Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan muskuloskeletal pada usia lanjut merupakan salah satu darisedemikian
banyak kasus geriatri yang lazim dijumpai di praktik sehari-hari. Pada kenyataannya,
sedikit sekali jenis kelainan muskuloskeletal yang bersifat endemis pada usia lanjut.
Tidak dapat disangkal bahwa kaum usia lanjut lebih sering menderita osteoarthritis,
osteoporosis, arthritis gout, dan berbagai patah tulang yang sering terjadi pada lansia juga
sehingga penggantian sendi melalui tindakan bedah, farmakologi, ataupun dengan
menggunakan alat bantu jalan. Untuk dapat memahami kelainan muskuloskeletal pada
kelompok usia lanjut, perubahan-perubahan seiring dengan pertambahan usia yang timbul
pada otot, tulang, persendian, jaringan ikat, dan persarafan harus diketahui.
Pada usia lanjut dijumpai proses kehilangan massa tulang dan kandungan kalsium
tubuh, serta perlambatan remodelling dari tulang. Massa tulang akan mencapai puncak
pada pertengahan usia duapuluhan (di bawah usia 30 tahun). Penurunan massa tulang
lebih dipercepat pada wanita pasca menopause. Dengan menambah aktivitas tubuh, dapat
memperlambat proses kehilangan massa tulang, bahkan mengembalikannya secara
temporer. Tetapi, tidak terdapat bukti nyata bahwa aktivitas yang intensif dapat mencegah
secara sempurna kehilangan massa tulang tersebut. Latihan yang teratur hanya dapat
memperlambat laju kehilangan massa tulang. Dengan demikian, hanya mereka yang
mampu hidup pada usia yang sangat lanjut yang mungkin akan menderita berbagai
komplikasi dari hilangnya massa tulang seperti osteoporosis dan fraktur.
Proses degenerasi juga terjadi pada persendian dapat dijumpai pada hampir semua
manusia usia lanjut. Namun, kenyataannya tidak sedikit dari mereka yang berusia 30
tahun atau lebih muda juga mengalami proses tersebut pada beberapa sendi.Faktor- faktor
lain seperti predisposisi genetik, riwayat trauma pada persendian, obesitas, nutrisi, dan
overuse dapat berinteraksi secara kompleks dalam proses degenerasi sendi.Proses
degenerasi sendi cenderung mengenai sendi tertentu dan nyeri sendi tidak selalu timbul.
BAB II
ISI

2.1 Penyakit Tulang


Penyakit tulang adalah suatu kondisi yang kerusakan kerangka dan membuat tulang
lemah dan rentan terhadap fraktur.Penyakit tulang yang paling umum adalah osteoporosis,
yang ditandai dengan rendah tulang massa dan kerusakan struktur tulang. Osteoporosis dapat
dicegah, serta didiagnosis dan diobati. Massa tulang yang rendah ketika tulang kehilangan
mineral, seperti kalsium, yang membuat mereka kuat, dan sebagai akibatnya, tulang menjadi
lemah dan fraktur dengan mudah.(http://www.news-medical.net/health/Bone-Disease-
(Indonesian).aspx).
Kelainan dan gangguan pada tulang dapat mengganggu proses gerakan yang normal.
Kelainan dan gangguan pada tulang dapat terjadi karena:
1. Kekurangan vitamin D
Vitamin D atau kalsiferol adalah vitamin yang diperlukan untuk kalsifikasi
(penulangan) pada tulang. Pada mamalia, vitamin D dapat disintesis oleh tubuh
dari provitamin D dengan bantuan ultraviolet. Kekurangan vitamin D pada anak-
anak dapat menyebabkan rakhitis, biasanya dapat terlihat pada pertumbuhannya
yang terganggu dari kaki berbentuk O atau X. sedangkan pada orang dewasa,
kekurangan kapur akan menyebabkan penyakit osteomalasia.
2. Penyakit
Penyakit pada tulang manusia sangat beragam salah satu diantaranya adalah:
a. Peradangan
Osteomyelitis (paling sering dijumpai)
Osteomyelitis merupakan penyakit infeksi yang menyerang jaringan tulang
(termasuk periosteum, sumsum tulang belakang dan tulang rawan). Penyakit ini
disebabkan oleh mikroorganisme (terutama Staphylococcus) yang mencapai
tulang melalui patah tulang terbuka, melalui darah atau melalui gigi caries ke
dalam sinus. Bakteri dan jamur juga sering menimbulkan osteomyelitis. Jadi, jika
anda terluka segeralah tutup luka tersebut dengan penutup luka yang steril dan
segera obati ke dokter.
b. Neoplasma
Contoh :BenignaChondrogenic (tumor kartilago)
-Osteochondroma
-chondroma Osteogenic (tumor tulang)
-Osteoblastoma
Manifestasi :
-Teraba ada masa kasar
-Tumbuh lambat
-Tidak nyeri kecuali sudah menyebabkan kompresi pada jaringan sekitar seperti
saraf, pembuluh darah
-Kesulitan gerak jika terjadi pada persendian
3.Trauma
Kecelakaan yang dapat menyebabkan gangguan pada tulang dapat berupa:
1). Memar
Gangguan ini hanya berupa sobeknya selaput sendi (ligamen). Namun bila
sobeknya selaput sendi diikuti oleh lepasnya ujung tulang dari sendi disebut
dislokasi (lepas sendi).
2). Fraktura
Fraktura atau patah tulang dibedakan menjadi patah tulang tertutup, patah
tulang terbuka dan fisura.
a). Patah tulang tertutup, bila tulang yang patah tidak merobek kulit.
b). Patah tulang terbuka, bila tulang yang patah merobek kulit
c). Fisura, bila tulang hanya retak
4.Degenerasi
Perubahan morfologi oleh karena cedera non lethal, bersifat reversible
Jika berlangsung lama kematian jaringan‡
Osteoartritis
Gangguan pada sendi-sendi yang bergerakKarakteristik :
-Berjalan progresif lamban
-Tidak meradang
-Deteriorasi dan abrasi tulang rawan sendi
-Pembentukan tulang baru pada permukaan sendi
-Pembentukan kolagen dan proteoglikan tapi penghancuran > cepatTulang
rawan I digantikan tulang rawan I ukuran (O) dan orientasi serat kolagen
mengubah biomekanik tulangrawan

Tulang rawan yang terkena : sendi yang memikul beban tubuh pinggul
,lutut, vertebra lumbal dan servikal sendi-sendi jari
Gangguan metabolisme‡
Masalah timbul jika asam uratBukan inflamasi, tapi sering disertai sinovitis,
nyeri dan perasaan tidak nyaman
Manifestasi Klinisnyeri tumpul pada sendi terutama bila
digerakan/menanggung beban bila diistirahatkankekakuan sendi, hilang
setelah digerakan pagi hari setelah bangun, Nyeri tekan lokal, Pembesaran
tulang sekitar sendi, Efusi sendi, Adanya nodus heberden.
5.Gangguan metabolisme
a.Osteosclerosis
Hiporparthyroid, kalsifikasi tulang
b.Osteoporosis
Osteopororsis adalah suatu penyakit dimana terjadi penurunan massa tulang
(pengurangan jaringan tulang) terutama terjadi pada tulang spongiosa. Pada
penyakit ini proses penghancuran tulang melebihi proses pembentukan
tulang. Penyakit ini terjadi terutama pada wanita kulit putih usia lanjut
setelah menopause. Atau oleh karena resorpsi /pembentukan tulang.
c.Osteomalasiamineralisasi tulang (demineralisasi)
d.Gout
Rheumatik atau yang disebut gout adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan rasa sakit dari alat gerak salah satunya adalah tulang. Dan arthritis
merupakan salah satu jenis dari rheumatik yang berkenaan dengan sendi.
Terjadi secara primer oleh karena pembentukan asam urat tubuh >>> atau
eksresi A. uric. Sekunder : jika terjadi olehkarena penyakit lain/penggunaan
obat-obatan
Masalah Timbul jika asam urat keluar dari pembuluh darahmembentuk
kristal tajam monosodium urat monohidrat pada sendi dan jaringan sekitar
> sering pada laki-laki oleh karena perempuan mempunyai estrogen.
C.Kebiasaan sikap tubuh yang salah
Kebiasaan posisi tubuh yang salah yang dilakukan dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan kelainan tulang, yaitu:
1). Lordosis
Kelainan pada tulang leher dan panggul terlalu membengkok ke depan
sehingga lengkung lumbar pada tulang belakang (vertebrae) melekuk ke
dalam.
2). Kifosis
Kelainan pada tulang punggung yang terlalu membengkok ke dalam. Bisa
disebabkan karena proses penuaan, infeksi TBC tulang belakang (vertebrae)
ataupun posisi duduk yang salah yang dilakukan selama bertahun-tahun.
3). Skoliosis
Kelainan pada tulang, jika ruas-ruas tulang belakang membengkok kearah
samping membentuk huruf S.
(http://uleegle.wordpress.com/2009/11/17/kelainan-kelainan-pada-tulang/)

2.2.1 OSTEOPOROSIS
A. DEFINISI

Gambar 1 Osteoporosis ( www.google.com )


Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa
tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang. Osteoporosis
bukan hanya berkurangnya kepadatan tulang tetapi juga penurunan
kekuatan tulang. Pada osteoporosis kerusakan tulang lebih cepat daripada
perbaikan yang dilakukan oleh tubuh. Osteoporosis sering disebut juga
dengan keropos tulang. Tulang-tulang yang sering mengalami fraktur/patah
yaitu : tulang ruas tulang belakang, tulang pinggul, tungkai dan pergelangan
lengan bawah. (WHO)
Osteoporosis merupakan penyakit metabolisme tulang yang
ditandaipengurangan massa tulang, kemunduran mikroarsitektur tulang dan
fragilitastulang yang meningkat, sehingga resiko fraktur menjadi lebih
besar. Insidenosteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi
usia lanjut (Adam,2002; Kaniawati, 2003; Hammett, 2004; Sennang, 2006).
Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan
berkurangnya massa tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan resiko
terjadinya patah tulang meningkat. Dalam keadaan Fisiologis/normal, tulang
kita juga mengalami pengeroposan yang diikuti dengan pembentukan sel-sel
tulang baru di bagian tulang yang keropos, sedangkan pada penyakit tulang
osteoporosis, pengeroposan tulang terjadi berlebihan dan tidak diikuti proses
pembentukan yang cukup sehingga tulang jadi lebih tipis dan rapuh. (artikel
kesehatan)
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa
massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan
tulang. (Wikipedia)
Osteoporosis dapat terjadi pada setiap tulang Anda, tetapi yang paling
umum di pergelangan tangan, pinggul, dan tulang belakang, juga disebut
tulang belakang Anda. Vertebra penting karena tulang menopang tubuh
Anda untuk berdiri dan duduk tegak.

