Anda di halaman 1dari 12

GIANT CHROMOSOME

KROMOSOM KELENJAR LUDAH CHIRONOMUS


diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Genetika
Dosen Pengampu:
Dr. Sri Anggraeni, M.S.
Dr. Riandi, M.Si.

disusun oleh:
Kelompok 5
Pendidikan Biologi B 2016

Aldi Maulana A. (1605737)


Asmi Nur Azizah (1603538)
Hana Syarifah (1600316)
Maya Dwi Cahyani (1601994)
Navisha Armya H. (1600728)
Rivani Fathurrizki H. (1603769)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2019
A. Judul
Giant Chromosome Kelenjar Ludah Chironomus
B. Waktu dan Tempat
Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari, tanggal : Senin, 25 Maret 2019

Pukul : 13.00-15.30 WIB

Tempat : Laboratorium Mikrobiologi FPMIPA UPI

C. Tujuan
1) Membuat garis besar langkah – langkah penyiapan sediaan sel – sel kelenjar ludah
untuk pengamatan kromosom melalui teknik squash asetocarmin.
2) Membuat preparat segar kromosom sel – sel kelenjar ludah Chironomus serta
mendiskusikan hal – hal yang penting dari hasil pengamatannya.

D. Tinjauan Pustaka

Informasi genetik yang dapat ditemukan di nukleus pada sel eukariotik. Pada
sel prokariotik kromosom merupakan pembawa informasi genetik utama. Kromosom
dapat diamati dengan jelas Larva ini biasa dijadikan sebagai organisme indikator atau
indikator biologis. Keberadaannya di perairan mengindikasikan adanya polusi. Fosil
larva ini juga dapat dijadikanindikator mengenai perubahan lingkungan pada masa
lampau (Campbell et al, 2009).

Selama pembelahan mitosis atau meiosis. Pada kromosom terdapat rantai


double helix DNA dengan panjang ± 4 cm, ribuan kali lebih panjang dari diameter
nukleus. Setiap rantai double helix ini dikemas sedemikian rupa hingga terbentuk
kromosom dan dapat disimpan dalam nukleus. Penyimpanan double helix ini berkaitan
erat dengan protein kecil yang disebut histone (Campbell et al, 2009).

Dalam siklus sel, kromosom lebih sering berada dalam wujud kromatin, serabut
panjangdan tipis. Selagi sel bersiap untuk membelah, baik mitosis maupun meiosis,
kromatin kemudian menggulung untuk membentuk kromosom. Pada kondisi ini,
kromosom dapat diamati di bawah mikroskop cahaya Pada percobaan ini akan banyak
dibahas mengenai kromosom politen. Pada kelenjar ludah organisme dari ordo diptera,
ketika sel mencapai tahap interfase, kromosom mengalami replikasi hingga 10 kali
tanpa pernah memasuki tahap mitosis. Akibatnya, sister chromatids tidak pernah
terpisah dan setiap kromosom terdiri dari 1024 double helices. Selain itu, karena
kromosom homolog pada tahap interfase berpasangan dengan sangat erat maka
terbentuklah kromosom yang sangat tebal yang disebut kromosom politen. Sedangkan,
proses replikasi kromosom tanpa diikuti mitosis ini dikenal sebagai endomitosis
(Campbell et al, 2009).

Kromosom politen adalah salah satu jenis kromosom unik yang dapat dijumpai
pada organisme eukariotik di samping beberapa jenis kromosom unik lainnya.
Kromosom unik lainnya adalah lampbrush chromosome, kromosom-B, dan kromosom
holokinetik (Anonim, 2009).

Selain itu, karena kromosom homolog pada tahap interfase berpasangan dengan
sangat erat maka terbentuklah kromosom yang sangat tebal yang disebut kromosom
politen. Sedangkan, proses replikasi kromosom tanpa diikuti mitosis ini dikenal sebagai
endomitosis. Organisme pada ordo diptera umumnya memiliki kromosom raksasa
sehingga kromosom dari organisme ini sering digunakan sebagai obyek percobaan.

