapat diketahui pengaruhnya dalam bentuk orde reaksi.
Semakin besar orde reaksi suatu zat, semakin mempercepat laju reaksi, sesuai dengan
persamaan V = K [I-]x [S2O82-]y, dimana x adalah orde [I-] dan y adalah orde [S2O82-].
Percobaan 1.1 dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi [I-] pada suatu reaksi. Reaksi
kimia tersebut memakai larutan kanji, larutan KI, larutan (NH4)2S2O8. Pada percobaan 1.2
juga menggunakan campuran yang sama namun variasi terjadi pada konsentrasi S2O82-.
Kanji dalam campuran tersebut digunakan untuk indicator reaksi yang mana akan berikatan

13
dengan I3- membentuk kompleks yang berwarna biru sebagai penanda adanya I3- berlebih
dan pereaksi pembatas S2O82- telah habis bereaksi. Sebelum campuran Na2S2O3, kanji, dan
KI dicampurkan dengan larutan (NH4)2S2O8 suhu keduanya harus disamakan terlebih
dahulu karena suhu akan mempengaruhi laju reaksi, dan saat mencampurkannya campuran
harus diaduk agar reaksi kimia berjalan dengan baik dimana agar antar partikel dapat
bertumbukan secara cepat dan berulang. Pengukuran selang waktu dimulai saat reaksi
dicampurkan hingga campuran berubah warna menjadi biru tua.
Pada hasil percobaan 1.1 didapat bahwa semakin tinggi konsentrasi [I-] akan
membuat reaksi semakin cepat berlangsung. Begitu pula pada percobaan 1.2, reaksi akan
semakin cepat jika konsentrasi [S2O82-] bertambah banyak. Dari data percobaan 1.1 dan 1.2
dapat dihitung laju reaksi masing-masing dengan cara membagi konsentrasi S2O82- dengan
waktu bereaksinya. Sebelumnya masing-masing konsetrasi KI dan (NH4)2S2O8 dihitung
pada percobaan 1.1 dan 1.2. Lalu dapat diketahui orde reaksi untuk KI dan (NH4)2S2O8
yaitu 0,96 untuk KI dan 2,17 untuk (NH4)2S2O8. Orde reaksi tersebut tidak tepat 1 dan tidak
tepat 2 karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya ketidaktepatan volume larutan
yang dicampurkan sehinggan ketelitian dan akurasi data semakin berkurang. Selanjutnya
untuk tetapan laju reaksi dapat diketahui dengan data perhitungan 1.1 dan 1.2, didapat nilai
tetapan laju reaksi yaitu sebesar 3,8675.
Pada percobaan 1.3 dan 1.4 sebenarnya hampir sama dengan percobaan 1.1 dan 1.2,
hanya saja untuk percobaan 1.3 dan 1.4 ini masing-masing campuran ditambahkan 1 tetes
Cu(NO3)2 0,1 M yang mana sebagai katalis. Dalam percobaan didapatkan data bahwa
waktu reaksi untuk bagian 1.3 sangat cepat sekali, bahkan hamper tidak mencapai 1 detik
untuk bereaksi, namun untuk bagian1.4 waktu reaksi tidak secepat pada bagian 1.3. Hal itu
dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya kurangnya presisi dalam pengukuran volume larutan
yang dicampurkan, dan dapat juga dipengaruhi oleh kesalahan dalam meneteskan katalis,
sehingga pada bagian 1.3 waktu reaksi dapat berjalan sangat cepat. Dari data yang didapat
pada bagian 1.3 dan 1.4, didapat orde reaksi untuk KI yaitu sebesar 1,11 dan orde reaksi
untuk (NH4)2S2O8 yaitu 2,14. Kemudian untuk tetapan laju reaksi didapat dari percobaan
bagian 1.3 dan 1.4, tetapan laju reaksi tersebut sebesar 601,507. Tetapan laju tersebut juga
sangat besar karena dipengaruhi oleh waktu reaksi yang sangat cepat pada percobaan
bagian 1.3.
Percobaan 2 dilakukan dengan mencampurkan Fe3+ dan S2O32- yang divariasikan
suhunya. Sebelum dicampurkan, larutan disamakan suhunya dan diaduk setelah
dicampurkan. Waktu reaksi diukur saat larutan dicampurkan hingga warna yang barubah
dari biru tua menjadi bening kembali. Didapatkan bahwa semakin tinggi suhu, reaksi
berjalan semakin cepat, sehingga dapat disimpulkan bahwa suhu mempengaruhi laju
reaksi.