B. KLASIFIKASI
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer sering menyerang wanita paska menopause dan juga
pada pria usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui.Osteoporosis
postmenopause merupakan osteoporosis tipe I pada wanita usia 51-65 tahun.
Secara patogenesis terjadi ketidakseimbangan prosesremodeling tulang
antara resorpsi yang meningkat dengan cepat dan formasitulang berjalan
relatif lebih lambat. (Lindsay, 2001; Djokomoeljanto 2003; Raisz,2005;
Adnan, 2008)
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan
:
a. Cushing's disease
b. Hyperthyroidism
c. Hyperparathyroidism
d. Hypogonadism
e. Kelainan hepar
f. Kegagalan ginjal kronis
g. Kurang gerak
h. Kebiasaan minum alcohol
i. Pemakai obat-obatan/corticosteroid
j. Kelebihan kafein
k. Merokok
3. Osteoporosis anak
Osteoporosis pada anak disebut juvenile idiopathic osteoporosis.

C. ETIOLOGI
a) Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen
(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan
kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita
yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat
ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk
menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur
lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
b) Osteoporosis senilis terjadi karena kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan
hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa
keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi
pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita
seringkali menderita osteoporosis senilis danpostmenopausal.
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-
obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan
hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan
(misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang
berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa
memperburuk keadaan ini.
c) Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin
yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

D. FAKTOR RESIKO
Menurut WHO, Faktor resiko yang memudahkan Osteoporosis:
a) Asupan zat gizi yang tidak seimbang khususnya kurang kalsium dan
vitamin D
b) Proses penuaan
c) Faktor keturunan
Menurut artikel kesehatan, factor resiko osteoporosis,yaitu:
a) Wanita. Resiko osteoporosis pada wanita lebih tinggi daripada pria
karena, umumnya massa tulangnya lebih kecil dan proses menopause pada
Wanita.
b) Usia. Resiko osteoporosis meningkat 1-2 kali setiap bertambah usia 10
tahun
c) Kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
d) Ras Asia dan Kaukasia beresiko tinggi untuk mengalami osteoporosis
daripada ras Afrika.
e) Genetik. Riwayat osteoporosis atau patah tulang di usia lebih dari;50
tahun pada keluarga juga merupakan faktor resiko osteoporosis.
f) Penyakit kronis seperti diabetes, penyakit hati, ginjal,dapat meningkatkan
resiko osteoporosis.
g) Asupan kalsium dan vitamin D yang kurang adalah faktor resiko penting
dalam osteoporosis
h) Penggunaan obat-obatan seperti steroid, obat anti kejang (Phenobarbital
dan; Phenytoin), antasida yang mengandung aluminium, metotreksat,
siklosporin A merupakan faktor resiko osteoporosis karena menyebabkan
pengeluaran kalsium dari tulang dalam jumlah banyak.

E. MENIFESTASI KLINIS
Adapun gejala-gejala dari osteoporosis (WHO),yaitu:
a) Sakit punggung (semakin parah jika telah terjadi patah tulang)
b) Nyeri tulang (atau biasa orang awam kenal dengan sensasi ngilu)
c) Fraktur
Fraktur umumnya terjadi ketika penyakit ini sudah dalam tahap lanjut, di
mana penipisan tulang yang parah dan kerusakan sudah terjadi.
a) Tinggi berkurang (akibat pembungkukan tulang), Postur bungkuk
(kifosis)
b) Sakit leher (semakin parah jika terjadi patah tulang belakang)
Gejala-gejala osteoporosis menurut para tim medis lain,yaitu:
a) Nyeri tulang akut.. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri
dapat dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak.
b) Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur
c) Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan
aktivitas
d) Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan
sehingga dapat terjadi paraparesis.
e) Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua)
biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah
menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien
biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri
punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan
tangan setelah jatuh.
f) Kecenderungan penurunan tinggi badan
g) Postur tubuh kelihatan memendek.

F. PATOFISIOLIGI
Osteoforosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor
genetic dan factor lingkungan.
Factor genetic meliputi:
- usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan.
Factor lingkungan meliputi:
- merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas,
anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel
terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium
bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi
tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan
tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi
penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.
Di samping penuaan dan menopause, penipisan tulang diakibatkan oleh
pemberian steroid sehingga mengakibatkan penurunan pembentukan tulang
(bone formation) dan peningkatan resorpsi tulang (bone resorption). Steroid
menghambat sintesis kolagen tulang oleh osteoblast yang telah ada, dan
mencegah transformasi sel-sel prekursor menjadi osteoblast yang dapat
berfungsi dengan baik. Di samping itu, steroid juga sangat mereduksi sintesis
protein. Gambaran histomorfometrik menunjukkan penurunan tingkat
aposisi mineral, dan penipisan dinding tulang, yang diduga karena umur
osteoblast yang semakin pendek. Efek steroid terhadap osteoblast juga
melalui gangguan atas respons osteoblast terhadap hormon paratiroid,
prostaglandin, sitokin, faktor pertumbuhan, dan 1,25-dihydrozy vitamin D.
Sintesis dan aktivitas faktor-faktor parakrin lokal mungkin juga terganggu.
Dibandingkan proses penuaan, penipisan tulang dalam osteoporosis akibat
steroid lebih luas, karena permukaan-permukaan yang mengalami resorpsi
dan hambatan formasi tulang juga lebih luas.
Berbeda dengan efek steroid atas pembentukan tulang, penelitian mengenai
gangguan resorpsi tulang masih terbatas. Diduga, pengaruh steroid terhadap
resorpsi tulang berlangsung melalui hormon paratiroid. Penelitian pada
hewan percobaan menunjukkan bahwa setelah pengangkatan kelenjar
paratiroid, respons osteoklastik terhadap steroid sepenuhnya hilang,
sehingga disimpulkan bahwa resorpsi tulang terutama dikendalikan oleh
hormon paratiroid. Namun, kebanyakan penelitian pada manusia tidak
menemukan peningkatan kadar hormon paratiroid setelah pemberian terapi
steroid. Penelitian lain menemukan peningkatan fragmen-fragmen hormon
paratiroid, tetapi kadar hormon yang utuh tidak terpengaruh.
Efek steroid terhadap absorpsi kalsium dalam usus tidak sama di setiap
segmen-segmen usus tidak sama. Absorpsi di duodenum lebih kecil, tetapi
absorpsi di kolon meningkat. Di samping penurunan absorpsi kalsium,
steroid dapat meningkatkan ekskresi kalsium dalam urine. Pada pasien
dengan pemberian steroid jangka panjang, hiperkalsiuria kemungkinan
besar akibat mobilisasi kalsium di tulang-tulang dan penurunan reabsorpsi
kalsium di tubuli renal. Steroid mungkin mengganggu metabolisme vitamin
D, walaupun dugaan ini belum didasari bukti kuat. Kadar 1,25
dihydroxyvitamin D dalam serum menurun akibat pemberian steroid, tetapi
perubahan dari 25-hydroxyvitamin D menjadi 1,25 dihydroxyvitamin D
tidak mengalami perubahan.
Steroid eksogen akan menghambat sekresi gonadotropin dari hipofisis,
sehingga fungsi gonad terganggu. Akibatnya, produksi estrogen dan
testosteron menurun. Steroid menghambat sekresi LH, dan menurunkan
produksi estrogen yang difasilitasi oleh FSH. Efek steroid yang lain adalah
menurunkan sekresi hormon seks adrenal. Defisiensi estrogen dan
pemakaian steroid saling memperkuat efek terhadap laju penipisan tulang.
Ketika bone thinning terjadi, bagian trabekular lebih dulu terpengaruh
dibandingkan bagian kortikal. Dengan demikian fraktur lebih sering terjadi
di tulang-tulang pipih.
Hiperkalsiuria dan bone thinning terjaadi dalam 6 bulan sampai 12 bulan
seterlah pemakaian steroid eksogen. Setelah itu, laju penipisan tulang
melambat hingga 2 sampai 3 kali dibandingkan keadaan normal. Risiko
osteoporosis akibat steroid juga meningkat ketika dosis yang diberikan lebih
tinggi. Belum jelas, apakah risiko timbul akibat pemberian dosis steroid yang
lebih tinggi (prednison > 7,5 mg/d) dalam jangka waktu pendek (< 6 bulan),
atau dosis yang rendah (prednison < 7,5 mg/d) tetapi dalam waktu lebih lama
(> 6 bulan). Yang jelas, risiko osteoporosis meningkat dengan dosis kumulatif
steroid lebih tinggi. Secara umum, dosis yang rendah lebih aman
dibandingkan dosis tinggi, namun tidak jelas berapa dosis yang benar-benar
aman. Laju penipisan tulang bisa meningkat hanya dengan pemberian 5-10
mg prednison setiap hari dan juga dengan steroid melalui inhalasi.
Pemberian steroid dalam dosis berapapun perlu disertai dengan penilaian
risiko osteoporosis dan pemantauan secara terus-menerus untuk mencegah
fraktur.
Secara skematis, patofisiologi osteoporosis akibat pemberian steroid dapat
digambarkan sebagai 2 proses utama. Proses yang pertama adalah
penurunan pembentukan tulang dan kenaikan resorpsi tulang. Terapi
steroid secara kronik menurunkan umur osteoblast dan meningkatkan
apoptosis. Pemberian steroid juga meningkatkan maturasi dan kegiatan
osteoclast dan mengakibatkan antiapoptotik secara langsung. Dengan
menurunkan absorpsi kalsium dari usus dan meningkatkan ekskresi kalsium
urine, steroid mengakibatkan resoprsi tulang dan hiperparatiroidisme
sekunder. Steroid menghambat produksi hormon steroid seksual dan sekresi
dari adrenal, ovarium dan testis yang juga mengakibatkan resorpsi tulang.

G. KOMPLIKASI
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh
dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi
fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum
femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan.

H. PENATALAKSAAN
a) Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup,
dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan
dapat melindungi terhadap demineralisasi tulang
b) Pada menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan
estrogen dan progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan
mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan.
c) Medical treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani
osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat
d) Pemasangan penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurangi
nyeri punggung.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase
alkali, eksresi kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED).Pemeriksaan
ini untuk menilai kecepatan bone turnover.Penilaian bone turnover rate
dilakukan dengan membandingkan aktivitas formasi tulang dengan aktivitas
resorpsi tulang. Apabila aktivitas pembentukan/formasi tulang lebih kecil
dibandingkan dengan aktivitas resorpsi tulang maka pasien ini memiliki
risiko tinggi terhadap osteoporosis. Evaluasi biokimia ini dilakukan melalui
pemeriksaan darah dan urine pagi hari.
1) Petanda untuk menilai aktivitas pembentukan tulang (bone formation)
a. Osteocalcin yaitu protein yang dihasilkan oleh osteoblas dyang berfungsi
membantu proses mineralisasi tulang.
b. Alkali fosfatase tulang yaitu enzim yang dihasilkan osteoblas yang
berfungsi sebagai katalisator proses mineralisasi tulang.
2) Petanda untuk menilai aktivitas resorpsi tulang (bone resorption)
a. Deoxypyridinolin/ β-Crosslink yaitu protein penguat mekanik tulang yang
dilepaskan ke dalam peredaran darah dan dikeluarkan melalui urin jika
terjadi proses resorpsi/ penyerapan tulang.
b. CTx (C-Telopeptide) yaitu hasil pemecahan protein kolagen tipe 1 yang
spesifik untuk tulang. Selain itu, pemeriksaan kadar CTx dan
deoxypyridinolin dapat digunakan untuk menilai/pemantauan keberhasilan
terapi (sebelum pemeriksaan densitas mineral tulang berikutnya).
3) Radiologi
Pemeriksaan radiologi vertebra torakalis dan lumbalis AP dan lateral
dilakukan untuk mencari adanya fraktur. Nilai diagnostik pemeriksaan
radiologi biasa untuk mendeteksi osteoporosis secara dini kurang
memuaskan karena pemeriksaan ini baru dapat mendeteksi osteoporosis
setelah terjadi penurunan densitas massa tulang lebih dari 30%..
4) Pemeriksaan bone densitometri (DEXA)
Pemeriksaan densitometri tulang dilakukan menggunakan alat DEXA.
Biasanya digunakan untuk mengukur densitas massa tulang pada daerah
lumbal, femur proksimal, lengan bawah distal dan seluruh tubuh. Secara
rutin, untuk diagnosis osteoporosis cukup diperiksa densitometri pada
vertebra lumbal dan pangkal paha (femur proksimal). Bila terdapat
keterbatasan biaya, dapat dipertimbangkan pemeriksaan hanya pada 1
daerah, yaitu pada daerah lumbal untuk wanita yang berumur kurang dari
60 tahun, atau daerah pangkal paha (femur proksimal) pada wanita yang
berumur lebih dari 60 tahun dan pada pria.
5) Alat pemeriksaan Densitometri
Mendiagnosis osteoporosis, digunakan T-score. T score yang kurang dari 1
SD dibawah nilai rata-rata BMD normal memiliki risiko fraktur dua kali
lipat. Untuk osteoporosis sekunder, nilai Z-score < [-] 2 sangat penting dalam
penegakkan diagnosis.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOPOROSIS


A. PENGKAJIAN
a) Anamnesis
1. Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi
klien osteoporosis. Kadang keluhan utama (missal fraktur kolum femoris
pada osteoporosis). Factor lain yang perlu diperhatikan adalah usia, jenis
kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama,
penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari,
kurang asupan kalasium, fosfat dan vitamin D. obat-obatan yang diminum
dalam jangka panjang, alkohol dan merokok merupakan factor risiko
osteoporosis. Penyakit lain yang juga harus ditanyakan adalah ppenyakit
ginjal, saluran cerna, hati, endokrin dan insufisiensi pancreas. Riwayat haid ,
usia menarke dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi, serta riwayat
keluarga yang menderita osteoporosis juga perlu dipertanyakan.
2. Pengkajian psikososial. Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra
diri khususnya pada klien dengan kifosis berat. Klien mungkin membatasi
interaksi social karena perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik,
misalnya tidak mampu duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan seksual
dapat terjadi karena harga diri rendah atau tidak nyaman selama posisi
interkoitus. Osteoporosis menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat
perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada pasien.
3. Pola aktivitas sehari-hari. Pola aktivitas dan latihan biasanya
berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang dan rekreasi,
berpakaian, mandi, makan dan toilet. Beberapa perubahan yang terjadi
sehubungan dengan dengan menurunnya gerak dan persendian adalah
agility, stamina menurun, koordinasi menurun, dan dexterity (kemampuan
memanipulasi ketrampilan motorik halus) menurun.

Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan
osteoporosis adalah :
Data subyektif :
1. Klien mengeluh nyeri tulang belakang
2. Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
3. Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang
tampak dan keterbatasan gerak
4. Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
5. Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
6. Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
7. Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
Data obyektif ;
1. tulang belakang bungkuk
2. terdapat penurunan tinggi badan
3. klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
4. terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis
angular.
5. klien tampak gelisah
6. klien tampak meringis
b) Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik menggunakan metode 6 B(Breathing, blood,
brain, bladder, bowel dan bone) untuk mengkaji apakah di temukan
ketidaksimetrisan rongga dada, apakah pasien pusing, berkeringat dingin
dan gelisah. Apakah juga ditemukan nyeri punggung yang disertai
pembatasan gerak dan apakah ada penurunan tinggi badan, perubahan gaya
berjalan, serta adakah deformitas tulang
c) Pemeriksaan diagnostic
1. Radiology
2. CT scan
3. Pemeriksaan laboratorium

B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur
vertebra ditandai dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh
bengkak pada pergelangan tangan, terdapat fraktur traumatic pada
vertebra, klien tampak meringis.
2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi
sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur
baru ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun,
klien mengatakan badan terasa lemas, stamina menurun, dan terdapat
penurunan tinggi badan.
3. Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan
skeletal dan ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh
kemampuan gerak cepat menurun, tulang belakang terlihat bungkuk.
4. Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau
gangguan gerak ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang,
kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas
dan stamina menurun serta terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis angular.
5. Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan
ketergantungan fisik serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau
terapi ditandai dengan klien mengatakan membatasi pergaulan dan tampak
menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace).
6. Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf
pencernaan ileus paralitik ditandai dengan klien mengatakan buang air
besar susah dan keras.
7. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
yang berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan
klien mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak
gelisah.

D. EVALUASI
Hasil yang diharapkan meliputi :
1. Nyeri berkurang
2. Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik
3. Tidak terjadi cedera
4. Status psikologis yang seimbang
5. Menunjukkan pengosongan usus yang normal
6. Terpeneuhinya kebutuhan pengetahuan dan informasi

2.1.2 OSTEOARTHRITIS
A. DEFINISIO
steoarthritis adalah suatu penyakit sendi degeneratif yang terutama terjadi
pada orang yang berusia lanjut dan ditandai oleh degenerasi kartilago
artikularis, perubahan pada membran sinovia serta hipertrofi tulang pada
tepinya. Rasa nyeri dan kaku, khususnya setelah melakukan aktivitas yang
lama akan menyertai perubahan degeneratif tersebut.
Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif kronis dari sendi-sendi. Pada
penyakit ini terjadi penurunan fungsi tulang rawan terutama yang
menopang sebagian dari berat badan dan seringkali pada persendian yang
sering digunakan.
Osteoarthritis merupakan gangguan yang umum pada usia lanjut, sering
dianggap sebagai konsekuensi dari perubahan-perubahan dalam tulang
dengan lanjutnya usia. Penyakit ini biasa terjadi pada umur 50 tahun ke atas
dan pada orang kegemukan (obesitas), tetapi bisa juga disebabkan oleh
kecelakaan persendian . Pada usia lanjut tampak dua hal yang khas, yaitu
rasa sakit pada persendian dan terasa kaku jika digerakkan.

B. INSIDENS, ETIOLOGI DAN PATOLOGI


Osteoarthritis merupakan bentuk penyakit sendi yang paling sering
ditemukan. Diperkirakan ⅓ dari orang berusia >35 tahun, menunjukkan
bukti radiografik yang memperlihatkan penyakit osteoarthritis dengan
prevalensi yang terus meningkat sampai 80 tahun. Meskipun mayoritas
pasien, khususnya yang berusia muda, menderita penyakit ringan dan relatif
asimptomatik, osteoarthritis merupakan salah satu dari beberapa penyebab
utama yang menimbulkan disabilitas orang yang berusia > 65 tahun.
Osteoarthritis mungkin bukan satu penyakit melainkan beberapa penyakit
yang semuanya memperlihatkan gambaran klinis dan patologis yang serupa.
Akan tetapi terdapat dua perubahan morfologis utama, yaitu kerusakan
fokal tulang rawan sendi yang progresif dan pembentukan tulang baru pada
dasar lesi tulang rawan dan tepi sendi yang dikenal sebagai osteofit.
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan metabolisme tulang rawan sendi
sudah timbul sejak awal proses patologis osteoarthritis. Perubahan
metabolisme tulang tersebut berupa peningkatan aktivitas enzim-enzim yang
merusak makromolekul matriks tulang rawan sendi yaitu kolagen dan
proteoglikan. Perusakan ini membuat kadar proteoglikan dan kolagen
berkurang sehingga kadar air tulang rawan sendi juga berkurang.
Hal tersebut diatas membuat tulang rawan sendi rentan terhadap beban
biasa. Permukaan tulang rawan sendi menjadi tidak homogen, terpecah-
pecah dan timbul robekan-robekan. Dalam hal inilah, diduga pembentukan
tulang baru yaitu osteofit adalah merupakan mekanisme pertahanan tubuh
untuk memperbesar permukaan tulang dibagian inferior tulang rawan sendi
yang telah rusak tersebut. Dengan menambah luas permukaan tulang
dibawahnya diharapkan distribusi beban yang ditanggung persendian
tersebut dapat merata.
Beberapa faktor turut terlibat dalam timbulnya osteoarthritis ini.
Penambahan usia semata tidak menyebabkan osteoarthritis, sekalipun
perubahan selular atau matriks pada kartilago yang terjadi bersamaan
dengan penuaan kemungkinan menjadi predisposisi bagi lanjut usia untuk
mengalami osteoarthritis. Faktor-faktor lain yang diperkirakan menjadi
predisposisi adalah obesitas, trauma, kelainan endokrin (misalnya diabetes
mellitus) dan kelainan primer persendian (misalnya arthritis inflamatorik).
Osteoartritis ( yang juga disebut penyakit degeneratif sendi, hipertrofi
artritis, artritis senescent, dan osteoartrosis ) adalah gangguan yang
berkembang secara lambat, tidak simetris, dan noninflamasi yang terjadi
pada sendi-sendi yang menahan berat tubuh. Osteoartritis ditandai oleh
degerasi kartilago sendi dan oleh pembentukan tulang baru pada bagian
pinggir sendi. Kerusakan pada sendi-sendi akibat penuaan diperkirakan
memainkan suatu peran penting dalam perkembangan osteoartritis.
Perubahan degeratif menyebabkan kartilago yang secara normal halus,
putih, tembus cahaya menjadi buram dan kuning, dengan permukaan yang
kasar dan area malacia (pelunakan). Ketika lapisan kartilago menjadi lebih
tipis, permukaan tulang tumbuh semakin dekat satu sama lain. Inflamasi
sekunder dari membran sinovial mungkin mengikuti. Pada saat permukaan
sendi menipiskan kartilago, tulang subkondrial meningkat kepadatannya
dan menjadi sklerosis.
Ada beberapa faktor resiko dari Osteoarthritis, diantaranya
1. Umur.OA jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan sering ditemui
pada orang denganusia lebih dari 60 tahun.
2. Jenis kelaminPada usia <45 tahun, frekuensi OA pada wanita dan laki –
laki dengan perbandingansama, tetapi pada usia >50 tahun, frekuensi OA
banyak terdapat pada wanita daripadalaki – laki.
3. Suku bangsaOA lebih sering dijumpai pada orang amerika asli (Indian)
dari pada orang kulit putih.
4. Genetik Faktor herediter berperan dalam timbulnya OA.
5. Kegemukan dan Penyakit metabolik Berat badan yang berlebih nyata
berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnyaOA. Ada
hubungannya antara penyakit OA dengan kelainan metabolik. Pasien –
pasienOA ternyata mempunyai resiko penyakit jantung coroner dan
hipertensi yang lebih tinggidibandingkan dengan orang – orang tanpa OA.
6. Cedera sendi , Pekerjaan dan Olah ragaPekerjaan berat maupun dengan
pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitandengan peningkatan
resiko OA. Demikian juga cedera sendi dan Olah raga yang
seringmenimbulkan cedera sendi berkaitan dengan resiko OA.