Pada percobaan ini digunakan kromosom pada kelenjar ludah larva Chironomus
sp. Kromosom raksasa yang terdapat pada kelenjar ludah Chironomus sp. ini digunakan
sebagai obyek percobaan karena memiliki ukuran yang besar sehingga mudah untuk
diamati. Selain itu, karena struktur jaringan kelenjar ludah, maka pengambilan,
pengamatan, dan pembuatan preparat kromosom relatif mudah dilakukan. Pada
kromosom politen terdapat pola pita terang dan gelap. Berdasarkan penelitian
mikroskopik, pita terang dan gelap ini disebabkan oleh perbedaan kerapatan kromatin
dalam kromosom. Kromatin pada pita gelap tersusun 10 kali lebih rapat dari pada
kromatin pada pita terang. Selain itu, terdapat pula heterokromatin yang merupakan
gabungan dari sentromer kromosom-kromosom yang ada di nukleus, heterokromatin
ini disebut sebagai kromosenter. Pada kromosom politen ada juga puff, penebalan area
kromosom karena gen pada kromosom tersebut tengah mengalami transkripsi
Campbell et al, 2009).
E. Alat dan Bahan
Tabel 1. Alat Praktikum kromosom kelenjar ludah Chironomus
No Nama Alat Jumlah
1. Mikroskop 2 buah
2. Jarum Preparat Secukupnya
3. Silet 1 buah
4. Kaca Objek Secukupnya
5. Kaca Penutup Secukupnya
6. Lampu Spirtus 1 buah

Tabel 2. Bahan Praktikum Kromosom Kelenjar Ludah Chironomus


No Nama Bahan Jumlah
1. Larva Chironomus Secukupnya
2. Larutan fisiologis Secukupnya
3. Asetocarmin Secukupnya

F. Langkah Kerja

1. Proses pemisahan kelenjar ludah

Larva Chironomus
dipilih yang paling besar
Larva ditempatkan di Sediaan diamati
ukurannya, kemudian
kaca objek yang telah menggunakan mikroskop
diambil menggunakan
ditetesi larutan fisiologis. binokuler.
jarum preparat atau
pinset.

Kelenjar ludah Larva dibedah dengan


dipisahkan dari bagian cara menahan bagian
anterior dengan salah
lainnya menggunakan satu jarum, dan menarik
jarum preparat secara 2/3 bagian lainnya
hati hati dengan jarum lain.

Bagan Alir 1. Pemisahan Kelenjar Ludah Chironomus


2. Proses Pewarnaan

Kelenjar ludah Sediaan dipanaskan


Preparat ditutup
dipindahkan ke kaca secara hati-hati tidak
menggunakan kaca
objek bersih yang telah sampai mendidih diatas
penutup.
ditetesi Acetocarmin. api lampu spirtus.

Sediaan ditutup dengan


Sediaan diamati di tissue atau lap halus
mikroskop binokuler kemudian tekan secara
dengan perbesaran hati-hati diatas kaca
maksimum. penutup dengan kepala
pensil.

Bagan Alir 2.Pewarnan Preparat Kelenjar Ludah Chironomus


G. Hasil Pengamatan
No. Nama Gambar Hasil Pengamatan Keterangan
1. Aldi

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 1.Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

Chromosome

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 2.Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)
2. Asmi

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 3.Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)
Sel Kelenjar Ludah

Chromosome

Gambar 4.Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

3. Hana

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 5. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)
Sel Kelenjar Ludah

Chromosome

Gambar 6. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

4. Maya

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 7. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

Sel Kelenjar Ludah

Chromosome

Gambar 8. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)
5. Navisha

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 9. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

Sel Kelenjar Ludah

Chromosome

Gambar 10. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

6. Rivani

Sel Kelenjar Ludah

Gambar 11. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)
Sel Kelenjar Ludah

Gambar 12. Giant Chromosomekelenjar ludah


Chironomous
(Dok. Kel. 5B, 2019)