14
Percobaan 3 dilakukan untuk mengetahui reaksi Briggs-Rauscher. Reaksi tersebut
yaitu:

IO3-(aq) + 2 H2O2 (aq) + CH2(COOH)2(aq) + H+(aq) → ICH(COOH)2(aq) + 2O2 (g) + 3H2O(l)

Dimana IO3-(aq) sering disebut Hiperdiodat, CH2(COOH)2(aq) disebut malonat, dan


ICH(COOH)2(aq) disebut iodomalonat. Kemudian untuk I3- dalam kanji akan berwarna biru,
I- berwarna bening, dan I2 berwarna kuning. Reaksi tersebut sering juga disebut reaksi
osilasi karena reaksi akan terjadi berulang-ulang yang ditandai dengan berubahan warna
yang awalnya tidak berwarna kemudian berubah menjadi kekuningan, dan berubah
menjadi biru tua, lalu warna akan memudar dan bening kembali. Proses tersebut
berlangsung hingga 10x dan pada akhirnya larutan akan berwarna biru tua dan berbau
menyengat dari iodium. Reaksi osilasi tersebut bias terjadi karena terdapat radikal bebas
yang mana electron tidak pernah berkurang atau bertambah, sehingga reaksi akan terus
berjalan hingga suatu saat berhenti karena salah satu spesi telah habis.
Pada percobaan 4 terjadi reaksi dekomposisi H2O2 :
H2O2 + I- → H2O + IO-
H2O2 + I- → H2O + O2 + I-
Deterjen digunakan untuk memperlihatkan oksigen yang terlepas dari reaksi
dekomposisi dengan membentuk busa sehingga terlihat jelas oleh mata.

VII. KESIMPULAN

7.1 Persamaan laju reaksi S2O82- dan I- yaitu


- Tanpa katalis : r = 3,8675 [KI]0,96 [(NH4)2S2O8]2,17
-
Dengan katalis : r = 601,507 [KI]1,11 [(NH4)2S2O8]2,14
7.2 Energi Pengaktifan reaksi redoks Fe3+ dengan S2O32- adalah 299,71989 J
7.3 Mekanisme reaksi Brigss-Rauscher dalam praktikum adalah sebagai berikut :
IO3-(aq) + 2 H2O2 (aq) + CH2(COOH)2(aq) + H+(aq) → ICH(COOH)2(aq) + 2O2 (g) + 3H2O(l)

7.4 Katalis dapat mempercepat laju reaksi dengan mencari jalur dengan energi aktivasi
yang lebih rendah

15
VIII. DAFTAR PUSTAKA
8.1 Brady, James E. 2011. Chemistry International Student Version. New York : John
Wiley and Sons. Hlm 636-680
8.2 Boreskov, G.K. 1960. Kinetics and Catalysis Journal. Russia : Pleades Publishing.
Hlm 760-820
8.3 Changi, Raymond. 2005. KIMIA DASAR : Konsep-Konsep Inti. Edisi Ketiga Jilid 2.
Jakarta: Erlangga. Hlm 420-490

16
(1) IO3-(aq) + H2O2 (aq) → HIO2 (aq)
(2) HIO2 (aq) + IO3-(aq) → HOI(aq) (menghasilkan warna kuning)
(3) HOI(aq) + H2O2 (aq) → I-(aq) (menghasilkan warna bening)
(4) HOI(aq) + I-(aq) → I2 (aq)
(5) I2 (aq) + kanji (warna biru)
(6) I2 (aq) + asam malonat (aq) → I-(aq) (bening)

17