C. TANDA DAN GEJALA


Gejala klinis osteoartritis bervariasi, bergantung pada sendi yang terkena,
lama dan intensitas penyakitnya, serta respons penderita terhadap penyakit
yang dideritanya. Pada umumnya pasien osteoartritis mengatakan bahwa
keluhan-keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang secara
perlahan-lahan.
Secara klinis, osteoartritis dapat dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :
1. Subklinis
Pada tingkatan ini belum ada keluhan atau tanda klinis lainnya. Kelainan
baru terbatas pada tingkat seluler dan biokimiawi sendi.
2. Manifest
Pada tingkat ini biasanya penderita datang ke dokter. Kerusakan rawan
sendi bertambah luas disertai reaksi peradangan.
3. Dekompensasi
Rawan sendi telah rusak sama sekali, mungkin terjadi deformitas dan
kontraktur. Pada tahap ini biasanya diperlukan tindakan bedah.
Keluhan-keluhan umum yang sering dirasakan penderita osteoartritis adalah
sebagai berikut :
1. Nyeri Sendi
Merupakan keluhan utama yang sering kali membawa pasien datang ke
dokter.Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang
dengan istirahat.Beberapa gerakan tertentu menimbulkan rasa sakit yang
berlebih dibanding gerakan lain. Pada osteoartritis terdapat hambatan sendi
yang biasanya bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri. Asal nyeri dapat dibedakan, yaitu :
a. Peradangan
Nyeri yang berasal dari peradangan biasanya bertambah pada pagi hari atau
setelah istirahat beberapa saat dan berkurang setelah bergerak. Hal ini
karena sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan
dalam ruang sendi yang menimbulkan pembengkakan dan peregangan
simpai sendi. Semua ini menimbulkan rasa nyeri.
b. Mekanik
Nyeri akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan
berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan
keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.
Nyeri biasanya terlokalisasi hanya pada sendi yang terkena, tetapi dapat
juga menjalar
2. Kaku Sendi
Merupakan keluhan pada hampir semua penyakit sendi dan osteoartritis
yang tidak begitu berat. Pada beberapa pasien, nyeri dan kaku sendi dapat
timbul setelah istirahat beberapa saat misalnya sehabis duduk lama atau
bangun tidur. Berlawanan dengan penyakit inflamasi sendi seperti artritis
rheumatoid, dimana pada artritis rheumatoid kekakuan sendi pada pagi hari
berlangsung lebih dari 1 jam,maka pada osteoartritis kekakuan sendi jarang
melebihi 30 menit.
3. Pembengkakan Sendi
Merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang
sendi. Biasanya teraba panas tanpa adanya kemerahan. Pada sendi yang
terkena akan terlihat deformitas yang disebabkan terbentuknya osteofit.
Tanda-tanda adanya reaksi peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan
gerak, rasa hangat yang merata, dan warna kemerahan) mungkin dijumpai
pada osteoartritis karena adanya sinovitis.
4. Perubahan Gaya Jalan
Salah satu gejala yang menyusahkan pada pasien osteoartritis adalah adanya
perubahan gaya jalan. Hampir pada semua pasien osteoartritis, pergelangan
kaki, tumit, lutut atau panggulnya berkembang menjadi pincang. Gangguan
berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman besar
untuk kemandirian pasien lanjut usia.
5. Gangguan Fungsi
Timbul karena ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi. Adanya
kontraktur, kemungkinan adanya osteofit, nyeri dan bengkak merupakan
penyebab yang menimbulkan gangguan fungsi. Pada osteoartritis tidak
terdapat gejala-gejala sistemik seperti kelelahan, penurunan berat badan
atau demam.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berguna untuk menyingkirkan penyakit sendi
lain, karena tidak ada satupun yang spesifik untuk osteoartritis.
Pemeriksaan hematologis umumnya normal, jumlah leukosit dan laju endap
darah normal, kecuali jika disertai infeksi lain. Cairan sendi dapat diambil
dari sendi manapun yang bengkak dan tindakan ini dapat mengurangi rasa
nyeri penderita. Pada osreoartritis, cairan sendi akan meningkat jumlahnya,
berwarna kuning transparan, kental, terdapat gumpalan musin, jumlah
leukosit kurang dari 2000/mm3 dengan proporsi sel normal (25% PMN).
Mungkin ditemukan kristal kalsium pirofosfat dan hidroksi-apatit sebagai
penyebab reaksi peradangan. Dapat juga ditemukan serpihan tulang rawan
pada tingkat lanjut penyakit.

2. Radiologis
Pemeriksaan radiologis membantu diagnosis osteoartritis, tetapi adanya
kelainan radiologis tidak terlalu berarti bahwa ini sebagai penyebab satu-
satunya keluhan penderita. Kriteria radiologis osteoartritis adalah sebagai
berikut :
a. Osteofit pada tepi sendi atau tempat melekatnya ligamen
b. Adanya periartikuler ossicle terutama pada DIP dan PIP
c. Penyempitan celah sendi disertai sklerosis jaringan tulang subkondrial
d. Adanya kista dengan dinding yang sklerotik pada daerah subkondrial
e. Perubahan bentuk tulang, misal pada caput femur.
Kriteria diagnosis radiologis, yaitu :
a. Meragukan : bila ditemukan 1 dari 5 kriteria diatas
b. Osteoartritis ringan : bila ditemukan 2 dari 5 kriteria diatas
c. Osteoartritis moderate : bila ditemukan 3 dari 5 kriteria diatas
d. Osteoartritis berat : bila ditemukan 4 dari 5 kriteria diatas.

E. DIAGNOSIS
Diagnosis osteoartritis ditegakkan berdasarkan anannesis, pemeriksaan
jasmani, radiologis, dan bila perlu dengan pemeriksaan laboratorium
tertentu. Diagnosis bandingnya terutama dengan penyakit sendi yang sering
ditemui dalam praktek sehari-hari, yaitu artritis gout dan artritis
rheumatoid.

F. PENATALAKSANAAN OSTEOARTHRITIS
Stadium awal osteoarthritis paling baik bila ditangani dengan tindakan
konservatif, termasuk pengobatan dengan obat-obat anti inflamasi non
steroid (NSAID) seperti preparat piroxicam 10mg 2x1 hari, preparat
naproxen 250-500 mg 2x1 hari,tetapi harus mewaspadai efek yang timbul di
lambung dan reaksi alergi.Dapat juga dengan latihan-latihan fisioterapi atau
tanpa pengobatan sama sekali. Intervensi pembedahan merupakan tindakan
yang terlambat setelah terjadi perkembangan penyakit yang berarti.
Penggunaan injeksi sodium hyaluronate yang berfungsi sama seperti cairan
sinovial pada rongga sendi dapat juga digunakan. Dosis yang dipakai adalah
1 X 2 ml/minggu selama 5 minggu berturut-turut.
Indikasi bedah dilakukan bila nyeri dan pengurangan fungsi masih ada
setelah pemberian obat-obat anti inlamasi non steroid, suntikan steroid ke
dalam sendi dan penggunaan bidai kecil. Osteoarthritis lanjut pada
persendian perifer sering memerlukan pembedahan untuk meringankan rasa
nyeri dan memperbaiki fungsi sendi, misalnya tindakan menyatukan sendi
atau arthroplasti reseksi untuk menyumbat rongga sendi, osteotomi untuk
menghasilkan kembali keseimbangan berbagai gaya mekanis, atau
artroplasti penggantian sendi secara total untuk membentuk kembali
permukaan artikulasi sendi.
Selain dari pengobatan medis seperti diatas, dapat juga disertai dengan
penatalaksanaan lain seperti sebagai berikut :
1. Meyakinkan penderita bahwa penyakitnya tidak progresif karena
biasanya penderita takut sekali menjadi lumpuh atau cacat. Rencana
pengobatan selanjutnya dijelaskan dan disesuaikan dengan keadaan umum
penderita, sendi-sendi yang terkena, keluhan dan sikap hidup sehari-hari.
2. Istirahat atau proteksi terhadap sendi yang terkena
3. Koreksi semua faktor-faktor yang menimbulkan stress berlebihan pada
rawan sendi. Tindakan ini bukan saja akan mengurangi beban pada rawan
sendi, tetapi juga memperlambat proses degenerasi sehingga akan lebih
memberi kesempatan proses regenerasi berlangsung.
4. Diet, selain untuk mengurangi berat badan, tidak ada bukti bahwa diet
berperan langsung terhadap pengobatan osteoartritis. Dengan
menghilangkan kegemukan penderita osteoartritis sendi penyokong berat
badan maka akan mengurangi keluhan.
5. Fisioterapi, terutama pemanasan dan latihan yang adekuat. Pemanasan
badan (moist health) lebih nyaman daripada pemanasan kering. Massage,
penggunaannya sangat terbatas karena hanya berefek pada otot yang
melingkupi sendi, sedang sendinya sendiri tidak dapat dicapai. Massage
berguna untuk mengurangi nyeri karena spasme otot.
6. Alat bantu, misalnya traksi atau pemakaian soft collar untuk spondilosis
leher, korset untuk spondilosis lumbal, tongkat untuk osteoartritis lutut atau
pinggul.
Berdasarkan perkembangan penelitian tentang osteoartritis, untuk
pengobatan terbaru osteoartritis dapat dipakai kombinasi Chondroitin
Sulfate (CS) dan Glucosamine Sulfate (GS). Dengan kombinasi ini sangat
efektif untuk menghilangkan nyeri pada osteoartritis juga nyeri pada artritis
rheumatoid.
Glucosamine adalah bentuk polisakarida terbuat dari kulit kerang yang
merupakan bahan dasar pembentuk tulang rawan sendi. Cara kerjanya
menstimulasi fungsi dan kerja sendi sehingga dapat terjadi regenerasi sel
rawan sendi secara berkesinambungan. Zat tersebut disisipkan melalui
pergesekan sendi ke dalam rawan sendi untuk membentuk sel-sel rawan.
Chondroitin sulfat terbuat dari tulang rawan ikan hiu dan paus. Khasiatnya
adalah antiinflamasi (peradangan) dan penghilang rasa sakit. Zat itu juga
bisa menetralisasi perusakan enzim dan meningkatkan kualitas cairan sendi.
Kombinasi preparat Glocosamine HCL 250 mg dengan Chondroitin
Sulphate 200 mg dengan dosis 3x1.
Obat-obatan golongan terbaru pada pengobatan osteoartritis adalah
golongan cox-2 inhibitors berperan dalam menghambat enzim
siklooksigenase yang berfungsi mengubah asam arakidonat menjadi
prostaglandin yang berperan dalam timbulnya inflamasi dan nyeri sehingga
mengurangi terjadinya perdarahan lambung dan gangguan pada ginjal.
Contoh obatnya : Celecoxib 100mg 2x1 hari, Valdecoxib 10-20mg 1x1 hari,
tidak boleh diberikan pada orang dengan alergi NSAID, asma.
Penatalaksanaan gangguan kronis ini dimulai dari menemukan aktivitas
kehidupan sehari-hari yang mungkin ikut berperan terhadap tekanan pada
sendi yang sakit, memberikan alat bantu kepada klien untuk mengurangi
beban berat sendi yang sakit, mengajarkan klien untuk menggunakan alat
bantu ini, dan merencanakan penatalaksanaan nyeri yang sesuai. Jika
fisioterapi dan alat tidak mendukung ke arah perbaikan yang berarti dan
nyeri telah melumpuhkan, operasi penggantian sendi mungkin dilaksanakan
yaitu artroplasti adalah rekonstruksi atau penggantian sendi. Prosedur
pembedahan ini dilakukan untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan atau
mempertahankan rentang gerak, dan memperbaiki kondisi deformitas yang
dapat diakibatkan oleh osteoartritis, AR, atau nekrosis vaskuler. Artroplasti
dapat berupa penggantian sebagian sendi, pembedahan untuk membentuk
kembali tulang sendi, atau penggantian sendi total. Penggantian artroplasti
tersedia untuk siku, bahu, lutut, bahu, pergelangan kaki, dan sendi-sendi
falang jari. Rekontruksi pinggul sering digunakan untuk pengobatan klien
dengan AR, osteoartritis, dan fraktur pinggul. Sakit yang tidak berkurang
sebagai akibat dari kerusakan yang berat pada sendi lutut merupakan
indikasi utama artroplasti lutut. Sebagian atau seluruh sendi lutut mungkin
digantikan dengan suatu alat prostetik metal dan plastik. Dalam 2 sampai 5
hari setelah operasi, klien diinstruksikan untuk melakukan latihan
pengaturan kuadrisep dan menaikkan kaki secara lurus. Ketika pembalut
luka yang besar ukurannya telah dilepaskan, latihan fleksi aktif dimulai.
Latihan menahan beban dimulai segera klien dapat menggunakan walker
atau tongkat.
Adapun diet untuk lansia dengan penyakit ini yaitu diet rendah purin
dengan tujuan untuk mengurangi pembentukan asam urat dan menurunkan
berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam batas
normal.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOARTHRITIS


A. DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress
pada sendi : kekakuan pada pagi hari dan keletihan
Tanda: Malaise. Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur
atau kelainan pada sendi dan otot.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun
3. Integritas Ego
Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, factor-faktor hubungan
Keputusasaan dan ketidak berdayaan
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya
ketergantungan pada orang lain.
4. Makanan Atau Cairan
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat : mual.
Anoreksia
Kesulitan untuk mengunyah
Tanda: Penurunan berat badan
Kekeringan pada membran mukosa
5. Higiene
Gejala: berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi,
ketergantungan pada orang lain.
6. Neurosensori
Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan
Tanda: Pembengkakan sendi
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala: fase akut dari nyeri
Terasa nyeri kronis dan kekakuan
8. Keamanan
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
Kekeringan pada mata dan membran mukosa
9. Interaksi Sosial
Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran:
isolasi

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


Diagnosa 1: Nyeri b/d penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol
Intervensi :
1. Mandiri
a. kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 – 10). Catat faktor-
faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
R/:Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan
keefektifan program.
b. berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat
tidur sesuai kebutuhan
R/:Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah
pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan setres pada sendi
yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi / nyeri
c. biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau
duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi
R/:Pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi
nyeri atau cedera sendi.
d. dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di
tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan
yang menyentak
R/:Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan
sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi
e. anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada
waktu bangun. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang
sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi
R/:Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit
dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat
dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan
f. berikan masase yang lembut
R/:Meningkatkan elaksasi/mengurangi tegangan otot
2. kolaborasi
a. Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai
petunjuk seperti asetil salisilat.
R/: Meningkatkan relaksasi, mengurangitegangan otot, memudahkan untuk
ikut serta dalam terapi.

Diagnosa 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot.


Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
Intervensi :
1. Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
R/: Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
2. Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
R/: Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.
3. Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan
berjalan.
R/: Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
4. Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan
alat bantu.
R/: Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh.
5. Berikan obat-obatan sesuai indikasi seperti steroid.
R/: Untuk menekan inflamasi sistemik akut.

Diagnosa 3 : Risiko cedera b/d penurunan fungsi tulang.


Kriteria Hasil : Klien dapat me mpertahankan keselamatan fisik.
Intervensi :
1. Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak
jelas, mengurangi potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya
menggunakan penyanggah tempat tidur, usahakan posisi tempat tidur
rendah, gunakan pencahayaan malam dan siapkan lampu panggil.
R/: Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan
membebaskan keluarga dari kekhawatiran yang konstan.
2. Memantau regimen medikasi
3. Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan
kebebasan dalam lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain,
ketika pasien melamun alihkan perhatiannya ketimbang mengagetkannya.
R/: Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat
meningkatkan agitasi, mengegetkan pasien akan meningkatkan ansietas.

Diagnosa 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri


Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur.
Intervensi :
1. Madiri
a. Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan biasanya dan perubahan yang
terjadi.
R/: Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
b. Berikan tempat tidur yang nyaman
R/: Meningkatkan kenyamaan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis
c. Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan
lingkungan baru
R/: Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress
dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang
d. Instruksikan tindakan relaksasi
R/: Membantu menginduksi tidur
e. Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat
dan massage.
R/: Meningkatkan efek relaksasi
f. Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi: rendahkan tempat tidur bila
mungkin.
R/: Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi
tempat tidur, pagar tempat untuk membantu mengubah posisi
g. Hindari mengganggui bila mungkin, misalnya membangunkan untuk obat
atau terapi
R/: Tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar dan pasien
mungkin mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun.
2. Kolaborasi
a. Berikan sedative, hipnotik sesuai indikasi
R/: Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.
Diagnosa 5 : Defisit perawatan diri b/d nyeri
Kriteri Hasil : Klien dapat melaksanakan aktivitas per awatan sendiri secara
mandiri
Intervensi :
1. Kaji tingkat fungsi fisik
R/: Mengidentifikasi tingkat bantuan/dukungan yang diperlukan
2. Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan progran latihan
R/: Mendukung kemandirian fisik/emosional
3. Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri, identifikasi
untuk modifikasi lingkungan
R/: Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan
harga diri
4. Identifikasikasi untuk perawatan yang diperlukan, misalnya; lift,
peninggian dudukan toilet, kursi roda
R/: Memberikan kesempatan untuk dapat melakukan aktivitas secara
mandiri
Diagnosa 6 : Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d
perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Kriteria hasil : mengungkapkan peningkatan rasa percaya kemampuan.
Untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup dan kemungkinan
keterbatasan.
Intervensi :
1. Mandiri
a. Dorong pengungkapan mengenai masalah mengenai proses
penyakit,harapan masa depan.
R/: Beri kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesal menghadapinya
secara langsung.
b. Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat.
Memastikan bagaimana pandangan pribadi psien dalam memfungsikan gaya
hidup sehari-hari termasuk aspek-aspek seksual.
R/:Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan
interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap
intervensi atau konseling lebih lanjut.
c. Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaiman orang terdekat menerima
keterbatasan.
R/:Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh
mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri.
d. Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan
R/:Nyeri melelahkan, dan perasaan marah, bermusuhan umum terjadi.
e. Perhatikan perilaku menarik diri, penguanan menyangkal atau terlalu
memperhatikan tubuh/perubahan.
R/:Dapat menunjukkan emosional atau metode maladaptive, membutuhkan
intervensi lebih lanjut atau dukungan psikologis.
f. Susun batasan pada prilaku maladaptive. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
R/:Membantu pasien mempertahankan kontrol diri yang dapat
meningkatkan perasaan harga diri.
g. Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat
jadwal aktivitas.
R/:Meningkatkan perasaan kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian,
dan mendorong partisipasi dan terapi.
2. Kolaborasi
a. Rujuk pada konseling psikiatri
R/: Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkadukungann selama
berhadapan dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan.
b. Berikan obat-obat sesuai petunjuk
R/: Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien
mengembangkan kemampuankoping yang efektif.

2.1.3 ARTHRITIS GOUT


A. DEFINISI
Artritis gout adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi
kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi (tofi). Gout juga merupakan
istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai
oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia).
Gout arthritis atau lebih dikenal dengan asam urat atau encok merupakan
radang sendi akut yang disebabkan oleh terlalu banyaknya produksi asam
urat (uric acid) yaitu produk buangan yang menumpuk dalam jaringan
tubuh, atau karena kegagalan ginjal untuk membuang asam urat dalam
jumlah cukup banyak. Dalam keadaan normal, produk asam urat akan
dibuang dari darah lewat air kemih (urin). Pada kejadian gout, kristal-
kristal asam urat diendapkan di dalam dan sekitar sendi yang bergerak,
yang menyebabkan sakit dan peradangan yang akut.

B. INSIDENS DAN PATOGENESIS


Gout dapat bersifat primer maupun sekunder. Gout primer merupakan
akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau
ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau
pemakaian obat tertentu.
Masalah akan timbul bila terbentuk kristal-kristal dari monosodium urat
monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal
berbentuk jarum ini mengakibatkan reaksi peradangan yang bila berlanjut
akan mengakibatkan nyeri hebat yang sering menyertai serangan gout.. Jika
tidak diobati endapan kristal akan menyebabkan kerusakan hebat pada
sendi dan jaringan lunak.
Pada keadaan normal kadar urat serum pada pria mulai meningkat setelah
pubertas. Pada wanita kadar urat tidak meningkat sampai setelah
menopause karena estrogen meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal.
Setelah menopause kadar urat serum meningkat seperti pada pria.
Gout jarang terjadi pada wanita. Sekitar 95% penderita gout adalah pria.
Gout dapat ditemukan di seluruh dunia, pada semua ras manusia. Ada
prevalensi familial dalam penyakit gout yang mengesankan suatu dasar
genetik dari penyakit ini. Namun ada sejumlah faktor yang agaknya
mempengaruhi timbulnya penyakit ini, termasuk diet, berat badan, dan gaya
hidup.

C. GAMBARAN KLINIS
Terdapat empat tahap dari perjalanan klinis penyakit gout yang tidak
diobati yaitu :
1. Tahap pertama adalah hiperurisemia asimtomatik. Dalam tahap ini
penderita tidak menunjukkan gejala-gejala selain dari peningkatan asam
urat serum. Hanya 20% dari penderita hiperurisemia asimptomatik yang
menjadi serangan gout akut.
2. Tahap kedua adalah arthritis gout akut. Pada tahap ini terjadi
pembengkakan mendadak dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi
ibu jari kaki dan metatarsofalangeal. Arthritis bersifat monoartikular dan
menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin terdapat demam dan
peningkatan jumlah sel darah putih. Serangan dapat dipicu oleh
pembedahan, trauma, obat-obatan, alkohol, atau stress emosional. Tahap ini
biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera. Sendi-sendi
lain dapat terserang, termasuk sendi jari-jari tangan, lutut, mata kaki,
pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut biasanya pulih tanpa
pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10 sampai 14 hari.Perkembangan
dari serangan akut gout umumnya mengikuti serangkaian peristiwa sebagai
berikut. Mula-mula terjadi hipersaturasi dari urat plasma dan cairan tubuh.
Selanjutnya diikuti oleh penimbunan di dalam dan sekeliling sendi-sendi.
Mekanisme terjadinya kristalisasi urat setelah keluar dari serum masih
belum jelas dimengerti. Serangan gout seringkali terjadi sesudah trauma
lokal atau ruptura dari tofi (timbunan natrium urat), yang mengakibatkan
peningkatan cepat dari konsentrasi asam urat lokal. Tubuh mungkin tidak
dapat mengatasi peningkatan ini dengan baik, sehingga terjadi pengendapan
asam urat di luar serum. Kristalisasi dan penimbunan asam urat akan
memicu serangan gout. Kristal-kristal asam urat memicu respons fagositik
oleh leukosit, sehingga leukosit memakan kristal-kristal urat dan memicu
mekanisme respons peradangan lainnya. Respons peradangan ini dapat
dipengaruhi oleh lokasi dan banyaknya timbunan kristal asam urat. Reaksi
peradangan dapat meluas dan bertambah sendiri, akibat dari penambahan
timbunan kristal dari serum.
3. Tahap ketiga setelah serangan gout akut adalah tahap interkritical. Tidak
terdapat gejala-gejala pada masa ini yang dapat berlangsung dari beberapa
bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami ulangan serangan gout
dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Tahap keempat adalah tahap gout kronik dimana timbunan urat terus
bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai.
Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam urat menyebabkan nyeri,
sakit, dan kaku, juga pembesaran dan penonjolan dari sendi yang bengkak.
Serangan akut dari artritis gout dapat terjadi pada tahap ini. Tofi terbentuk
pada masa gout kronik akibat insolubilitas realtif dari urat. Bursa
olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor lengan bawah, bursa
infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat yang sering dihinggapi tofi.