H. Pembahasan
Pada percobaan ini digunakan beberapa larutan untuk membuat preparat
kromosom Chironomus sp. yang antara lain adalah larutan fisiologis dan larutan
Asetocarmin. Larutan Asetocarmin berfungsi sebagai zat pewarna kromosom sehingga
dapat teramati. Kromosom Chironomus yang diamati memiliki lengan kromosom
dengan pola warna terang-gelap. Berdasarkan literatur, pola terang-gelap ini dihasilkan
dari struktur kromatin yang menyusun kromosom. Pada pita gelap kromatin tersusun
dengan sangat rapat, 10 kali lebih rapat dibandingkan kromatin pada pita terang.
Walaupun tidak tampak jelas pada gambar hasil pengamatan, namun dapat diamati
bahwa kromosom-kromosom pada Chironomus sp. tidak tersusun seperti kromosom
non-politen lainnya. Pada kromosom non-politen, kromosom satu dengan kromosom
lain terpisah sehingga jumlah kromosom dapat diamati dengan jelas. Sedangkan pada
kromosom politen, kromosom yang diamati hanya satu dengan lengan kromatid yang
cukup banyak terpusat pada satu pusat. Pusat inilah yang disebut dengan kromosenter
yang terbentuk dari heterokromatin yang merupakan gabungan dari sentromer.
Perbedaan-perbedaan gambar hasil pengamatan dengan gambar yang diperoleh
dari literatur bisa disebabkan oleh ketidak lengkapan bagian-bagian kromosom preparat
yang dibuat. Ketidaklengkapan ini erat kaitannya dengan proses pengambilan kelenjar
ludah pada larva. Kesalahan teknis pada saat pewarnaan juga mungkin terjadi sehingga
berdampak pada preparat kromosom yang dihasilkan.
I. Jawaban Pertanyaan
1) Menurut pengalaman saudara selama praktikum, bagaiana cara yang paling
tepat untuk mendapatkan kelenjar ludah dari larva? Iustrasikan langkah kerja
saudara!
Jawab :

tempatkan kaca objek,


Pilihlah larva yang paling lincah tempatkan larva pada objek putuskan bagian kepala
dan besar, hidari yang hampir glass yang bersih dan sudah chironomus dengan menahan
menjadi pupa ditetesi larutan fisiologis ujung anterior dan jarum lain
menarik bagian 2/3 lalu diputus

teteskan asetocarmin
bersihkan kaca objek tapi
pisahkan kelenjar dari bagian secukupnya ke kaca objek
sisakan kelenjar yang sudah
kepala secarahati hati tunggu hingga kering, jangan
ditemukan
lakukan fiksasi panas

tutup dengan kaca penutup


rekatkan kaca penutup amati kembali preparat didalam
dan tekan hingga menempel
menggunakan cat kuku bening mikroskop
pada kaca ojek

2) Berapa lamakah waktu staining yang paling tepat menurut pengamatan saudara!
Jawab :
20 -30 menit
3) Dapatkah saudara mendeteksi pita-pita dengan pola tersebut
Jawab :
Ya, dapat teridentifikasi berdasarkan hasil pengamatan yang dilampirkan
4) Dapatkah saudara melihat nucleus?
Jawab :
Ya, dapat terlihat nucleus sesuai dengan hasil pengamatan yang dilampirkan
J. Kesimpulan
1) Langkah – langkah penyiapan sediaan sel – sel kelenjar ludah untuk pengamatan
kromosom melalui teknik squash asetocarmin dijabarkan pada diagram berikut

Larva Chironomus
dipilih yang paling besar Larva ditempatkan di
Sediaan diamati
ukurannya, kemudian kaca objek yang telah
menggunakan
diambil menggunakan ditetesi larutan
mikroskop binokuler.
jarum preparat atau fisiologis.
pinset.

Larva dibedah dengan


Kelenjar ludah
cara menahan bagian
dipisahkan dari bagian
anterior dengan salah
lainnya menggunakan
satu jarum, dan menarik
jarum preparat secara
2/3 bagian lainnya
hati hati
dengan jarum lain.

2) Kelenjar ludah Chironomous yang ditemukan berbentuk menyerupai kalung


dan bentuknya mudah diamati. Larutan yang digunakan adalah larutan fisiologis
yang berfungsi agar sel kelenjar tetap segar serta tidak rusak dan larutan
asetocarmin yang berfungsi sebagai zat pewarna. Kromosom Chironomous
yang teramati memiliki lengan dengan pola warna terang-gelap dan tidak
tersusun seperti kromosom non-politen lainnya. Kromosom sel kelenjar ludah
berbeda dengan kromosom pada sel lain, karena mengalami proses endomitosis
dengan hasil berupa pita kromosom besar.
Daftar Pustaka

Campbell, N.A, J.B. Reece. L.G. Mitchell. 2000. Biologi jilid 1. Edisi kelima. Jakarta:
Penerbit Erlangga