D. KOMPLIKASI
Gout dapat menimbulkan suatu komplikasi, yaitu pembentukan batu ginjal,
karena kristal uric acid yang diendapkan dalam sendi juga dapat terbentuk
dalam ginjal.

E. DIAGNOSIS
Diagnosis artritis gout didasarkan pada kriteria American Rheumatism
Association (ARA), yaitu :
1. Terdapat kristal urat dalam cairan sendi atau tofus dan atau
2. Bila ditemukan 6 dari 12 kriteria tersebut dibawah ini :
a. Inflamasi maksimum pada hari pertama
b. Serangan artritis akut lebih dari satu kali
c. artritis nonartikuler
d. Sendi yang terkena berwarna kemerahan
e. Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsofalangeal
f. Serangan pada sendi metatarsofalangeal unilateral
g. Serangan pada sendi tarsal unilateral
h. Adanya fokus
i. Hiperurisemia
j. Pada foto sinar-x tampak pembengkakan sendi asimetris
k. Pada foto sinar-x tampak kista subkortikal tanpa erosi
l. kultur bakteri cairan sendi negatif.
Diagnosa banding terutama dengan penyakit artritis monoartikular dan
artritis yang timbulnya akut, yaitu pseudogout, artritis piogenik, demam
reumatik, artritis reumatoid, artritis virus dan lain-lain. Dalam praktek
sehari-hari ada dua jenis penyakit sendi yang harus dibedakan dengan
penyakit pirai sendi yaitu pseudogout dan artritis piogenik.
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan terapi artritis gout sebaiknya mengikuti pedoman terapi
sebagai berikut :
1. Hentikan serangan nyeri yang hebat pada serangan artritis gout akut.
2. Berikan kolkisin sebagai pencegahan terhadap serangan berulang dari
artritis gout.
3. Evaluasi kadar asam urat dalam urine selama 24 jam setelah terapi
nonfarmakologi diberikan yaitu diet rendah purin dijalankan.
4. Penanggulangan untuk artritis gout kronis.
Adapun pengobatan artritis gout dibagi atas:
1. Serangan akut
Cara yang efektif dan sederhana mengatasi serangan artritis gout yang akut
adalah penggunaan obat-obat anti inflamasi non-steroid. Kesembuhan akan
terlihat dalam waktu 24 jam dan gejalanya menghilang setelah 3 hari.
Preparat colchicine IV dengan takaran 1 sampai 2 mg yang diencerkan
dengan larutan NaCl 0,9% dan disuntikkan selama waktu 20 menit
merupakan preparat yang sangat efektif untuk meredakan gejala yang akut.
Preparat colchicine oral dengan takaran 0,5 mg 2 X sehari hingga 4 X sehari
selama 2 sampai 3 hari mungkin diperlukan untuk kesembuhan total.
Namun karena efek sampingnya yaitu timbulnya gejala toksisitas
gastrointestinal, pengobatan ini sudah mulai ditinggalkan.
Tindakan efektif lainnya yaitu dengan cara pungsi cairan sinovia dan
penyuntikan deposteroid dengan dosis 40 mg (triamsinolon). Tindakan ini
efektif terutama pada pasien yang tidak mendapat pengobatan per oral atau
tidak dapat mentolerir pemakaian NSAID ataupun colchicine.
Preparat urikosurik dan alopurinol harus dihindari selama serangan akut.
Insidensi terjadinya artritis gout akut yang rekuren dapat diturunkan
dengan pemberian colchicine 2 X 0,5 mg/hari dalam jangka waktu lama.
2. Tindakan untuk menurunkan kadar asam urat serum
Tindakan untuk menurunkan kadar asam urat serum dapat diberikan
preparat urikosurik yang salah satunya adalah probenesid dengan dosis 500
mg tiap 12 jam dan dapat ditingkatkan hingga mencapai 3 gram/hari untuk
kadar sama urat serum sampai 6 mg/dl.. Alternatif lain dapat diberikan
sulfinpirazon yang relatif bekerja singkat dan harus diberikan tiap 6 jam
dengan dosis terbagi yang berkisar dari 300 – 1000 mg/hari.
Allopurinol merupakan preparat urikosurik yang sangat efektif bekerja
dengan menyekat lintasan metabolik yang memproduksi asam urat,
khususnya dengan menghambat kerja enzim xantin oksidase. Dosis sebesar 2
X 100 mg/hari dapat ditingkatkan hingga mencapai dosis 600 mg/hari untuk
mendapatkan efek yang diinginkan. Pada penyakit gout dengan tofus yang
berat, preparat alopurinol dapat digunakan bersama-sama preparat
urikosurik lainnya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARTHRITIS GOUT


A. PENGKAJIAN
1. Tanyakan keluhan nyeri yang terjadi, biasanya pada ibu jari kaki atau
pada sendi-sendi lain. Bagaimana gejala awalnya dan bagaimana klien
menanggulanginya, adakah riwayat gout dalam keluarga. Obat-obatan yang
diperoleh
2. Tentukan apakah ada nyeri saat digerakkan, bengkak, dan kemerahan,
demam subfebris, periksa adanya nodul diatas sendi.
3. Kaji adanya kecemasan dan ketakutan dalam melakukan aktivitas dan
masalah-masalah yang terkait dengan psikososialnya.
4. Pemeriksaan diagnostik :
a. Asam urat meningkat
b. Sel darah putih dan sedimentasi eritrosit meningkat (selama fase akut)
c. Pada aspirasi sendi ditemukan aam urat
d. Pemeriksaan urin
e. Rontgen.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri persendian
3. Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN
(Sesuai DK )
D. EVALUASI
1. Tidak terjadi komplikasi
2. Nyeri terkontrol
3. Tidak terjadi efek samping akibat obat-obatan yang digunakan
4. Memahami jadwal pengobatan dan perawatan di rumah.

2.2. FRAKTUR
A. Definisi
Banyak sekali batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang fraktur.
Fraktur menurut Smeltzer (2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan lainnya. Menurut Sjamsuhidayat (2005), fraktur
adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sementara Doenges (2000)
memberikan batasan, fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik (Price, 1995). Sedangkan fraktur menurut Reeves
(2001), adalah setiap retak atau patah tulang yang utuh.
Berdasarkan batasan diatas dapat disimpulkan bahwa, fraktur adalah
terputusnya kontuinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang
biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan
luasnya trauma.

B. Etiologi
Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Smeltzer, 2002). Umumnya
fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang. Pada orang tua, biasanya perempuan lebih sering mengalami
fraktur yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang
terkait dengan perubahan hormon pada menepause (Reeves, 2001).

C. Klasifikasi
• Fraktur tertutup
Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit atau kulit tidak ditembus
oleh fragmen tulang.
 Fraktur terbuka
Fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan
tulang.
 Derajat I : luka tembus seukuran jarum (tusukan fragmen-fragmen
tulang).
 Derajat II : luka lebih besar, terdapat kerusakan kulit.
 Derajat III : luka lebih besar dari derajat II, bisa sampai mengenai tendon
dan otot-otot saraf tepi.
Menurut sudut patah
 Fraktur transversal
Merupakan fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu
panjang tulang.
 Fraktur oblik
Merupakan fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
 Fraktur spiral
Merupakan meluas yang mengelilingi tulang.
Menurut jumlah garis patah
• Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
• Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
• Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.
Menurut lokasi terjadi yang umum pada lansia
• Fraktur Kompresi Vertebra
Suatu gejala osteoporosis yang sering dijumpai adalah penyakit punggung,
akibat fraktur kompresi vertebra. Nyeri akut pada bagian tengah sampai
bagian bawah vertebra torasikaselama aktivitas harian rutin mungkin
merupakan gejala yang paling awal terjadi. Fraktur kompresi ini dapat
terjadi setelah trauma minimal, seperti melepaskan kancing pada bagian
punggung, membuka jendela, atau bahkan merapikan tempat tidur.
Fokur dari perawatan untuk fraktur kompresi akut adalah mengurangi
gejala sesegera mungkin dengan tirah baring pada posisi apa pun yang
mampu memberikan kenyamanan maksimum. Relaksan otot, seperti panas
dan analgesik dapat digunakan jika ada indikasi. Penggunaan relaksan otot
jangka pendek dalam jumlah sedikit dapat mengurangi spasme otot yang
sering menyertai fraktur-fraktur ini.
Segera setelah rasa nyeri berkurang, klien perlu mencoba untuk bangun dari
tempat tidur secara perlahan-lahan dan dengan bantuan. Latihan yang
dilakukan dengan pengawasan untuk memperbaiki deformitas postural dan
meningkatkan tonus otot sangat bermanfaat bagi klien. Berenang, walaupun
bukan merupakan latihan menahan berat, dapat mempertahankan
fleksibilitas dan mungkin merupakan cara yang paling efektif bagi klien
dengan penyakit yang telah terbentuk. Klien harus diajarkan tentang cara
mencegah ketegangan punggung dengan menghindari gerakan berputar atau
pergerakan yang kuat atau membungkuk secara mendadak. Tindakan untuk
menjaga keamanan yang berhubungan dengan cara mengangkat dan
membawa barang-barang perlu dijelaskan.
• Fraktur Panggul
Klien lansia biasanya mengalami cedera ini karena jatuh. Walaupun hanya
3% dari semua fraktur adalah fraktur panggul, tipe cedera ini
diperhitungkan menimbulkan 5 sampai 20% kematian di antara lansia
akibat fraktur. Fraktur panggul adalah hal yang tidak menyenangkan
karena fraktur tersebut dapat juga menyebabkan cedera intraabdomen yang
serius, seperti laserasi kolon, paralisis ileum, perdarahan intrapelvis, dan
ruptur uretra serta kandung kemih.
• Fraktur Pinggul
Walaupun fraktur tulang belakang yang mengarah pada deformitas dan
fraktur panggul menyebabkan disfungsi tubuh, tetapi fraktur pinggullah
yang sangat berat memengaruhi kualitas hidup dan menantang kemampuan
bertahan hidup pada lansia. Holbrook melaporkan bahwa 1 dari 20 pasien
yang berusia lebih dari 65 tahun yang baru saja dirawat di rumah sakit
mengalami penyembuhan dari fraktur panggul. Bahkan di tangan ahli yang
terbaik, 40% dari klien yang mengalami fraktur panggul tidak dapat
bertahan hidup 2 tahun setelah cedera ini. Pada pasien yang berasal dari
panti jompo, 70% tidak bertahan hidup 1 tahun, hanya sepertiga dari pasien
yang dapat bertahan hidup setelah mengalami fraktur panggul dapat
kembali ke gaya hidup dan tingkat kemandirian yang dapat dibandingkan
dengan gaya hidup dan kemandirian yang dinikmatinya sebelum mengalami
cedera tersebut.
Antara 75 dan 80% dari semua fraktur tulang panggul memengaruhi wanita,
dan hampir 50% terjadi pada seseorang yang berusia 80 tahun atau lebih.
Manifestasi klinis dari fraktur tulang pinggul adalah rotasi eksternal,
pemendekan ekstremitas yang terkena, dan nyeri berat serta nyeri tekan di
lokasi fraktur. Perubahan letak akibat fraktur pada bagian leher tulang
femur dapat menyebabkan gangguan serius pada suplai darah ke kaput
femur, yang dapat mengakibatkan nekrosis avaskular.
Perbaikan dengan pembedahan lebih disukai dalam menangani fraktur
tulang pinggul. Penanganan melalui pembedahan memungkinkan klien
untuk bangun dari tempat tidur lebih cepat dan mencegah komplikasi yang
lebih besar yang dihubungkan dengan imobilitas. Pada awalnya, ekstremitas
yang terpengaruh untuk sementara mungkin diimobilisasikan dengan
menggunakan traksi Buck atau Russel sampai kondisi fisik klien stabil dan
pembedahan dapat dijadwalkan. Banyak yang percaya bahwa lansia berada
pada kondisi yang paling sehat segera setelah kecelakaan sehingga operasi
harus dilaksanakan secepat mungkin.

D. Manfestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan
warna (Smeltzer, 2002).
Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit,
pembengkakan, dan kelainan bentuk.
Manifestasi klinis fraktur, terdiri dari:
1. Nyeri terus-menerus dan bertambah berat sampai tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang
dirancang untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau
tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstermitas yang
bisa diketahui dengan membandingkan ekstermitas normal. Ekstermitas tak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
yang lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak
yang lebih berat.
4. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

E. Penalaksanaan
Prinsip Penanganan Fraktur
Prinsip penangan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian
fungsi serta kekuatan normal dengan rehabilitas (Smeltzer, 2002). Reduksi
fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Metode untukmencapai reduksi fraktur adalah dengan
reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka. Metode yang dipilih untuk
mereduksi fraktur bergantung pada sifat frakturnya.
Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual. Selanjutnya, traksi dapat dilakukan untuk mendapatkan efek
reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot
yang terjadi.
Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan
bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin,
kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk
mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan
tulang solid terjadi.
Tahapan selanjutnya setelah fraktur direduksi adalah mengimobilisasi dan
mempertahankan fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang benar
sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi interna
atau eksterna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai,
traksi kontinu, pin, dan teknik gips. Sedangkan implant logam digunakan
untuk fiksasi interna.
Mempertahankan dan mengembalikan fragmen tulang, dapat dilakukan
denganmempertankan reduksi dan imobilisasi. Pantau status neurovaskular,
latihan isometrik, dan memotivasi klien untuk berpartisipasi dalam
memperbaiki kemandirian fungsi dan harga diri.
Penatalaksanaan Fraktur Terbuka
Patah tulang terbuka memerlukan pertolongan segera. Penundaan waktu
dalam memberikan pertolongan akan mengakibatkan komplikasi infeksi
karena adanya pemaparan dari lingkungan luar. Waktu yang optimal untuk
melaksanakan tindakan sebelum 6-7 jam sejak kecelakaan, disebut golden
period.
Pada luka derajat I biasanya tidak mengalami kerusakan kulit, sehingga
penutupan kulit dapat ditutup secara primer. Namun pada derajat II, luka
lebih besar dan bila dipaksakan menutup luka secara primer akan terjadi
tegangan kulit. Hal ini akan mengganggu sirkulasi bagian distal. Sebaiknya
luka dibiarkan terbuka dan luka ditutup setelah 5-6 hari (delayed primary
suture). Untuk fiksasi tulang pada derajat II dan III paling baik
menggunakan fiksasi eksterna. Pemakaian gips masih dapat diterima, bila
peralatan tidak ada. Namun, kelemahan pemakaian gips adalah perawatan
yang lebih sulit.
Salah satu tindakan untuk fraktur terbuka yaitu dilakukan debridemen.
Debridemen bertujuan untuk membuat keadaan umum membuat keadaan
luka yang kotor menjadi bersih, sehingga secara teoritis fraktur tersebut
dapat dianggap fraktur tertutup. Namun secara praktis, hal tersebut tidak
pernah tercapai. Tindakan debridemen dilakukan dalam anestesi umum dan
selalu harus disertai dengan pencucian luka dengan air yang steril atau NaCl
yang mengalir. Pencucian ini memegang peranan penting untuk
membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada tulang.
Pada fraktur terbuka tidak boleh dipasang torniket, hal ini penting untuk
menentukan batas jaringan yang vital dan nekrotik. Tindakan pembedahan
berupa eksisi pinggir luka, kulit, subkutis, fasia, dan pada otot-otot nekrosis
yang kotor. Fragmen tulang yang kecil dan tidak memengaruhi stabilitas
tulang dibuang. Fragmen yang cukup besar tetap dipertahankan.

F. Proses Penyembuhan Tulang


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan
membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru
dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang.
Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur.
Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan
sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium
iniberlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro
kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang
telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk
kedalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan
terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru
yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini
berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung
frakturnya.
3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik,
bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan
juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan
osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.
Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk
kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara
tulang yang imatur (anyaman tulang) menjadi lebih padat sehingga gerakan
pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4) Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah
menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan
osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat
dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen
dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu
beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5) Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses
resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih
tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang
tidak dikehendaki dibuang, rongga sum-sum dibentuk, dan akhirnya
dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.

G. Komplikasi
1) KomplikasiAwal
a) KerusakanArteri
Pecahnya arteri karena trauma bias ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisipada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b) Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan
pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan
pembebatan yang terlalu kuat.
c) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi
pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang
dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan
tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan
pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
d) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e) AvaskulerNekrosis
AvaskulerNekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ketulang rusak atau
terganggu yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan
adanya Volkman’s Ischemia.
f) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitaskapiler yang bias menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini
biasanya terjadi pada fraktur.

2) Komplikasi Dalam Waktu Lama


a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan suplai darah ketulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion
ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang
membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena
aliran darah yang kurang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan
dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

H. Pengkajian
1. Aktifitas atau istirahat
Tanda : Keterbatasan gerak atau kehilangan fungsi motorik pada bagian
yang terkena (dapat segera atau sekunder, akibat pembengkakan atau
nyeri).
Adanya kesulitan dalam istirahat-tidur akibat dari nyeri.
2. Sirkulasi
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri
atau ansietas) atau hipotensi (hipovolemia).
Takikardia (respons stress, hipovolemia).
Penurunan atau tak teraba nadi distal, pengisian kapiler lambat (capillary
refill), kulit, dan kuku pucat atau sianotik.
Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.
3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerak atau sensasi, spasme otot.
Kebas atau kesemutan (parestesi).
Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, kelemahan atau hilang fungsi.
Agitasi berhubungan dengan nyeri, ansietas, trauma lain.
4. Nyeri atau kenyamanan
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan atau kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tak ada
nyeri akibat kerusakan saraf.
Spasme atau kram otot (setelah imobilisasi).
5. Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, dan perubahan warna
kulit.
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

I. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi atau luasnya fraktur atau
trauma, dan jenis fraktur.
2. Scan tulang, tomogram, CT Scan atau MRI: memperlihatkan tingkat
keparahan fraktur, juga dapat untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan
lunak.
3. Arteriogram: dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskular.
4. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma). Peningkatan jumlah SDP adalah proses stress normal
setelah trauma.
5. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
6. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multipel atau cedera hati.
J. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang diangkat dalam masalah keperawatan fraktur,
yaitu:
1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera
pada jaringan lunak, stress, ansietas, alat traksi, imobilisasi.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskular.
3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan
menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.

K. Rencana keperawatan
Rencana asuhan keperawatan berikut ini diuraikan meliputi:
Diagnosis Keperawatan: Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan
fragmen tulang, cedera pada jaringan lunak, stress, ansietas, alat traksi,
imobilisasi.
Tindakan Keperawatan
Mandiri
1. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips,
pembebat.
2. Tinggikan ekstermitas yang sakit.
3. Hindari penggunaan sprei atau bantal plastik dibawah ekstermitas dalam
gips.
4. Tinggikan penutup tempat tidur, pertahankan linen terbuka pada ibu jari
kaki.
5. Evaluasi nyeri; lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10). Perhatikan
petunjuk nyeri nonverbal (perubahan tanda vital dan emosi atau perilaku.
6. Dorong klien untuk mengekpresikan masalah berhubungan dengan
cedera.
7. Jelaskan prosedur sebelum memulai tindakan.
8. Berikan obat sebelum perawatan latihan atau aktivitas.
9. Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif.
10. Berikan alternatif tindakan kenyamanan, seperti pijatan punggung,
perubahan posisi.
11. Dorong penggunaan manajemen stress, seperti relaksasi progresif,
latihan napas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan terapeutik.
12. Identifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk usia klien, kemampuan
fisik, dan penampilan pribadi.
13. Observasi adanya keluhan nyeri yang tidak biasa, tiba-tiba atau dalam,
lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik.
Kolaborasi
14. Lakukan kompres dingin 24-48 jam pertama sesuai kebutuhan.
15. Berikan obat sesuai order: narkotik dan analgetik non narkotik, NSAID.
Berikan narkotik sesuai order selama 3-5 hari.
16. Berikan atau awasi analgesik yang dikontrol klien.

Rasional :
1. Mengurangi nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang atau tegangan
jaringan yang cedera.
2. Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema, dan mengurangi
nyeri.
3. Meningkatkan kenyamanan karena peningkatan produksi panas dalam
gips yang kering.
4. Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa kertidaknyamanan karena
tekanan selimut pada bagian yang sakit.
5. Memengaruhi efektifitas intervensi. Tingkat ansietas dapat memengaruhi
persepsi atau nyeri.

6. Membantu mengatasi ansietas. Klien dapat merasakan kebutuhan untuk


menghilangkan pengalaman kecelakaan.
7. Memungkinkan klien untuk siap secara mental dalam melakukan
aktivitas, dan berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
8. Meningkatkan relaksasi otot dan partisipasi klien.
9. Mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan
memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
10. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan
kelelahan otot.
11. Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat
meningkatkan.
12. Mencegah kebosanan, menurunkan tegangan, meningkatkan kekuatan
otot, dan dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping klien.
13. Dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi, seperti infeksi, iskemia
jaringan, sindrom kompartemen.
14. Menurunkan edema atau pembentukan hematom, menurunkan sensasi
nyeri.
15. Untuk menurunkan nyeri atau spasme otot.
16. Pemberian rutin mempertahankan kadar analgesik darah secara
adekuat, mencegah fluktuasi dalam menghilangkan nyeri akibat spasme atau
tegangan otot.

Diagnosa Keperawatan: Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan


kerusakan rangka neuromuskular.
Tindakan Keperawatan
Mandiri
1. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan
perhatikan persepsi klien terhadap imobilisasi.
2. Dorong partisipasi pada aktivitas atau rekreasi. Pertahankan rangsang
lingkungan, seperti radio, TV, koran, barang milik pribadi, jam, kalender,
kunjungan keluarga atau teman.
3. Instruksikan klien untuk latihan rentang gerak aktif atau pasif pada
ekstermitas yang sehat atau sakit.
4. Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang sakit
5. Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan trokanter atau tangan
yang sesuai.
6. Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat, sesegera
mungkin. Instruksikan keamanan dalam alat mobilitas.
7. Pantau TD dalam melakukan aktivitas. Perhatikan adanya keluhan
pusing.
8. Ubah posisi secara priodik serta dorong untuk latihan batuk dan napas
dalam.
9. Auskultasi bising usus. Pantau kebiasaan eliminasi atau defekasi rutin.
10. Dorong peningkatan intake cairan 2000-3000 ml/hari, termasuk
pemberian jus.
11. Tinkatkan jumlah diet serat. Batasi makanan pembentuk gas.

Kolaborasi
12. Konsul dengan ahli terapi fisik, okupasi, rehabilitasi.
13. Gunakan pelunak feses, enema, dan laksatif sesuai indikasi.

rasional :
1. Klien mungkin dibatasi oleh persepsi tentang keterbatasan fisik aktual,
memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan
kesehatan.
2. Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan
kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol harga diri, dan membantu
menurunkan isolasi sosial.
3. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus
otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur atau atrofi, dan
reabsobsi kalsium karena tidak digunakan.
4. Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan
tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan massa otot.
Catatan: kontraindikasi pada perdarahan akut atau edema.
5. Mempertahankan posisi fungsional ekstermitas tangan atau kaki, dan
mencegah komplikasi.
6. Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (mis. plebitis) dan
meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ.
7. Hipotensi postural adalah masalah umum yang menyertai tirah baring
lama dan memerlukan intervensi khusus (mis. kemiringan meja dengan
peninggian secara bertahap sampai posisi tegak).
8. Mencegah komplikasi pernapasan atau kulit, misal dekubitus, pneumonia,
ateletaksis.
9. Tirah baring, penggunaan analgesik, dan perubahan diet dapat
memperlambat peristaltik usus sehingga menyebabkan konstipasi.
10. Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan risiko infeksi urenearius,
pembentukan batu, dan konstipasi.
11. Makanan kasar (serat) mencegah konstipasi. Makanan pembentuk gas
dapat menyebabkan distensi abdominal, khususnya pada adnya penurunan
motilitas usus.
12. Berguna dalam membuat jadwal aktivitas klien. Klien dapat memerlukan
bantuan jangka panjang dengan gerakan, kekuatan, dan aktivitas yang
mengandalkan berat badan, juga penggunaan alat, seperti walker, kruk.
13. Meningkatkan evakuasi isi usus.

Diagnosa Keperawatan: Kurang perawatan diri berhubungan dengan


hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Tindakan Keperawatan
Mandiri
1. Dorong klien mengekspresikan perasaan dan mendiskusikan cedera dan
masalah yang berhubungan dengan cara aktif. Dengarkan secara aktif
2. Motivasi penggunaan mekanisme penyelesaian masalah secara adaptif.
3. Libatkan orang yang berarti dan layanan dukungan bila diperlukan.
4. Modifikasi lingkungan rumah bila diperlukan.
5. Dorong klien berpartisipasi dalam pengembangan program terapi.
6. Jelaskan berbagai program terapi.
7. Dorong partisipasi aktivitas sehari-hari dalam batasan terapeutik.
8. Ajarkan penggunaan modalitas terapi dan bantuan mobilisasi secara
aman. Lakukan supervisi agar pemakaiannya terjamin.
9. Evaluasi kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri dirumah;
merencanakan regimen terapi, mengenali risiko masalah, mengenali situasi
yang tidak aman, dan meneruskan supervisi kesehatan.

1. Fraktur memengaruhi kemampan seseorang melakukan aktivitas


sehari-hari seperti kehilangan pekerjaan, perubahan gaya hidup.
2. Penghentian mendadak rutinitas dan rencana memerlukan mekanisme
penyelesaian masalah.
3. Orang lain dapat membantu klien melakukan aktivitas sehari-hari.
4. Akomodasi untuk penatalaksanaan di rumah mungkin diperlukan untuk
meningkatkan perawatan dan keamanan.
5. Klien mampu memperoleh kembali kemandirian dengan partisipasi aktif
dalam pengambilan keputusan rencana terapi.
6. Pendidikan dan pemahaman klien dapat meningkatkan kepatuhan.
7. Rasa harga diri dapat ditingkatkan dengan aktivitas perawatan diri.
8. Cedera akibat penggunanaan modalitas atau alat bantu mobilisasi dapat
dicegah melalui pendidikan.
9. Meyakinkan kemampuan klien untuk menangani fraktur di rumah.
Kekurangan pengetahuan dan persiapan perawatan diri yang buruk di
rumah menyumbang terjadinya ansietas dan ketidakdisiplinan terhadap
program terapi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Osteoporosis (tulang rapuh) pada masa kini merupakan masalah kesehatan publik
yang besar. Senile osteoporosis terjadi pada lelaki dan wanita di atas umur 70 tahun
dengan perbandingan wanita : lelaki = 2 : 1. Perlu diperhatikan faktor risiko dari
osteoporosis berupa genetik, pola hidup, medikal, dan iatrogenik. Osteoporosis dapat
dicegah bila dimulai waktu “childhood” dan “youngster” atau “adolescence,” waktu
tulang mencapai maturitas pada akhir dekade ke-3 mencapai maksimum “peak bone
mass.” Pencegahan terjadi osteoporosis terutama pada golongan risiko tinggi pada usia
lebih muda, seperti pada wanita dengan menopause dini atau pascabedah ovariektomi,
pengobatan/pencegahan osteoporosis harus dilakukan secara dini pula. Pemberian
tambahan kalsium serta susu sangat dianjurkan di sini. Lanjut usia dengan
Osteoporosis, pengobatan terbaik adalah untuk tetap aktif secara jasmani (muscle
pumping action), serta mencegah terjadi cedera akibat jatuh.
Rematik atau rhematoid arthritis adalah penyebab paling umum nyeri sendi kronis.
Rheumatoid arthritis disebabkan oleh kerusakan sistem autoimun sehingga tubuh
menghasilkan zat yang menyebabkan peradangan, terutama pada sendi. Bagian tubuh
favorit yang diserang adalah sendi jari tangan dan kaki dan tulang belakang. Serangan
rematik membuat peradangan dan pembengkakan selaput sendi dan secara bertahap
menghancurkan kapsul sendi, dan kemudian tendon. Konsekuensi pada akhirnya
adalah deformasi tulang dan pembatasan gerakan.
Osteoartritis adalah penyakit sendi degeneratif (umumnya menyerang mereka yang
berusia di atas 45 tahun). Pada osteoarthritis, sendi mengalami nyeri namun tidak
diawali dengan peradangan. Rasa nyeri biasanya terasa bila mengangkat beban dan
pada awal gerakan dari posisi istirahat. Penyebabnya karena penuaan dan penggunaan
terus-menerus. Risiko terutama pada pinggul, lutut, tangan, kaki, dan tulang belakang.
Gout adalah hasil kadar asam urat yang tinggi dalam darah. Rasa sakit sendi disertai
bengkak, kemerahan, dan hangat. Terdapat empat tahap dari perjalanan klinis
penyakit gout yang tidak diobati yaitu : hiperurisemia asimtomatik, arthritis gout
akut, serangan gout akut adalah tahap interkritical, gout kronik dimana timbunan
urat terus bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai.
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau patah pada
tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).
Tanda dan gejala kemudian setelah bagian yang retak di imobilisasi, perawat perlu
mnilai pain ( rasa sakit ), paloor ( kepucatan/perubahan warna), paralisis (kelumpuhan
/ ketidakmampuan untuk bergerak ), parasthesia ( kesemutan ), dan pulselessnes (
tidak ada denyut ).
Fraktur, terutama yang berhubungan dengan osteoporosis, dianggap sebagai penyebab
utama morbiditas dan disabilitas pada usia tua. Diantaranya adalah : Fraktur
Kompresi Vertebra, Fraktur Panggul, Fraktur Pinggul.

3.2 Saran
Penulis memberi saran kepada :
1. Para mahasiswa STIKes Santo Borromeus sebagai calon perawat agar mengetahui
dan memahami konsep penyakit tulang dan patah tulang pada lansia sehingga mampu
merawat para lansia yang mengalami penyakit tulang dan patah tulang sehingga para
lansia dapat meningkatkan kesehatan khususnya pada sistem muskuloskeletal.
2. Para pembaca agar mengetahui penyakit tulang dan patah tulang pada lansia
sehingga dapat merawat lansia yang mengalami penyakit tulang dan patah tulang
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC


Eliopoulus, Charlotte. 2005. Gerontologi Nursing Edisi 6. Lippincott Williams &
Wilkins
Lukman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal Cetakan 1. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Prince, Sylvia Anderson. 2000. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed.
4. Jakarta : EGC
Stanley, Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Ed.2 Cet.1. Jakarta : EGC
http://www.scribd.com/martha_susanto/d/54129525-Penyakit-Tulang-Dan-Sendi-Pada-
Lansia-1 diunduh tanggal 01 Mei 2012 pukul 03:40 WIB
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=penyakit+tulang+pada+lansia&source=web
&cd=6&ved=0CFgQFjAF&url=http%3A%2F%2Fbidansmart.files.wordpress.com%2
F2010%2F03%2Fpenyakit-tulang-dan-sendi-pada-usia-lanjut-
1.ppt&ei=CvieT87dLobMrQeympRV&usg=AFQjCNHH75LaMbWy4n8lZOPeBB5UH
Z2wpg diunduh tanggal 01 Mei 2012 pukul 03:41 WIB
http://www.scribd.com/tghundhul/d/54317816-Masalah-Pada-Sistem-Muskuloskeletal
diunduh 01 Mei 2012 pukul 04:00 WIB
http://nursingbegin.com/fraktur-patah-tulang/ diunduh tanggal 01 Mei 2012 pukul
18:05 WIB
http://uleegle.wordpress.com/2009/11/17/kelainan-kelainan-pada-tulang/ diunduh
tanggal 01 Mei 2012 pukul 18:00 WIB
http://www.news-medical.net/health/Bone-Disease-(Indonesian).aspx diunduh tanggal
01 Mei 2012 pukul 17:50 WIB
http://www.scribd.com/doc/82140343/Askep-Gout-Pada-Lansia diunduh tanggal 01 Mei
2012 pukul 20:00 WIB